KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Spiritualitas dan Religiusitas 1. Pengertian Spiritualitas
2. Pengertian Religiusitas a. Pengertian Religiusitas
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2008: 944) mengartikan kata religiusitas diartikan sebagai pengabdian terhadap agama.
Religiusitas dalam kamus sosiologi (M. Quraish Shihab, 2006: 3) mempunyai arti : Pertama, yaitu bersifat keagamaan ; taat beragama. Kedua, religiusitas merupakan penghayatan keagamaan dan kedalaman kepercayaan yang diekspresikan dengan melakukan ibadah sehari-hari, berdoa, dan membaca kitab suci. Ketiga, Wujud interaksi harmonis antara pihak yang lebih tinggi kedudukannya (yaitu Allah SWT), dari yang lain (yaitu makhluk), menggunakan tiga konsep dasar (yaitu iman, Islam dan ihsan).
Menurut etimologi kuno (Driyarkara, 1988: 6), religi berasal dari bahasa Latin “religio” yang akar katanya adalah “re” dan “Iigare” yang mempunyai arti mengikat kembali, hal ini berati dalam religi terdapat aturan-aturan dan kewajiban- kewajiban yang harus dipenuhi dan mempunyai fungsi untuk mengikat diri seseorang dalam hubungannya dengan sesama, alam dan Tuhan.
Jalaluddin menyebutkan bahwa religiusitas merupakan konsistensi antara kepercayaan terhadap agama sebagai unsur konatif, perasaan terhadap agama sebagai unsur afektif dan perilaku agama sebagai unsur kognitif. Jadi aspek keberagamannya merupakan integrasi dari pengetahuan, perasaan dan perilaku keagamaan dalam diri manusia.
Hawari (1996) menyebutkan bahwa religiusitas merupakan penghayatan keagamaan dan kedalaman kepercayaan yang diekspresikan dengan melakukan ibadah sehari-hari, berdoa, dan membaca kitab suci.
Ancok dan Suroso (2001) mendefinisikan religiusitas sebagai keberagamaan yang berarti meliputi berbagai macam sisi atau dimensi yang bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual (beribadah), tapi juga ketika melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural. Sumber jiwa keagamaan itu adalah rasa ketergantungan yang mutlak (sense of depend). Adanya ketakutan-ketakutan akan ancaman dari lingkungan alam sekitar serta keyakinan manusia itu tentang segala keterbatasan dan kelemahannya. Rasa ketergantungan yang mutlak ini membuat manusia mencari kekuatan sakti dari sekitarnya yang dapat dijadikan sebagai kekuatan pelindung dalam kehidupannya dengan suatu kekuasaan yang berada di luar dirinya yaitu Tuhan.
McSherry (2006) menyatakan bahwa spirit adalah esensi dan energi keberadaan manusia. Kamus Cambridge of Philosophy mengartikan spirit sebagai suatu zat atau makhluk immaterial yang dianggap bersifat ketuhanan. Spirit ini memberi kekuatan, tenaga vitalitas, energi, membentuk disposisi, menjadi dasar moral ataupun motivasi. Spirit-lah yang mendorong manusia untuk mengembangkan keterbatasan diri untuk melampaui batas fisik hukum-hukum alam, mencapai keteraturan hidup, serta menyentuh dimensi transeden pada kehidupan nyata. Stoll (dalam McSherry, 2006) menyatakan spirit manusia adalah Imago dei (Image of God atau gambaran ketuhanan) yang ada pada setiap individu yang membuat setiap orang dapat berpikir, merasakan, bermoral, dan secara kreatif berusaha menjadikan dirinya bermakna kepada Tuhan dan orang lain. Pemaparan diatas
menjelaskan bahwa spirit merupakan sosok transeden yang dituhankan oleh manusia yang dapat mempengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku.
