PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
6.1. Penduduk dan Tenaga Kerja
Perkembangan penduduk di Provinsi Kalimantan Timur sepanjang periode 2006-2009 terlihat terkendali. Selama periode tersebut jumlah penduduk rata-rata bertambah sekitar 2.32% per tahun, dengan tingkat pertumbuhannya yang paling tinggi pada tahun 2006 yakni sebesar 2.37% dibandingkan tahun 2005 dan terendah pada tahun 2009 yakni sebesar 2.27% bila dibandingkan tahun 2008, perhatikan Tabel 25.
Tabel 25. Laju Pertumbuhan Penduduk di Provinsi Kalimantan Timur Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2006-2009
(%) Kabupaten/Kota 2006 2007 2008 2009 Rata-rata 1. Paser 1.07 1.02 0.97 0.91 0.99 2. Kutai Barat 1.37 1.32 1.27 1.20 1.29 3. Kutai Kartanegara 2.02 1.98 1.92 1.86 1.95 4. Kutai Timur 2.78 2.73 2.68 2.61 2.70 5. Berau 4.07 4.02 3.97 3.90 3.99 6. Malinau 5.62 5.57 5.51 5.44 5.54 7. Bulungan 3.50 3.46 3.40 3.34 3.43 8. Nunukan 6.05 6.01 5.95 5.89 5.97 9. Penajam Paser Utara 1.09 1.05 1.00 0.93 1.02 10. Balikpapan 2.06 2.01 1.96 1.90 1.98 11. Samarinda 1.15 1.11 1.06 0.99 1.08 12. Tarakan 5.27 5.22 5.17 5.10 5.19 13. Bontang 3.14 3.10 3.05 2.98 3.07 Provinsi Kaltim 2.37 2.34 2.31 2.27 2.32 Sumber : BPS Kalimantan Timur (2010)
Wilayah yang paling cepat pertumbuhan penduduknya selama ini adalah Kabupaten Nunukan, dimana selama tahun 2006-2009, jumlah penduduk di
wilayah ini bertambah sekitar 5.97% per tahun, sedangkan yang paling rendah tingkat pertumbuhannya adalah Kabupaten Paser yakni sebesar 0.99% per tahun. Secara keseluruhan pertambahan penduduk di sebelah Utara tampak lebih cepat dibandingkan Selatan. Pada wilayah Selatan pertumbuhan pe nduduk rata-rata hanya sekitar 1.76% per tahun, sementara di wilayah Utara mencapai 4.82% per tahun sepanjang tahun 2006-2009.
Salah satu penyebab mengapa pertumbuhan pe nduduk di wilayah Utara saat ini lebih cepat dibandingkan wilayah Selatan adalah kemungkinan tingginya migrasi ke wilayah tersebut. Lahan luas yang masih be rupa hutan memungkinkan terjadinya migrasi ke wilayah Utara untuk berusaha dan membuka pemukiman baru, seda ngka n wilayah Selatan dengan tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi tidak memberikan ruang bagi terjadinya peningkatan migrasi seperti di wilayah Utara Kalimantan Timur. Sebagaimana yang disajikan dalam Tabel 26, terkecuali Kabupa ten Taraka n, untuk ka bupaten-kabupaten lainnya yang berada di wilayah Utara Kalimantan Timur mempunyai kepadatan penduduk rata-rata hanya berkisar 1.45–9.32 orang/km2. Ruang wilayah yang masih sangat luas ini akhirnya mendorong pertambahan penduduk bergerak lebih cepat.
Berbeda dengan wilayah-wilayah sebelah Selatan Kalimantan Timur, kepadatan penduduknya sangat tinggi terutama berada di wilayah Balikpapan dan Samarinda. Kedua wilayah ini selama periode 2006-2009 memiliki kepadatan penduduk rata-rata mencapai 895.29 orang/km2 dan 835.52 orang/km2, kemudian wilayah yang mempunyai kepadatan yang tinggi juga adalah Bontang yakni sebesar 808.29 orang/km2.
