BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
B. Saran
2. Peneliti Berikutnya
Seorang perempuan adalah seorang yang lebih mengutamakan rasa dalam
bercerita. Dalam penelitian, membangun rapport yang baik dapat membantu
mendapatkan data yang diperoleh, akan tetapi karena seorang perempuan juga
mudah bercerita maka jika perempuan sudah merasa nyaman, dia akan bercerita
banyak apapun yang dapat diceritakan dan terkadang akan keluar dari konteks
penelitian. Seorang penelitian yang meneliti tentang perempuan perlu memiliki
kontrol terhadap informan yang baik.
Penelitian yang menggunakan perempuan dewasa yang sudah menikah,
memberikan tantangan sendiri dalam proses pengambilan data. Posisi informan
yang sebagai istri dan ibu dalam keluarga rawan dengan pertanyaan sensitif
hal keluarganya sendiri yaitu kedua orangtuanya maupun saudara-saudaranya.
Peneliti perlu jeli dalam membaca data yang ada. Jadi dalam proses penelitian
lapangan suatu penelitian kualitatif, peneliti perlu melihat dan menghormati peran
85
DAFTAR PUSTAKA
Allport, G. 1991 Orang yang Matang dalam Schultz, Duane. Psikologi
Pertumbuhan. Yogyakarta : Kanisius.
Andersen, Susan M., & Chen, Serena. 2002. The Relational Self : An Interpersonal Social – Cognitive Theory. Psychological Review, Vol. 109,
No. 4, 619 – 645.
Barnhouse, Ruth Tifany. 1988. Identitas Wanita : Bagaimana Mengenal dan
membentuk Citra Diri. Yogyakarta : Kanisius.
Blumer, H. 1969. Symbolic Interactionism Perspective and Method. New Jersey : Prentice-Hall, Inc.
Brewer, Marilynn B., & Gardner, Wendi. 1996. Who is This “We”? Levels of
Collective Identity and Self Representations. Journal Personality and
Social Psychology, Vol. 71, No. 1, 83-93.
Brooks, W. D. 1974. Speech Communication. Dubuque : Wm. C. Brown Company Publishers.
Burnett, Paul C., & Demnar, Wayne J. 1996. The Relationship Between Closeness to Significant Others and Self-Esteem. Journal of Family Studies, Vol. 02, No. 2, Oktober 1996, pp. 121-129.
Chen, Serena, Boucher, Helen C., & Tapias, Molly Parker. 2006. The Relational Self Revealed : Integrative Conceptualization and Implications for Interpersonal Life. Psychological Bulletin, Vol. 132, No. 2, 151-179.
Combs, A. W., & Syngg, D. 1959. Individual Behavior, rev. Ed. New York : Harper.
Combs, A. W., Avila, Donald L., & Purkey, William W. 1979. Self-Concept : Product and Producer of Experience dalam Elkins, Dov Peretz. Self Concept
Sourcebook : Ideas and Activities for Building Self-Esteem. Princeton :
Growth Associates.
Cote, James E., & Levine, Charles G. 2002. Identity Formation, Agency, and
Culture : A Social Psychological Synthesis. New Jersey : Lawrence
Erlbaum Associates Inc.
Creswell, John W. 2014. Penelitian Kualitatif & Desain Riset : Memilih di Antara
Davis, Joseph E. 2002. Stories of Change : Narrative and Social Movements. America : State University of New York Press.
Epstein, Seymour. 1973. The Self–Concept Revisited or a Theory of a Theory.
American Psychologist, 28, 404-414.
Erikson, Erik H. 1986. Identity, Youth, and Crisis. New York : W. W. Norton.
Erikson, Erik H. 1989. IDENTITAS DAN SIKLUS HIDUP MANUSIA Bunga
Rampai I. Jakarta : Gramedia.
Feist J, & Feist, Gregory J. 2006. Theories of Personality. New York : Mac Graw Hill.
