Pelayanan-pelayanan Orang Dewasa dan Lanjut Usia
4. Respons pelayanan terhadap kekerasan pasangan intim
Perhatian media masa terhadap krisis kekerasan dalam rumahtangga meningkatkan kesadaran publik dan mengintensifkan respons-respons kalangan profesional. Masyarakat cenderung memberikan pelayanan- pelayanan, seperti tim tanggap krisis lintas disiplin dan penegakan hukum, pemukiman- pemukiman darurat, program-program bagi kaum wanita yang mengalami penganiayaan dan anak-anaknya, dan konseling bagi pasangan yang mengalami penganiayaan. Isu-isu kekerasan pasangan intim yang bersifat multidimensional membutuhkan suatu pendekatan intervensi yang lintas displin. Klien sering membutuhkan suatu kombinasi dari pelayanan-pelayanan kesehatan, hukum, keuangan, pendidikan, dan sosial.
Pelayanan-pelayanan kedaruratan dan peralihan sering merupakan titik masuk pertama ke dalam sistem penyelenggaraan pelayanan sosial bagi kaum perempuan yang mengalami penganiayaan. Pelayanan-pelayanan tersebut meliputi:
x Informasi dan rujukan
x Petugas ruang gawat darurat rumah sakit
x Kepolisian
x Rohaniawan, dokter keluarga, dokter gigi, atau pengacara
x Pelayanan-pelayanan jalur bebas biaya dan hambatan
(hotlines) serta intervensi krisis
x Program-program bantuan korban
Pada dasarnya, sumberdaya rujukan utama kepada pemukiman-pemukiman krisis bagi kaum perempuan yang mengalami penganiayaan ialah petugas kepolisian atau petugas pelayanan jalur bebas biaya dan hambatan untuk kekerasan dalam rumahtangga. Pemukiman- pemukiman memberikan lingkungan yang aman dan mendukung bagi kaum perempuan yang mengalami penganiayaan dan anak-anak mereka. Petugas pemukiman memberikan pelayanan-pelayanan dukungan, seperti konseling dan perlakuan kelompok. Petugas tersebut sering merujuk klien kepada pelayanan- pelayanan masyarakat lainnya atas kebutuhan-kebutuhan hukum dan kesehatan mereka dan atas pekerjaan, perumahan, rawat siang, dan pelayanan-pelayanan konseling yang berlangsung terus menerus (Roberts & Roberts, 1990, dalam DuBois & Miley, 2005: 420). Tentu saja ada beberapa kalangan yang meragukan pentingnya pemukiman-pemukiman. Sebagai ukuran- ukuran perlindungan, para penentang itu menawarkan perumahan darurat dan akses kepada bantuan keuangan, pendidikan dan pelatihan kerja, dan pelayanan-pelayanan hukum.
Banyak prakarsa-prakarsa kekerasan dalam rumahtangga termasuk advokasi di dalam kontinuum pelayanan- pelayanan yang mereka tawarkan. Walaupun peran yang pasti dari advokasi bervariasi dari satu program dengan program lainnya, pada dasarnya advokasi melibatkan pelayanan-pelayanan penjangkauan, pendidikan masyarakat, pelayanan-pelayanan tindak lanjut dengan kaum perempuan pasca-intervensi oleh kepolisian. Di dalam konteks pelayanan-pelayanan dukungan, prakarsa- prakarsa itu memberikan informasi tentang sistem hukum, memberikan konseling tambahan pelayanan- pelayanan advokasi, membantu kaum perempuan dalam memperoleh ketentuan-ketentuan perlindungan, dan berdikusi dengan klien tentang bebagai keputusan- keputusan pengadilan (Weisz, 1999, dalam DuBois & Miley, 2005: 420). “Hadirnya seseorang yang dekat dengan mereka secara fisik dan emosional dapat membantu korban menerima dan bertindak berdasarkan informasi yang diberikan. Karena dukungan ini,
beberapa perempuan melanjutkan terus dengan tindakan- tinakan hukum, seperti memperoleh ketentuan-ketentuan perlindungan dan memberi kesaksian di dalam sidang penuntutan pelaku kekerasan dalam rumahtangga” (Weisz, 1999: 140, dalam DuBois & Miley, 2005: 420). Asesmen tentang suatu program advokasi menyatakan bahwa “pembela menyandarkan diri pada adanya empati yang mendukung dan dimilikinya informasi yang berharga. Relasi pembela dengan para korban memudahkan mereka mengambil tindakan-tindakan hukum lebih lanjut terhadap para pelaku kekerasan dalam rumahtangga” (Weisz, 1999: 138, dalam DuBois & Miley, 2005: 420). Tentu saja kaum perempuan yang menggunakan pelayanan-pelayanan advokasi ini mengalami pemberdayaan melalui relasi-relasi yang informatif.
