• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Strategis Al Ittihadiyah dalam Pendidikan Islam

Mursal Aziz, M.Pd.I

D. Peran Strategis Al Ittihadiyah dalam Pendidikan Islam

Kehadiran Al Ittihadiyah di Sumatera Utara adalah anugrah istimewa. Hal ini dikarenakan masyarakat dan bangsa Indonesia khususnya umat Islam di Medan dan sekitarnya masih tertinggal dalam hal pendidikan akibat dari kebijakan pemerintah kolonial Belanda terhadap pen-didikan masyarakat pribumi. Lembaga-lembaga penpen-didikan yang dimiliki Al Ittihadiyah relatif sukses dalam meningkat-kan kualitas pendidimeningkat-kan anak bangsa, karena Al Ittihadiyah sejak berdiri pada tahun 1935 menjadikan bidang pendi-dikan sebagai amal usaha organisasi selain bidang dakwah dan sosial (Siddik dan Ja’far, 2017: 47-48).

Al Ittihadiyah membentuk sebuah majelis dalam mengurus bidang pendidikan yang diawal berdirinya organisasi dinamakan Majelis Tarbiyah. Pasca kemerdekaan, majelis tersebut berubah nama menjadi Majelis Pendidikan dan Pengajaran Al Ittihadiyah. Pada saat ini, lembaga-lembaga pendidikan Al Ittihadiyah dikelola oleh pengurus bidang Pendidikan, Pangajaran dan Pelatihan di setiap jenjang kepengurusan Al Ittihadiyah (Siddik dan Ja’far, 2017: 48).

Keberadaan majelis tersebut tidak lain sebagai sarana untuk dapat mencapai tujuan pendirian Al Ittihadiyah. Menurut Mahmud Abu Bakar maksud pendirian Al Ittihadiyah adalah menyelenggarakan tuntutan agama Islam, dan

melaksanakan cita-cita IsIam dalam urusan masyarakat dan kenegaraan. Untuk mencapai tujuan tersebut, Al Ittihadiyah menetapkan usaha-usaha organisasi, yang salah satunya adalah mengusahakan berdirinya rumah-rumah perguruan Islam, mengatur dan menyesuaikan daftar pelajaran dalam rumah-rumah perguruan Al Ittihadiyah dan rumah-rumah perguruan yang bergabung dengan Al Ittihadiyah. Sebab itulah, pembentukan Majelis Tarbiyah menjadi sangat relevan dengan tujuan dan usaha organisasi Al Ittihadiyah (Siddik dan Ja’far, 2017: 48).

Pada tahun 1941 Majelis Tarbiyah Al Ittihadiyah sudah mengelola sejumlah lembaga pendidikan, tetapi belum bisa berbuat banyak. Hal ini dikarenakan organisasi ini masih dalam tahap konsolidasi organisasi dan menyelesaikan persoalan-persoalan internal yang dihadapi organisasi di usia yang masih enam tahun. Tetapi, tidak semua lembaga pendidikan yang dikelola murni didirikan oleh organisasi. Pada masa ini, sebagian lembaga pendidikan yang didirikan masyarakat bergabung dengan organisasi Al Ittihadiyah, dan akhirnya lembaga pendidikan tersebut berada dalam pengawasan dan pengelolaan Majelis Tarbiyah (Siddik dan Ja’far, 2017: 49).

Al Ittihadiyah menentukan syarat-syarat yang harus diikuti oleh lembaga-lembaga pendidikan yang hendak bergabung dengan organisasi ini. Adapun persyaratan-persyaratan yang harus diikuti diantaranya yaitu:

1. Mengikuti daftar pelajaran yang ditentukan oleh organi-sasi Al Ittihadiyah;

2. Menyesuaikan paham keagamaan guru-gurunya dengan paham keagamaan organisasi Al Ittihadiyah;

3. Setiap lembaga pendidikan yang hendak bergabung harus menambahkan nama Al Ittihadiyah di belakang nama lembaga pendidikannya;

4. Setiap lembaga pendidikan harus menyerahkan setoran dana yang telah ditentukan untuk kas organisasi Al Ittihadiyah (Siddik dan Ja’far, 2017: 49).

Sejumlah lembaga pendidikan yang sebelumnya di-kelola masyarakat dengan tujuan agar lebih baik berkenan untuk bergabung dengan organisasi Al Ittihadiyah dengan menerima syarat-syarat yang telah ditentukan oleh organi-sasi dikarenakan Al Ittihadiyah merupakan organiorgani-sasi Islam yang mulai besar dan memiliki visi yang luar biasa. Dewasa ini aset-aset Al Ittihadiyah berupa lembaga-lembaga yang pernah bergabung mulai kembali ditertibkan melalui pendataan-pendataan dan dilaksanakan pelatihan-pelatihan kepemimpinan di lembaga-lembaga pendidikan Al Ittihadiyah tanpa pemungutan biaya-biaya atau setoran untuk mewujudkan visi Al Ittihadiyah yang mulia.

