PROGRES PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI DI K/L *)
2.2 PRIORITAS NASIONAL 2: PENDIDIKAN
UUD 1945 secara tegas mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan yang layak dan adil. Karena itu, Pemerintah berkewajiban untuk meningkatkan taraf pendidikan setiap warga negara untuk mencapai tujuan bernegara, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum. Melalui pendidikan akan tercipta masyarakat terpelajar yang menjadi prasyarat terbentuknya negara-bangsa yang maju, mandiri, makmur, dan sejahtera.
Kebijakan
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014, langkah kebijakan pembangunan pendidikan dalam RKP 2011 dan 2012 difokuskan pada: (1) Peningkatan kualitas wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun yang merata; (2) Peningkatan akses, kualitas, dan relevansi pendidikan menengah universal; (3) Peningkatan kualitas, relevansi, dan daya saing pendidikan tinggi; (4) Peningkatan profesionalisme dan pemerataan distribusi guru dan tenaga kependidikan; (5) Peningkatan akses dan kualitas pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan nonformal dan pendidikan informal; (6) Peningkatan kualitas pendidikan agama dan keagamaan melalui peningkatan jumlah dan kapasitas guru,
kapasitas penyelenggara, pemberian bantuan dan fasilitasi
penyelenggaraan pendidikan, serta pengembangan kurikulum dan metodologi pembelajaran pendidikan agama dan keagamaan yang efektif sesuai dengan Standar Pendidikan Nasional (SNP) paling lambat pada tahun 2013; (7) Pemantapan pelaksanaan sistem pendidikan nasional; (8) Peningkatan efisiensi dan efektivitas manajemen pelayanan pendidikan; dan (9) Penguatan tata kelola pendidikan untuk mendukung upaya peningkatan mutu pelayanan pendidikan, yang berdampak pada perbaikan kinerja pendidikan nasional.
Hasil Pelaksanaan
Pembangunan pendidikan hingga tahun 2011 telah berhasil meningkatkan taraf pendidikan masyarakat Indonesia yang ditandai dengan meningkatnya rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas pada tahun 2010 menjadi 7,92 tahun dan menurunnya proporsi buta aksara penduduk menjadi 5,02 persen (usia 15-59 tahun). Selain itu, angka partisipasi kasar (APK) dan angka partisipasi murni (APM) pada semua jenjang pendidikan juga terus meningkat. Pada tahun 2010, APM SD/MI/sederajat dan APM SMP/MTS/sederajat berturut-turut sebesar 95,41 persen dan 75,64 persen; pada tahun 2011 meningkat menjadi 95,55 persen dan 77,71 persen. Sementara itu, APK SMA/SMK/MA/ sederajat dan APK PT/PTA pada tahun 2011 masing-masing telah mencapai 76,50 persen dan 27,09 persen, meningkat dari capaian tahun 2010, berturut-turut sebesar 70,53 persen dan 26,3 persen.
Pelaksanaan pembangunan pendidikan sampai saat ini telah
berhasil menurunkan kesenjangan partisipasi pendidikan
antarkelompok masyarakat yang berbeda status sosial-ekonomi yang ditunjukkan dari tingkat pendidikan tertinggi yang pernah diikuti oleh penduduk berusia 13-15 tahun. Pada tahun 2010, sebanyak 96,3 persen penduduk di kuantil terkaya berhasil menamatkan jenjang SD/MI atau meningkat dibandingkan dengan tahun 2007 sebesar 94,2 persen. Pada kurun waktu yang sama, angka melanjutkan ke jenjang SMP/MTs untuk kelompok ini juga meningkat menjadi 94,3 persen dari 92,8 persen. Hal yang sama terlihat pada penduduk di kuantil termiskin, dimana angka tamat jenjang SD/MI-nya telah mencapai 82,7 persen pada tahun 2010, meningkat dari 79,5 persen pada tahun 2007. Sementara itu, dalam periode yang sama angka melanjutkan ke jenjang SMP/MTs juga meningkat menjadi 70,6 persen dari 61,6 persen. Capaian tersebut menggambarkan adanya perbaikan efisiensi internal pendidikan, yang ditandai dengan menurunnya angka putus sekolah, meningkatnya angka melanjutkan,
dan mengecilnya kesenjangan partisipasi pendidikan antarkelompok masyarakat yang berbeda status sosial-ekonomi.
