• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penggunaan Bahasa Melayu Di Ranah Ibadah/ Keagamaan

4.5 Penggunaan Bahasa Melayu pada Domain/Ranah

4.5.3 Penggunaan Bahasa Melayu Di Ranah Ibadah/ Keagamaan

Untuk mengetahui pemertahanan bahasa di ranah ibadah atau yang sering disebut dengan ranah keagamaan maka dalam kuesioner sudah dipersiapkan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan pemertahanan bahasa Melayu responden di ranah keagamaan, untuk pertanyaan pada kelompok remaja di dalam kuesioner terdapat pada pertanyaan nomor : 37, 38 sedangkan pada kelompok dewasa dan orang tua terdapat pada pertanyaan nomor : 29, 30, 31.

Untuk lebih jelas hasil dari jawaban responden mengenai pemertahanan bahasa di ranah keagamaan sudah disajikan pada table di bawah ini.

Tabel 4.37 Penggunaan Bahasa Pada Kelompok Remaja

No Jenis Responden Berdasarkan Kelompok Persentase (%)* 1 Kelompok Remaja

Bahasa Melayu Bahasa Indonesia Bahasa Batak Bahasa daerah lain

93,93% 6,06%

0% 0%

* Persentase dihitung dari jumlah frekuensi pada tiap kategori dibagi jumlah seluruh frekuensi pada tiap kategori dan hubungan peran

Tabel 4.37 merupakan pemaparan tentang penggunaan bahasa Melayu di ranah ibadah/keagamaan pada kelompok remaja. Pada kelompok remaja penggunaan bahasa Melayu masih sangat kuat karena biasanya di mesjid merupakan tempat berkumpul nya para tetangga rumah untuk bersilaturrahmi dan beribadah bersama, penggunaan bahasa Melayu pada ranah keagamaan memang masih sangat kuat ini terbukti dari hasil persentase bahasa Melayu sebesar 93,93%, sedangkan persentase bahasa Indonesia 6,06%, kemudian persentase bahasa Batak dan bahasa daerah lainnya 0%. Maka dapat

disimpulkan bahwa pada kelompok remaja hampir seluruhnya menggunakan bahasa Melayu di ranah keagamaan, dan bahasa Melayu di nyatakan bertahan di ranah keagamaan untuk kelompok remaja.

Melalui observasi yang dilakkukan oleh peneliti di lapangan, bahasa Melayu di kelompok remaja memang bertahan di ranah keagamaan, berikut contoh tuturan yang diperoleh di lapangan.

Data 17

Peneliti : Dek isi kan dulu kuesioner abang ini dek Anak : Apo ini bang ?

Apa ini bang ?

peneliti : isi sajo lah, ini pulpen nya. Isi saja lah, ini pena nya.

Percakapan di atas merupakan percakapan dua suku di ranah keagamaan, percakapan terjadi saat sedang hendak menunggu jadwal shalat tiba, saat itu peneliti berusaha mendekati seorang anak remaja dan menyuruhnya agar mengisi kuesioner yang telah di sediakan, kemudian anak bertanya apa tujuan dari kuesioner yang diberikan pada anak tersebut namun peneliti tidak menghiraukan dan menganjurkan agar mengisi kuesioner yang telah di sediakan.

Percakapan di atas menunjukkan bahwa pada kelompok remaja menggunakan bahasa Melayu di ranah keagamaan jika mereka berkomunikasi dengan orang yang berbeda suku dengan mereka.

Data 18

Peneliti : Sama siapa kau solat nya dek ? Anak : kawan aku bang

Peneliti : mano dio, suru dia dulu mengisi kuesioner abang ini Anak : dio masih di dalam bang, masih badoa

Percakapan di atas merupakan percakapan beda suku di ranah peribadatan, percakapan di atas terjadi saat setelah peribadatan selesai di mesjid, di saat salaseorang anak sedang mengisi kuesioner peneliti bertanya kepada anak dengan menggunakan bahasa Indonesia kemudian anak menjawab dengan bahasa Melayu dan ahirnya peneliti bertanya kembali dengan bahasa campur kode namun anak tetap menjawab nya dengan menggunakan bahasa Melayu. Ini membuktikan bahwa kelompok remaja tetap menggunakan bahasa Melayu pada lawan bicaranya walaupun dia tahu lawan bicaranya menggunakan campur kode di ranah Keagamaan.

