• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.11. Pengukuran Tingkat Kematangan

2.11.1. Penentuan Compliance

Menurut OGC (Office of Governance Commerce) (dikutip dalam Tika, Sari, & Sarayar, 2015, hal. 70) berpendapat bahwa penentuan compliance terbagi atas 4 standar, sebagai berikut:

1. Not Comlpy, adalah hasil evaluasi yang dilakukan berdasarkan tabel ITIL service self-assessment hanya memenuhi antara level 1 sampai dengan level 3. level tersebut adalah:

a. Level 1 – Pre-Requisite

b. Level 1.5 – Management Intent c. Level 2 – Process Capability d. Level 2.5 – Internal Integration e. Level 3 – Products

2. Standard Comply, adalah hasil evaluasi yang dilakukan berdasarkan tabel ITIL service self-assessment hanya memenuhi level 3.5 yaitu quality control.

3. Average Comply, adalah hasil evaluasi yang dilakukan berdasarkan tabel ITIL service self-assessment telah memenuhi level 4 dan level 4.5. level tersebut adalah:

a. Level 4 – Management Information b. Level 4.5 – External Integration

4. Fully Comply, adalah hasil evaluasi yang dilakukan berdasarkan tabel ITIL service self-assessment telah memenuhi keseluruhan dari semua level yang ada, termasuk telah memenuhi level 5 yaitu user interface.

Table 2.7 Penentuan compliance antara level yang dicapai

No Level Compliance Explanation

1. Level 1: Pre-requisites

Not Comply

1. Perusahaan tidak memenuhi Level 1 pada Maturity Level Self Assessment karena perusahaan tidak menerapkan ITIL pada proses bisnis yang berjalan di perusahaan mereka. Oleh karena itu perusahaan hanya mencapai Level 0 - Chaos.

2. Perusahaan tidak memenuhi Level 1.5 tetapi memenuhi di Level 1 pada Maturity Level Self Assessment karena perusahaan hanya memenuhi minimum persyaratan yang tersedia untuk mendukung proses bisnis sedangkan pada Management Intent tidak memenuhi ketetapan pernyataan kebijakan organisasi, tujuan bisnis, dan bimbingan dalam transformasi penggunaan tools.

3. Perusahaan tidak memenuhi Level 2 tetapi memenuhi di Level 1.5 pada Maturity Level Self Assessment karena perusahaan hanya memenuhi minimum persyaratan awal yang tersedia dan Management Intent sedangkan pada Process Capability untuk mengidentifikasi kegiatan apa saja yang sedang dilakukan tidak terindentifikasi dengan maksimal.

4. Perusahaan tidak memenuhi Level 2.5 tetapi memenuhi di Level 2 pada Maturity Level Self Assessment karena perusahaan hanya berfokus pada Level 1, Level 1.5, dan Level 2 yaitu Process Capability sedangkan pada proses Internal Integration yang berfungi untuk memastikan apakah kegiatan yang dilakukan memenuhi proses yang berjalan 2.

tidak berlangsung dengan maksimal.

5. Perusahaan tidak memenuhi Level 3 tetapi memenuhi di Level 2.5 pada Maturity Level Self Assessment karena perusahaan hanya mampu menjalankan dan memperhatikan level 1, level 1.5, level 2, dan Level 2.5 Internal Integration yang berada di perusahaan sedangkan Products yang dikeluarkan oleh perusahaan tidak relevan dengan yang sedang di produksi.

7. Perusahaan telah mencapai Level 3.5 karena perusahaan sudah berhasil mengendalikan kualitas yang berfokus pada review dan verifikasi output proses dan memastikan bahwa seluruh kegiatan telah sesuai dengan Quality Control yang telah ditetapkan.

7.

