Pasal 24 UU ITE disebutkan bahwa pengelola nama domain adalah Pemerintah dan/atau masyarakat. Dalam hal terjadi perselisihan pengelolaan nama
C. Penyelesaian sengketa nama domain
Munculnya sengketa jika salah satu pihak menghendaki pihak lain untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu tetapi pihak lainnya menolak berlaku demikian.
Pencarian berbagai jenis proses dan metode untuk menyelesaikan sengketa yang muncul adalah sesuatu yang urgent dalam masyarakat. Para ahli non hukum banyak mengeluarkan energi dan inovasi untuk mengekspresikan berbagai model penyelesaian sengketa (dispute resolution). Berbagai model penyelesaian
187 Budi Agus Riswandi, Op.Cit, hal 77
sengketa, baik formal maupun informal, dapat dijadikan acuan untuk menjawab sengketa yang mungkin timbul asalkan hal itu membawa keadilan dan kemaslahatan.188
Dalam hal penyelesaian sengketa nama domain, apabila terjadi perselisihan antara pemilik nama domain, maka kewenangan untuk menyelesaikan perselisihan tersebut bukanlah kewenangan dari PANDI melainkan yang berwenang untuk menyelesaikan perselisihan tersebut adalah pemerintah. PANDI tidak mempunyai kewenangan untuk meyelesaikan sengketa nama domain, hal tersebut sesuai dengan kebijakan dari PANDI itu sendiri, yang menyatakan bahwa penyelesaian sengketa nama domain (dispute resolution) diselesaikan oleh pemerintah Indonesia. Pandi akan melaksanakan hasil keputusan penyelesaian sengketa yang sudah memiliki kekuatan hukum tetap.189
Dalam undang-undang ITE apabila dalam hal terjadi perselisihan pengelolaan nama domain oleh masyarakat, pemerintah berhak mengambil alih sementara pengelolaan nama domain yang diperselisihkan. Sebagaimana yang kita ketahui pemerintah saat ini mendelegasikan kewenangan pengelolaan nama domain kepada PANDI, sedangkan dalam aturan internal PANDI itu sendiri, penyelesaian sengketa diselesaikan oleh pemerintah. Timbul permasalahan yang sedikit membingungkan bagi para pihak, siapa yang berwenang untuk menyelesaikan sengketa mengenai nama domain ini. Penyelesaian perselisihan nama domain diselesaikan melalui komite penyelesaian perselisihan nama domain. Namun, dalam hal terjadi perselisihan Nama domain yang tidak dapat
188 Soedjono Dirdjosisworo, Op.Cit, hal 63
189 https://mohanrvlaw.wordpress.com/2011/02/23/perlindungan-hukum-terhadap-nama-domain-dalam-media-internet/, diakses pada tanggal 10 Mei 2016
diselesaikan melalui komite penyelesaian perselisihan nama domain, para pihak dapat mengajukan penyelesaian perselisihan melalui upaya penyelesaian sengketa di luar pengadilan atau pengadilan. Penyelesaian sengketa nama domain inilah yang menimbulkan banyak permasalahan, terutama dalam hal kompetensi pengadilan/lembaga penyelesaian sengketa mana, yang berwenang untuk melakukan penyelesaian sengketa nama domain ini. Apabila diselesaikan melalui jalur pengadilan, maka pengeadilan mana yang berwenang untuk menyelesaikan sengketa nama domain ini, apakah pengadilan negeri ataukah pengadilan niaga yang memang berkompeten untuk meyelesaikan sengketa bidang HAKI khususnya dalam bidang hukum merek.190
Secara hukum belum ada definisi yang diberikan untuk nama domain.
