• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerimaan Bagian Pemerintah atas Laba BUMN

Sumber lain penerimaan negara bukan pajak berasal dari penerimaan bagian Pemerintah atas laba (dividen) Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Menurut ketentuan dalam Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN, BUMN adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. Dalam perkembangannya, BUMN saat ini memegang 5 peranan sebagaimana diamanahkan dalam pasal 2 UU Nomor 19 tahun 2003, yakni (a) memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan penerimaan negara pada khususnya; (b) mengejar keuntungan; (c) menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak; (d) menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi; dan (e) turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah, koperasi, dan masyarakat.

Jumlah BUMN selama periode 2005-2008 terus mengalami perubahan, baik dari sisi bentuk perusahaan, maupun kelompok sektor usaha. Dari sisi bentuk perusahaan, BUMN dapat diklasifikasikan menjadi 3 bentuk, yaitu (a) perusahaan umum (perum); (b) perusahaan perseroan (persero); dan (c) perseroan terbatas (persero Tbk). Dari sisi kelompok sektor usaha, BUMN dapat diklasifikasikan menjadi 35 sektor usaha yang tersebar kedalam 5 kelompok, yaitu: (a) jasa keuangan dan perbankan; (b) jasa lainnya; (c) bidang usaha logistik dan pariwisata; (d) agro industri, pertanian, kehutanan, kertas, percetakan, dan penerbitan; serta (e) pertambangan, telekomunikasi, energi, dan industri strategis. Sesuai dengan amanah

pasal 93 UU Nomor 19 tahun 2003, mulai tahun 2005 Pemerintah melakukan kebijakan untuk mengubah BUMN yang berbentuk perjan menjadi BUMN perum dan persero. Selama periode 2005-2007, jumlah BUMN yang dilaporkan adalah sebanyak 139 BUMN, dan pada tahun 2008 berjumlah 142 BUMN karena terjadi penambahan 3 BUMN baru yaitu PT Dirgantara Indonesia (persero) yang sebelumnya dikelola oleh PT Perusahaan Pengelola Asset (PPA) (persero), PT Askrindo (persero) yang sebelumnya mayoritas sahamnya dikuasai oleh Bank Indonesia, dan Perum LKBN Antara yang sebelumnya merupakan lembaga penyiaran publik.

Selain mengelola kepemilikan saham pada sejumlah BUMN, Pemerintah melalui Kementerian Negara BUMN juga mengelola saham minoritas di sejumlah perusahaan. Kepemilikan saham minoritas merupakan kondisi dimana Pemerintah memiliki saham di bawah 51,0 persen terhadap total saham perusahaan. Selama periode 2005-2007, Pemerintah mempunyai kepemilikan saham minoritas pada 21 perusahaan, di tahun 2008 sebanyak 19 perusahaan, dan di tahun 2009 sebanyak 16 perusahaan. Saham minoritas Pemerintah di tahun 2009 antara lain tersebar di perusahaan yakni PT Indosat Tbk (14,3 persen), PT Bank Bukopin (18,2 persen), dan PT Freeport Indonesia Tbk (9,4 persen). Sesuai dengan UU Nomor 19 Tahun 2003 perusahaan-perusahaan tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai BUMN karena saham Pemerintah bersifat minoritas. Jumlah BUMN dalam masing-masing bentuk dan sektor dalam periode 2005 - 2009 dapat dilihat dalam Tabel III.16.

