• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tantangan dan Sasaran Kebijakan Ekonomi Makro 20102010

PERKEMBANGAN EKONOMI DAN POKOK-POKOK KEBIJAKAN FISKAL APBN 2010

GRAFIK II.26  BALTIC DRY INDEX

2.3 Tantangan dan Sasaran Kebijakan Ekonomi Makro 20102010

Dalam rangka pemulihan ekonomi global, berbagai tantangan yang mungkin muncul pada tahun 2010 antara lain berasal dari belum optimalnya program stimulus ekonomi, ketatnya likuiditas global, dan meningkatnya harga minyak dan beberapa komoditi di pasar internasional. Kondisi tersebut dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi domestik. Sementara tantangan dari sisi domestik antara lain berasal dari masih tingginya tingkat pengangguran dan angka kemiskinan serta belum memadainya infrastruktur.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, sasaran dalam tahun 2010 antara lain diarahkan untuk menjaga stabilitas ekonomi makro, meningkatkan pembangunan infrastruktur dan mengurangi tingkat pengangguran dan kemiskinan. Untuk mencapai sasaran tersebut, Pemerintah melakukan berbagai program diantaranya program jaminan sosial dan peningkatan kapasitas usaha skala mikro dan kecil serta koperasi serta program-program lainnya.

2.3.1 Tantangan Kebijakan Ekonomi Makro

2.3.1.1 Perekonomian Dunia dan Regional

Konsensus hingga saat ini mengisyaratkan bahwa pemulihan ekonomi global akan terjadi di tahun 2010. Pemulihan tersebut antara lain dipengaruhi oleh menurunnya tekanan inflasi dan dampak kebijakan stimulus di berbagai negara, serta mulai membaiknya kondisi likuiditas global. IMF memperkirakan bahwa laju pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2010 akan mencapai 3,1 persen. Peningkatan laju pertumbuhan ekonomi tersebut didorong oleh pertumbuhan di negara-negara berkembang sebesar 5,1 persen, sementara negara-negara maju secara umum akan tumbuh sebesar 1,3 persen atau tidak mengalami pertumbuhan ekonomi.

Walau diperkirakan ekonomi akan kembali tumbuh, masih terdapat tantangan yang mungkin dapat memperpanjang krisis yang terjadi. Risiko tersebut bersumber pada kekhawatiran kurang efektifnya kebijakan stimulus dalam mengatasi tekanan di sektor keuangan dan pelemahan ekonomi yang terjadi. Masih tingginya risiko kredit macet oleh korporasi maupun rumah tangga yang berbeda-beda di tiap negara, kejatuhan nilai aset, kerugian berbagai perusahaan yang lebih besar merupakan faktor-faktor yang dapat mengganggu efektifitas stimulus yang ada. Di samping itu, kekhawatiran

munculnya kredit macet akan mendorong masyarakat untuk meningkatkan tabungan untuk berjaga-jaga (precautionary saving) sehingga dapat mengurangi efek pengganda (multiplier effect) dari kebijakan stimulus yang dilaksanakan.

Pemulihan pertumbuhan ekonomi yang terjadi akan diiringi oleh peningkatan aktivitas perdagangan dunia. Di tahun 2010, volume

4.5 5.1 5.2 3.0 -1.1 3.1 7.8 9.1 7.3 3.0 -11.9 2.5 -15 -10 -5 0 5 10 15 2005 2006 2007 2008 2009 2010 GRAFIK II.36

PERTUMBUHAN EKONOMI DAN TOTAL VOLUME PERDAGANGAN DUNIA: REALISASI DAN PERKIRAAN

PDB Trade Volume

`

perdagangan dunia (barang dan jasa) diperkirakan tumbuh sebesar 2,5 persen. Peningkatan pertumbuhan tersebut terutama didukung oleh perdagangan barang yang tumbuh sebesar 2,7 persen.

Pelemahan ekonomi global yang terjadi saat ini menghambat permintaan minyak mentah terkait dengan menurunnya konsumsi dan kebutuhan industri baik produk barang maupun jasa. Namun demikian dengan adanya pulihnya perekonomian dunia, permintaan minyak mentah pada tahun 2010 diperkirakan pulih kembali.

