• Tidak ada hasil yang ditemukan

STIMULUS FISKAL BIDANG PERPAJAKAN Latar Belakang:

BOKS III.1 SUNSET POLICYSUNSET POLICY

STIMULUS FISKAL BIDANG PERPAJAKAN Latar Belakang:

™ Terjadinya krisis global diperkirakan akan berdampak serius pada perekonomian Indonesia

karena berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan semula.

™ Dampak krisis global telah menimbulkan dampak nyata terhadap perekonomian nasional

yaitu perlambatan pertumbuhan ekonomi, penurunan ekspor, penurunan produksi dan rasionalisasi tenaga kerja yang menimbulkan peningkatan pengangguran dan kemiskinan.

™ Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah penyesuaian darurat di bidang fiskal untuk

menyelamatkan perekonomian nasional 2009 dengan memperluas program stimulus fiskal APBN 2009.

Dasar Hukum :

™ Pasal 23 UU APBN Tahun 2009.

™ Dalam keadaan darurat Pemerintah dengan persetujuan DPR boleh mengambil

langkah-langkah:

• pengeluaran yang belum tersedia anggarannya dan/atau pengeluaran melebihi pagu APBN 2009;

• pergeseran anggaran belanja antarprogram, antarkegiatan, dan/atau antarjenis belanja baik di dalam atau antar kementerian negara/lembaga;

• penghematan belanja untuk peningkatan efisiensi dengan tetap menjaga sasaran yang harus tercapai;

• penarikan pinjaman siaga dari kreditor bilateral maupun multilateral;

• penerbitan Surat Berharga Negara melebihi pagu APBN tahun yang bersangkutan.

™ Keadaan darurat yang dimaksud antara lain adalah:

• penurunan pertumbuhan ekonomi di bawah asumsi yang menyebabkan turunnya pendapatan negara;

• kenaikan biaya utang;

• krisis sistemik dalam sistem keuangan dan perbankan nasional. Kebijakan :

Pemerintah menerapkan kebijakan fiskal yang bersifat countercyclical. yaitu memutar siklus yang negatif ke arah yang positif.

Tujuan :

1) memelihara daya beli masyarakat;

2) menjaga daya tahan perusahaan/sektor usaha menghadapi krisis global;

3) meningkatkan daya serap tenaga kerja dan meredam PHK melalui kebijakan pembangunan infrastruktur padat karya.

Alokasi Dana :

Total dana yang dialokasikan untuk program stimulus fiskal adalah Rp73,3 triliun. Khusus untuk stimulus fiskal bidang perpajakan, total dana yang dialokasikan adalah Rp56,3 triliun. Rincian:

• Kebijakan stimulus fiskal untuk memelihara daya beli masyarakat, diberikan dalam bentuk

tax saving dan subsidi pajak/DTP:

o penyederhanaan lapisan penghasilan dari 5 menjadi 4 lapisan dan penurunan tarif PPh OP dari tarif tertinggi 35 persen —> 30 persen, stimulus sebesar Rp13,5 triliun. o peningkatan penghasilan tidak kena pajak (PTKP), stimulus sebesar Rp11,0 triliun o DTP PPN minyak goreng sebesar Rp0,8 triliun.

o DTP PPN bahan bakar nabati (BBN) sebesar Rp0,2 triliun.

o PPh pasal 21 orang pribadi (OP) sebesar Rp6,5 triliun. Dalam hal ini, pajak yang dipungut oleh perusahaan dari karyawan ditanggung oleh Pemerintah dan dikembalikan kepada karyawan sebagai stimulus fiskal.

• Kebijakan fiskal untuk meningkatkan daya saing dan daya tahan usaha diberikan dalam bentuk penurunan tarif tunggal WP badan dan pemberian keringanan pajak 5 persen dibawah tarif normal terhadap perusahaan masuk bursa. Di samping itu, WP badan juga mendapat keringanan beban pajak berupa pemberian insentif pajak untuk perusahaan yang bergerak pada sektor tertentu dan/atau berlokasi di daerah tertentu. Secara total, kebijakan fiskal untuk meningkatkan daya saing dan daya tahan usaha tersebut diharapkan dapat memberikan stimulus sebesar Rp18,5 triliun.

• Kebijakan stimulus fiskal juga diberikan dalam bentuk:

o Pemberian fasilitas bea masuk DTP sebesar Rp2,5 triliun. Tujuan dari pemberian fasilitas bea masuk DTP tersebut adalah untuk memenuhi penyediaan barang dan/atau jasa untuk kepentingan umum, mendorong sektor riil, dan meningkatkan daya saing industri tertentu di dalam negeri.

o Pemberian subsidi PPN berupa pajak dalam rangka impor kepada perusahaan yang melaksanakan eksplorasi minyak dan gas bumi. Tujuannya adalah untuk menarik perusahaan agar berinvestasi pada industri minyak dan gas bumi.

o Insentif PPh panas bumi yang bertujuan untuk meningkatkan kegiatan pengusahaan sumber daya panas bumi guna pembangkitan energi/listrik.

