• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBANKAN SYARIAH Gambaran umum

RISIKO KREDIT Gambaran Umum

IX. PENGAWASAN DAN PERATURAN PERBANKAN DI INDONESIA

Informasi berikut ini berasal dari beberapa peraturan perundang-undangan di Indonesia, Pemerintah dan sumber publik lainnya dan informasi yang diberikan oleh Pemerintah, serta tidak pernah secara independen diverifikasi oleh Perseroan atau oleh Pembeli Siaga. Bank Indonesia adalah badan Pemerintah utama yang mengawasi sistem perbankan Indonesia. Sebelum tahun 1992, sistem perbankan Indonesia diawasi oleh Bank Indonesia dan Menteri Keuangan. Menteri Keuangan terus memegang peranan dalam sistem perbankan Indonesia dengan menerbitkan peraturan-peraturan sehubungan dengan administrasi atas obligasi rekapitalisasi Pemerintah (Government recapitalization bonds) yang diterbitkan berdasarkan Program Rekapitalisasi Bank, serta melalui tanggung jawabnya atas restrukturisasi bank milik Pemerintah.

Fungsi utama Bank Indonesia adalah untuk: (i) menetapkan dan menerapkan kebijakan moneter; (ii) mengatur dan mempertahankan sistem pembayaran yang sehat; dan (iii) mengatur dan mengawasi bank-bank. Untuk mendukung fungsi dasarnya, Bank Indonesia diberikan kewenangan mutlak untuk menerbitkan dan mengendalikan peredaran Rupiah. Bank Indonesia juga menerbitkan pedoman-pedoman dan membuat penetapan-penetapan mengenai kesehatan, kemampuan dan likuiditas bank, mengatur lalu lintas pembayaran kredit dan mengadakan kliring dan penyelesaian antar-bank.

Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana diubah dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 (“UU Perbankan”) dan Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana diubah dengan Undang-Undang No. 3 Tahun 2004 serta Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Np. 2 Tahun 2008 sebagaimana ditetapkan dengan Undang-Undang No.6 Tahun 2009 (“UU Bank Indonesia”) adalah peraturan perundang-undangan utama yang mengatur perizinan dan peraturan bank. Perundang-undangan ini memberikan paksaan dan kuasa lainnya yang luas kepada Bank Indonesia. Selain itu, bank-bank Indonesia tunduk pada berbagai peraturan-peraturan, keputusan-keputusan dan pedoman-pedoman yang diterbitkan oleh Bank Indonesia dan Menteri Keuangan. Bank-bank yang tercatat di Bursa Efek juga wajib untuk tunduk pada Undang-Undang No.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal dan peraturan pelaksananya yang diterbitkan oleh Bapepam dan LK, yang di antaranya mewajibkan bank-bank untuk memenuhi standar korporasi dan keterbukaan yang lebih luas. Kegagalan untuk mematuhi peraturan dan perundang-undang pasar modal yang berlaku terhadap Perseroan dapat menimbulkan sanksi administratif dari Bapepam dan LK.

Lebih lanjut, pada tanggal 22 November 2011, Pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No. 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (“UU OJK”). UU OJK mengatur pembentukan suatu lembaga independen baru yang akan diberi nama Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”). Fungsi utama dari OJK akan ditujukan untuk menyelenggarakan sistem peraturan dan pengawasan yang terintegrasi dengan otoritas dari seluruh kegiatan dalam sektor jasa keuangan. Lebih khusus, OJK memiliki tugas untuk mengatur dan mengawasi kegiatan jasa keuangan dalam: (i) sektor perbankan, (ii) sektor pasar modal, dan (iii) lembaga asurasi, dana pensiun, lembaga pembiayaan serta lembaga jasa keuangan lainnya. Dalam sektor perbankan, OJK akan mengambil alih seluruh tugas dan kewenangan micro prudential yang saat ini dipegang oleh Bank Indonesia, termasuk kewenangan untuk:

x menerbitkan perizinan dan persetujuan sehubungan dengan, antara lain, (i) pendirian bank, (ii) pembukaan kantor bank, (iii) anggaran dasar dan rencana kerja bank, (iv) kepemilikan, kepengurusan dan sumber daya manusia bank, (v) merger, konsolidasi dan akuisisi bank, serta (vi) pencabutan izin usaha bank;

x mengatur dan mengawasi kegiatan usaha bank;

x mengatur dan mengawasi tingkat kesehatan bank (termasuk likuiditas, solvabilitasi, kualitas aset, rasio kecukupan modal minimum (CAR) dan batas maksimum pemberian kredit dari bank);

x mengatur dan mengawasi penerapan prinsip kehati-hatian oleh bank (termasuk manajemen risiko, tata kelola bank dan prinsip mengenal nasabah (know-your-customer) untuk mencegah pencucian uang, pembiayaan terorisme dan kejahatan perbankan); dan

x melakukan pemeriksaan bank.

