PERKEMBANGAN EKONOMI DAN POKOK-POKOK KEBIJAKAN FISKAL APBN 2010
GRAFIK II.26 BALTIC DRY INDEX
2.2.2.2 Perekonomian Nasional 2009
Memasuki tahun 2009, berbagai perubahan dalam perekonomian dunia mulai membawa dampak pada perekonomian domestik. Dalam
asumsi APBN 2009, pertumbuhan ekonomi domestik semula diperkirakan mencapai 6,0 persen, melambat dibandingkan pertumbuhan tahun 2008 yang sebesar 6,1 persen. Namun, seiring dengan melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia, perkiraan pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2009 mengalami koreksi menjadi 4,5 persen dalam Dokumen Stimulus. 5.7% 5.5% 6.3% 6.1% 4.3% 0% 1% 2% 3% 4% 5% 6% 7% 2005 2006 2007 2008 2009* Grafik II.27
Pertumbuhan PDB tahun 2005 - 2009 (y-o-y)
Sumbe r: Depkeu
Barang
dan Jasa Barang
2005 7,7 7,5 2006 9,2 9,3 2007 7,2 6,6 2008 2,9 3,2 2009* -12,2 -11,5 pertumbuhan (%,yoy )
Sumber: WEO, IMF, Juli 2009 Cat: *) proyeksi
TABEL II.5 PERTUMBUHAN VOLUME PERDAGANGAN TAHUN 2005-2009
Dengan melihat kondisi terkini, proyeksi pertumbuhan ekonomi kembali disesuaikan menjadi 4,3 persen dalam RAPBN-P 2009. Pada triwulan III tahun 2009, pertumbuhan PDB mencapai 4,2 persen, menurun dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 6,3 persen.
Sumber-sumber pertumbuhan ekonomi dalam triwulan III tahun 2009 meliputi konsumsi rumah tangga (4,7 persen), konsumsi Pemerintah (10,2 persen), investasi (4,0 persen), serta ekspor dan impor (minus 8,2 persen dan minus 18,3 persen). Laju pertumbuhan tertinggi bersumber dari konsumsi Pemerintah sebesar 10,2 persen yang jauh meningkat dibandingkan triwulan III tahun sebelumnya sebesar 14,1 persen. Penurunan ini terkait dengan penyerapan anggaran sudah dimulai sejak awal tahun,
sedangkan tahun sebelumnya dimulai setelah triwulan I. Sementara itu, konsumsi masyarakat tumbuh sebesar 4,7 persen, lebih rendah dibanding periode yang sama tahun 2008 yang mencapai 5,3 persen. Menurunnya konsumsi masyarakat tersebut karena melemahnya daya beli masyarakat akibat terjadinya krisis.
Laju pertumbuhan investasi triwulan III tahun 2009 mencapai 4,0 persen, jauh lebih rendah dibanding periode yang sama tahun
sebelumnya yang tumbuh sebesar 12,2 persen. Dari sisi perdagangan internasional, tekanan krisis global terhadap produk domestik mengakibatkan kontraksi yang tajam pada kinerja ekspor-impor Indonesia. Turunnya harga minyak dan volume perdagangan dunia menjadi faktor penyebab negatifnya pertumbuhan ekspor dan impor. Ekspor barang dan jasa tumbuh sebesar minus 8,2 persen sedangkan impor minus 18,3 persen.
Perekonomian Indonesia diperkirakan mulai pulih pada akhir tahun 2009. Dengan memperhatikan perkembangan dalam triwulan III dan perkiraan kedepan laju pertumbuhan PDB tahun 2009 diperkirakan mencapai 4,3 persen. Perkiraan realisasi tersebut didukung oleh sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yaitu konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh 5,1 persen, konsumsi Pemerintah 12,9 persen, investasi 3,7 persen, dan ekspor-impor tumbuh minus 16,1 persen dan minus 18,5 persen.