Selama periode 2005-2008, kinerja BUMN terus mengalami perkembangan, sebagaimana diindikasikan oleh kontinuitas peningkatan aset, laba bersih, belanja operasional (operational

expen-diture/opex), dan belanja modal (capital expenditure/capex). Selama periode

tersebut, total aset BUMN tumbuh rata-rata sebesar 10,6 persen, laba bersih tumbuh rata-rata sebesar 25,1 persen,

opex tumbuh rata-rata sebesar 288,5

persen, dan capex tumbuh rata-rata sebesar 50,4 persen. Dari sisi laba bersih,

pencapaian tertinggi terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar Rp82,4 triliun atau meningkat sebesar Rp10,9 triliun (15,3 persen) dibandingkan tahun sebelumnya. Dari total perolehan, laba bersih tersebut sebagian besar disumbang oleh PT Pertamina sebesar Rp30,2 triliun (47,3 persen) dan kelompok BUMN perbankan sebesar Rp13,2 triliun (16,0 persen), sedangkan sisanya sebesar 44,8 persen disumbang oleh BUMN sektor lainnya. Dalam tahun 2009, laba bersih seluruh BUMN diperkirakan sebesar Rp65,3 triliun, lebih rendah Rp17,1 triliun (20,8 persen) terhadap perolehan laba bersih tahun 2008. Penurunan perkiraan laba bersih tersebut terutama di sebabkan oleh belum kondusifnya kondisi perekonomian di tahun 2009, sebagai akibat dinamika variabel makro seperti harga minyak, kurs, pertumbuhan kredit perbankan, serta harga komoditi pertambangan, pertanian dan perkebunan. Tabel III.17 memperlihatkan kinerja BUMN selama periode 2005-2009.

Kinerja BUMN selama periode 2005-2008 mempunyai pengaruh yang signifikan di pasar modal. Total kapitalisasi pasar BUMN terbuka mengalami rata-rata pertumbuhan sebesar Uraian 2005 2006 2007 2008 2009

Perum 13 13 14 15 13

Persero 114 114 111 113 116 Persero Tbk 12 12 14 14 15 Jumlah BUMN 139 139 139 142 144 Jumlah Sektor BUMN 35 35 35 35 35 Kepemilikan Minoritas 21 21 21 19 16

Sumber: Kementerian Negara BUMN

TABEL III. 16 JUMLAH BUMN, 2005-2009

23,7 persen, dan rata-rata prosentase terhadap total kapitalisasi pasar sebesar 34,0 persen. Total kapitalisasi pasar 14 BUMN terbuka di tahun 2008 mencapai lebih dari sepertiga to-tal kapito-talisasi pasar, yaitu sebesar Rp354,9 triliun atau 33,0 persen. Sampai dengan April 2009, total kapitalisasi pasar 15 BUMN terbuka sebesar Rp373,7 triliun atau 31,9 persen terhadap total kapitalisasi pasar. Perkembangan kapitalisasi BUMN selama periode 2005-2009 dapat dilihat pada Grafik

III.26.

BUMN memiliki peranan yang cukup signifikan dalam APBN, sebagaimana ditunjukkan dengan terus meningkatnya kontribusi BUMN terhadap APBN. Kontribusi tersebut antara lain terdiri dari pembayaran pajak, penerimaan privatisasi, dan dividen. Selama periode 2005-2008, kontribusi BUMN tumbuh rata-rata sebesar 35,0 persen, dan memiiliki rata-rata kontribusi sebesar Rp92,9 triliun per tahun. Dari jumlah tersebut, porsi sebesar 75,3 persen berasal dari pajak BUMN, 1,5 persen berasal dari penerimaan privatisasi, dan 23,3 persen berasal dari dividen. Terus

meningkatnya jumlah perolehan laba BUMN dari tahun ke tahun menyebabkan kontribusi pajak BUMN menjadi sangat besar. Pajak BUMN selama kurun waktu 2005-2008 mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar Rp20,2 triliun (35,5 persen) per tahun. Pajak yang dibayar oleh BUMN terdiri dari pajak penghasilan (PPh) BUMN dan pajak lainnya. Dalam periode tersebut, rata-rata pertumbuhan PPh BUMN mencapai 35,0 persen dan pertumbuhan pajak lainnya sebesar 35,9 persen. Meskipun pada tahun 2005 dan 2008 tidak terdapat BUMN yang diprivatisasi, penerimaan dari privatisasi BUMN masih memberikan kontribusi rata-rata sebesar Rp1,4 triliun per tahun. Dalam tahun 2009, total kontribusi BUMN terhadap APBN diperkirakan sebesar Rp139,8 triliun, lebih tinggi Rp9,2 triliun atau 7,0 persen bila dibandingkan dengan tahun lalu. Hal tersebut terutama disebabkan perkiraan setoran pajak BUMN yang mengalami peningkatan sekitar Rp8,5 triliun (8,4 persen) dari tahun sebelumnya. Perkembangan kontribusi BUMN terhadap APBN secara lebih rinci dapat dilihat pada Grafik. III.27.

