• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)

a. Definisi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)

Masalah-masalah seputar karakter yang terjadi belakangan ini, sangat memprihatinkan dan menjadi bahan perbincangan yang harus segera diatasi. Kritis karakter ini ditandai dengan meningkatnya pergaulan seks bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan orang dewasa, meningkatnya angka jumlah kematian yang dipicu oleh pertengkaran dan rasa kecemburuan, dan menyalahgunakan obat-obatan. Beberapa alasan di atas membuat para pejabat negara tergerak untuk memperbaiki karakter bangsa Indonesia.

Gerakan PPK menempati kedudukan fundamental dan strategis pada saat pemerintah merencanakan revolusi karakter bangsa sebagaimana tertuang dalam Nawacita (Nawacita 8), menggelorakan Gerakan Nasional Revolusi Mental, dan menerbitkan RPJMN 2014-2019 berlandaskan Nawacita (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 5). Sedangkan menurut Jendela Pendidikan dan Kebudayaan, VII/Desember 2016 (dalam Koesoema, 2017: 6), gerakan PPK menempatkan pendidikan karakter sebagai inti pendidikan nasional sehingga pendidikan karakter menjadi poros pelaksanaan pendidikan dasar. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yaitu program pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan dukungan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Memperkuat karakter peserta didik melalui nilai-nilai pendidikan karakter yaitu olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olahraga menjadi hal yang sangat penting. Keempat nilai tersebut, jika diintegrasikan secara menyeluruh maka akan membuahkan hasil yang maksimal. Berikut ini merupakan filosofi pendidikan karakter menurut Ki Hajar Dewantara.

Gambar 2.1 Filosofi Pendidikan Karakter Menurut Ki Hajar Dewantara

Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter diidentifikasikan dari empat sumber yaitu: agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional. Berdasarkan keempat nilai tersebut, ada 18 nilai yang dapat dikembangkan melalui pendidikan budaya dan karakter bangsa. nilai-nilai tersebut yaitu: nilai religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab (Puskur, dalam Suparno, 2015: 35). Gerakan PPK menempatkan nilai karakter sebagai dimensi terdalam pendidikan yang membudayakan dan

memberadabkan para pelaku pendidikan. Dari 18 nilai-nilai karakter di atas, ada lima nilai utama karakter yang saling berkaitan dalam membentuk jejaring nilai yang perlu dikembangkan sebagai prioritas Gerakan PPK. Kelima nilai utama karakter tersebut yaitu sebagai berikut:

1) Religiusitas

Religiusitas dalam kurikulum 2013 menurut Yaumi (2014: 86), religiusitas diarahkan pada aspek sikap spiritual yang dipahami sebagai cara pandang tentang hakikat diri termasuk menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianut. Artinya religiusitas merupakan sikap spiritual yang dipahami oleh individu sebagai cara pandang, menghargai dan menghayati apa yang ada pada ajaran agamanya. Subnilainya seperti rasa senang dalam menjalankan ibadah shalat, berdoa, berterimakasih dan bersyukur atas nikmat Tuhan, dan mengucapkan salam.

Tim PPK Kemendikbud (2017: 8) mengungkapkan bahwa nilai karakter religius mencerminkan keberimanan terhadap Tuhan yang Maha Esa yang diwujudkan dalam perilaku melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain, hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain. Sedangkan menurut Yaumi (2014: 85) mengungkapkan bahwa religius adalah sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, religiusitas merupakan sikap dan perilaku yang

mencerminkan kepatuhan terhadap ajaran agama atau kepercayaan yang dianutnya, serta menghargai segala bentuk perbedaan dengan pemeluk agama lainnya.

