• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIRI DAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM

2.2 Bimbingan Pengembangan Diri .1 Pengertian Bimbingan

2.2.3 Macam-Macam Pengembangan Diri

Sudah banyak para ahli yang mengemukakan metode pengembangan diri dengan menggunakan berbagai pendekatan, di antaranya melalui pendekatan tasawuf dan konsep kecerdasan, khususnya kecerdasan intelektual atau sering disebut dengan istilah IQ (Intelligence Quotient) yang sempat dimitoskan sebagai satu-satunya kriteria kecerdasan manusia.

Sir Francis Gallon, ilmuwan yang memelopori studi IQ dalam karyanya Heredity Genius (1869), yang kemudian disempurnakan oleh Alfred Binet dan Simon. IQ pada umumnya mengukur kemampuan yang berkaitan dengan pengetahuan praktis, daya ingat (memory), daya nalar (reasorang), perbendaharaan kata, dan pemecahan masalah (vocabulary

and problem solving). Mitos ini dipatahkan oleh Daniel Goleman yang

memperkenalkan kecerdasan emosional atau disingkat EQ (Emotional

Quotient) dalam bukunya Working with Emotional Intelligence (1999)

dengan menunjukkan bukti empiris dari penelitiannya bahwa orang-orang yang IQ-nya tinggi, tidak terjamin hidupnya akan sukses. Sebaliknya, orang yang memiliki EQ, banyak yang menempati posisi kunci di dunia eksekutif. Asumsi ini diperkuat oleh Dannah Zohar, sarjana fisika dan filsafat di MIT (Massachusetts Institute of

Technology), yang memelopori munculnya kecerdasan spiritual atau SQ

(Spiritual Quotient) dalam bukunya Spiritual Intellegence —The

Ultimate Intellegence (2000).

Di Indonesia, Ary Ginanjar menulis sebuah buku yang berusaha meramu ketiga model kecerdasan tersebut dengan berangkat dari rukun Islam dan rukun Iman, maka lahirlah ESQ (Emotional Spiritual

Quotient). Sedangkan KH. Toto Tasmara, seorang dai sufistik sekaligus

pendiri Labmend (Laboratory for Management & Mental Development), menggagas kecerdasan ruhaniah (Transcendental Intelligence) yang bertumpu pada ajaran cinta (mahabbah), yaitu cinta sebagai keinginan

untuk memberi dan tidak memiliki pamrih untuk memperoleh imbalan. Toto Tasmara menegaskan bahwa cinta bukan komoditas, tetapi sebuah kepedulian yang sangat kuat terhadap moral dan kemanusiaan (Adz Dzakiey, 2005: xiv).

Melengkapi model-model kecerdasan di atas, KH. Hamdani BDz, seorang praktisi yang menangani pendidikan, pelatihan, dan konseling spiritual di Yogyakarta, mengenalkan kecerdasan kenabian atau kecerdasan profetik {Prophetic lntelligence) dalam bukunya. Tentunya, istilah ini memiliki pengertian dan keunikan tersendiri yang menjadikannya berbeda dan memiliki signifikansi tersendiri dari model kecerdasan lainnya. Kecerdasan profetik bertumpu pada nurani yang bersih dari penyakit-penyakit ruhaniah, seperti syirik, kufur, nifaq, dan fasik. Dalam kondisi nurani yang sehat itulah Allah Swt. menurunkan rasa percaya, yakin, dan takut kepada-Nya. Dari rasa itulah lahir kekuatan dan keinginan untuk melakukan perbaikan-perbaikan dan perubahan-perubahan yang lebih positif, lebih baik, dan lebih benar. Pribadi yang sehat rukun adalah pribadi yang ruhaninya telah berfungsi secara baik di dalam diri hingga dapat memberikan pengaruh positif terhadap seluruh aktivitas mental, spiritual, dan fisik (Adz Dzakiey, 2005: xiv).

