• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

2. Penyebab Kesulitan Mahasiswa

Berdasarkan data yang peneliti peroleh, terdapat beberapa penyebab kesulitan belajar mahasiswa yang peneliti kelompokkan kedalam dua kategori yaitu faktor internal dan eksternal.

a. Faktor Internal (Berasal dari dalam diri sendiri)

1) Kebiasaan yang tidak baik seperti malas dan membolos

2) Kurang minat terhadap pelajaran matematika dan menjudge bahwa matematika sulit untuk dipahami

3) Mahasiswa belum lancar membaca, menulis, dan berhitung

4) Rendahnya daya ingat mahasiswa dalam mengingat kembali materi-materi yang sudah dipelajari

5) Menganggap materi pecahan sulit untuk dipelajari 6) Konsentrasi yang mudah terganggu

7) Mahasiswa belum terbiasa menyelesaikan soal cerita b. Faktor Eksternal (Berasal dari luar diri sendiri)

1) Rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.

2) Pendidikan di Kabupaten Mappi masih tertinggal 3. Upaya-upaya yang sudah dilakukan tutor dan hasilnya

Upaya-upaya yang sudah dilakukan tutor dalam meminimalisir kesulitan-kesulitan yang dialami mahasiswa yaitu sebagai berikut:

a. Tutor memperkenalkan konsep pecahan secara kontekstual b. Tutor memberikan motivasi kepada setiap mahasiswa

c. Tutor menggunakan bahasa dan intonasi yang sederhana dan baik d. Tutor memberikan tugas tambahan kepada mahasiswa

e. Tutor menggunakan aplikasi kahoot 4. Rekomendasi Pembelajaran Selanjutnya

Peneliti membuat rekomendasi strategi pembelajaran untuk kegiatan matrikulasi periode selanjutnya. Strategi tersebut dibuat berdasarkan pertimbangan dari hasil upaya-upaya yang sudah dilakukan tutor sebelumnya.

Adapun rekomendasi pembelajaran tersebut sebagai berikut:

a. Menggunakan alat peraga untuk memberikan pengalaman nyata dalam memahami materi.

b. Tutor mengadakan permainan.

c. Tutor mengusulkan kepada mahasiswa untuk menggunakan buku berpetak dalam pembelajaran matematika.

B. Pembahasan

1. Kemampuan dan Kesulitan Mahasiswa a. Kemampuan Mahasiswa

1) Soal Langsung

a) Mampu memahami masalah/soal

Berdasarkan hasil analisi Tabel 5.4, banyak mahasiswa yang sudah mampu memahami soal untuk membuat gambar sesuai dengan nilai pecahan atau mengarsir bagian daerah yang sesuai pada gambar di soal.

b) Mampu menyalin gambar yang sesuai pada soal

Soal ini mengharuskan mahasiswa untuk menyelesaikan soal sesuai gambar di yang diberikan, selanjutnya dapat dilihat bahwa sebagian besar mahasiswa sudah mampu menyalin gambar pada lembar jawabannya. Beberapa mahasiswa yang hanya menyalin gambar tanpa mengarsirkan daerah yang diminta pada soal juga dianggap sudah mampu menyalin gambar dengan tepat.

c) Mampu menyajikan nilai pecahan dengan benar sesuai gambar di soal

Berdasarkan hasil analisi Tabel 5.4, dapat dilihat bahwa beberapa mahasiswa saja yang dapat menunjukkan atau menyajikan nilai pecahan sesuai dengan gambar di soal menggunakan konsep yang benar.

d) Mampu mengenal pecahan sebagai bagian yang utuh

Beberapa mahasiswa sudah mampu untuk merencanakan penyelesaian soal dengan memahami makna dari pecahan sebagai bagian yang utuh dan membedakan antara penyebut dan pembilang dengan benar.

e) Mampu menentukan nilai pecahan berdasarkan gambar pada soal Berdasarkan hasil analisi Tabel 5.4, dapat dilihat bahwa beberapa mahasiswa sudah mampu menentukan nilai pecahan berdasarkan gambar pada soal dengan tepat menggunakan konsep pecahan.