Tabel 26. Kepadatan Penduduk di Provinsi Kalimantan Timur Menur ut Kabupaten/Kota Tahun 2006-2009 (orang/km2 Kabupaten/Kota ) 2006 2007 2008 2009 Rata-rata 1. Paser 16.38 16.55 16.71 16.86 16.63 2. Kutai Barat 5.03 5.10 5.17 5.23 5.13 3. Kutai Kartanegara 19.32 19.70 20.08 20.46 19.89 4. Kutai Timur 5.70 5.86 6.01 6.17 5.94 5. Berau 6.97 7.25 7.54 7.83 7.40 6. Malinau 1.34 1.41 1.49 1.57 1.45 7. Bulungan 6.22 6.43 6.65 6.87 6.54 8. Nunukan 8.53 9.04 9.58 10.14 9.32 9. Penajam Paser Utara 38.57 38.98 39.37 39.73 39.16 10. Balikpapan 869.19 886.69 904.08 921.21 895.29 11. Samarinda 822.19 831.31 840.11 848.45 835.52 12. Tarakan 661.56 696.12 732.11 769.47 714.82 13. Bontang 772.09 796.03 820.29 844.73 808.29 Provinsi Kaltim 14.89 15.24 15.60 15.95 15.42 Sumber : BPS Kalimantan Timur (2010)
Adanya konsentrasi penduduk yang terpusat pada ketiga wilayah tersebut mengakibatkan penyebaran penduduk di wilayah Kalimantan Timur menjadi tidak merata. Faktor inilah yang menjadi salah satu penyebab mengapa ketimpangan pembangunan antar wilayah terus terjadi selama masa pembangunan berjalan. Misalnya da lam pendistribusian dana pembangunan, maka wilayah yang mempunyai kepadatan penduduk terbanyak dipastikan mendapat transfer payment
yang lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah yang mempunyai kepadatan penduduk renda h, akibatnya pada wilayah yang padat pe nduduknya pembangunan lebih cepat. Wilayah-wilayah seperti ini, yang lebih banyak berada di sebelah Selatan Kalimantan Timur, segala pembangunan infrastruktur misalnya perumahan, gedung-gedung, jalan dan jembatan tumbuh dengan cepat karena ada
demand yang tinggi dari masyarakat. Sedangkan pada wilayah yang jarang penduduk dengan tingkat kepadatan yang rendah, sebagian besar berada di sebelah Utara Kalimantan Timur, demand terhadap infrastruktur tidak begitu banyak sehingga investor untuk melakukan investasinya menjadi kecil. Kalaupun terlihat ada perluasan pembangunan infrastruktur, itu merupakan investasi publik yang dilakuka n oleh pe merintah daerah yang be rtuj uan unt uk membuka isolasi penduduk, ataupun mengurangi ketimpangan pendapatan antar wilayah, yang biasanya menggunakan dana sangat terbatas.
Sebagai pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, wilayah yang berada di Selatan memiliki daya tarik bagi penduduk migran datang menetap dan bekerja. Misalkan di Samarinda, Balikpapan, dan Kutai Kartanegara, selama tahun 2007-2009 jumlah tenaga kerja yang menetap pada ke tiga wilayah tersebut sangat mendominasi penyebaran tenaga kerja di Provinsi Kalimantan Timur, lihat Tabel 27. Setiap tahunnya kurang lebih 52.75% dari total tenaga kerja di Provinsi Kalimantan Timur terdistribusi pada ketiga wilayah pusat pertumbuhan tersebut.
Seandainya dilihat dari konteks kewilayahan, rata-rata 79.64% per tahun jumlah tenaga kerja tersebar di wilayah Selatan. Sisanya 20.36% per tahun tersebar di wilayah Utara, dimana yang paling rendah di Kabupaten Malinau hanya mampu menyerap lapangan kerja sebanyak 2.09 % per tahun dari total orang yang bekerja di Provinsi Kalimantan Timur selama tahun 2007-2009. Meskipun demikian, apabila diperhatikan pada tingkat pertumbuhan selama tahun 2007-2009, pertumbuhan jumlah tenaga kerja di wilayah sebelah Utara tampak lebih cepa t diba ndingka n wilayah Selatan, terutama sekali di Kabupa ten Malinau dan Nunukan perkembangan jumlah tenaga dapat tumbuh masing- masing sebesar
16.48% per tahun dan 15.66% jauh di atas tingkat pertumbuhan tenaga kerja di Kutai Kartanegara yang sebelumnya terindikasi paling banyak menyerap tenaga kerja di Provinsi Kalimantan Timur. Tingginya pertumbuhan tenaga kerja di Kabupaten Malinau dan Nunukan tersebut pada akhirnya mampu mendorong pertumbuhan tenaga kerja di tingkat provinsi hingga mencapai 8.87% per tahun sepanjang tahun 2007-2009.
Tabel 27. Perkembangan Tenaga Kerja di Provinsi Kalimantan Timur Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2007-2009
Kabupaten/Kota 2007 2008 2009 Rata-rata Jumlah (org) Shr (%) Jumlah (org) Shr (%) Jumlah (org) Shr (%) Shr (%) Gr (%) Paser 72 884 6.89 83 709 6.65 81 690 6.30 6.53 6.22 Kutai Barat 72 317 6.84 81 479 6.47 83 880 6.47 6.51 7.81 K. Kartanegara 197 212 18.64 228 833 18.17 233 663 18.01 18.05 9.07 Kutai Timur 67 372 6.37 78 749 6.25 71 221 5.49 5.96 3.66 Berau 58 911 5.57 66 043 5.24 69 826 5.38 5.33 8.92 Malinau 21 216 2.01 26 854 2.13 28 570 2.20 2.09 16.48 Bulungan 46 249 4.37 51 165 4.06 46 785 3.61 3.96 1.03 Nunukan 41 804 3.95 48 409 3.84 55 921 4.31 3.99 15.66 Penaja m P U 45 784 4.33 53 673 4.26 54 422 4.19 4.21 9.31 Ba likpapan 166 966 15.79 202 158 16.05 209 176 16.12 15.79 12.27 Sa marinda 208 628 19.72 234 652 18.63 247 686 19.09 18.91 9.01 Tarakan 54 614 5.16 60 294 4.79 67 507 5.20 4.99 11.18 Bontang 43 768 0.36 43 571 3.46 47 032 3.63 3.69 3.75 Provinsi Ka ltim 1 097 725 100.00 1 259 589 100.00 1 297 379 100.00 100.00 8.87
Sumber : BPS Kalimantan Timur (2010) Keterangan :
Shr : share atau kontribusi Gr : tingkat pertumbuhan
Dilihat dari strukturnya, selama ini komposisi tenaga kerja di Provinsi Kalimantan Timur masih terkonsentrasi pada sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan. Seperti yang disajikan pada Tabel 28, sektor tersebut
mampu menyerap sekitar 37.09% per tahun dari total tenaga kerja di Provinsi Kalimantan selama tahun 2007-2009. Setelah pertanian, sektor berikutnya yang cukup ba nyak menyerap lapangan kerja adalah sektor jasa perdagangan, hotel dan restoran, yakni sebanyak 21.17%, sementara untuk sektor industri penggalian dan pertambangan masing- masing hanya menyerap 6.69% dan 5.76% per tahun dari total tenaga kerja yang tersedia.
