BAB II LANDASAN TEORI
E. Penyebab Kesulitan Belajar
Pada dasarnya kesulitan belajar tidak hanya dialami oleh siswa yang berkemampuan rendah saja, tetapi juga dialami oleh siswa berkemampuan tinggi. Selain itu, kesulitan belajar juga dapat dialami oleh siswa yang berkemampuan rata-rata (normal) disebebkan oleh faktor-faktor tertentu yang menghambat tercapainya kinerja akademik sesuai dengan harapan. Menurut ahli Syah (2009:184) secara garis besar, faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri dari dua macam, yakni:
1. Faktor intern siswa, meliputi gangguan atau kekurangmampuan psiko-fisik, yaitu bersifat kognitif seperti intelegensi siswa, bersifat afektif seperti lebihnya emosi dan sikap, dan bersifat psikomotor seperti terganggunya alat-alat indera penglihatan dan pendengaran. Pada faktor ini kesulitan yang dialami siswa berasal dari diri sendiri dan tidak dari pengaruh orang lain.
2. Faktor ekstern siswa, meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivitas belajar siswa. Faktor lingkungan ini antara lain adalah lingkungan keluarga seperti ketidakharmonisan hubungan antara ayah dan ibu, lingkungan masyarakat seperti teman sepermainan yang nakal, lingkungan sekolah seperti kondisi guru dan alat-alat belajar yang berkualitas rendah. Pada faktor ini kesulitan yang dialami siswa berasal dari orang lain atau keadaan disekitarnya.
F. Kemampuan
Kemampuan berasal dari kata dasar mampu, yang berarti sanggup melakukan sesuatu. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, kemampuan merupakan kecakapan setiap individu untuk menyelesaikan pekerjaannya atau menguasai hal-hal yang ingin dikerjakan dalam suatu pekerjaan, dan kemampuan juga dapat dilihat dari tindakan tiap-tiap individu. Kemampuan merupakan hal yang ada dalam diri kita sejak lahir dan potensi yang bisa diasah.
Kemampuan juga terbagi menjadi beberapa kelompok antara lainnya:
1. Kemampuan intelektual, yaitu kemmpuan yang dimiliki seseorang untuk melakukan aktivitas yang membutuhkan kemampuan berfikir.
2. Kemampuan fisik merupakan kemampuan melakukan tugas-tugas yang menuntut tenaga atau stamina berupa keterampilan, kekuatan, atau karakteristik serupa.
G. Konsep Pecahan
Pecahan merupakan salah satu topik yang sulit diajarkan karena dalam pembelajarannya guru jarang sekali menggunakan media pembelajaran. Istilah pecahan dapat digunakan untuk merujuk suatu bilangan yang ditulis dalam ๐
๐ dan angka ๐
๐ dimana ๐ โ 0. Perlu diperhatikan penggunaan simbol tersebut sebagai bilangan atau angka. Misalnya, jika menyatakan bahwa bilangan yang terletak di atas disebut pembilang dan bilangan yang di bawah disebut penyebut, maka pecahan yang dimaksud adalah simbol atau angka. Akan tetapi jika mengatakan
โJumlahkan 2
3 dan 5
6โ maka yang dimaksud adalah pecahan sebagai suatu bilangan. Menurut Kennedy (dalam Rivai, 2015), makna dari pecahan dapat
muncul dari situasi-situasi seperti pecahan sebagai bagian yang berurutan sama dari yang utuh atau keseluruhan, pecahan sebagai bagian dari kelompok-kelompok yang beranggotakan sama banyak atau juga menyatakan pembagian, dan pecahan sebagai pembanding (rasio).
Menurut Supriyanto dan Purwaningsih (2011:34-68), terdapat kesalahan yang sering terjadi dalam menyelesaikan soal pecahan yaitu sebagai berikut:
1. Kesalahan dalam membedakan pembilang dan penyebut
Pada kesalahan ini siswa lupa membedakan mana pembilang dan penyebut sehingga sering terbalik jika menyebutkan atau menuliskannya.
Contoh:
Dari pecahan 4
5 siswa menyatakan pembilangnya 5 dan penyebutnya 4.
Seharusnya pembilangnya 4 dan penyebutnya 5.
2. Kesalahan dalam menentukan nilai pecahan Contoh:
a. Tentukan nilai pecahan dari bagian yang diarsir pada gambar berikut!
