BAB IV Data dan Informas
PERKEBUNAN DAN KEHUTANAN
7. Penyusunan Masterplan Pendidikan Menengah Kabupaten Sleman Tahun 2016 –
Tujuan dari penyusunan Masterplan Pendidikan Menengah di Kabupaten Sleman Tahun 2016 – 2020 adalah : (1) menyusun rencana induk pendidikan menengah tahun 2016-2020 meliputi: kebijakan dan program-orogram yang relevan dengan delapan Standar Nasional Pendidikan (SNP) yaitu: standar isi, kompetensi lulusan, pendidik dan kependidikan, sarana prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan.proses; (2) melakukan identifikasi kondisi dan permasalahan pendidikan di Kabupaten Sleman dalam perspektif 8 standar berkaitan dengan fasilitas pendidikan maupun sistem pendidikan di Kabupaten Sleman; (3) menganalisis kondisi dan permasalahan di Kabupaten Sleman serta menentukan solusi untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi; (4) membuat proyeksi dan prediksi kondisi pendidikan sebagai acuan dalam pelaksanaan sistem pendidikan di Kabupaten Sleman; (5) menyusun rekomendasi implementasi program pendidikan dalam bentuk rencana jangka pendek dan jangka menengah di Kabupaten Sleman Tahun 2016 – 2020.
Dalam penyusunan Masterplan ini menggunakan metodologi : studi dokumentasi, wawancara dan Focus Group Discussion (FGD). Studi dokumentasi mencakup sekolah, murid, rombongan belajar, guru, tenaga kependidikan, sarana prasarana, proses belajar mengajar dan lain-lain. Wawancara dilakukan untuk mengungkap pemahaman dari stakeholder pendidikan menengah tentang kebutuhan, penyelenggaraan, tantangan dan harapan terkait dengan perencanaan, dan pengembangan pendidikan menengah. Focus Group Discussion (FGD) merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menginventarisasi masalah, tantangan, dan harapan dari stakeholder terkait dengan perencanaan, penyelenggaraan, dan pengembangan pendidikan di kabupaten sleman.
Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa : (1) masih terdapat tenaga pendidik dan kependidikan yang belum memenuhi kualifikasi S1 atau DIV ; (2) masih terdapat tenaga pendidik yang mengajar tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan dengan tugas pokoknya; (3) untuk kebutuhan sarana prasarana masih perlu ditingkatkan, masih ada beberapa sekolah yang tidak mempunyai aula ruang untuk pertemuan, tidak memiliki lapangan olahraga, dan lahan untuk parkir, usia bangunan ada yang sudah lebih dari 30 tahun; (4) manajemen kelembagaan pendidikan menjadi hal yang sangat penting untuk ditingkatkan dalam mendukung
jalannya proses belajar mengajar, termasuk di dalamnya manajemen kelembagaan yang berkaitan dengan kurikulum, proses belajar mengajar, kompetensi lulusan, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian.
8. Kajian Penyusunan Rencana Strategi Pengembangan Kecamatan
Sebagai Pusat Kebudayaan Kabupaten Sleman Tahun 2011
Tujuan yang ingin dicapai dalam penyusunan kajian ini adalah sebagai berikut: (1) teridentifikasinya kekuatan seni budaya dan tradisi di Kabupaten Sleman yang hingga kini masih hidup dan memiliki peluang untuk dikembangkan; (2) tergalinya potensi seni budaya dan tradisi Kabupaten Sleman yang dimungkinkan dapat digunakan sebagai pertahanan masyarakat dalam memasuki percaturan global; dan (3) tersusunnya perencanaan grand concept dalam rangka membangun dan atau mengembangkan ketahanan budaya masyarakat.
Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah lebih bersifat survey
etnografi untuk mengetahui dan mendiskripsikan seni tradisi dan budaya masyarakat Kabupaten Sleman. Sudut pandang pemilik budaya lebih dikedepankan, tanpa campur tangan pengkaji. Para narasumber diberi kemerdekaan dalam menuturkan keyakinan dan pandangan dunianya terkait dengan beragam budaya yang ada di sekitar mereka. Karenanya, aktivitas kajian ini menekankan pemahaman masyarakat melalui observasi langsung terhadap kegiatan seni budaya dan tradisi dalam kopnteks keseharian. Di samping itu wawancara mendalam dengan para narasumber terseleksi juga dilakukan. Penentuan sampel menggunakan seleksi komprehensif berbasis kecamatan dan desa sebagai unitnya. Pengumpulan data dengan survey, observasi, wawancara dan dokumentasi. Dalam penelitian ini analisi data menggunakan tahapan yaitu: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Dari hasil kajian ini maka dapat disimpulkan bahwa : (1) Eksistensi seni budaya dan tradisi selalu berada dalam jaringan strategis, baik dalam relasi dan interaksinya dengan seni lain maupun dalam relasi dan interaksinya dengan fenomena budaya yang lebih luas. Karenanya kekhasan eksisitensi tersebut harus dijaga keberlangsungannya; (2) Upaya pengembangan seni budaya dan tradisi selalu merupakan kesatuan yang padu antara gagasan dan wujud nyata, yang secara metodelogis bertolak pada prinsip aksi dan refleksi. Untuk itu cara dan bentuk upaya pengembangan hendaknya dilakukan secara strategis, tersistem,
berkesinambungan dan melembaga; (3) Untuk saat ini dan mendatang terdapat sejumlah perspektif dan konteks penting yang perlu diperhitungkan; a. Menguatnya ideologi multikulturalisme sebagai akibat globalisasi, yang member peluang menuculnya rezim global berikut dampaknya dalam hamper semua aspek kehidupan; b. Pentingnya wacana kemandirian dalam berbagai aspek ditengah kehidupan budaya yang berkembang dimasyarakat; (4) Pentingnya pengembangan untuk melaksanakan dan menghasilkan aktifitas dan produk seni budaya dan tradisi yang berkualitas, kompetitif, dan selalu diupayakan menuju bobot yang diakui dalam berbagai tingkatan.
Rekomendasi yang diberikan antara lain : (1) Pelestarian dan pengembangan seni budaya dan tradisi yang dilakukan hendaknya bersifat antisipatif agar situasi kini dan nanti juga terjembatani; (2) Pemberdayaan komunitas seni tradisi dan budaya merupakan hal mendesak untuk dilaksanakan dalam sejumlah cara; (3) Pentingnya identifikasi perancangan dan pengembangan prioritas dan program-program seni budaya dan tradisi yang menjadi unggulan; (4) Perlunya pendampingan pada kelompok-kelompok pelaku seni budaya dan tradisi oleh pihak pemerintah agar keberlangsungan seni budaya dan tradisi tetap berlangsung; (5) Melanjutkan program-program yang selama ini telah dilaksanakan secara lebih intensif dengan peningkatan sarana dan prasarana sebagai media pengembangan dan pelestarian seni budaya dan tradisi seperti : Penyediaan gamelan disetiap kecamatan, Pengembangan rumah seni budaya dan sebagainya; (6) Perlu dibuatkan dokumen yang berisi tentang rambu-rambu dan aturan untuk kegiatan seni budaya dan tradisi diwilayah kabupaten sleman sebagai payung hukumnya.
B. Subbidang Kesehatan dan Sosial
1. Rencana Kerja Penanggulangan Kemiskinan Tahun 2015
Tujuan :
a) Menggali informasi mendalam mengenai kerangka berpikir masing-masing kegiatan penanggulangan kemiskinan
b) Membangun pemahaman bersama mengenai sasaran dan metode pelaksanaan kegiatan penanggulangan kemiskinan agar lebih efektif efisien
c) Mendorong perintisan, pelaksanaan, dan penguatan koordinasi serta kerjasama antar berbagai kegiatan untuk meningkatkan hasil-hasil penanggulangan kemiskinan
d) Mendorong keberlanjutan dan kesinambungan semua kegiatan penanggulangan kemiskinan
e) Mendorong terwujudnya penanganan daerah atau warga miskin secara terpadu, terfokus, dan berkelanjutan
Rekomendasi :
a) Kegiatan PNPM Perdesaan khususnya dalam simpan pinjam untuk kelompok perempuan (SPP) yang didalamnya terdapat kelompok usaha produktif, perlu berkolaborasi dengan dinas Perindagkop dalam pelatihan manajemen, pengemasan, dan pemasaran. Kegiatan lain seperti penyelenggaraan posyandu dan paud juga perlu lebih mempererat kolaborasinya dengan dinas/instansi terkait.
