BAB II KAJIAN PUSTAKA
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
8) BSu: Von Trojas umgewandten Mauern rühmlich (J47 h.4)
4.1.1.2. Penerjemahan Harfiah (Literal Translation)
Dalam memindahkan informasi teks bahasa sumber ke dalam teks bahasa sasaran, terjemahan harfiah masih mengacu kepada teks sumber tetapi susunan leksikalnya sudah menyesuaikan dengan aturan tata bahasa teks sasaran. Penerjemah pada awalnya menerjemahkan kata demi kata, dan selalunjutnya mengadakan perubahan tatabahasa sesuai bahasa teks sasaran (Nababan, 2003: 32). Urutan kata sudah disesuaikan dengan kaidah tata bahasa teks sasaran.
Berdasarkan analisis teridentifikasi 106 data terjemahan yang menerap-kan teknik terjemahan harfiah (lamp. 1). Teknik penerjemahan harfiah tersebut diterapkan dalam menerjemahkan kalimat seperti pada contoh berikut:
No
1.
2.
Bahasa Sumber
Ich rechte mit den Göttern nicht, allein (J23 h.3).
Glaub' mir und hör' auf eines Mannes Wort, (J149 h.6).
Bahasa sasaran
Aku tidak berseteru dengan dewata, hanya (I23 h.4).
Percayalah kepadaku, dan dengarkanlah nasihat (I149 h.12).
3.
Vom Vorgebirge bis zum Hain der Göttin. (J231 h.48). menjadi ‘Aku tidak berseteru dengan dewata, hanya’. Kalimat tersebut dapat dijelaskan dalam gloss cermat berikut:
BSu
Penyesuaian tata bahasa BSa terletak pada penerjemahan negasi nicht pada akhir kalimat, sedangkan aturan dalam BSu negasi nicht diletakkan langsung melekat dengan predikat.
2) BSu: Glaub' mir und hör' auf eines Mannes Wort, (J149 h.6)
BSa: Percayalah kepadaku,dan dengarkanlah nasihat orang (I149 h.12)
Data J149 h.6 Glaub' mir und hör' auf eines Mannes Wort diterjemahkan menjdi ‘Percayalah kepadaku, dan dengarkanlah nasihat orang (I149 h.12). Kalimat tersebut dapat diterjemahkan secara literal,
tanpa penyesuaian struktur BSa.
BSu secara harfiah menjadi “Kalau hari ini raja berbicara denganmu, (I151 h.12). Penyesuaian aturan tata bahasa dalam BSa, adalah letak kata kerja redet. Dalam BSu, kalimat pengandaian yang menggunakan
konjungsi wenn ‘kalau’ mengharuskan letak kata kerja redet di akhir penyesuaian struktur kalimat BSa, yaitu kata kerja verloren terletak di akhir kalimat. Nebensatz (anak kalimat) yang menggunakan konjungsi
‘seitdem’ mengharuskan letak kata kerja ( predikat) di akhir anak
5) BSu: Vom Vorgebirge bis zum Hain der Göttin. (J231 h.48)
BSa: Mulai dari pegunungan sampai ke hutan keramat sang Dewi. (I231 h.111)
Data J231 h.48, Vom Vorgebirge bis zum Hain der Göttin.merupakan sebuah frasa dan terjemahannya adalah ‘Mulai dari pegunungan sampai ke hutan keramat sang Dewi. (I231 h.111).
BSu: kaidah bahasa Indonesia, sehingga tidak perlu diterapkan teknik penerjemahan yang lain. Menurut Machali (2009: 63) penerjemahan harfiah merupakan masukan bagi tahap penyerasian dalam keseluruhan proses penerjemahan. Jika pada penerjemahan harfiah sudah dapat menyampaikan makna secara tepat, maka tidak diperlukan teknik penerjemahan yang lainnya.
