• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran-peran keluarga

Pekerjaan Sosial dengan Keluarga dan Pemuda

3. Peran-peran keluarga

Semua anggota keluarga harus memenuhi peran-peran tertentu untuk menjamin keberfungsian keluarga yang efektif. Peran-peran anggota keluarga mendefinisikan pola-pola perilaku yang penting bagi interaksi keluarga yang berkompeten. Pembagian peran-peran kepada anggota-anggota keluarga tertentu bergantung pada variabel-variabel kebudayaan, jenis kelompok keluarga, dan posisi keluarga di dalam siklus kehidupannya.

Keluarga dapat mengakses dukungan-dukungan pelayanan sosial apabila, apa pun alasan-alasannya, mereka tidak mampu memenuhi syarat-syarat peran mereka masing-masing (Kadushin & Martin, 1988, dalam DuBois & Miley, 2005: 364).

Orangtua, anak-anak dan masyarakat masing-masing memiliki peran-peran dan kewajiban-kewajiban yang khas di dalam jaringan keluarga. Pada umumnya, peran pengasuhan menuntut orangtua memenuhi kebtuhan- kebutuhan dasar anak-anak mereka, termasuk makanan, perumahan, perawatan kesehatan, dan keselamatan, serta kebutuhan-kebutuhan emosional. Orangtua harus mendorong perkembangan intelektual, sosial, dan spiritual anak-anak mereka. Orangtua juga mensosialisasikan anak-anak mereka dengan memberikan interaksi dan disiplin keluarga yang tepat.

Anak-anak memainkan suatu peran dalam sosialisasinya sendiri. Anak-anak memiliki suatu kewajiban untuk mempelajari sikap-sikap dan nilai-nilai, mengembangkan perilaku yang dapat diterima, dan bekerjasama dengan orangtuanya dan anggota-anggota keluarga lainnya:

Ketika kemampuan anak memungkinkan untuk melaksanakan peran dan kewajiban ini, orangtua, bukan tidak mungkin, mengharapkan untuk mengembangkan respons timbal balik dari anak- anak yang memberikan kasih sayang, kenikmatan, dan kenyamanan kepada orangtua. Anak-anak yang terus menerus menahan diri dari, atau tidak mampu, merespons perasaan kepada orangtua yang memperlihatkan kasih saying dapat menimbulkan bahaya bagi bertumbuhnya ketidakpuasan orangtua dalam relasi dengan anak-anak mereka. (Kadushin & Martin, 1988: 14, dalam DuBois & Miley, 2005: 364).

Peran masyarakat dapat mewakili kepentingan- kepentingan anak-anak. Kewajiban masyarakat nampak dalam bentuk melindungi anak-anak melalui tindakan- tindakan seperti mengatur atau memberi lisensi

pelayanan-pelayanan rawat siang dan melarang penganiayaan anak serta mencegah tindakan yang mempekerjakan anak. Masyarakat menyediakan sumberdaya-sumberdaya bagi anak-anak melalui program-program seperti asuransi sosial, berbagai bentuk bantuan publik, perawatan eksehatan, sekolah, dan program-program rekreasi. Apabila masyarakat gagal memenuhi kewajiban-kewajiban ini, tindakan sosial dibutuhkan (Kadushin & Martin, 1988: 14, dalam DuBois & Miley, 2005: 365).

Kegagalan anggota-anggota keluarga memenuhi syarat- syarat peran mereka dapat menyebabkan kehancuran dalam keberfungsian keluarga. Kadushin dan Martin (1988, dalam DuBois & Miley, 2005: 365) mengidentifikasikan delapan jenis masalah yang dapat menghambat pemenuhan kebutuhan akan pelayanan- pelayanan kesejahteraan anak:

x Peran orangtua yang kosong. Ketiadaan salah satu orangtua, apakah sementara atau selamanya, meninggalkan suatu kekosongan di dalam peran pengasuhan. Ketiadaan salah satu orangtua mempengaruhi kemampuan keluarga untuk berfungsi tanpa menyesuaikan diri dengan sistem orangtua- anak. Peran-peran yang kosong ini dapat terjadi karena kematian salah satu orangtua, dirawat di rumah sakit, ditahan di penjara, bekerja di luar negeri, mengikuti dinas kemiliteran, bercerai, atau perkawinan tidak sah.