Walaupun secara prinsip kewenangan untuk melakukan pemeriksaan bank dipegang oleh OJK, Bank Indonesia (dengan pemberitahuan tertulis terlebih dahulu kepada OJK) akan tetap berhak untuk melakukan pemeriksaan khusus secara langsung terhadap bank-bank penting tertentu yang masuk systematically important bank, jika pemeriksaan tersebut diperlukan oleh Bank Indonesia sesuai dengan fungsi dan tugasnya di bidang macro prudential. Namun demikian, Bank Indonesia tidak akan lagi memiliki kewenangan untuk menilai tingkat kesehatan bank, mengingat kewenangan ini akan dipegang secara mutlak oleh OJK. Jika pemeriksaan oleh OJK mengindikasikan bahwa suatu bank tertentu mengalami kesulitan likuiditas dan/atau penurunan tingkat kesehatan bank, OJK harus menginformasikan Bank Indonesia untuk mengambil tindakan yang diperlukan dalam menjalankan peranannya sebagai lender of last resort. Dalam hal ini, Bank Indonesia dapat melakukan pemeriksaannya sendiri atas bank dengan pemberitahuan terlebih dahulu kepada OJK. Selanjutnya, OJK akan berkoordinasi dengan Bank Indonesia dalam membuat peraturan pengawasan di bidang perbankan.

Sehubungan dengan hal di atas, walaupun UU OJK telah berlaku sejak November 2011, OJK baru akan melakukan tugas pengaturan dan pengawasannya di bidang perbankan mulai tanggal 31 Desember 2013.

Perizinan; Pembatasan Kegiatan Usaha Bank

Berdasarkan UU Perbankan dan UU Bank Indonesia, setiap pihak yang melakukan kegiatan perbankan, yang definisinya mencakup menghimpun dana dan menggunakan dana tersebut untuk memberikan kredit, harus memperoleh izin untuk tujuan tersebut dari Bank Indonesia. Persetujuan Bank Indonesia juga diperlukan untuk membuka kantor cabang dan kantor perwakilan di luar negeri. Bank-bank Indonesia tunduk pada sejumlah pembatasan dalam operasional atas usaha mereka dan pelaksanaan urusan korporasi mereka. Secara khusus, bank Indonesia tidak diperbolehkan melakukan hal-hal berikut:

x memiliki saham dalam perusahaan-perusahaan lain, dengan pengecualian sebagai berikut:

Ͳ penyertaan saham pada bank atau perusahaan-perusahaan lain di bidang keuangan (seperti sewa guna usaha (leasing), modal ventura, perusahaan efek dan asuransi, serta perusahaan yang menawarkan jasa kliring, penyelesaian dan penyimpanan); dan

Ͳ saham yang dimiliki sementara oleh bank sehubungan dengan restrukturisasi yang diperbolehkan atas kredit macet atau kegagalan sehubungan dengan kesepakatan pembiayaan yang diberikan oleh bank berdasarkan prinsip Syariah (sebagaimana didefinisikan dalam UU Perbankan);

x melakukan usaha perasuransian (kecuali untuk penyertaan saham atau modal atau penawaran produk pihak ketiga); atau x melakukan kegiatan apapun yang dilarang oleh UU Perbankan, seperti bertindak sebagai penjamin emisi untuk penerbitan

surat berharga atau berpartisipasi dalam perdagangan saham di bursa efek. KEPEMILIKAN BANK

Berdasarkan perundang-undangan Indonesia, suatu bank dapat mencatatkan maksimal 99,0% dari sahamnya pada bursa efek, dan seluruh dari saham tersebut dapat dibeli oleh penanam modal asing. Sisa 1,0% harus dimiliki oleh penanam modal Indonesia dan tidak boleh dicatatkan.