Menurut Adz-Dzakiey, untuk membangun kesehatan ruhani sebagai dasar prophetic intelligence dan sebagai pengembangan diri sebagai berikut:

1) Proses Penyadaran Diri

Menurut Adz-Dzakiey, (2005: 34) dalam proses penyadaran diri, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh siapa saja yang telah mulai termotivasi untuk melakukan perbaikan. Pertama, yang harus diberikan kepada mereka ini adalah pemahaman tentang "Ilmu Tauhid," yaitu, suatu ilmu yang membahas tentang kemaha Esaan Allah Swt. Dengan ilmu ini, diharapkan seseorang mendapat gambaran tentang bagaimana cara bersikap terhadap pelbagai persoalan hidup dan kehidupan yang telah, sedang, dan akan senantiasa dijalani. Dengan ilmu tauhid, seseorang akan terlepas dari bersikap syirik terhadap perbuatan-perbuatan dan kebijakan-kebijakan (afal) Allah sebagaimana yang terlihat dalam substansi nama-nama-Nya Yang Maha Baik (al-Asma' al-Husna), yang tertera dalam sifat-sifat-Nya yang tiada tampak pada makhluk-Nya secara kasat mata (salbiyyah dan ma'nawiyah), serta sifat-sifat-Nya yang tampak pada ciptaan-Nya secara kasat mata (ma'ani).

Menurut Adz-Dzakiey, (2005: 34 – 35) dengan mempelajari dan mengkaji "Ilmu Tauhid" secara baik dan sungguh-sungguh, insya Allah seseorang akan dapat bersikap sabar atau tabah, berprasangka baik, optimis, lapang dada (ridha), ikhlas, serta dapat menyadari dengan baik, bahwa segala apa pun yang telah, sedang, dan akan terjadi, semuanya tidak akan pernah terjadi, melainkan karena kuasa dan kehendak-Nya. Baik dan buruk, suka dan duka, kaya dan miskin, menyenangkan dan menyakitkan, semuanya tidak akan pernah terjadi

melainkan karena kuasa dan kehendak-Nya. Dengan ilmu ini, seseorang akan menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di permukaan bumi ini pasti mengandung "hikmah ketuhanan" yang sangat besar. Artinya, dengan peristiwa-peristiwa itu seseorang akan menjadi insan yang lebih dewasa, mulia, tegar, berwawasan luas, mempunyai daya juang yang tangguh, daya saing yang hebat, serta memiliki guru yang selalu hidup dalam dirinya, yakni pengalaman-pengalaman hidup.

Di samping ilmu Tauhid, pada proses ini sangat perlu pula yang kedua yaitu diberikan "Ilmu Peribadahan yang bersifat vertikal serta nilai-nilai filosofisnya." Dengan ilmu ini, seseorang akan dapat merasakan dan memahami secara mendalam tentang hakikat peribadahan secara batiniah, bukan sekadar formalistik. Seperti; hakikat ibadah salat sebagai proses penyucian dan penyehatan fisik, indera, perilaku, gerak-gerik dan fungsi spiritualnya; hakikat ibadah puasa sebagai proses penyucian dan penyehatan jiwa; ibadah dzikrullah sebagai proses penyucian dan penyehatan kalbu; ibadah doa sebagai proses penyucian dan penyehatan aktivitas kehidupan; ibadah membaca Al-Qur'an sebagai proses penyucian dan penyehatan dari kebodohan; ibadah zakat sebagai proses penyucian dan penyehatan harta dan eksistensi sosial; serta ibadah haji sebagai proses penyucian, penyehatan, dan penyempurnaan keislamanan diri.

2) Proses Penyucian Ruhani

Menurut Adz-Dzakiey, (2005: 34 – 35) setelah tanda-tanda kesadaran diri itu hadir dalam diri maka perbuatan dan tindakan yang harus dilakukan adalah mengaplikasikan kesadaran dengan penyucian ruhani, melalui pertaubatan yang sungguh-sungguh di hadapan Allah.

"Adapun orang-orang yang telah bertaubat dan beriman serta telah mengerjakan perbuatan yang saleh, maka semoga ia termasuk orang-orang yang memperoleh kemenangan." (Q.S. al-Qashash: 67).

Pada praktiknya, proses pertaubatan ini dilakukan dengan tiga tahapan, yaitu:

a) Tahap awal, karena takut terhadap siksa atau hukuman (taubat), b) Tahap kedua, karena mengharap pahala dari Allah

(inayah/kembali),

c) Tahap ketiga, karena mematuhi peraturan Allah (ubat/kembali). Menurut Adz-Dzakiey, (2005: 34 – 36) proses pertaubatan ini akan dapat berfungsi efektif sebagai penyuci ruhani apabila dilakukan di atas prinsip-prinsip utama, yaitu antara lain:

(1) Niat yaitu, semata-mata pertaubatan dilakukan karena mengharap ridha, cinta, dan perjumpaan dengan-Nya.