Dengan kondisi fundamental perekonomian dunia yang masih rapuh, kenaikan harga internasional dalam beberapa bulan terakhir ini diperkirakan tidak dapat bertahan lebih lama dan sangat mungkin untuk melemah kembali. Para ahli ekonomi mencermati bahwa resesi perekonomian dunia belum mencapai titik dasarnya. Perekonomian Amerika Serikat dan Jepang diharapkan baru dapat membaik kembali pada tahun 2010. Mencermati perkembangan permintaan dan penawaran minyak mentah serta semakin stabilnya perekonomian dunia diperkirakan sejak awal semester II 2009 harga minyak akan cenderung naik. EIA dalam rilisnya pada tanggal 9 September 2009 memperkirakan harga minyak WTI dalam tahun 2010 diperkirakan rata-rata mencapai US$75,0 per barel. Dengan memperhatikan prediksi harga minyak dari EIA dan untuk mengamankan pelaksanaan anggaran negara, maka dalam perhitungan APBN 2010, harga ICP diasumsikan US$65 per barel.

Target lifting minyak tahun 2010 diperkirakan sebesar 965 ribu barel per hari. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan target dalam tahun sebelumnya. Produksi minyak pada tahun 2010 sebagian besar diperkirakan berasal dari lapangan yang dikelola PT Chevron Pacific Indonesia sebesar 364.800 barel per hari, serta PT Pertamina dan mitranya, sebesar 131.800 barel per hari, sedangkan produksi dari Chevron sebagai salah satu KKKS utama mengalami penurunan dibanding tahun 2008 yang mencapai 408 ribu barel per hari disebabkan oleh penurunan alamiah lapangan yang cukup tinggi.

2.3.1.2 Perekonomian Domestik

Memasuki triwulan IV tahun 2008 dampak krisis global terhadap perekonomian nasional semakin nyata, yang antara lain tercermin pada menurunnya pertumbuhan ekspor dan investasi yang pada gilirannya berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut. Berbagai upaya untuk mencapai pemulihan ekonomi telah dilakukan oleh banyak negara di dunia termasuk Indonesia melalui pemberian stimulus fiskal, pembenahan sektor keuangan, kebijakan penurunan suku bunga, dan kebijakan-kebijakan lainnya. Keberhasilan dari berbagai upaya tersebut terlihat dari mulai mengalirnya arus modal ke negara-negara berkembang dan meningkatnya penjualan retail di negara-negara berkembang dan negara-negara maju pada pertengahan tahun 2009. Perekonomian nasional juga menunjukan sinyal pemulihan yang antara lain direfleksikan pada meningkatnya IHSG, ekspor, dan relatif stabilnya nilai tukar rupiah.

Untuk mencapai pemulihan ekonomi nasional, Pemerintah terus berupaya meningkatkan pertumbuhan dan menjaga stabilitas ekonomi. Peningkatan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2010 diupayakan melalui peningkatan investasi dan ekspor, menjaga konsumsi masyarakat, serta meningkatkan efisiensi pengeluaran Pemerintah. Selain itu, peran UMKM dan produktivitas tenaga kerja terus ditingkatkan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi

yang berkualitas. Sementara untuk mencapai stabilitas ekonomi dilakukan dengan menjaga stabilitas harga, mengamankan pasokan bahan pokok, meningkatkan ketahanan sektor keuangan, investasi dan industri manufaktur, serta pemberdayaan UMKM dan koperasi. Dalam upaya mencapai pemulihan ekonomi tersebut, berbagai tantangan dan permasalahan pada tahun 2010 masih perlu diwaspadai dan diantisipasi. Tantangan-tantangan tersebut antara lain: dari sisi eksternal terutama adalah meningkatnya persaingan di pasar ekspor, hambatan nontarif di negara tujuan ekspor, dan harga minyak, serta terbatasnya investasi dari negara-negara maju. Sementara tantangan dari sisi internal antara lain masih tingginya konversi lahan pertanian dan kegiatan pembalakan liar (illegal loging) sehingga mengancam tingkat produksi pertanian dan mengakibatkan menurunnya potensi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sektor kehutanan. Tantangan lainnya adalah belum optimalnya pengintegrasian harmonisasi dan simplikasi berbagai peraturan yang berkaitan dengan investasi dan usaha di pusat dan daerah, antarsektor, dan antardaerah. Selain itu, belum maksimalnya fungsi intermediasi perbankan dan peran pasar modal dalam mendukung sektor riil, belum mamadainya infrastruktur, dan ketersediaan jumlah tenaga kerja yang berkualitas (pendidikan dan ketrampilan) di berbagai sektor juga menjadi hambatan yang perlu diupayakan pemecahannya.