Ganz, Marshall. 2011. The Power of Story in Social Movement. The Annual
Meeting of the American Sociological Association, California. Cambridge :
Kennedy School of Government Harvard University.
Geertz, Hildred. 1961. The Javanese Family. A Study of Kinship and
Socialization. America : The Free Press of Glencoe, Inc.
Gie, The Liang. 1979. Suatu Konsepsi Ke Arah Penertiban Bidang Filsafat. Yogyakarta : Penerbit Karya Kencana.
Guimond, Serge., dkk. 2006. Social Comparison, Self-Stereotyping, and Gender Differences in Self Construal. Journal Personality and Social Psychology,
Vo. 90, No. 2, 221-242.
Handayani, Christina S, & Novianto, Ardhian. 2008. Kuasa Wanita Jawa. Yogyakarta : LKiS.
Herusatoto, Budiono. 1984. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Yogyakarta : Hanindita.
Kartini, Kartono. 2006. Psikologi Wanita 1 : Mengenal Gadis Remaja & Wanita
Dewasa. Bandung : Mandar Maju.
Kraus, Michael W., & Chen, Serena. 2009. Striving to Be Known by Significant Others : Automatic Activation of Self-Verification Goals in Relationship Contexts. Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 97, No. 1, 58-73.
Markus, H. R., & Kitayama, S. 1991. Culture and the Self : Implications for Cognition, Emotion, and Motivation. Psychological Review, 98, 224-253.
Matsumoto, David., & Juang, Linda. 2003. Culture and Psychology. America : Wadsworth Publishing.
McAdams, Dan P. 2004. The Redemptive Self: Narrative Identity in America Today dalam Beike, Denise R., Lampinen, James M., & Behrend, Douglas A. The Self and Memory. New York : Psychology Press.
McAdams, Dan P. 2006. The Redemptive Self : Stories Americans Live. New York : OXFORD University Press.
McAdams, Dan P. 2006. The Redemptive Self : Generativity and The Stories Americans Live. Research in Human Development, 3 (2&3), 81-100.
McAdams, Dan P., & McLean, Kate C. 2013. Narrative Identity. Current
Directions in Psychological Science, 22 (3), 233-238.
Millon, Theodore & Melvin J. Lerner. 2003. Handbook of Psychology Volume 5
Personality and Social Psychology. New Jersey : John Wiley & Son, Inc.
Pasupathi, M., Mansour, E., & Brubaker, J. R. 2007. Developing a Life Story : Construcing Relations between Self and Experience in Autobiographical Narratives. Human Devolopment, 50, 85-110.
Patterson, C. H. 1979. The Self in Recent Rogerian Theory dalam Elkins, Dov Peretz. Self Concept Sourcebook : Ideas and Activities for Building
Self-Esteem. Princeton : Growth Associates.
Pemberton, John. 1994. On the Subject of “Java”. Ithaca : Cornell University Press.
Polingkhorne, Donald E. 1991. Narratives and Self Concept. Journal of
Narratives and Life History, 1(2&3), 135-153.
Rakhmat, Jalaludin. 1985. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remadja Karya CV.
Ratner, Carl. 2002. E-book Cultural Psychology : Theory and Method. DOI 10.1007/978-1-4615-0677-5.
Smith, Jonathan A. 2008. Qualitative Psychology : A Practical Guide to Research
Methods Second Edition. Sage Publication.
Smith, Jonathan A, Flowers, Paul, & Larkin, Michael. 2009. Interpretative
Phenomenological Analysis : Theory, Method, and Research. Sage
Somech, Anit. 2000. The Independent and Interdependent Selves : Different Meaning in Different Cultures. International Journal and Intercultural
Relations, 24, 161-172.
Sugiman. T., Gergen, K. J., Wagner W, Yamada, Y. 2008. Meaning in Action
Constructions, Narratives, and Representations. Jepang : Springer.
Suseno SJ, Frans Magnis, & C.M., S Rekosusilo. 1983. Etika Jawa dalam
Tantangan Sebuah Bunga Rampai. Yogyakarta : Kanisius.