Level 4:

Management

Information Average Comply

8. Perusahaan telah mencapai Level 4 karena perusahaan sudah berhasil melakukan tata kelola proses yang ada dengan baik serta memastikan bahwa ada informasi yang memadai dan tepat waktu yang dihasilkan dari proses dalam mendukung keputusan manajemen

9. Perusahaan telah mencapai Level 4.5 karena perusahaan sudah berhasil melakukan pemeriksaan secara rinci untuk memastikan apakah semua external interface dan 8. Level 4.5:

External

Integration hubungan anatara descret process dan proses lainnya telah ditetapkan oleh organisasi.

Walaupun Maturity Level Self Assessment perusahaan sudah mencapai Level 4.5 tetapi masih perlu adanya improvement lagi agar mencapai Level 5 dan kesesuaian yang memenuhi keseluruhan kegiatan yang sesuai dengan ITIL

9.

Level 5:

Customer Interface

Fully Comply

10. Perusahaan yang telah mencapai Level 5 berati perusahaan telah memenuhi keluruhan kegiatan dari 9 fokus area yang ditetapkan oleh ITIL dari Level 1 sampai dengan Level 5. Yang perlu dilakukan oleh perusahaan hanya review eksternal terus – menerus dan validasi proses untuk memastikan bahwa kegiatan Service Desk di perusahaan tetap optimal untuk pelayanan dalam memenuhi kebutuhan pelanggan.

Sumber: Penentuan compliance antara level (Tika, Sari, & Sarayar, 2015)

2.12. Metode Penelitian

Menurut Sugiyono (2016, hal. 2), metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Metode penelitian yang digunakan, antara lain (Sugiyono, 2016, hal. 7):

1. Kuantitatif, merupakan suatu metode yang data penelitiannya berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistic

2. Kualitatif, merupakan suatu metode yang proses penelitian lebih bersifat seni (kurang terpola), dan data hasil penelitian lebih berkenaan dengan interprestasi terhadap data yang ditemukan di lapangan

2.13. Pengumpulan Data

Pengumpulan data bertujuan untuk mendapatkan data yang diinginkan sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan, peneliti menggunakan beberapa metode pengumpulan data sebagai bahan skripsi yaitu dengan menggunakan beberapa metode.

2.12.1. Studi Pustaka

Pengumpulan data serta informasi dari berbagai sumber terpercaya sebagai referensi penelitian. Studi literatur bertujuan untuk menyusun dasar-dasar teori yang digunakan oleh peneliti. Sumber literatur berasal dari e-book, jurnal, pakar dan hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan topik penelitian.

Table 2.8 Penelitian-penelitian terdahulu

No. Nama Penulis Judul Tahun Pembahasan

1. Wahyudi & Deswandi (Jurnal, JATIT)

Audit information systems core banking system using ITIL v.3 case study on btpn sharia bank.

2016 Melakukan audit pada sistem inti perbankan (BTPN Bank Syariah) untuk menangani masalah yang terjadi dengan diselesaikan sesuai ITIL V3 pada sub-domain service desk, incident manajemen, dan problem management yang ada didalam domain service operation.

2. Tika, et al (Skripsi, Binus) Evaluasi Layanan IT Service Desk pada PT.XYZ

2015 Melakukan evaluasi layanan IT service desk pada PT XYZ yang sudah

mengimplementasikan ITIL dan melakukan penyempurnaan serta penyelarasan untuk perpindahan versi framework dari ITIL V2

menjadi ITIL V3. Evaluasi dilakukan pada Pendekatan ITIL V.3 (Studi Kasus : SMP KARTIKA VIII-1 Jakarta-Timur)

2013 Melakukan perancangan manajemen layanan IT pada lembaga pendidikan (SMP Kartika VIII-1) dengan tujuan untuk

mengoptimalkan perangkat infrastruktur sesuai framework ITIL V3.

4. Suhairi, Kasman; Gaol, Ford

2013 Melakukan pengukuran dengan ITIL menggunakan Statistical Process Control.

Dengan tujuan untuk menciptakan kejelasan dalam hubungan antara key performance indicators,informasi konfigurasi jaringan yang akurat untuk staf Service Desk, keakuratan informasi digunakan untuk proses delivery service dan audit IT pada PT.