Permasalahan di bidang tenaga kerja dewasa ini yaitu tuntutan perbaikan upah belum diimbangi dengan perbaikan produktivitas. Hal ini tentunya menjadi dilema bagi dunia usaha untuk mengembangkan usahanya. Untuk itu, Pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas dan produktivitas tenaga kerja melalui pendidikan dan pelatihan kerja berbasis kompetensi yang diharapkan mampu meningkatan daya saing tenaga kerja dan kinerja industri nasional. Selain itu, Pemerintah juga melakukan langkah-langkah sebagai berikut: (1) meningkatkan daya tarik investasi, dengan melakukan diversifikasi kelompok usaha (primer, sekunder, dan tersier) dan upaya penyebaran investasi ke luar Jawa; (2) menguatkan daya saing ekspor; (3) merevitalisasi industri manufaktur, dengan menciptakan iklim dan fasilitasi bagi industri dalam bentuk peningkatan teknologi produksi, keterkaitan dalam mata rantai pertambahan nilai (untuk industri kecil dan menengah) sehingga mampu meningkatkan kualitas dan daya saing produk nasional guna memenuhi kebutuhan pasar domestik; dan (4) meningkatkan produktivitas di sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan. Sementara untuk menghadapi tantangan dalam menjaga stabilitas harga dan pengamanan kebutuhan bahan pokok diupayakan antara lain melalui peningkatan (1) produksi bahan pokok, penyempurnaan sistem distribusi dan infrastruktur, serta koordinasi kebijakan ekonomi makro dalam mengendalikan inflasi dan nilai tukar rupiah; (2) dukungan infrastruktur untuk memperkuat daya saing sektor riil di bidang sumber daya air, transportasi, energi, dan ketenagalistrikan.

Perbaikan atau pembenahan terhadap tantangan tersebut tentunya dapat mempercepat pemulihan ekonomi dan menciptakan industri dalam negeri lebih kompetitif sehingga ekspor dan investasi meningkat, dan inflasi dapat dijaga pada tingkat yang rendah. Dengan kondisi tersebut diperkirakan pertumbuhan ekonomi kembali meningkat dalam tahun 2010. Selain tantangan di atas, meningkatnya beban utang juga perlu dicermati. Utang telah menjadi salah satu instrumen APBN dalam membiayai pembangunan. Dalam pengelolaan utang, Pemerintah berupaya mengurangi porsi utang luar negeri karena mempunyai risiko yang lebih tinggi daripada utang dalam negeri. Hal tersebut tercermin pada menurunnya pembayaran utang jatuh tempo, dimana porsi utang luar negeri dari 68 persen pada tahun 2009 menjadi 55 persen pada tahun 2010. Adapun utang dalam negeri yang bersumber dari

penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), porsinya meningkat dari 32 persen pada tahun 2009 menjadi 45 persen pada tahun 2010. Hal ini sejalan dengan strategi Pemerintah untuk secara konsisten mengembangkan pasar obligasi nasional. Dengan berkembangnya pasar SBN di dalam negeri, maka Pemerintah akan lebih fleksibel dalam mencari alternatif sumber pembiayaan yang relatif murah dan berisiko lebih rendah sehingga secara tidak langsung akan menurunkan beban utang.

Penerbitan SBN juga dimaksudkan untuk: (1) mewujudkan kemandirian dalam pembiayaan APBN; (2) mendukung pengembangan pasar modal dengan memperluas basis investor melalui diversifikasi berbagai instrumen investasi bagi masyarakat; dan (3) membantu pengelolaan likuiditas pasar

misalnya melalui penerbitan instrumen pasar uang (SPN).