No. Sektor (miliar Rp) Alokasi Peraturan

1. Pesawat Terbang 416,0 PMK 26/2009

2. Komponen Kendaraan Bermotor 795,2 PMK 27/2009

3. Komponen Elektronika 215,4 PMK 28/2009

4. Kapal 151,0 PMK 29/2009

5. Industri Alat Besar 106,0 PMK 30/2009

6. Kemasan Infus 11,4 PMK 31/2009

7. Pembangkit Listrik Tenaga Uap 14,0 PMK 33/2009

8. Sorbitol 0,7 PMK 34/2009

9. Industri Telematika 50,0 PMK 35/2009

10. Industri Pembuatan Methyltin Mercaptide 0,9 PMK 36/2009

11. Alat Tulis Berupa Ballpoint 3,2 PMK 37/2009

12. Lainnya 736,2

-2.500,0 Sumber: Departemen Keuangan

BEA MASUK DTP 2009

Total Bea Masuk DTP

Pajak Dalam Negeri

Pajak dalam negeri terdiri dari PPh, PPN dan PPnBM, PBB, BPHTB, cukai dan pajak lainnya. Selama periode 2005-2008, penerimaan pajak dalam negeri meningkat dari Rp331,8 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp622,4 triliun pada tahun 2008. Rata-rata pertumbuhan dalam periode tersebut adalah 23,3 persen. Pertumbuhan penerimaan perpajakan dalam negeri tersebut terjadi pada semua jenis pajak dengan besaran pertumbuhan bervariasi. Pertumbuhan dari masing-masing jenis pajak dalam periode 2005-2009 dapat dilihat dalam Grafik III.2.

Alokasi

(triliun Rp) Peraturan Pelaksanaan A. Penghematan Pembayaran Perpajakan 11,0

1. Penurunan tarif PPh OP (35% --> 30%)

dan perluasan lapisan tarif 13,5 UU No. 36/2009 1 Jan 2009 2. Peningkatan PTKP menjadi Rp15,8 juta 11,0 UU No. 36/2009 1 Jan 2009 3. Penurunan tarif PPh Badan (30% --> 28%) dan

perusahaan masuk bursa --> tarif 5% lebih rendah 18,5 UU No. 36/2009 1 Jan 2009

B. Subsidi Pajak/BM (DTP) kepada Dunia Usaha/RTS 13,3

1. PPh Panas Bumi 0,8 PMK 242/2008 1 Jan 2009 2. PPh Pasal 21 6,5 PMK 43/2009 18 Mar 2009 3. PPN Minyak Goreng 0,8 PMK 231/2008 23 Des 2009 4. PPN Bahan Bakar Nabati (BBN) 0,2 - -5. PPN Eksplorasi Migas 2,5 PMK 242/2008 1 Jan 2009 6. Bea Masuk Industri 2,5 PMK 241/2009 26 Feb 2009

24,3

Sumber: Departemen Keuangan

Uraian

Jumlah Stimulus

Dilihat dari besarnya kontribusi, PPh merupakan kontributor utama bagi penerimaan pajak dalam negeri selama periode 2005-2008, dengan kontribusi rata-rata sebesar Rp237,6 triliun atau 52,2 persen terhadap total penerimaan pajak dalam negeri. Kontributor terbesar kedua adalah PPN dan PPnBM yang memberikan kontribusi rata-rata sebesar Rp147,1 triliun atau 32,2 persen dari total penerimaan pajak dalam negeri. Selanjutnya, cukai merupakan kontributor terbesar ketiga dengan kontribusi rata-rata Rp41,7 triliun atau 9,2 persen dari total penerimaan pajak dalam negeri. Kontribusi rata-rata dari masing-masing jenis pajak yang tercakup dalam pajak dalam negeri pada periode 2008 dan 2009 dapat dilihat pada

Grafik III.3. PPh Migas 12,4% PPh Non-Migas 42,1% PPN 33,7% PBB 4,1% BPHTB 0,9% Cukai 8,2% Pajak Lainnya0,5% 2008 PPh Migas 7,5% PPh Non-Migas 44,7% PPN 31,2% PBB 3,6% BPHTB 1,1% Cukai 8,4% Pajak Lainnya 0,5% 2009 GRAFIK III.3

KONTRIBUSI PENERIMAAN PAJAK DALAM NEGERI, 2008 DAN 2009

Sumber : Departemen Keuangan 53,2 45,4 -1,2 37,8 17,6 14,0 9,5 22,9 18,0 21,5 28,6 -7,2 13,6 11,6 1,9 17,4 25,6 13,7 87,0 18,3 19,7 75,0 28,5 35,7 6,9 -6,4 14,7 7,1 -36,3 15,7 -3,0 -5,9 25,2 6,4 -3,1 (40) (20) 0 20 40 60 80 PPh