Al Ittihadiyah sebagai organisasi masa Islam adalah berdasarkan Islam yang berlandaskan Alquran dan Sunnah Rasul. Adapun tujuan organisasi Al Ittihadiyah ini bertujuan yaitu:

1. Untuk mewujudkan tercapainya kualitas umat Islam yang maju dan mandiri serta dapat mengamalkan ajaran Islam untuk meninggikan kalimah Allah (Li-I’lai Kalimatillah). 2. Untuk terwujudnya cita-cita Islam dalam masyarakat

dan negara Republik Indonesia yang berazaskan Panca-sila dan UUD 1945 sebagai ideologi negara menuju masyarakat madani yang diridhoi Allah swt. (Siddik dan Ja’far, 2017: 53).

Pendidikan Al Ittihadiyah yang ada di Indonesia sebagai bagian integral dari sistem persekolah di Indonesia. Keberadaan lembaga pendidikan agama lslam yang berada dalam naungan Al Ittihadiyah merupakan tugas penting para pengelola, dan pelaksana yang harus dibenahi agar lembaga pendidikan Al Ittihadiyah jangan terus tertinggal dari lembaga pendidikan sejenis lainnya. Karena itu, para pengurus Al Ittihadiyah saat ini perlu untuk mengambil peran strategis dalam pembinaan kualitas sumberdaya umat yang tangguh di masa depan melalui pembenahan manajemen lembaga pendidikan Al Ittihadiyah. Pelaksanaan tanggung jawab ini tentu dalam rangka ibadahnya kepada Allah swt. yang merupakan tugas berat yang harus dilaksanakan secara integral, fungsional dan berkesinambungan. Sesuai dengan firman Allah swt. Q.S. Al-Maidah/5: 9 yaitu:

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

Dalam tafsir Jalalain (2013: 453) dijelaskan bahwa Allah swt. telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal saleh suatu janji yang baik, bahwa untuk

mereka ampunan dan pahala yang besar yaitu surga. Jadi tujuan Al Ittihadiyah bukan hanya untuk target dunia saja, tetapi juga untuk tujuan target akhirat.

Tujuan tertinggi dalam pendidikan Islami adalah menciptakan manusia Muslim yang bershahadah kepada Allah swt. Pendidikan Islami akan mengarahkan untuk memberi bantuan kemudahan dalam mengembangkan potensi jasmaniyah dan ruhaniyah dapat mengaktualisasi-kan syahadahnya terhadap Allah swt. (Al-Rasyidin, 2012: 123). Mengingat begitu urgennya pendidikan Islam maka Al Ittihadiyah berupaya mengambil bagian untuk dapat ber-kontribusi dalam pendidikan.

Sistem pendidikan di Indonesia adalah yang terbesar keempat di dunia. Meskipun data tentang jumlah sebenarnya sekolah Islam (Madrasah) di Negara ini berbeda. Dapartemen Agama mengklaim mengelola sekitar 45.000 pada tahun 2010. Lebih dari 90 persen diantaranya adalah sekolah swasta, banyak diantaranya didirikan oleh masyarakat setempat. Masyarakat atau yayasan masyarakat sipil Islam mengelola tanpa adanya alternatif yang disponsori Negara. Madrasah swasta yang didanai terutama oleh masyarakat, memberikan pendidikan wajib sembilan tahun. Lembaga tersebut mengumpulkan atau menyerap 6 juta siswa terdiri dari 3,5 juta siswa dari 22.000 sekolah dasar Islam (Madrasah Ibtibtidaiyah) dan 2,5 juta siswa di 14.000 Madrasah Tsanawiyah (Suryadarma dan Gavin, 2013: 68). Diantara jumlah tersebut termasuk jumlah lembaga pendidikan yang dikelola oleh Al Ittihadiyah.

Keberadaan lembaga pendidikan lslam yang dikelola organisasi keagamaan, khususnya Al Ittihadiyah di Indonesia baik secara legal benar-benar telah mapan dan cukup mem-berikan harapan yang besar untuk dapat berperan aktif dan positif dalam pembentukan pribadi bangsa. Dalam proses-nya lembaga pendidikan Al Ittihadiyah harus mampu men-ciptakan sumber daya manusia yang memiliki kekuatan moral, etika dan spritual dalam membangun bangsanya terutama dalam memasuki era globalisasi atau abad ke-21 (Anzizhan dan Syafaruddin, 2015: 143).

