BAB 11 Analisis Kelayakan Aspek Keuangan
B. Pengaruh Aspek Keuangan dalam Menilai Kelayakan
Bisnis
Keuangan merupakan salah satu fungsi bisnis yang bertujuan untuk membuat keputusan investasi, pendanaan, dan dividen. Keputusan pendanaan difokuskan untuk mendapatkan usaha optimal dalam rangka mendapatkan dana untuk mendukung kebijakan investasi.
Aspek keuangan merupakan muara dari semua aspek karena keuangan merupakan implikasi dari seluruh program proyek yang harus diperhitungkan. Berbagai hal yang berkaitan dengan keuangan perlu dibahas mulai awal perencanaan, periode persiapan, pelaksanaan pembangunan proyek, dan periode operasi ketika usaha berjalan.
Ada dua periode dalam aspek keuangan, yaitu periode persiapan dan periode operasi. Implikasi keuangan periode persiapan akan tertanggulangi dalam kebutuhan dana investasi, sedangkan dalam masa operasi tecermin pada proyeksi rugi laba, proyeksi neraca, proyeksi arus kas, dan proyeksi kemampuan melunasi pinjaman serta tingkat pengembalian. Untuk lebih jelasnya, aspek pengaruh analisis keuangan dalam menilai bisnis meliputi hal berikut.8
1. Biaya Praoperasi
Sebuah usaha perlu diawali dengan pembuatan gagasan, penelitian tentang produk, pasar, dan aspek-aspek lain yang dipertimbangkan untuk diambil sebuah keputusan. Keperluan tersebut menimbulkan konsekuensi biaya yang harus dikeluarkan, yang disebut biaya praoperasi.
Biaya tersebut digunakan untuk keperluan penelitian, perencanaan, studi kelayakan, perancangan (design), biaya konsultan, dan biaya pemasaran sebelum produk siap diluncurkan ke pasar. Biaya-biaya tersebut sudah harus dikeluarkan sebelum perusahaan mengambil keputusan untuk melaksanakan proyek yang dikelompokkan sebagai sunk cost atau investasi yang nilainya tetap dan telah dikeluarkan semuanya dan tidak mempunyai sisa.
Biaya tersebut dikeluarkan, baik usaha dijalankan maupun dibatalkan. Sunk cost tidak dimasukkan dalam perhitungan NPV karena biaya tersebut di luar perhitungan studi kelayakan usaha.
2. Rencana Kebutuhan Investasi
Rencana kebutuhan investasi bisa diperhitungkan pada awal perencanaan usaha yang meliputi seluruh pengeluaran pembangunan proyek dengan dikelompokkan sebagai berikut.
a. Biaya pembangunan fisik (harta tetap)
Biaya pembangunan fisik adalah biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan sarana dan prasarana seluruh kebutuhan proyek yang meliputi pembelian tanah, pembangunan gedung, pembelian mesin-mesin, alat kantor, furnitur, dan kendaraan.
b. Biaya-biaya trial run
Trial run adalah uji coba kelancaran operasi seluruh unit produksi hingga terwujudnya produk yang akan dipasarkan. Kegiatan tersebut membutuhkan waktu tertentu dan membutuhkan biaya, seperti bahan baku, bahan bantu lainnya, honor tenaga kerja, dan bahan bakar sehingga tampak kegiatan pabrik beroperasi sepenuhnya.
Produk yang dihasilkan bukan untuk dijual secara profit, melainkan untuk keperluan evaluasi mutu, perbaikan design, dan promosi awal. Apabila produk sudah dapat dijual, pendapatannya masuk pada perhitungan biaya trial run.
Sisa produk yang dihasilkan dalam trial run dapat dijadikan persediaan awal barang jadi pada awal periode operasi. Biaya trial run bisa dimasukkan sebagai harta tidak berwujud, yang akan disusutkan dalam waktu tertentu.
c. Modal kerja
Modal kerja adalah dana yang dibutuhkan untuk operasi perusahaan sehari-hari dalam membuat produk, yang meliputi kebutuhan dana yang tertanam lancar dalam bentuk piutang usaha, persediaan bahan baku, bahan dalam proses, barang jadi, bahan bakar, dan bahan bantu produksi lainnya, termasuk sejumlah kas minimum untuk kebutuhan tidak terduga atau transaksi.
