BAB IV. PELAKSANAAN PENELITIAN, HASIL PENELITIAN, ANALISIS
B. Hasil Penelitian
1. Perempuan Jawa dan Konsep Dirinya
Konsep diri perempuan Jawa adalah konsep diri yang positif. Mereka
mampu memiliki pandangan dan menilai dirinya dengan positif walaupun berada
dalam budaya patriarkisme yang banyak membicarakan atau meletakkan
kedudukan laki-laki lebih tinggi dari perempuan dan menomorduakan perempuan.
Mereka mampu menyadari sisi positif dan sisi negatif dirinya.
a. Sisi diri positif pada perempuan Jawa
Perempuan Jawa menyadari bahwa dirinya adalah diri yang positif yaitu
seorang perempuan yang kuat dalam segala hal. Perempuan Jawa yang kuat dalam
atau kebesaran Tuhan. Perempuan Jawa percaya bahwa jika kuat dalam doa akan
membawa rejeki atau berkat tersendiri.
“Berdoa, saya dikasih berdoa, banyak doa membantu, nyatanya ho’oh banyak doa.” (L, 879-880)
“Ya banyak doa. Ya peganganya doa itu mbak. Doa itu elok tenan. Pokoknya ya aman-aman lah. Doa-doa doa, saya sering novena sama itu apa.. tesbeih itu apa rosario. Tiap malam itu saya rosario.” (L, 893 -898)
“kuat doane terus ora tau ribut, mestine Tuhan kasih berkat yang melimpah buat kita” (Kuat dalam doa kemudian tidak pernah bertengkar, pasti Tuhan memberi berkat yang melimpah buat kita) (C, 373-375)
Kematangan spiritual yang dimiliki perempuan Jawa membantu perempuan Jawa
memahami lingkungan sekitar dan melihat lingkungan dari sisi positif.
“kami nggak pernah berpikiran macem-macem, jadi dari hal yang itu kan kita nggak pernah berpikiran yang macem-macem atau berpikiran negatif kan wis ora.” (kami tidak pernah berpikiran yang tidak-tidak, jadi dari hal itu kan kita tidak pernah berpikiran yang tidak-tidak atau berpikiran negatif kan sudah tidak pernah) (C, 853-856)
Pikiran positif yang dimiliki perempuan Jawa juga membawa kekuatan positif
bagi perilaku mereka. Perempuan Jawa melihat dirinya mampu ikhlas dalam
melihat setiap hal yang dihadapi atau diperoleh. Setiap apapun yang dilakukan dan
diterima oleh perempuan Jawa dilihat dari sisi positif, dinikmati, dan dilakukan
serta diterima dengan ikhlas.
“kami selalu menikmati. Arep ra nduwe duwit ya dinikmati, dilakoni uripe.” (Kami selalu menikmati. Walaupun tidak punya uang, kehidupan tetap dijalani) (C, 901-902)
“Berbuat baik ke orang itu jangan berharap dia juga berbuat baik ke kita.” (C, 863-864)
Pikiran positif dan keikhlasan membawa perempuan Jawa untuk semakin
kuat dengan prinsip hidup orang Jawa yang sudah diberikan oleh orangtuanya
yaitu untuk menjaga kerukunan. Pikiran positif dan keikhlasan dalam segala hal
termasuk dalam menghadapi masalah membantu membuat perempuan Jawa
menjaga kerukunan. Bentuk konkritnya dalam menjaga kerukunan atau
keharmonisan adalah dengan diam dan mengalah, baik dalam bentuk pekerjaan
maupun bukan karena adanya prinsip hormat yang dimiliki perempuan Jawa.
Diam yang dilakukan dengan maksud menghormati orang disekitarnya.
“Kalau dia nganu musuhin saya. Saya diem orangnya. Nggak mau
mbales, nggak mau itu. Ada dulu persaingan jualan, kan iri, orang kan iri ada yang iri. Tapi ya cuek aja, suami saya juga cuek aja. Ngapain kita ngurusin orang lain. Saya kan orangnya gitu. Saya dimusuhin
udah diem aja.” (L, 233-239)
“Lebih baik kalau ibu itu mengalah ya. Mengalah daripada nanti ada masalah ya.” (E, 160-162)
“Ya itu apa namanya.. apa tho istilahe.. aa.. menjaga suasana itu
jangan. Jangan ribut... jangan bertengkar.. rela mengalah.” (S, 555 -557)
“Males ribut. Nanti malah berbuntut panjang. Ya sudahlah ...” (S,
559)
Menjaga kerukunan yang dipegang oleh perempuan Jawa selain karena adanya
rasa menghormati kepada orang disekitarnya tetapi mereka juga menyadari bahwa
mereka tidak mengenal adanya pertengkaran atau memiliki musuh dari kecil.
“Musuhan itu nggak pernah dari kecil sampe sekarang yang namanya musuhan itu saya nggak suka.” (I, 33-35)
“Makannya nek nek kadang kakak adek 1 keluarga ya sok bertengkar ki saya heran dulu teman-teman cerita dengan adeknya bertengkar, dalam kamus saya nggak ada.” (S, 299-302)
Perempuan Jawa juga menyadari bahwa dirinya merupakan perempuan
yang trampil dalam melakukan banyak hal, baik dari pekerjaan yang halus
dilakukan dengan duduk sampai pekerjaan yang membutuhkan tenaga lebih
banyak.