0 10 20 30 40 50 0 100 200 300 400 500 600 700 2005 2006 2007 2008 2009 s.d April % Rp tr ili u n

kapitalisasi pasar BUMN terbuka % terhadap total kapitalisasi pasar

GRAFIK III. 26

PERKEMBANGAN KAPITALISASI BUMN, 2005 - 2009

Sumber: Kementerian BUMN

(Rp triliun) PERKIRAAN 2005 2006 2007 2008 RKAP2009 Aset 1.365,8 1.506,2 1.736,9 1.845,9 2.040,3 Laba bersih 42,3 53,2 71,5 82,4 65,3 Opex 538,8 62,6 626,3 962,8 836,3 Capex 39,9 48,0 91,2 128,3 152,1

Sumber: Kementerian BUMN

TABEL III. 17

KINERJA KEUANGAN BUMN 2005 - 2009

40,9 57,6 79,9 101,5 110,0 12,8 21,4 23,2 29,1 29,2 0,0 2,4 3,0 0 0,6 0 20 40 60 80 100 120 140 160 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P (R p t ril iu n )

Privatisasi Dividen Pajak-pajak

GRAFIK III. 27

KONTRIBUSI BUMN TERHADAP APBN, 2005 - 2009

Dalam kurun waktu 2005-2008 dividen BUMN terus mengalami peningkatan rata-rata sebesar Rp5,4 triliun atau 35,1 persen per tahun. Penerimaan tertinggi dicapai pada tahun 2008 yaitu sebesar Rp29,1 triliun atau 9,1 persen terhadap total PNBP dengan komposisi sektor perbankan sebesar Rp4,5 triliun (15,5 persen) dan sektor nonperbankan sebesar Rp24,6 triliun (84,5 persen).

Dalam tahun 2009 dividen BUMN diperkirakan sebesar Rp28,6 triliun, yang terdiri dari dividen BUMN perbankan sebesar Rp2,6 triliun (9,1 persen) dan BUMN nonperbankan sebesar Rp26,0 triliun (90,9 persen). Perkiraan dividen ini lebih tinggi sebesar 11,9 persen dari rencana yang ditetapkan dalam Dokumen Stimulus 2009. Peningkatan jumlah dividen tersebut terutama disebabkan oleh penyesuaian pay-out ratio PT Pertamina dari 50 persen menjadi 60 persen, sehingga rencana dividen yang berasal dari PT Pertamina bertambah sebesar Rp2,7 triliun atau total menjadi Rp14,5 triliun. Selain itu, faktor lain yang mendukung peningkatan dividen tahun 2009 adalah pencapaian total laba bersih BUMN di tahun buku 2008 yang mencapai Rp82,4 triliun. Perkembangan dividen BUMN 2005 - 2009 dapat dilihat pada

Grafik III. 28.

Selama periode 2005-2008 PT Pertamina menjadi BUMN penyumbang dividen terbesar dengan rata-rata kontribusi tiap tahun sebesar 45,7 persen terhadap total dividen BUMN (Grafik III.29). Hal ini tidak terlepas dari kinerja PT Pertamina yang perolehan laba bersihnya terus meningkat setiap tahun. Selama periode tersebut, PT Pertamina membukukan laba bersih rata-rata sebesar Rp22,5 triliun per tahun. Pada tahun fiskal 2007, dividen PT Pertamina mencapai Rp11,1 triliun yang berasal dari dividen murni laba bersih tahun buku 2006 sebesar Rp9,7 triliun dan dividen interim sebesar Rp1,4 triliun. Pada