Namun dari banyaknya literatur didapat pengertian bahwa nama domain (domain name) adalah nama unik yang diberikan untuk mengidentikasi nama server computer seperti web server atau email server di jaringan komputer ataupun internet.191 Fungsi nama domain untuk mempermudah pengguna di internet pada saat melakukan akses ke server. Nama domain ini juga dikenal sebagai sebuah kesatuan dari sebuah situs web seperti contohnya "gresnews.com". Nama domain kadang-kadang disebut pula dengan istilah URL, atau alamat website. Meski belum ada definisi dalam peraturan perundang-undangan, pengaturan nama domain kini telah tercantum pada UU ITE, khususnya pada Bab VI Pasal 23 hingga Pasal 26.192
190 http://bti.unpar.ac.id/undang-undang-ite/, diakses pada tanggal 15 Mei 2016
191 https://id.wikipedia.org/wiki/Nama_domain, diakses pada tanggal 15 Mei 2016
192 http://www.gresnews.com/berita/tips/80272-proses-penyelesaian-sengketa-nama-domain/0/, diakses pada tanggal 15 Mei 2016
Dalam dunia internet, banyak terjadi nama domain suatu website mirip atau bahkan sama dengan pemilik domain lain. Ada yang mungkin disengaja ada yang tidak sengaja. Nama domain dari segi aspek fungsi memang mirip dengan Merek karena menjual komoditas barang dan jasa, Selain itu nama domain sama seperti Merek memiliki daya pembeda, asalkan memiliki tanda yang digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa. Bahkan, kini juga banyak pendapat yang menyatakan agar Merek diperluas definisinya sampai mencakup nama domain. Oleh karena secara fungsi dapat disamakan antara nama domain dan merek, maka proses penyelesaian sengketa dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek dapat digunakan untuk sengketa nama domain, yakni jika terdapat sengketa nama domain itu harus dianggap suatu sengketa merek, maka jalur penyelesaian litigasinya ialah melalui Pengadilan Niaga atau dapat memilih alternatif penyelesaian sengketa.193
Pada praktiknya, sering terjadi penyalahgunaan nama domain seperti pembajakan nama domain (cyberpiracy), penyerobotan nama domain (cybersquatting), dan penggunaan nama domain yang mirip atau sama (typosquatting). Beberapa kasus yang terjadi dalam penggunaan sengketa nama domain ini memerlukan penyelesaian secara hukum agar tidak menimbulkan kerugian lebih banyak lagi. Pasal 76 Undang-Undang Merek mengatur hak pemilik atau pemegang merek dalam hal ini termasuk nama domain untuk mempertahankan haknya melalui gugatan perdata, berupa gugatan ganti kerugian ke pengadilan niaga. Begitu pula dalam Undang-Undang ITE, setiap pemilikan
193 Ibid.,
dan penggunaan nama domain tersebut harus didasarkan pada itikad baik dan tidak melanggar prinsip persaingan usaha secara sehat serta tidak melanggar hak orang lain. Semua pihak di atas berhak mengajukan gugatan pembatalan nama domain apabila telah dirugikan karena adanya penggunaan nama domain secara tanpa hak oleh pihak lain, sebagaimana diatur dalam Pasal 23 juncto Pasal 38 Undang-Undang ITE.
Pada Undang-Undang ITE telah ada pengaturan mengenai nama domain.