Tim PPK Kemendikbud (2017: 8) mengungkapkan bahwa nilai karakter religiusitas ini meliputi tiga dimensi relasi sekaligusitas, yaitu hubungan individu dengan Tuhan, individu dengan sesama, dan individu dengan alam semesta (lingkungan). Sedangkan Yaumi (2014: 85) mengungkapkan jika religiusitas dibagi menjadi tiga yaitu kepatuhan dalam menjalankan ajaran agama, toleransi, dan kerukunan. Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ada tiga dimensi religiusitas yaitu hubungan dan kepatuhan individu dengan ajaran agama, toleransi dengan sesama, dan kerukunan dengan orang lain. Nilai karakter religiusitas ini ditunjukkan dalam perilaku mencintai dan menjaga keutuhan ciptaan. Subnilai religiusitas antara lain cinta damai, toleransi, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, teguh pendirian, percaya diri, kerja sama antar pemeluk agama dan kepercayaan, antibuli dan kekerasan, persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan kehendak, mencintai lingkungan, dan melindungi yang kecil dan tersisih. Contohnya seperti, ketulusan dalam mengerjakan tugas sekolah. Lalu contoh lainnya seperti menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, misalnya pada saat umat islam sedang beribadah maka umat yang beragama lain menghargai dengan cara tidak ribut, mengganggu atau ramai, begitupun sebaliknya.

2) Nasionalisme

Nilai karakter nasionalisme merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Subnilai nasionalis antara lain apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, rela berkorban, unggul, dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan, taat hukum, disiplin, menghormati keragaman agama, ras, dan budaya. Contohnya yaitu disiplin, artinya siswa datang sekolah tepat waktu atau tidak terlambat, tepat waktu pada saat mengumpulkan tugas. contoh lainnya menjaga lingkungan, hal ini bisa dilakukan dengan cara tidak mencabut tanaman atau merusaknya.

3) Kemandirian

Nilai karakter kemandirian merupakan sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi dan cita-cita (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 9). Subnilai kemandirian antara lain kerja keras, profesional, kreatif, dan keberanian. Contohnya yaitu keberanian, artinya siswa berani berbicara di tempat umum, atau berani mengakui kesalahan yang telah dilakukan dan meminta maaf.

4) Gotong Royong

Nilai karakter gotong royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerja sama dan bahu membahu menyelesaikan persoalan bersama, menjalin komunikasi dan persahabatan, memberi bantuan atau pertolongan pada orang-orang yang membutuhkan.

Subnilai gotong royong antara lain menghargai, kerja sama, komitmen atas keputusan bersama, musyawarah mufakat, tolong-menolong, solidaritas, empati, anti kekerasan, dan sikap kerelawanan (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 9). Contoh dari subnilai gotong royong seperti tolong-menolong, artinya saat siswa melihat temannya sedang kesusahan seperti tinta penanya habis dan tidak memiliki pena lian, maka dapat menolongnya dengan meminjamkan pena lain miliknya. Contoh lainnya yaitu kerja sama, misalnya siswa dapat bekerja secara bersama-sama dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru.

5) Integritas

Nilai karakter integritas merupakan nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, memiliki komitmen (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 7-10). Misalnya siswa diberikan amanah guru untuk menjadi ketua kelas, maka sebagai ketua kelas harus dapat menyampaikan amanah dari gurunya dengan apa adanya tidak menambahi maksud amanah gurunya, lalu cepat dalam bertindak artinya tidak menunda jika diberikan amanah langsung dikerjakan, dan berkomitmen, jadi seorang ketua kelas harus komitmen dengan apa yang sudah dikatakan. Kelima nilai tersebut tidak berjalan secara terpisah, namun berjalan secara bersamaan dan menjadi satu kesatuan agar dapat mengembangkan karakter.

b. Basis Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)

1) Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Kelas

Kelas merupakan tempat terjadinya interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan. Kelas menjadi salah satu hal tempat interaksi antara guru dan siswa yang berpengaruh pada berhasil atau tidaknya sebuah pendidikan. Selain itu, bagaimana hubungan siswa dengan guru mampu membuat lingkungan kelas menjadi nyaman dan menyenangkan ketika terjadinya proses pendidikan. Ciri sebuah kelas adalah relasionalitas, di dalam kelas yang terjadi yaitu relasi antara guru dan murid, dan antar murid sendiri (Koesoema, 2012: 106). Artinya, relasi yang terjadi dapat mempengaruhi hasil sebuah kegiatan belajar mengajar dalam kelas.