Dilihat dari segi pengelolaannya, lembaga pendidikan Al Ittihadiyah dikelompok kepada tiga jenis, yaitu:

1. Madrasah dan Sekolah yang dikelola Al Ittihadiyah secara institusional milik organisasi Al Ittihadiyah dan bertanggungjawab kepada pengurus Al Ittihadiyah di daerahnya.

2. Madrasah dan sekolah yang menggunakan nama Al Ittihadiyah dan dikelola oleh yayasan yang memiliki hubungan emosional dengan organisasi Al Ittihadiyah, baik sebagai pengurus maupun simpatisan organisasi Al Ittihadiyah.

3. Madrasah dan sekolah yang dikembangkan Panti Asuhan Al Ittihadiyah. Pengelola bertanggung jawab kepada pengurus Al Ittihadiyah di daerahnya (Anzizhan dan Syafaruddin, 2015: 142).

Sejauh ini, banyak lembaga pendidikan Al Ittihadiyah yang tetap eksis dikembangkan oleh tokoh organisasi ini

bersama dengan masyarakat. Secara kuantitatif dan kualitatif tidak banyak dikenal orang kiprah dan kontribusi lembaga pendidikan Al Ittihadiyah. Fenomena ini terjadi dimungkin-kan karena tidak ada informasi tentang perkembangan lembaga pendidikan Al Ittihadiyah (Anzizhan dan Syafaruddin, 2015: 130). Secara umum lembaga pendidikan yang dikembang-kan organisasi Al Ittihadiyah adalah lembaga pendididikembang-kan Islam, baik bercorak madrasah maupun sekolah-sekolah agama, serta Panti Asuhan yang di dalamnya ada sekolah (Anzizhan dan Syafaruddin, 2015: 142).

Al Ittihadiyah sudah membuktikan kontribusinya dalam membangun pendidikan Islam. Pendidikan Islam yang di-bangun dan dikembangkan Al Ittihadiyah mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Untuk memaksimalkan kontribusi Al Ittihadiyah telah merencanakan akan mem-bangun sebuah gedung perguruan tinggi. Tanah untuk pembangunan kampus diperoleh dari Kotapraja Medan seluas 50 x 7 m. Lokasi untuk pembangunan perguruan tinggi tersebut berada di Jalan Sisingamangaraja, tepatnya di samping stadion Teladan. Al Ittihadiyah memiliki tujuan mulia membangun kampus maka dibentuk Yayasan yang diaktekan pada tanggal 13 Desember 1958. Adapun susunan pengurusnya yaitu:

1. Pelindung: O.K.H. Samaluddin, G.B. Josua. Dt. M. Hitam, Osmansjah.

2. Penasehat: M. Amin, H. Sajuti Noor, H.M. Arifin, H. Salim Fachri, Syaikh H. Abdul Malik dan Amiruddin Tahir.

3. Ketua: H. Mahmud Abu Bakar, Abd. Rahman Lubis, dan Kamaruddin.

4. Sekretaris: Bachroem Azhar, dan Muchtar Rasjid.

5. Bendahara: Anwar Husin, M.Nuh Lubis, dan ditambah dengan beberapa orang pembantu (Seksi Publikasi Kongres X Al Ittihadiyah, 1960: 21).

Dengan berdirinya perguruan tinggi diharapkan peran Al Ittihadiyah dalam pendidikan Islam lebih optimal. Semangat itu juga terus dipertahankan sehingga pada tahun 2017 berdiri Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al Ittihadiyah Labuhanbatu Utara. Perguruan tinggi ini merupakan Per-guruan tinggi pertama dan satu-satunya di Labuhanbatu Utara yang berdiri secara mandiri yang dibina langsung oleh Prof. Dr. H. Syafaruddin, M.Pd.

Al Ittihadiyah sangat peduli pada pendidikan Islam. K.H. Sajuti Noor pada ulang tahun ke 33 Al Ittihadiyah di Bandung menuliskan tentang tujuan pendidikan Islam yaitu: 1. Menyiapkan putra dan putri Al-Ittihdiyah supaya ketika

mereka dewasa nanti mereka sanggup melaksanakan pekerjaan ‘amal dunia dan akhirat sehingga tercipta kebahagiaan dunia dan akhirat.

2. Tujuan ‘ubudiyah yaitu memperhambakan diri kepada Allah swt.

3. Bertujuan menjadi manusia yang berakhlak (Seksi Publikasi Muktamar ke XII, 1968: 52).

Al Ittihadiyah sebagaimana tujuan berdirinya yaitu untuk mewujudkan tercapainya kualitas umat Islam yang

maju dan mandiri serta dapat mengamalkan ajaran Islam untuk meninggikan kalimah Allah (Li-I’lai Kalimatillah) dapat diperoleh dengan baik melalui pendidikan Islam. Oleh sebab itu, Al Ittihadiyah sangat peduli dengan pendidikan Islam. Al Ittihadiyah telah membuktikan kontribusinya terhadap pendidikan Islam melalui lembaga pendidikan Islam mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi.