Konsumsi rumah tangga diperkirakan mengalami peningkatan dibandingkan perkiraan dalam Dokumen Stimulus yaitu dari 4,0 persen menjadi 5,8 persen. Peningkatan tersebut didorong oleh meningkatnya daya beli masyarakat terkait dengan terkendalinya laju inflasi. Selain itu, pencairan berbagai bantuan sosial Pemerintah dan penyelenggaraan Pemilu juga mendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Adapun konsumsi Pemerintah diperkirakan mencapai 12,9 persen, lebih tinggi bila dibandingkan Dokumen Stimulus sebesar 10,0 persen. Lebih tingginya pengeluaran Pemerintah tersebut antara lain didorong oleh bertambahnya belanja stimulus fiskal untuk infrastruktur.
Investasi dalam tahun 2009 diperkirakan tumbuh sebesar 3,7 persen lebih rendah dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai 11,7 persen. Relatif rendahnya perkiraan ini ditunjukkan oleh penurunan beberapa indikator, yaitu realisasi PMDN, impor barang modal, konsumsi semen, dan kredit perbankan. Namun bila dibandingkan dengan
-30% -20% -10% 0% 10% 20% 30% Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 2007 2008 2009 GRAFIK II.28
SUMBER PERTUMBUHAN PDB BERDASARKAN PENGGUNAAN
Kons. RT Kons. Pem PMTB Ekspor Impor Sumber: BPS
target dalam Dokumen Stimulus, perkiraan realisasi investasi dalam tahun 2009 masih lebih rendah. Hal ini disebabkan pemulihan kegiatan ekonomi diperkirakan lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
Dari sisi perdagangan, laju pertumbuhan ekspor barang dan jasa diperkirakan mengalami penurunan tajam, yaitu dari 0,0 persen dalam Dokumen Stimulus menjadi minus 13,9 persen. Penurunan permintaan dari China, Jepang, dan Amerika Serikat sebagai negara utama tujuan ekspor, relatif cukup besar dalam memicu penurunan pertumbuhan ekspor. Sejalan dengan menurunnya kinerja ekspor dan kegiatan ekonomi, pertumbuhan impor diperkirakan juga mengalami penurunan menjadi minus 8,5 persen atau lebih rendah dari perkiraan dalam Dokumen Stimulus sebesar minus 2,2 persen.
Dari sisi sektoral, pertumbuhan tertinggi pada triwulan III tahun 2009 dicapai oleh sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 18,2 persen. Pertumbuhan sektor tersebut relatif lebih stabil dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 18,3 persen. Pertumbuhan terendah terjadi pada sektor perdagangan, hotel dan restoran yang tumbuh minus 0,6 persen. Dalam periode tersebut sektor pertanian tumbuh sebesar 2,7 persen, melambat bila dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 3,4 persen. Melambatnya pertumbuhan ini terutama disebabkan oleh menurunnya pertumbuhan subsektor tanaman bahan makanan dan perkebunan.
Sektor yang dominan dalam perekonomian nasional yaitu sektor industri manufaktur tumbuh melambat sebesar 1,3 persen dari 4,3 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Hal itu seiring dengan menurunnya kegiatan industri ekspor sebagai akibat dari melemahnya permintaan dari negara-negara maju. Sektor listrik, gas, dan air bersih juga mengalami peningkatan yaitu dari 10,4 persen pada triwulan III tahun 2008 menjadi sebesar 14,6 persen. Meningkatnya pertumbuhan sektor ini antara lain disebabkan oleh naiknya subsektor gas kota.