tahun buku 2007, PT Pertamina memperoleh laba bersih sebesar Rp24,5 triliun. Dengan perhitungan pay-out ratio sebesar 45,0 persen, setoran dividen di tahun fiskal 2008 tersebut mencapai Rp14,1 triliun, yang terdiri dari dividen murni sebesar Rp11,1 triliun dan dividen interim sebesar Rp3,0 triliun. Perolehan laba tertinggi PT Pertamina terjadi di tahun 2008 yaitu sebesar Rp30,2 triliun atau meningkat sebesar 23,3 persen bila dibandingkan dengan laba bersih tahun sebelumnya, yang disebabkan oleh windfall profit akibat lonjakan harga minyak pada kuartal II tahun 2008. Dalam tahun 2009 dividen PT Pertamina diperkirakan sebesar Rp14,5 triliun, lebih tinggi Rp0,4 triliun (2,8 persen) dari realisasi dividen tahun

9,0 20,3 19,8 24,6 26,6 3,8 1,2 3,4 4,5 2,6 8,7 10,1 10,8 9,1 13,3 0 3 6 9 12 15 0 5 10 15 20 25 30 35 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P (% ) (R p tr iliu n )

Pe rbankan Nonpe rbankan % thd total PNBP

GRAFIK III. 28

PERKEMBANGAN DIVIDEN BUMN, 2005 - 2009

Sumber: Departemen Keuangan

4,4 12,0 11,1 14,3 14,5 34,3 52,2 47,8 49,1 14,5 0 20 40 60 -2 2 6 10 14 18 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P (% ) (R p tr il iu n )

dividen PT Pertamina % thd total dividen BUMN GRAFIK III. 29

PERKEMBANGAN LABA DAN DIVIDEN PERTAMINA

sebelumnya. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh naiknya perolehan laba bersih PT Pertamina tahun 2008 yang mencapai Rp30,2 triliun.

Selain PT Pertamina, BUMN yang diperkirakan menyetor dividen terbesar dalam tahun 2009 antara lain adalah PT Telkom Tbk sebesar Rp3,0 triliun, PT Bank Mandiri Tbk sebesar Rp1,2 triliun, dan PT BRI Tbk sebesar Rp1,2 triliun. Perkiraan setoran dividen di tahun 2009 tersebut dipengaruhi oleh laba operasional yang diperoleh BUMN dalam tahun 2008. Beberapa BUMN dengan perolehan laba tertinggi tahun buku 2008 antara lain adalah PT Telkom Tbk sebesar Rp10,6 triliun, PT BRI Tbk sebesar Rp6,0 triliun, dan PT Bank Mandiri Tbk sebesar Rp5,3 triliun. Tabel III.18 memperlihatkan perkembangan beberapa BUMN utama pembayar dividen dalam tahun 2005-2009.

Pencapaian penerimaan dividen BUMN tersebut tak lepas dari kebijakan optimalisasi dividen BUMN yang ditempuh pemerintah dengan difokuskan pada beberapa hal sebagai berikut: (a) penyehatan perusahaan dengan mengoptimalkan investasi/capex; (b) optimalisasi dividen payout ratio dengan mempertimbangkan kondisi keuangan perusahaan, penugasan oleh Pemerintah, dan peraturan yang berlaku; (c) pelaksanaan au-dit oleh kantor akuntan publik (KAP) sesuai jadwal yang au-ditetapkan; (d) melanjutkan langkah-langkah restrukturisasi yang semakin terarah dan efektif terhadap orientasi dan fungsi BUMN tersebut yang meliputi restrukturisasi manajemen, organisasi, operasi, dan sistem prosedur; (e) memantapkan penerapan prinsip-prinsip good corporate governance (GCG), yaitu transparansi, akuntabilitas, keadilan, dan responsibilitas pada pendapatan pengelolaan BUMN, PSO maupun BUMN komersial; (f) melakukan sinergi antar-BUMN agar dapat meningkatkan daya saing dan memberikan multiplier effect kepada perekonomian Indone-sia, antara lain dengan menumbuhkembangkan resource base sectors yang memberikan nilai tambah; dan (g) upaya dividen interim dengan memperhatikan cash flow perusahaan. Selain pengaruh faktor internal tersebut, dividen BUMN juga sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti harga minyak, kurs, volume kredit perbankan, loan deposit ratio (LDR),

