PERKEMBANGAN REMAJA
B. Perkembangan Psikologis
2. Perkembangan Afeksi (emosi)
Berdasarkan kepustakaan klasik psikologi menjelaskan bahwa emosi merupakan reaksi kejiwaan yang muncul karena stimulus. Emosi yang fluktuatif atau mudah berubah terjadi pada masa remaja. Remaja sering tidak mampu memutuskan simpul-simpul ikatan emosional kanak-kanaknya dengan orang tua secara logis dan objektif.
Dalam usaha tersebut mereka kadang-kadang harus menentang, berdebat, dan mengkritik dengan pedas sikap-sikap orang tua (Thornburg, 1982). Emosi adalah gambaran perasaan mendalam yang menimbulkan suatu perbuatan.
Pada saat remaja kepekaan emosi meningkat sehingga dapat menimbulkan luapan emosi (Haditono, 1989).
Daniel Goleman (1995) seorang pakar emotional intelligence mangatakan emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang khas atau suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Selanjutnya Goleman mengatakan bahwa terdapat ratusan emosi bersama dengan variasi, campuran, mutasi, nuansa, makna lebih banyak, lebih kompleks dan lebih halus daripada kata dan defenisi yang digunakan untuk menjelaskan emosi. Walaupun emosi itu sangat kompleks, akan tetapi Goleman mengidentifikasi sejumlah kelompok emosi seperti:
75
Amarah diantaranya benci, kesal hati, rasa pahit, tindak kekerasan, mengamuk, kebencian patologis, brutal dan marah besar.
Kesedihan seperti pedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri sendiri, kesepian, sedih, putus asa, dan depresi.
Katakutan meliputi cemas, khawatir, takut, was-was, panik, tidak tenang, waspada, gugup dan fobia.
Kenikmatan seperti bahagia, gembira, puas, riang, senang, terhibur, girang, takjub, dan mania.
Cinta diantaranya kepercayaan, penerimaan, rasa dekat, kasmaran, kasih sayang, persahabatan, bakti dan hormat.
Malu seperti rasa bersalah, aib, menyesal, hina, dan hati hancur lebur.
Emosi ditandai dengan adanya perilaku individu yang mengekspresikan atau merefleksikan kondisi senang atau tidak senang yang dialami. Emosi juga dapat bersifat lebih spesifik dan terwujud dalam bentuk gembira, takut, marah, menangis, dan tertawa. Pada masa remaja kondisi emosional remaja bersifat fluktuasi, sering merasakan orang yang paling berbahagia sementara disisi lain merasa orang yang paling menderita di dunia, salah satunya diakibatkan oleh variabilitas hormon dalam diri.
Hasil penelitian Archibald, Graber, & Brooks-Gunn (Santrock, 2007) menemukan bahwa perubahan horman pubertas berkaitan dengan meningkatnya emosi-emosi negatif pada remaja. Walaupun demikian hasil penelitian lain yang telah dilakukan oleh Rosenblum & Lewis (Santrock, 2007) berkesimpulan bahwa pengaruh hormonal itu kecil dan jika hal tersebut terjadi biasanya terkait dengan faktor lain seperti stres, pola makan, aktivitas seksual, dan
76
relasi sosial. Sebenarnya pengalaman lingkungan dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap emosi remaja dibandingkan dengan perubahan hormonal. Faktor-faktor sosial memberikan kontribusi sebesar dua kali lipat bahkan empat kali lipat dibandingkan dengan faktor-faktor hormonal untuk varians pada depresi dan kemarahan remaja (Santrock, 2007).
Menurut perspektif Islam, berbagai jenis emosi dan ekspresi diciptakan Allah SWT melalui ketentuan. Emosi diciptakan untuk membentuk manusia menjadi lebih sempurna, mulai dari emosi primer manusia seperti kesedihan, kemarahan, katakutan, menangis, tertawa sampai kepada emosi yang lebih kompleks atau emosi sekunder seperti, malu, sombong, bangga, iri hati, dan penyesalan yang diungkapkan dengan bahasa yang indah dalam AlQuran dan Hadist (Hasan, 2006).
Emosi primer merupakan emosi dasar yang dianggap terpatri secara biologis, emosi ini terbentuk sejak awal kelahiran yang digambarkan dalam situasi yang berbeda-beda. Manakala emosi sekunder merupakan emosi yang lebih kompleks dibandingkan dengan emosi primer. Emosi sekunder mengandung kesadaran diri atau evaluasi diri sehingga perkembangannya tergantung pada perkembangan kognitif seseorang (Hasan, 2006). Seterusnya Hasan menguraikan secara detail tentang emosi primer dan emosi sekunder ini disertai dengan dalil dalam AlQuran dan Hadist.