Berdasarkan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 32/50/KEP/DIR tertanggal 14 Mei 1999, pihak manapun yang membeli saham bank: (i) tidak boleh muncul dalam daftar “flawed persons” di bidang perbankan sebagaimana ditetapkan oleh Bank Indonesia, dan (ii) harus dipertimbangkan oleh Bank Indonesia sebagai “orang dengan integritas tinggi” berdasarkan peraturan Bank Indonesia. Konsep “orang dengan integritas tinggi” sangat luas dan mencakup penilaian atas karakter dan moral baik dari seseorang, kepatuhan terhadap peraturan dan perundang-undangan yang berlaku dan komitmen untuk mengembangkan sistem perbankan yang sehat, serta laporan terdahulu atas seseorang dalam industri perbankan di Indonesia.

Persetujuan Bank Indonesia dalam “uji kemampuan dan kepatutan” diperlukan untuk setiap orang yang membeli saham dalam bank, baik langsung atau melalui bursa efek, dimana pembelian tersebut adalah untuk 25,0% atau lebih dari saham ditempatkan bank atau bagian yang lebih kecil yang mengakibatkan perubahan pengendalian atas bank, baik langsung atau tidak langsung sebagaimana didefinisikan dalam Peraturan Bank Indonesia No. 12/23/PBI/2010 tertanggal 29 Desember 2010 tentang Uji Kemampuan dan Kepatutan (fit and

proper test) (“Peraturan Uji Kemampuan dan Kepatutan”). Konsep “orang” untuk tujuan ini mencakup individual dan badan hukum.

Apabila seseorang membeli 5,0% sampai dengan 25,0% dari saham ditempatkan bank secara langsung atau melalui bursa efek, orang tersebut diwajibkan untuk melaporkan pembelian tersebut kepada Bank Indonesia dan Bapepam dan LK dalam waktu 10 hari sejak orang tersebut terdaftar sebagai pemegang saham dalam daftar pemegang saham bank.

Apabila orang yang membeli saham bank tidak memenuhi persyaratan untuk menjadi pemegang saham pengendali atas bank tersebut, orang tersebut (a) akan dilarang untuk bertindak sebagai pemegang saham, (b) tidak dapat melaksanakan haknya sebagai pemegang saham dan saham tersebut tidak akan dihitung dalam kuorum rapat umum pemegang saham bank dan (c) harus mengalihkan saham tetsebut kepada pihak lain yang memenuhi persyaratan tersebut dalam waktu 6 bulan sejak pemberitahuan dari Bank Indonesia bahwa pembeli adalah pembeli yang “tidak mampu (unfit)”. Jika pengalihan tersebut tidak dilakukan dalam jangka waktu yang telah ditentukan, pembeli saham tersebut harus menyerahkan surat kuasa untuk menjual saham kepada Bank Indonesia dengan hak substitusi atau kepada pihak lain yang ditunjuk dan disetujui oleh Bank Indonesia dalam waktu 7 hari setelah berakhirnya periode tersebut. Sehubungan dengan hal ini, pembeli yang “tidak mampu (unfit)” akan (a) dilarang untuk memiliki saham dalam industri perbankan di Indonesia untuk periode selama 20 tahun dan (b) diberitahukan kepada Bapepam dan LK, serta pembayaran dividen akan ditunda hingga terjadinya pengalihan saham. Ketentuan tersebut di atas juga berlaku untuk pemegang saham pengendali yang ada yang gagal untuk memenuhi persyaratan uji kemampuan dan kepatutan, sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Uji Kemampuan dan Kepatutan.

MANAJEMEN BANK

Di Indonesia, suatu bank umum dikelola oleh suatu direksi di bawah pengawasan dewan komisaris. Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 8/4/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006 sebagaimana diubah dengan Peraturan Bank Indonesia No. 8/14/PBI/2006 tanggal 5 Oktober 2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum (“Peraturan GCG”), komposisi kepengurusan dari suatu bank umum harus mencakup setidaknya tiga direktur dan setidaknya tiga komisaris, dengan jumlah komisaris tidak melebihi jumlah direktur. Bank umum yang sahamnya dimiliki oleh penanam modal asing dapat menempatkan bankir asing sebagai anggota direksi dan dewan komisaris, dengan ketentuan bahwa setidaknya satu anggota dari masing-masing dewan komisaris dan direksi adalah warga negara Indonesia.