2) Soal Soal Cerita

a) Mampu menyelesaikan soal secara sistematis

Langkah pertama yang harus dilakukan untuk menyelesaikan soal cerita matematika adalah membaca dan memahami informasi maupun permasalahan yang ada dalam soal. Membaca dan memahami soal dapat dilihat dari kemampuan mahasiswa dalam mengerjakan soal secara sistematis yaitu menuliskan penyelesaian soal dengan menuliskan diketahui, ditanya, proses penyelesaian dan jawaban akhir/kesimpulannya. Mahasiswa yang sudah menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan pada soal yang dibacanya mengidentifikasikan adanya kemampuan dalam membaca dan memahami soal. Beberapa mahasiswa sudah mampu mengerjakan soal secara sistematis.

b) Mampu menuliskan yang diketahui dan ditanya dengan benar Setengah mahasiswa matrikulasi mampu menuliskan yang diketahui dan ditanya dengan benar. Beberapa mahasiswa yang hanya menuliskan apa yang diketahui dan ditanya pada soal, penyelesaian secara sistematis tetapi cara penyelesaiannya salah, atau jawaban akhirnya salah juga dianggap mampu menuliskan yang diketahui dan ditanya jika informasi tersebut ditulis dengan benar.

Menurut Polya (Haryati, 2013: 137), untuk memahami suatu masalah dalam soal, siswa harus mengidentifikasi apa yang diketahui dari masalah dan mengabaikan hal-hal yang tidak relevan dengan masalah.

c) Mampu menggunakan strategi penyelesaian dengan tepat

Sedikit mahasiswa yang mampu menggunakan strategi penyelesaian dengan tepat. Strategi penyelesaian tersebut dapat berupa dengan cara menyamakan penyebut kedua atau lebih bilangan pecahan, mengurutkan bilangan pecahan, metode arsiran daerah atau menggunakan tanda pembanding dengan benar.

d) Mampu melakukan perhitungan

Setelah menentukan operasi hitung, mahasiswa selanjutnya melakukan proses operasi untuk mendapatkan hasilnya. Hanya sedikit mahasiswa yang mampu melakukan perhitungan dan memperoleh hasil dengan benar.

e) Mampu menuliskan jawaban akhir dengan benar

Berdasarkan hasil analisi Tabel 5.8, beberapa mahasiswa mampu menuliskan jawaban akhir dengan benar. Jawaban akhir ini dapat berupa hasil atau kesimpulan jawaban.

b. Kesulitan Mahasiswa

Kesulitan mahasiswa dapat diketahui berdasarkan kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan mahasiswa dalam menyelesaikan soal yang diberikan. Kesulitan tersebut sesuai menurut ahli Jamaris (2015) yaitu:

1) Soal Langsung

a) Kelemahan dalam menghitung

(1) Kesulitan melakukan perhitungan dengan benar

Berdasarkan soal yang diberikan yaitu menentukan nilai pecahan, beberapa mahasiswa mengerjakannya menggunakan perhitungan. Walaupun dalam penyelesaiannya seharusnya tidak perlu melakukan perhitung tetapi ada mahasiswa yang kurang tepat dalam proses operasi untuk mendapatkan hasil yang benar.

Kesalahan dalam ini termasuk dalam salah satu dari 6 jenis kesalahan menurut Movshovitz-Hadar (1987) yaitu kesalahan teknis dimana mahasiswa melakukan kesalahan perhitungan.

Gambar 5.1 Hasil Pekerjaan Tes II Kelas B Nomor 7

b) Kesulitan dalam menstransfer pengetahuan

(1) Kesulitan menyalin gambar yang sesuai dengan soal

Dari hasil pekerjaan mahasiswa, kesulitan menyalin gambar dengan benar dialami oleh mahasiswa karena salah dalam menggambar bentuk bangun daerah yang ada di soal atau tidak menyalin gambar yang sesuai namun membuat gambar sendiri sesuai bilangan pecahan yang ditanyakan. Kesalahan dalam ini termasuk dalam salah satu dari 6 jenis kesalahan menurut Movshovitz-Hadar (1987) yaitu kesalahan menggunakan data dimana mahasiswa kurang tepat dalam menyalin data atau menyatakan suatu syarat yang tidak sesuai.