Mengecilnya kesenjangan partisipasi pendidikan
antarkelompok masyarakat berlainan status sosial-ekonomi tersebut merupakan hasil dari kebijakan pemerintah yang berpihak pada masyarakat miskin. Selain kegiatan peningkatan daya jangkau dan daya tampung sekolah seperti pembangunan sekolah baru dan penambahan ruang kelas baru, penyediaan bantuan operasional sekolah (BOS) untuk seluruh sekolah, madrasah, pesantren salafiyah, dan sekolah keagamaan non-Islam yang menyelenggarakan wajib
belajar pendidikan dasar sembilan tahun juga telah dapat
meningkatkan kemampuan masyarakat miskin menyekolahkan anaknya. Program BOS yang ditujukan untuk membebaskan biaya pendidikan bagi siswa yang tidak mampu dan meringankan beban biaya bagi siswa yang lain pada tahun 2012 ditujukan untuk sekitar 44,7 juta siswa jenjang pendidikan dasar.
Untuk menjangkau siswa dan mahasiswa miskin, Pemerintah menyediakan bantuan siswa miskin di seluruh jenjang pendidikan dari tingkat SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, sampai dengan perguruan tinggi. Sejak diselenggarakan pada tahun 2005, cakupan
sasaran bantuan siswa miskin terus mengalami peningkatan dari
tahun ke tahun dan telah mencapai 8,18 juta siswa/mahasiswa pada tahun 2011 dari 5,54 juta pada tahun 2010. Peningkatan pemberian jumlah bantuan siswa miskin telah menurunkan persentase jumlah siswa putus sekolah untuk kurun waktu 2010-2011 dari 1,5 persen menjadi 1,3 persen untuk jenjang SD/MI; 1,8 persen menjadi 1,6 persen untuk jenjang SMP/MTs; dan 4,3 persen menjadi 4,0 persen untuk jenjang SMA/SMK/MA. Selain itu, persentase lulusan tidak melanjutkan juga mengalami penurunan untuk kurun waktu yang sama dari 8,6 persen menjadi 7,2 persen pada jenjang SD/MI; 24,0 persen menjadi 10,9 persen pada jenjang SMP/MTs; dan 51,7 persen menjadi 48,4 persen pada jenjang SMA/SMK/MA.
Peningkatan taraf pendidikan juga diikuti dengan meningkatnya kualitas, relevansi, dan daya saing pendidikan. Pemerintah terus berupaya meningkatkan kualifikasi guru dan dosen. Pada tahun 2011 upaya peningkatan kualifikasi bagi 134 ribu guru sekolah umum dan madrasah telah berhasil meningkatkan persentase guru yang telah memenuhi kualifikasi akademik lebih atau setara
D4/S1 menjadi sebesar 58,0 persen. Adapun dosen yang
berkualifikasi S2/S3 telah mencapai 80,9 persen.
Dalam rangka meningkatkan kualitas tata-kelola pendidikan, telah dilakukan perbaikan manajemen pendidikan melalui penerapan manajemen berbasis sekolah (MBS) dan pemantapan proses pelembagan otonomi perguruan tinggi. Sejak tahun 2009, telah dilakukan pemenuhan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN sesuai amanat Konstitusi. Pada tahun 2012, anggaran pendidikan sebesar 20,2 persen dari APBN mencapai Rp 289,96 triliun yang dialokasikan melalui Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp 102,52 triliun, dana Transfer Daerah sebesar Rp 186,44 triliun, dan dana pengembangan pendidikan nasional sebesar Rp 1,0 triliun.
