Target dividen BUMN tahun 2010 sangat bergantung pada kondisi perekonomian. Dinamika variabel dan asumsi makro yang digunakan pada tahun 2009 akan sangat berpengaruh terhadap rencana dividen BUMN di tahun 2010. Variabel dan asumsi makro yang memiliki pengaruh kuat terhadap penentuan target dividen BUMN 2010 tersebut antara lain adalah pertumbuhan ekonomi, ICP, nilai tukar, suku bunga, pertumbuhan kredit perbankan, dan harga komoditi.
Tekanan krisis ekonomi global masih menjadi masalah utama bagi upaya optimalisasi kinerja BUMN di tahun 2009. Konsensus umum dalam berbagai diskusi dan analisis mengenai prospek perekonomian global masih memperkirakan potensi terjadinya laju pertumbuhan negatif di berbagai negara pada tahun 2009. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan krisis ekonomi global akan mencapai puncaknya pada tahun 2009. IMF telah berkali-kali merevisi publikasi World Economic Outlook (WEO) menuju titik yang paling pesimistis. Dalam WEO edisi Januari 2009, IMF memperkirakan laju PDB dunia tahun 2009 masih mencapai 0,5 persen. Namun, terus dikoreksi ke bawah hingga terakhir dalam WEO edisi bulan Juli 2009 IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2009 mengalami kontraksi atau minus 1,4 persen.
Dari sisi permintaan, komponen pembentuk pertumbuhan ekonomi antara lain adalah besaran konsumsi masyarakat dan investasi. Konsumsi masyarakat juga dipengaruhi oleh besaran belanja operasional (opex) yang dikeluarkan oleh BUMN menjadi pendapatan masyarakat. Sedangkan komponen investasi terdiri dari investasi sektor swasta dan investasi BUMN dalam bentuk belanja modal (capex). Jumlah capex yang diinvestasikan BUMN akan memiliki pengaruh positif dalam menggerakkan sektor riil.
Dalam RKAP tahun 2009 alokasi opex BUMN ditargetkan sebesar Rp836,3 triliun, 13,1 persen lebih rendah daripada realisasi opex tahun 2008 sebesar Rp962,8 triliun. Lebih rendahnya target opex BUMN tersebut disebabkan oleh berkurangnya operational cost BUMN akibat tren penurunan harga minyak dunia. Meskipun demikian, di tahun 2009 BUMN akan tetap melakukan ekspansi usaha sebagaimana diindikasikan dengan alokasi capex yang mencapai Rp152,1 triliun, naik sebesar 18,5 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya sebesar Rp128,3 triliun. Dengan adanya peningkatan alokasi capex tersebut, diharapkan BUMN dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian dalam negeri dengan mendorong pertumbuhan di sektor riil. Peningkatan capex diharapkan dapat menciptakan multiplier effect dengan menyerap tenaga kerja dan mengurangi tingkat pengangguran. Namun demikian, peningkatan capex memiliki konsekuensi terhadap berkurangnya setoran dividen karena adanya penurunan laba BUMN dan penyesuaian
pay-out ratio. Berkurangnya permintaan dunia terhadap minyak mentah telah membuat
Januari-Mei 2009 sebesar US$48,1 per barel, berada di level yang jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan rata-rata ICP periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$104,8 per barel. Penurunan ICP yang sangat signifikan tersebut menyebabkan target laba PT Pertamina tahun 2009 terkoreksi turun sebesar 53,6 persen menjadi Rp14,0 triliun.
Hal yang sama juga terjadi di sektor perbankan. Pertumbuhan kredit perbankan turun sebesar 7,7 persen selama kurun waktu Januari-April 2009, sedangkan tingkat NPL naik dari 4,2 persen menjadi 4,6 persen. Konsekuensi dari kondisi tersebut adalah target laba BUMN sektor perbankan tahun 2009 mengalami penurunan sebesar Rp3,2 triliun (23,5 persen) dari perolehan laba tahun 2008 menjadi sebesar Rp13,3 triliun. Pemerintah dalam hal ini Bank Indonesia telah melakukan kebijakan dengan menurunkan BI rate dari 8,75 persen menjadi 7,0 persen pada bulan Juni 2009, yang diharapkan akan berdampak terhadap penurunan suku bunga kredit yang disalurkan oleh BUMN perbankan. Penurunan tersebut diharapkan dapat meningkatkan volume kredit sehingga tekanan terhadap BUMN sektor perbankan dapat dikurangi.
Berbeda dengan asumsi dan variabel makro tersebut di atas, nilai tukar dan harga komoditi mulai menunjukkan tren yang positif. Nilai tukar rupiah terus menguat selama periode Maret-Juni 2009, dari level Rp12.000 per dolar Amerika Serikat menjadi Rp10.237 per dolar Amerika Serikat. Penguatan nilai tukar rupiah tersebut akan meminimalisasi kerugian kurs terhadap permintaan valas dalam negeri yang mayoritas dilakukan oleh BUMN. Harga komoditi tambang dan perkebunan juga terus mengalami peningkatan. Selama kurun waktu Januari-Juni 2009 harga komoditi alumunium mengalami kenaikan sebesar 12,8 persen, emas sebesar 6,3 persen, dan tembaga sebesar 75,3 persen. Untuk sektor perkebunan, harga CPO meningkat sebesar 26,1 persen, dan harga karet naik sebesar 33,1 persen. Dengan meningkatnya harga komoditi-komoditi tersebut, diharapkan target laba BUMN sektor pertambangan dan perkebunan akan meningkat sekitar 20,0 persen.