“Jadi ibu rumah tangga asli ibu rumah tangga tapi ibu itu juga kegiatan
di rumah itu suka melukis. Otodidak ya melukis ...” (E, 455-458)
“Ngerajut juga, kalau ngerajut ini malah sekarang ini sebelum ini ada.
Itu suka dulu itu kan ibu ngajari gitu tho, puluhan tahun itu kok kepengen ya belajar lagi dari awal juga tho lama-lama juga bisa bikin baju, bikin lainnya itu juga laku. Ini contohnya seperti ini.” (E, 468 -475)
“Hal seni itu ibu suka ngukir sayuran buah, seperti itu, kalau ada tumpeng itu ibu sering disuruh. Gitu” (E, 477-479)
“Ibu sendiri yang mbersihin, yang ngecet ini ibu sendiri.” (E, 530-531)
“... dituntut untuk mandiri kan, kerja bakti juga harus dilakukan sendiri sampe suatu saat kayaknya saya itu nggak bisa, nggak harus sama laki-laki saya juga bisa.” (I, 70-74)
Keterampilan yang dimiliki Perempuan Jawa disadari juga membuat dirinya
memiliki kemandirian dan mau berusaha untuk memenuhi keinginannya.
Kemandirian yang dimiliki yaitu mandiri dalam mencari uang. Perempuan Jawa
dengan keterampilannya mampu membuat usaha apapun untuk mencari uang.
“... Terus aku bikin kalau mau kuliah itu saya bikin. Saya bikin terus yang nyopir adik saya, terus tak setoreke ke sekolah-sekolah makannya harus anak itu harus nganu rekasa gitu, nggak dimudahkan gitu, harus minta ini harus minta itu, harus dimudahkan gitu nggak, harus kerja dulu kalau mau minta apa-apa harus kerja dulu.” (L,726-734)
Mereka berprinsip sebisa mungkin tidak tergantung pada suami atau laki-laki
dalam masalah ekonomi.
“Meskipun aku di rumah dapat uang dari suami, aku ya tetep kerja, ya ngewangi deke kadang ya jualan online gitu.” (C, 334-336)
“Aku dulu sudah menikah aku masih bekerja. Sudah punya anak satu masih bekerja.” (C, 528-530)
Mereka sebisa mungkin membantu suami mencari uang demi anak-anak.
“Pokoke kalau untuk sekolah tak uja. Minta apa. Saya berusaha
mencarikan uang darimana saya tetep saya carikan untuk bayar les.
Untuk ini saya berusaha mencarikan.” (L, 697-701)
Informan perempuan Jawa juga memiliki kemandirian dalam berumah tangga baik
dalam hal menghadapi masalah rumah tangga maupun dalam mengurus anak.
Perempuan Jawa berprinsip bahwa masalah apapun yang terjadi di dalam rumah
tangga selalu diselesaikan sendiri tanpa orangtua mengetahui.
“... bagi kami kalau ada masalah di keluarga kami, kami tidak mau memberi apa ya .. kepikiran ke orangtua walaupun itu masalah seberat apa pun kita, kita tutup, dan kita di luar itu kelihatannya nggak ada masalah sebetulnya itu ada masalah yang luar biasa bagi kita. Itu kita tutup hanya kita berdua yang tahu.” (I, 117-124)
Begitu pula dalam hal mengurus anak, perempuan Jawa mampu mengurus sendiri
anak yang sakit.
“ibu itu apa-apa sendiri kok dulu itu kalau anak sakit gitu ya kalau nggak kakek neneknya, ibu sendiri, ndaftar ke panti rapih gitu tho nanti terus dokternya datangnya jam berapa itu ke sana lagi sama
anaknya yang sakit itu, seperti itu.” (E, 676-682)
Semua hal yang dilakukan oleh para perempuan Jawa berarah pada satu tujuan
yang pasti yaitu semua untuk mengurus atau mendidik anak.
b. Sisi negatif pada perempuan Jawa
Setiap individu tidak hanya memiliki sisi positif yang ada dalam dirinya
melainkan juga ada sisi negatif. Perempuan Jawa juga mampu menyadari sisi
yang memiliki kekurangan. Kekurangan yang disadari oleh para informan adalah
diri yang ngalahan atau nrima untuk menjaga kerukunan.
“... terlalu mengalah terlalu memikirkan panjang itu jadi ragu-ragu kadang itu. negatifnya.” (S, 769-770)
“Karena itu tadi terlalu mengalah itu kalau menurut saya itu marakke ragu-ragu, tidak berani bertindak, mikirnya mungkin malah terlalu panjang itu lho.” (S, 773-776)
Ngalahan atau nrima menurut informan justru menjadi negatif karena menjadikan
terlalu berpikir panjang. Padahal ada situasi tertentu yang diharapkan untuk
bersikap dengan cepat dan tegas. Terlalu mengalah juga membuat benar-benar
akan dikalahkan oleh orang lain.