(2) Iktikad, yaitu, adanya prasangka dan keyakinan yang baik terhadap Allah bahwa Dia pasti akan menerima pertaubatan hamba-Nya.

(3) Maksud dan tujuan, yaitu, pertaubatan dilakukan dalam rangka melepaskan diri dari gangguan setan dan iblis, serta melenyapkan kotoran dan najis yang melekat dalam diri, jiwa, kalbu, akal pikiran, indera, jasad, dan perilaku; dengan cara menghampiri-Nya.

(4) Ber'azam, yaitu, mengokohkan diri dengan sekuat tenaga dan pendirian, bahwa ia tidak akan pernah lagi mengulangi suatu perbuatan apa pun yang dapat mengotori jiwa dan ruhaninya. (5) Uzlah, yaitu, mengasingkan diri untuk sementara waktu dari

keramaian manusia dan dunia, dengan maksud agar proses pertaubatan itu tidak akan terganggu, dan dapat berhasil dengan baik.

(6) Khalwat, yaitu menyepikan diri di suatu tempat, dalam rangka menghadirkan rasa keberadaan Allah dalam kehidupan dirinya dengan memperbanyak zikir dan istighfar.

(7) Adab, yaitu, sikap sopan-santun di hadapan Allah dalam melakukan pertaubatan. Hendaknya proses pertaubatan dibuka dengan salat taubat dua rakaat, empat rakaat atau lebih, dan selalu memelihara kesucian diri dari hadas besar atau kecil, atau memelihara diri dari segala yang dapat membatalkannya selama dalam keadaan berzikir dan beristighfar.

(8) Dalam bimbingan dan pengawasan ahlinya. Proses pertaubatan yang dilakukan oleh seseorang harus berada di bawah bimbingan dan pengawasan ahlinya, karena jika tidak, dikhawatirkan akan dapat membahayakan proses pertaubatan itu. Karena jin, setan, iblis, dan manusia yang berjiwa ketiganya tidak akan merasa senang, kapan saja mereka dapat mengacaukan proses itu bahkan dapat menyesatkannya.

(9) Evaluasi. Salah satu tugas dan tanggungjawab pembimbing dalam proses pertaubatan atau pengembangan penyehatan ruhani adalah melakukan evaluasi, yakni, mengevaluasi proses pertaubatan itu. Sudah sejauh mana tahapan dari pertaubatan itu, apakah telah masuk ke dalam kondisi taubat, inabah, atau

aubah, serta sejauh mana indikasi pertaubatan itu telah

membuahkan hasil. Indikasi mulai berhasilnya suatu pertaubatan biasanya adalah hadirnya rasa ketenteraman dan kedamaian, hati mulai lembut, motivasi ibadah1 semakin kuat, kadang-kadang batin mulai tersingkap menampakkan isyarat-isyarat ketuhanan,

1

Hakikat ibadah ialah ketundukan jiwa kepada Allah dengan perasaan cinta kepada-Nya. Karena itu, ibadah yang dilakukan dengan tidak berdasarkan ketundukan jiwa kepada Allah dan cinta kepada-Nya, tidak menjadi ibadah. Itulah sebabnya untuk mendasarkan ketundukan jiwa kepada Allah yang menjadi hakikat ibadah itu ialah dengan ilmu pengetahuan. Dengan demikian dapat dimengerti, bahwa ibadah itu adalah dasar ilmu pengetahuan untuk manusia, dasar yang menyelaraskan bagi tujuan hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri ialah kebahagiaan hidup bersama (Muhammady, tth: 122 – 123). Ilmu pengetahuan yang terlepas dari dasarnya (ibadah) akan terlepas pula dari sifat tujuannya semula yaitu kebenaran. Dengan demikian, ilmu pengetahuan yang telah berubah dari sifat dan hakikatnya itu menciptakan kekacauan hidup bersama pula. Keterangan ini dapat dilihat kebenarannya dalam pergaulan hidup manusia saat ini, di mana memuncaknya ilmu pengetahuan di situ memuncak kekacauan yang tidak habis-habisnya. Semua itu adalah akibat terlepasnya ilmu pengetahuan dari dasarnya semula yaitu ibadah. Ibadah adalah sebuah kata yang menyeluruh, meliputi apa saja yang dicintai dan diridlai Allah, menyangkut seluruh ucapan dan perbuatan yang tidak tampak maupun tampak (Taimiyah, 1982: 1).

kulit di permukaan jasad tampak bersih, hadirnya rasa takut untuk meninggalkan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, serta hadirnya rasa kesabaran diri (Adz-Dzakiey, 2005: 37).