XYZ

5. Putra, et al (Jurnal, Telkom Audit Infrastruktur Teknologi 2015 Melakukan audit pada sistem informasi FMS

University Bandung) Informasi Berbasis ITIL V.3 Domain Service Operation pada FMS Departemen Engineering PT.

Grand Indonesia.

(Facilities Management System) PT Grand Indonesia dengan standar ITIL V3 domain service operation. Dengan tujuan

memberikan rekomendasi agar level

kematangan naik satu tingkat. Menggunakan RACI Model untuk mengidentifikasi suatu tanggung jawab dari sebuah proses dan maturity level untuk mengukur tingkat kematangan.

2.12.2. Kuesioner

Menurut Sugiyono (2016, hal. 142), kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan kepada responden untuk dijawab.

Kuesioner pada penelitian ini dilakukan dengan dua cara, yaitu online dan offline. Kuesioner online dilakukan secara online, sedangkan kuesioner offline dilakukan di PUSTIPANDA dengan menyebarkan kuesioner maturity level self-assessment 3 responden ahli.

2.12.3. Wawancara

Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data, teknik ini dilakukan dengan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh peneliti kepada narasumber. Wawancara dilakukan di PUSTIPANDA dengan mewawancarai 3 orang yang ahli dibidangnya masing-masing.

2.14. Penentuan Sampel

Menurut Sugiyono (2016, hal. 80), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Populasi memiliki jumlah dan karakteristik yang disebut dengan sampel.

Dalam penentuan sampel, penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling yang merupakan bagian dari non-probability sampling. Menurut Sugiyono (2016, hal. 85), purposive sampling merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.

2.15. Skala Likert

Menurut Sugiyono (2016, hal. 93), skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Fenomena ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti yang disebut sebagai variable penelitian.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian merupakan suatu cara ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.

3.2. Pengumpulan data

Pengumpulan data bertujuan untuk mendapatkan data yang diinginkan sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan, peneliti menggunakan beberapa metode pengumpulan data (studi pustaka, kuesioner, dan wawancara) dan analisis data (metode kuantitatif dan kualitatif) sebagai bahan skripsi.

3.2.1. Studi Pustaka

Pertama kali yang dilakukan oleh peneliti yaitu melakukan studi pustaka. Pada tahap ini, peneliti mempelajari dan menelusuri literatur yang berkaitan dengan penelitian. Studi pustaka bertujuan untuk menyusun dasar-dasar teori yang digunakan oleh peneliti. Sumber literatur berasal dari e-book, jurnal, pakar, dan hasil penelitian orang lain yang berkaitan dengan topik penelitian.

3.2.2. Kuesioner

Setelah melakukan studi pustaka, peneliti melanjutkan penelitian dengan menyebarkan kuesioner offline yang menggunakan framework ITIL versi 3 dengan standar pertanyaan yang ada di dalam kuesioner ITIL maturity level self-assessment kepada 3 responden ahli dibidangnya.

Selain menyebarkan kuesioner kepada para responden ahli di PUSTIPANDA, peneliti juga menyebarkan kuesioner online kepada pengguna layanan PUSTIPANDA yang terdiri dari mahasiswa/i dan dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kuesioner merupakan metode

pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan beberapa pertanyaan kepada responden.

3.2.3. Wawancara

Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data, teknik ini dilakukan dengan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh peneliti kepada narasumber.

Peneliti melakukan wawancara terhadap 3 responden ahli dibidangnya untuk membuktikan (validasi) bahwa jawaban yang telah diberikan pada kuesioner offline tersebut dapat dipertanggungjawabkan.

3.3. Penentuan Sampel

Peneliti menggunakan teknik purposive sampling. Dengan Teknik ini, peneliti dapat mengambil sampel berdasarkan pertimbangan yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan penelitian. Peneliti mengambil 2 sampel sebagai instrumen penelitian:

1. Para ahli / Expert Respondents

Para ahli adalah orang yang mempunyai tanggung jawab terhadap masing-masing divisi IT yang ada di PUSTIPANDA (divisi support, divisi ITSM, dan divisi IT Operation & Networking).