Ayat AlQuran dan hadist Rasulullah saw yang memperlihatkan emosi primer kegembiraan, antara lain:
QS. Ar-Rum 30: Ayat 21, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:خَ خَ خَ خَ خَهيْ خَاذِ يْ صُ صُ يْ خَ يِّذِا ةً خَ يْزخَ يْ صُ ذِ صُفيْ خَ يْايِّذِ يْ صُ خَا خَ خَ خَ يْاخَ ذِ ٰ ٰ يْاذِ خَ
خَا يْ صُ لَّ خَفخَ لَّ ةٍ يْ خَ يِّذِا ةٍ ٰ ٰ خَا خَىذِاٰ يْ ذِ لَّاذِ ةً خَ يْ خَ لَّ ةً لَّ خَ لَّ يْ صُ خَ يْ خَ
77
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir" (QS. Ar-Rum 30: Ayat 21).
QS. Al-Ghasyiyah 88: Ayat 8-9, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:نٌ يْ صُ صُ
ةٍ ِٕ خَ يْ لَّ
نٌ خَ ذِع لَّ
"Pada hari itu banyak (pula) wajah yang berseri-seri"
(QS. Al-Ghasyiyah 88: Ayat 8).
خَهذِ يْ خَ يِّذِا
نٌ خَ ذِ خَ
"merasa senang karena usahanya (sendiri)" (QS. Al-Ghasyiyah 88: Ayat 9).
QS. Hud 11: Ayat 71, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:خَ ٰ يْ ذِ ذِ اۤ خَ لَّ يْاذِ خَ خَ ٰ يْ ذِ ذِ خَهٰ يْ لَّ خَ خَ يْ خَ ذِ خَ خَ نٌ خَ ِٕ اۤ خَ هٗ صُ خَ خَ يْ خَ
خَ يْ صُ يْ خَ
"Dan istrinya berdiri lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan setelah Ishaq (akan lahir) Ya'qub" (QS. Hud 11:
Ayat 71).
QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 47, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:خَا يْ صُ خَ يْ خَ خَهيْ ذِيِّ يْ صُ خَ ذِ خَ ذِ ٰ ٰ ذِ يْ صُ خَ اۤ خَ لَّ خَ خَ
"Maka ketika dia (Musa) datang kepada mereka membawa mukjizat-mukjizat Kami, seketika itu mereka menertawakannya" (QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 47).
QS. Ad-Duha 93: Ayat 5, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:78
خَ يْ خَ خَا خَ
خَىيْ ذِطيْ صُ
خَىُّ خَ
ى ٰ يْ خَ خَ
"Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas" (QS.
Ad-Duha 93: Ayat 5).
Hadist Rasulullah saw yang bersabda:
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu mengaruniakan rasa cinta padaMu, cinta kepada orang-orang yang mencintaiMu dan amal yang bisa menyebabkan diriku cinta kepadaMu. Ya Allah jadikanlah rasa cinta kepadaMu lebih besar dibandingkan rasa cinta kepada diri sendiri dan keluarga, dan lebih besar daripada cinta kepada air dingin (yang bisa menghilangkan dahaga)”. (HR. Ath Thurmudi).
Ayat AlQuran dan hadist Rasulullah SAW yang menerangkan emosi primer seperti kesedihan, diantaranya:
QS. Yusuf 12: Ayat 84, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:ىوّٰا خَ خَ خَ
يْ صُهيْ خَع خَ خَ خَ
ىٰفخَ خَ ٰ ىٰ خَع خَ صُ يْ صُ
يْ لَّ خَ يْ خَ
صُ ٰ يْ خَع خَا ذِ
ذِا يْزصُ يْا خَ صُهخَ
نٌ يْ ذِظخَ
"Dan dia (Ya'qub) berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, Aduhai duka citaku terhadap Yusuf, dan kedua matanya menjadi putih karena sedih. Dia diam menahan amarah (terhadap anak-anaknya)" (QS. Yusuf 12:
Ayat 84).
QS. Yusuf 12: Ayat 16, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:يْ صُ اۤ خَ خَ
يْ صُ خَ خَ
ةً اۤ خَ ذِع
خَا يْ صُ يْ لَّ
"Kemudian mereka datang kepada ayah mereka pada petang hari sambil menangis." (QS. Yusuf 12: Ayat 16).