4.1.1.3. Transposisi (Transposition)
Transposisi merupakan teknik penerjemahan dengan mengubah struktur kalimat agar dapat memperoleh terjemahan yang betul, wajar dan tidak kaku. Teknik ini diterapkan karena struktur bahasa Jerman berbeda dari struktur bahasa Indonesia. Berdasarkan analisis data, pada penelitian ini teridentifikasi perubahan letak dan perubahan bentuk. Dalam bahasa Jerman
perubahan susunan dikenal dengan Umstellung, sedangkan perubahan bentuk adalah disebut Umformung.
Menurut Machali (2009: 66-67), dalam menerjemahkan dapat membuat perubahan, antara lain perubahan bentuk dan perubahan susunan.
Yang khusus dalam bahasa Jerman adalah letak fungsi kata; bahwa predikat, objek ataupun kata keterangan dapat berada di awal kalimat (Umstellung). Tujuannya adalah untuk memberikan penekanan akan pentingnya informasi kata yang diletakkan di awal kalimat. Berikut ditampilkan beberapa contoh penggunaan teknik tranposisi, yang merupakan perubahan susunan kata (Umstellung).
No Bahasa Sumber Bahasa sasaran
1. Als wenn ich sie
zum erstenmal beträte, (J5 h.3)
Seolah baru pertama kuinjak tempat ini, (I5 h.3)
2. Und es gewöhnt
sich nicht mein Geist hierher.
(J6 h.3)
Dan sukmaku tetap tidak betah di sini, (I6 h.3)
3.
4.
Doch immer bin ich,
wie im ersten, fremd.(J9 h.3).
Und an dem Ufer
Namun s’perti selama tahun pertama aku
tetap merasa asing. (I9 h.3)
Dan sepanjang hari
5.
steh' ich lange Tage. (J11 h.3).
Von Thoas' Hand mit
Gnadenblick entgegen. (J62 h.4)
aku berdiri di pantai, (I11 h.3)
Dengan pandangan penuh welas asih
dari tangan Thoas (I62 h.7
1) BSu: Als wenn ich sie zum erstenmal beträte, (J5 h.3)
BSa: Seolah baru pertama kuinjak tempat ini, (I5 h.3)
Pada penerjemahan data (J5 h.3) terdapat perubahan penekanan informasi yang dipentingkan, yaitu pada frasa zum erstenmal. Pada BSu frasa zum erstenmal, yang berfungsi sebagai keterangan waktu (Zeitangabe) terletak di bagian belakang, sedangkan pada BSa diletakkan pada awal kalimat. kalimat menjadi jelas, pronomen ‘sie’ diterjemahkan sesuai dengan kata yang digantinya, yaitu digantinya, yaitu ‘tempat ini’.
2) BSu: Und es gewöhnt sich nicht mein Geist hierher. (J6 h.3)
BSa: Dan sukmaku tetap tidak betah di sini, (I6 h.3)
Pada data J6 h.3 frasa ‘mein Geist’, yang berarti sukmaku diletakkan setelah predikat, namun pada BSa ditempatkan pada awal kalimat.
Terdapat pengubahan tema dan rema (Umstellung). Pada BSu frasa mein Geist merupakan rema (yang memberi informasi tentang apa yang dibicarakan), namun pada BSa sebagai tema (tumpuan pembicaraan). Jadi kata ‘sukma’ dalam BSa merupakan informasi yang dipentingkan.
BS:
Pola inversi (Umstellung), yang merupakan pengubahan tema rema juga diterapkan dalam menerjemahkan kalimat pada data 24. Pada teks BSu letak kata keterangan beklagenswert ‘betapa sedih’ setelah predikat, sehingga merupakan rema. Namun pada teks BSa terjemahan ‘betapa sedih’ ditempatkan di awal kalimat, sehingga merupakan tema kalimat.
BSu: Der Frauen Zustand ist beklagenswert
(J24 h.3) (nom.) (verba) (adv.)
Pada penerjemahan data J11 h.3 dilakukan perubahan letak keterangan waktu, lange Tage. Pada BSu lange Tage ‘sepanjang hari’ terletak di akhir kalimat, namun pada BSa diletakkan di awal kalimat.