Migas non MigasPPh PPN PBB BPHTB Cukai Pajak Lainnya

P er se n (Y -o -Y ) GRAFIK III.2

PERTUMBUHAN PENERIMAAN PERPAJAKAN DALAM NEGERI, 2005 - 2009

2005 2006 2007 2008 2009*

* APBN-P

Sementara itu, penerimaan pajak dalam negeri pada tahun 2009 diperkirakan mencapai Rp631,9 triliun. Sama halnya dengan tahun-tahun sebelumnya, PPh serta PPN dan PPnBM merupakan dua kontributor terbesar dengan kontribusi masing-masing mencapai Rp340,2 triliun dan Rp203,1 triliun. Secara persentase, kontribusi dari kedua jenis pajak tersebut masing-masing adalah 52,2 persen dan 31,2 persen. Sementara itu, cukai diharapkan dapat memberi kontribusi sebesar Rp54,5 triliun atau 8,6 persen dari total penerimaan pajak dalam negeri.

Dibandingkan dengan realisasi tahun 2008 yang mencapai sebesar Rp622,4 triliun, realisasi penerimaan pajak dalam negeri pada tahun 2009 diperkirakan naik sebesar Rp9,5 miliar atau 1,5 persen. Jenis-jenis pajak yang mengalami peningkatan adalah PPh nonmigas, BPHTB, cukai, dan pajak lainnya. Sedangkan untuk penerimaan PPh migas, PPN dan PPnBM serta PBB mengalami penurunan. Secara umum, rendahnya harga ICP pada tahun 2009 merupakan penyebab utama menurunnya penerimaan perpajakan, khususnya pajak migas. Pajak Penghasilan

Dalam periode 2005-2008, penerimaan PPh meningkat rata-rata sebesar 23,1 persen. Berdasarkan komposisinya, PPh migas mampu memberikan kontribusi sebesar rata-rata 20,7 persen, sedangkan PPh nonmigas rata-rata 79,3 persen.

Sementara itu, pada tahun 2009, penerimaan PPh direncanakan mencapai Rp340,2 triliun, atau meningkat 3,9 persen dibandingkan dengan realisasi tahun 2008 yang mencapai Rp327,5 triliun. Peningkatan ini terutama berasal dari peningkatan penerimaan PPh nonmigas yang naik sebesar 16,2 persen. Sebaliknya, untuk penerimaan PPh migas justru mengalami penurunan sebesar Rp27,5 triliun atau 36,4 persen.

PPh Migas

Penerimaan PPh migas selama tahun 2005-2008 mengalami peningkatan rata-rata sebesar 29,9 persen. Peningkatan tersebut terutama bersumber dari peningkatan penerimaan PPh gas alam yang rata-rata meningkat 26,7 persen dan PPh minyak bumi yang rata-rata meningkat 35,9 persen. Peningkatan realisasi penerimaan PPh migas tersebut disebabkan oleh meningkatnya ICP di pasar internasional dari US$51,8 per barel tahun 2005 menjadi US$97,0 per barel tahun 2008. Perkembangan realisasi PPh migas 2005-2009 selanjutnya dapat dilihat pada Tabel III.4.

% thd % thd % thd % thd % thd Total Total Total Total Total

PPh Minyak Bumi 11,8 33,6 14,7 34,0 16,3 37,0 29,6 38,5 18,5 37,7 PPh Gas Alam 23,3 66,3 28,5 66,0 27,3 62,0 47,4 61,5 30,5 62,3 PPh Migas Lainnya 0,0 0,0 0,0 0,0 0,4 1,0 0,0 0,0 0,0 0,0

Total 35,1 100,0 43,2 100,0 44,0 100,0 77,0 100,0 49,0 100,0

Sumber : Departemen Keuangan

TABEL III. 4 PERKEMBANGAN PPh MIGAS, 2005 - 2009 (triliun Rupiah) Uraian LKPP LKPP LKPP 2008 LKPP 2005 2009 APBN-P 2006 2007

Pada tahun 2009, penerimaan PPh migas direncanakan mencapai Rp49,0 triliun. Dengan demikian, terjadi penurunan sebesar Rp28,0 triliun atau 36,4 persen dibandingkan dengan realisasi tahun 2008 yang mencapai Rp77,0 triliun. Faktor utama yang menyebabkan turunnya penerimaan PPh migas adalah turunnya ICP dari rata-rata US$97,0 per barel pada tahun 2008 menjadi US$61,4 per barel pada tahun 2009. Penerimaan PPh migas tahun 2009 dapat dilihat pada Grafik III.4.