Salah satu upaya yang dapat ditempuh dalam menyelesaikan masalah menyangkut nama domain yaitu dengan mempergunakan mekanisme penyelesaian sengketa secara alternatif yang efektif, efisien, disertai biaya murah, berdasarkan ketentuan UDRP di atas. Timbulnya sengketa mengenai penyalahgunaaan nama domain telah mengilhami dilakukannya penyelesaian sengketa secara elektronik pula, yang dapat dilakukan oleh pihak yang dirugikan. Terdapat perbedaan pendapat diantara para ahli mengenai aturan yang tepat untuk mengatasi Nama domain ini, diantaranya penggunaan KUHP, KUHPerdata, dan UU Merek. Namun secara personal dapat dikatakan bahwa aturan dalam UU Merek dapat digunakan untuk mengatasi masalah nama domain karena adanya kemiripan antara nama domain dengan Merek. Sehingga pada saat nama domain digunakan dengan fungsi yang sama dengan Merek maka sengketa Nama domain dapat diselesaikan dengan UU Merek, ditambah lagi seperti yang telah diungkapkan sebelumnya bahwa nama domain dapat diinterpretasikan sebagai bagian dari jasa telekomunikasi yang terklasifikasi dalam kelas barang dan jasa merek. Jika suatu sengketa nama
domain dapat diangkat sebagai suatu sengketa merek, maka jalur penyelesaian litigasinya ialah melalui Pengadilan Niaga.194
Sejauh ini tidak ada satu peraturan di Indonesia yang sacara khusus mengatur masalah domain name. Sekarang ini, boleh dikatakan Indonesia masih tunduk pada pengaturan yang dipakai oleh dunia internasional ICANN (Internet Corporation for Assigned Names and Numbers), otoritas internet yang berwenang menangani masalah IP Addres, serta manajemen sistem domain name. Sehingga segala akibat hukum yang timbul dari penggunaan nama domain sudah sepatutnya tunduk pada ketentuan yang telah ditetapan oleh badan tersebut tersebut. Jika terjadi sengketa nama domain maka tunduk pada UDRP (Uniform Dispute Resolution Policy), yang merupakan ketentuan ICANN tentang penyelesaian sengketa domain name. Namun hingga kini belum terlihat bahwa Indonesia akan meratifikasi UDRP sebagai undang-undang.195
Setiap orang dapat mengajukan gugatan terhadap pihak yang menyelenggarakan sistem elektronik dan/atau menggunakan teknologi informasi yang menimbulkan kerugian.196 Masyarakat dapat mengajukan gugatan secara perwakilan terhadap pihak yang menyelenggarakan Sistem Elektronik dan/atau menggunakan teknologi informasi yang berakibat merugikan masyarakat, sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.197 Gugatan perdata dilakukan
194 Paustinus siburian, Penyelesaian Sengketa Nama domain Dalam Transaksi Bisnis, Djambatan, Jakarta, 2014, hlm. 103
195 http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl257/nama-domain-dan-merek, diakses pada tanggal 15 Mei 2016
196 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, Pasal 38 ayat (1)
197 Ibid., Pasal 38 ayat (2)
sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.198 Selain penyelesaian gugatan perdata para pihak dapat menyelesaikan sengketa melalui arbitrase, atau lembaga penyelesaian sengketa alternatif lainnya sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.199
Setiap orang, instansi penyelenggara negara, badan usaha, atau masyarakat yang dirugikan karena penggunaan nama domain secara tanpa hak oleh orang lain, berhak mengajukan gugatan pembatalan Nama domain kepada registri nama domain dan registrar nama domain.200 Registri nama domain dapat melakukan mediasi penyelesaian perselisihan nama domain.201 Mediasi penyelesaian perselisihan nama domain dapat melibatkan forum nama domain Indonesia.202 Registri membuat pedoman tata cara penyelesaian perselisihan nama domain.203 Dalam hal mediasi penyelesaian perselisihan nama domain tidak dicapai kesepakatan, pihak yang berselisih dapat mengajukan upaya penyelesaian perselisihan di luar pengadilan atau di pengadilan.204
Satu hal yang pasti ialah bahwa kemajuan teknologi akan berdampak pada masyarakat langsung maupun tidak langsung. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa perolehan nama domain adalah first come first serve. Hal ini akan mengakibatkan tidak mungkin suatu nama perusahaan didaftarkan dua kali.