Calon untuk dewan komisaris dan direksi harus disetujui oleh Bank Indonesia berdasarkan Peraturan Uji Kemampuan dan Kepatutan sebelum penunjukannya. Seorang direktur tidak diperbolehkan untuk bertindak pula sebagai komisaris bank, atau sebagai anggota direksi atau menjabat posisi eksekutif lainnya pada lembaga atau perusahaan perbankan lain ketika ia menjabat sebagai direktur dari suatu bank. Selain itu, anggota direksi tidak diperbolehkan untuk, secara sendiri-sendiri atau secara bersama-sama, memiliki lebih dari 25,0% dari modal ditempatkan dari perusahaan lain manapun.

Anggota dewan komisaris hanya diperbolehkan untuk memegang jabatan kedua pada dewan komisaris, direksi atau sebagai seorang eksekutif (i) dari suatu lembaga atau perusahaan non-keuangan, atau (ii) yang melaksanakan tugas pengawasan pada anak perusahaan bukan bank yang dikendalikan oleh bank.

Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 1/6/PBI/1999 tanggal 20 September 1999, sebagaimana dicabut sebagian dengan Peraturan Bank Indonesia No. 13/2/PBI/2011 tanggal 12 Januari 2011, seluruh bank umum harus menunjuk satu direktur untuk bertindak sebagai direktur kepatuhan yang akan memastikan bahwa masing-masing dari bank-bank ini mematuhi peraturan-peraturan Bank Indonesia, peraturan-peraturan lain yang mengatur kegiatan bank dan perjanjian serta komitmen lain apapun yang mungkin dibuat oleh bank tersebut dengan Bank Indonesia.

Berdasarkan peraturan-peraturan BEI, perusahaan umum tercatat harus memiliki setidaknya satu direktur tidak terafiliasi dan komisaris independen setidaknya 30,0% dari total jumlah komisaris atau persentase yang secara proporsional sama dengan jumlah saham yang dimiliki oleh pemegang saham bukan pengendali, yang mana yang lebih tinggi. Selain itu, berdasarkan Peraturan GCG, ditetapkan bahwa setidaknya 50,0% dari jumlah komisaris harus merupakan komisaris independen. Peraturan-peraturan ini dan peraturan-peraturan Bapepam dan LK juga mewajibkan suatu perusahaan tercatat untuk memiliki suatu komite audit yang terdiri dari tiga anggota termasuk setidaknya satu komisaris independen, dan dua anggota independen eksternal, dengan satu anggota memiliki kemampuan dalam bidang akuntansi atau keuangan. Komite audit melapor kepada dewan komisaris. Selain itu, setiap perusahaan tercatat diwajibkan untuk menunjuk sekretaris perusahaan untuk mengawasi perkembangan dalam peraturan dan perundangan-undangan pasar modal serta menjadi penghubung utama dengan Bapepam dan LK, BEI dan masyarakat.

PERSYARATAN PERMODALAN

Modal Disetor Minimum

Peraturan Bank Indonesia mewajiban bank-bank Indonesia untuk mempertahankan tingkat minimum dari ekuitas pemegang saham. Bank Indonesia mewajibkan bank umum yang baru berdiri memiliki modal disetor minimum sebesar Rp. 3 triliun.

Persyaratan Kecukupan Modal

Pada tahun 1991, Bank Indonesia memperkenalkan persyaratan kecukupan modal minimum yang pada pokoknya didasarkan pada standar Bank for International Settlements sebagaimana terdapat dalam Basel Accord of 1988, dengan beberapa perubahan. Persyaratan kecukupan modal adalah kewajiban bank untuk mempertahankan modal minimum pada persentase tertentu dari aset tertimbang menurut risiko yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Pada 24 September 2008, Bank Indonesia menerbitkan Peraturan Bank Indonesia No. 10/15/PBI/2008, yang berlaku efektif pada 1 Januari 2009. Berdasarkan peraturan ini, bank-bank Indonesia diwajibkan untuk mempertahankan persyaratan kecukupan modal setidaknya 8,0% dari aset tertimbang menurut risiko dari bank. Bank-bank Indonesia yang tidak memenuhi persyaratan kecukupan modal dapat ditempatkan di bawah pengawasan khusus berdasarkan peraturan yang berlaku.

