HASIL DAN PEMBAHASAN
5.4.7 Pengujian Koefisien Determinasi (R 2 )
Uji R2 digunakan untuk melihat seberapa besar harga ikan lele, harga Ikan air tawar lain, harga telur ayam, jumlah anggota keluarga dan pendapatan keluarga dapat menjelaskan permintaan ikan lele. Berikut adalah tabel yang menunjukkan hasil perhitungan koefisien determinasi untuk faktor-faktor tersebut.
78 Tabel 35. Hasil Pengujian Koefisien Determinasi (R2)
No. Keterangan Nilai
1 R 0,867
2 R2 0,752
3 R2 yang disesuaikan 0,739
Sumber: Data Primer (diolah)
Berdasarkan Tabel 35 diketahui nilai R-square atau koefisien determinasi yang dihasilkan, besaran nilai R-square atau koefisien determinasi ini bertujuan untuk mengukur seberapa besar tingkat keberhasilan model regresi yang peneliti gunakan dalam memperediksi nilai variabel atau tingkat kemampuan variabel bebas dapat menjelaskan proporsi keragaman variabel terikatnya. Tabel 32 menunjukkan nilai R-square atau koefisien determinasinya sebanyak 0,752, hal ini menunjukkan bahwa 75,2% permintaan ikan lele di Kota Tangerang Selatan mampu dijelaskan oleh variabel bebasnya yakni harga ikan lele, harga Ikan air tawar lain, harga telur ayam, jumlah anggota keluarga dan pendapatan keluarga yang digunakan dalam model persamaan regresi linear berganda, sedangkan sisanya sebanyak 24,8%
dijelaskan oleh variabel diluar model persamaan regresi linear berganda. Nilai ini menggambarkan bahwa variabel yang digunakan dalam penelitian ini belum sepenuhnya menjelaskan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap permintaan ikan lele di Kota Tangerang Selatan. Hal ini disebabkan faktor lain tidak dimasukkan dalam penelitian ini.
5. 5 Elastisitas Permintaan Ikan Lele di Kota Tangerang Selatan
Elasititas Permintaan ikan lele pada penelitian ini adalah tingkat perubahan permintaan terhadap ikan lele yang diakibatkan perubahan harga barang itu sendiri, harga barang lain dan pendapatan. Besar kecilnya tingkat perubahan dapat diukur
79 dengan angka yang disebut koefisien elastisitas. Adapun nilai elastitas permintaan ikan lele terhadap harga, silang dan pendapatan sebagaimana yang dijelaskan pada Tabel sebagai berikut:
Tabel 36. Analisis Elastisitas Permintaan Ikan lele di Kota Tangerang Selatan Tahun 2017
Elastisitas Koefisien Elastisitas Interpretasi Elastisitas harga ikan lele -0,320 Inelastis
Elastisitas silang harga Ikan
air tawar lain 0,213 Substitusi
Elastisitas silang harga telur
ayam -0,281 Komplementer
Elastisitas pendapatan 0,288 Inelastis, barang normal Sumber: Data Primer (diolah)
1. Elastisitas Harga
Berdasarkan hasil analisis diketahui besar elastisitas harga ikan lele sebanyak -0,320. Nilai elasitisitas bertanda negatif menunjukkan bahwa variabel harga ikan lele memiliki hubungan yang terbalik dengan permintaan ikan lele. Ini berarti jika harga ikan lele mengalami kenaikan sebanyak 1%
maka permintaan ikan lele akan turun sebanyak 0,320% dan begitupula sebaliknya jika harga ikan lele mengalami penurunan sebanyak 1% makan permintaan ikan lele mengalami penurunan sebanyak 0,320%. Nilai elastisitas harga yang kurang dari satu menandakan bahwa permintaan ikan lele bersifat inelastis yang artinya jika perubahan harga kurang berpengaruh pada permintaan. Hal ini sesuai dengan teori elastisitas harga yang menyatakan bila Eh < 1 dikatakan bahwa permintaan inelastis, apabila permintaan bersifat inelastis itu berarti perubahan harga dapat mengakibatkan perubahan yang lebih kecil pada permintaan.
