• Tidak ada hasil yang ditemukan

II- 10

BAB 2 KONSEP PENGEMBANGAN

DAN PENGELOLAAN DESTINASI

PARIWISATA PRIORITAS INDONESIA

Dalam mengembangkan destinasi pariwisata terdapat beberapa konsep pengembangan pariwisata yang menjadi dasar pertimbangan dan penentu arah perkembangan. Konsep pengembangan destinasi pariwisata dijabarkan dalam beberapa subbab yang memaparkan konsep pariwisata secara umum, kemudian dalam konteks nasional dan spesifik untuk destinasi yang menjadi lingkup wilayah pembahasan.

2.1 KONSEP PENGEMBANGAN PRODUK PARIWISATA NASIONAL

Pengertian pariwisata sebagai sistem memungkinkan kita untuk memahami secara keseluruhan proses yang berlangsung baik dari sisi permintaan maupun penawaran. Menurut model Leiper kegiatan pariwisata dapat terjadi karena berlangsungnya suatu proses timbal balik antara sisi permintaan dan penawaran dimana interaksi ini khususnya terjadi di tiga elemen kunci (Candela dan Figini, 2012). Pengertian pariwisata sebagai sistem berdasarkan Model Leiper dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 3 Pariwisata sebagai Sistem dalam Modep Leiper Sumber: Candela dan Figini, 2012:24

Model Leiper ini memudahkan kita untuk mengidentifikasi berapa banyak elemen dan pihak yang terlibat dalam menciptakan pengalaman pariwisata. Ketiga elemen yang saling berinteraksi menurut model ini adalah tempat asal pelancong, rute transit yang dilalui dan tempat tujuan pelancong. Ruang pariwisata merupakan ruang yang masuk ke dalam lingkup rute perjalanan pelancong dan dipengaruhi oleh jenis wisata yang ditawarkan serta jangka waktu yang dimiliki untuk berwisata. Dalam menciptakan pengalaman pariwisata diketahui bahwa terdapat dua elemen pariwisata utama yang mempengaruhi yaitu

II- 11 berbagai jenis kegiatan pariwisata yang ditawarkan (wisata budaya, wisata lingkungan, dll) dan jangka waktu dari perjalanan yang dilakukan wisatawan (dari perjalanan sehari sampai antar benua).

Gambar 4 Model Terpadu Untuk Kebersaingan Destinasi Sumber: adaptasi dari Dwyer et.al , 2004

Atribut dan Produk Pariwisata

Sistem pariwisata ini terdiri dari berbagai elemen dan pihak yang saling berinteraksi serta atribut yang mendukung pengalaman pariwisata bagi wisatawan. Pihak yang berpengaruh dalam manajemen pariwisata ini adalah swasta yang bergerak dalam bidang pariwisata dan pemerintah. Semua elemen harus saling bersinergi agar dapat mencapai kualitas daya tarik kawasan pariwisata yang lebih baik. Dewasa ini pasar pariwisata semakin kompetitif karena adanya perubahan permintaan dari wisatawan yang menginginkan pengalaman pariwisata yang bersifat pribadi dan dengan kemunculannya destinasi pariwisata-pariwisata yang baru. Ini menyebabkan perlunya menilai performansi dari suatu destinasi agar dapat meningkatkan posisi daya saing dan daya tarik wisatanya jika dibandingkan dengan destinasi pariwisata lainnya. Performansi suatu destinasi dapat diukur melalui persepsi terhadap atribut yang terdapat di destinasi tersebut. Atribut pariwisata adalah sekumpulan atribut yang mendeskripsikan suatu tempat sebagai destinasi pariwisata (Heung & Quf dalam Ragavan et al, 2014).

Tabel 2Atribut Pariwisata

Atribut Pariwisata Ragawi Atribut Pariwisata Tak Ragawi • Atraksi Daya Tarik

• Aksesibilitas • Amenitas

• Kualitas • Keamanan • Keselamatan

II- 12 • Aktivitas • Fasilitas Pendukung • Kecepatan Respon • Unik • Terkenang Sumber: adaptasi dari Dwyer et.al , 2004

Atribut ini terbagi atas dua jenis, yaitu tangible dan intangible dimana tangible merupakan atribut yang terukur dan intangible merupakan atribut tak terukur karena berhubungan dengan rasa. Atribut yang

tangible dipengaruhi oleh penyediaan berbagai infrastruktur, barang dan kegiatan pendukung pariwisata.

Sementara, intangible tergantung kepada kualitas dan ketanggapan penyedia jasa di kawasan pariwisata. Atribut-atribut pariwisata yang disediakan baik tangible maupun intangible di suatu kawasan pariwisata menjadi produk unik dari kawasan yang dapat mempengaruhi persepsi wisatawan dan pasar pariwisata mengenai kawasan pariwisata tersebut. Kumpulan atribut yang disediakan merupakan produk pariwisata yang ditawarkan di kawasan pariwisata. Hal ini dapat dipahami jika melihat kerangka Strategi Deferensiasi Glibert dalam gambar 5.

Gambar 5 Strategi Diferensiasi Gilber untuk Atribut Produk Pariwisata Sumber: Adaptasi dari Buhalis, 2000 diadaptasi dari Gilbert 1990: 25

Menurut Gilbert kawasan pariwisata dapat dipahami secara kontinum antara kawasan status dan kawasan komoditas, dimana kawasan status memiliki sekumpulan atribut produk yang hanya tersedia di destinasi tersebut dan membuat destinasi itu tidak dapat tergantikan oleh destinasi lainnya. Kawasan komoditas adalah kawasan yang mudah tergantikan, dimana keputusan mengunjungi hanya berdasarkan harga dan tidak dapat menarik wisatawan berpengeluaran tinggi. Oleh karena itu, sebaiknya atribut produk harus bergerak menuju menjadi kawasan berstatus daripada tetap menjadi kawasan komoditas, agar dapat memperbaiki loyalitas pengunjung wisata, keuntungan secara ekonomi dan meninggalkan kesan kepada wisatawan. Produk atribut sebaiknya mendiferensiasikan diri sehingga mendapatkan“keuntungan produk pariwisata” yang unik.

II- 13 a. Atribut Pariwisata

Atribut pariwisata dapat dibagi berdasarkan status, yaitu status primer dan status sekunder. Atribut primer merupakan atribut yang bersifat fisik dan pendukung utama pariwisata di suatu kawasan pariwisata. Atribut primer ini adalah fasilitas dasar yang dibutuhkan agar kegiatan pariwisata dapat berjalan sebagaimana mestinya. Tiga komponen dasar dari pariwisata inilah yang dikenal sebagai 3A pariwisata. Atraksi, amenitas dan aksesibilitas (3A) ini merupakan atribut-atribut yang menjadi perhatian utama pemerintah pusat karena ketiga atribut ini terkait dengan masalah konektivitas, tumpang tindih kewenangan dan banyaknya pihak keberpentingan di kawasan pariwisata sehingga memerlukan koordinasi lintas sektor.

Atribut atraksi dapat dianggap sebagai salah satu komponen dasar pariwisata yang sangat penting karena merupakan tujuan utama wisatawan untuk melakukan perjalanan ke destinasi wisata tertentu. Atraksi merupakan daya tarik wisata yang telah disiapkan untuk dinikmati oleh wisatawan. Komponen penting selanjutnya adalah aksesibilitas atau kemampuan untuk mencapai tempat tujuan melalui berbagai sarana transportasi. Kegiatan kepariwisataan tergantung kepada aksesibilitas karena salah satu faktor yang mempengaruhi wisatawan melakukan perjalanan wisata adalah masalah jarak tempuh dan waktu. Aksesibilitas ini berkaitan dengan transportasi dan prasarana transportasi. Transportasi yang baik dapat mengakibatkan jarak seakan-akan menjadi dekat dan sementara prasarana transportasi ini menghubungkan satu node atau tempat dengan node atau tempat lainnya. Suatu destinasi wisata yang tidak memiliki aksesibilitas yang baik akan menyebabkan terhalangnya wisatawan menuju tempat wisata tersebut sehingga tidak dapat berkembang dengan baik. Amenitas adalah fasilitas pendukung yang diperlukan untuk mendukung kegiatan di kawasan pariwisata. Amenitas ini bertujuan untuk menciptakan kenyamanan bagi wisatawan di suatu destinasi wisata. Hal-hal yang termasuk dalam amenitas adalah kebutuhan akomodasi, fasilitas hiburan dan layanan katering/jasa boga.

Tabel 3 Atribut Pariwisata Primer dan Sekunder

Status Atribut Contoh

Primer

Attractions Natural, buatan manusia, artifisial, dibuat dengan tujuan, warisan budaya, event spesial

Accesibility Seluruh sistem transportasi yang termasuk pada rute, terminal dan kendaraan

Amenities Akomodasi dan fasilitas katering, dan layanan

pariwisata lainnya

Sekunder

Available Packages Paket wisata yang dibuat oleh perantara atau pelaku utama

Activities Aktifitas yang tersedia di destinasi dan apa yang wisatawan dapat lakukan selama kunjungan

Ancillary Services Layanan pendukung yang akan digunakan wisatawan seperti bank, telekomunikasi, surat menyurat, berita, rumah sakit

II- 14 b. Produk Pariwisata

Produk pariwisata merupakan hasil dari upaya suatu kawasan pariwisata untuk menciptakan secara khusus pelayanan jasa dan amenitas pariwisata (seperti akomodasi, transportasi, jasa boga, rekreasi dan hiburan dll) dan berbagai barang publik (seperti bentang alam, pemandangan, laut, danau, lingkungan sosial budaya, suasana dll) (Buhalis, 2000). Dengan menciptakan secara khusus dan membedakan atribut-atribut yang sesuai dengan kebutuhan di kawasan pariwisata

akan tercipta keunikan dari kawasan pariwisata tersebut yang membedakan destinasi satu dengan destinasi lainnya.

Produk pariwisata juga dapat dikategorikan berdasarkan industri pariwisata yang menghasilkannya. Pariwisata dapat dikategorikan sebagai industri karena merupakan salah satu industri penghasil ekspor terpenting di dunia penyedia devisa dan lapangan pekerjaan. Produk pariwisata ada karena adanya

kegiatan pariwisata di kawasan pariwisata; tanpa kegiatan pariwisata produk pariwisata ini akan hilang dengan sendirinya.

Tabel 4 Kategori Produk Pariwisata Berdasarkan Industri

No. Produk Pariwisata Industri Pariwisata

1 Pelayanan jasa akomodasi untuk pengunjung Akomodasi untuk pengunjung

2 Pelayanan jasa boga/katering Kegiatan pelayanan jasa boga/katering 3 Jasa pelayanan kereta api angkutan

penumpang Transportasi kereta api penumpang

4 Pelayanan transportasi penumpang jalur

darat Transportasi penumpang jalur darat

5 Pelayanan transportasi air untuk penumpang Transportasi air untuk penumpang 6 Jasa pelayanan penumpang angkutan udara Transportasi udara angkutan penumpang 7 Jasa penyewaan peralatan transportasi Penyewaan peralatan transportasi

8 Agen perjalanan dan jasa reservasi lainnya Agen perjalanan dan kegiatan layanan reservasi lainnya

9 Pelayanan jasa kebudayaan Pelayanan kegiatan kebudayaan 10 Pelayanan jasa olahraga dan rekreasi Kegiatan olahraga dan rekreasi

11 Barang pariwisata khas suatu negara Perdagangan retail barang pariwisata khas suatu negara

12 Jasa pariwisata khas suatu negara Kegiatan pariwisata khas suatu negara lainnya Sumber: media UNWTO, 2015

2.2 DEFINISI DAN KONSEP PENGEMBANGAN DESTINASI PARIWISATA

PRIORITAS

Destinasi pariwisata prioritas merupakan pusat dari kawasan pariwisata dengan batasan wilayah yang jelas oleh karena itu penting untuk memahami konsep dari kawasan pariwisata terlebih dahulu.