Persyaratan kecukupan modal bank diperoleh dari membagi “jumlah modal”-nya dengan aset tertimbang menurut risiko dari bank. Berdasarkan peraturan Bank Indonesia, jumlah modal mencakup modal inti (tier 1), modal pelengkap (tier 2) dan modal pelengkap tambahan (tier 3), dan harus diperhitungkan dengan faktor pengurang berupa goodwill, aset tidak berwujud lainnya, penyertaan ekuitas eksternal bank, kekurangan modal (shortfall) dari pemenuhan tingkat rasio solvabilitas minimum (Risk Based Capital) pada perusahaan asuransi yang dimiliki dan dikendalikan oleh bank terkait dan eksposur sekuritisasi. Modal inti (tier 1) terdiri dari modal disetor, cadangan tambahan modal dan modal inovatif.

Peraturan ini lebih lanjut mengatur bahwa cadangan tambahan modal terdiri dari, di antaranya: (a) modal sambahan tambahan/agio;

(b) modal sumbangan; (c) cadangan umum modal; (d) Cadangan tujuan modal;

(e) Laba ditahan dikurangi pajak (termasuk laba-laba dari tahun-tahun lalu yang penggunaannya belum ditentukan oleh pemegang saham);

(f) Laba tahun berjalan sebesar 50%;

(g) Selisih lebih dari ketidaksesuaian mata uang asing dari cabang dan/atau anak perusahaan di luar negeri; dan

(h) Persediaan modal (dana setoran modal tambahan yang dimaksudkan sebagai modal tambahan yang masih bergantung pada persetujuan pemegang saham).

Cadangan tambahan modal ini harus dikurangi dengan, antara lain: (a) Disagio;

(b) Rugi tahun-tahun lalu; (c) Rugi tahun berjalan;

(d) Selisih kurang ketidaksesuaian mata uang asing dari cabang di luar negeri; dan (e) Pendapatan komprehensif lainnya yang negatif.

Modal pelengkap (tier II) terdiri dari (i) modal pelengkap level atas (upper tier II) dan (ii) modal pelengkap level bawah (lower tier II). Untuk menghitung persyaratan kecukupan modal, modal pelengkap (tier II) tidak boleh lebih dari 100,0% dari modal inti (tier I).

Modal pelengkap level atas (upper tier II) terdiri atas:

(a) Instrumen modal dalam bentuk saham atau instrumen modal lainnya yang memenuhi persyaratan dari modal pelengkap atas (upper tier II), seperti perpetual cumulative subordinated debt dan mandatory convertible bond;

(b) Bagian dari modal inovatif yang tidak dapat diperhitungkan dalam modal inti; (c) Revaluasi aset tetap;

(d) Cadangan umum penyisihan penghapusan aset atas aset produktif yang wajib dibentuk dengan jumlah paling tinggi sebesar 1,25% dari aset tertimbang menurut risiko untuk risiko kredit; dan

(e) Peningkatan nilai wajar penyertaan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual (paling tinggi sebesar 45%). Untuk dipertimbangkan sebagai Modal Pelengkap Level Atas (Upper Tier II), persyaratan-persyaratan berikut harus dipenuhi:

(i) Modal telah diterbitkan dan telah dibayar penuh;

(ii) Tidak memiliki jangka waktu dan tidak ada persyaratan yang mewajibkan pelunasan oleh bank di masa mendatang;

(iii) Modal tersedia untuk menyerap kerugian dalam hal jumlah kerugian bank melebihi laba yang ditahan dan cadangan-cadangan (yang termasuk modal inti) dan instrumen tersebut bersifat subordinasi, meskipun bank belum dilikuidasi;

(iv) Pembayaran pokok atau imbal hasil ditangguhkan dan diakumulasikan antar periode (cummulative) apabila (i) pembayaran dimaksud dapat menyebabkan bank melanggar kewajiban penyediaan modal minimumnya (secara individual atau secara konsolidasi), (ii) bank dalam keadaan rugi atau (iii) kondisi profitabilitas bank tidak memungkinkan untuk membayar imbal hasil tersebut;

(v) Modal tidak diproteksi maupun dijamin oleh bank atau anak perusahaannya;