Sehingga jika seseorang melakukan pendaftaran nama domain dengan
198 Ibid., Pasal 39 ayat (1)
199 Ibid., Pasal 39 ayat (2)
200 Peraturan Menteri Komunikasi Dan Informatika Nomor 23 Tahun 2013 Tentang Pengelolaan Nama domain, Pasal 46 ayat (1)
201 Ibid., Pasal 46 ayat (2)
202 Ibid., Pasal 46 ayat (3)
203 Ibid., Pasal 46 ayat (4)
204 Ibid., Pasal 46 ayat (5)
menggunakan merek dagangnya atau merek orang lain, maka orang yang pertama kali mendaftaran nama domain tersebut memiliki hak atas nama domain tersebut.
Kasus di lapangan yang sering terjadi adalah, orang mendaftarkan merek dagang orang lain tanpa sepengetahuan dari si pemilik merek dagang sesungguhnya.
Penyelesaian kasus ini biasanya disandarkan pada legitimate interest dari si pendaftar. Dalam hal ini harus dibuktikan, apakah yang bersangkutan memiliki iktikad tidak baik (bad faith) pada saat melakukan pendaftaran. Penggunaan merek dagang (perusahaan) sebagai nama domain menjadikan merek dagang tersebut dikenal oleh banyak orang di seluruh dunia. Selain mudah dan mampu menjangkau seluruh dunia, pemasaran merek dagang melalui domain akan menekan biaya promosi yang sanagt besar sekali.
Secara universal telah terdapat Uniform Domain-Name Dispute-Resolution Policy (UDRP) guna menyelesaikan sengketa-sengketa seputar nama domain.
Waktu yang ditargetkan untuk menghasilkan keputusan sejak pertama kali diadukan adalah sekitar 45 hari. ICANN sendiri telah menunjuk tiga badan yang berwenang untuk menjalankan UDRP tersebut, yaitu World Intelectual Property Organization (WIPO) di Jenewa Swiss,National Arbitration Forum di Minneapolis AS dan Disputes.org/eResolution Consortium di Montreal Kanada. Segala proses penyelesaian sengketa tersebut dilakukan melalui surat-menyurat maupun e-mail. Ada tiga penilaian yang memungkinkan suatu nama domain dipindah-tangankan, yaitu:
a. nama domain tersebut mirip dengan suatu merek,
b. pemilik nama domain tersebut tidak memiliki hak atau legitimasi atas nama domain tersebut,
c. pendaftar nama domain tersebut terbukti memiliki niatan yang tidak baik.205
Layaknya mekanisme alternative dispute resolution (ADR), kebijakan penyelesaian sengketa melalui mediasi dan arbitrasi berdasarkan UDRP di WIPO bersifat terbatas. Sengketa nama domain hanya dapat diajukan sekali saja dan tidak dapat diulang. Namun nilai tambah ditawarkan kepada pemilik merk ialah untuk mencegah dan menangani sabotase atau iktikad buruk atas pendaftaran merk mereka sebagai nama domain. Bila dibandingkan dengan prosedur pengadilan, jalur penyelesaian sengketa ini relatif lebih murah dan ringkas. Cukup banyak kasus sengketa nama domain di seluruhdunia yang diurus oleh WIPO.