Peran guru di sekolah sangatlah besar. Guru dalam pengajarannya dan juga sikapnya, dapat mengajarkan yang baik dan tidak baik (Suparno, 2015: 67). Dalam hal ini, sikap dan pengajarannya yang guru berikan akan berdampak pada karakter siswa. Karakter berbasis sekolah lebih menekankan pada dinamika dan interaksi antara guru dan siswa di dalam kelas. Selain itu interaksi antara siswa dengan siswa yang lain. PPK berbasis kelas memiliki unsur-unsur penting meliputi integrasi kurikulum, metode pembelajaran, manajemen kelas, relasi pedagogis dan muatan lokal (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 27-34). Penerapan PPK berbasis kelas dapat diintegrasikan pada kulikulum. Hal tersebut dapat membantu penerapan PPK berbasis sekolah secara utuh dan optimal.

Penerapan PPK berbasis kelas melalui kegiatan pembelajaran selama di kelas.

2) Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah

Keberhasilan pendidikan karakter sangat terpengaruh oleh budaya suatu sekolah itu sendiri. Karakter yang ada di sekolah biasanya terlihat dari suasana, dan lingkungan sekolah itu sendiri. Lingkungan sekolah dengan suasana yang khas mempunyai pengaruh pada pendidikan dan pengembangan karakter anak (Suparno, 2015: 70). Artinya, jika suasana sekolah yang tidak sesuai dengan nilai karakter yang akan dikembangkan pada siswa, maka hal tersebut jelas tidak akan membantu perkembangan siswa. Jadi pengembangan karakter harus diikuti dengan suasana sekolah yang sesuai dengan pengembangan karakter yang akan dilakukan. Hal tersebut supaya karakter yang diharapkan dapat terwujud.

Pendidikan karakter berbasis kultur sekolah adalah sebuah lingkungan lebih luas dari corak interaksi dan relasi yang terjadi di dalam kelas (Koesoema, 2017: 26). Artinya pendidikan karakter berbasis budaya mencakup keseluruhan mulai dari interaksi, melibatkan pelaku-pelaku lain di luar guru dan peserta didik. Dimana seluruh konteks jalinan relasional tetap mengarah pada satu tujuan, yaitu meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengajaran di lingkungan pendidikan. Selain itu pendidikan karakter berbasis budaya bertujuan menciptakan lingkungan pendidikan sebagai

lingkungan pembelajaran yang dapat membuat siswa menjadi berkembang.

Sedangkan menurut Tim PPK Kemendikbud (2017: 35), pendidikan karakter berbasis budaya sekolah merupakan sebuah kegiatan untuk menciptakan iklim dan lingkungan sekolah yang mendukung praksis PPK mengatasi ruang-ruang kelas dan melibatkan seluruh sistem, struktur, dan pelaku pendidikan di sekolah. Pengembangan PPK berbasis budaya sekolah termasuk di dalamnya keseluruhan tata kelola sekolah, mendesain Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), serta pembuatan peraturan dan tata tertib sekolah. Hal ini berarti, pendidikan karakter berbasis budaya sekolah bertujuan untuk menciptakan iklim dan lingkungan sekolah yang mendukung PPK. Dari ketiga pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, pendidikan karakter berbasis budaya sekolah merupakan sebuah lingkungan yang memiliki ciri khas dan suatu lingkungan yang merupakan tempat terjadinya interaksi anatara guru dengan guru, guru dengan siswa, siswa dengan siswa, maupun orang lain di luar mereka. Jika suasana lingkungan sekolah yang tidak sesuai dengan nilai karakter yang akan di kebangkan pada siswa, maka hal tersebut jelas tidak akan membantu perkembangan siswa. Sebaliknya jika suasana lingkungan sekolah sesuai dengan nilai-nilai karakter yang akan dikembangkan pada siswa maka hal tersebut akan membantu perkembangan siswa.

3) Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Masyarakat

Suatu pendidikan tidak dapat terlepas dari menjalin kolaborasi dengan lembaga lainnya yang ada di sekitarnya. Suparno (2015: 71) mengungkapkan bahwa pendidikan dan pembentukan karakter anak-anak dipengaruhi oleh keadaan, situasi, dan karakter masyarakat atau lingkungan sekitar anak-anak itu. Hal tersebut berarti, jika pembentukan karakter siswa di sekolah akan dipengaruhi oleh situasi, kondisi dan lingkungan yang ada di sekitarnya.

Sedangkan Koesoema (2012: 144), mengungkapkan bahwa lembaga pendidikan memiliki ikatan yang erat dengan komunitas yang menjadi bagian dari keluarga besar sebuah lembaga pendidikan. Ada banyak komunitas yang terlibat, secara langsung ataupun tidak langsung yang akan mempengaruhi keberhasilan desain pendidikan karakter. Artinya, dalam pembentukan karakter siswa, kolaborasi dengan komunitas dan masyarakat sangat dibutuhkan.

Satuan pendidikan tidak dapat menutup diri dari kemungkinan berkolaborasi dengan lembaga, komunitas, dan masyarakat lain di luar lingkungan sekolah. Pelibatan publik dibutuhkan karena sekolah tidak dapat melaksanakan visi dan misinya sendiri. Karena itu, berbagai macam bentuk kolaborasi dan kerja sama antarkomunitas dan satuan pendidikan di luar sekolah sangat diperlukan dalam penguatan pendidikan karakter. Satuan

pendidikan dapat melakukan berbagai kolaborasi dengan lembaga, komunitas, dan organisasi lain di luar satuan pendidikan yang dapat menjadi mitra dalam Penguatan Pendidikan Karakter (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 41-42). Artinya, menjalin sebuah kolaborasi dengan lembaga, komunitas, dan masyarakat lain di luar lingkungan sekolah merupakan hal yang dapat mendukung dalam pembentukan karakter pada peserta didik.

c. Tujuan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)

Menurut Tim PPK Kemendikbud (2017: 16), Penguatan Pendidikan karakter (PPK) memiliki tujuan, di antaranya sebagai berikut:

1) Mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan makna dan nilai karakter sebagai jiwa atau generator utama penyelenggaraan pendidikan.

2) Membangun dan membekali Generasi Emas Indonesia 2045 menghadapi dinamika perubahan di masa depan dengan keterampilan abad 21.

3) Mengembalikan pendidikan karakter sebagai ruh dan fondasi pendidikan melalui harmonisasi olah hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi dan numerasi), dan olah raga (kinestetik).

4) Merevitalisasi dan memperkuat kapasitas ekosistem pendidikan (kepala sekolah, guru, siswa, pengawas, dan komite sekolah) untuk mendukung perluasan implementasi pendidikan karakter.

sumber-sumber belajar di dalam dan di luar sekolah.

6) Melestarikan kebudayaan dan jati diri bangsa Indonesia dalam mendukung Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

Dari keenam tujuan PPK di atas, adanya PPK diharapkan dapat menghasilkan generator dalam penyelenggara pendidikan yang memiliki nilai karakter sebagai jiwa pendidikan. Selain itu juga, dapat membekali Generasi Emas Indonesia 2045 menghadapi dinamika perubahan di masa depan dengan keterampilan abad 21 dan mengembalikan pendidikan karakter sebagai ruh dan fondasi pendidikan melalui harmonisasi olah hati, memperkuat kapasitas ekosistem pendidikan, jejaring pelibatan masyarakat (publik) sebagai sumber-sember belajar, dan juga melestarikan kebudayaan dan jati diri bangsa Indonesia dalam mendukung Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

3. Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) Berbasis Budaya

Dokumen terkait