Keberadaan spirit dalam setiap manusia membentuk dimensi spiritual secara individual, yang artinya bekerja dengan spirit. Keyakinan diri terhadap adanya dimensi spiritual inilah yang disebut spiritualitas. Spiritualitas menekankan pada unsur, zat, atau sesuatu yang dipercayai individu memiliki kekuatan yang lebih tinggi dan dipersepsikan sebagai Tuhan hingga mampu menimbulkan suatu kebutuhan serta kecintaan terhadapNya (McSherry, 2006).
Murray dan Zentner (dalam McSherry, 2006) menjelaskan spiritualitas sebagai kualitas yang bersinergi dengan keterikatan religius (Tuhan), yang memberikan inspirasi, penghargaan terhadap orang lain, kekaguman, serta makna dan tujuan hidup. Spiritualias mengharmoniskan keberadaan individu dengan alam semesta, sebab memberi keyakinan akan keberadaan kekuatan maha besar (high power) yang jauh melebihi kekuatan manusia (Murray & Zentner, 1989, Reed, 1992 dalam McSherry, 2006).
Pemaparan tersebut dapat menjelaskan spiritualitas sebagai kualitas interaksi sosial individu dengan lingkungannya serta adanya kesadaran akan kehadiran unsur transeden yang dituhankan. Spiritualitas menurut Schreurs (2002) merupakan kepercayaan individu terhadap sosok transeden dan meyakini bahwa terdapat hubungan individual terhadapnya. Spiritualitas
mencakup inner life, idealisme, sikap, pemikiran, perasaan dan
pengharapan terhadap sosok transeden yang dianggap berkuasa.
Spiritualitas juga mencakup bagaimana individu mengekspresikan hubungannya dengan sosok transeden tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ekspresi ini terwujud dalam bentuk ritual atau aktifitas rutin spiritual yang dilakukan individu. Elkins dkk. (dalam Mohamed, Wisnieski, Askar, & Syed, 2004) mengemukakan bahwa spiritualitas sebagai cara individu memahami keberadaan maupun pengalaman yang sedang terjadi padanya. Berawal dari kesadaran tentang adanya realitas transeden, individu dapat memahami eksistensi diri. Eksistensi ini mencakup pandangan dan nilai-nilai yang dikaitkan dengan diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan proses kehidupan yang dijalani.
Spiritualitas sering dikaitkan dengan religius, namun religius sangat berbeda dengan spiritual. Religius menurut Miller dan Thoresen (Ekas, Whitman & Shivers, 2009) sering dikaitkan sebagai intuisi, kepercayaan individu dan praktek keagamaan individual secara spesifik, sedangkan spiritualitas diasosiasikan dengan keterhubungan atau perasaan di dalam hati dengan Tuhan serta sinergisitas individu dengan lingkungan sosialnya. Carlozzi dkk. (2010) menyimpulkan pengertian spiritualitas dalam tiga aspek utama, yakni (1) Sebagai keyakinan individu terhadap sosok transeden yang dituhankan dan disertai dengan aktifitas yang bertujuan untuk mendekatkan diri dengan sosok transeden tersebut; (2) Pencarian makna dan tujuan dalam pengalaman-pengalaman kehidupan; dan (3) Hasrat atau rasa kebersamaan, keterikatan, dan kesatuan pada semua
makhluk hidup.
Isgandarova (2005) menyatakan spiritualitas sebagai kesadaran akan keberadaan unsur transeden yang diyakini sebagai Tuhan, dan dianggap memegang kuasa penuh terhadap dirinya. Sosok Tuhan diyakini sebagai sumber keseimbangan dan rasa aman, sehingga individu merasa menjadi bagian atau sebagai kesatuan yang utuh dan integral dengan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan. Isgandarova (2005) juga menambahkan bahwa spiritualitas berkembang secara kontinyu. Layaknya perkembangan secara fisik dan psikologis, spiritualitas berkembang dengan proses pembelajaran, refleksi, keyakinan, dan kekaguman pada pengalaman-pengalaman tertentu. Oleh karena itu spiritualitas dapat mempengaruhi pembentukan karakter dan identitas individual.
