2009 2010 2011 2012* 1 Rehabilitasi Hutan dan
2.10 PRIORITAS NASIONAL 10: DAERAH TERTINGGAL, TERDEPAN, TERLUAR, DAN PASCA KONFLIK
2.10.3 PERCEPATAN PEMBANGUNAN PROVINSI PAPUA DAN PAPUA BARAT
Kebijakan
Guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat asli Papua, maka Percepatan Pembangunan di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat dilaksanakan melalui dukungan pelaksanaan program
dan kegiatan yang berasal dari berbagai sumber pendanaan dan pelaku pembangunan. Hal ini sejalan dengan amanat Undang- Undang No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus.
Selain itu, dengan ditetapkannya Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2011 tentang Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat (P4B) dan Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2011 tentang Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat (UP4B), maka upaya percepatan pembangunan diharapkan dapat dilakukan secara terpadu dan terintegrasi serta terkoordinasi dengan kuat.
Pelaksanaan Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat mengacu kepada RPJMN Tahun 2010-2014 dan RPJM Provinsi Papua serta RPJM Provinsi Papua Barat, dan memperhatikan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). UP4B melaksanakan koordinasi dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah untuk menyelenggarakan Rapat Koordinasi Khusus (Rakorsus) sebagai bagian dari Musrenbang Nasional.
Arah kebijakan Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat tercantum dalam RKP 2013 yaitu peningkatan kesejahteraan masyarakat asli Papua melalui penguatan ketahanan pangan, penanggulangan kemiskinan, pengembangan ekonomi rakyat, peningkatan pelayanan pendidikan, peningkatan pelayanan kesehatan, pengembangan infrastruktur dasar, pemihakan terhadap masyarakat asli Papua, pengendalian pemanfaatan ruang dan pertanahan, keamanan dan ketertiban, serta pengembangan kapasitas kelembagaan. Sedangkan penjabaran kebijakan P4B dalam Rencana Aksi Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat tahun 2011-2014 dijabarkan ke dalam dokumen Rencana Kerja Tahunan (RKT) P4B.
Hasil Pelaksanaan
Pelaksanaan Percepatan Pembangunan di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat (P4B) memiliki 3 strategi utama, yaitu : (1) program yang bersifat cepat terwujud dan dirasakan manfaatnya oleh
masyarakat (quick wins); (2) program menyeluruh New Deals Plus;
(3) program pembangunan berbasis kawasan yang sinergis dengan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia khususnya MP3EI Koridor Ekonomi Maluku dan Papua.
Hasil yang telah dicapai dalam rangka Percepatan
Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat (P4B) sampai dengan bulan juni 2012 antara lain: (1) pengembangan kawasan agropolitan di Bomberai, Kabupaten Fak fak bagi pengembangan ternak sapi; (2) pengembangan agroindustri sagu di Inanwatan, Kabupaten Sorong Selatan; dan (3) peningkatan kelancaran distribusi dan peningkatan kuota bahan bahan minyak menuju wilayah pegunungan tengah.
Peningkatan pelayanan pendidikan berupa: (1) pengembangan PAUD di seluruh kampung; (2) pendirian sekolah berpola asrama; (3) pengadaan guru; (4) pemberian beasiswa bagi siswa berprestasi; (5) peningkatan kualitas tenaga guru dan kepala sekolah melalui pendidikan dan pelatihan; (6) peningkatan tunjangan kesejahteraan bagi tenaga guru; dan (7) peningkatan sarana prasarana sekolah baik sekolah baru maupun ruang kelas baru.
Peningkatan pelayanan kesehatan berupa: (1) pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah; (2) pembangunan dan peningkatan kualitas RSUD; (3) pengedaan dokter, bidan, perawat dan apoteker; dan (4) pembangunan puskesmas, prodi kebidanan, dan akademi keperawatan.