(vi) Apabila disertai dengan fitur opsi beli (call option), fitur opsi beli (call option) hanya dapat dieksekusi paling kurang 10 tahun setelah instrumen modal diterbitkan dan setelah persetujuan terlebih dahulu dari Bank Indonesia, dengan dokumentasi penerbitan instrumen modal yang menyatakan secara tegas persyaratan ini;

(vii) Apabila disertai dengan fitur step-up, fitur step-up hanya dapat direalisasi satu kali selama periode instrumen dan harus dieksekusi paling kurang 10 tahun setelah instrumen modal diterbitkan. Eksekusi fitur step-up harus sejalan dengan kondisi pasar serta tidak lebih besar dari 100 basis points atau 50,0% dari marjin (credit spread) awal. Fitur step-up harus dinyatakan secara jelas dalam dokumentasi penerbitan instrumen; dan

(viii) Penerbitan modal harus disetujui oleh Bank Indonesia untuk diperhitungkan sebagai komponen modal.

Untuk menghitung persyaratan kecukupan modal, modal Pelengkap Level Bawah (Lower Tier II) tidak boleh melebihi 50,0% dari nilai modal Inti (Tier I). Untuk dipertimbangkan sebagai modal Pelengkap Level Bawah (Lower Tier II), persyaratan-persyaratan berikut ini harus dipenuhi:

(i) Modal telah diterbitkan dan telah dibayar penuh;

(ii) Modal memiliki jangka waktu paling kurang 5 tahun dan hanya dapat dilunasi setelah memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari Bank Indonesia;

(iii) Modal tersedia untuk menyerap kerugian pada saat likuidasi dan bersifat subordinasi, yang secara jelas dinyatakan dalam dokumentasi penerbitan;

(iv) Pembayaran pokok atau imbal hasil ditangguhkan dan diakumulasikan antar periode (accumulative), termasuk pembayaran pada saat jatuh tempo, apabila: (i) pembayaran dimaksud dapat menyebabkan bank melanggar kewajiban penyediaan modal minimumnya (secara individual atau secara konsolidasi), (ii) bank dalam keadaan rugi atau (iii) kondisi profitabilitas bank tidak memungkinkan untuk membayar imbal hasil tersebut;

(v) Modal tidak diproteksi maupun dijamin oleh bank atau anak perusahaannya;

(vi) Apabila disertai dengan fitur opsi beli (call option), fitur opsi beli (call option) hanya dapat dieksekusi paling kurang 5 tahun setelah instrumen modal diterbitkan dan atas persetujuan terlebih dahulu dari Bank Indonesia, dengan dokumentasi penerbitan instrumen modal secara jelas menyatakan persyaratan ini;

(vii) Apabila mengandung fitur step-up, fitur step-up hanya dapat dieksekusi satu kali selama periode instrumen dan harus dieksekusi setelah jangka waktu paling kurang 5 tahun setelah instrumen modal diterbitkan. Eksekusi fitur step-up harus sejalan dengan kondisi pasar dan tidak lebih besar dari 100 basis points atau 50,0% dari marjin (credit spread) awal. Fitur

step-up harus dinyatakan secara jelas dalam dokumentasi penerbitan instrumen; dan

(viii) Penerbitan modal harus disetujui oleh Bank Indonesia untuk diperhitungkan sebagai komponen modal.

Fitur opsi beli (call option) pada modal Pelengkap Level Bawah (Lower Tier II) dapat dieksekusi oleh bank sepanjang (i) bank memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari Bank Indonesia untuk mengeksekusi fitur opsi beli (call option), (ii) eksekusi fitur opsi beli (call option) tidak menyebabkan penurunan modal menjadi di bawah persyaratan rasio kecukupan modal minimum, atau (iii) instrumen modal tersebut digantikan dengan instrumen modal lain yang mempunyai (x) kualitas sama atau lebih baik dan (y) dalam jumlah yang sama atau jumlah yang berbeda sepanjang tidak melebihi 50,0% dari modal Inti (Tier I).

Jumlah instrumen modal yang dapat diperhitungkan sebagai modal Pelengkap Level Bawah (Lower Tier II) adalah jumlah modal Pelengkap Level Bawah (Lower Tier II) dikurangi amortisasi, yang dihitung dengan menggunakan metode garis lurus. Amortisasi tersebut dapat dilakukan untuk sisa jangka waktu instrumen 5 tahun terakhir.