2. Pengguna / User

Pengguna adalah orang yang menggunakan fasilitas IT yang disediakan oleh PUSTIPANDA. Pengguna yang dimaksud adalah dosen dan mahasiswa/i.

3.4. Pengukuran Layanan IT

Peneliti menggunakan metode ITIL V3 sebagai acuan untuk mengukur tingkat kematangan layanan IT PUSTIPANDA.

3.5.1. Domain

Peneliti memilih salah satu domain dari service lifecycle yang ada pada ITIL V3, yaitu service operation. Dengan memilih service operation, peneliti dapat mengukur tingkat kematangan layanan IT pada sudut pandang day-to-day, proses, dan infrastruktur. Selain itu, terdapat berbagai panduan untuk mengelola layanan IT secara efektif dan efisien. Service operation merupakan bagian yang mencakup semua kegiatan dalam pengelolaan operasional harian layanan IT.

3.5.2. Subdomain / Site

Pada domain service operation terdapat beberapa proses dan fungsi yaitu:

1. Subdomain/site service desk

Service desk merupakan fungsi yang terdiri dari beberapa staf yang berdedikasi dan bertanggung jawab untuk menangani berbagai peristiwa layanan.

2. Subdomain/site incident management

Incident management merupakan proses yang bertanggung jawab dalam mengelola siklus hidup semua insiden.

3. Subdomain/site problem management

Problem management merupakan proses yang bertanggung jawab untuk mengelola siklus hidup semua problem. Problem merupakan penyebab dari satu atau lebih insiden.

3.5. Tahapan Penelitian

Berikut ini adalah tahapan-tahapan penelitian yang digambarkan sebagai berikut:

Gambar 3.1 Alur metodologi penelitian

Peneliti memulai penelitian dengan mengumpulkan data yang diperlukan untuk bahan penelitian dan melakukan analisis awal. Dilanjutkan dengan menentukan topik serta merumuskan masalah. Setelah merumuskan masalah, peneliti menentukan layanan IT yang menjadi object penelitian. Layanan IT yang dipilih antara lain, e-campus, e-mail, dan internet. Ketiga layanan tersebut merupakan layanan yang sering digunakan oleh akademisi di lingkungan kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dilanjutkan dengan membuat kuesioner online (via google form) yang berkaitan dengan ketiga layanan IT tersebut, kemudian disebarkan secara online kepada mahasiswa/i (via chat) dan dosen (via e-mail). Penentuan sampel menggunakan teknik purposive sampling (pengambilan sampel berdasarkan tujuan) dengan populasi yang terbatas.

Selain kuesioner online, peneliti juga membuat kuesioner offline yang ditunjukkan kepada internal PUSTIPANDA yang terdiri dari tiga responden ahli.

Tiga responden ahli tersebut antara lain, Abdullah, S.Kom (Support Coordinator), Tri Singgih Pramono, MTI (ITSM Coordinator), dan Sukmo Cahyo Yuwono, A.MD (IT Operation & Networking Coordinator). Sama halnya dengan kuesioner online, penentuan sampel untuk kuesioner offline ini menggunakan teknik purposive sampling. Sebelum membuat kuesioner tersebut, peneliti terlebih dahulu mempelajari dan mengumpulkan berbagai informasi yang berkaitan dengan ITSM dan ITIL. Semua informasi diambil dari berbagai sumber, seperti buku, jurnal, artikel online, serta penelitian terdahulu.

Lalu peneliti menentukan domain (service operation) dan subdomain (service desk, incident management, dan problem management) yang merupakan bagian dari framework ITIL. Penentuan domain dan subdomain berkaitan dengan kegiatan pengelolaan operasional harian layanan IT di PUSTIPANDA. Kuesioner offline ini dibuat berdasarkan pertanyaan-pertanyaan dari ITIL high level self-assessment yang disusun oleh Stephen Kent dari Office of Government Commerce (OGC).