79
"(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada siapa pun, sedang Rasul (Muhammad) yang berada di antara (kawan-kawan)mu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan kepadamu kesedihan demi kesedihan, agar kamu tidak bersedih hati (lagi) terhadap apa yang luput dari kamu dan terhadap apa yang menimpamu. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 153). jika kamu orang yang beriman." (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 139).
Ayat AlQuran dan Hadist Rasulullah SAW yang menjelaskan emosi primer berupa kemarahan, yaitu:
QS. Al-A'raf 7: Ayat 150, Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan marah dan sedih hati dia berkata, Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan selama kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu? Musa pun80
melemparkan lauh-lauh (Taurat) itu dan memegang kepala saudaranya (Harun) sambil menarik ke arahnya. (Harun) berkata, Wahai anak ibuku! Kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir saja mereka membunuhku, sebab itu janganlah engkau menjadikan musuh-musuh menyoraki melihat kemalanganku, dan janganlah engkau jadikan aku sebagai orang-orang yang zalim."(QS. Al-A'raf 7: Ayat 150).
“Ingatlah, sesungguhnya marah itu adalah bara api yang terdapat dalam hati anak adam. Tidakkah kalian melihat warna merah kedua matanya dan urat-urat lehernya yang mengembang (ketika sedang marah)?" (HR. Ath-Thurmudi).
“Dari Abdullah bin Mas’ud r.a bahwa Rasulullah SAW bertanya kepada sahabatnya: Siapa yang kalian anggap sebagai orang yang perkasa diantara kalian? Para sahabat berkata: Orang yang tidak pernah dibanting oleh orang-orang”. Rasulullah bersabda: Tidak, akan tetapi yang disebut orang perkasa adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika sedang marah” (HR. Muslim dan Abu Dawud).
“Apabila salah seorang dari kalian marah sambil berdiri, maka hendaklah dia duduk. Jika rasa marah itu menghilang dari dirinya (maka hal itu sudahlah cukup).
Namun jika masih belum hilang juga hendaknya dia berbaring. Sesungguhnya rasa amarah itu termasuk godaan syaitan dan sesungguhnya syaitan itu diciptakan dari api. Sesungguhnya api hanya bisa dipadamkan dengan air. Oleh itu, jika salah satu diantara kalianmarah, hendaklah dia berwudhu (HR. Abu Dawud).
“Barangsiapa mampu menahan amarah, padahal dia mampu untuk melampiaskannya, maka Allah SWT akan menyeru di hari kiamat nanti, hingga dia bebas untuk memilih bidadari yang dia sukai (HR. Abu Dawud dan Ath Thurmudhi).
81
“Ingatlah sesungguhnya diantara manusia ada yang tidak mudah marah (dan kalau marah) cepat reda (amarahnya). Ada orang yang cepat marah serta cepat reda amarahnya. Ingatlah juga bahwa diantara manusia ada yang cepat marah serta tidak mudah reda amarahnya. Ingatlah orang yang paling baik adalah orang yang tidak mudah marah serta cepat reda amarahnya. Sementara orang yang paling buruk adalah orang yang cepat marah dan sulit reda amarahnya (HR.
Ath Thurmudhi).
Ayat AlQuran yang memperlihatkan dan menerangkan emosi primer berupa rasa ketakutan, yaitu:
QS. Al-Baqarah 2: Ayat 19, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
يْ صُهخَ ذِ خَ خَ خَا يْ صُ خَ يْ خَ ۚنٌ يْ خَ لَّ نٌ يْع خَ لَّ نٌ ٰ صُ صُظ ذِ يْ ذِ ذِ اۤ خَ لَّ ا خَاذِيِّ ةٍ ذِيِّ خَ خَ يْ خَ
خَايْ ذِ ذِف ٰ يْا ذِ نۢنٌطيْ ذِ صُ صُ وّٰٱ خَ ذِ يْ خَ يْا خَ خَ خَ ذِ ذِع خَ لَّ ا خَايِّذِ يْ ذِهذِ خَ ٰ يْ ذِ
"Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan, petir, dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya, (menghindari) suara petir itu karena takut mati. Allah meliputi orang-orang yang kafir." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 19).