Permasalahan Pelaksanaan dan Tindak Lanjut
Permasalahan utama yang dihadapi dan harus dipecahkan dalam pembangunan bidang pendidikan adalah: (i) masih terbatasnya kesempatan memperoleh pendidikan; (ii) masih rendahnya kualitas, relevansi, dan daya saing pendidikan; (iii) masih rendahnya profesionalisme guru dan belum meratanya distribusi guru; (iv) belum optimalnya pendidikan karakter bangsa; (v) terbatasnya kualitas sarana dan prasarana pendidikan; (vi) belum efektifnya manajemen dan tata-kelola pendidikan; dan (vii) belum terwujudnya pembiayaan pendidikan yang berkeadilan.
Pada aspek peningkatan akses dan kualitas pendidikan, tantangan utama yang harus dihadapi antara lain: (i) meningkatkan
pemerataan akses terhadap semua jenjang pendidikan, termasuk akses terhadap pendidikan agama dan pendidikan keagamaan; (ii) meningkatkan tingkat keberaksaraan; (iii) meningkatkan kesiapan anak bersekolah; (iv) meningkatkan kemampuan kognitif, karakter, dan soft-skills lulusan; (v) meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan menengah; (vi) meningkatkan kualitas, relevansi dan daya saing pendidikan tinggi termasuk kualitas penelitiannya; dan (vii) meningkatkan kualitas pendidikan agama dan pendidikan keagamaan.
Pada aspek ketenagaan dan sarana-prasarana pendidikan, pembangunan pendidikan masih menyisakan tantangan untuk: (i)
meningkatkan pemerataan distribusi guru; (ii) meningkatkan
kualifikasi akademik dan profesionalisme guru; (iii) mempercepat penuntasan rehabilitasi gedung sekolah dan ruang kelas yang rusak;
(iv) meningkatkan ketersediaan buku mata pelajaran; (v)
meningkatkan ketersediaan dan kualitas laboratorium dan
perpustakaan; dan (vi) meningkatkan pemanfaatan teknologi
informasi dan komunikasi dalam pendidikan.
Adapun tantangan yang harus dijawab dalam mewujudkan
manajemen, tatakelola, serta pembiayaan pendidikan yang
berkeadilan antara lain: (i) meningkatkan kualitas manajemen, tata- kelola, dan kapasitas lembaga penyelenggara pendidikan; (ii) melaksanakan otonomi perguruan tinggi sesuai dengan peraturan perundangan agar perguruan tinggi dapat lebih optimal dalam menjalankan fungsi sebagi pengembang ilmu pengetahuan dan teknologi; (iii) meningkatkan kemitraan publik dan swasta dalam penyelenggaraan pendidikan; (iv) memantapkan alokasi anggaran dan mekanisme penyaluran dana yang efisien, efektif, dan akuntabel;
dan (v) menyelenggarakan pendidikan dasar bermutu yang
terjangkau oleh semua.
Untuk menjawab berbagai permasalahan dan tantangan di atas, tindak lanjut yang akan diambil pada tahun 2013 difokuskan pada: (i)
peningkatan kualitas wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun yang merata; (ii) peningkatan akses, kualitas, dan relevansi pendidikan menengah universal; (iii) peningkatan akses, kualitas, relevansi, dan daya saing pendidikan tinggi; (iv) peningkatan
profesionalisme dan pemerataan distribusi guru dan tenaga
kependidikan; (v) peningkatan akses dan kualitas pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan nonformal dan pendidikan informal; (vi) peningkatan kualitas pendidikan agama dan keagamaan; (vii)
pemantapan pelaksanaan sistem pendidikan nasional; (viii)
peningkatan efisiensi dan efektivitas manajemen pelayanan
pendidikan; (ix) penguatan tata kelola pendidikan; dan (x) peningkatan pendidikan karakter. Perbaikan tersebut juga diarahkan untuk mengurangi kesenjangan taraf pendidikan antarwilayah, gender, dan antarkelompok masyarakat yang berbeda status sosial- ekonomi.