3. Sumber Dana
Sumber dana yang digunakan untuk belanja usaha dapat berasal dari modal sendiri dan pinjaman bank.
Modal sendiri adalah modal yang dimiliki oleh pemegang saham, yang dinyatakan dalam akta pendirian perusahaan. Umumnya jumlah dana yang tercantum dalam akta pendirian tersebut masih jauh dari cukup untuk antisipasi kebutuhan dana investasi keseluruhan.
Pinjaman dari bank atau lembaga keuangan lainnya untuk penguatan kebutuhan modal kerja dan membeli harta tetap dibutuhkan. Ketentuan besaran pinjaman, periode penarikan, cicilan, tingkat bunga, jatuh tempo pelunasan, dan biaya administrasi lainnya dicantumkan dalam perjanjian kontrak kredit yang disepakati antara pihak perusahaan dan bank.
4. Proyeksi Harga Pokok Produksi/Penjualan
Proyeksi harga pokok penjualan harus didukung oleh volume proyeksi dan volume penjualan. Biaya produksi per unit adalah total biaya produksi dibagi dengan volume produksi. Adapun harga pokok penjualan per unit adalah total harga pokok penjualan dibagi dengan volume penjualan.
a. Proyeksi rugi-laba
Proyeksi rugi-laba adalah gambaran keuntungan operasi usaha beberapa tahun ke depan. Untuk membuat proyeksi rugi-laba, perusahaan harus menghitung terlebih dahulu proyeksi nilai penjualan, biaya produksi, dan biaya operasi. Biaya operasi adalah biaya-biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan operasional kantor dan pemasaran produk. Biaya-biaya produksi dan operasi dapat pula dikelompokkan dalam biaya variabel dan biaya tetap.
b. Proyeksi arus kas
Proyeksi arus kas berguna untuk penyusunan proyeksi neraca. Arus kas merupakan catatan atas penerimaan (arus kas masuk) dan pengeluaran (arus kas keluar) kas dalam satu periode. Selisih antara keduanya (masuk dan keluar) disebut arus kas bersih.
1) Aliran kas proyek (cash flow proyek)
Cash flow (aliran kas) adalah sejumlah uang kas yang keluar dan yang masuk sebagai akibat dari aktivitas perusahaan. Aliran kas terdiri atas aliran masuk di perusahaan dan aliran kas keluar perusahaan serta jumlah saldonya setiap periode.
Adapun arus kas proyek adalah arus kas yang mencakup prakiraan penerimaan dan pengeluaran dana yang diperlukan untuk pelaksanaan proyek selama jangka waktu kontrak.
Aliran kas yang berkaitan dengan suatu proyek dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu sebagai berikut.
a) Aliran kas awal (initial cash flow) merupakan aliran kas yang berkaitan dengan pengeluaran untuk kegiatan investasi. Misalnya, pembelian tanah, gedung, dan biaya pendahuluan. Aliran kas awal dapat dikatakan aliran kas keluar (cash out flow).
b) Aliran kas operasional (operational cash flow) merupakan aliran kas yang berkaitan dengan operasional proyek, misalnya penjualan, biaya umum, dan administrasi. Oleh sebab itu, aliran kas operasional merupakan aliran kas masuk (cash in flow) dan aliran kas keluar (cash out flow).
c) Aliran kas akhir (terminal cash flow) merupakan aliran kas yang berkaitan dengan nilai sisa proyek (nilai residu), misalnya sisa modal kerja, nilai sisa proyek, yaitu penjualan peralatan proyek.
2) Pertimbangan dalam menaksir aliran kas
Dalam analisis keputusan investasi, ada beberapa langkah yang akan dilakukan, yaitu:
a) menaksir aliran kas dari investasi;
b) menghitung biaya modal rata-rata tertimbang;
c) mengevaluasi investasi tersebut dengan kriteria investasi, seperti payback period, NPV, dan IRR;
d) mengambil keputusan, apakah investasi diterima atau tidak. Langkah pertama dan keempat merupakan langkah yang paling sulit (menurut penulis). Terutama, implikasi aliran kas dari suatu investasi tentu sulit diidentifikasi dan dikuantifikasikan.