Hingga akhir tahun 2009 beberapa sektor diperkirakan masih mengalami perlambatan pertumbuhan dibandingkan dengan perkiraan dalam Dokumen Stimulus. Sektor-sektor yang mengalami perkiraan penurunan pertumbuhan, antara lain sektor pertambangan dan galian naik dari 1,1 persen menjadi 3,4 persen, sektor industri turun dari 2,5 persen menjadi 1,8 persen, sektor perdagangan, hotel, dan restoran turun dari 5,8 persen menjadi 0,1 persen, dan sektor jasa naik dari 5,2 persen menjadi 6,3 persen. Sedangkan beberapa sektor lainnya mengalami peningkatan seperti sektor pertanian naik dari 2,8 persen menjadi 3,4 persen, sektor listrik, gas dan air bersih naik dari 7,0 persen menjadi 13,6 persen, sektor bangunan naik dari 6,0 persen menjadi 7,4 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi naik dari 12,0 persen menjadi 17,2 persen, dan sektor keuangan naik dari 5,0 persen menjadi 5,3 persen. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2009 diperkirakan didukung oleh sektor-sektor yang menyerap tenaga kerja, antara lain sektor pertanian, sektor industri pengolahan, dan sektor lainnya. Pada semester pertama 2009, keadaan ketenagakerjaan di Indonesia pada umumnya masih normal. Krisis ekonomi global yang terjadi pada awal tahun 2009 tidak banyak pengaruhnya terhadap pasar tenaga kerja di Indonesia. Hal ini juga tidak terlepas dari meningkatnya aktivitas ekonomi menjelang pemilu legislatif yang pada gilirannya dapat mempengaruhi penyerapan tenaga kerja. Jika dibandingkan dengan keadaan tahun sebelumnya jumlah penduduk yang bekerja pada Februari 2009 meningkat cukup signifikan, dari 102,05 juta pada Februari 2008 dan 102,55 juta orang pada Agustus 2008 menjadi
104,49 juta pada Februari 2009. Sejalan dengan peningkatan lapangan kerja ini, tingkat pengangguran mengalami penurunan dari 8,46 persen dan 8,39 persen pada Februari dan Agustus 2008 menjadi 8,14 persen pada Februari 2009. Dengan semakin membaiknya perekonomian dan semakin kondusifkan kinerja ekonomi domestik, kondisi ketenagakerjaan yang semakin membaik ini diharapkan akan tetap berlangsung sampai semester kedua tahun 2009 sehingga tingkat pengangguran dapat ditekan lebih rendah lagi.
Di samping masalah ketenagakerjaan, pada tahun 2009 upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin masih menjadi agenda utama pembangunan, terutama dengan tejadinya krisis finansial global yang berdampak pada sektor riil. Kemiskinan merupakan permasalahan yang bersifat multisektoral, oleh karena itu penurunan angka kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin perlu dilaksanakan melalui berbagai program pembangunan secara sektoral dan secara lintas sektor. Dalam tahun 2009 Pemerintah tetap melanjutkan program-program yang telah dilaksanakan pada tahun 2008 dalam rangka menanggulangi masalah kemiskinan. Program ini dikelompokkan menjadi tiga kluster yaitu: (1) kluster yang berisi program-program yang memberikan perlindungan sosial dalam rangka meningkatkan akses masyarakat miskin kepada kebutuhan dasar, (2) kluster yang berisi program-program pemberdayaan bagi masyarakat miskin, dan (3) program-program perkuatan usaha mikro dan kecil. Pada triwulan I 2009, beberapa kebijakan Pemerintah telah membuahkan hasil. Hal ini terlihat dari menurunnya angka kemiskinan dengan cukup drastis dari 34,96 juta orang (15,42 persen) pada Maret 2008 menjadi 32,53 juta orang (14,15 persen) pada Juli 2009. Bahkan pada akhir 2009, tingkat kemiskinan diperkirakan berada di bawah 14 persen.
Pada paruh pertama tahun 2009, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berfluktuasi dengan kecenderungan yang menguat. Rata-rata nilai tukar rupiah pada periode tersebut sebesar Rp11.082 per dolar AS, atau terdepresiasi 19,7 persen terhadap periode yang sama tahun sebelumnya. Rata-rata tertinggi nilai tukar rupiah terjadi pada bulan Februari 2009 sebesar Rp11.853 per dolar AS, sedangkan rata-rata terendah terjadi pada bulan September 2009 sebesar Rp9.901 per dolar AS. Terdepresiasinya rupiah pada bulan Februari 2009 lebih disebabkan oleh meningkatnya arus modal keluar portofolio asing antara lain terkait dengan meningkatnya kewajiban pembayaran utang luar negeri swasta.