Penelitian dilanjutkan dengan membuat pertanyaan wawancara berdasarkan hasil dan identifikasi dari kuesioner offline. Pertanyaan wawancara difokuskan pada point-point tertentu. Wawancara dilakukan pada waktu dan tempat yang telah disepakati oleh peneliti dengan masing-masing responden.

Hasil dari wawancara tersebut dikelola dan diidentifikasi berdasarkan data/dokumen terkait. Ini dilakukan untuk mendapatkan bukti bahwa jawaban yang diberikan pada kuesioner offline dapat dipertanggungjawabkan.

Langkah selanjutnya, peneliti mulai mengukur tingkat kematangan layanan IT sesuai dengan aturan dari ITIL high level self-assessment berdasarkan hasil dari data wawancara dan kuesioner offline yang sudah dikelola dan diidentifikasi sebelumnya.

Setelah data yang dikumpulkan sudah cukup, peneliti mulai melakukan analisis akhir terhadap semua data-data yang telah didapatkan sebelumnya dengan menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif untuk memperoleh kesimpulan dan saran.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Profil PUSTIPANDA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data atau lebih dikenal dengan istilah PUSTIPANDA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah salah satu unit pelayanan terpadu.

4.1.1. Sejarah

Sejarah PUSTIPANDA dimulai pada tahun 2000, di bawah biro perencanaan dan keuangan dibentuk bagian sistem informasi dengan satu sub bagian sistem informasi. Pada tahun 2002, seiring dengan perubahan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, maka terjadi perubahan pada struktur organisasi bagian Sistem Informasi. Pada tahun 2003, bagian sistem informasi dibentuk sub-sub bagian yang lebih spesifik. Pada tahun 2010, diterbitkan surat keputusan rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, PUSKOM (Pusat Komputer) resmi berdiri.

Pada akhir tahun 2013 dilakukan perubahan nama PUSKOM menjadi PUSTIPANDA. Serta dilakukan penambahan dan pengembangan divisi yang ada di dalamnya yaitu yang sebelumnya terdiri dari 3 divisi (support, development, operational) menjadi 5 divisi (IT support, IT development, IT operation, IT data center & security, IT service management).

4.1.2. Visi dan Misi

PUSTIPANDA mempunyai Visi dan Misi sebagai berikut:

4.1.2.1. Visi

Visi PUSTIPANDA adalah: “UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menjadi universitas digital kelas dunia untuk mendukung integrasi keilmuan, keislaman, dan keindonesiaan”.

4.1.2.2. Misi

Misi PUSTIPANDA adalah:

1. Meningkatkan performa sistem informasi perguruan tinggi yang innovative, creative, high availability, high reliability, secure, fast, informed, documented, and integrated dalam rangka meningkatkan kinerja dan mutu bidang pendidikan, pengajaran, penelitian, publikasi ilimiah, pengabdian masyarakat, dan organisasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Meningkatkan mutu tata kelola universitas dengan pemanfaatan teknologi Information and Communications Technology (ICT).

3. Meningkatkan penelitian di bidang ICT dalam rangka menjaga bussiness continuity dan knowledge share pengembangan Information and Communications Technology.

4.1.3. Sasaran Mutu

PUSTIPANDA mempunyai misi sebagai berikut:

1. Membuat sistem Information and Communications Technology yang berorientasi kepada kebutuhan stakeholder dan shareholder UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Meningkatkan kualitas prasarana, SDM, dan layanan Information and Communications Technology di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Mengembangkan dan mengimplementasikan tata kelola IT sesuai dengan standarisasi nasional dan internasional.

4.1.4. Core Business

Adapun core business PUSTIPANDA antara lain:

1. Pelaksana pengembangan dan pemeliharaan sistem informasi.

2. Pelaksana pengembangan dan pemeliharaan jaringan.

3. Pelaksana pelayanan sistem informasi dan jaringan.

4. Pelaksana kerjasama antar pusat komputer dan sistem informasi perguruan tinggi dan / atau badan lain di dalam dan di luar negeri.