Tabel 28. Perkembangan Tenaga Kerja Sektoral di Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2007-2009 Kabupaten/Kota 2007 2008 2009 Rata-rata Jumlah (org) Shr (%) Jumlah (org) Shr (%) Jumlah (org) Shr (%) Shr (%) Gr (%) Pertanian 375,802 34.23 532,839 42.30 450,725 34.74 37.09 13.19 Pertambangan 62,271 5.67 71,085 5.64 77,311 5.96 5.76 11.46 Ind. Pengolahan 82,979 7.56 83,948 6.66 75,699 5.83 6.69 -4.33
Listrik, Air Bersih 4,675 0.43 4,227 0.34 4,457 0.34 0.37 -2.07
Bangunan 69,207 6.30 81,306 6.45 84,536 6.52 6.43 10.73
Perdag. Htl & Restoran 232,401 21.17 258,683 20.54 282,784 21.80 21.17 10.31
Angkutan & Komnks 74,266 6.77 83,863 6.66 73,385 5.66 6.36 0.21
Jasa Keuangan 25,982 2.37 24,097 1.91 24,809 1.91 2.06 -2.15
Jasa Lainnya 170,142 15.50 119,541 9.49 223,673 17.24 14.08 28.68 Provinsi Ka ltim 1 097 725 100.00 1 259 589 100.00 1 297 379 100.00 100.00 8.87 Sumber : BPS Kalimantan Timu r (2010)
Keterangan :
Shr : share atau kontribusi Gr : tingkat pertumbuhan
Sektor yang paling cepat tingkat pertumbuhan tenaga kerjanya selama tahun 2007-2009 adalah sektor jasa lainnya. Rata-rata per tahun pertumbuhan jumlah tenaga kerja yang terserap di sektor tersebut untuk periode yang sama adalah 28.68%. Menyusul kemudian tenaga kerja di sektor pertanian yang tumbuh rata-rata per tahun sebesar 13.19%, sektor pertambangan sebesar 11.46%, sektor bangunan sebesar 10,73% dan sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar
10.31%. Beberapa sektor ada juga yang terlihat mengalami rata-rata pertumbuhan negatif dalam menyerap tenaga kerja selama periode 2007-2009, sektor-sektor yang dimaksud adalah sektor industri pengolahan sebesar -4.33% per tahun, sektor listrik dan air bersih sebesar -2.07% per tahun, dan sektor jasa keuangan sebesar -2.15% per tahun.
Berdasarkan serangkaian angka kontribusi dan pertumbuhan penyerapan tenaga kerja di atas, terlihat jelas bahwa peranan sektor-sektor infrastruktur dalam mengatasi masalah ketenagakerjaan di Provinsi Kalimantan Timur selama tahun 2007-2009 terindikasi rendah. Dimana sektor listrik dan air bersih hanya mampu menyerap lapangan kerja per tahun sebesar 0.37% dari seluruh tenaga kerja yang terserap di Provinsi Kalimantan Timur, kemudian sektor bangunan sebesar 6.43% per tahun, serta sektor angkutan dan komunikasi sebanyak 6.36% per tahun. Kemudian berdasarkan pertumbuhannya, hanya penyerapan tenaga kerja di sektor bangunan yang dapat tumbuh cepat, dengan rata-rata 10.73% per tahun. Sedangkan untuk sektor angkutan dan komunikasi tumbuh sangat lambat sebesar 0.21% per tahun. Bahkan sektor listrik dan air bersih tumbuh negatif sebesar -2.07% per tahun. Dari semua kecenderungan ini akhirnya dapat dikatakan bahwa sektor-sektor infrastruktur di Provinsi Kalimantan Timur belum mampu dijadika n sebagai andalan untuk menyerap lapangan kerja dalam upaya mengatasi pengangguran yang terjadi selama tahun 2007-2009 tampak sangat tinggi mencapai 11.34% per tahun (BPS Kalimantan Timur, 2010).