QS. Asy-Syu'ara' 26: Ayat 21, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:خَا ذِ يْ ذِ خَ خَ خَ لَّ ةً يْ صُ يْ ذِيِّ خَ يْ ذِا خَ خَ خَ خَ يْ صُ صُ يْف ذِ لَّ خَا يْ صُ يْ ذِ صُ يْ خَ خَفخَ
خَايْ ذِ خَ يْ صُ يْا
"Lalu aku lari darimu karena aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku menganugerahkan ilmu kepadaku serta Dia menjadikan aku salah seorang di antara rasul-rasul." (QS.
Asy-Syu'ara' 26: Ayat 21).
QS. An-Naml 27: Ayat 10, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:82
يْ ذِيِّ خَ صُ يْ خَا لَّ ةً ذِ يْ صُ ىوّٰا لَّ ٌّااۤ خَ خَهلَّ خَ خَ ُّزخَ يْهخَ خَ ٰ خَ لَّ خَ خَ خَى خَ خَع ذِ يْاخَ خَ
خَا يْ صُ خَ يْ صُ يْا لَّ خَ خَا صُ خَ خَ خَا يْ ذِيِّ ذِ يْ خَ خَ خَا ى ٰ يْ صُ ٰ
"dan lemparkanlah tongkatmu! Maka ketika (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti seekor ular yang gesit, larilah dia berbalik ke belakang tanpa menoleh. Wahai Musa! Jangan takut! Sesungguhnya di hadapan-Ku, para rasul tidak perlu takut," (QS. An-Naml 27:
Ayat 10).
QS. Sad 38: Ayat 22, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:ىٰغَب ِن ٰمْصَخ ْْۚفَخَت َلَ ا ْىُلاَق ْمُهْنِم َع ِزَفَف َد ٗواَد ىٰلَع ا ْىُلَخَد ْرِا ِءۤا َىَس ىٰلِا ٓاَنِذْها َو ْطِطْشُت َلَ َو ِّقَحْلاِب اَنَنْيَب ْمُكْحاَف ٍضْعَب ىٰلَع اَنُضْعَب
ِاا َ ِّصلا
"Ketika mereka masuk menemui Daud lalu dia terkejut karena (kedatangan) mereka. Mereka berkata, Janganlah takut! (Kami) berdua sedang berselisih, sebagian dari kami berbuat zalim kepada yang lain; maka berilah keputusan di antara kami secara adil dan janganlah menyimpang dari kebenaran serta tunjukilah kami ke jalan yang lurus." (QS.
Sad 38: Ayat 22).
AlQuran dan hadist yang memperlihatkan emosi primer positif dan negatif seperti tertawa dan menangis secara bersamaan yaitu:
QS. An-Najm 53: Ayat 43, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:ى ٰ يْ خَ خَ خَىخَ يْ خَ خَ صُ هٗ لَّ خَ خَ
"dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis" (QS. An-Najm 53: Ayat 43).
QS. At-Taubah 9: Ayat 82, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:83
خَا يْ صُ ذِ يْ خَ يْ صُ خَ خَ ذِ نۢةً اۤ خَزخَ ۚ ةً يْ ذِ خَ يْ صُ يْ خَ يْا لَّ ةً يْ ذِ خَ يْ صُ خَ يْ خَ يْ خَ
"Maka, biarkanlah mereka tertawa sedikit dan menangis yang banyak, sebagai balasan terhadap apa yang selalu mereka perbuat" (QS. At-Taubah 9: Ayat 82).
QS. Ali 'Imran 3: Ayat 106, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:خَ يْ صُهصُ يْ صُ صُ يْ لَّ خَ يْ خَايْ ذِ لَّا لَّ خَ خَ ۚ نٌ يْ صُ صُ ُّ خَ يْ خَ لَّ نٌ يْ صُ صُ ُّ خَ يْ خَ خَ يْ لَّ
خَا يْ صُ صُفيْ خَ يْ صُ يْ صُ خَ ذِ خَ خَ خَ يْا صُ يْ صُ خَ يْ صُ ذِ خَ يْ ذِ خَ يْ خَ يْ صُ يْ خَفخَ
"Pada hari itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram. Ada pun orang-orang yang berwajah hitam muram (kepada mereka dikatakan), Mengapa kamu kafir setelah beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu" (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 106).
QS. 'Abasa 80: Ayat 38-41, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
نٌ خَ ذِفيْ ُّ ةٍ ِٕ خَ يْ لَّ نٌ يْ صُ صُ
"Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri" (QS.
'Abasa 80: Ayat 38).
نٌ خَ ذِ خَ
نٌ خَ ذِ يْ خَ يْ ُّ
"tertawa dan gembira ria" (QS. 'Abasa 80: Ayat 39).
