PERKEMBANGAN REMAJA
B. Perkembangan Psikologis
4. Perkembangan Moral
3.5 Penelitian Religiusitas dengan Penyalahgunaan Narkoba
Penelitian mengenai penyalahgunaan narkoba dikaitkan dengan religiusitas telah dilaksanakan Longest dan Vaisey (2008) untuk mendukung teori kontrol sosial yang menegaskan kurangnya hubungan dengan institusi sekolah dan ibu bapak boleh meningkatkan penggunaan narkoba dalam kalangan remaja. Penelitian menggunakan data jangka panjang remaja, data dikumpulkan melalui penyelidikan telefon terhadap 3,290 remaja berusia 13 hingga 17 tahun. Keputusan penelitian mendapati agama bukan saja menjadi kontrol sosial tetapi menjadi motif yang dihayati untuk berperilaku. Religiusitas yang rendah boleh meningkatkan kebarangkalian remaja menggunakan narkoba.
Penelitian Snipes et al. (2015) melaporkan bahwa non-medical use of prescription drugs (NMUPD) ialah tingkah laku kesehatan berbahaya yang popular dalam kalangan orang dewasa muda dan pelajar kolej. Sampelnya pelajar kolej (n = 767) yang berumur antara 18 hingga 25 tahun dan melengkapkan penelitian dalam talian tanpa nama yang menilai variabel demografi, NMUPD, faktor personaliti, persepsi risiko, kesehatan mental, dan religiusitas.
Keputusan penelitian menunjukkan bahwa skor religiusitas lebih besar telah secara konsisten dikaitkan dengan kemungkinan yang lebih rendah terlibat dalam NMUPD dalam 3 bulan. Keputusan ini menunjukkan religiusitas
161
merupakan perlindungan terhadap penyalahgunaan narkoba.
Pope (2010) mengkaji pengaruh program gereja berasaskan aktivitas kesehatan yang disebut Heart, Soul, Mind, and Strength (HSMS) Program. Komponen agama meliputi keyakinan spirituailiti, pengajian spirituailiti, dan dukungan sosial ke atas spirituailiti. Komponen dukungan sosial meliputi aktivitas yang menjelaskan tema persekutuan, dukungan emosi sosial, dan penerimaan orang lain dari etnis yang berbeda. Penelitian mendapati program HSMS boleh meningkatkan spritualitas, religiusitas, dan kualitas hidup, manfaat positif komponen agama boleh meningkatkan iman, kepercayaan dan komitmen agama.
Demikian juga program dukungan sosial, sampel penelitian mendapati manfaat positif sehingga mereka boleh menerima dan berinteraksi dengan orang lain meskipun berasal dari etnis yang berbeda.
Penelitian religiusitas lain dihubungkan dengan penyalahgunaan narkoba telah dilaksanakan tetapi penelitian tersebut hanya dikaitkan dengan tekanan hidup, seperti penelitian Wills et al. (2003) yang mengkaji pengaruh religiusitas terhadap tekanan hidup pengguna narkoba dalam kalangan remaja. Sampel penelitian 1.182 pelajar pada peringkat tujuh sehingga tingkat ke-10 melalui penelitian sebanyak empat kali. Alat ukuran menggunakan skala nilai-nilai agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor religiusitas dapat mengurangi tingkat tekanan hidup dikalangan penyalahguna.
Di sisi lain Abdul Aziz Jemain (1998) telah mengkaji pandangan remaja tentang kehidupan beragama mereka dengan melibatkan 786 pelajar dengan hampir separuh adalah pelajar perempuan. Hasil penelitian memperoleh bahwa sebagian besar pelajar percaya bahwa agama merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan
162
mereka justeru itu mereka berpendapat ibu bapak perlu memastikan anak-anak mereka mendapat didikan agama yang secukupnya.
Manakala Nuzuliah (2005) melakukan penelitian tentang pengaruh perilaku beragama terhadap intensiti penyalahgunaan narkoba kepada remaja di Sekolah Menengah Kejuruan PGRI 3 Malang, Jawa Timur. Hasil penelitian mendapati adanya pengaruh signifikan antara perilaku beragama terhadap intensiti penyalahgunaan narkoba kepada remaja. Hasil penelitian lain terdapat hubungan negatif antara perilaku beragama dengan intensiti penyalahgunaan narkoba
Bagi penyalahguna mungkin akan pulih selepas dirawat, tetapi tidak ada jaminan dapat sembuh sepenuhnya tanpa mendapatkan terapi berasaskan religiusitas.