Jawaban siswa:
Bagian yang diarsir adalah 1 bagian. Seharusnya 1
4 bagian.
Pada kesalahan ini siswa memandang yang diarsir sebagai 1 kotak, bukan 1 kotak dari 4 kotak.
b. Tentukan nilai pecahan dari bagian yang diarsir pada gambar berikut!
Jawaban siswa:
Bagian yang diarsir adalah 1
3 bagian. Seharusnya 3
6 bagian.
Pada kesalahan ini siswa memandang karena yang diarsir ada 3 bagian maka dianggap 1 dari 3 bagian.
3. Kesalahan dalam menyederhanakan pecahan
Pada kesalahan ini siswa menyederhanakan pecahan dengan mengurangi pembilang dan penyebut dengan bilangan yang sama.
4. Kesalahan dalam membandingkan dua pecahan Contoh:
Pada kesalahan ini siswa hanya membandingkan pembilangnya tanpa memerhatikan penyebutnya dan hanya melihat โ4 kurang dari 5โ.
5. Kesalahan dalam mengurutkan pecahan Contoh:
Urutkan pecahan-pecahan berikut mulai dari yang terkecil!
2
12. Seharusnya disamakan dahulu penyebutnya, barulah diurutkan pembilangnya seperti berikut:
2
12 , sehingga urutannya menjadi:
6
Pada kesalahan ini siswa mengurutkan pecahan hanya dari angka-angka yang terlihat, baik pembilang maupun penyebut tanpa menyamakan penyebutnya terlebih dahulu.
17 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Menurut Gunawan, Imam (2013:82), penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur kuantifikasi, perhitungan statistik, atau cara lainnya yang menggunakan ukuran angka. Menurut Trisliatanto, Dimas (2020:164), penelitian deskriptif adalah penelitian yang digunakan untuk menggambarkan, menjelaskan, dan menjawab persoalan-persoalan tentang fenomena yang terjadi saat ini. Karena peneliti langsung terjun ke lapangan untuk mengetahui tentang fenomena yang ada dan bukan termasuk eksperimen atau labolatoris menggunakan ukuran angka sehingga jenis penelitian kualitatif deskriptif kiranya lebih tepat untuk digunakan.
Pada penelitian ini, teori-teori yang ada dihubungkan berdasarkan data yang telah dikumpulkan dan dianalisis. Peneliti melihat kesalahan pada hasil jawaban tes berdasarkan topik yang diteliti dan akan digunakan untuk menganalisis kemampuan dan kesulitan yang dialami mahasiswa. Hasil analisis didukung oleh referensi yang relevan dan dengan menyertakan data konteks mahasiswa untuk memperkirakan penyebab kesulitan mahasiswa.
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan dari bulan November 2018 sampai dengan bulan Mei 2019 dan berlokasi di lingkungan kampus Universitas Sanata Dharma.
C. Subjek dan Objek Penelitian 1. Subjek Penelitian
Subjek merupakan mahasiswa USD asal Kabupaten Mappi, Papua yang mengikuti Program Matrikulasi Tahun Akademik 2018/2019. Berjumlah 48 mahasiswa yang terbagi dalam dua kelas yaitu kelas A terdiri dari 25 mahasiswa dan kelas B terdiri dari 23 mahasiswa.
2. Objek Penelitian
Objek penelitian adalah kemampuan dan kesulitan mahasiswa Mappi USD dalam menyelesaikan soal materi konsep pecahan. Penelitian ini juga meneliti faktor-faktor penyebab kesulitan dan upaya-upaya yang sudah dilakukan serta rekomendasi pembelajaran untuk kegiatan selanjutnya.
D. Bentuk Data
Bentuk data pada penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Data Primer
Menurut Trisliatanto, Dimas (2020:134) mengatakan bahwa data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan secara langsung dari sumber datanya atau pihak yang bersangkutan. Pada penelitian ini data tersebut berupa:
a. Hasil tes mahasiswa
Data diperoleh dari hasil jawaban tes mahasiswa yang berbentuk ulangan sisipan yang tercantum pada tes II dan III.
b. Deskripsi hasil pengamatan (Observasi)
Pengamatan dilakukan untuk mengukur tingkah laku individu atau proses kegiatan belajar yang diamati secara langsung. Dari observasi tersebut dibuat sebuah catatan refleksi yang mendeskripsikan hasil yang biasa diambil untuk mendukung penelitian ini.
c. Kuesioner konteks mahasiswa Mappi
Kuesioner konteks dibuat untuk mengenal dan mengetahui informasi terkait kehidupan dan pemahaman matematika mahasiswa Mappi.