Menurut Adz-Dzakiey, (2005: 37) setelah memperoleh hasil dari penyucian dan pertaubatan diri, yakni lenyapnya kotoran-kotoran dan najis-najis batiniah yang telah menutupi jiwa, kalbu, akal pikiran, indera, fisik, dan perilaku, maka ada beberapa hal yang terus dilakukan sebagai tindak lanjut dari upaya pengembangan kesehatan ruhani, yakni antara lain:

a) Selalu meningkatkan kuantitas ibadah2 vertikal yang berkualitas. b) Selalu mengevaluasi perkembangan kesehatan ruhani yakni, sudah

sejauh mana ibadah-ibadah yang dilakukan dapat menyehatkan ruhani.

c) Selalu mempelajari dan mengkaji ayat-ayat Allah baik yang terhampar pada alam semesta atau makhluk-Nya, maupun yang tertulis pada firman-Nya di dalam Al-Qur'an yang terdiri dari 30 juz 114 surat dan 6666 ayat.

d) Selalu mencari hikmah-hikmah atau pesan-pesan yang tersurat maupun tersirat dari Al-Qur'an, yang terimplementasikan pada berbagai peristiwa di dalam kehidupan sehari-hari. Semakin cerdas diri mencari hikmah-hikmah dari seluruh kejadian yang muncul dalam aktivitas hidup, maka semakin sehat pulalah ruhani. Sehingga, ruhani akan dapat selalu mengkoordinasi pikiran, indera, fisik, dan perilaku dalam manajemen ketuhanan yang mengandung kerahmatan, keberkahan, dan kasih sayang.

Menurut Adz-Dzakiey, (2005: 38) pada proses pengembangan, prinsipnya adalah proses pendidikan, pelatihan, dan pengembangan

2

Ibadah berarti mencakup semua perilaku dalam semua aspek kehidupan yang sesuai dengan ketentuan Allah SWT yang dilakukan dengan ikhlas untuk mendapatkan ridha Allah SWT (Daradjat, et.al, 1984: 300). Dalam Islam ibadah memberikan latihan rohani yang diperlukan manusia itu. Semua ibadah yang ada dalam Islam, salat, puasa, zakat, dan haji, bertujuan membuat roh manusia supaya senantiasa tidak lupa pada Tuhan, bahkan senantiasa dekat pada Tuhan sebagai Dzat Yang Maha Suci dapat mempertajam kesucian seseorang. Rasa kesucian yang kuat akan dapat menjadi rem bagi hawa nafsu untuk melanggar nilai-nilai moral, peraturan dan hukum yang berlaku dalam memenuhi keinginannya (Nasution, 1985: 37).

kesehatan ruhani itu sendiri secara integritas. Artinya, dalam proses ini, seseorang akan memperluas wawasan keilmuan, keislaman, keihsanan, dan ketauhidannya dalam bentuk konsep, teoretis, praktis, dan empiris dari tingkat dasar, menengah, dan atas, sehingga, ruhani benar-benar mencapai tingkat yang sempurna.

Menurut Adz-Dzakiey, (2005: 34 – 38) itulah tiga metode penyehatan dan pengembangan kesehatan ruhani sebagai pengembangan diri yang positif yang bersifat minimal, yang dapat dilakukan oleh siapa saja yang mengharapkan ruhani dan jiwanya sehat di hadapan Allah dan makhluk-Nya.

Menurut konsep diri pengembangan diri dapat dikelompokkan menjadi konsep diri positif dan konsep diri negatif. Dalam perspektif tasawuf khususnya tasawuf akhlaqi yaitu ajaran tasawuf yang membahas tentang kesempurnaan dan kesucian jiwa yang dirumuskan pada pengaturan sikap mental dan pendisiplinan tingkahlaku yang ketat, guna mencapai kebahagiaan yang optimal, manusia harus lebih dahulu mengidentifikasikan eksistensi dirinya dengan ciri-ciri ketuhanan melalui penyucian jiwa raga yang bermula dari pembentukan pribadi yang bermoral paripurna, dan berakhlak mulia, yang dalam ilmu tasawuf dikenal dengan istilah takhalli, tahalli dan tajalli.