BSu
5) BSu: Von Thoas' Hand mit Gnadenblick entgegen. (J62 h.4)
BSa: Dengan pandangan penuh welas asih dari tangan Thoas. (I62 h.7)
Pada penerjemahan data J62 h.4 terjadi perubahan letak keterangan cara mit Gnadenblick ‘dengan pandangan penuh welas asih’. Pada BSu
h.4) (nom.) GC dari Tangan Thoas
dengan pandangan Berhadapan dengan
Dalam bahasa Jerman terdapat konsep perubahan bentuk (Umformung). Konsep (Umformung) sesuai dengan transposisi, yang merupakan perubahan bentuk sebagai variasi untuk menyusun kalimat dengan ungkapan lain, namun tidak merubah makna kalimat. Perubahan bentuk dapat berupa perubahan ungkapan verbal (verbaler Ausdruck) menjadi ungkapan nominal (nominaler Ausdruck) atau sebaliknya, dari ungkapan nominal (nominaler Ausdruck) menjadi ungkapan nominal (nominaler Ausdruck).
No Bahasa Sumber Bahasa Sasasarn
1. Zu freiem Dienste dir gewidmet sein. (J38 h.4)
Tulus ikhlas kuabdikan kepada-mu. 38 (I38 h.5)
Kesepian dan ketidakberdayaan masa tua, bahkan kemungkinan (I161 h.13)
Yang pasti melindungi pendetanya, (I198 h.15)
1) BSu: Zu freiem Dienste dir gewidmet sein. (J38 h.4)
BSa: Tulus ikhlas kuabdikan kepadamu. (I38 h.5)
Frasa Zu freiem Dienste merupakan ungkapan nominal (nominaler Ausdruck) ‘untuk pengabdian yang tulus’. Pada penerjemahannya frasa
‘pengabdian yang tulus’ diubah menjadi bentuk frasa yang menggunakan kata kerja (verbaler Ausdruck), yaitu ‘tulus ikhlas kuabdikan’.
BSu
GC untuk sukarela pengabdian kepadamu dipersembahkan
2) BSu: Zu jenen grauen Tagen vorbereitet, (J112 h.5) BSa: Hanya persiapan untuk hari-hari kelabu (I112 h.10)
Pada data J112h.5 terjadi pengubahan pola Umformung, yaitu dari frasa verbal menjadi frasa nominal. Frasa Zu jenen grauen Tagen vorbereitet adalah ungkapan verbal (vorbereiten/ kata kerja zu etwas) ‘menyiapkan hari-hari kelabu’. Pada BSa penerjemah menggunakan padanan dengan ungkapan nominal, yaitu ‘persiapan untuk hari-hari kelabu’.
BSu (J112 h.5) Zu
3) BSu: Ein einsam hülflos Alter, ja vielleicht (J161 h.7).
BSa: Kesepian dan ketidakberdayaan masa tua, bahkan kemungkinan (I161 h.13)
Frasa ‘ein einsam hülflos Alter’ menggunakan kata sifat einsam ‘sepi’, hülflos ‘tidak berdaya’. Pada penerjemahannya, kata sifat einsam ‘sepi’
diubah menjadi kata benda ‘kesepian’, dan kata sifat hülflos ‘tidak berdaya’ diubah menjadi kata benda ‘ketidakberdayaan’.
BSu
4) BSu: Nährt er Verdruß und Unmut gegen mich? (J182 h.7)
BSa: Apakah raja jengkel dan kesal terhadapku? (I182 h.14)
Pada data J182 h.7 terjadi pengubahan pola Umformung, yaitu dari frasa nominal menjadi frasa adverbial. Data J182h. 14, Verdruß und Unmut nährt ‘menderita kejengkelan dan kekesalan’ adalah adalah ungkapan nominal’. Pada BSa pener-jemah menggunakan padanan dengan ungkapan adverbial yaitu ‘jengkel dan kesal’.