Suseno SJ, Frans Magnis. 1984. ETIKA JAWA Sebuah Analisa Falsafi tentang
Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta : Gramedia.
Taylor, A., et al. 1977. Communicating. Englewood Cliffs : Prentice-Hall.
Triandis, Harry C. 1989. The Self and Social Behavior in Differing Cultural Contexts. Psychological Review, Vol. 96, No. 3, 506-520.
Warto. 1997. Wanita Pabrikan : Simbol Pergeseran Status Wanita Desa dalam Abdullah, Irwan. Sangkan Paran Gender. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Protocol Guide Interview
Nama : Umur : Waktu Interview : Tempat Interview :
1. Bagaimana pengalaman Ibu dari kecil hingga dewasa? (bersama orangtua, adik, kakak, dll)
2. Siapa sosok yang paling berperan dalam hidup Ibu? Berikan alasannya 3. Apa arti sosok yang berperan itu bagi Ibu?
4. Bagaimana Ibu melihat diri Ibu berdasarkan pengalaman-pengalaman yang dialami bersama sosok tersebut dan pengalaman lainnya? Sebutkan kelebihan dan kekurangan Ibu?
WAWANCARA 1
Nama : Ibu S
Umur : 52 tahun
Waktu Interview : 5 Juni 2015, 18 Juni 2015 Tempat Interview : Tempat Kerja, Tempat Kerja
(Wawancara 5 Juni 2015 pukul 12.00 – 13.00 WIB di tempat kerja)
Baris Deskripsi Tematik
1 2 3
T Ibu waktu masih muda itu kayak gimana? Waktu dulu masih kecil gitu sama orangtuanya ibu. Ibu berapa bersaudara? 4 J Empat
5 T Oh 4 bersaudara
6 J Cewek, cewek, cewek, cowok.. 7 T Ibu anak keberapa?
8 J Ketiga
9 T Kalau dulu itu ibu rumahnya di mana? 10
11 12 13 14
J Dulu itu dari lahir sampai tahun 1992 di patangpuluhan. Sakola ngidul sampe patang puluhan. Atau dari pojok benteng kulon itu ke barat. Aslinya sana. Tahun 1992 baru pindah ke jakal.
15 T Karena? 16
17 18
J Karena di patangpuluahan itu dulu rumahnya punya apa namanya windung itu loh. Tau windung nggak?
19 T Nggak bu. Jelasin bu.. Hahahah 20
21 22 23 24
J Windung itu tanahnya mlik orang lain. Tapi rumahnya, rumahnya sendiri..Terus kerja di sini, sini kan ada proyek perumahan. Diberi pinjaman untuk cari tanah, cari rumah. Terus 1992 pindah ke sengkan itu. Jalan kaliurang. 25 T Yg pndh itu semua? 1 keluarga atau sendiri? 26 J 1 keluarga. Dua orang.
27 28
T Lah 1 keluarga cuman 2 orang? Gimana tuh? Hahaha 29 30 31 32 33 34 35
J Ibu saya meninggal tahun 1986. Awal-awal tahun 1986 saya kerja sini honorer, terus Juni 1986 itu ibu saya nggak ada. Terus kakak yang no 1 sudah ke ungaran jadi suster. Terus 1989 itu kakak nomor 2 ikut suami ke Jayapura. Udah brkurang 2. terus eh ibu juga nggak ada. Kakak jadi suster, 1 menikah di
36 37
Jayapura terus 1991 bapak nggak ada. Jadi tinggal saya dengan adik.
38 T Adik. Yang cowok itu? 39
40 41 42
J Iyaa.. tinggal berdua itu. terus pindah. Tinggal berdua itu belum menikah. Tahun 1992 pindah jalan kaliurang itu dengan adek. 1993 dapat suami di sana.
43 T Oh jd suami ibu itu org sana? 44 J Org sana.
45 T Ohh.. asli sengkan? 46
47 48
J Iya. Ohh.. kalau ketemu pak’e itu mesti nek
ajak ngomong basa Jawa kalau nggak Jawa mesti sing alus.