Berdasarkan berbagai pandangan para ahli mengenai spiritualitas, peneliti menyimpulkan spiritualitas sebagai keyakinan individu terhadap keberadaan, kehadiran, dan keterlibatan sosok transeden yang dituhankan dalam kehidupan sehari-hari. Keyakinan tersebut disertai dengan aktifitas yang bertujuan untuk mendekatkan diri dengan sosok transeden (Tuhan). Spiritualitas memunculkan hasrat atau rasa kebersamaan, keterikatan, dan kesatuan pada alam dan semua makhluk hidup, sehingga menjadi jalan untuk pencarian makna dan tujuan dalam pengalaman-pengalaman kehidupan yang dilalui individu.
Meski berakar kata sama, namun dalam penggunaannya istilah religiusitas mempunyai makna yang berbeda dengan religi atau agama. Jika agama menunjuk pada aspek formal yang berkaitan dengan aturan-aturan dan kewajiban-kewajiban; religiusitas menunjuk pada aspek religi yang telah dihayati oleh individu di dalam hati (Mangunwijaya, 1982). Religiusitas seringkali diidentikkan dengan keberagamaan. Religiusitas diartikan sebagai seberapa jauh pengetahuan, seberapa kokoh keyakinan, seberapa pelaksanaan ibadah dan kaidah dan seberapa dalam penghayatan atas agama yang dianutnya. Bagi seorang Muslim, religiusitas dapat diketahui dari seberapa jauh pengetahuan, keyakinan, pelaksanaan dan penghayatan atas agama Islam (Fuad Nashori dan Rachmy Diana Mucharam, 2002).
Maka dari itu, seluruh tindakan dan aktifitas yang dilakukan harus dikarenakan atas Allah. Bukan hanya dalam bentuk ibadah melainkan juga dalam segala kegiatan dunia. Memfokuskan kehidupan kita pada satu tujuan, yaitu tauhid, akan membuat kita menjadi lebih efisien (Jabnour Naceur, 2005: 39). Seluruh tindakan dan tujuan kita di dunia menjadi terarah. Apalagi berhubungan dengan penanaman nilai-nilai pendidikan islam pada anak, yang harus memiliki tujuan akhir menjadi anak yang sholeh.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa religiusitas adalah kedalaman penghayatan keagamaan seseorang dan keyakinannya terhadap adanya tuhan yang diwujudkan dengan mematuhi perintah dan menjauhi larangan dengan keikhlasan hati dan dengan seluruh jiwa dan raga. Religiusitas berarti komitmen penuh kepada Allah dan kepercayaan bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan dengan keyakinan tersebut kita tidak membiarkan tujuan dan segala tindakan kita terpecah menjadi dua tujuan yaitu kehidupan dunia dan
kehidupan akhirat.
Ananto dalam bukunya (2001: 112) menjelaskan religius seseorang terwujud dalam berbagai bentuk dan dimensi, yaitu:
1) Seseorang boleh jadi menempuh religiusitas dalam bentuk penerimaan ajaran-ajaran agama yang bersangkutan tanpa' merasa perlu bergabung dengan kelompok atau organisasi penganut agama tersebut. Boleh jadi individu bergabung dan menjadi anggota suatu kelompok keagamaan, tetapi sesungguhnya dirinya tidak menghayati ajaran agama tersebut. 2) Pada aspek tujuan, religiusitas yang dimiliki seseorang baik berupa
pengamatan ajaran-ajaran maupun mengabungkan diri ke dalam kelompok keagamaan adalah semata-mata kegunaan atau manfaat intrinsik itu, melainkan kegunaan manfaat yang justru tujuannya lebih bersifat ekstrinsik yang akhirnya dapat ditarik kesimpulan dalam empat dimensi religius, yaitu aspek intrinsik dan aspek ekstrinsik, serta sosial intrinsik dan sosial ekstrinsik.
c. Dimensi Religiusitas
Konsep religiusitas yang dikutip oleh Ancok, D Suroso, ada lima macam dimensi keagamaan, yakni:
1) Dimensi keyakinan (the ideological dimension)
Dimensi keyakinan, dimensi yaitu berisi pengharapan-pengharapan dimana orang religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui kebenaran doktrin-doktrin tersebut. Setiap agama mempertahankan kepercayaan dimana para penganut diharapkan akan taat pada ajaran agamanya.