Selain menurunkan porsi utang luar negeri, Pemerintah secara bertahap berupaya menurunkan rasio utang terhadap PDB. Penurunan tersebut ditunjukkan oleh rasio utang per PDB dari 36 persen pada tahun 2006 menjadi 30 persen pada tahun 2010.

2.3.2 Sasaran Kebijakan Ekonomi Makro 2010

Sasaran kebijakan ekonomi makro dalam tahun 2010 meliputi: (1) meningkatnya pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, (2) terjaga stabilitas ekonomi, (3) turunyan tingkat pengangguran dan kemiskinan, (4) berlanjutnya kebijakan subsidi, dan (5) meningkatnya pendanaan melalui tranfer ke daerah.

Dalam tahun 2010, pertumbuhan ekonomi diperkirakan sebesar 5,5 persen yang didukung oleh meningkatnya investasi dan ekspor non-migas serta stimulus fiskal untuk menggerakan semua sektor produksi terutama industri dan pertanian. Selain itu Pemerintah terus berusaha menjaga tingkat konsumsi antara lain melalui terkendalinya laju inflasi dan pemberian subsidi energi (listrik dan BBM). Sementara itu stabilitas ekonomi diupayakan melalui pengendalian laju inflasi dan volatilitas nilai tukar rupiah. Melalui pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan stabilitas ekonomi yang terjaga, tingkat pengangguran dan kemiskinan diharapkan akan menurun.

2.3.2.1 Pertumbuhan Ekonomi

Pemerintah telah menargetkan sasaran pertumbuhan ekonomi di tahun 2010 sebesar 5,5 persen (lihat Grafik II.38). Sasaran tersebut merupakan bagian dari rencana program pembangunan jangka menengah untuk mengurangi jumlah kemiskinan dan pengangguran serta meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Hal tersebut sejalan dengan arah kebijakan ekonomi yang akan ditempuh di tahun 2010 yaitu pemulihan ekonomi melalui pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Penguatan ekonomi diupayakan melalui peningkatan investasi, konsumsi rumah tangga, efektivitas konsumsi Pemerintah, dan ekspor, serta stimulus fiskal untuk menggerakkan semua sektor

36 35.8 33 32 30 27 28 29 30 31 32 33 34 35 3637 2006 2007 2008 2009* 2010* GRAFIK II.37 RASIO UTANG TERHADAP GDP

produksi, terutama industri dan pertanian. Untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, kebijakan diarahkan untuk menggerakkan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), peningkatan produktivitas tenaga kerja, dan berbagai program penanggulangan kemiskinan. Dalam pelaksanaannya, strategi untuk mencapai sasaran pertumbuhan ekonomi akan dilakukan dengan meningkatkan koordinasi yang lebih baik antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil untuk mendorong peranan masyarakat dalam pembangunan ekonomi.

Sumber-sumber Pertumbuhan Ekonomi Komponen Pengeluaran

Dari sisi komponen pengeluaran (lihat Tabel II.7), meningkatnya pertumbuhan ekonomi pada tahun 2010 diupayakan melalui pencapaian sasaran pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan Pemerintah, investasi, serta perdagangan

internasional

Peningkatan Daya Beli Masyarakat

Peranan konsumsi rumah tangga dalam mendorong pertumbuhan ekonomi cukup besar. Hal ini terkait dengan sumbangannya yang mendominasi angka PDB pengeluaran. Dengan memperhatikan berbagai tantangan dan peluang yang mungkin terjadi dalam

tahun 2010 serta terjaganya stabilitas ekonomi, Pemerintah mentargetkan sasaran komponen konsumsi masyarakat tumbuh 5,3 persen. Upaya pencapaian sasaran ini akan dilakukan melalui langkah-langkah untuk menjamin peningkatan daya beli masyarakat dan stabilitas makro ekonomi antara lain terkendalinya laju inflasi, nilai tukar rupiah, dan rendahnya suku bunga perbankan sehingga pendapatan riil masyarakat akan meningkat (lihat Grafik