No BUMN 2005 2006 2007 2008 APBN-P2009 1 PT Pertamina 3,7 12,0 11,1 14,1 14,5 2 PT Telkom Tbk 1,6 2,8 3,1 4,2 3,0 3 PT BRI Tbk 1,1 1,1 1,2 1,4 1,2 4 PT Bank Mandiri Tbk 1,8 0,2 1,0 2,6 1,2 5 PT BNI Tbk 1,6 0,7 1,0 0,3 0,1 6 PT Semen Gresik Tbk 0,1 0,3 0,3 0,5 0,7 7 PT Perusahaan Gas Negara Tbk 0,1 0,3 0,5 0,4 0,2

8 PT Bukit Asam Tbk 0,1 0,2 0,1 0,2 0,6

9 PT Aneka Tambang Tbk 0,2 0,2 0,4 1,3 0,3 10 PT Pupuk Sriwijaya Tbk 0,1 0,1 0,1 0,4 0,5

Sumber: Kementerian BUMN

TABEL III. 18

PERKEMBANGAN PEMBAYAR DIVIDEN BEBERAPA BUMN, 2005-2009

serta harga komoditi pertambangan, pertanian dan perkebunan. ICP yang menembus level US$100/barel pada bulan Maret 2008 (US$103,1/barel) hingga mencapai titik tertinggi pada bulan Juli 2008 (US$134,9/barel) telah membawa windfall profit bagi BUMN sektor pertambangan khususnya PT Pertamina, yang total perolehan laba bersihnya lebih tinggi Rp4,8 triliun (18,9 persen) dari target laba bersih yang ditetapkan dalam RKAP 2008 sebesar Rp25,4 triliun. Kecenderungan menurunnya suku bunga kredit perbankan khususnya kredit investasi dan kredit konsumsi sampai dengan pertengahan tahun 2008 membuat volume kredit perbankan meningkat sebesar 3,0 persen selama periode Juli-Oktober 2008 dan LDR meningkat sebesar 10,7 persen pada kurun waktu Februari-Juli 2008. Dengan adanya peningkatan baik dari segi volume kredit maupun LDR, membuat total laba bersih yang dibukukan BUMN sektor perbankan selama tahun 2008 mencapai Rp13,6 triliun. Beberapa BUMN sektor perbankan yang memperoleh laba terbesar di tahun 2008 adalah PT BRI Tbk sebesar Rp5,9 triliun, PT Bank Mandiri Tbk sebesar Rp5,3 triliun, dan PT BNI Tbk sebesar Rp1,2 triliun.

Namun di sisi lain, dampak tekanan krisis ekonomi global yang terjadi sejak awal kuartal IV 2008 memiliki pengaruh negatif terhadap kinerja BUMN. Pelemahan ekonomi dunia selanjutnya berdampak pada pergesaran besaran asumsi makroekonomi selama tahun 2008 antara lain nilai tukar dan harga komoditi internasional terutama mineral. Nilai tukar ru-piah yang mulai menembus level Rp10.000/US$ pada akhir Oktober 2008, terus melemah hingga mencapai level terendah (Rp12.650/US$) pada akhir November 2008, telah berdampak pada berkurangnya perolehan laba BUMN di tahun 2008 sebagai akibat adanya selisih kurs yang mencapai Rp12 triliun. Beberapa BUMN yang mengalami kerugian terbesar akibat selisih kurs di tahun buku 2008 antara lain PT PLN, PT Pupuk Sriwijaya, PT Indosat Tbk, PT PGN Tbk dan PT Pupuk Kujang. Perolehan laba BUMN sektor pertambangan di tahun 2008 juga mengalami penurunan sebagai konsekuensi dari penurunan harga komoditi dunia. Harga tembaga terus mengalami penurunan sejak bulan Juli 2008 pada kisaran harga US$414,9/ton hingga Desember 2008 yang menyentuh harga US$131,6/ton. Komoditi emas juga terus terkoreksi ke bawah selama periode Juli-September 2008 (US$972,6/troy ons menjadi US$752,5/troy ons). Akibatnya, perolehan laba bersih PT Antam Tbk mengalami penurunan yang cukup tajam sebesar Rp3,8 triliun (73,3 persen) bila dibandingkan dengan laba bersih yang diperoleh pada tahun 2007.