49 50
T Keluarganya membiasakan seperti itu atau karena itu emang keinginan bapak?
51 52 53 54 55
J Yo memang seneng kalau Basa Jawa itu daripada Bahasa Indonesia itu kadang ngerti. Misale ngerti orang Jawa mesti ngomong Bahasa Jawa nggak mungkin dia ngajak ngomong Bahasa Indonesia.
56 T Kalau nggak bisa? 57
58
J Ya paling nanti terus di anu, dikandani.
“Jenengan ki cah Jawa po cah ngendi ya?”
59 T Ketemunya gimana bu sama bapak? 60
61 62
J Sama bapak? Itu kenalnya itu malah saya tadinya saya belum tau kalau rumahnya disitu ternyata. Kan kenal dari orang lain. 63 T Owh di kenalin orang lain?
64 65 66 67 68
J Ho’o kenal dari orang, orang lain to. Tidak
tahu kalau ternyata rumahnya wohh, ternyata dekat dengan rumahku yang saya buat disana itu, mencari lokasi terkejut. Ohh ternyata deket. Haha. Ya sudah.
69 T Ibu smpe skrg msh tinggal di sana? 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81
J Masih. Rumah milik pribadi sekarang. Karena yang di patangpuluhan kan nggak punya apa-apa. Karena tanahnya mlik orang lain terus tanah yang saya tempati itu mau dipakai oleh yang punya. Pernah ada proyek pelebaran jalan besar jaman dulu. Terus dikembalikan rumah cuma rumah jelek gitu yo wes di anu sama yang punya tanah wes gampangane dibayari piro gitu. Untuk jalan raya jurusan Semarang, bis-bis besar gitu. Dari sana nggak pnya apa-apa ya pindah ke jalan kaliurang itu dari tanah terus dibangun
82 rumah. 83 84 85 86 87
T Kenangan ibu selama di ya sekalipun rumah itu katanya ibu nggak gitu bagus tapi yo ibu kan punya pengalaman tho dengan rumah itu? Pengalaman apa yang paling ibu mengesan? 88 89 90 91 92
J kalau di rumah lama itu saya kira udah mendarah daging ya. Kalau ngimpi tu kebanyakan tetep di rumah lama. yoo... isi critanya itu yo mesti yo rumah lama. nggak tau kenapa aja..
Ada rasa memiliki dengan kenangan masa lalunya (88-92)
93 T Misalnya ibu pernah mimpi apa gitu? 94
95
J Ohh.. jalan apa gitu... ini mau jalan-jalan yo pulangnya kesana. Hahaha
96 T Ada Kenangan apa? 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111
J Ya mugkin lahir juga di sana, selama hidup sebelum 1992 juga di sana.Yang itu lahir di sana itu yang di jalan pinggir jalan raya terus sejak ini tanahnya di apa.. Diminta yang punya kan. Kami pindah ke tempat bulek. Itu agak masuk. Pindah jadi cuma ngontrak yang di tempat bulek tuh ngontrak dari 1986 sampai 1991 akhir. Yang di rumah kontrakan itu nggak membekas. Kalau yang rumah pertama itu saya suka herane kok ngimpi misalnya pernah ngimpi sudah punya 2 anak nugroho epin. Anak msh kecil-kecil kok ngimpinya tuh kok dirumahnya itu. Tapi yang jelas meskipun jaman dulu sepeninggal apa namanya Basa Jawane kere pitu likur. 112 T Kere pitu likur niku pripun bu?
113 114 115 116
J Nggak punya apa-apa bener gitu.. saking tidak mampunya itu tapi rasanya itu anu, bapak simbok itu nggak pernah ada pertengkaran gitu.