Kuesioner dibuat berdasarkan beberapa bagian, sebagai berikut:
1) Identitas mahasiswa
Mengetahui identitas mahasiswa beserta orang tua mahasiswa.
2) Konsep awal mahasiswa
Mengetahui semua nilai, pengertian, konsep yang dibawa sebelum proses pembelajaran matrikulasi berlangsung.
3) Konteks mahasiswa
Mengetahui informasi mengenai keluarga, teman, agama, lingkungan budaya, media, dan harapan kedepan.
4) Konteks sosial, politik, budaya
Mengetahui informasi mengenai kemiskinan, kebebasan, otoriter, dan korupsi yang ada dilingkungan mahasiswa.
5) Lingkungan belajar
Mengetahui konteks mahasiswa mengenai suasana belajar, nilai moral, kualitas, nilai yang diperjuangkan, dan kurikulum selama mahasiswa memperoleh pendidikan di kabupaten Mappi.
2. Data Sekunder
Menurut Trisliatanto, Dimas (2020:134), data sekunder adalah data yang diperoleh dari berbagai sumber yang telah ada, seperti buku, jurnal, dan lain sebagainya. Dalam penelitian ini data sekunder yang digunakan berupa refleksi mingguan tutor yang telah dirangkum oleh peneliti dan tim bimbingan skripsi Bapak Dr. Marcellinus Andy Rudhito, S.Pd. Data tersebut digunakan untuk menggali informasi mengenai dinamika proses pembelajaran, kesalahan-kesalahan yang sering muncul, penyebabnya dan upaya yang sudah tutor lakukan.
E. Metode Pengumpulan Data a. Tes tertulis
Tes tertulis dibuat berdasarkan materi yang telah dipelajari seperti konsep pecahan. Bentuk tes uraian dipilih karena setiap langkah penyelesaian dapat menunjukkan cara berfikir mahasiswa dalam menyelesaikan soal, sehingga dapat diketahui kemampuan dan kesulitan mahasiswa.
b. Observasi (Pengamatan langsung)
Observasi adalah proses pengamatan dan pencatatan secara sistematis mengenai kegiatan yang diteliti dengan cara melihat interaksi dan mendengar setiap penjelasan mahasiswa ketika menyelesaikan soal.
c. Refleksi dari tutor
Setiap minggunya, tutor akan membuat catatan refleksi terkait kemampuan, kesulitan, dan upaya yang dilakukan tutor dalam membimbing mahasiswa.
d. Kuesioner konteks mahasiswa
Kuesioner konteks diberikan kepada masing-masing mahasiswa Mappi berupa pertanyaan tertulis untuk memperoleh informasi terkait konteks-konteks yang mahasiswa pahami.
F. Teknik Analisis Data
Peneliti menggunakan teknik analisis yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman (dalam Dimas Trisliatanto, 2020:379), yang menjelaskan bahwa terdapat tiga tahap dalam melakukan analisis data kualitatif, yaitu:
1. Reduksi Data
Reduksi data berarti merangkum, memilih hal yang pokok, memfokuskan pada hal yang penting, serta dicari pola dan temanya. Sehingga data dari lapangan sebagai bahan โmentahโ diringkas, direduksi menjadi lebih sistematis, dan dipilih pokok-pokok pentingnya. Dalam mereduksi data, tujuan utama dari penelitian ini adalah mengetahui profil kemampuan matematika dasar topik konsep pecahan dari mahasiswa Mappi. Data hasil tes mahasiswa dikelompokkan sesuai kelas kemudian di pilih soal yang memuat materi konsep pecahan, lalu jawaban dari masing-masing mahasiswa dikelompokkan berdasarkan nomor soal. Berikut keterangan soal tes yang digunakan:
Tabel 3.1 Letak Soal yang Dianalisis
Tanggal Tes Kelas Jumlah Soal Nomor Soal yang Digunakan
21 November 2018 A 15 8, 9, 10
B 15 7, 8
19 Desember 2019 B 10 5
2. Penyajian Data
Penyajian data merupakan menyajikan data dalam bentuk uraian singkat, bagan, skema, struktur, hubungan antarkonsep, atau kategori, dan lain sebagainya. Dalam penelitian ini, penyajian data dilakukan berdasarkan hasil jawaban mahasiswa. Dari setiap nomor soal, hasil jawaban mahasiswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan dan letak kesalahan yang mahasiswa lakukan dalam menjawab soal. Berikut contoh skema pengelompokan secara sederhana yang dilakukan:
Gambar 3.1 Skema Alur Klasifikasi
Setelah data hasil jawaban mahasiswa digolongkan seperti diatas, data kemudian diberi kode untuk dapat dianalisis lebih lanjut.
3. Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan merupakan langkah akhir dari penelitian dan dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal berdasarkan analisis dari data-data yang ada.
Soal
Mengerjakan Tidak
Mengerjakan
Konsep Pecahan Benar
Konsep Pecahan Salah
Selesai Tidak Selesai
Jawaban Benar
Jawaban Salah
Ada Kesalahan (Jawaban Salah)
Ada Kesalahan
Selain data hasil tes mahasiswa, peneliti juga melakukan analisis menggunakan data hasil pengamatan langsung, catatan refleksi tutor, dan kuesioner konteks, dimana analisis dilakukan seperti berikut:
1. Data pengamatan langsung/refleksi peneliti dan refleksi tutor dibuat menjadi sebuah rangkuman lalu dipelajari dan diambil poin-poin pentingnya sehingga di peroleh gambaran mengenai dinamika proses matrikulasi dan kesulitan yang secalalu muncul.
2. Data kuesioner konteks dibuat menjadi sebuah rangkuman, kemudian setiap jawaban yang sama dikelompokkan lalu dihitung total jumlah jawaban pada setiap kelompok.
G. Prosedur Pelaksanaan Penelitian Secara Keseluruhan
Selama melakukan penelitian, penelitian melakukan beberapa hal yaitu mengamati langsung kegiatan matrikulasi, mempelajari data-data hasil kegiatan matrikulasi seperti hasil tes mahasiswa, refleksi dari para tutor, dan hasil isian konteks mahasiswa untuk menentukan masalah penelitian, konsultasi rencana penelitian dengan dosen pembimbing, mendeskripsi data hasil pekerjaan mahasiswa yang peneliti peroleh, menelaah data kuesioner konteks mahasiswa dan catatan serta refleksi tutor, menganalisis data, menyusun rekomendasi strategi pembelajaran, menyusun laporan hasil penelitian, dan penentuan jadwal ujian hasil penelitian.
24 BAB IV
DATA DAN ANALISIS DATA PENELITIAN
A. Data Penelitian
Data yang ada dalam penelitian ini adalah data hasil pekerjaan mahasiswa (untuk mengidentifikasikan kemampuan matematika dasar mahasiswa terkait materi konsep pecahan), data kuesioner konteks mahasiswa, catatan dan refleksi mingguan tutor, hasil pengamatan dan interaksi dengan mahasiswa serta tutor (untuk mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan matematika dasar mahasiswa).
1. Hasil Pekerjaan Mahasiswa
Hasil pekerjaan mahasiswa diperoleh dari hasil tes yang dilakukan oleh tutor sebagai evaluasi hasil belajar program matrikulasi, tes tersebut dilakukan sebanyak tiga kali. Tes I dilaksanakan pada tanggal 11 Oktober 2018, dimana soal tes tersebut terdiri dari 10 pertanyaan uraian. Pada tes I ini soal untuk materi konsep pecahan tidak ada karena mahasiswa belum mempelajarinya.
Selanjutnya, tes II dilaksanakan pada 21 November 2018, karena adanya perbedaan tingkat kecepatan tutor dalam menyampaikan materi maka soal yang diberikan untuk setiap kelas berbeda-beda. Soal di kelas A dan B terdiri dari 15 pertanyaan uraian sedangkan di kelas C dan D terdiri dari 10 pertanyaan uraian. Pada tes II ini soal untuk materi konsep pecahan hanya ada di kelas A dan B, soal tersebut dikelompokkan menjadi 2 jenis yaitu soal langsung dan soal cerita.