Dalam ajaran Islam, dimensi ini menyangkut keyakinan pada rukun iman, kepercayaan seseorang terhadap kebenaran- kebenaran agama-agamanya dan keyakinan masalah-masalah ghaib yang diajarkan agama.
2) Dimensi praktek agama (the ritualistic dimension)
Dimensi ritual; yaitu aspek yang mengukur sejauh mana seseorang melaukan kewajiban ritualnya dalam agama yang dianut. Misalnya pergi ke tempat ibadah, berdoa, pribadi, berpuasa, dan lain-lain. Dimensi ritual ini merupakan perilaku keberagmaan yang berupa peribadatan yang berbentuk upacara keagamaan.
Pengertian lain mengemukakan bahwa ritual merupakan sentiment secara tetap dan merupakan pengulangan sikap yang benar dan pasti. Perilaku seperti ini dalam Islam dikenal dengan istilah mahdaah yaitu meliputi salat, puasa, haji, zakat, dan kegiatan lain yang bersifat ritual.
3) Dimensi ihsan dan penghayatan (the experiental dimension)
Sesudah memiliki keyakinan yang tinggi dan melaksanakan ajaran agama (baik ibadah maupun amal) dalam tingkatan yang optimal maka dicapailah situasi ihsan. Dimensi ihsan berkaitan dengan seberapa jauh seseorang merasa dekat dan dilihat oleh Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Dimensi ini mencakup pengalaman dan perasaan dekat dengan Allah, perasaan nikmat dalam menjalankan ibadah,dan perasaan syukur atas nikmat yang dikaruniakan oleh Allah dalam kehidupan
mereka.
4) Dimensi pengetahuan agama (the intellectual dimension)
Dimensi ini berkaitan dengan pengetahuan dan pemahaman seseorang terhadap ajaran-ajaran agamanya. Dimensi ini mengacu kepada harapan bahwa orang-orang yang beragama paling tidak memiliki sejumlah minimal pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab suci dan tradisi-tradisi. Dan Al-qur'an merupakan pedoman hidup sekaligus sumber ilmu pengetahuan. Hal tersebut dapat dipahami bahwa sumber ajaran islam sangat penting agar religiusitas seseorang tidak sekedar stribut dan hanya sampai dataran simbiolosme ekstoterik.
Maka, aspek dalam dimensi ini meliputi empat bidang yaitu: akidah, akhlak, serta pengetahuan Al-Qur‟an dan hadist. Dimensi pengetahuan dan keyakinan jelas berkaitan satu sama lain, karena pengetahuan mengenai suatu keyakinan adalah syarat bagi penerimanya 5) Dimensi pengamalan dan konsekuensi (the consequential dimension)
Konsekuensi komitmen agama berlainan dari keempat dimensi yang sudah dibicarakan diatas. Dimensi ini mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktik, pengalaman, dan pengetahuan seseorang dari hari ke hari. Dimensi ini berkaitan dengan kegiatan pemeluk agama untuk merealisasikan ajaran-ajaran dan lebih mengarah pada hubungan manusia tersebut dengan sesamanya dalam kehidupan sehari-hari yang berlandaskan pada etika dan spiritualitas agama yang dianutnya. Pada hakekatnya, dimensi konsekuensi ini lebih dekat dengan aspek sosial. Yang meliputi ramah dan baik terhadap orang lain, menolong sesama, dan menjaga lingkungan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dimensi religiusitas meliputi keyakinan, praktek agama, penghayatan, pengetahuan agama, serta pengalaman dan konsekuensi.
Menurut Glock dan Stark (1996:78) ada lima dimensi-dimensi yang menyusun religiusitas, yaitu:
a.