Menikmati apa yang ada (113-116)
117 T Sama ibu nggak pernah bertengkar gitu? 118 119 120 121 122 123 124
J Nggak cuman 4 bersaudara yoo nggak pernah bertengkar dengan bapak simbok yo nggak pernah. bapak simbok ya nggak pernah kok memarahi. Jadi rasanya itu tetep seneng meskipun nggak punya apa-apa gitu. Terasa banget di banding dengan keadaan sekarang bedo.
125 T Kalau ada beda pendapat ibu gimana? 126
127
J Beda pendapat. Ya biasa ibu saya yang menengahi. misalnya beda pendapat antara
Memandang ibu yang berperan
128 sapa? dalam keluarga 129 T Bapak sama anaknya. (126-128) 130
131
J Ibu saya bisa bijaksana bisa nganu menengahi. Memandang ibu bijaksana (130 - 132 133 134
T Ibu menilai ibunya ibu itu kayak gimana orangnya? Melihat sebagai orang yang seperti apa?
(131)
135 136
J Ya ibu saya itu nek aku ngarani yo bisa jadi teladan. Memandang ibu teladan (135 - 137 T Karena? 136) 138 139 140 141 142 143 144 145
J Kesabarannya terus usaha kerjanya usaha kerasnya contohnya itu tentang ekonomi. Bapak itu kerja keras. Terus ibu juga bantu di rumah anu.. buka jahit. Ya saya selama di sana juga buka jahit sambil kerja di sini. Untuk pindah dari 1992 pindah ke jakal itu ya untuk membunuh. Profesi menjahitnya itu ya agak sulit juga.
Sosok ibu hidup membantu
keluarga (138-141)
146 T Maksudnya membunuh apa bu? 147
148 149 150 151
J Pelanggannya kan udah banyak. Nah terus kan mau pindah harus bersih dulu toh harus semua udah habis, selesai di berikan pelanggannya itu kan nunggu sampe itu. Udah sini mau pindah masih ada satu lagi. 152 T Kalau bapaknya ibu?
153 J Suamiku atau bapakku? 154 T Bapaknya ibu.
155 156 157 158
J Bapak, bapakku kalau dari segi pendidikan bapak sama ibu mungkin sama. Tapi kalau dari kepintaranya rasanya lebih.. lebih berperan ibu.
Memandang ibu lebih berperan (155-158)
159 T Lebih berperan ibu? 160
161 162 163 164
J Iya. Pinter ibulah gampangannya. Terus tapi bapak saya anu orangnya opo jenenge opo yo? Yo sportif gitu lho. Misale nggak bisa ditanyai. Wes manut. manut simbok wae piye. Menyerahkan gitu. Sering gitu.
165 166
T Anak-anaknya juga ini bu? Deket bapak atau ibu?
167 168
J Anak-anak lebih deket pada ibu. lebih nurut sama ibu.
169 170
T Emang kek gimana ibu mengasuh anak-anaknya gitu?
171 172 173
J Kalau yang membekas tuh selalu ini menekankan orang itu harus jujur terus hmm terus jangan apa.. Tetangga-tetangga itu
Orangtua menekankan hidup itu menjaga
174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190
jangan.. jangan bikin masalah, pokoknya nganu opo jenenge? Menjaga kerukunan. Jangan sambat. terus jangan meskipun udah punya tapi jangan hmm itu lho nganu banget ibu saya jadi ya misalnya anak-anak gitu bergaul dengan teman-teman sekarang kok minder wah nggak punya ini kadang gitu tho. Wes sing penting arepa ra nduwe opo-opa anggere punya sangu kepinteran kan pendidikan ibu saya menekankan. Meskipun tidak bisa membantu anak-anak belajar tapi menemani. Kan misale nggak bisa garap gitu kan nggak bisa tanya gitu ya tapi menemani sampai jam berapapun. Haha 2 jam itu ngancani, jangan minder gitu. Meskipun bocahe kaya ngono kae, pinter kowe.. kalau pinter kan mesti dihargai sama teman-teman.
kerukunan dan menjadi orang yang bisa dihargai orang lain (173-190)
191 T Terus ibu kalau ke anak-anak ibu itu piye? 192
193 194
J Ya saya nganu saya cenderungnya niru ibu saya. modele. Tapi ya bapakne yo tipene bedo yo dadi anake yo bedo..