Gambar 5.2 Hasil Pekerjaan Tes II Kelas A Nomor 8 c) Pemahaman bahasa matematika yang kurang

(1) Kesulitan mengerjakan soal (tidak mengerjakan soal)

Berdasarkan hasil analisis Tabel 5.12, kesulitan dalam mengerjakan soal dialami oleh beberapa mahasiswa yang tidak mengerjakan soal. Berdasarkan hasil pengamatan, mahasiswa tidak mengerjakan soal karena tidak mampu memahami soal, kesulitan dalam menentukam langkah penyelesaian yang harus dilakukannya atau kehabisan waktu dalam menyelesaikannya.

(2) Kesulitan menuliskan jawaban akhir dengan benar

Dalam menyelesaikan soal, beberapa mahasiswa masih kesulitan dalam menuliskan jawaban akhir dengan benar. Dapat dilihat bahwa mahasiswa salah dalam menuliskan kesimpulan seperti “daerah yang diarsir adalah 1

6”, kesalahan dalam penulisan kesimpulan dapat mengubah makna soal karena pada soal yang ingin ditentukan adalah daerah yang tidak diarsir. Walaupun jawaban akhir benar yaitu 1

6 tetapi kesimpulan termasuk tidak tepat. Hal ini termasuk kedalam salah satu kesalahan yang diungkapkan oleh Movshovitz-Hadar (1987) yaitu penyelesaian yang tidak diperiksa lagi. Kesalahan ini terjadi ketika siswa mengerjakan soal secara terburu-buru sehingga pekerjaannya tidak dikoreksi kembali.

d) Kesulitan dalam persepsi Visual

(1) Kesulitan menyajikan nilai pecahan sesuai gambar di soal

Berdasarkan hasil analisi Tabel 5.12, dapat dilihat bahwa banyak mahasiswa yang kesulitan dalam menunjukkan atau menyajikan nilai pecahan sesuai dengan gambar di soal.

Kesalahan dalam menyajikan nilai pecahan ini termasuk dalam salah satu kesalahan yang sering terjadi menurut Supriyanto dan Purwaningsih (2011:34-68) yaitu kesalahan menyajikan nilai pecahan.

(2) Kesulitan menggunakan strategi penyelesaian yang sesuai Berdasarka hasil analisis Tabel 5.12, ada banyak mahasiswa yang masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal dengan konsep pengerjaan dengan benar.

Sebagian besar mahasiswa dalam kesulitan jenis ini mampu menyelesaikan soal hingga selesai tetapi proses dan hasil penyelesaiannya kurang tepat. Ada mahasiswa yang tidak menentukan nilai pecahan tetapi mengoprasikan bilangan yang diarsir dan tidak diarsir. Kesalahan dalam ini termasuk dalam salah satu dari 6 jenis kesalahan menurut Movshovitz-Hadar (1987) yaitu kesalahan menggunakan teorema atau definisi dimana mahasiswa melakukan penyelesaian yang tidak sesuai dengan permasalahan yang diberikan.

Gambar 5.3 Hasil Pekerjaan Tes II Kelas B Nomor 7 (3) Kesulitan membedakan antara pembilang dan penyebut

Pada dasarnya beberapa mahasiswa masih kesulitan dalam memahami konsep pecahan termasuk dalam membedakan antara pembilang dan penyebut jika dihubungkan pada sebuah gambar.

Kesalahan tersebut termasuk dalam salah satu kesalahan yang sering terjadi menurut Supriyanto dan Purwaningsih (2011:34-68) yaitu kesalahan dalam membedakan antara pembilang dan penyebut.

(4) Kesulitan menentukan nilai pecahan berdasarkan gambar pada soal

Berdasarkan hasil analisi Tabel 5.12, dapat dilihat bahwa beberapa mahasiswa masih kesulitan dalam menentukan nilai pecahan sesuai pada gambar di soal. Kesalahan tersebut termasuk dalam salah satu kesalahan yang sering terjadi menurut Supriyanto dan Purwaningsih (2011:34-68) yaitu menentukan nilai pecahan.

2) Soal Cerita

a) Kelemahan dalam menghitung (1) Kesulitan melakukan perhitungan

Kesulitan dalam melakukan perhitungan untuk menyelesaikan soal cerita masih dialami oleh beberapa mahasiswa. Berdasarkan hasil pekerjaan dan hasil pengamatan peneliti mahasiswa masih kesulitan dalam melakukan operasi hitung khususnya pada materi pecahan ini. Menurut Jamaris (2014:188), Banyak siswa yang memiliki pemahaman yang baik tentang berbagai konsep matematika, tetapi tidak dalam berhitung.