BSu
pron.)
5) BSu: Die ihren Schutz der Priesterin gewiß (J198 h.7)
BSa: Yang pasti melindungi pendetanya, (I198 h.15)
Frasa ihren Schutz gewiß merupakan frasa nominal, yang artinya ‘pasti memberikan perlindungan’. Dalam BSa diterjemahkan menjadi frasa verbal ‘yang melindungi pendetanya’.
4.1.1.4. Modulasi (Modulation)
Modulasi merupakan teknik penerjemahan, di mana penerjemah memberikan padanan semantik yang berbeda sudut pandangnya, namun secara konteks memberikan pesan/ makna yang sama. Misalnya Schmerzt dich dein Zahn noch?, artinya adalah Apakah gigimu masih sakit?, bukan apakah gigimu masih menyakitimu? Hatim & Munday (2004:150) membagi dua modulasi, yaitu modulasi wajib dan modulasi bebas. Pada penelitian ini teridentifikasi 375 data diterjemahkan dengan teknik modulasi (lampiran 1)
Berikut ini dipaparkan contoh-contoh data yang menggunakan teknik modulasi:
No Bahasa Sumber Bahasa sasaran
1. Heraus in eure Schatten, rege
So manches Jahr bewahrt mich hier verborgen(J7 h.3)
Ein hoher Wille, dem ich mich ergebe;. wider meinen Willen
Kebahagiaan yang hampir dicicipinya,(I17 h.4)
1) BSu: Heraus in eure Schatten, rege Wipfel (J1 h.3)
BSa: Ke alam terbuka, ke bawah naungan, puncak - puncak pohon
melambai (I1 h.3)
Data J (J1 h.3) Heraus in eure Schatten, rege Wipfel diterjemahkan menjadi ‘Ke alam terbuka, ke bawah naungan, puncak - puncak pohon melambai’. Secara harfiah, Heraus in eure Schatten, rege Wipfel berarti keluar menuju naungan kalian, puncak-puncak pohon bergerak. Kata heraus mempunyai arti keluar menuju suatu tempat. Sebagai terjemahan kata heraus dipilih kata ‘ke alam terbuka’. Penerjemah memilih kata ‘ke alam terbuka’, karena dalam konteks, bahwa Ifigenia tinggal di kuil.
Untuk menunjukkan kesan estetis, penerjemah memilih kata gaya sastra yang sesuai. Salah satu aspek yang penting dalam menerjemahkan yaitu pengejawantahan rasa estetika (Machali, 2009: 80). Puncak-puncak pohon melambai memberikan nuansa yang lebih indah dari pada puncak-puncak pohon bergerak. Pemilihan kata gaya sastra yang lebih
‘bertenaga’ menjadikan terjemahan terasa alami. Dalam hal ini penerjemah menerapkan teknik modulasi bebas untuk menciptakan terjemahan yang mengalir dan terkesan indah.
BSu
naungan bergerak puncak -puncak
2) BSu: Wie in der Göttin stilles Heiligtum (J3 h.3)
BSa: Seperti juga di kuil sunyi sang dewi, (I3 h.3)
Data J (J3 h.3) wie in der Göttin stilles Heiligtum, diterjemahkan menjadi
‘Seperti juga di kuil sunyi sang dewi (I3 h.3). Frasa stilles Heiligtum diterjemahkan menjadi ‘kuil sunyi’. Stilles Heiligtum mempunyai makna
‘hal yang suci dan sunyi’. Penerjemah memilih kata kuil sunyi sebagai padanan dari ‘hal yang suci dan sunyi’, karena dikaitkan dengan konteks, bahwa Ifigenia mengabdi kepada tinggal di kuil sunyi untuk mengabdi kepada Dewi Diana. Penerjemah memilih kata ‘kuil yang sunyi’ untuk memperjelas apa yang tersirat dari kata stilles Heiligtum.
BSu:
(J3 h.3) Wie (pron.)
in (prep.
)
der Göttin (nom.)
stilles (adj.)