Peningkatan infrastruktur dasar berupa: (1) pembangunan jalan dari Agats menuju Wamena dari wilayah selatan menuju pegunungan tengah di Papua; (2) pembangunan lapangan terbang perintis dan peningkatan bandara; (3) pembangunan dermaga sungai
perintis dan peningkatan pelabuhan laut; (4) pembangunan PLTG, PLTA dan PLTMH; (5) pembangunan instalasi air bersih; (6) pembangunan rumah sehat dan layak huni; (7) pembangunan sarana prasarana telekomunikasi; dan (8) revitalisasi kawasan industri di Arar, Kabupaten Sorong dan Jayapura.
Pemihakan terhadap putra/putri asli Papua berupa: (1) pemberian kuota masuk 32 PTN sebanyak 974 orang; (2) pemberian kuota masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) sebanyak 40 orang/tahun; (3) pemberian kuota masuk sekolah penerbang sebanyak 40 orang/tahun; (4) pemberian kuota untuk menjadi anggota TNI sebanyak 100 orang/tahun dan untuk menjadi anggota Polri sebanyak 841 orang/tahun; dan (5) pemberian kuota bagi untuk bersekolah di Akademi Perindustrian, Pertanahan dan Statistik.
Pengendalian Pemanfaatan Ruang dan Pengelolaan Pertanahan berupa: (1) penetapan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah di Papua dan Papua Barat; (2) percepatan penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS); (3) pemetaan dan dileniasi terhadap hak ulayat; dan (4) fasilitasi penyelesaian konflik pertanahan.
Peningkatan keamanan dan ketertiban berupa: (1) fasilitasi penyelesaian konflik antara masyarakat dengan pengusaha; (2) fasilitasi penyelesaian konflik pemilukada di beberapa daerah; dan (3) pelaksanaan dialog antara masyarakat dengan pemerintah.
Pengembangan kapasitas kelembagaan berupa: (1)
pembangunan Pusat Kajian dan Pendidikan Pelatihan Aparatur (PKP2A) LAN sebagai Pusat Pendidikan dan Pelatihan Aparatur di Jayapura; (2) pendidikan dan pelatihan pengelolaan keuangan; (3) peningkatan kapasitas aparatur pemerintahan; (4) peningkatan kapasitas aparatur pengelola keuangan; dan (5) peningkatan kualitas pengelolaan pengadaan barang dan jasa pemerintah.
Permasalahan dan Tindak Lanjut
Permasalahan pelaksanaan Percepatan Pembangunan di
Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat antara lain: (1) masih belum tepat sasarannya antara program dan kegiatan Kementerian /Lembaga dengan kebutuhan serta kondisi sosial budaya masyarakat Papua; (2) masih banyaknya program dan kegiatan yang tidak sesuai dengan output yang diharapkan; (3) keterbatasan kapasitas dan kualitas sumberdaya manusia aparatur di daerah pada bidang perencanaan, pengelolaan keuangan, serta bidang teknis lainnya; (4) kondisi keamanan dan ketertiban yang belum kondusif; (5) tingginya biaya kemahalan yang mengakibatkan standar harga yang berbeda dengan daerah lain; dan (6) kondisi sosial budaya dan adat istriadat yang berbeda sehingga menuntut pola penanangan yang spesifik.
Adapun langkah dan upaya tindak lanjut yang perlu dilaksanakan adalah sebagai berikut: (1) melaksanakan sinkronisasi program dan kegiatan antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam rangka pengawalan Rencana Kerja Tahunan (RKT) P4B; (2) melaksanakan sinkronisasi dan koordinasi program dan kegiatan lintas wilayah dalam rangka sinergitas program MP3EI, RKP, dan RPJMN 2010-2014; (3) melaksanakan pengendalian pelaksanaan program kegiatan K/L di lapangan; dan (4) melaksanakan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan program dan kegiatan dalam rangka fungsi percepatan di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat.
2.11 PRIORITAS NASIONAL 11: KEBUDAYAAN,