Religius Practice ( the Ritualistic Dimension).Tingkatan sejauh mana seseorang mengerjakan kewajiban ritual di dalam agamanya, seperti shalat, zakat, puasa dan sebagainya.Dimensi ini mencakup perilaku pemujaan, ketaatan, dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya.
Dimensi ritualistik atau peribadatan ini menunjuk pada seberapa tingkat kepatuhan seseorang dalam mengerjakan kegiatan-kegiatan ritual yang diperintahkan oleh agamanya. Kepatuhan ini ditunjukkan dengan meyakini dan melaksanakan kewajiban-kewajiban secara konsisten. Apabila jarang dilakukan maka dengan sendirinya keimanan seseorang akan luntur. Praktik keagamaan yang dilakukan individu meliputi dua hal, yaitu ritual dan ketaatan. Ritual yaitu dimana seseorang yang religius akan melakukan kegiatankegiatan keagamaan yang diperintahkan oleh agama yang diyakininya dengan melaksanakannya sesuai ajaran yang telah ditetapkan. Ketaatan yaitu
dimana seseorang yang secara batiniah mempunyai ketetapan untuk selalu menjalankan aturan yang telah ditentukan dalam ajaran agama dengan cara meningkatkan frekuensi dan intensitas dalam beribadah. Praktik-praktik keagaman ini terdiri atas dua kelas penting, yaitu:
1)
Ritual.Mengacu kepada seperangkat ritus, tindakan keagamaan formal dan praktek-praktek suci yang semua mengharapkan para pemeluk melaksanakan. Dalam agama Islam hal tersebut dilaksanakan dengan menggelar hajatan seperti pernikahan, khitanan dan sebagainya.
2)
Ketaatan.Ketaatan dan ritual bagaikan ikan dengan air, meski ada perbedaan penting. Apabila aspek ritual dari komitmen sangat formal dan khas publik, semua agama yang dikenal juga mempunyai perangkat tindakan persembahan dan kontemplasi personal yang relatif spontan, informal dan khas pribadi. Dalam ajaran agama Islam hal ini dilakukan dengan melaksanakan rukun-rukun Islam yaitu shalat, zakat, puasa.
b.
Religious Belief (the Ideological Dimension).Sejauh mana orang menerima hal-hal yang dogmatik di dalam ajaran agamanya. Misalnya kepercayaan tentang adanya Tuhan, Malaikat, kitab-kitab, Nabi dan Rasul, hari kiamat, surga, neraka dan yang lain-lain yang bersifat dogmatik.
Dimensi ini berisi pengharapan-pengharapan dimana orang religious berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui kebenaran doktrin-doktrin tersebut. Setiap agama mempertahankan seperangkat kepercayaan di mana para penganut diharapkan akan taat. Walaupun demikian, isi dan ruang lingkup keyakinan itu bervariasi tidak hanya diantara agama-agama, tetapi sering kali juga diantara tradisi-tradisi dalam agama yang sama.
Dimensi keyakinan keagamaan merujuk pada tingkat keimanan seseorang terhadap kebenaran ajaran agama, terutama terhadap ajaran- ajaran agama yang bersifat fundamental dan dogmatik. Kriterianya antara lain: yakin dengan adanya Tuhan, mengakui kebesaran Tuhan, pasrah pada Tuhan, melakukan sesuatu dengan ikhlas, selalu ingat pada Tuhan, percaya akan takdir Tuhan, terkesan atas ciptaan Tuhan dan mengagungkan nama Tuhan. Keimanan terhadap Tuhan akan mempengaruhi terhadap keseluruhan hidup individu secara batin maupun fisik yang berupa tingkah laku dan perbuatannya. Individu memiliki iman dan kemantapan hati yang dapat dirasakannya sehingga akan menciptakan keseimbangan emosional, sentimen dan akal, serta selalu memelihara hubungan dengan Tuhan karena akan terwujud kedamaian dan ketenangan sehingga ketika mendapat tekanan, individu dapat berpikir logis dan positif dalam memecahkan permasalahan yang sedang dihadapinya.
c.