a. Soal Langsung
1) Tes II Kelas A Nomor 8
Gambar 4.1 Soal Tes II Kelas A Nomor 8 2) Tes II Kelas A Nomor 9
Gambar 4.2 Soal Tes II Kelas A Nomor 9 3) Tes II Kelas B Nomor 7
Gambar 4.3 Soal Tes II Kelas B Nomor 7 b. Soal cerita
1) Tes II Kelas A Nomor 10
Gambar 4.4 Soal Tes II Kelas A Nomor 10 2) Tes II Kelas B Nomor 8
Gambar 4.5 Soal Tes II Kelas B Nomor 8
Kemudian Tes III dilaksanakan pada tanggal 19 Desember 2018 dengan soal yang berbeda-beda di setiap kelas. Soal di kelas A terdiri dari 7 pertanyaan uraian, kelas B terdiri dari 10 pertanyaan uraian, kelas C terdiri dari 13 pertanyaan uraian, dan kelas D terdiri dari 12 pertanyaan uraian. Pada tes III ini soal untuk materi konsep pecahan hanya ada di kelas B, soal tersebut merupakan soal cerita.
Gambar 4.6 Soal Tes III Kelas B Nomor 5
Berdasarkan soal tes tersebut, terdapat 6 pertanyaan yang sesuai dengan materi konsep pecahan. Pertanyaan tersebut dikategorikan dalam dua kelompok yaitu soal langsung dan soal cerita. Lembar soal tes II dan III yang peneliti teliti dapat dilihat pada lampiran 2.
Dari hasil pekerjaan setiap soal tersebut peneliti dapat mengidentifikasikan kemampuan matematika dasar mahasiswa dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan dalam mengerjakan soal konsep pecahan. Identifikasi kemampuan dan kesalahan dilakukan dengan cara mendeskripsikan hasil pekerjaan mahasiswa lalu memberikan kode deskripsi.
Mahasiswa yang hasil pekerjaan dan deskripsi sama akan diberikan kode deskripsi yang sama juga. Berikut beberapa jawaban mahasiswa yang telah dideskripsikan sesuai dengan nomor soal. Lembar deskripsi hasil jawaban mahasiswa seluruhnya dapat dilihat pada Lampiran 3.
Tabel 4.1 Deskripsi Hasil Tes II Kelas A Nomor 8
No KM Deskripsi Penelitian KD
1. S16 A2
S16 mengerjakan hingga selesai tetapi hasil akhir salah. S16 mampu mengetahui informasi yang ditanyakan pada soal, tetapi belum mampu menyajikan nilai pecahan dan menggunakan pecahan senilai dengan benar. Penyebab S16 salah dalam mengerjakan adalah S16 belum memahami konsep pecahan dan mengubungkan konsep untuk menyelesaikan soal.
2. S27 A3
S27 mengerjakan hingga selesai tetapi hasil akhir salah. S27 mampu membaca soal dan memahami informasi pada soal tetapi belum mampu mengidentifikasikan strategi yang tepat untuk menyelesaikan soal menggunakan konsep pecahan. S27 menganggap bahwa bentuk gambar 1
4 bagian adalah sehingga S27 hanya mengarsir satu daerah. Penyebab S27 salah dalam mengerjakan adalah S27 belum memahami konsep pecahan dan mengubungkan konsep untuk menyelesaikan soal.
3. S32 A6
S32 mengerjakan hingga selesai tetapi hasil akhir salah. S32 tidak memahami maksud soal. S32 hanya menggambar daerah yang menyatakan 1
4 bagian dan tidak dihubungkan pada gambar yang ada di soal. Penyebab S32 salah dalam mengerjakan adalah S32 tidak fokus, kurang mampu mengubungkan konsep pecahan dalam menyelesaikan soal
(menyederhanakan bilangan pecahan).
4. S40 A5
S40 tidak mengerjakan hingga selesai. S40 mampu menyalin gambar dengan tepat tetapi kehabisan waktu dalam
mengerjakan soal atau tidak memahami cara penyelesaian soal.
5. S41 A8
S41 mengerjakan hingga selesai tetapi hasil akhir salah. S41 mampu membaca soal dan memahami informasi pada soal tetapi kurang tepat menyalin gambar pada lembar jawaban dan belum mampu mengidentifikasikan strategi yang tepat untuk menyelesaikan soal menggunakan konsep pecahan. S41
menganggap 1 (pembilang) sebagai satu kotak seluruhnya dan 4 (penyebut) sebagai bagian yang diarsir. Penyebab S41 salah dalam mengerjakan adalah S41 tidak fokus, belum
memahami pecahan sebagai bagian dari sesuatu yang utuh (konsep pecahan) dan belum mampu mengubungkan konsep dalam menyelesaikan soal.