Kecenderungan penguatan nilai tukar rupiah dalam beberapa bulan terakhir tersebut disebabkan oleh beberapa faktor baik internal maupun eksternal. Faktor eksternal antara lain berupa masuknya kembali investasi asing di pasar domestik sejalan dengan menguatnya optimisme terhadap segera pulihnya perekonomian global. Kondisi ini merupakan hasil dari beberapa kebijakan penanganan krisis diantaranya kemajuan penanganan krisis oleh negara G-20 yang memberikan dampak positif terhadap perkembangan nilai tukar. Selain itu, meningkatnya cadangan devisa Indonesia dan adanya dukungan kerjasama antar bank sentral melalui Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) juga memperkuat nilai tukar rupiah. Sementara itu dari dalam negeri, terjaganya kondisi sosial politik di tengah pelaksanaan Pemilu Legislatif telah memberikan sentimen yang positif terhadap perkembangan nilai tukar rupiah.
Pulihnya perekonomian global diperkirakan mulai terjadi pada semester II tahun 2009 sebagai dampak positif dari stimulus fiskal global yang diluncurkan berbagai negara, realisasi rencana tindak G20 dalam meregulasi sektor keuangan, dan penyelesaian aset bermasalah (toxic
keuangan pada gilirannya akan mengembalikan kepercayaan pasar dan meningkatkan likuiditas di sektor keuangan. Dengan meningkatnya likuiditas tersebut diharapkan terjadi aliran modal ke negara berkembang. Selain itu, membaiknya perekonomian global akan mendorong permintaan ekspor dari negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Dengan meningkatnya investasi dan ekspor diharapkan cadangan devisa akan semakin meningkat, sehingga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi akan mengalami apresiasi. Dengan perkembangan tersebut, rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang tahun 2009 diperkirakan mencapai Rp10.500 per dolar AS.
Sementara itu, laju inflasi menunjukkan kecenderungan yang menurun pada tahun 2009. Dalam sembilan bulan pertama tahun 2009 telah terjadi dua kali deflasi yaitu pada bulan Januari sebesar 0,07 persen dan bulan April sebesar 0,31 persen, sedangkan pada bulan-bulan lainnya mengalami inflasi pada level yang cukup rendah. Inflasi tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya dan juga berada jauh di bawah pola historisnya. Perkembangan tersebut menyebabkan laju inflasi kumulatif selama bulan Januari-September 2009 menjadi 2,28 persen (ytd) dan inflasi tahunan pada bulan Juni 2009 sebesar 2,83 persen (yoy), jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang masing-masing mencapai 10,47 persen (ytd) dan 12,15 persen (yoy).
Rendahnya laju inflasi pada sembilan bulan tahun 2009 disebabkan oleh penurunan tekanan yang terjadi baik pada sisi fundamental maupun non-fundamental. Dari sisi fundamental, inflasi inti mengalami penurunan yang disebabkan oleh membaiknya ekspektasi inflasi yang didukung oleh terjaganya pasokan dan distribusi kebutuhan pokok dan penurunan harga BBM. Meredanya tekanan eksternal sejalan dengan penguatan rupiah di tengah permintaan domestik yang masih lemah merupakan faktor utama yang mendorong penurunan tekanan inflasi inti. Pada September 2009, laju inflasi inti tercatat sebesar 4,86 persen (yoy) dengan inflasi kumulatif mencapai 3,46 persen (ytd), jauh lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2008.
Dari sisi non-fundamental, menurunnya harga-harga komoditi internasional serta terjaganya pasokan bahan kebutuhan pokok di dalam negeri menyebabkan inflasi volatile food (komponen harga yang bergejolak) relatif rendah. Dalam lima bulan terakhir komponen inflasi volatile food relatif stabil. Pada
Septem-ber 2009, inflasi komponen ini tercatat sebesar 4,98 persen (yoy) dengan inflasi kumulatif mencapai 4,67 persen (ytd). Sejalan dengan penurunan volatile food, komponen
admin-istered prices (komponen harga yang diatur
Pemerintah) juga mengalami penurunan harga. Dampak langsung maupun tidak langsung dari penurunan harga BBM awal tahun 2009 menyebabkan tekanan inflasi pada komponen administered prices menurun sangat cepat, bahkan menyebabkan deflasi
pada empat bulan terakhir tahun 2009. Sampai September 2009, inflasi kumulatif komponen
administered prices tercatat deflasi sebesar 3,93 persen (ytd) dan inflasi tahunan tercatat
deflasi sebesar 5,73 persen (yoy).