نٌ خَ خَ خَ خَهيْ خَ خَع ةٍ ِٕ خَ يْ لَّ نٌ يْ صُ صُ خَ
"dan pada hari itu ada (pula) wajah-wajah yang tertutup debu (suram)" (QS. 'Abasa 80: Ayat 40).
نٌ خَ خَ خَ خَهصُ خَ يْ خَ
"tertutup oleh kegelapan (ditimpa kehinaan dan kesusahan)" (QS. 'Abasa 80: Ayat 41).
Hadist Rasulullah saw bersabda: “Tali hubungan keimanan yang paling kuat ialah cinta karena Allah dan benci karena Allah” (HR. Ath Thabrani).
84
Hadist Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan memberi karena Allah, maka dia telah menyempurnakan iman (HR.
Abu Dawud dan Ath Thurmudi).
Ayat AlQuran yang menguraikan perpaduan antara emosi primer dan emosi sekunder seperti:
QS. Al-Muddassir 74: Ayat 22-23, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
خَ خَ خَ خَ خَاخَ خَع لَّ صُ
"lalu berwajah masam dan cemberut," (QS. Al-Muddassir 74: Ayat 22).
خَ خَ يْ خَ يْ خَ خَ خَ يْ خَ لَّ صُ
"kemudian berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri," (QS. Al-Muddassir 74: Ayat 23).
QS. Ali 'Imran 3: Ayat 154, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
يْ صُهيْ لَّ خَ خَ يْ خَ نٌ خَفِٕ خَاۤط خَ يْ صُ يْ ذِيِّ ةً خَفِٕ خَاۤط ى ٰ يْغلَّ ةً خَ ُّ ةً خَ خَ خَ ذِيِّ خَغيْا ذِ يْ خَ نۢيْاذِيِّ يْ صُ يْ خَ خَع خَ خَزيْ خَ لَّ صُ
يْ صُ ةٍ يْ خَ يْاذِ ذِ يْ خَ يْا خَاذِ خَ لَّا يْ خَ خَا يْ صُا يْ صُ خَ ذِ لَّ ذِ ذِ خَ يْا لَّاخَظ ذِيِّ خَ يْا خَ يْ خَ ذِ وّٰٱ ذِ خَا يْ ُّ صُظخَ يْ صُهصُ صُفيْ خَ
ذِ يْ خَ يْا خَاذِ خَ خَا خَا خَ يْ خَا خَا يْ صُا يْ صُ خَ خَىخَا خَا يْ صُ يْ صُ خَا لَّ يْ ذِهذِ صُفيْ خَ يْ ذِ خَا يْ صُفيْ صُ ذِ وّٰ ذِٱ هٗ لَّ صُ خَ يْ خَ يْا لَّاذِ
ى ٰاذِ صُ يْ خَ يْا صُ ذِهيْ خَ خَع خَ ذِ صُ خَايْ ذِ لَّا خَز خَ خَ خَا يْ صُ ذِ يْ صُ صُ يْ ذِ يْ صُ يْ صُ يْ لَّا يْ صُ خَ صُهٰ خَ يْ ذِ صُ لَّ نٌ يْ خَ
ذِ خَ ذِ نۢ نٌ يْ ذِ خَع صُ وّٰٱ خَ يْ صُ ذِ يْ صُ صُ يْ ذِ خَ خَص ذِيِّ خَ صُ ذِا خَ يْ صُ ذِ يْ صُ صُ يْ ذِ خَ صُ وّٰٱ خَ ذِ خَ يْ خَ ذِا خَ ۚ يْ ذِهذِ ذِ خَ خَ
ذِ يْ صُ ُّ ا
"Kemudian setelah kamu ditimpa kesedihan, Dia menurunkan rasa aman kepadamu (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari kamu, sedangkan segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata, Adakah sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini? Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya segala urusan itu di tangan Allah. Mereka menyembunyikan dalam hatinya apa yang tidak mereka terangkan kepadamu. Mereka berkata, Sekiranya ada sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini, niscaya kita tidak
85
akan dibunuh (dikalahkan) di sini. Katakanlah (Muhammad), Meskipun kamu ada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditetapkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh. Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Dan Allah Maha Mengetahui isi hati." (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 154).
QS. Al-Hadid 57: Ayat 23, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
خَ يْ خَ ذِيِّا يْ خَ يْ خَ
ى ٰ خَع خَ
يْ صُ خَ خَ
خَا خَ
يْ صُ خَ يْفخَ
خَ ذِ
يْ صُ ٰ ٰ صُوّٰٱ خَ
ُّ ذِ صُ خَا لَّ صُ
ةٍ خَ يْ صُ
ةٍ يْ صُ خَ
"Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri," (QS. Al-Hadid 57: Ayat 23).