Religious Knowledge (the Intellectual Dimension)Seberapa jauh seseorang mengetahuai tentang ajaran agamanya. Hal ini berhubungan dengan aktivitas seseorang untuk mengetahui ajaran-ajaran dalam agamanya. Dimensi ini menunjukkan tingkat pengetahuan dan pemahaman seseorang terhadap ajaran-ajaran agamanya, terutama yang termuat dalam kitab suci atau pedoman ajaran agamanya. Bagi individu yang mengerti, menghayati
dan mengamalkan kitab sucinya akan memperoleh manfaat serta kesejahteraaan lahir dan batin. Untuk menambah pemahaman tentang agama yang diyakini, maka seseorang perlu menambah pengetahuan dengan mengikuti ceramah keagamaan atau membaca buku agama sehingga wawasan tentang agama yang diyakini akan semakin luas dan mendalam. Dengan mantapnya pemahaman seseorang tentang ajaran agama yang diyakininya, maka individu cenderung menghadapi tekanan dengan berusaha menyelesaikan masalahnya langsung pada penyebab permasalahan dengan membuat suatu rencana dan membuat keputusan. Indikatornya antara lain: mendalami agama dengan membaca kitab suci, membaca buku-buku agama, perasaan yang tergetar ketika mendengar suara bacaan kitab suci, dan memperhatikan halal dan haramnya makanan.
Dimensi pengetahuan (Knowledge) mengacu kepada harapan bahwa orang-orang yang beragama paling tidak memiliki sejumlah minimal pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab suci dan tradisi-tradisi. Dimensi pengetahuan dan keyakinan jelas berkaitan satu sama lain, karena pengetahuan mengenai suatu keyakinan adalah syarat bagi penerimaannya. Walaupun demikian, keyakinan tidak perlu diikuti oleh syarat pengetahuan, juga semua pengetahuan agama tidak selalu bersandar pada keyakinan. Misal dalam agama Islam dengan mengikuti pengajian, membaca buku-buku yang berkaitan dengan ajaran agama Islam.
d.
Religious Feeling (the Experiental Dimension)Dimensi yang terdiri dari perasaan-perasaan dan pengalaman- pengalaman keagamaan yang pernah dirasakan dan dialami. Misalnya seseorang merasa dekat dengan Tuhan, seseorang merasa takut berbuat dosa, seseorang merasa doanya dikabulkan Tuhan, dan sebagainya.
Dimensi ini berisikan dan memperhatikan fakta bahwa semua agama mengandung pengharapan-pengharapan tertentu, meski tidak tepat jika dikatakan bahwa seseorang yang beragama dengan baik pada suatu waktu akan mencapai pengetahuan subjektif dan langsung mengenai kenyataan terakhir (kenyataan terakhir bahwa ia akan mencapai suatu kontak dengan kekuatan supernatural). Pada dimensi ini, pengaplikasiannya dengan percaya bahwa Allah yang mengabulkan do‟a- do‟a kita, yang memberi rizki pada kita sebagai umat-Nya.
Dimensi perasaan keberagamaan menunjukkan seberapa jauh tingkat kepekaan seseorang dalam merasakan dan mengalami perasaan atau pengalaman religiusnya. Dimensi ini berkaitan dengan pengalaman yang diperoleh dan dirasakan individu selama menjalankan ajaran agama yang diyakini. Pengalaman spiritual akan memperkaya batin seseorang sehingga mampu menguatkan diri ketika menghadapi berbagai macam cobaan dalam kehidupan. Hal tersebut menyebabkan individu akan lebih berhati-hati dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang membuat dirinya merasa tertekan sehingga dalam pengambilan keputusan, individu akan memikirkan dan mempertimbangkan dengan matang. Kriterianya antara lain: sabar dalam menghadapi cobaan, menganggap kegagalan yang dialami sebagai musibah yang pasti ada hikmahnya, merasa bahwa doa-doanya dikabulkan, takut ketika melanggar aturan, dan merasakan tentang kehadiran Tuhan.
e.
