BAB 5. MANAJEMEN LAKTASI
F. Kecukupan ASI Pada Bayi
Penilaian kecukupan ASI pada usia bayi 0-6 bulan dapat dini-lai dengan menggunakan kriteria berikut ini (Widuri, 2013):
1. Pada 2-3 minggu pertama bayi sesering mungkin menyu-sui dalam 24 jam dengan frekuensi setidaknya 8 kali.
Setiap 2-3 jam bayi meminum ASI.
2. Sebagai tanda kecukupan ASI pada bayi juga tanpak pada warna kotorannya yang berwarna kuning akan berubah menjadi lebih muda pada hari ke 5 setelah lahir dengan frekuensi yang sering.
3. Frekuensi buang air kecil (BAK) bayi kurang lebih 6 sam-pai 8 kali per hari.
4. Ketika bayi menelan ASI, ibu dapat mendengarnya.
5. Bayi yang sudah menyusu akan mengosongkan kantong-kantong ASI pada payudara dan akan melunak dibandin-gkan dengan saat terisi banyak ASI.
6. Kondisi kulit bayi berwarna merah muda, dan elastisitas kulit kenyal, menandakan bayi cukup minum, dan tidak dehidrasi.
7. Pemantauan pertumbuhan akan sesuai baik pada berat dan tinggi badan bayi.
8. Pemantauan perkembangan bayi sesuai dengan usia, baik pada motorik kasar dan motorik halus.
9. Bayi akan tampak puas menyusu saat lapar dan tidur lengan lelap.
G. Ciri-ciri Bayi Kurang Mendapatkan ASI
Beberapa tanda yang merupakan ciri yang dapat dikenali bahwa bayi kurang mendapatkan ASI diantaranya adalah (Rizki, 2013):
1. Bayi sering menyusu namun tampak tidak puas, dengan durasi yang lama ataupun lebih cepat, dimana hal ini bisa diakibatkan produksi ASI yang tidak mencukupi kebutuh-an bayi.
2. Bayi sering menangis atau bayi menolak menyusu.
3. Frekuensi BAK kurang dari 6 kali per hari dengan warna kuning pekat, dan berbau tajam. Hal merupakan tanda bahwa bayi kurang minum.
4. Pada BAB bayi berwarna kehijauan, dengan karakteristik lebih keras.
5. Pada awal bulan kenaikan berat badan bayi kurang dari 300 gr. Pemberian ASI secara eksklusif 0-6 bulan dapat mencukupi kebutuhan bayi dengan memperhatikan pro-duksi ASI.
H. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi ASI 1. Makanan
Jenis makanan yang dikonsumsi oleh ibu menyusui dapat mempengaruhi produksi ASI. Makanan dengan kom-posisi gizi yang seimbang dan teratur akan meningkatkan produksi ASI (Rizki, 2013). Pemenuhan jumlah protein, kalori, lemak, vitamin dan mineral serta konsumsi air putih 8 sampai 12 gelas per hari merupakan kebutuhan ibu di masa laktasi (Rini, Susilo & Kumala, 2016). Sumber kebutuhan gizi makanan yang dibutuhkan oleh ibu menyu-sui sebagai berikut (Maryunani, 2012):
a. Makanan yang dibutuhkan sebagai sumber energi dapat diperoleh dari contoh makanan seperti kentang, jagung, beras, ataupun kacang-kacangan.
b. Makanan yang dibutuhkan dalam meningkatkan pro-duksi ASI bersumber dari makanan yang mengandung protein diantaranya telur, daging, susu, tempe, dan hati.
c. Makanan yang dibutuhkan sebagai sumber vitamin dan mineral dapat diperoleh dari makanan seperti sayuran hijau, keju, susu, dan buah-buahan.
d. Mengkonsumsi cukup air putih dan meminum sari buah dapat mencegah dehidrasi dan mempengaruhi produk-si ASI.
2. Kondisi Psikologis
Ketenangan dan psikologis yang sejahtera dapat mempengaruhi produksi ASI (Rizki, 2013). Pemikiran yang optimis dan positif, tidak stres, menjadi salah satu keadaan yang menunjang keberhasilan pemberian ASI eksklusif.
3. Penggunaan Alat Kontrasepsi
Alat kontrasepsi yang mengandung hormon dian-jurkan tidak digunakan selama masa menyusui. Hal ini dikarenakan komposisi hormon estrogen pada alat kontra-sepsi menekan produksi hormon prolaktin yang berperan dalam mekanisme produksi ASI (Riksani, 2012). Alat kontrasepsi yang dianjurkan selama menyusui di antara-nya IUD, kondom, atau kontasepsi pil khusus menyusui (Rizki, 2013).
4. Perawatan Payudara
Sejak masa kehamilan ibu dianjurkan untuk mela-kukan perawatan payudara, sehingga masalah yang dapat terjadi pada payuda dapat segera diketahui. Perawatan yang rutin akan menunjang peningkatan produksi ASI sehingga ibu dapat percaya diri dalam memberikan ASI pada bayi (Saraung, M. W., Rompas, S. ,Bataha, 2017).
Hormon oksitosin dan prolaktin akan terstimulasi saat dilakukan perawatan payudara (Rizki, 2013).
5. Anatomis Payudara
Jenis papila ataupun jenis puting penting diperhati-kan, puting tenggelam atau datar dapat menimbulkan masalah ketika ibu menyusu (Rizki, 2013). Faktor fisio-logis air susu ibu dipertahankan sekresinya oleh hormon prolaktin, sehingga mempengaruhi produksi ASI (Widuri, 2013).