3.46% -3.93% 4.67% 4.86% -5.73% 4.98% -8.00% -6.00% -4.00% -2.00% 0.00% 2.00% 4.00% 6.00%
Core/Inti Administered price Volatile Food
Sumber: BPS
GRAFIK II.29
INFLASI MENURUT KOMPONEN, JUNI 2009
Berdasarkan kelompok pengeluaran, secara kumulatif sampai dengan September 2009 kelompok transport mengalami deflasi sebesar 3,24 persen. Sedangkan pengeluaran lainnya mengalami inflasi. Sementara itu, secara tahunan pada bulan September 2009, seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi kecuali kelompok transport. Kelompok transport mengalami deflasi sebesar 6,09 persen (yoy).
Deflasi kelompok transpor ini terkait dengan kebijakan Pemerintah yang menurunkan harga BBM bersubsidi pada awal tahun 2009 dan relatif minimalnya kebijakan Pemerintah untuk barang-barang yang harganya diatur Pemerintah.
Menurunnya tekanan inflasi pada periode Januari–September 2009 didukung oleh berbagai faktor baik dari luar negeri maupun dalam negeri. Dari luar negeri, kecenderungan penurunan harga komoditi di pasar internasional terutama minyak yang terjadi sejak triwulan IV 2008 hingga triwulan I
2009 telah mendorong penurunan laju inflasi. Penurunan harga minyak dunia khususnya pada akhir tahun 2008 dan awal tahun 2009 telah memberikan ruang gerak bagi Pemerintah untuk menurunkan harga BBM bersubsidi (solar dan premium). Total penurunan premium dan solar, termasuk dua kali penurunan sebelumnya pada tanggal 1 dan 15 Desember 2008, masing-masing sebesar 25 persen dan 18,2 persen. Dari dalam negeri, tersedianya pasokan bahan makanan dan relatif lancarnya distribusi barang dan jasa telah berhasil menjaga stabilitas harga. Disamping itu, lancarnya Pemilu Legislatif yang dilaksanakan bulan April 2009 juga telah memicu sentimen positif terhadap laju inflasi.
Dalam paruh kedua tahun 2009, dari sisi domestik pergerakan harga secara umum diperkirakan relatif stabil. Tekanan inflasi kemungkinan akan terjadi pada bulan Juli tahun 2009 terkait pelaksanaan Pemilu Presiden. Inflasi musiman seperti pembayaran uang sekolah dan meningkatnya kebutuhan pokok masyarakat terkait dengan adanya hari raya keagamaan (Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru) diperkirakan memberi tekanan pada inflasi. Sementara itu, stabilnya nilai tukar rupiah, terjaganya pasokan dan kelancaran arus distribusi barang, serta minimalnya dampak kebijakan administered prices diperkirakan mampu menghambat laju inflasi. Namun demikian perlu diwaspadai adanya kecenderungan meningkatnya harga minyak dan komoditi lainnya di pasar global yang dapat memberikan tekanan pada inflasi domestik. Dengan perkembangan tersebut, laju inflasi dalam tahun 2009 diperkirakan sekitar 4,0 persen.
Melemahnya perekonomian domestik serta tren penurunan inflasi yang terjadi sejak akhir tahun 2008 terus berlanjut sepanjang awal tahun 2009. Menurunnya tekanan inflasi dan melemahnya permintaan domestik tersebut telah memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan BI rate lebih lanjut dalam rangka mengerakkan kegiatan ekonomi. Dari bulan Desember 2008 sampai bulan Maret 2009 Bank Indonesia melakukan penurunan BI
rate masing-masing sebesar 50 bps, hal ini dilakukan sebagai upaya Bank Indonesia untuk
melonggarkan likuiditas domestik. Penurunan BI rate sebesar 150 bps tersebut berlanjut di bulan April sampai bulan Juli 2009 masing-masing sebesar 25 bps. Dengan penurunan tersebut, BI rate pada September 2009 berada pada posisi 6,50 persen.
