Hindra Jaya Zefran1, Maria Christine Sutandi1
1Program StudiTeknikSipil, Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK
Air adalah salah satu sumber kehidupan yang sangat penting untuk semua makhluk hidup. Kita sering mendengar bumi disebut sebagai planet biru karena air menutupi hampir 75 % permukaan bumi. Sering terdengar sulit untuk mendapatkan air bersih pada saat banjir. Air menjadi tercemar, berubah warna, berbau serta memiliki rasa yang kurang enak. Akan tetapi walaupun air sumur atau sumber air lainnya yang kita miliki tercemar, selama kuantitas air masih cukup, kita masih dapat berupaya untuk memaksimalkan air tercemar tersebut menjadi air yang masih layak untuk dipakai. Air tercemar dapat mengganggu kesehatan manusia dan menyebabkan berbagai penyakit seperti diare/disentri, tifus, kolera dan berbagai penyakit kulit lainnya karena tetap memakai air tersebut tanpa adanya pengolahan terlebih dahulu. Sebenarnya, jumlah air bersih yang layak untuk dipakai di masyarakat masih kurang disebabkan karena tidak dimaksimalkannya daya guna dari air tercemar itu sendiri. Salah satu cara untuk mengatasi air tercemar tersebut adalah dengan sistem penyaringan air yang menggunakan metode penjernihan pasir ditambah dua kali tahapan yang menggunakan saringan dan desinfeksi alami menggunakan buah dari tanaman kelor. Sistem penyaringan ini menghasilkan air yang dapat memenuhi standar air layak pakai sehingga dapat digunakan untuk memenuhi standar kesehatan agar kebutuhan air bersih di masyarakat dapat terpenuhi.
Kata kunci: Air tercemar, Saringan Pasir, Buah kelor
LATAR BELAKANG
Air merupakan unsur yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan makhluk hidup, terutama manusia. Dapat dikatakan bahwa tanpa pengelolaan air yang baik dan konsisten sampai saat ini, manusia tidak mungkin dapat hidup seperti sekarang ini. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa pengembangan dan pengelolaan air merupakan awal dari peradaban manusia di bumi ini (Sunaryo, dkk, 2005).
Fungsi air dalam kehidupan kita tidak hanya memenuhi kebutuhan secara fisik (yang dibutuhkan tubuh manusia), tetapi juga berperan sebagai pemenuh kegiatan manusia sehari-hari. Baik digunakan untuk MCK (mandi, mencuci, kakus). Bahkan makhluk hidup lain yang berupa binatang dan tumbuhan mengkonsumsi air sebagai pemenuh kebutuhannya.
Salah satu faktor terpenting penggunaan air dalam kehidupan sehari-hari adalah penggunaan air bersih antara lain dipergunakan sebagai air untuk pembilas dan air minum yang memerlukan pengolahan lebih lanjut. Air bersih harus bebas dari zat-zat dan mikroorganisme berbahaya yang dapat merusak kualitas air tersebut. Air merupakan zat kehidupan dimana tidak seorang pun yang dapat hidup tanpa air. Bahkan di dalam tubuh kita terdiri dari 55% - 78% cairan di dalam tubuh yang bersangkutan.
Komposisi air dalam organ tubuh kita yaitu: 83% darah terdiri dari air,75% otot manusia terdiri dari air, 74% otak manusia terdiri dari air dan 22% bagian tulang pun terdiri atas cairan. Manusia dapat bertahan 2-3 minggu tanpa makan tetapi hanya 2-3 hari tanpa minum (Suripin, 2002). Maka dari itu dapat dibayangkan betapa pentingnya air dalam kehidupan makhluk hidup.
Meskipun air adalah komposisi terbesar di bumi (sekitar 75%), namun yang dapat dipergunakan oleh manusia hanyalah sebesar 0,7%, baik itu berupa air tanah maupun air permukaan. Sisanya 97,2% di lautan dan 2,1% padatan es di kutub.
80 Rata-rata sebagian penduduk di Indonesia masih mengandalkan air sumur dan air sungai sebagai persediaan utama air bersih mereka. Namun, tidak semua air sumur dan air sungai dapat langsung digunakan secara bebas. Air yang terkandung dalam air sumur sebaiknya disterilkan terlebih dahulu sebelum dipakai dikarenakan terdapat unsur-unsur yang masih berbahaya yang dapat menggangu kesehatan.
Dengan bertambahnya kegiatan dan aktivitas penduduk, maka jumlah air bersih yang diperlukan oleh manusia akan semakin meningkat. Kuantitas sumber air tanah relatif tetap, sedangkan kualitasnya akan semakin menurun tiap harinya. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah pengembangan dan pengolahan air yang tepat untuk memenuhi kebutuhan air bersih yang bebas dari unsur-unsur berbahaya. Untuk mengantisipasi hal tersebut, dapat dilakukan usaha seperti penjernihan air pada sumber airnya. Tujuan penjernihan air ini adalah untuk menghilangkan kandungan berbahaya pada air seperti unsur logam terlarut seperti contohnya Ne (Neon), Mg (Magnesium), Fe (Besi) serta mikroorganisme berbahaya lainnya. Untuk itu diperlukan pengolahan air secara bertahap agar kandungan berbahaya tersebut dapat dikurangi (Sugiharto, 1987).
TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui seberapa besar perubahan warna secara kasat mata yang terjadi sebelum dan sesudah penjernihan pada air baku dengan menggunakan metode saringan pasir dan serbuk biji kelor.
METODOLOGI STUDI
Pengambilan data dalam penelitian ini bersifat sekunder, yaitu melalui proses pengumpulan data yang sudah pernah dilakukan sebelumnya pada setiap eksperimen mengenai saringan pasir dan biji buah kelor. Umumnya sumber air tercemar bila digunakan tanpa diolah terlebih dahulu, di mana kualitas mutu airnya kurang baik sehingga dapat membuat dampak buruk bagi kesehatan manusia.
Sebenarnya sudah banyak alat pengolahan air untuk membantu mengatasi masalah tersebut, mulai dari yang berteknologi canggih sampai berteknologi rendah. Akan tetapi semua memiliki kelemahan masing- masing yaitu dari segi ekonomis, biaya operasional maupun pemeliharaan. Sedangkan bila kita lihat dengan kondisi masyarakat pedesaan di Indonesia pada saat ini umumnya masih dalam kondisi ekonomi yang rendah, maka alat pengolahan air untuk mengatasi masalah tersebut yang sesuai adalah berteknologi sederhana dan berbiaya relatif murah.
Untuk lebih jelas, pemikiran ini dapat dilihat pada Gambar.1 Skema Alur Pemikiran
81 Gambar 1. Skema alur pemikiran
HASIL STUDI DAN PEMBAHASAN
Biji buah dari tanaman kelor (Moringan Oleivera) mengandung zat aktif rhamnosyloxy-benzil- isothiocyanate, yang mampu menjernihkan partikel-partikel lumpur serta logam yang terkandung dalam sebuah air limbah suspensi yang mengambang di permukaan air. Penemuan yang telah dikembangkan sejak tahun 1986 di Sudan sebagai penjernih air dari anak Sungai Nil ini pernah coba diaplikasikan oleh PDAM daerah Kalimantan Timur sebagai penjernih air Sungai Mahakam dan hasilnya telah banyak digunakan oleh masyarakat setempat.(http://biografinanni.blogspot.co.id/2010/11/makalah-tentang- penjernihan-air.html)
Dapat dilihat pada Gambar.2 Biji Kelor kering
Proses penjernihan air dengan saringan pasir dan serbuk biji kelor
Menggunakan Air Baku