Berdasarkan beberapa indikator di atas, to-tal perolehan laba bersih BUMN tahun 2009 diperkirakan mencapai Rp65,3 triliun, lebih rendah 26,2 persen dibandingkan dengan laba bersih BUMN tahun 2008 sebesar Rp82,4 triliun. Target perolehan laba bersih beberapa BUMN tahun 2009 dapat dilihat pada Grafik III. 41.
Dengan mempertimbangkan perkiraan perolehan laba bersih BUMN dan besaran
pay-out ratio dalam tahun 2009, maka
dividen BUMN dalam tahun 2010 ditargetkan sebesar Rp24,0 triliun atau 11,7 persen terhadap total PNBP. Target tersebut lebih rendah sebesar Rp4,6 triliun atau 16,1
persen apabila dibandingkan dengan perkiraan dividen BUMN tahun 2009. Lebih rendahnya target penerimaan tersebut terutama disebabkan oleh penurunan perkiraan laba bersih BUMN terutama dari BUMN besar seperti PT Pertamina dan BUMN sektor perbankan. Perkiraan dividen BUMN tahun 2010 tersebut berasal dari PT Pertamina sebesar Rp10,0 triliun (43,5 persen), BUMN sektor perbankan Rp4,0 triliun (17,4 persen), dan sisanya sebesar 39,1 persen
14,0 11,5 5,9 5,2 2,6 2,5 2,2 2,1 0,0 2,0 4,0 6,0 8,0 10,0 12,0 14,0 16,0
PT Pertamina PT Telkom PT BRI PT Bank Mandiri PT PGN PT Semen Gresik PT Bukit Asam PT Pupuk Sriwidjaya (R p tr ili u n) GRAFIK III. 41
TARGET LABA BERSIH BEBERAPA BUMN TAHUN 2009
berasal dari BUMN sektor lainnya.
Grafik III.42 memperlihatkan target
dividen beberapa BUMN tahun 2010. Guna menjaga kinerja BUMN sekaligus optimalisasi penerimaan dari dividen BUMN di tahun 2010, Pemerintah akan mengambil beberapa kebijakan antara lain (a) penetapan
pay-out ratio 0-25 persen untuk BUMN
sektor asuransi, khusus PT Jamsostek, PT Taspen, PT Askes, dan PT Asabri diterapkan kebijakan pay-out ratio 0 persen, terkait dengan UU No 40 Th 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional dimana BUMN asuransi menjadi organisasi nirlaba; (b) penetapan pay-out ratio nol persen untuk BUMN kehutanan, terkait dengan upaya pelestarian hutan di Indonesia; (c) penetapan pay-out ratio 0 persen untuk BUMN laba dengan akumulasi rugi; (d) penetapan pay-out ratio 0-60 persen untuk BUMN laba tanpa akumulasi rugi; (e) penetapan pay-out ratio 10-25 persen untuk BUMN yang menjalankan proyek pemerintah di bidang infrastruktur, seperti PT Angkasa Pura (I dan II), PT Pelindo (I dan IV), dan PT Bio Farma; (f) penetapan dividen spesial untuk BUMN dengan laba windfall; (g) tidak menarik dividen bagi BUMN laba namun mengalami kesulitan
cash flow; (h) peningkatan kinerja BUMN melalui optimalisasi investasi (capex), untuk
konsolidasi modal kerja; dan (i) melakukan program restrukturisasi dan rightsizing BUMN, sesuai dengan Inpres Nomor 5 Tahun 2008.
PNBP Lainnya
Dalam tahun 2010, target PNBP lainnya diperkirakan mencapai Rp39,9 triliun, mengalami penurunan sebesar Rp5,0 triliun atau 11,1 persen jika dibandingkan dengan perkiraan realisasi PNBP lainnya tahun 2009 sebesar Rp44,9 triliun. Target PNBP lainnya tahun 2009—2010 dapat dilihat dalam Grafik III.43.
Target PNBP lainnya tersebut bersumber dari PNBP K/L dan PNBP non-K/L. PNBP K/L memberikan kontribusi yang sangat signifikan baik dari segi penerimaan maupun kebijakan. Secara lebih rinci target PNBP lainnya dapat dilihat pada Tabel III.26. Dalam rangka pencapaian target PNBP tahun 2010, khususnya yang berasal dari beberapa K/L penyumbang terbesar PNBP Lainnya, berbagai upaya akan dilakukan oleh masing-masing K/L berupa kebijakan optimalisasi
dan efektifitas pungutan PNBP. Berikut ini adalah penjelasan mengenai pencapaian target PNBP dari beberapa K/L penyumbang terbesar PNBP lainnya berikut kebijakan yang akan dilakukan. 10,0 3,2 1,7 1,7 0,7 0,7 0,6 0,5 0 2 4 6 8 10 12
PT Pertamina PT Telkom PT Bank
Mandiri PT BRI PT PGN PT Bukit Asam PT Semen Gresik PT BNI
(R p t ri li u n ) GRAFIK III. 42
TARGET DIVIDEN BEBERAPA BUMN TAHUN 2010
Sumber: Departemen Keuangan
44,9 39,9 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 APBN-P 2009 APBN 2010 (R p tr il iu n ) GRAFIK III. 43 PNBP LAINNYA 2009 - 2010