b) Pelaksanaan kegiatan pendampingan wanita rawan sosial ekonomi (WRSE) disarankan untuk berkolaborasi dengan dinas lain seperti BKBPMPP (untuk program pemberdayaan perempuan), program desa prima, P2WKSS, serta dalam sinkronisasi data calon penerima manfaat) dan dengan Perindagkop (untuk pelatihan administrasi, pengemasan, dan pemasaran)
c) Dalam kegiatan fasilitasi PKH, disarankan agar dilakukan koordinasi secara rutin antara pendamping PKH pada satu pihak, dengan pengelola PNPM Perkotaan dan PNPM Perdesaan pada pihak lain. Hal itu penting karena mereka melakukan kegiatan di wilayah yang sama dengan penerima manfaat yang juga sama.
d) Pelaksanaan kegiatan distribusi beras untuk warga miskin (raskin) disarankan untuk berkoordinasi dengan TPK Padukuhan maupun PNPM Perkotaan dan PNPM Perdesaan. Saat ini memang sudah ada kerjasama dengan TPK desa, namun masih sebatas untuk pelaksanaan musyawarah desa (musdes) dalam rangka penggantian nama penerima manfaat.
e) Pelaksanaan kegiatan “Bimbingan sosial dan bantuan keluarga miskin non potensial (kesrakat) dan lanjut usia rentan sosial ekonomi” perlu memperhatikan :
1) Penentuan penerima manfaat agar mempertimbangkan aspek-aspek keadilan, transparansi, dan akuntabilitas
2) Data penerima manfaatnya perlu dicocokkan dengan data dalam SIM Kemiskinan Kabupaten Sleman
3) Obyektifitas dan transparansi, yaitu perlu dipastikan bahwa semua orang yang memenuhi kriteria akan menjadi penerima manfaat
4) Keberlanjutan kegiatan, yaitu mereka yang telah menerima manfaat akan terus dipantau perkembangannya
5) Kriteria “kesrakat” perlu dielaborasi untuk nantinya dimasukkan dalam profil keluarga miskin
6) Perlu dipersiapkan model pendampingan dan pertanggung- jawabannya
f) Kegiatan pembinaan usaha ekonomi pekerja ter-PHK merupakan program khas yang hanya dimiliki oleh pemerintah kabupaten Sleman. Dalam kerangka penanggulangan kemiskinan kegiatan tersebut termasuk dalam kategori penanganan warga rentan miskin. Untuk penyempurnaan diperlukan pendampingan bagi penerima manfaat dalam pengembangan usahanya.
g) Kegiatan pemberian tambahan makanan dan vitamin (diselenggarakan oleh DInas Kesehatan) memang ditujukan kepada seluruh warga, tanpa memandang status kemiskinannya. Sekalipun demikian, dalam laporan disarankan dilakukan pemilahan tentang penerima manfaatnya, yaitu antara warga miskin dan warga non miskin. Tujuannya untuk memastikan bahwa warga miskin benar-benar telah terlayani.
h) Kegiatan penyediaan beasiswa transisi (diselenggarakan oleh bagian Kesra, Setda) yang selama ini didanai dengan APBD Propinsi disarankan untuk direplikasi. Aturannya sama persis tetapi penerima manfaatnya diperbanyak. Dengan demikian terdapat dua pos yang harus dikeluarkan dari APBD Kabupaten Sleman, yaitu untuk dana pendampingan dan untuk dana replikasi.
i) Pelaksanaan program pengembangan perumahan (bantuan pembangunan jamban) sangat perlu dikoordinasikan dengan bidang kesejahteraan keluarga pada BKBPMPP, pelaku PNPM Perkotaan, dan pelaku PNPM Perdesaan
j) Tantangan yang harus diwaspadai dalam kegiatan bedah rumah adalah kemungkinan kesulitan mendapat sokongan material dari lingkugnan setempat jika misalnya mayoritas warga di lingkungan tersebut merupkan warga miskin.