Tabel 4.2 Deskripsi Hasil Tes II Kelas B Nomor 7
No KD Deskripsi Penelitian KD
1. S7 D7
S7 mengerjakan hingga selesai tetapi hasil akhir salah. S7 tidak menyebutkan bagian yang tidak diarsir tetapi mengoprasikan daerah yang diarsir dan yang tidak diarsir. Penyebab S7 salah dalam mengerjakan adalah S7 tidak memahami maksud soal dan belum mampu melakukan operasi perhitungan.
2. S8 D1
S8 mengerjakan hingga selesai dan hasil akhir benar. S8 mampu memahami maksud soal dan dapat menentukan nilai pecahan dengan tepat.
3. S9 D2
S9 mengerjakan hingga selesai tetapi hasil akhir salah. S9 tidak memahami informasi pada soal dengan benar dan kurang tepat saat mengganggap 6
5=5
6 atau kedua pecahan tersebut memiliki nilai yang sama. Penyebab S9 salah dalam mengerjakan adalah S9 tidak memahami maksud soal, kurang teliti dan belum memahami konsep pecahan.
4. S25 D3
S25 mengerjakan hingga selesai tetapi hasil akhir salah.
S25 belum memahami pengertian bilangan pecahan dalam menyelesaikan soal, S25 menganggap 1 (pembilang) sebagai bagian yang tidak diarsir dan 5 (penyebut) sebagai bagian yang diarsir. Penyebab S25 salah dalam mengerjakan adalah S25 tidak memahami maksud soal dan belum memahami konsep pecahan.
5. S89 Tidak ada jawaban D1
S89 tidak mengerjakan soal. S89 kehabisan waktu atau tidak 0 memahami cara penyelesaian soal.
Tabel 4.3 Klasifikasi Hasil Tes Berdasarkan Jawaban Akhir Mahasiswa
No Soal Menjawab
Benar Menjawab Salah Belum Selesai Mengerjakan
2. Kuesioner Konteks Mahasiswa
Kuesioner konteks mahasiswa digunakan untuk mengetahui konteks-konteks yang mahasiswa pahami. Kuesioner ini terdiri dari identitas diri, identitas orang tua, lingkungan belajar, kegiatan sehari-hari, pemahaman matematis sederhana, dan harapan di masa depan. Hasil kuesioner konteks dirangkum oleh 6 orang bimbingan skripsi bapak Dr. Andy Rudhito, S.Pd dimana masing-masing merangkum 4 nomor yang nantinya akan digabungkan menjadi satu bagian. Hasil rangkuman secara keseluruhan dapat dilihat pada lampiran 6.
Tabel 4.4 Rangkuman Kuesioner Konteks Pemahaman Matematis Sederhana
No Jawaban Subjek Jumlah
1. Bola, Fungsinya: bermain dan olahraga S1, S16, S72, S46, S18, S44, S42, S45, S91, S86, S9, S94,
Fungsi: - (tidak ditulis)
S48, S93, S13, S19, S14 5 7. Bola voli dan bola kaki
Fungsi: untuk bermain
S26, S49, S78, S99 4
8. Kelereng, Jeruk, Apel, Semangka, Anggur, Fungsi: - (tidak ditulis)
S27, S29 2
9. Sagu bakar, Fungsi: sebagai makanan sehari-hari
S20 1
10. Penutup botol, Fungsi: menutup botol S30 1
11. Piring, Fungsi: menaruh makanan S73, S95, S77, S57, S52 5
12. Bola mata, Fungsi: melihat S62 1
13. Loyang-loyang, Fungsi: cuci pakaian S70, S82 2
14. Piring, Fungsi: - (tidak ditulis) S7 1
15. Koin, Fungsi: bisa membaut cincin S50 1
16. Uang logam, Fungsi:(tidak ditulis) S33, S31 2
17. Telur, Fungsi: - (tidak ditulis) S35 1
18. Roda motor dan pelek motor Fungsi: - (tidak ditulis)
S25 1
19. Penutup drum, Fungsi: (tidak ditulis) S61 1
20. Busi. Fungsi: mengalirkan minyak dan mengatur pernapasan mobil
S67 1
21. Bola, Fungsi: - (tidak ditulis) S69 1
22. Kolam/sumur, Fungsi: membuat sumur air S76 1
23. Matahari. Fungsi: - (tidak ditulis) S79 1
24. Bola bumi. Fungsi: tempat tinggal semua makhluk hidup
S84 1
25. Bola atau logam, Fungsi: - (tidak ditulis) S96 1 26. Lingkaran
Fungsi: melingkar sebuah lingkaran bulat
S75 1
27. Tidak menjawab, Fungsi: bola bumi S87 1
28. Tidak menjawab, Fungsi: - (tidak ditulis) S41, S38, S24, S8, S39, S64, S6, S34, S85, S43, S54, S92
12
3. Catatan dan Refleksi Mingguan Tutor
Catatan dan refleksi ini selalu di ditulis oleh para tutor setiap minggu dimana setiap tutor pasti membimbing di satu kelas. Berikut ini contoh hasil rangkuman refleksi tutor menggu ke-9. Lembar hasil rangkuman refleksi tutor seluruhnya dapat dilihat pada Lampiran 7.