Data 19

Anak 1 : Itu dio bang, heh kamu isi kan dulu ini

Itu dia bang, hey.. kamu isi kan duku (kuesioner) ini Anak 2 : Apo ini ?

Apa ini ? Anak 1 : Punya abang ni

Punya abang ini Penelit : ini pulpennya dek.

Percakapan di atas merupakan percakapan kelompok remaja antar suku, percakapan tersebut terjadi di saat salah seorang anak sedang sibuk mengisi kuesioner sambil berbincang-bincang dengan peneliti, tiba-tiba si anak memanggil teman nya

untuk mengisi kuesioner yang telah disediakan sebelumnya oleh peneliti, anak 1 menggunakan bahasa Melayu kepada anak 1 begitu juga sebaliknya, anak 1 menyuruh anak 2 mengisi kuesioner yang telah di sediakan oleh peneliti, kedua anak tersebut anak tersebut menggunakan bahasa Melayu dalam berkomunikasi sengankan peneliti tetap menggunakan bahasa Indonesia dengan menawarkan pena yang telah disediakan untuk mengisi kuesioner. Ini membuktikan bahwa kelompok remaja menggunakan bahasa melayu dalam berkomunikasi di ranah keagamaan.

Tabel 4.38 Penggunaan Bahasa pada Kelompok Dewasa

No Jenis Responden Berdasarkan Kelompok Persentase (%)* 1 Kelompok Dewasa

Bahasa Melayu Bahasa Indonesia Bahasa Batak Bahasa daerah lain

75,75% 25,25%

0% 0%

* Persentase dihitung dari jumlah frekuensi pada tiap kategori dibagi jumlah seluruh frekuensi pada tiap kategori dan hubungan peran

Tabel 4.38 di atas merupakan pemaparan tentang penggunaan bahasa Melayu di ranah keagamaan pada kelompok dewasa, penggunaan bahasa melayu pada kelompok dewasa di ranah keagamaan masih cenderung tinggi namun tidak setinggi persentase yang ada pada kelompok remaja ini terjadi karena kelompok dewasa lebih sering bertandang ibadah ke mesjid lain dikarenakan kondisi tempat kerja atau hal lain sebagainya, kecenderungan bertandang ibadah ini memungkinkan akan membuar kelompok dewasa bertemu dengan orang yang tidak pernah mereka kenal sehingga saat

berkomunikasi cenderung mereka menggunakan bahasa Indonesia agar fungsi komunikasi berjalan dengan baik.

Pada tabel tersebut di atas tampak bahwa persentase bahsa Melayu merupakan bahasa yang mendominasi dalam hal pemakaiaan di kelompok dewasa sebesar 75,75%, sedangkan persentase bahasa Indonesia sebesar 25,25%, dan persentase bahasa Batak dan bahasa daerah lainnnya 0%. Maka dapat disimpulkan bahwa pada kelompok dewasa sebagian besar menggunakan bahasa Melayu di ranah keagamaan, dan bahasa Melayu dinyatakan sudah terpengaruh bahasa lain di ranah keagamaan untuk kelompok dewasa.

Melalui observasi yang dilakukan oleh peneliti di lapangan, bahasa Melayu pada kelompok dewasa memang sudah terpengaruh bahasa lain di ranah keagamaan, berikut contoh tuturan yang di peroleh di lapangan.

Data 20

Pemuda 1: Apo nang kau isi itu ?

Apa yang (sedang) kau isi itu ?