80 Permintaan ikan lele yang bersifat inelastis ini dapat disebabkan karena masyarakat Kota Tangerang Selatan sudah menyadari bahwa untuk mengkonsumsi ikan lele, responden tidak hanya memikirkan tentang harga ikan lele yang murah namun responden telah menyadari hal lain yang lebih penting yaitu gizi yang terkandung dalam ikan lele. Hal ini didukung survei penelitian kepada 100 responden, sebanyak 41% responden menyatakan alasan mengkonsumsi ikan lele karena ikan lele memiliki gizi yang tinggi.
2. Elastisitas Silang
Elastisitas silang mengukur bagaimana perubahan kuantitas yang diminta dari ikan lele yang mempengaruhi harga barang lainnya. Besar nilai elastisitas silang dari harga ikan air tawar lain adalah 0,213 yang artinya jika harga ikan air tawar lain naik 1% maka permintaan ikan lele akan naik sebanyak 0,213%
dan begitupula sebaliknya. Tanda positif memiliki arti ikan air tawar lain merupakan barang substitusi dari ikan lele. Hal ini sesuai dengan teori elastisitas silang yang menyatakan jika barang substitusi maka koefisien elastisitasnya adalah positif.
Berdasarkan hasil elastisitas silang ikan air tawar lain menyebutkan bahwa Ikan air tawar lain merupakan salah satu barang substitusi bagi ikan lele. Hal ini sesuai dengan hipotesa awal yang menduga bahwa ikan air tawar lain adalah barang substitusi bagi ikan lele di Kota Tangerang Selatan. Fakta yang ditemui bahwa untuk memberikan variasi menu untuk dikonsumsi sehari-hari maka responden mengganti ikan lele dengan sumber protein lainnya yang paling
81 digemari keluarga seperti Ikan air tawar lain. Hal ini dilakukan oleh responden agar menghindari kejenuhan dalam mengkonsumsi makanan sehari-hari.
Besar nilai elastisitas silang dari harga telur ayam adalah sebanyak -0,281 yang berarti jika harga telur ayam naik 1% maka permintaan ikan lele akan turun sebanyak 0,281% dan begitu juga sebaliknya. Tanda negatif pada nilai elastisitas menunjukkan telur ayam merupakan barang komplementer dari ikan lele. Hal ini sesuai dengan teori elastisitas silang yang menyatakan jika barang komplementer maka koefisien elastisitasnya adalah negatif. Berdasarkan hasil elastisitas silang telur ayam menyebutkan bahwa telur ayam merupakan salah satu barang komplementer bagi ikan lele. Hal ini bertolak belakang dengan pengaruh yang diharapkan yang menduga bahwa telur ayam adalah barang substitusi bagi ikan lele di Kota Tangerang Selatan. Fakta yang ditemui bahwa responden akan tetap membeli telur karena telur tidak hanya sebagai lauk pauk untuk dikonsumsi sehari-hari, akan tetapi telur bisa digunakan sebagai bahan campuran makanan lain untuk membuat kue, membuat lele krispi dan lain sebagainya karena fungsi telur lebih beragam tidak hanya sebagai lauk saja.
3. Elastisitas Pendapatan
Berdasarkan hasil analisis diketahui besar elastisitas pendapatan adalah sebanyak 0,288 yang berarti jika terjadi kenaikan pendapatan sebanyak 1%
maka akan mengakibatkan bertambahnya jumlah permintaan ikan lele sebanyak 0,288% begitu juga sebaliknya. Tanda positif pada hasil elastisitas pendapatan menunjukkan bahwa ikan lele termasuk barang normal, artinya jika terjadi kenaikan pendapatan keluarga maka terjadi kenaikan pula pada
82 permintaan ikan lele. Nilai koefisien yang lebih dari nol dan kurang dari satu menunjukkan bahwa besar kenaikan pendapatan dengan proporsi besar hanya akan mengubah permintaan ikan lele dengan proporsi yang kecil. Hal ini sesuai dengan toeri elastisitas pendapatan yang menyatakan bahwa untuk barang normal dan pokok biasanya mempunyai nilai 𝐸𝑝< 1 dan bertanda positif.
83 BAB VI