Minggu Kesembilan
Berdasarkan hasil pengamatan tutor, beberapa mahasiswa terbuka menyampaikan kesulitannya pada soal cerita untuk materi operasi pecahan.
Kemudian tutor mengajak mahasiswa mengerjakan soal cerita dan melatih mahasiswa dalam memahami soal cerita. Tutor membimbing dalam berdiskusi mengenai maksud soal dengan tujuan untuk memfokuskan bagaimana memahami soal tersebut dan menceritakan kembali menggunakan bahasa sendiri. Sebagian besar mahasiswa dapat menjelaskan arti dari masing-masing kata pada kalimat soal cerita. Tetapi pada saat proses pengerjaan mahasiswa kesulitan dalam menggunakan operasi untuk menyelesaikan soal, tutor memberikan penjelasan yang berkaitan dengan masalah tersebut. Dari proses bimbingan selama satu minggu terlihat bahwa mahasiswa mampu bekerjasama dan menyelesaikan soal. Walaupun masih ada sebagian mahasiswa yang mengalami kesulitan pada operasi pecahan.
Tutor menyadari bahwa dalam mengajar harus menggunakan ilustrasi, bahasa yang sederhana dan sesuai dengan konteks mereka. Tutor dituntut untuk memperkaya diri dengan metode yang berbeda maupun ilustrasi untuk membantu mahasiswa dalam memahami materi yang diajarkan agar pembelajaran yang dilaksanakan dapat lebih efektif dan efesien.
4. Hasil Pengamatan dan Interaksi dengan Mahasiswa dan Tutor a. Hasil Pengamatan dan Interaksi dengan Mahasiswa
Peneliti mendapat kesempatan melihat langsung proses kegiatan pembelajaran di kelas A bersama tutor Surya. Pada saat itu pembelajaran dimulai dengan membahas konsep pecahan, tutor menjelaskan konsep pecahan menggunakan ilustrasi gambar kue yang dipotong menjadi beberapa bagian yang sama banyak/besar. Beberapa mahasiswa mendengarkan dengan baik penjelasan tutor namun ada juga beberapa mahasiswa yang berbicara dengan teman sebelahnya ketika tutor menjelaskan. Hal ini mengganggu konsentrasi mahasiswa tersebut dan teman sekitarnya yang mendengar perbincangannya. Setelah itu tutor memberikan latihan soal, selama mengerjakan soal mahasiswa saling berdiskusi bersama teman sebelahnya dan ada beberapa mahasiswa yang bertanya langsung kepada peneliti.
Peneliti menjelaskan bagian yang tidak dipahami mahasiswa secara perlahan. Setelah mahasiswa selesai mengerjakan soal, kemudian tutor meminta beberapa mahasiswa untuk menulis dan menjelaskan hasil pekerjaannya. Mahasiswa yang peneliti bimbing secara sukarela menjelaskan hasil pekerjaannya, namun tiba-tiba mahasiswa kebingungan
Peneliti menjelaskan bagian yang tidak dipahami mahasiswa secara perlahan. Setelah mahasiswa selesai mengerjakan soal, kemudian tutor meminta beberapa mahasiswa untuk menulis dan menjelaskan hasil pekerjaannya. Mahasiswa yang peneliti bimbing secara sukarela menjelaskan hasil pekerjaannya, namun tiba-tiba mahasiswa kebingungan