Tujuan-tujuan yang berorienatsikan pemberdayaan yang akan dicapai dalam bekerja dengan orang-orang yang mengalami kekerasan pasangan intim mencakup menanamkan kembali perasaan-perasaan pribadi yang berharga dan suatu rasa kendali dan, pada tingkat yang lebih makro, menciptakan untuk mempengaruhi perubahan masyarakat dan sosial. Pekerja sosial yang berorientasikan pemberdayaan menghindari pendekatan intervensi yang berorientasikan kelemahan atau menyalahkan karena tindakan ini akan mereviktimisasikan orang-orang yang mengalami penganiayaan. Suatu fokus pada kekuatan-kekuatan, kompetensi, dan keterlibatan klien di dalam semua aspk proses dapat melawan balik pengaruh-pengaruh viktimisasi yang luar biasa yang berkaitan dengan kekerasan pasangan intim.
Empat prinsip dasar dalam membantu orang-orang yang telah diviktimisasikan mengalami pemberdayaan (Kopp, 1989, dalam DuBois & Miley, 2005: 421). Pertama, klien harus memandang dirinya sebagai pelaku sebab dalam mencapai suatu solusi atas masalah. Kedua, klien harus memandang pekerja sosial sebagai sosok yang memiliki pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang dapat membantu. Ketiga, usaha pemecahan
masalah harus merupakan suatu kemitraan antara pekerja sosial dan klien. Dan keempat, klien harus menggunakan sejumlah struktur kekuasaan yang berpengaruh (jejaring keluarga, jejaring bantuan, jejaring pribadi, dan jejaring-jejaring lainnya) untuk mencapai suatu pemerataan kekuasaan.
Kelompok-kelompok dukungan memberikan kesempatan-kesempatan kepada orang-orang yang diviktimisasikan oleh kekerasan pasangan intim dengan cara mengungkapkan perasaan-perasaan pribadi mereka, mempertimbangkan pilihan-pilihan alternatif, dan mengevaluasi keputusan-keputusan. Sesi-sesi-kelompok sering memudahkan orang-orang yang diviktimisasikan itu untuk menjajaki isu-isu yang berkaitan dengan perspektif mereka sendiri dan cara-cara membina relasi dengan orang lain. Kelompok-kelompok dukungan memberikan suatu forum untuk menghadapi stres dan kemarahan serta memecahkan masalah-masalah relasi. Mereka memberikan suatu kerangka dasar untuk mempromosikan perubahan masyarakat dan sosial.
Dalam menerapkan suatu model pemberdayaan ke dalam usaha-usaha mereka dengan kaum perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumahtangga, Nosko dan Breton (1997-1998: 46, 62-63, dalam DuBois & Miley, 2005: 421) menemukan bahwa penghormatan, hak menentukan nasib sendiri, dan individualisasi yang diperlihatkan berkaitan dengan elemen-elemen kunci dari prakek pekerjaan sosial dengan kelompok. Sebagai contoh, dalam kaitan dengan perencanaan, pekerja sosial yang menganut suatu perspektif pemberdayaan “tidak lagi memandang bahwa tangung jawab ada pada mereka untuk menggambarkan apa yang dibutuhkan di dalam kelompok, sekarang mereka bertanya secara langsung kepada anggota-anggota kelompok” (h. 421). Pada dasarnya, mereka mengarahkan dengan cara mengikuti petunjuk-petunjuk kliennya. Dengan suatu pendekatan yang berorientasikan pemberdayaan, kekuasaan beralih kepada klien. Sebagai contoh, Nosko dan Breton menunjukkan mereka “bekerja dengan perempuan untuk belajar tentang penganiayaan bukan untuk
memperlihatkan diri mereka sebagai pakar karena mereka mengetahui teori-teori tentang penganiayaan” h. 420).
5. Reaksi anak-anak terhadap kekerasan dalam