Sosok ibu sebagai panutan (192-194)
195 T Kalau bapaknya ya kek gimana bu? 196 J Bapak sing? Bapak sing endi? 197
198 199
T Suaminya bu.. suaminya ibu. Suaminya ibu gimana ke anaknya? kan kalau ibu sama kayak ibunya ibu.
200 201
J Kalau suamiku ki orangnya itu keras kadang yo nek ngomong kasar.
202 203
T Lha kalau mengasuh anak-anaknya kayak gimana bu suaminya ibu?
204 J Untuk mendidik anaknya dipasrahke akue. 205 T Maksudnya gimana bu?
206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219
J Misale anu wes aku ra ngerti wes kono karepmu. Tapi Beda dengan bapak saya. Kalau bapak saya ki ketok le sportif opo ngalah gitu lho.. wes simbok wae, aku ra isa. Kalau suamiku nadane ki kaya nada marah. nah itu anak-anak wes pokoke duwe... Ya itu kayaknya wes udah karaktere po piye yo? Dari dulu sih meskipun ada anak-anak yo sama saja. Jadi makanya anak saya itu do pinter, nek mung misuh bisa. Hampir setiap hari mendengar, nek nugroho itu relatif lebih nganu luwih halus daripada adekya. Kalau yang kecil berani. yang kecil ki kan anaknya lebih... lebih berani lebih spontan. Ora tading
Diri lebih berperan dalam keluarga daripada suami (206 -
220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235
aling-aling. Misale bapakne gitu yo berani. Nah kalau mendengar kata-kata kasar hampir setiap hari kan ya mau tidak mau kan terekam to? Atau mugkin tidak tau kalau itu salah. Karena waktu SMP pernah ditegur
sama gurunya juga “kok kata-katamu seperti
itu?” Ya cewe.. ditegur gurunya “itu kok cah
ayu-ayu kok kata-katanya ngono? Terus e ditegur gitu terus sekalian ngomong sama
gurunya itu “saya ini bukan arep bermaksud
misuh-misuh piye tapi rumangsa de’e ki yo
wis biasa saja saya tuh setiap hari wes
mendengar seperti itu”. Meh misuh-misuh tapi kata-katanya. Wong kata-kata banyak pilihan kata yang halus sukanya sing dipilih sing kasar. Jadi kuping saya ya wis terbiasa. 236
237
T Jadi ibu kalau bapak lagi ngomong kek gitu Ibu nyikapinnya gimana bu?
238 239 240 241 242 243
J Nek misale rada. mbok yo, mbok yo aja kaya ngono kuwi, sing rada alus. Nek mung karo guyon kae yo aku tak timbrung sisan. Soale kayaknya nggak anue sudah misale sudah diberitahu oleh siapapun yo tetep saja. Tetep belom berubah. Tapi sih berharap berubah.
Diri yang bijaksana (238 –
243)
244 T Kalau berharap ke anak-anake ibu? 245 J Berharap dalam sikape opo apa? 246 T Sikap semuanya bu..
247 248
J Harapane yo bisa lebih baik dari orangtuanya. Berharap demi kebaikan anak 249 250 251
T Kalau pas ibu tau kalau epin pernah ditegur waktu SMP, ibu ngasih taunya ke Epin gimana bu? (247 – 248) 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265
J Ya ikut menasehati ya memang kalau bisa yo jangan sampai seperti itu. Meskipun setiap hari mendengar kan tidak, tidak opo.. Dengan sendirinya boleh ditiru tho.. Kalau bapak tidak mau berubah ya sudahlah kita tidak bisa menumpas. Tapi, tapi kita saya dan anak-anak kalau bisa ya jagan meniru yang itu karena kita kan tahu itu tidak baik. Bertahanlah pada yang baik, apa gampangane ngono kuwi lah. Tapi ya nggak tau anak-anak ki. Kadang kan mbales. Bapak aja gitu kok aku nggak.. yo emosine jalan duluan. Mbok ya mikir dawa, aja emosine dulu. Kan masih remaja-remaja ngono.