Rekomentasi untuk pelaksanaan tahun-tahun selanjutnya
a) Data dan pendataan
1) Sesuai harapan semua pelaku penanggulangan kemiskinan di lapangan (TKSK, pendamping PKH, kader KB, TPK) disarankan agar segera dilakukan penyatuan pendataan, baik mengenai indikator, pelaku pendataan, pelaku dan metode pengolahan, maupun pelaporan dan pemanfaatannya. Pertimbangan praktisnya adalah guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan. Sedang pertimbangan yang lebih utama adalah agar masyarakat tidak bingung atau menjadi apatis akibat seringnya menjadi obyek pendataan dan akibat tidak adanya kepastian tentang data kemiskinan. untuk itu diperlukan penelusuran data guna mengetahui apakah semua nama peneima Jamkesmas telah masuk dalam SIM Kemiskinan. Jika misalnya nama-nama penerima Jamkesmas tidak termasuk dalam SIM Kemiskinan maka perlu diselidiki kemungkinan terjadinya ketidaktepatan sasaran.
2) Untuk mengurangi ketidaktepatan sasaran program diperlukan keterlibatan warga (khususnya perempuan) dalam kegiatan-kegiatan pemberdayaan untuk melihat besar kecilnya over lapping
keanggotaan. Hal ini penting untuk lebih menjamin ketepatan penerima manfaat serta pemerataan diantara sesama warga miskin dan adanya basis data bersama tentang penerima manfaat dari berbagai sumber pinjaman modal (P2WKSS, UPPKS, desa prima, SPP, WRSE, dsb) sehingga perempuan tidak justr umenjadi ‘korban’. 3) Perlu diupayakan cara untuk menghilangkan atau sekurang- kurangnya mengurangi kesan yang melekat di benak masyarakat bahwa’pendataan keluarga miskin selalu berkaitan dengan pemberian bantuan’. Salah satu caranya adalah dengan membuat TPK pedukuhan benar-benar berfungsi dengan baik sedemikian rupa
sehingga bisa mengadopsi cara kerja kader KB, yaitu melakukan pemutakhiran data warga miskin tanpa diketahui oleh warga miskin itu sendiri. Cara ini memang mengandung dua resiko, yaitu : (a) masalah legalitas yang berupa pengesahan dari perangkat setempat, dan (b)pemutakhiran dilakukan tidak dengan bertemu langsung dengan warga sehingga subyektifitas pendata bisa masuk. Sekalipun demikian, hal itu bisa diatasi dengan cara: (a) sungguh-sungguh (bukan sekedar seremonial atau sekedar performa) melakukan penguatan kapasitas TPK padukuhan agar mendapat kepercayaan, dan (b) membangun dan mengoptimalkan pelaksanaan sistem rujukan terpadu (SRT) sehingga kecurigaan atau protes warga bisa setiap saat ditangani.
4) Terkait dengan upaya memperbaharui data secara terus-menerus, sangat perlu untuk secepatnya membangun sistem rujukan terpadu (SRT) sebagai media pengaduan bagi masyarakat miskin di tingkat desa, kecamatan dan kabupaten.
Pengelolaan Pengaduan Masyarakat
a. Untuk menuju pelayanan dan penanganan pengaduan yang baik, perlu disusun mekanisme baku pengelolaan aduan yang berlaku utuk semua SKPD dan lembaga/instansi di lingkungan pemerintah kabupaten Sleman. Di dalamnya tercakup aturan tentang bagaimana langkah yang harus ditempuh jika aduan masuk pada level terbawah (misalnya desa), bagaimana jika aduan masuk pada level menengah (kecamatan dan SKPD), dan bagimana jika aduan masuk pada level paling atas (langsung ke bupati atau wakil bupati). Satuan kerja yang paling relevan untuk merumuskan atau mengkoordinir perumusan mekanisme baku pengelolaan pengaduan adalah bagian humas.
b. Mekanisme baku pengelolaan aduan sebagaimana dimaksud diatas perlu dilengkapi panduan tentang :
1) Tata cara menerima dan menanggapi aduan, termasuk di dalamnya menghadapi warga yang emosi atau terus menerus tidak bisa menerima penjelasan.
2) Kewajiban melakukan pencatatan aduan secara cermat dan rapi. Dalam hal ini sebaiknya dibuatkan format yang sama untuk semua SKPD.
Penyelenggaraan Pelatihan
a. Semua penyelenggaraan pelatihan disarankan untuk dipersiapkan dengan perencanaan yang menyeluruh, mulai dari identifikasi kebutuhan masyarakat dan kebutuhan pasar, materi pelatihan, target peserta, metode pelatihan, (termasuk penjenangan/penentuan level, instruktur, sarana dan prasarana, dan durasi pelatihan), pemberian akses ke permodalan, penyediaan jejaring pemasaran, hingga komitmen dan dukungan riil pihak- pihak terkait.
b. Diperlukan pembakuan, atau sekurang-kurangnya kejelasan tentang jenis- jenis pelatihan yang diselenggarakan oleh setiap SKPD. Pembakuan tersebut sekurang-kurangnya meliputi materi pelatihan, level pelatihan (apakah dasar, lanjutan, atau pengembangan), spesifikasi keterampilan yang akan didapat peserta, metode pelatihan, target peserat, durasi pelatihan, dan tindak lanjut setelah pelatihan. Dengan pembakuan tersebut maka dapat dibangun sinergi antar SKPD dalam penyelenggaraan pelatihan sehingga program dan kegiatan menjadi lebih efektif dan efisien. Tanpa kejelasan atau pembakuan tidak mungkin dibangun sinergi.
c. Diperlukan koordinasi untuk menentukan penjenjangan pelatihan bidang kewirausahaan antara bidang tenaga kerja (dinas nakersos) dan bidang pemberdayaan masyarakat (BKBPMPP) pada satu pihak, dengan Dinas Perindagkop dan BLK pada pihak lain. Perjenjangan tersebut sangat penting karena (a) pelatihan pada SKPD-SKPD tersebut berdurasi pendek (3-5 hari) sehingga belum ckup untuk bekal peserta, sedang pada BLK pelatihannya bisa sampai 1,5 bulan atau lebih sehingga materinya benar- benar lengkap. (b) Perindagkop merupakan SKPD yang paling kompeten dalam hal kewirausahaan.
d. SKPD penyelenggara pelatihan teknologi tepat guna (TTG) disarankan membuat kejelasan fokus apakah pelatihan tersebut tentang pembuatan teknologinya atau pemanfaatannya. Lebih dari itu, diperlukan kejelasan apakah SKPD tersebut bertugas mengoptimalkan pemanfaatan TTG oleh
masyarakat atau membina masyarakat yang hendak mengembangkan TTG atau sekedar menghimpun informasi tentang jenis-jenis TTG, dan apakah SKPD tersebut sekedar menjadi penghubung (broker) antara masyarakat pengguna dengan produsen TTG, atau melayani pengadaan TTG (semacam supplier) atau menjadi Pembina dan kreator dalam pengembangan TTG.
Kelembagaan
a. Pelibatan Bidang Pariwisata (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata) dalam upaya penanggulangan kemiskinan perlu dikaji secara lebih mendalam agar benar-bnar dapat dilaksanakan dengan baik. Bidang Kebudayaan perlu diberi peran lebih nyata, yaitu dalam rangka mengatasi mentalitas miskin. b. Dalam pembentukan TPK Kecamatan pada periode mendatang sangat
diperlukan aturan yang mewajibkan memasukkan TKSK dalam keanggotaan.
2. Kajian Dana Bergulir Sebagai Bagian Upaya Penanggulangan
Kemiskinan Tahun 2012 Tujuan :
a) Untuk mendapatkan gambaran tentang kegiatan pemberdayaan masyarakat yang didalamnya terdapat perguliran dana, dimana perguliran dana tersebut tidak sepenuhnya ada dalam kontrol pemerintah kabupaten sleman
b) Untuk mengetahui perkembangan perguliran dana pada masing-masing kegiatan
c) Untuk mendapatkan rumusan kebijakan mengenai tata cara alih kelola kegiatan tersebut kepada masyarakat dan/atau Pemerintah Kabupaten Sleman setelah berakhirnya program atau kegiatan di suatu lokasi.
Kesimpulan :
a) Kata kunci untuk tetap lestari dan berkembangnya dana bergulir sebagai salah satu upaya penanggulangan kemiskinan adalah perhatian dan pembinaan dari dinas yang menyelenggarakan program atau kegiatan tersebut. Semakin besar perhatian dan pembinaan yang diberikan, semakin
besar peluang keberhasilan program atau kegiatan tersebut. Dengan adanya perhatian dan pembinaan maka kemungkinan terjadinya salah paham atau penyelewengan dapat dicegah sejak awal.
1) Tahapan paling krusial dalam penyelenggaraan dana bergulir adalah pada sosialisasi. Dalam sosialsiasi harus dikemukakan sejalas mungkin tentang maksud dan tujuan program/kegiatan, Kriteria calon penerima manfaat, hak dan kewajiban penerima manfaat, serta SOP yang harus dipatuhi oleh semua pihak terkait. Tanpa kejelasan semacam itu maka besar sekali peluang program/kegiatan untuk menemui kegagalan.
2) Masalah pemberian honor/imbalan kepada para pengelola dana bergulir ternyata menimbulkan dilema tersendiri. Pada satu sisi pemberian honor itu dapat menjadi pendorong semangat para pengelola, tetapi pada sisi lain hal itu terbukti menjebak oknum- oknum tertentu untuk lebih mengedepankan perolehan honor ketimbang memperjuangkan nilai-nilai kerelawanan dan idealisme memberdayakan masyarakat. Selain itu, pemberian honor kepada pengelola kegiatan tertentu, terbtukti menimbulkan kecemburuan hingga sedikit menurunkan semangat pengelola kegiatan lain yang tidak memperoleh honor.
3) Dari 10 penyelenggaraan dana bergulir yang dikaji saat ini, ternyata kegiatan yang penyalran dananya per kelompok lebih potensial mengalami kemacetan. Hal itu tidak terlepas dari kenyataan bahwa perguliran dana per kelompok umumnya melibatkan jumlah penerima manfaat yang sangat banyak, jumlah dana yang besar, serta corak hubungan yang cenderung formal impersonal. Sebaliknya pada kegiatan yang penyalurannya per individu umumnya jumlah penerima manfaatnya tidak terlalu banyak, jumlah dananya juga tidak besar, serta corak hubungannya lebih bersifat personal (melibatkan perasaan/emosi dan nilai-nilai kearifan lokal).
4) Hampir semua pengelola dana bergulir lebih sibuk pada hal-hal teknis pengelolaan keuangan dan cenderung mengabaikan tujuan utama kegiatan tersebut, yakni memberdayakan masyarakat dalam rangka menanggulangi kemiskinan. Mayoritas pengurus dana
perguliran sibuk pada masalah peningkatan pemanfaatan dana oleh anggota, kelancaran pengembalian pinjaman, peningkatan pendapatan bunga, dan pembuatan laporan administratif sebagai bentuk pertanggungjawaban. Karena sibuk mengurus masalah tersebut maka mereka ‘tidak sempat’ melakukan fungsi sebagai pendamping yang memberdayakan masyarakat. Contoh paling nyata mengenai hal ini adalah ukuran pencapaian yang lebih didasarkan pada besarnya dana yang terserap, minimnya kemacetan, dan tingginya pendapatan bunga. Sementara masalah dampak dari pemanfaatan dana tersebut holeh masyarakat hampir tidak pernah dikaji, misal berapa warga yang omset penjualannya naik, berapa warga yang tingkat ekonominya mengalami kenaikan, dan berapa warga yang telah terbebas dari kemiskinan berkat bantuan dana itu.