Pemuda 2: Pilihan baganda ini ku tenngok hang, kato adek ni kuesioner namo nyo Pilihan berganda ini ku lihat, kata adek ini namanya kuesioner

Pemuda 1: Dari mana ruponyo kau dek ? Dari mana rupanya adek ? Peneliti : Dari medan Bang

Dari medan Bang

Percakapan di atas merupakan percakapan antar sesuku di ranah keagamaan, percakapan itu terjadi saat salah seorang sedang mengisi kuesioner dan tiba tiba ada seorang pemuda menghampiri yang ternyata pemuda tersebuta adalah sahabat dari

seseorang yang sedang mengisi kuesioner, pemuda yang datang menghampiri tersebut bertanya karena merasa penasaran dengan apa yang sedang di isi oleh sahabatnya sehingga terjadilah komunikasi antar sesama mereka menggunakan bahasa Melayu mereka berdua tampaknya bukanya orang desa setempat sebab mereka masih menggunakan pakaiaan kerja rapi, dan sepertinya mereka sedng bertandang beribadah di mesjid mereka berdua memang menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar antar sesama mereka namun saat berkomunikasi dengan peneliti mereka cenderung menggunakan campur kode sebagai bukti rasa toleransi berbahasa karena mereka baru kenal dengan peneliti.

Data 21

Pemuda : Camano mangisi nya ini ? Bagaimana cara mengisi nya ? Peneliti : Ditandai aja bang, di pilih

Di tandai aja bang, di pilih Pemuda : Dikasi silang dio ?

Dikasi silang dio ? Peneliti : Iya boleh bang

Iya bang

Percakapan di atas merupakan percakapan antara responden dengan peneliti, percakapan tersebut terjadi saat setelah ibadah shalat telah selesai seorang pemuda di anjurkan oleh peneliti untuk mengisi kuesioner ternyata pemuda tersebut mau mengisi kuesioner yang di tawarkan oleh peneliti namun ternyata pemuda itu kebingungan bagaimana cara mengsi kuesioner itu sehingga pemuda itu bertanya kepada peneliti

bagaimana cara mengisi kuesionernya, pemuda tersebut bertanya menggunakan bahasa Melayu sedangkan peneliti tetap menggunakan bahasa Indonesia.

Bahasa Melayu Tanjungbalai dengan bahasa Indonesia memang sangat banyak kosa kata yang sama sehingga tidak terlalu sulit untuk mengerti bahasa Melayu Tanjungbalai ketika berkomunikasi dengan orang Melayu walaupun sebenarnya masih ada istilah istilah khusus yang terkadang kita tidak menegerti namun pada umumnya bahasa Melayu Tanjungbalai lebih mudah di mengerti karna banyak kosa kata yang sama dengan bahasa Indonesia.

Tabel 4.39 Penggunaan Bahasa Pada Kelompok Orang Tua

No Jenis Responden Berdasarkan Kelompok Persentase (%)* 1 Kelompok Orang Tua

Bahasa Melayu Bahasa Indonesia Bahasa Batak Bahasa daerah lain

84,84% 16,16%

0% 0%

* Persentase dihitung dari jumlah frekuensi pada tiap kategori dibagi jumlah seluruh frekuensi pada tiap kategori dan hubungan peran

Tabel 4.39 di atas merupakan pemaparan tentang penggunaan bahasa Melayu di ranah keagamaan pada kelompok orang tua, penggunaan bahasa melayu pada kelomok orang tua di ranah keagamaan masih cukup besar jika di bandingkan dengan kelompok dewasa pada kelmpok dewasa sudah tampak bahwa bahasa Indonesia sudah mempengaruhi bahasa Melayu sedangkan pada kelompok orang tua memang masih

tetap saja di pengaruhi bahasa Indonesia namun tidak sebesar pengaruh yang terjadi pada kelompok dewasa.

Pada kelompok orang tua bahasa Melayu masih mendominasi dalam hal penggunaan bahasa nya, persentase bahasa Melayu sebesar 84,84%, persentase bahasa Indonesia sebesar 16,16%, persentase bahasa Batak dan bahasa daerah lain nya 0%. Maka dapat disimpulkan bahwa pada kelompok orang tua hampir seluruhnya menggunakan bahasa Melayu di ranah keagamaan, dan bahasa Melayu di nyatakan bertahan di ranah keagamaan untuk kelompok orang tua.

Melalui observasi yang dilakukan oleh peneliti di lapangan, bahasa Melayu di kelompok orang tua memang bertahan di ranah keagamaan, berikut contoh tuturan yang di peroleh di lapangan.

Data 22

A : Asingkan, Asingkan sama aku satu Sisihkan, sisihkan untuk aku satu B : Iyo

iya

A : ini satu hondak dio, tapi lopas sholat aku ambik uang ke rumo Untuk dia satu, setelah shalat aku jemput uangnya ke rumah B : boleh-boleh, di tunggu, di tunggu. kan tak sampe satu jam kan ?

Boleh, di tunggu, ditunggu, tidak sampai satujam kan ?

Percakapan di atas adalah percakapan antara pedagang dengan jamaah mesjid yang akan shalat jum’at, dalam percakapan di atas mereka menggunakan bahasa Melayu saat berkomunikasi di ranah keagamaan, di atas dapat kita lihat si A memberikan

anjuran agar barang yang ia pesan di sisihkan dan di asingkan agar tidak tercampur dengan pesanan orang lain dan si A juga memberi pesan agar si B bersabar untuk menunggu uang pembayaran barang yang di pesan si A.

Data 23

A : Jadi kalo sompat habis, timbullah jadi marah, kalo awak marah tak bagus itu kan ?

Jika habis timbullah marah, kalau saya marah itu tidak baik kan ? B : habis itu habis

Habis itu habis C : hahaha…..

(tertawa)

D : banyak stok bapak ini, masi ado di mobil

Bapak ini masih punya banyak stock, di dalam mobilnya juga masih banyak Percakapan di atas adalah percakapan antar suku di ranah ke agamaan. Di atas tampak bahwa ada empat komunikator sedang berkomunikasi menggunakan bahasa Melayu, pada percakapan di atas tampak bahwa si A memberikan keterangan tentang tindakan yang akan ia lakukan jika barang yang ia pesan habis, lalu si B yang juga berperan sebagai jamaah mesjid justru memberikan tekanan keraguan dan menyatakan barang pesanan si A akan pasti habis, sedangkan respon si C selaku pedagang hanya membari respon tertawa atas tinggak jemaah mesjid yang sedang mengunjungi lapak nya lalu si D memberikan tanggapan tekanan kepercayaan bahwa pesanan si A masih banyak stock nya.

Tabel 4.40 Penggunaan Bahasa Pada Seluruh Responden

No Jenis Responden Berdasarkan Kelompok Persentase (%)* 1 Seluruh Responden Penelitian

Bahasa Melayu Bahasa Indonesia Bahasa Batak Bahasa daerah lain

82,94% 17,04%

0% 0%

* Persentase dihitung dari jumlah frekuensi pada tiap kategori dibagi jumlah seluruh frekuensi pada tiap kategori dan hubungan peran

Tabel 4.40 merupakan pemaparan tentang penggunaan bahasa Melayu di ranah keagamaan pada seluruh responden, pada tabel 4.40 tampak jelas bahwasanya bahasa Melayu masih mendominasi dari keseluruhan jawaban responden, pada tabel 4.40 persentase bahasa Melayu sebesar 82,94%, persentase bahasa Indonesia 17,04%, persentase bahasa Batak dan bahasa daerah lain 0%. Dari pemaparan maka dapat disimpulkan bahwa pada seluruh responden hampir seluruhnya menggunakan bahasa Melayu di ranah keagamaan, dan bahasa Melayu di nyatakan bertahan di ranah keagamaan.