Gambar 5.4 Hasil Pekerjaan Tes III Kelas B Nomor 5

b) Kesulitan dalam menstransfer pengetahuan (1) Kesulitan memahami masalah/soal

Berdasarkan hasil analisi Tabel 5.16, beberapa mahasiswa mampu membaca soal namun gagal memahami apa yang dimaksudkan/diperlukan dari soal sehingga siswa tersebut gagal dalam menyelesaikan permasalahannya. Kesalahan ini termasuk dalam salah satu dari 5 kategori kesalahan yang ada menurut Newman yaitu kesalahan memahami (Comprehension errors).

(2) Kesulitan menyelesaikan soal secara sistematis

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah peneliti lakukan saat pembelajaran program matrikulasi, mahasiswa terkadang bertanya terkait apa yang seharusnya dituliskan pada tahap diketahui dan ditanya karena mahasiswa kesulitan dalam memahami soal. Meskipun ada mahasiswa yang tidak menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan dalam soal namun, beberapa mahasiswa tersebut sudah mampu menyelesaikan soal yang ada dengan penyelesaian yang benar maupun mendekati benar. Hal tersebut mungkin terjadi karena mahasiswa tidak terbiasa untuk mengerjakan soal cerita secara sistematis.

Gambar 5.5 Hasil Pekerjaan Tes II Kelas B Nomor 8

(3) Kesulitan menuliskan yang diketahui dan ditanya dengan benar Berdasarkan hasil analisi Tabel 5.16, beberapa mahasiswa tidak menuliskan yang diketahui dan ditanya pada soal. Banyak mahasiswa yang langsung melakukan proses perhitungan bilanganya atau memberikan kesimpulan/jawaban akhir.

c) Pemahaman bahasa matematika yang kurang

(1) Kesulitan mengerjakan soal (tidak mengerjakan soal)

Berdasarkan hasil analisis Tabel 5.16, kesulitan dalam mengerjakan soal dialami oleh beberapa mahasiswa yang tidak mengerjakan soal. Berdasarkan hasil pengamatan mahasiswa tidak mengerjakan soal karena tidak mampu memahami soal, kesulitan dalam menentukam langkah penyelesaian yang harus dilakukannya dan kehabisan waktu dalam menyelesaikannya.

(2) Kesulitan menuliskan kesimpulan dengan benar

Berdasarkan hasil analisi Tabel 5.16, beberapa mahasiswa kesulitan menuliskan jawaban akhir dengan benar. Jawaban akhir ini dapat berupa hasil atau kesimpulan jawaban.

d) Kesulitan dalam persepsi Visual

(1) Kesulitan menggunakan strategi penyelesaian dengan tepat Berdasarkan hasil analisis Tabel 5.16, banyak mahasiswa yang masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal dengan konsep pengerjaan dengan benar. Sebagian besar mahasiswa dalam kesulitan jenis ini juga kurang mampu melakukan proses perhitungan. Selain itu, pekerjaan mahasiswa

yang tidak mampu peneliti analisis, peneliti masukkan dalam kategori kesulitan dalam menyelesaikan soal dengan menggunakan strategi penyelesaian yang tepat karena proses pengerjaannya tidak dapat dipahami. Mahasiswa yang cara pengerjaannya tidak dapat dipahami menggunakan cara penyelesaian dengan konsepnya sendiri yang dianggap benar untuk menyelesaikan soal.

Gambar 5.6 Hasil Pekerjaan Tes II Kelas B Nomor 8 (2) Kesulitan menggunakan tanda pembanding pecahan

Berdasarkan hasil analisis Tabel 5.16, beberapa mahasiswa masih mengalami kesulitan dalam menggunakan tanda pembanding pecahan. Dalam menyelesaiakan soal perbandingan pecahan ini, sebagian besar mahasiswa menggunakan cara perkalian silang untuk membedakan mana bilangan yang paling besar dan kecil, namun cara tersebut kurang tepat dan dapat menimbulkan kesalahan dalam menentukan tempat bilangan tersebut. Kesalahan tersebut termasuk dalam salah satu kesalahan yang sering terjadi menurut Supriyanto dan Purwaningsih (2011:34-68) yaitu kesalahan dalam membandingkan dua pecahan.