Aset tertimbang menurut risiko terdiri dari seluruh aset pada neraca bank bersama-sama dengan beberapa item di luar neraca

(off-balance sheet items) yang tertimbang oleh persentase tertentu tergantung pada risiko yang melekat pada tipe aset. Peraturan Bank

Indonesia juga mewajibkan perhitungan laba dan rugi mengenai persyaratan kecukupan modal ditunjukkan tanpa memperhitungkan pajak penghasilan yang ditangguhkan.

Seluruh bank harus memperhatikan risiko kredit dan risiko operasional dalam mempertahankan persyaratan kecukupan modal mereka. Namun demikian, beberapa bank yang memenuhi kriteria di bawah ini juga harus memperhatikan risiko pasar dalam mempertahankan persyaratan kecukupan modal mereka. Kriteria tersebut adalah sebagai berikut:

(a) Bank yang secara individual memenuhi salah satu kriteria sebagai berikut: (i) Bank dengan total aset sebesar Rp. 10 triliun atau lebih;

(ii) Bank devisa dengan posisi instrumen keuangan berupa surat berharga dan/atau transaksi derivatif dalam Trading Book sebesar Rp. 20 miliar atau lebih; atau

(iii) Bank bukan bank devisa dengan posisi instrumen keuangan berupa surat berharga dan/atau transaksi derivatif suku bunga alam Trading Book sebesar Rp. 25 miliar atau lebih;

dan/atau

(b) Bank yang, secara konsolidasi dengan anak perusahaannyam memenuhi salah satu kriteria sebagai berikut:

(i) Bank devisa yang secara konsolidasi dengan anak perusahaan memiliki posisi instrumen keuangan berupa surat berharga termasuk instrumen keuangan yang terekspos Risiko Ekuitas dan/atau transaksi derviatif dalam Trading Book dan/atau instrumen keuangan yang terekspos Risiko Komoditas dalam Trading Book dan Banking Book sebesar Rp. 20 miliar atau lebih; atau

(ii) Bank bukan bank devisa yang secara konsolidasi dengan anak perusahaan memiliki posisi instrumen keuangan berupa surat berharga termasuk instrumen keuangan yang terekspos Risiko Ekuitas dan/atau transaksi derivatif dalam trading

book dan/atau instrumen keuangan yang tereskpos risiko komoditas dalam trading book dan banking book sebesar Rp.

25 miliar atau lebih.

Kewajiban penghitungan risiko pasar tersebut juga berlaku untuk bank yang memiliki jaringan kantor dan/atau anak perusahaan di negara lain maupun kantor cabang dari bank yang kantor pusatnya berkedudukan di luar negeri. Peraturan Bank Indonesia juga menetapkan bahwa bank dapat meperhitungkan modal pelengkap tambahan (seperti pinjaman subordinasi jangka pendek) (Tier III) ketika menghitung persyaratan kecukupan modal baik secara individual ataupun secara konsolidasi dengan anak perusahaannya. Meskipun demikian, penghitungan modal pelengkap tambahan Tier III dalam penghitungan persyaratan kecukupan modal hanya dapat digunakan untuk menghitung risiko pasar.

Berdasarkan peraturan Bank Indonesia, Bank Indonesia dapat menempatkan suatu bank umum dalam pengawasan khusus apabila, berdasarkan evaluasi Bank Indonesia, (i) rasio kecukupan modal bank turun menjadi di bawah 8,0%, (ii) dana wajib minimum dalam Rupiah turun menjadi di bawah dana wajib minimum yang disyaratkan atau (iii) bank mengalami kesulitan likuiditas dasar. Bank Indonesia dapat mengambil tindakan-tindakan tertentu sehubungan dengan bank manapun yang ditempatkan dalam pengawasan khusus yang persyaratan kecukupan modalnya sama dengan atau di bawah 6,0%, termasuk, tetapi tidak terbatas, memerintahkan bahwa:

(a) Bank dilarang melakukan distribusi modal;

(b) Bank dilarang melakukan pembayaran pinjaman subordinasi;

(c) Bank dilarang untuk melakukan transaksi apapun dengan pihak terafiliasi atau pihak manapun yang ditetapkan oleh Bank