x Ketidakmampuan orangtua. Orangtua tidak mampu melaksanakan perannya selaku orangtua secara memuaskan karena ketidakmampuan fisik, kejiwaan, atau emosional. Ketidakmampuan-ketidakmampuan ini meliputi ketidakdewasaan emosional, sakit, kendala fisik, keterbelakangan, ketergantungan bahan-bahan kimiawi, dan kurangnya informasi yang memadai tentang pengasuhan anak. Orangtua yang tidak mampu memberikan pengasuhan kepada anak- anak dapat memproleh pelayanan dari sumberdaya- sumberdaya perbaikan, pendidikan, dan pengganti.

x Penolakan peran. Penolakan peran orangtua yang tiba-tiba, baik karena sudah dipikirkan sebelumnya maupun melalui pelepasan peran yang pasif, cenderung terjadi ketika orangtua merasa terbelenggu atau terbebani oleh tugas-tugas pengasuhan anak. Hasilnya ialah sikap acuh tak acuh, penerlantaran, penganiayaan, pengabaian, dan melarikan dari tanggung jawab pengasuhan.

x Konflik antar-peran. Konflik-konflik antar-peran terjadi karena ketidaksepakatan antara ibu dan ayah tentang tanggung jawab pengasuhan anak dan harapan-harapan yang bertentangan tentang gaya pengasuhan. Beberapa contoh dari konflik-konflik semacam ini antara lain ialah perdebatan antara pemberian pengasuhan versus pencari nafkah, dilema kasih sayang versus penanaman disiplin, dan keseimbangan antara kebutuhan anak versus enerji pengasuhan.

x Konflik inter-peran. Kadang-kadang orang-orang mengalami konflik antara peran-peran pengasuhan dan peran-peran kedinasan atau sosial lainnya. Tuntutan-tuntutan kedinasan, kewajiban-kewajiban social, dan harapan-harapan pengasuhan antargenerasi dapat menimbulkan konflik dengan tugas-tugas dan kewajiban-kewajiban pengasuhan anak.

x Masalah transisi peran. Transisi-transisi atau peralihan-peralihan yang dihadapi oleh orangtua mmpengaruhi pelaksanaan peran-peran mereka. Perubahan-perubahan dalam status perkawinan, pekerjaan, susunan keluarga, atau gaya-gaya hidups emuanya memberikan tantangan-tantangan penyesuaian yang dapat menimbulkan gangguan- gangguan peran.

x Ketidakmampuan atau hambatan anak. Anak-anak yang memiliki kebutuhan-kebutuhan khusus antara lain seperti anak-anak yang mengalami penyakit

fisik, keterbelakangan mental, anggua emosional, atau kondisi-kondisi lain yang membutuhkan pengasuhan yang intensif, menempatkan tuntutan- tutuntan peran yang luar biasa pada anggota-anggota keluarganya. Anak semacam ini menimpakan kepada orangtuanya suatu beban pengasuhan, pengetahuan khusus, kesabaran dan pengendalian yang luar biasa yang dalam keadaan normal seharusnya mereka harapkan disediakan oleh masyarakat, dan kemungkinan dikuranginya pemenuhan kebutuhan-kebutuhan anak. Anak-anak juga dapat merupakan sumber masalah-masalah keluarga apabila keluarga menolak peran-peran mereka ataus ebaliknya mengalami konflik-konflik peran—sebagai contoh, antara tuntutan orangtuanya versus tuntutan teman-teman sebayanya.

x Kekurangan sumberdaya-sumberdaya masyarakat.

Kondisi-kondisi masyarakat dan tekanan-tekanan lingkungan seperti perumahan yang tidak emmadai, pengangguran, kemiskinan, diskriminasi, pelayanan- pelayanan ksehatan dan kemanusiaan yang tidak terjangkau sebaliknya dapat mempenagruhi kemampuan keluarga untuk berfungsi.