Religious Effect (the Consequential Dimension)Dimensi yang mengukur sejauh mana perilaku seseorang dimotivasikan oleh ajaran agamanya di dalam kehidupannya. Misalnya ikut dalam kegiatan konversasi lingkungan, ikut melestarikan lingkungan alam dan lain-lain. Konsekuensi komitmen agama berlainan dari dimensi-dimensi yang sudah dibicarakan di atas. Dimensi ini mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktik, pengalaman dan pengetahuan seseorang dari hari ke hari. Dimensi ini tercermin dalam perilaku yang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-perintah-Nya seperti jujur dan tidak berbohong .
Menurut Ancok dan Suroso (1995:80) mengemukakan bahwa rumusan Glock & Stark yang membagi keberagamaan menjadi lima dimensi dalam tingkat tertentu mempunyai kesesuaian dalam Islam yaitu:
Dimensi keyakinan atau akidah Islam menunjuk pada seberapa tingkat keyakinan muslim terhadap kebenaran ajaran-ajaran agamanya, terutama terhadap ajaran-ajaran yang bersifat fundamental dan dogmatik. Di dalam keberIslaman, isi dimensi keimanan menyangkut keyakinan tentang Allah, para Malaikat, Nabi/Rasul, kitab-kitab Allah, surga dan neraka, serta qadha‟ dan qadar. Dimensi peribadatan (praktek agama) atau syariah menunjuk pada seberapa tingkat kepada Tuhan muslim dalam mengerjakan kegiatan-kegiatan ritual sebagaimana disuruh dan dianjurkan oleh agamanya.
Dimensi konsekuensial menunjuk pada tingkatan seseorang dalam berperilaku yang dimotivasi oleh ajaran agamanya atau seberapa jauh seseorang mampu menerapkan ajaran agamanya dalam perilaku hidupnya sehari-hari. Dimensi ini merupakan efek seberapa jauh kebermaknaan spiritual seseorang. Jika keimanan dan ketaqwaan seseorang tinggi, maka akan semakin positif penghayatan keagamaan seseorang dalam kehidupan sehari-hari, sehingga akan mempengaruhi seseorang dalam menghadapi persoalan dirinya dengan lingkungan masyarakat di sekitarnya. Hal tersebut dilakukan berdasarkan pertimbangan aktualisasi potensi batinnya. Indikatornya antara lain: perilaku suka menolong, memaafkan, saling menyayangi, saling mengasihi, selalu optimis dalam menghadapi persoalan, tidak mudah putus asa, fleksibel dalam mengahadapi berbagai masalah, bertanggung jawab atas segala perbuatan yang dilakukan dan menjaga kebersihan lingkungan.
Kedua dimensi diatas sama-sama terdiri dari 5 dimensi. Kelima dimensi ini merupakan satu kesatuan yang saling terkait satu sama lain dalam memahami religiusitas. Kelima dimensi tersebut juga cukup relevan dan mewakili keterlibatan keagamaan pada diri seseorang dan bisa diterapkan oleh ibu karir dalam penanaman nilai-nilai pendidikan islam pada anak. Sehingga untuk dalam hal ini mengetahui, mengamati dan menganalisa tentang kondisi religiusitas ibu karir yang akan diteliti, maka akan diambil lima dimensi keberagamaan Glock dan Stark sebagai skala untuk mengukur religiusitas pada ibu karir.
Perbedaan para ahli dalam membuat konsep religiusitas dan spiritualitas telah menyebabkan munculnya beragam konsep keduanya dan membawa dampak pada perbedaan hasil penelitian yang cukup jauh. Tulisan ini memaparkan historis terjadinya perbaan religiusitas dan spiritualitas, serta berbagai pendapat dan konsep yang dijukan para ahli. Dari beragamnya pengertian dan definisi dapat diambil
kesimpulan bahwa religiusitas dan spiritualitas berbeda. Religiusitas memiliki dasar keyakinan teologi (Ketuhanan) sesuai dengan agama tertentu, memiliki pedoman mengenai cara, metode dan praktek ibadah, dan berfungsi membantu individu