Diri yang bijaksana (252 –
266 267 268 269
T Klo ibu liat majalah, ibu itu ada rasa ini tuh.. sosoknya itu bagus gitu loh. Ada rasa gini-gini itu ada nggak bu? Idolanya ibu ada nggak bu? Buat ibu sendiri
270 J Paling yo nek ono sing menginspirasi. 271 T Siapa bu?
272 J Nggak ono e
273 T 1 aja bu.. yang paling menginspirasi. 274
275 276 277
J Sapa ya? ora-ora trus inget siapa yang mnginspirasi, tapi misale mbaca sepeintas ya ana.. trus njuk ana tokoh idola ngono. Sapa ya?
278 279
T Ya jaman dulu bu? Jaman dulu kalau masih ada. Waktu ibu masih remaja,
280 281 282 283 284 285 286 287 288
J Aku remajanya itu nganu kok anak rumahan haha jadi pergaulane mugkin tidak tidak seperti pada umumnya anak-anak sekarang karena ter...opo yo? terkondisi di rumah membantu ibu saya itu, membantu jahit itu. Itu mugkin pergaulannya, kurang gaul. Kan dari sekolah ikut cari uang. Belajar njahit, ikut njahit, suka njahit untuk pelanggan bukan untuk sendiri.
Diri yang menolong orangtua (283 – 288) 289 290 291
T Kalau orang yang paling berkesan di dalam hidup ibu hmm memberikan pengaruh ke dalam kehidupan ibu tuh siapa?
292 293
J Untuk sekarang? Nek yang sampai sekarang yang masih masih saya alami kakakku. 294 T Kakak yang? 295 296 297 298 299 300 301 302 303
J Kakak yang tertua. Sejak ibukku nggak ada ki praktis ya kakakku itu seperti jadi ibu. Perhatiannya luar biasa. Iya yang jadi suster, perhatiannya tuh ah sampai hal kcil-kecil. Makannya nek nek kadang kakak adek 1 keluarga ya sok bertengkar ki saya heran dulu teman-teman cerita dengan adeknya bertengkar, dalam kamus saya nggak ada. Hahaha
Mengenal keharmonisan dari kecil (299 –
302)
304 T Dulu tuh ibu nggak pernah bertengkar? 305 J Nggak pernah 306 T Sekalipun? 307 308 309 310 311
J Nggak pernah. Hm mungkin waktu saya kecil. Usil-usil nakal apa-apa terus ngelempar. Ya nek selama wes sudah nalar gitu nggak pernah. Mungkin aneh ya?? Kakak saya kan misalkan mau belikan baju
312 313 314 315 316
saya. Kan nggak usah ditanyain, dibelikan apa gitu nanti dia suka ya saya mesti ya suka. Misalnya beli kain motife apa, wes rasah takon terus ditukokke wis sama selerane. Bisa ngerti gitu.
317 318
T Pernah apa ada cembru sama kakaknya apa adeknya gitu ibu jg nggak?
319 320 321 322 323 324 325
J Nggak, apalagi sing cowok itu. cowok dewe, ragil tapi ngalah banget. Yo jaman jaman kecil itu jenenge dikandani manut. Sing udah gede-gede itu yo yo opo murah hatilah bocahe ki. Paling-paling ngalah nek aku ngarani. Paling nerimo. Padahal bungsu. Dalam keluarga sing paling nakal aku.
326 327
T Nakalnya itu to gimana bu? Nakalnya k gimana? 328 239 330 331 332 333
J Empat bersaudara aku sing paling nakal, galak. Paling galak aku ini, misale nek ra pener gitu aku nggetak-nggetak. Jadi misale ada harus ngomong sama bapak soal ini menyampaikan pendapat yang lain nggak