5. Pelaksana administrasi pusat komputer.

4.1.5. Produk dan layanan

Berikut ini adalah produk dan layanan yang berikan oleh PUSTIPANDA, antara lain:

1. Academic Information System (AIS)

2. Aplikasi android Academic Information System (AIS) 3. Sistem SPMB Mandiri

4. Service Desk UIN Jakarta 5. E-Journal

6. Library Automation and Digital Archive 7. Insitutional Repository

8. Sistem Informasi RBA

9. Sistem Laporan Kinerja Pegawai (e-LKP) 10. Sistem Informasi Persuratan

11. Website Portal UIN Jakarta 12. E-mail UIN (@uinjkt.ac.id) 13. Website & Blog

14. Hosting & Subdomain (.uinjkt.ac.id)

15. Infrastruktur jaringan dan wireless di lingkungan kampus 1 dan kampus 2

16. Host to Host Real Time Payment, pembayaran online untuk SPMB, perkuliahan, dll

4.1.6. Logo

Berikut ini adalah logo PUSTIPANDA:

Gambar 4.1 Logo PUSTIPANDA

4.1.7. Struktur Organisasi

PUSTIPANDA mempunyai 5 divisi penting. Setiap divisi mempunyai seorang koordinator yang mengatur divisi tersebut. Berikut ini adalah job description koordiantor pada setiap divisi:

1. Koordinator Bidang IT Development

a. Menyusun rencana pengembangan sistem informasi perguruan tinggi (UIN), baik itu jangka panjang (5 tahun) maupun jangka pendek (1 tahun).

b. Melaksanakan program pengembangan sistem informasi sesuai dengan rencana yang telah ditentukan.

c. Melakukan evaluasi berkala terhadap pelaksanaan sistem informasi (persemester).

d. Melakukan pembenahan sistem informasi baik itu yang bersifat ad-hock maupun hasil dari evaluasi berkala sesuai dengan kebutuhan stakeholder.

e. Mengintegrasikan semua sistem yang sekarang masih berada di unit-unit sesuai dengan misi lembaga yaitu membentuk one stop data center.

f. Mengembangkan sistem pengamanan data dan sistem informasi yang dikembangkan.

g. Memberikan bantuan teknis operasional sistem informasi manajemen kepada unit-unit yang membutuhkan.

h. Menyusun SOP pelaksanaan sistem informasi (Sistem Informasi Perguruan Tinggi).

i. Mendokumentasikan semua kegiatan pengembangan sistem sesuai dengan standar pengembangan.

j. Melakukan pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan pengembangan sistem informasi Melakukan koordinasi langsung dengan Kepala PUSTIPANDA dan koordinator bidang lainnya dalam pelaksanaan tugas keseharian.

k. Melaksanakan pekerjaan lain untuk kepentingan lembaga yang ditugaskan pimpinan.

2. Koordinator Bidang IT Operation & Networking

a. Menyusun rencana pengembangan sistem jaringan jangka pendek (pertahun) dan jangka panjang (perlima tahun).

b. Mengendalikan langsung operasionalisasi sistem jaringan di lingkungan universitas dan seluruh unit yang ada, yaitu:

intranet, internet dan hotspot.

c. Melakukan troubleshooting jika terjadi masalah pada jaringan internet dan intranet.

d. Berkoordinasi langsung dengan perusahaan penyedia layanan internet.

e. Menata dan merawat sistem cabling dan switching.

f. Mengelola bandwidth, routing dan firewall.

g. Melakukan mapping topologi jaringan secara lengkap.

h. Menyusun SOP yang berhubungan dengan masalah jaringan dan internet.

i. Melakukan pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan jaringan dan internet.

j. Mendokumentasikan semua kegiatan, seperti perubahan-perubahan topology, password, dll.

k. Melakukan koordinasi langsung dengan Kepala PUSTIPANDA dan koordinator bidang lainnya dalam pelaksanaan tugas keseharian.

l. Melaksanakan pekerjaan lain untuk kepentingan lembaga yang ditugaskan pimpinan.