Saran-saran :
a) Untuk menjaga keberlanjutan kesepuluh program/kegiatan yang telah berjalan selama ini, masing-masing program/kegiatan perlu diarahkan menuju salah satu bentuk kelembagaan yang bersifat permanen. Dalam hal ini terdapat tiga alternatif bentuk kelembagaan, yaitu Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), koperasi, dan Badan Usaha Milik Desa (BUMD). Di luar ketiga alternatif itu terdapat kemungkinan untuk tetap menggunakan bentuk kelembagaan seperti yang sekarang dijalani. Kemungkinan ini dibuka untuk kegiatan dana bergulir yang secara teknis tidak memungkinkan untuk diubah ke bentuk yang lebih permanen, atau karena kegiatan itu bercorak kegiatan perintisan sehingga belum bisa menggunakan bentuk kelembagaan yang mapan.
b) Di antara sepuluh program/kegiatan yang dikaji, terdapat tiga program/kegiatan yang tepat diarahkan untuk menjadi BUMDes, yaitu PNPM Perkotaan, Program Aksi Desa Mandiri Pangan, dan DESA PRIMA. PNPM Perkotaan selama ini menjalankan kegiatan melalui Badan Keswadayaan Masyarkat (BKM) yang berbasis di desa, sehingga kekayaan organisasinya merupakan kekayaan warga desa setempat. Oleh karena itu selayaknya diarahkan untuk menjadi BUMDes. Sementara itu, program Aksi Desa Mandiri PAngan telah menyertakan pembentukan Lembaga Keuangan Desa (LKD) dalam paket programnya. oleh karena itu tinggal
dilakukan penyesuaian agar selaras dengan ketentuan yang berlaku. Sedang DESA PRIMA, mengingat lingkup kegiatannya pada level desa dan hanya terdapat 10 desa di seluruh kabupaten Sleman, serta jumlah dana masing-masig tidak besar, maka tepat diarahkan untuk menjadi bagian dari BUMDes.
c) Terdapat lima program/kegiatan yang dapat diarahkan untuk menjadi koperasi, yaitu : PNPM Perdesaan, PNPM Perikanan, PNPM PUAP, LKM KUBE, dan program pemulihan pasar tradisional.
1) PNPM Perdesaan memiliki basis kegiatan pada tingkat kecamatan yang dengan demikian kekayaan organisasinya menjadi hak warga di kecamatan yang bersangkutan. Oleh karena itu tepat diarahkan untuk menjadi koperasi.
2) Hal yang sama berlaku untuk PNPM Perikanan karena di dalam paket programnya telah menyertakan pembentukan Koperasi Pembudidaya Ikan (KPI) yang berkedudukan di kecamatan.
3) Demikian pula PNPM PUAP yang dikelola oleh Gapoktan, dimana setiap Gapoktan memiliki unit pengelola keuangan. Bentuk kelembagaan yang tepat untuk PNPM PUAP adalah koperasi, yang dalam hal ini beroperasi pada level desa.
4) Untuk LKM KUBE juga tepat diarahkan ke lembaga koperasi. Hal itu karena kenyataannya memang telah terdapat beberapa LKM yang memiliki badan hukum koperasi. Selain itu, koperasi merupakan organisasi bisnis yang berwatak sosial sehingga selaras dengan semangat sosial dan kesetiakawanan yang dikembangkan oleh Kementerian Sosial selaku pemrakarsa program.
5) Program Pemulihan Pasar Tradisional Pasca Erupsi Merapi juga tepat diarahkan ke lembaga koperasi. Hal ini didasari pertimbangan bahwa para penerima manfaatnya adalah pedagang,yang keberadaannya disatukan oleh kesamaan lokasi usaha, bukan kesamaan alamat domisili. Karena dasarnya bukan kesamaan alamat domisili maka kurang tepat jika diarahkan menjadi BUMDes. Sementara itu untuk diarahkan menjadi BUMD juga kurang tepat karena jumlah dananya tidak terlalu besar.
d) Dua program/kegiatan yang tersisa, yaitu Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM) dan Dana Pemberdayaan Masyarakat (DPM), dapat tetap menggunakan kelembagaan yang sekarang. LDPM pada intinya adalah memberi pinjaman dana kepada Gapoktan untuk masa satu tahun dengan misi untuk menyangga harga gabah. Oleh karena itu tidak memungkinkan untuk diubah menjadi lembaga yang bersifat permanen. Apalagi sumber dananya langsung dikelola oleh Pemerintah Provinsi DIY, yaitu mereka yang menyalurkan dan mereka pula yang menerima pengembalian. Sementara itu, kegiatan Dana Pemberdayaan Masyarakat (DPM) merupakan program perintisan usaha ekonomi produktif. Oleh