Kawasan Pariwisata harus bertujuan untuk menjadi produk pariwisata yang ‘berkelas’ bukan hanya sekedar sebuah produk pariwisata

II- 15 a. Konsep Kawasan Pariwisata

Konsep kawasan pariwisata digunakan untuk memahami kondisi dari lingkupan wilayah dari suatu destinasi wisata dan daya tarik wisata karena kawasan memiliki batasan-batasan wilayah yang jelas sehingga memudahkan untuk menganalisis pola pariwisata dan masalah yang terdapat di dalamnya. Kawasan memiliki karakteristik yang unik dan dapat berupa wilayah dengan kesamaan karakteristik alam dan/atau budaya yang memiliki ciri khas tertentu. Karakteristik dari kegiatan pariwisata adalah bahwa kegiatan tersebut sangat berkaitan

dengan ruang dimana ia berada, secara fisik (wilayah) maupun ruang abstrak (interaksi antar aktor lokal dan sosial) (da Cuncha dan da Chunca, 2005). Kawasan pariwisata merupakan wilayah yang dikembangkan dan disediakan dengan fasilitas dan pelayanan penunjang untuk memenuhi kebutuhan kegiatan pariwisata dan kebutuhan dari wisatawan itu sendiri. Apabila suatu kawasan pariwisata memiliki ciri khas yang mengandalkan nilai budaya, maka penyediaan fasilitas dan infrastruktur diarahkan untuk menikmati budaya yang ditawarkan di kawasan tersebut.

Konsep kawasan pariwisata digunakan untuk memahami kondisi dari lingkupan wilayah dari suatu destinasi wisata dan daya tarik wisata karena kawasan memiliki batasan-batasan wilayah yang jelas sehingga memudahkan untuk menganalisis pola pariwisata dan masalah yang terdapat di dalamnya. Kawasan memiliki karakteristik yang unik dan dapat berupa wilayah dengan kesamaan karakteristik alam dan/atau budaya yang memiliki ciri khas tertentu. Karakteristik dari kegiatan pariwisata adalah bahwa kegiatan tersebut sangat berkaitan dengan ruang dimana ia berada, secara ruang fisik (wilayah) maupun ruang abstrak (interaksi antar aktor lokal dan sosial) (da Cunha dan da Cunha, 2005). Kawasan pariwisata merupakan wilayah yang dikembangkan dan disediakan dengan fasilitas dan pelayanan penunjang untuk memenuhi kebutuhan kegiatan pariwisata dan kebutuhan dari wisatawan itu sendiri. Apabila suatu kawasan pariwisata memiliki ciri khas yang mengandalkan nilai budaya, maka penyediaan fasilitas dan infrastruktur diarahkan untuk menikmati budaya yang ditawarkan di kawasan tersebut.

Akan tetapi masalah atau konflik dapat timbul sebagai akibat dari perubahan dalam suatu kawasan atau dari konflik mengenai bagaimana suatu kawasan dan sumber daya di dalamnya harus dimanfaatkan. Agar dapat meminimalisir konflik dan permasalahan di suatu kawasan sebaiknya diterapkan pariwisata yang berkelanjutan. Pariwisata berkelanjutan terdiri dari tiga komponen yaitu lingkungan, sosial-budaya, dan ekonomi. Yang dimaksud dengan keberlanjutan lingkungan adalah memastikan sumber daya pariwisata yang ada dapat dipertahankan agar dapat digunakan oleh generasi yang akan datang (World Tourism Organization, 1993:7). Selain itu, kegiatan pariwisata pastinya memberikan dampak terhadap masyarakat setempat seperti masuknya budaya dan nilai-nilai baru oleh wisatawan ataupun pekerja dari luar wilayah yang dipekerjakan di industri pariwisata. Keberlanjutan sosial-budaya bertujuan untuk memberikan dampak positif yang melebihi dampak negatif dari hasil kegiatan pariwisata tersebut. Dapat diartikan bahwa pariwisata berkelanjutan harus dapat mempertahankan ekonomi lokal tanpa merusak lingkungan dimana kegiatan pariwisata itu berlangsung (Draper et. al, 2008; da Cunha dan da Cunha, 2005).

Pariwisata yang berkelanjutan :

- mempertimbangkan daya dukung lingkungan suatu kawasan pariwisata

- tidak mengganggu organisasi sosial budaya tempat kegiatan pariwisata berlangsung - membuka peluang dan memberi manfaat ekonomi kepada masyarakat lokal dan masyarakat di wilayah tersebut.

(Draper et. al, 2008; da Cunha dan da Cunha, 2005).

II- 16 b. Konsep Destinasi dan Kawasan Pariwisata di Indonesia

Konsep destinasi dan kawasan pariwisata yang berlaku di Indonesia sudah ada dan tertuang dalam Undang-Undang No.10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan dan PP No. 50 Tahun 2011 Tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (RIPPARNAS). Terdapat beberapa konsep dan pengertian kawasan yang perlu diperhatikan yaitu Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional (KPPN), Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan Destinasi Pariwisata Nasional (DPN). Perwilayahan Pembangunan DPN itu sendiri meliputi:

1. DPN (Destinasi Pariwisata Nasional), yang dinyatakan dalam RIPPARNAS, yaitu terdiri dari 50 (limapuluh) Destinasi; dan

2. KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional) yang berjumlah 88 (delapan puluh delapan) Kawasan; serta

3. KPPN (Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional) sejumlah 222 Kawasan.

II- 17 DPN adalah destinasi pariwisata yang berskala nasional. Perwilayahan DPN ini terdiri dari 50 DPN yang tersebar di seluruh Indonesia dan 88 KSPN yang tersebar di 50 DPN tersebut. Penetapan DPN ditentukan berdasarkan kriteria:

a) merupakan kawasan geografis dengan cakupan wilayah provinsi dan/atau lintas provinsi yang di dalamnya terdapat kawasan-kawasan pengembangan pariwisata nasional, yang di antaranya merupakan KSPN;

b) memiliki Daya Tarik Wisata yang berkualitas dan dikenal secara luas secara nasional dan internasional, serta membentuk jejaring produk

wisata dalam bentuk pola pemaketan produk dan pola kunjungan wisatawan;

c) memiliki kesesuaian tema Daya Tarik Wisata yang mendukung penguatan daya saing;

d) memiliki dukungan jejaring aksesibilitas dan infrastruktur yang mendukung pergerakan wisatawan dan kegiatan Kepariwisataan; dan

e) memiliki keterpaduan dengan rencana sektor terkait.

Dalam studi ini destinasi pariwisata prioritas adalah wilayah dengan batas jelas yang dimiliki property

developer dan berfungsi sebagai pusat pertumbuhan wilayah KSPN.

Definisi dan Konsep Kawasan Pariwisata KPPN dalam Ripparnas

Di dalam PP No. 50 Tahun 2011 Tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional menyebutkan adanya KPPN, selain menyebutkan tentang DPN dan KSPN. KPPN adalah suatu ruang pariwisata yang mencakup luasan area tertentu sebagai suatu kawasan dengan komponen Kepariwisataannya, serta memiliki karakter atau tema produk wisata tertentu yang dominan dan melekat kuat sebagai komponen pencitraan kawasan tersebut. KPPN ini di antaranya juga termasuk KSPN dan tersebar di 50 DPN. KPPN berjumlah 222 kawasan (digolongkan berdasarkan Propinsi) dan tersebar di seluruh bagian Indonesia. Saat ini pengembangan KPPN dilakukan secara bertahap dengan minimal 34 KPPN dikembangkan di tahun 2015 dan minimal 66 KPPN di tahun 2016.

Definisi dan Konsep Kawasan Pariwisata KSPN dalam Ripparnas

KSPN adalah kawasan yang memiliki fungsi utama pariwisata atau memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata nasional yang mempunyai pengaruh penting dalam satu atau lebih aspek, seperti pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya, pemberdayaan sumber daya alam, daya dukung lingkungan hidup, serta pertahanan dan keamanan. Kawasan strategis ini menurut UU Kepariwisataan merupakan bagian integral dari rencana tata ruang wilayah nasional sehingga memberikan kekuatan hukum untuk diprioritaskan pembangunannya oleh pemerintah pusat maupun daerah. Berdasarkan arahan dalam Ripparnas terdapat 88 (delapan puluh delapan) KSPN yang tersebar di 50 (lima puluh) DPN. Dengan ketentuan penetapan KSPN atas dasar kriteria berikut ini:

a) memiliki fungsi utama pariwisata atau potensi pengembangan pariwisata;

b) memiliki sumber daya pariwisata potensial untuk menjadi Daya Tarik Wisata unggulan dan memiliki citra yang sudah dikenal secara luas;

c) memiliki potensi pasar, baik skala nasional maupun khususnya internasional; d) memiliki posisi dan peran potensial sebagai penggerak investasi;

II- 18 hidup;

g) memiliki fungsi dan peran strategis dalam usaha pelestarian dan pemanfaatan aset budaya, termasuk di dalamnya aspek sejarah dan kepurbakalaan;

h) memiliki kesiapan dan dukungan masyarakat; i) memiliki kekhususan dari wilayah;

j) berada di wilayah tujuan kunjungan pasar wisatawan utama dan pasar wisatawan potensial nasional; dan

k) memiliki potensi kecenderungan produk wisata masa depan.

Permasalahan dengan definisi dari KSPN berdasarkan Ripparnas adalah tidak dimasukkan dengan eksplisit mengenai Elemen 3 A: Atraksi + Amenitas + Aksesibilitas dan tidak terdapat delineasi wilayah yang jelas sehingga terdapat konflik kewenangan pengelolaan daya elemen pariwisata. Selain itu tidak terdapat bauran produk pariwisata sehingga tidak menonjolkan keunikan dari KSPN yang dapat dijual ke pasar internasional.

Definisi dan Konsep Kawasan KEK Pariwisata Menurut UU KEK

KEK adalah Kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah hukum NKRI yang ditetapkan untuk penyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas tertentu. KEK Berbasis Pariwisata: “Zona pariwisata” adalah area yang diperuntukkan bagi kegiatan usaha pariwisata untuk mendukung penyelenggaraan hiburan dan rekreasi, pertemuan, perjalanan insentif dan pameran, serta kegiatan yang terkait (Penjelasan Atas UU 39 Tahun 2009 Pasal 3 Ayat [3] Huruf e). Saat ini terdapat 3 KEK Pariwisata yaitu KEK Morotai, KEK Mandalika dan KEK Tanjung Lesung dan 2 lagi yang dalam proses pembentukan KEK. Kriteria umum yang harus dipenuhi agar suatu lokasi dapat diusulkan untuk menjadi KEK :

a) Sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dan b) Tidak berpotensi mengganggu kawasan lindung;

c) Pemerintah provinsi/kabupaten/kota yang bersangkutan mendukung KEK;

d) Terletak pada posisi yang dekat dengan jalur perdagangan internasional atau dekat dengan jalur pelayaran internasional di Indonesia atau terletak pada wilayah potensi sumber daya unggulan; dan

e) Mempunyai batas yang jelas.

Sementara untuk kriteria yang harus dipenuhi agar suatu lokasi dapat diusulkan untuk menjadi KEK pariwisata adalah selain memenuhi persyaratan KEK umum juga harus memenuhi kriteria lokasi pariwisata, yaitu:

a) Attractiveness : diutamakan yang berada pada KPPN. b) Area Coverage : memiliki luas minimal 100 Ha.

c) Accessibilities :memiliki aksesibilitas dan konektivitas dengan dukungan infrastruktur/infrastructure led.

II- 19 Kawasan yang secara geografis memiliki batasan-batasan wilayah atau luasan tertentu dan memiliki fungsi utama pariwisata atau memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata nasional yang tercakup di dalamnya elemen 3A (Atraksi, Amenitas, Aksesibilitas) yang bersifat menunjang kegiatan dan fungsi pariwisata. Atribut-atribut primer ini dipilih karena dapat dikontribusikan oleh Pemerintah Pusat dan didasarkan pada asumsi bahwa atribut primer bisa mentrigger tersedianya atribut sekunder. Hal ini juga terkait dengan tanggung jawab dari pemerintah pusat untuk masalah penyediaan barang publik dan masalah konektivitas dan aksesibilitas yang penting untuk disediakan agar dapat menarik investor ke kawasan.

Gambar 7 Ilustrasi KSPN+3A dengan Multicore

Selain itu, KSPN+3A bersifat berkelanjutan secara lingkungan, ekonomi dan sosial-budaya, dimana fokus utama adalah agar dapat menyebabkan dampak positif pariwisata yang sebesar-besarnya dan menimalisirkan dampak negatifnya. KSPN+3A memiliki delineasi geografis yang jelas sehingga memudahkan pertimbangan mengenai kepemilikan lahan dan koordinasi dengan pihak-pihak berkepentingan di kawasan tersebut.

Bagian terpenting dalam konsep kawasan ini adalah adanya bauran 3A yang menjadi fokus utama dalam pengembangan dan pengelolaan kawasan. Kawasan pariwisata merupakan kumpulan produk wisata yang berkembang dari waktu ke waktu secara bisnis yang akan menghasilkan produk-produk baru (inovasi) untuk kelangsungan hidupnya (Bonneti, Petrillo dan Simoni, 2006).

Konsep KSPN+3A sebagai Bauran Produk Pariwisata

Kemasan KSPN +3A merupakan bauran produk pariwisata jika dilihat dalam konteks destinasi internasional. Sehingga bauran produk pariwisata ini perlu sangat dikaji mendalam terhadap apa yang diiinginkan oleh target pasar wisatawan. Misal apabila mengkaji pasar wisatawan muslim timur tengah, akan membutuhkan atraksi daya tarik yang mereka cari seperti spa, kawasan daya tarik wisata

Bauran 3A yang mendeferensiasi suatu kawasan sehingga menjadi produk pariwisata yang unik

II- 20 moda transportasi sebagai aksesibilitas dilengkapi dengan doa perjalanan. Bauran produk sebagai pelayanan total dari sejak wisatawan memesan paket wisata, berwisata, sampai kepulangan, perlu diperhatikan dengan seksama. Di kawasan ini terdapat produk pariwisata yang merupakan campuran sumber daya pariwisata yang dijual kepada konsumen dengan target segment tertentu. Kawasan pariwisata+3A akan bersaing dalam hal kualitas dan akan memiliki nilai jual dan status (value and class) yang bersifat branding.

 

Tabel 5 Bauran Produk Pariwisata 3A dalam Konteks KSPN 3A

Atraksi Daya Tarik Akesibilitas Amenitas

Daya tarik alam - Pantai * Pengelolaan pantai * Mitigasi bencana * Pusat studi - Bawah Laut * Konservasi * Pusat studi - Gunung * Mitigasi bencana * Konservasi * Pusat studi - Sungai * Konservasi - Karst * Konservasi Daya tarik budaya - Desa Wisata - Pertunjukan kesenian - Museum - Taman rekreasi Acara khusus - Festival - Konferensi - Pameran Perhubungan udara - Bandara hub transit - Bandara perintis

- Penerbangan internasional - Penerbangan domestik - Layanan handling darat Perhubungan laut - Pelabuhan Cruise - Pelabuhan perintis cruise -Marina untuk Yacht dan

Sailing

- Layanan Pelni - Layanan Cruise - Layanan logistik

-Layanan pengisian bahan bakar - Layanan pengisian air bersih - Layanan pengolahan limbah Perhubungan darat - Lahan parkir - Jalan raya - Jalan tol - Kereta api - Bis pariwisata - Bis shuttle - Pelayanan wisatawan * Layanan imigrasi

*Layanan informasi pariwisata *Pelayanan Fasilitas

perbankan (ATM, Money changer)

* Layanan Broadband dan Internet

* Layanan locker * Layanan shower * Layanan air bersih * Layanan toilet

* Layanan peralatan wisata * Layanan sewa kendaraan/Travel Biro * Layanan penerjemah - Pelayanan akomodasi * Hotel Bintang 1 * Hotel Bintang 2 * Hotel Bintang 3 * Hotel Bintang 4 * Motel * Homestay

- Pelayanan makan minum * Restaurant

* Café * Pasar * Mini market - Pelayanan umum * Ruang publik terbuka * Layanan kesehatan * Layanan keselamatan dan

keamanan

* Layanan komunikasi * Pengolahan sampah * Pengolahan limbah * Sarana Ibadah

II- 21 Sumber: Hasil Analisa

Pengembangan KSPN+3A memiliki satu atau lebih core pengembangan yang dimana core tersebut

Dalam dokumen Laporan Final Tanjung Kelayang 28012016 (Halaman 14-115)

Dokumen terkait