3. Koordinator Bidang IT Management

a. Menyusun standarisasi layanan IT PUSTIPANDA.

b. Menyusun standar kebijakan, prosedur, instruksi kerja, dan form layanan teknologi informasi.

c. Menyusun analisis atas keluhan, insiden, dan masalah pada layanan teknologi informasi.

d. Melakukan koordinasi dengan divisi lainnya tentang kepatuhan kebijakan dan manajemen risiko TIK.

e. Melaporkan hasil kerja kepada kepala lembaga secara berkala dalam bentuk lisan dan atau tertulis.

f. Melakukan koordinasi langsung dengan Kepala PUSTIPANDA dan koordinator bidang lainnya dalam pelaksanaan tugas keseharian.

g. Melaksanakan pekerjaan lain untuk kepentingan lembaga yang ditugaskan pimpinan.

4. Koordinator Bidang IT Security & Data Center

a. Menyusun rencana pengembangan sistem jaringan jangka pendek (pertahun) dan jangka panjang (perlima tahun).

b. Menyusun SOP yang berhubungan dengan masalah jaringan dan internet.

c. Melakukan pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan jaringan, security dan internet.

d. Mendokumentasikan semua kegiatan, seperti perubahan-perubahan topology, password, dll.

e. Melakukan Monitoring dan Maintenance server.

f. Melakukan analisis keamanan website.

g. Melakukan koordinasi langsung dengan Kepala PUSTIPANDA dan koordinator bidang lainnya dalam pelaksanaan tugas keseharian.

h. Melaksanakan pekerjaan lain untuk kepentingan lembaga yang ditugaskan pimpinan.

5. Koordinator Bidang IT Support

a. Melakukan pelayanan-pelayanan harian sistem informasi kepada para stakeholder.

b. Berkoordinasi dengan bidang dan divisi lain dalam hal layanan kepada stakeholder.

c. Melakukan troubeshooting pertama kali jika terjadi gangguan terhadap layanan maupun aplikasi.

f. Mendokumentasikan semua kegiatan, masalah yang berhubungan dengan tugas layanan.

g. Melakukan koordinasi langsung dengan Kepala PUSTIPANDA dan koordinator bidang lainnya dalam pelaksanaan tugas keseharian.

h. Melaksanakan pekerjaan lain untuk kepentingan lembaga yang ditugaskan pimpinan.

Berikut ini adalah struktur organisasi PUSTIPANDA:

Gambar 4.2 Struktur organisasi PUSTIPANDA

4.2. Aplikasi Service Desk

Aplikasi service desk UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah aplikasi pelayanan online yang ditujukan kepada civitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang berfungsi untuk menemukan jawaban permasalahan, permintaan layanan, dan melaporkan insiden terhadap layanan. Aplikasi dapat diakses di http://servicedesk.uinjkt.ac.id, ini merupakan salah satu layanan yang dibuat dan dikembangkan oleh PUSTIPANDA.

Sebagai single point of contact, aplikasi ini menyediakan request catalog dan solutions yang berhubungan dengan akademik. Request catalog yang tersedia mempunyai beberapa service templates sesuai dengan status pengguna (dosen atau mahasiswa/i). Solutions yang diberikan merupakan masalah yang umum dipertanyakan oleh pengguna.

Gambar 4.3 Tampilan dari aplikasi service desk untuk pengguna

4.2.1. Cara kerja Aplikasi

Ada dua cara untuk mencatat semua kegiatan service desk, dan incident management. Pertama, pengguna bisa mengirimkan permasalahan

Ada dua cara untuk mencatat semua kegiatan service desk, dan incident management. Pertama, pengguna bisa mengirimkan permasalahan

Dokumen terkait