E. Penutup

Al Ittihadiyah merupakan suatu organisasi masyarakat Islam yang telah memiliki peran strategis dalam bidang pendi-dikan. Keberadaan lembaga pendidikan lslam yang dikelola organisasi Al Ittihadiyah di Sumatera Utara memberikan harapan yang besar untuk dapat berperan aktif dan positif dalam mencerdaskan umat. Al Ittihadiyah sudah membuktikan kontribusinya dalam membangun pendidikan Islam. Pendidikan Islam yang dibangun dan dikembangkan Al Ittihadiyah mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi.

Keberadaan lembaga pendidikan lslam yang dikelola organisasi keagamaan, khususnya Al Ittihadiyah di Indonesia baik secara legal benar-benar telah mapan dan cukup memberikan harapan yang besar untuk dapat berperan aktif dan positif dalam pembentukan pribadi bangsa. Dalam prosesnya lembaga pendidikan Al Ittihadiyah harus mampu menciptakan sumber daya manusia yang memiliki kekuatan moral, etika dan spiritual.

F. Daftar Pustaka

Al-Mahalli, Imam Jalaluddin dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi,

Tafsir Jalalain, Terj. Bahrun Abu Bakar, Bandung: Sinar

Baru Algesindo, 2013.

Al-Rasyidin. Falsafah Pendidikan Islami: Membangun Kerangka

Ontologi, Epistimologi dan aksiologi Praktik Pendidikan,

Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2012.

Anzizhan dan Syafaruddin. Al Ittihadiyah Menjalin

Keber-samaan Membangun Bangsa, Jakarta: Hijri Pustaka

Utama, 2006.

Anzizhan dan Syafaruddin. Visi Baru Al Ittihadiyah, Medan: Perdana Publishing, 2015.

Arifin, Muhammad. Ilmu Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan

Teoritis dan Praktis Berdasarkan Interdisipliner, Jakarta:

Bumi Aksara, 1993.

Arifin. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2000. Ashrof, Ali. Horison Baru Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka

Firdaus, 1993.

Azra, Azyumardi et.al Varietes of Religious Authority: Changes

and Challenges in 20th Century Indonesian Islam, Singapore:

ISEAS Publishing, 2010.

Daulay, Haidar Putra dan Nurgaya Pasa, Pendidikan Islam

Dalam Lintasan Sejarah, Jakarta: Kencana, 2013.

Daulay, Haidar Putra. Pendidikan Islam di Indonesia, Medan: Perdana Publishing, 2012.

Fahmi, Asma Hasan. Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.

Langgulung, Hasan. Manusia dan pendidikan; Suatu analisa

Psikologi dan Pendidikan, Jakarta: Pustaka al-husna,

Seksi Publikasi Kongres X Al Ittihadiyah. ¼ Abad Al-Ittihadijah, Medan: ttp, 1960.

Seksi Publikasi Panitia Muktamar, Muktamar ke XII Al Ittihadijah, Bandung: Seksi Publikasi Panitia Muktamar, 1968. Seksi Publikasi Panitia Muktamar. Muktamar ke XII Al Ittihadijah.

Bandung: Seksi Publikasi Panitia Muktamar, 1968. Siddik, Dja’far dan Ja’far. Al Ittihadiyah: Delapan Dasawarsa

Menerangi Nusantara, Medan: Perdana Publishing, 2017.

Subhan, Ariel. Lembaga Pendidikan Islam Indonesia, Jakarta: Kencana Perdana Media Group, 2012.

Suryadarma, Daniel dan Gavin W. Jones, Education In

Indonesia, Singapore: ISEAS Publishing, 2013.

Syafaruddin, et.al,. Ilmu Pendidikan Islam: Melejitkan Potensi

Budaya Umat, Jakarta: Hijri Pustaka Utama, 2017.

Tafsir, Ahmad. Ilmu Pendidikan Dalam Persfektif Islam, Bandung: Remaja RosdaKarya, 2011.

Tim Redaksi. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, Jakarta, Balai Pustaka, 2003.

Usiono dan Ahmad Syukri Sitorus, Kontribusi Ormas Islam:

Dalam Mewujudkan Umat Islam Berkeunggulan di Abad ke 2,1Medan: Perdana Publishing, 2015.

Usiono. Pengantar Filsafat Pendidikan, Jakarta: Hijri Pustaka, 2006.

STRATEGI LEMBAGA PENDIDIKAN