(3) Kesulitan mengurutkan bilangan pecahan menggunakan garis bilangan

Berdasarkan hasil analisis Tabel 5.16, beberapa mahasiswa masih mengalami kesulitan dalam mengurutkan pecahan.

Mahasiswa menggunakan garis bilangan dalam membedakan mana bilangan yang paling besar dan kecil, namun ada mahasiswa yang kurang tepat dalam menentukan letak bilangan pecahan pada garis bilangan tersebut walaupun jawaban akhir/kesimpulan yang ditulis mahasiswa tersebut benar.

Kesalahan tersebut termasuk dalam salah satu kesalahan yang sering terjadi menurut Supriyanto dan Purwaningsih (2011:34-68) yaitu kesalahan dalam mengurutkan.

Gambar 5.7 Hasil Pekerjaan Tes II Kelas A Nomor 10 (4) Kesulitan membandingkan bilangan pecahan menggunakan

metode arsiran daerah

Berdasarkan hasil analisis Tabel 5.16, Ada mahasiswa yang masih mengalami kesulitan dalam menggunakan metode arsiran.

Dalam penyelesaiannya mahasiswa tersebut tidak membuat sama besar untuk kedua daerah tersebut, hanya membuat daerah arsiran yang menyatakan nilai pecahan sehingga salah dalam menentukan hasil akhir.

2. Penyebab Kesulitan Mahasiswa a. Faktor Internal

1) Kebiasaan yang tidak baik seperti malas dan sering absen selama pembelajaran berlangsung

Berdasarkan hasil koesioner konteks mahasiswa, mahasiswa memiliki kebiasaan yang tidak baik sejak berada di bangku sekolah dan terbawa sampai kegiatan matrikulasi berlangsung. Kebiasaan tersebut adalah malas dan membolos, beberapa mahasiswa mengatakan bahwa mereka lebih memilih membantu orang tua bekerja dari pada mengikuti pelajaran di sekolah dan mahasiswa juga mengatakan belajar kalau ada ujian saja. Kebiasaan ini yang mengakibatkan mahasiswa malas belajar dan sering absen dalam kegiatan matrikulasi. Sehingga mahasiswa mudah ketinggalan dalam pelajaran matematika dan sulit mengejar ketertinggalan dari teman-temannya yang lain. Hal ini tentu berdampak pada kemampuan mahasiswa dalam mempelajari dan memahami materi matematika.

2) Kurang minat terhadap pelajaran matematika dan menjudge bahwa matematika sulit untuk dipahami

Beberapa mahasiswa tidak tertarik mempelajari matematika, hal ini disebabkan oleh perkataan senior mahasiswa sewaktu di bangku sekolah yang mengatakan bahwa matematika terlalu sulit untuk dipelajari karena berhubungan dengan angka, rumus, dan perhitungan yang banyak. Hal ini didukung ketika mahasiswa mempelajari konsep pecahan saat matrikulasi.

Beberapa mahasiswa mengatakan sulit memahami materi karena baru pertama kali menemukan angka dan perhitungan yang berbeda dari biasanya. Sehingga mahasiswa sudah terlebih dahulu menjudge bahwa matematika sulit untuk dipelajari sebelum lebih dalam mencobanya.

Pemikiran seperti itu jelas berpengaruh terhadap kemampuan penguasaan materi matematika.

3) Mahasiswa belum lancar membaca, menulis, dan berhitung

Beberapa mahasiswa masih mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, dan berhitung. Hal ini disebabkan oleh penguasaan bahasa mahasiswa yang masih kurang dan dapat berpengaruh terhadap kemampuan mahasiswa di bidang matematika. Soal matematika yang berbentuk cerita menuntut kemampuan membaca, menulis, dan berhitung untuk memecahkannya. Oleh karena itu, mahasiswa mengalami kesulitan dalam memecahkan soal matematika yang berbentuk cerita tertulis. Mahasiswa yang belum lancar membaca dapat mengakibatkan salah dalam menulis penyelesaian soal dan tidak memahami maksud soal. Mahasiswa yang belum lancar menulis disebabkan karena penguasaan bahasa yang kurang mengakibatkan tidak rapi serta terbelit-belit dalam penulisan kesimpulan atau penyelesaian soal. Masih banyak mahasiswa yang tidak lancar berhitung khususnya bilangan bulat yang mempengaruhi dalam memahami bilangan pecahan.