Kondisi makroekonomi yang tidak kondusif dalam tahun 2009, akan menjadi tantangan besar bagi Pemerintah untuk tetap dapat menjaga kinerja BUMN tanpa mengurangi penerimaan dividen. Untuk BUMN sektor perbankan, antisipasi peningkatan non

perform-ing loans (NPL) menjadi komponen pengurang laba BUMN perbankan sehubungan dengan

cadangan umum Penyisihan Penghapusan Aset (PPA) atas aset produktif. Hal lain adalah Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/15/PBI/2008 tentang Peningkatan Capital Adequacy

Requirement (CAR) atau Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) yang juga

mengurangi laba BUMN perbankan. Terkait dengan hal tersebut, Pemerintah akan melakukan penyesuaian pay-out ratio terhadap beberapa BUMN perbankan yang membutuhkan tambahan capex untuk kegiatan investasi. Kebijakan penyesuaian pay-out

ratio BUMN perbankan tersebut akan dikompensasi melalui upaya penyaluran kredit dengan

tingkat suku bunga rendah dan pengurangan dana simpanan dalam bentuk SBI. Hal ini dimaksudkan untuk dapat mendorong pertumbuhan kredit di tengah pelemahan perekonomian.

Selain itu, langkah kebijakan yang akan ditempuh Pemerintah untuk mengoptimalkan penerimaan dari dividen BUMN di tahun 2009 adalah dengan menerapkan kebijakan

pay-out ratio 50-60 persen dengan beberapa pengecualian, yaitu (a) BUMN laba, namun masih

mempunyai akumulasi kerugian dari tahun sebelumnya; (b) BUMN laba, tidak akumulasi rugi, namun mengalami kesulitan cash flow; (c) BUMN sektor asuransi, terkait dengan pelaksanaan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) diamanatkan nirlaba atau keuntungan semata-mata untuk kepentingan peserta dalam bentuk peningkatan santunan, sehingga kebijakan pay-out ratio secara bertahap pada tahun 2009 akan menjadi nol persen; dan (d) beberapa BUMN sektor perkebunan, dengan pertimbangan kemampuan keuangan perusahaan.

Terkait dengan upaya peningkatan kinerja BUMN dalam tahun 2009, Pemerintah secara konsisten akan melakukan berbagai langkah pembenahan internal di tubuh BUMN. Langkah-langkah tersebut antara lain (a) peningkatan efisiensi di tubuh PT Pertamina; (b) peningkatan efisiensi pada BUMN-BUMN yang memiliki kinerja merugi, termasuk PT PLN; (c) penerapan prinsip-prinsip korporasi terhadap BUMN yang menjalankan kewajiban PSO (public service

obligation); (d) restrukturisasi dan privatisasi secara terpadu; (e) penyehatan perusahaan

dengan mengoptimalisasi investasi (capital expenditure) dari laba BUMN; (f) tidak menarik dividen dari BUMN yang mengalami akumulasi rugi; (g) melakukan upaya program restrukturisasi dan rightsizing BUMN, sesuai dengan Inpres Nomor 5 Tahun 2008; dan (h) perbaikan governance dan pengawasan kinerja BUMN.