Berdasarkan Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional (2012) bahwa ada beberapa penyebab bekas penyalahguna kembali menyalahgunakan narkoba yaitu adanya rasa kecewa yang mendalam, ingatan semasa menyalahgunakan narkoba dan tidak berterusan berdasarkani pemulihan.
Menurut Hawari (1998) baik kecanduan maupun kambuh kembali (relapse) menyalahgunakan narkoba karena faktor religiusitas yang tidak kuat, sebab dengan religiusitas yang kuat akan mengontroldiri sendiri untuk tidak terpengaruh dengan keadaan sekitarnya.
Penelitian lainnya penyalahgunaan narkoba dikaitkan dengan terapi religiusitas telah dilaksanakan oleh Hook et al.
(2010) yang telah mengkaji keberkesanan terapi agama dengan beberapa agama yaitu agama Kristian, Islam, Taoisme dan Buddha kemudian membandingkan dengan terapi sekuler untuk menangani masalah kesehatan mental seperti kemurungan, alkoholisme dan penyalahgunaan
163
narkoba dan hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi religiusitas lebih baik daripada terapi sekuler.
Hasil penelitian lainnya yang mengkaji tentang pengaruh religiusitas, makna hidup dengan alkoholisme menunjukkan bahwa secara signifikan gejala alkoholisme terkait dengan kemurungan dan makna hidup sehingga dalam penelitian tersebut disarankan pentingnya mengaplikasikan pendekatan religiusitas (Kleftaras &
Katsogianni 2012).
Hal yang sama juga dijelaskan oleh Lake (2014) bahwa saat ini sebagian dokter percaya bahwa keterlibatab faktor religiusitas ini, seringkali dapat membantu pesakit mengatasi penyakitnya dan mengembalikan rasa optimis sehingga mereka menganggap religiusitas mempunyai pengaruh positif terhadap kesehatan.
Piancentine (2010) dalam penelitiannya mengenai perkaitan asosiasi spiritualiti, religiusitas, kemurunga, depresi, kecemasan dan penggunaan narkoba dalam kalangan orang yang menjalani terapi metadon menguraikan bahwa individu yang ketagihan narkoba mengalami gangguan kebimbangan, kemurungan, peningkatan risiko penyalahgunaan narkoba lanjutan dan akibat-akibat penyerta negatif lainnya seperti kehilangan pekerjaan, keuangan yang buruk dan rasa religiusitas yang berkurangan. Seterusnya beliau menjelaskan religiusitas merupakan suatu faktor yang kurang dipahami sehingga sangat perlu ditelusuri lebih lanjut. Hasil penelitian tersebut mencadangkan pentingnya pemahaman religiusitas dikalangan penyalahguna untuk memberikan rawatan religiusitas bagi mereka.
Jaji (2009) telah mengkaji dengan menggunakan kaedah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional study. Sampel penelitian berjumlah 384 remaja dengan proportional stratified random sampling dan simple
164
random sampling. Penelitian menggunakan uji statistik Chi Square bertujuan untuk mengetahui hubungan variabel bebas dengan bersandar. Variabel bebas yaitu faktor sosial, spiritual, usia, jenis kelamin dan tingkat pendidikan berkait dengan penyalahgunaan narkoba pada remaja di Palembang.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara sosial dan tingkat pendidikan remaja dengan risiko penyalahgunaan narkoba dan terdapat hubungan antara usia, jenis kelamin dan spiritual dengan risiko penyalahgunaan narkoba, dan variabel yang paling berpengaruh ialah faktor sosial.
Seterusnya hasil penelitian lainnya terkait religiusitas lebih dimantapkan oleh Darajot Ariyanto (2006) yang mengatakan bahwa dengan terapi doa yang berkualitas ternyata dapat membangkitkan ketenangan, motivasi, semangat hidup, rasa percaya diri dan perasaan kehadiran sang Ilahi. Berdoa menurut beliau merupakan unsur yang sangat penting bagi penyembuhan gangguan psikologi.
Reeves dan Marti (2012) juga menegaskan dalam perobatan, psikologi dan psikoterapi sebagian besarnya memberikan pengakuan bahwa religiusitas merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan. Menurutnya masa ini banyak pesakit mengalihkan perhatian kepada penyembuhan religiusitas bagi mendapatkan kenyamanan dalam jiwa menghadapi masalah.
165