Pada contoh kasus Mustika Ratu dipandang justru tidak memfokuskan persoalan pada nama domain itu sendiri, tetapi lebih pada persaingan curang yang tidak termasuk masalah substantif dari cyberlaw. Keputusan justru keluar dari permasalahan sesungguhnya yang menyangkut eksistensi dan kepemilikan nama domain. Persoalan akan sangat berbeda jika penyelesaian dilakukan melalui mekanisme penyelesaian sengketa nama domain. Penyelesaian dapat menggunakan institusi WIPO Mediation and Arbitration Center, dengan hukum substantif dan prosedur yang ditetapkan berdasarkan Uniform Domain Name Dis¬pute Resolution Policy (UDRP). Proses dan putusan panel dalam metode penyelesaian sengketa sangat efisien, dan eksekusi putusan sangat efektif, karena
205 https://72legalogic.wordpress.com/tag/nama-domain/, diakses pada tanggal 15 Mei 2016
secara teknis putusan panel dapat segera dijalankan melalui Registrar nama domain yang mendaftarkan nama domain yang dipersengketakan.206
UDRP merupakan kaidah substantif yang digunakan oleh berbagai pihak dalam menangani masalah sengketa kepemilikan nama domain dalam bentuk Cyber Court. UDRP diprakarsai organisasi non-profit di Amerika Serikat bernama Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN) yang mempunyai peranan utama sebagai organisasi mengatur lalu lintas pembuatan nama domain di seluruh dunia, dan berlaku efektif sejak 26 Agustus 1999. Sejak awal UDRP telah digunakan oleh seluruh registar nama domain yang berakhiran .com, .net, dan .org, selain nama domain yang termasuk ke dalam kategori country-code top-level domains seperti .nu, .tv, .ws.207
UDRP digunakan sebagai klausul pilihan dalam Hukum Perdata Internasional dalam setiap pendaftaran nama domain antara pihak registar dan pemegang nama domain, serta mengatur berbagai ketentuan pokok dan tata cara penyelesaian sengketa dengan pihak ketiga yang diakibatkan oleh penggunaan nama domain tersebut. Berdasarkan ketentuan UDRP, pihak registrar berhak untuk membatalkan, memindahkan, serta mengubah nama domain yang telah didaftarkan oleh pihak pemegang nama domain, karena adanya putusan atau perintah dari lembaga pengadilan maupun forum arbitrase yang berwenang, atau
206 http://www.kesimpulan.com/2009/03/hukum-merek-dan-nama-domain-dalam-rezim.html, diakses pada tanggal 15 Mei 2016
207 Ibid.,
putusan panel.208 Suatu nama domain dianggap telah didaftarkan dengan itikad buruk apabila:
a. Pemegang nama domain mendaftarkan nama domain dengan tujuan utama untuk menjual, menyewakan, ataupun memindahkan nama domain tersebut kepada pihak penggugat selaku pemilik hak atas merek terdaftar, maupun menjual kepada pesaing dari pihak penggugat dengan sejumlah imbalan tertentu.
b. Pihak pemegang nama domain dengan sengaja telah mendaftarkan suatu nama domain agar pihak penggugat, selaku pemilik hak atas merek nama domain, tidak dapat membuat nama domain sesuai dengan merek yang dimilikinya.
c. Pihak pemegang nama domain telah mendaftarkan suatu nama domain dengan tujuan untuk mengganggu persaingan bisnis pihak ketiga.
d. Pihak pemegang nama domain secara sengaja telah berusaha untuk menarik perhatian khalayak dalam mencari keuntungan dari merek nama domain yang telah didaftarkannya dengan cara membuat bingung para pengguna internet, selaku konsumen dari merek tersebut.
Hak penggugat hanya terbatas pada proses pembatalan nama domain maupun pemindahan nama domain dari pihak pemegang nama domain kepada pihak ketiga. Berdasarkan putusan panel, provider akan memberitahukan segala hasil putusan yang telah dikeluarkan oleh panel kepada pihak registrar yang selanjutnya akan dipublikasikan ke seluruh jaringan internet. Penyelesaian melalui
208 http://cintaeptik.blogspot.co.id/2013/06/udrp-uniform-domain-name-dispute.html, diakses pada tanggal 15 Mei 2016
mekanisme UDRP tidak menutup kemungkinan bagi para pihak untuk tetap menye¬lesaikan sengketa melalui lembaga pengadiIan, jika materi gugatan menyangkut masalah ganti rugi. Apabila panel telah memutus pembatalan atau pemindahan nama domain kepada pihak penggugat, maka pihak registrar harus menunggu selama 10 (sepuluh) hari setelah putusan diterima, untuk melakukan proses eksekusi.209
209 http://www.kesimpulan.com/2009/03/hukum-merek-dan-nama-domain-dalam-rezim.html, diakses pada tanggal 15 Mei 2016
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN