• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fayyaqun Nur Amanah SMA N 2 Yogyakarta [email protected]

Mengapa Luntur?

Ada beberapa kemungkinan alasan mengapa remaja tidak mau berkorban untuk orang lain di tempat umum. Dari segi ekonomi mereka tidak mau mengorbankan kursinya untuk orang lain karena beranggapan sama-sama membayar. Jadi, untuk apa bayar kalau akhir-akhirnya membiarkan orang lain memakai kursinya. Kedua, karena tidak kenal. Karena tidak kenal, nereka merasa enak saja untuk tidak merelakan kursinya untuk orang lain. Alasan yang lain, mereka juga merasa lelah. Mereka beralasan bahwa mereka juga sedang merasa lelah se-hingga juga tidak mau berdiri. Yang terakhir, biasa. Mereka ber-pendapat, “Saya berdiri sebentar tentu akan sama saja dengan mereka yang juga berdiri sebentar. Jadi, berdiri di bus itu adalah hal yang biasa saja. Jadi, apa masalahnya berdiri sebentar?”

Dari hal di atas dapat dilihat betapa semakin pudarnya nilai-nilai tata krama dalam diri remaja. Mereka benar-benar lebih me-milih untuk mementingkan diri mereka sendiri tanpa memikir-kan bagaimana orang lain. Para remaja sudah tidak memikirmemikir-kan omongan orang-orang tentang perilaku dirinya. Yang penting ia merasa nyaman. Sungguh sangat miris.

Mereka lebih memilih untuk “menutup telinga” terhadap sesuatu yang terjadi di sekitar mereka apabila tidak mendatang-kan keuntungan. Seperti contoh kasus di atas. Mereka merasa akan dirugikan bila harus berdiri sampai paling tidak ada kursi yang kosong. Mungkin kita masih bisa maklum jika itu terjadi pada orang tua. Namun, bagaimana dengan para remaja yang hanya karena sikap apatisnya terhadap keadaan sekitar, terma-suk sang kakek yang terpaksa berdiri di bus. Di mana tata krama mereka?

Pikiran yang pertama terlintas adalah globalisasi yang se-dang berkembang saat ini menyebabkan remaja-remaja masa kini cenderung individualis. Mereka terlalu sibuk bergaul dengan orang-orang melalui dunia maya yang sebenarnya tidak mereka

kenal dalam kehidupan nyata. Namun, mereka enggan untuk berbicara dengan siapa yang sedang berada di dekatnya.

Mereka semakin jarang terjun langsung ke masyarakat se-hingga semakin kecil memiliki rasa sosial yang baik. Sama halnya dengan tata krama, keluarga mungkin sudah memberikan pe-nanaman tata krama dasar. Namun, apabila tidak didukung ma-syarakat sekitar mereka cenderung tetap menjadi pribadi yang individualis. Padahal, banyak hal yang tidak diajarkan di seko-lah, tetapi diajarkan secara tersirat oleh masyarakat yang sebe-narnya justru sangat bermakna, seperti tata krama.

Keadaan yang seperti ini seharusnya jangan membuat kita ikut-ikutan “menutup telinga”. Kita seharusnya bisa memberikan pengertian tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di masya-rakat. Mungkin masukan dan pengertian dari kita hanya dijadi-kan angin yang lewat karena sudah telanjur kehilangan citra Jawa-nya yang penuh tata krama, tapi setidaknya dalam lubuk hati mereka, ada peng-iya-an atas masukan kita.

Memupuk Kembali Rasa Peduli

Banyak yang bisa dilakukan untuk membuat remaja malu melakukan hal yang tidak seharusnya mereka lakukan. Hal per-tama yang bisa dilakukan adalah dengan penanaman nilai-nilai tata krama melalui keluarga. Bisa dilakukan dengan perlahan-lahan, laten. Misalnya, saat ada tamu, keluarga meminta mereka untuk menemui tamu dengan ramah-tamah, menjamu mereka paling tidak air putih kalau memang sedang tidak ada apa-apa dirumah.

Meskipun penanaman dari keluarga tidak membuahkan hasil maksimal, sekolah juga akan menyumbangkan kontribusinya. Misalnya, sekolah mengadakan acara-acara amal bagi masya-rakat. Manfaat langsungnya mungkin tidak akan terasa secara langsung, tetapi kegiatan itu sudah membekali remaja jika kelak sudah harus terjun langsung ke masyarakat. Pengajaran tata karma yang bisa diambil dari acara amal tersebut misalnya

bagai-mana bersikap ramah kepada orang lain, bagaibagai-mana berbicara secara santun kepada orang lain, dan lain sebagainya.

Cara lain bisa juga melalui pengadaan acara-acara yang lebih sesuai dengan minat dan kebiasaaan remaja, seperti “manca-krida” (outbond). Kegiatan mancakrida dapat dilakukan sebatas untuk remaja di wilayah tertentu atau justru secara lintas wilay ah. Manfaatnya, berarti mempertemukan mereka dengan orang baru setidaknya memaksa mereka untuk kembali berinteraksi secara langsung.

Mungkin sepintas hanya bermancakrida, tapi dari sana re-maja akan belajar bagaimana memecahkan suatu masalah secara kelompok. Karenanya, mereka harus mampu membangun komu-nikasi ke dalam kelompok, yang mungkin merupakan orang yang belum dikenal. Dari kondisi sedemikian itu, mereka dilatih mampu membangun komunikasi sebagai dasar untuk menjalani kehidupan social di masyarakat. Tercakup di situ kemampuan untuk berlaku santun dan bertata karma.

Dapat disimpulkan, untuk memupuk rasa sosial dan peduli, remaja harus terus belajar untuk memahami keadaan di sekitar mereka; memahami kebutuhan orang lain; serta memahami bagai-mana bersikap dengan penuh tata krama saat berada di masya-rakat.

Fayyaqun Nur Amanah. Fayyaqun lahir di Yogya-karta 14 januari 2000. Saat ini bersekolah di SMA N 2 Yogyakarta di Jl. Bener Tegalrejo Yogyakarta.

Kelebihan Peralatan Masak tradisional

Di jaman yang semakin modern ini penulis masih banyak menemukan tempat-tempat kuliner yang menggunakan peralatan memasak tradisional, penyajian yang model lesehan, angkringan, serta gerai mi jawa. Di situ penulis merasakan perbedaan cita rasa antara masakan yang diolah menggunakan peralatan tradi-sional seperti cobek, munthu, anglo, irus dengan masakan-masa-kan yang mulai diolah dengan sentuhan peralatan modern yang terbuat dari besi atau plastik, seperti panci, blender, oven, kom-por gas, pada masakan yang sama. Perbedaan tersebut menimbul-kan rasa penasaran bagi penulis atas apa yang membedamenimbul-kan keduanya. Rasa penasaran itu juga menyadarkan penulis akan mulai berkurangnya pengguna alat-alat masak teradisional karena dikenal kurang efektif.

Alat-alat memasak tradisional yang masih begitu sederhana diduga dapat menunjang cita rasa, khususnya pada bumbu-bumbu pawon dan rempah-rempah yang menjadi kunci dasar kelezatan kuliner Indonesia. Aroma dari alat-alat tradisional menghasilkan aroma yang khas dan kenikmatan pada hasil masa-kan. Selain itu, alat-alat tradisional tersebut terbuat dari bahan-bahan alam sekitar seperti batu, kayu, gerabah yang tidak me-nyebabkan limbah, ramah lingkungan, serta tidak mengandung

NILAI RASA MASAKAN DENGAN