Ayat AlQuran dan hadist Rasulullah saw, yang menguraikan perpaduan emosi emosi sekunder yaitu:
QS. An-Nisa' 4: Ayat 32, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
يْ صُ خَ خَ يْ لَّ يِّذِ نٌ يْ ذِ خَ ذِ خَ ذِيِّ ذِا ةٍ يْ خَ ىٰ خَع يْ صُ خَ يْ خَ ذِ صُ وّٰٱ خَ لَّ خَ خَ يْ لَّ خَ خَ خَ خَا خَ
ةً يْ ذِ خَع ةٍ يْ خَ ذِيِّ صُ ذِ خَا خَ خَ وّٰٱ لَّاذِ ذِ يْ خَ يْاذِ خَ وّٰٱ صُ َٔ يْ خَ خَايْ خَ خَ يْ لَّ يِّذِ نٌ يْ ذِ خَ ذِ اۤ خَ ذِيِّ ذِا خَ
"Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. An-Nisa' 4: Ayat 32).
QS. Al-Qasas 28: Ayat 25, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
خَ خَ يْ خَ خَىخَ ذِزيْ خَ ذِا خَى يْ صُعيْ خَ يْ ذِ خَ لَّاذِ يْ خَا خَ ةٍ اۤ خَ يْ ذِ يْ ىخَ خَع يْ ذِ يْ خَ خَ صُه ٰ يْ ذِ صُ يْ خَ اۤ خَ خَ
خَايْ ذِ ذِ وّٰظا ذِ يْ خَ يْا خَاذِ خَ يْ خَ خَ يْ خَ خَ خَا خَ خَ خَصخَ خَ يْا ذِ يْ خَ خَع لَّصخَ خَ هٗ خَ اۤ خَ لَّ خَ خَ خَ خَا خَ يْ خَ خَ
86
"Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan malu-malu, dia berkata, Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas (kebaikanmu memberi minum ternak) kami. Ketika (Musa) mendatangi ayah wanita itu (Syeikh Madyan) dan dia (Syeikh Madyan) menceritakan kepadanya kisah (mengenai dirinya), dia berkata, Janganlah engkau takut! Engkau telah selamat dari orang-orang yang zalim itu." (QS. Al-Qasas 28: Ayat 25).
QS. Asy-Syura 42: Ayat 14, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
خَىذِيِّ لَّ يْاذِ يْ خَ خَ خَ نٌ خَ ذِ خَ خَا يْ خَا خَ يْ صُهخَ يْ خَ نۢ ةً يْغخَ صُ يْ ذِ يْا صُ صُ خَ اۤ خَ خَ ذِ يْ خَ نۢيْاذِ لَّاذِ يْ صُ لَّ خَفخَ خَ خَ
ةٍ يْ ذِ صُ صُ يْ ذِيِّ ةٍيِّىخَ يْ ذِفخَا يْ ذِ ذِ يْ خَ نۢيْاذِ خَ ٰ ذِ يْا صُ ذِ يْ صُ خَايْ ذِ لَّا لَّاذِ خَ يْ صُهخَ يْ خَ خَ ذِ صُ لَّا ىًّ خَ ُّ ةٍ خَ خَ ى ٰاذِ
"Dan mereka (Ahli Kitab) tidak berpecah-belah kecuali setelah datang kepada mereka ilmu (kebenaran yang disampaikan oleh para nabi), karena kedengkian antara sesama mereka. Jika tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dahulunya dari Tuhanmu (untuk menangguhkan azab) sampai batas waktu yang ditentukan, pastilah hukuman bagi mereka telah dilaksanakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang mewarisi Kitab (Taurat dan Injil) setelah mereka (pada zaman Muhammad), benar-benar berada dalam keraguan yang mendalam tentang Kitab (Al-Qur'an) itu." (QS. Asy-Syura 42: Ayat 14).
QS. 'Abasa 80: Ayat 1-2, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
خَاخَ خَع ىوّٰا خَ خَ خَ
"Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling,"
(QS. 'Abasa 80: Ayat 1).
ى ٰ يْعخَ يْا صُ خَ اۤ خَ يْاخَ
"karena seorang buta telah datang kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum)." (QS. 'Abasa 80: Ayat 2).
QS. Luqman 31: Ayat 18, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
87
"Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri." (QS. Luqman 31: Ayat 18).
QS. Al-Hadid 57: Ayat 20, Allah Subhanahu Wa Ta'ala
"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya.
Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu" (QS. Al-Hadid 57: Ayat 20).
QS. Al-Munafiqun 63: Ayat 4, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Dan apabila engkau melihat mereka, tubuh mereka mengagumkanmu. Dan jika mereka berkata, engkau mendengarkan tutur katanya. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa setiap teriakan ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari kebenaran)?" (QS. Al-Munafiqun 63: Ayat 4).
QS. Al-Jinn 72: Ayat 1, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
88
"Katakanlah (Muhammad), Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (bacaan), lalu mereka berkata, Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (Al-Qur'an)," (QS. Al-Jinn 72: Ayat 1).
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang yang di luar kalanganmu (seagama) sebagai teman kepercayaanmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat.
Sungguh, telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu mengerti." (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 118).
يْ صُ يْ خَ ٰ
"Beginilah kamu! Kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukaimu, dan kamu beriman kepada semua kitab. Apabila mereka berjumpa kamu, mereka berkata, Kami beriman, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari karena marah dan benci kepadamu. Katakanlah, Matilah kamu karena kemarahanmu itu! Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala isi hati." (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 119).
QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 26, Allah Subhanahu Wa Ta'ala
89
itu) mereka akan mengembara kebingungan di bumi. Maka, janganlah engkau (Musa) bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu." (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 26).
QS. Ad-Duha 93: Ayat 7, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
ىٰ خَهخَ ًّااۤ خَ خَىخَ خَ خَ خَ
"Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." (QS. Ad-Duha 93: Ayat 7).
QS. Ta-Ha 20: Ayat 102, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
لَّ
ةً يْ صُز ةٍ ِٕ خَ يْ خَ خَايْ ذِ ذِ يْ صُ يْا صُ صُ يْ خَ خَ ذِ يْ ُّ ا ىذِ صُخخَفيْ صُ خَ يْ
"pada hari (Kiamat) sangkakala ditiup (yang kedua kali) dan pada hari itu Kami kumpulkan orang-orang yang berdosa dengan (wajah) biru muram," (QS. Ta-Ha 20: Ayat 102).
QS. Al-Ghasyiyah 88: Ayat 2-3, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
نٌ خَ ذِ خَ ةٍ ِٕ خَ يْ لَّ نٌ يْ صُ صُ
"Pada hari itu banyak wajah yang tertunduk terhina,"
(QS. Al-Ghasyiyah 88: Ayat 2).
نٌ خَ ذِ لَّ نٌ خَ ذِ خَع
"(karena) bekerja keras lagi kepayahan," (QS. Al-Ghasyiyah 88: Ayat 3).
QS. Al-A’raf 7: ayat 149, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
خَ خَا يْ ذِفيْغخَ خَ خَ ُّ خَ خَ يْ خَ يْ خَ يْ لَّا يْإِ خَا يْ صُا خَ يْ ُّ خَ يْ خَ يْ صُهلَّ خَ يْ خَ خَ خَ يْ ذِهيْ ذِ يْ خَ يْ ذِ خَطذِ صُ لَّ خَا خَ
خَايْ ذِ ذِ ٰ يْا خَاذِ لَّاخَ يْ صُ خَ خَا
"Dan setelah mereka menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa telah sesat, mereka pun berkata, Sungguh, jika Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang rugi." (QS. Al-A'raf 7: Ayat 149).
90
QS. Al-Mu'minun 23: Ayat 67, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
خَا يْ صُ صُ يْهخَ ةً ذِ ٰ ذِ خَايْ ذِ ذِ يْ خَ يْ صُ
"dengan menyombongkan diri dan mengucapkan perkataan-perkataan keji terhadapnya (Al-Qur'an) pada waktu kamu bercakap-cakap pada malam hari" (QS. Al-Mu'minun 23: Ayat 67).
QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 52, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
خَ خَ يْ ذِ صُ يْاخَ ى ٰ يْ خَ خَا يْ صُا يْ صُ خَ يْ ذِهيْ ذِ خَا يْ صُع ذِ خَ ُّ نٌ خَ لَّ يْ ذِهذِ يْ صُ صُ يْ ذِ خَايْ ذِ لَّا ى خَ خَ خَ
يْ ذِهذِ صُفيْ خَ يْ ذِ يْ ُّ خَ خَ خَ ىٰ خَع يْ صُ ذِ يْ صُ خَ ذِ يْ ذِع يْاذِيِّ ةٍ يْ خَ يْ خَ ذِحيْ خَفيْا ذِ خَ ذِ يْ لَّ يْاخَ صُ وّٰٱ ىخَ خَ خَ نٌ خَ ِٕ اۤ خَ
خَايْ ذِ ذِ ٰ
"Maka, kamu akan melihat orang-orang yang hatinya berpenyakit segera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, Kami takut akan mendapat bencana. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya, sehingga mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka."(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 52).