5. Penilaian Investasi
a. Konsep nilai waktu uang
Investasi pada umumnya memerlukan jangka waktu panjang sehingga perlu dinilai apakah investasi tersebut dapat memberikan kelayakannya. Oleh karena itu, perlu konsep nilai waktu uang, “time value of money “ dan beberapa metode penilaiannya.
Nilai waktu uang pada dasarnya membahas bunga. Bunga atau interest, menurut Riggs dalam Robert, terdiri atas dua macam, yaitu bunga biasa “simple interest” dan bunga majemuk “compount interest.“9
1) Bunga biasa
Bunga biasa adalah perhitungan bunga yang sederhana dengan menggunakan formula berikut:
F = P i n Keterangan:
P = jumlah atau nilai sekarang
F = jumlah atau nilai yang akan datang i = tingkat bunga pada suatu periode n = waktu
Apabila seseorang meminjam sejumlah uang P dengan bunga i, uang yang harus dikembalikan adalah:
F (harga yang akan datang) = P + i = P + P i n P ( 1 + i n ) 2) Bunga majemuk
Bunga yang didapat pada suatu periode dibungakan lagi sehingga berlipat (majemuk).
b. Nilai sekarang
Nilai sekarang (present value) menunjukkan besarnya nilai uang pada saat ini untuk nilai tertentu pada masa yang akan datang.
9 Robert J.K., Ang, Buku Pintar Pasar Modal Indonesia, Jakarta: Media Staff Indonesia, 1997, hlm. 177.
Nilai sekarang menunjukkan sejumlah uang yang diinginkan A pada waktu 1 tahun lagi dan PV menunjukkan jumlah uang yang ditabung serta i merupakan tingkat bunga.
c. Metode penilaian investasi
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menilai suatu investasi, yaitu NPV, IRR, dan PI.
1) Metode net present value
Metode ini menghitung selisih antara nilai sekarang investasi dan nilai sekarang penerimaan kas bersih (operasional ataupun terminal aliran kas) pada masa yang akan datang yang bernilai positif.
2) Metode internal rate of return
Metode ini menghitung tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan kas bersih pada masa-masa yang akan datang. Tingkat bunga ini lebih besar daripada tingkat bunga yang relevan (tingkat keuntungan yang disyaratkan “MARR”).
3) Metode profitability index
Metode ini menghitung perbandingan antara nilai sekarang penerimaan kas bersih pada masa datang dan nilai sekarang investasi. Jika PI lebih besar dari 1, proyek diterima atau layak.
d. Menilai proyek dengan metode NPV 1) Pemilihan aktiva
Perusahaan ada kalanya dihadapkan pada masalah penggunaan aktiva yang mempunyai karakteristik yang berbeda. Pemilihan ini timbul karena adanya dua atau lebih aktiva yang biasa memberikan pelayanan yang sama, tetapi dengan harga, usia ekonomis, dan biaya operasi yang berbeda.
2) Penggantian aktiva
Penggantian aktiva dapat dilakukan dengan banyak pertimbangan. Untuk aktiva dengan pengganti yang sama ataupun yang lebih baik
dapat dilakukan dengan memperhitungkan NPV terlebih dahulu. Kunci dalam menghitung NPV suatu proyek, yaitu menaksir aliran kas dan menentukan tingkat bunga yang layak.
3) Pengaruh inflasi
Pengaruh inflasi atau disinflasi harus dimasukkan ke dalam NCF karena tingkat keuntungan yang disyaratkan sudah dimasukkan dalam inflasi yang diharapkan. Inflasi menggunakan tingkat inflasi per sektor perekonomian lebih baik jika menggunakan tingkat inflasi.
Perubahan harga yang tidak disebabkan oleh inflasi atau kurangnya permintaan dan penawaran, akan memengaruhi aliran kas masuk, sebaiknya dimasukkan dalam analisis.