4.58% 5.80% 1.15% 3.61% 3.28% 3.39% -3.24% 5.21% 8.37% 2.16% 6.28% 4.42% 4.23% -6.09% -10% -5% 0% 5% 10% Bahan Makanan Makanan Jadi, Minuman, Rokok Perumahan, Listrik, Air, Gas Sandang Kesehatan Pendidikan, Rekreasi, dan OR Transpor, Kom & Js Keu
GRAFIK II.30
INFLASI MENURUT KELOMPOK PENGELUARAN SEPTEMBER 2009
y-o-y y-t-d
Penurunan BI rate yang dilakukan Bank Indonesia sejak bulan Desember 2008, ditransmisikan di pasar uang melalui penurunan suku bunga deposito. Deposito 1 bulan sebagai porsi terbesar dari pangsa deposito mengalami penurunan suku bunga dari 10,75 persen di bulan Desember 2008 menjadi 7,43 persen pada bulan September 2009, sementara suku bunga deposito 3 bulan turun dari 11,16 persen menjadi 8,35 persen pada periode yang sama. Penurunan suku bunga deposito yang terjadi sejak bulan Desember 2008 tersebut mulai berdampak pada penurunan posisi dana pihak ketiga (DPK), dari Rp 1,753 triliun di bulan Desember 2008 menjadi Rp 1,746 triliun di bulan Januari 2009. Selanjutnya pada bulan Pebruari dan Maret 2009, DPK mengalami peningkatan hingga masing-masing mencapai Rp 1.767 triliun dan Rp 1.786 triliun. Memasuki bulan April 2009 posisi DPK sempat mengalami penurunan menjadi Rp 1.771,1 triliun yang disebabkan menurunnya posisi dana valas dalam bentuk deposito, tabungan maupun giro seiring dengan menguatnya nilai tukar, namun pada bulan bulan September 2009 DPK kembali mengalami peningkatan menjadi sebesar Rp 1.857 triliun.
Meskipun penurunan BI rate telah ditransmisikan di pasar uang melalui penurunan suku bunga deposito, penurunan BI rate tersebut tidak langsung direspon perbankan dengan penurunan suku bunga kredit. Hal ini karena banyaknya variabel yang mempengaruhi penurunan suku bunga kredit seperti biaya pendanaan, keuntungan dan faktor risiko. Suku bunga kredit pada awal tahun 2009 relatif tidak mengalami perubahan dibanding dengan posisi pada akhir tahun 2008. Sementara di bulan berikutnya, sejak bulan Pebruari sampai Mei 2009 suku bunga KMK dan KI mulai mengalami penurunan walaupun tidak sebesar penurunan yang terjadi pada suku bunga deposito. Suku bunga KMK dan KI pada bulan Mei 2009 masing-masing sebesar 14,68 persen dan 13,94 persen atau turun sebesar 0,53 persen dan 0,60 persen dibanding dengan keadaan bulan Januari 2009. Sementara suku bunga KK sejak awal tahun 2009 belum mengalami penurunan, bahkan dibandingkan dengan posisi Januari 2009, suku bunga KK di bulan September 2009 mengalami kenaikan 16 basis poin dari 16,46 persen menjadi 16,62 persen. Walapun suku bunga kredit masih bertahan pada level yang tinggi, posisi kredit yang disalurkan perbankan masih mengalami peningkatan. Pada bulan September 2009 jumlah kredit yang disalurkan mencapai Rp 1,351,3 triliun atau terjadi peningkatan dibandingkan dengan penyaluran pada bulan Januari 2009 sebesar Rp 1,325 triliun.
Seiring dengan turunnya BI rate, suku bunga SBI 3 bulan turun mengikuti pola penurunan yang sama. Pada bulan Januari 2009 rata-rata SBI 3 bulan berada pada level 10,3 persen dan terus menurun menjadi rata-rata 6,60 persen di bulan September 2009. Walaupun SBI 3 bulan terus mengalami penurunan, rata-rata SBI 3 bulan sampai dengan September 2009 sebesar 7,78 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata SBI 3 bulan pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 8,29 persen. Kebijakan penurunan suku bunga yang dilakukan oleh Bank Indonesia tersebut dapat dijadikan sinyal bagi penurunan suku bunga simpanan dan suku bunga kredit. Sepanjang tahun 2009, SBI 3 bulan diperkirakan akan lebih rendah dari rata-rata SBI 3 bulan pada tahun sebelumnya, namun perlu dicermati
-5% 0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35% 40% 0 200 400 600 800 1,000 1,200 1,400 1,600 1,800 2,000 2005 2006 2007 2008 2009 Tr il iu n Rp GRAFIK II.31
PERKEMBANGAN DPK DAN KREDIT PERBANKAN
DPK Kredit Pert. DPK Pert. Kredit Sumber: BI
kecenderungan peningkatan harga minyak mentah dan beberapa komoditi pangan dipasar global, yang diperkirakan akan memberi tekanan pada inflasi dan menahan lebih lanjut akselerasi penurunan suku bunga SBI 3 bulan. Dengan memperhatikan faktor tersebut sampai akhir tahun 2009, rata-rata suku bunga SBI 3 bulan diperkirakan mencapai 7,5 persen lebih rendah dibandingkan rata-rata SBI 3 bulan tahun 2008 sebesar 9,3 persen. Sejalan dengan kecenderungan penurunan inflasi yang diperkirakan masih terus berlanjut sepanjang tahun 2010, serta perkiraan terjadinya penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika karena fundamental dalam negeri yang kuat, maka diperkirakan rata-rata suku bunga SBI 3 bulan sepanjang tahun 2010 sebesar 6,5 persen atau lebih rendah dibanding rata-rata suku bunga SBI 3 bulan tahun 2009 sebesar 7,5 persen.
Setelah mengalami fase penurunan yang tajam dan fase dasar di tahun 2008, kinerja IHSG mulai menunjukkan perbaikan. Pada akhir September 2009, IHSG telah menunjukkan penguatan sebesar 82,1 persen dibandingkan dengan akhir tahun 2008. Sedangkan nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp1.944 miliar atau meningkat 80,6 persen dibandingkan akhir tahun 2008. Sejak awal Maret 2009, indeks terus bergerak naik dan kembali menembus level 2400 tepatnya pada posisi 2.468,9 (24 September 2009). Kinerja pasar modal domestik yang terus membaik ini dikarenakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I tahun 2009 masih bertumbuh positif sebesar 4,4 persen. Hal ini menjadi pertimbangan beberapa lembaga sekuritas dunia menaikkan rating bursa Indonesia ke level yang lebih baik sehingga mendorong pemodal untuk berinvestasi ke pasar modal domestik. Pemilu yang lancar, rendahnya inflasi yang mendorong penurunan BI rate, dan ekspektasi akan pulihnya perekonomian global diharapkan dapat mendorong indeks untuk terus bergerak positif dan mencapai posisi yang lebih baik di akhir tahun 2009.
Semakin terintegrasinya perekonomian global, menjadikan pasar keuangan Indonesia juga dipengaruhi sentimen di pasar keuangan internasional. Memasuki triwulan II tahun 2009 kondisi perekonomian berangsur membaik
yang ditandai dengan semakin stabilnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sehingga memberikan keyakinan investor untuk menanamkan dananya di Surat Utang Negara. Hal ini juga terlihat pada kepemilikan asing di SUN per 9 Juni 2009 yang mencapai Rp93,23 triliun atau tertinggi sepanjang 2009. Sampai bulan September 2009 terjadi net foreign
buy-ing senilai Rp5,62 triliun. Kenaikan
kepemilikan asing di SUN disebabkan oleh
penilaian pasar terhadap prospek ekonomi jangka panjang Indonesia yang secara funda-mental cukup kuat. Di sisi lain, Indonesia juga merupakan salah satu dari sedikit negara di dunia yang masih mengalami pertumbuhan positif. Nilai tukar rupiah yang stabil dan cenderung menguat, menjadikan SUN rupiah menjadi menarik bagi investor asing. Penurunan BI rate juga menandakan penurunan ekspektasi tingkat inflasi sehingga diharapkan harga Surat Berharga Negara (SBN) akan meningkat.
Tingkat yield SUN dipasar sekunder juga cenderung membaik. Per akhir September 2009