Heiligtum (nomina)
GC Seperti di sang dewi sunyi kuil
3) BSu: So manches Jahr bewahrt mich hier verborgen (J7 h.3)
BSa: Bertahun-tahun lamanya aku disembunyikan di sini (I7 h.3).
Data J7 h.3 ‘So manches Jahr bewahrt mich hier verborgen’
diterjemahkan menjadi ‘bertahun-tahun lamanya aku disembunyikan di sini’ (I7 h.3). Penerjemah mengubah sudut pandang BSu yang berbeda dalam BSa dengan mengubah kalimat aktif menjadi kalimat pasif. Secara harfiah, So manches Jahr bewahrt mich hier verborgen artinya adalah
‘kuasa tinggi menyembunyikanku bertahun-tahun lamanya di sini’.
BSu: So manches bewahrt mich Hier Verborgen
(J7 h.3) (adv.) Jahr
aku di sini tersembun yi Wille bermakna keinginan/ kehendak yang tinggi. Penerjemah memilih kata yang sesuai dengan konteks, yaitu kuasa tinggi, karena Ifigenia mengabdi kepada Dewi Diana, yang mempunyai kekuasaan tinggi.
Teknik penerjemahan modulasi bebas diterapkan untuk memperjelas makna. Dalam menerjemahkan ein hoher Wille, digunakan ungkapan
5) BSu: Das nächste Glück vor seinen Lippen weg, (J17 h.3)
BSa: Kebahagiaan yang hampir dicicipinya (I17 h.4)
Pada data J17 h.3 Das nächste Glück vor seinen Lippen weg, penerjemah mem-buat padanan yang terasa alami, yaitu ‘Kebahagiaan yang hampir dicicipinya ‘,(I17 h.4). Frasa das nächste Glück ‘keberuntungan yang terdekat’diterjemahkan dengan menggunakan ungkapan lain. Secara harfiah, das nächste Glück vor seinen Lippen weg, dapat diterjemahkan
‘keberuntungan yang sudah dekat di depan bibirnya hilang’.
BSu
Pemadanan (ekuivalensi) merupakan teknik menerjemahkan dengan cara menyusun ungkapan, gaya, tata bahasa bahasa sasaran yang berbeda dari bahasa sumber (Hatim & Munday, 2004:150). Teknik terjemahan ini diterapkan pada umumnya untuk menerjemahkan peribahasa, kata kiasan.
Dalam penelitian ini, padanan dimaknai sebagai penyesuaian kata, frasa
dengan teks dialog, misalnya kata du dalam BSu, menjadi ‘Baginda’, karena sebagai kata sapaan terhadap raja.
No Bahasa Sumber Bahasa sasaran
1. Wenn du dich so unglücklich nennen willst (J91 h.5)
Kalau Putri menyebut dirinya begitu tidak beruntung (I91 h.8)
2. Du forderst mich! Was bringt dich zu uns her? (J256 h.49)
Raja mau bicara dengan aku!
Apakah maksud kedatangan Baginda ke kuil? (I256 h.113)
3. Von dir möcht' ich es weiter noch vernehmen. (J259 h.49)
Aku masih ingin mendengar penjelasan itu sekali lagi dari Putri sendiri. (I259 h.113)
4. Der Unbekannten Wort verehrtest du (J275 h.49)
Sebelum mengenal asal-usulku, Baginda menghormati pendapatku, (I275 h.114)
5. O sähest du, wie meine Seele kämpft, (J328 h.50)
Ah, andaikan Baginda mau melihat
pergumulan jiwaku (I328 h. 118)
1) BSu: Wenn du dich so unglücklich nennen willst (J91 h.5)
BSa: Kalau Putri menyebut dirinya begitu tidak beruntung (I91 h.8)
Pada data (J91 h.5) kata du, yang artinya ‘kamu’ diterjemahkan menjadi
‘Putri’, karena disesuaikan dengan konteks dialog, sebagai sapaan raja Thoas kepada Ifigenia.