Meskipun telah berkembang kemampuan kognitifnya, remaja dapat mempersiapkan dirinya untuk mengatasi stres dan fluktuasi emosional secara efektif, namun kenyataannya banyak remaja yang tidak dapat mengelola emosinya sehingga mereka rentan mengalami depresi dan kemarahan yang selanjutnya akan memicu terjadi berbagai masalah seperti gangguan makan, kesulitan akademis, kenakalan remaja, dan penyalahgunaan obat.
Self science curriculum merupakan intervensi edukatif untuk mengembangkan emosi remaja agar dapat mengelola emosinya secara efektif. Strategi tersebut seperti belajar mengembangkan kesadaran diri, belajar menentukan keputusan sendiri, belajar mengelola perasaan, belajar menangani stres, belajar berempati, belajar berkomunikasi,
91
belajar membuka diri, belajar mengembangkan pemahaman, belajar menerima diri sendiri, belajar mengembangkan tanggung jawab pribadi, belajar mengembangkan ketegasan, mempelajari dinamika kelompok dan belajar menyelesaikan konflik.
Manakala Self science curriculum (Ali & Asrori, 2018) meliputi belajar mengembangkan diri, mengambil keputusan pribadi, mengelola perasaan, menangani stres, berempati, berkomunikasi, membuka diri, mengembangkan pemahaman, menerima diri sendiri, tanggung jawab pribadi, mengembangkan ketegasan, dinamika kelompok, dan belajar menyelesaikan konflik. Kegiatan lain terkait self science curriculum menurut W.T. Grant Consortium, yaitu:
Pengembangan keterampilan emosional seperti mengidentifikasi atau memberi nama atau label perasaan emosi yang dialami, mengungkapkan perasaan, menilai intensitas perasaan, mengelola perasaan, menunda pemuasan, mengendalikan dorongan hati, mengurangi stres, serta memahami perbedaan perasaan dan tindakan.
Pengembangan keterampilan kognitif meliputi belajar melakukan dialog batin sebagai strategi menyelesaikan masalah atau memperkuat perilaku diri sendiri, belajar membaca dan menafsirkan isyarat-isyarat sosial, belajar menggunakan langkah-langkah penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan, belajar memahami sudut pandang orang lain atau empati, belajar memahami sopan santun, belajar bersikap positif terhadap kehidupan, serta belajar mengembangkan kesadaran diri.
Pengembangan keterampilan perilaku diantaranya mempelajari keterampilan komunikasi nonverbal (komunikasi melalui pandangan mata, ekspresi wajah, gerak-gerik tubuh, posisi tubuh), mempelajari
92
keterampilan komunikasi verbal (mendeskripsikan sesuatu dengan jelas, menagggapi kritik secara efektif, mendengarkan orang lain yang sedang berbicara).
Hal yang sama pun dijelaskan Saarni (dalam Santrock, 2007) terkait beberapa strategi untuk mengembangkan kompetensi emosional pada remaja seperti yaitu:
Tabel 2.5 Kompetensi emosional remaja
Kompetensi Emosional Contoh Menyadari bahwa ekspresi
emosi memainkan peranan penting dalam berinteraksi.
Mengetahui bahwa mengekspresikan kemarahan kepada teman dapat merusak
persahabatan.
Secara adaptif mengatasi emosi-emosi negatif dengan menggunakan strategi relasi diri yang dapat menurunkan
intensitas dan lamanya kondisi-kondisi emosional.
Mengurangi kemarahan dengan cara menghindari
situasi negatif dan terlibat dalam aktivitas yang dapat mengalihkan
perhatian.
Memahami bahwa kondisi emosional dalam diri tidak berkaitan dengan ekspresi keluar. Ketika remaja menjadi
lebih matang, mereka mulai memahami bagaimana perilaku
emosional dapat
Mengenali bahwa sesorang dapat merasa
marah namun dapat mengelola ekspresi emosi sehingga menjadi
marah namun dapat mengelola ekspresi emosi sehingga menjadi