4) Rendahnya daya ingat mahasiswa dalam mengingat kembali materi-materi yang sudah dipelajari

Beberapa mahasiswa memiliki daya ingat yang rendah, mahasiswa yang sudah dijelaskan cara pengerjaannya terkadang masih lupa tiba-tiba jika disuruh menjelaskan ulang. Hal inilah yang berpengaruh terhadap kemampuan mahasiswa dalam memahami konsep pecahan.

5) Mahasiswa menganggap materi pecahan sulit untuk dipelajari

Matematika dianggap sulit oleh mahasiswa khususnya mengenai konsep pecahan karena baru pertama kali dipelajari secara menyeluruh.

Beberapa mahasiswa ada yang langsung memahami dan ada juga yang belum memahami konsep pecahan. Hal ini dikarenakan mahasiswa terbiasa mengerjakan soal yang berkaitan dengan bilangan bulat dan beberapa mahasiswa masih kebingungan dengan simbol pecahan.

Mahasiswa juga jarang bahkan tidak merasa menggunakan atau mengaplikasikan pecahan dalam kehidupan sehari-hari.

6) Kurang terampil dalam menggunakan operasi bilangan bulat dan KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil)

Beberapa mahasiswa memiliki kesulitan dalam mengoprasikan bilangan bulat seperti salah menghitung perkalian dan pembagian yang membuat mahasiswa kesulitan dalam menentukan KPK. Hal tersebut menjadi penghambat mahasiswa dalam meningkatkan kemampuan memahami konsep pecahan seperti menentukan pecahan senilai dan membandingkan pecahan.

7) Konsentrasi yang mudah terganggu

Selama melakukan pengamatan beberapa mahasiswa terlihat tidak konsentrasi/fokus dalam mendengarkan penjelasan tutor atau menyelesaikan soal yang diberikan. Mahasiswa yang kehilangan konsentrasi mengakibatkan tidak teliti dalam menuliskan informasi yang ada pada soal. Sehingga membuat mahasiswa salah dalam memahami maksud soal dan menyelesaikan soal yang diberikan.

8) Mahasiswa belum terbiasa menyelesaikan soal cerita

Berdasarkan hasil tes yang sudah di analisis rata-rata persentase kesulitan yang dialami mahasiswa dalam menyelesaikan soal cerita lebih besar daripada soal langsung. Hal ini disebabkan karena mahasiswa tidak terbiasa menyelesaikan soal cerita dan beberapa mahasiswa masih kesulitan dalam memahami bahasa pada soal.

Sehingga mahasiswa belum mampu memahami soal, menentukan rencana penyelesaian, melaksanakan penyelesaian, dan menentukan kesimpulan jawaban serta menuliskan penyelesaian secara sistematis.

b. Faktor Eksternal

1) Rendahnya kehidupan ekonomi keluarga

Berdasarkan hasil kuesioner konteks mahasiswa, rata-rata pekerjaan orang tua mahasiswa adalah petani dan pedagang. Kehidupan ekonomi mahasiswa masih tergolong rendah yang mengakibatkan mahasiswa harus membantu orang tuanya berkerja, tidak ada biaya untuk mengikuti les dan tidak dapat memakan makanan yang bergizi untuk meningkatkan kesehatan otak dan memori mahasiswa.

2) Pendidikan di Kabupaten Mappi masih tertinggal

Berdasarkan hasil kuesioner konteks mahasiswa, beberapa sekolah di Kabupaten Mappi masih kekurangan fasilitas sarana dan prasarana seperti ruang kelas, lab, perpustakaan, papan tulis, buku pelajaran, dan komputer. Sekolah juga masih kekurangan tenaga pendidikan, sehingga membuat beberapa guru tidak menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik dengan maksimal seperti jarang masuk untuk mengajar, hanya memberi catatan/tugas tanpa melakukan penjelasan materi, dan menjelaskan materi secara cepat. Hal ini menyebabkan kemampuan mahasiswa tertinggal dari yang lainnya.