6. Pola Istirahat
Istirahat yang cukup merupakan faktor yang dapat mempengaruhi produkasi ASI. Kondisi terlalu lelah, ku-rangnya jam istirahat ibu menyebabkan produksi ASI berkurang. Masa awal bulan kelahiran bayi, ibu akan
merasa kurang cukup istirahat disebabkan pola tidur bayi yang berubah-ubah. Mengikuti pola tidur bayi adalah solusi yang dapat membuat ibu dapatberistirahat dengan cukup (Rizki, 2013).
7. Faktor Isapan Bayi dan Frekuensi Menyusui
Kelancaran produksi ASI dipengaruhi oleh hormon dan kelenjar pada payudara ibu. Bayi yang disusui sesering mungkin akan dapat meningkatkan produksi ASI sebab hormon akan menerima stimulus dengan terus memproduksi ASI. Pada kondisi bayi yang prematur dan cukup bulan berbeda. Optimalisasi produksi ASI pada ibu dengan bayi prematur dapat dilakukan dengan memompa ASI lebih dari 5 kali dalam sehari. Pada kondisi ibu dengan bayi cukup bulan, ibu dapat menyusu dengan frekuensi rata-rata 8 kali dalam sehari (Rizki, 2013).
8. Berat Lahir Bayi
Bayi dengan berat badan lahir rendah memiliki kemampuan menghisap lebih rendah dibandingkan bayi dengan berat lahir normal (BBL>2500 gr) (Rizki, 2013).
9. Umur Kehamilan Saat Melahirkan
Kemampuan menghisap pada bayi dengan umur gestasi kurang dari 34 minggu akan berbeda dengan bayi umur kehamilan dan berat lahir mempengaruhi produksi ASI. Hal ini di yang cukup bulan. Hisapan bayi yang tidak efektif akan mempengaruhi stimulasi hormon prolaktin dan berdampak pada produksi ASI (Rizki, 2013).
10. Merokok dan Mengonsumsi Alkohol
Merokok dan meminum alkohol akan menghambat kinerja hormon prolaktin dan oksitosin, sehingga berdam-pak pada produksi ASI. Adrenalin yang dilepaskan oleh tubuh karena aktifitas merokok akan menekan stimulasi hormon prolaktin dan oksitosin. Selain itu kandungan etanol yang dikandung minuman beralkohol akan dapat mengganggu produksi ASI (Rizki, 2013).
Intervensi Manajemen Laktasi No Langkah-langkah
Manajemen Laktasi Keterangan
1 Persiapan Persiapan Alat: Trolly/baki beralas berisi Instrumen/peralatan non steril, terdiri dari:
1. Phantom Bayi
2. Alat Peraga (Payudara) Persiapan Pasien:
1. Berikan salam, perkenalkan diri, dan identifikasi klien dengan memeriksa identitas klien dengan cermat.
2. Jelaskan tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan, berikan kesem-patan kepada klien dan keluarga untuk bertanya dan jawab setiap per-tanyaan jika ada.
3. Minta pengunjung untuk meninggal-kan ruangan, beri privasi kepada klien.
4. Atur posisi klien sehingga merasakan aman dan nyaman.
2 Mengatur posisi
menyusui 1. Mencuci tangan
2. Ibu harus dalam posisi yang nyaman duduk bersandar, tidur miring, atau berdiri. Bila duduk, jangan sampai kaki menggantung
3. Posisikan Bayi:
a. Posisi muka bayi menghadap ke payudara (chin to breast)
b. Perut/dada bayi menempel pada perut/dada ibu (chest to chest) c. Seluruh badan bayi menghadap ke
badan ibu hingga telinga bayi
membentuk garis lurus dengan lengan bayi dan leher bayi.
d. Seluruh punggung bayi tersanggah dengan baik.
e. Ada kontak mata antara ibu dengan bayi.
f. Pegang belakang bahu, jangan kepala bayi.
g. Kepala diletakkan di lengan bukan di daerah siku.
h. Bayi menghadap dada ibu, dengan hidung menghadap puting.
i. Dagu bayi merupakan bagian per-tama yang melekat pada payudara (titik pertemuan).
j. Support seluruh tubuh bayi.
4. Mempersiapkan puting: Mengolesi ASI ke puting.
5. Ibu harus melakukan kontak mata dengan bayi.
6. Pastikan bahwa posisi menyusui sudah ergonomis dan efektif.
7. Puting diarahkan ke langit-langit bayi.
8. Telusuri langit-langit bayi dengan puting sampai di daerah yang tidak ada tulangnya, di antara uvula (tekak) dengan pangkal lidah yang lembut.
Bayi sebaiknya disusui sesering dan selama bayi menginginkannya.
3 Perlekatan Bayi 1. Minta ibu untuk memegang payudara
dengan ibu jari di atas dan jari yang lain menopang di bawah. Jangan mene-kan puting susu atau areolanya saja.
Gambar: Cara Memegang Payudara 2. Minta ibu untuk memberi rangsangan
kepada bayi agar membuka mulut (rooting reflex) dengan cara: menyen-tuh pipi dengan puting susu, atau- menyentuh sisi mulut bayi
3. Setelah bayi membuka mulut, minta ibu untuk dengan cepat mendekatkan kepala bayi ke payudara ibu dengan puting serta areola dimasukkan ke mulut bayi: - Usahakan sebagian besar areola dapat masuk ke dalam mulut bayi -Setelah bayi mulai mengisap, payudara tak perlu dipegang atau ditopang lagi
4. Perhatikan tanda-tanda perlekatan bayi yang baik: - dagu bayi menempel di payudara (C = chin) - sebagian besar areola masuk ke dalam mulut bayi, terutama areola bagian bawah (A=
areola) -bibir bayi terlipat keluar (bibir atas terlipat ke atas dan bibir bawah terlipat ke bawah) sehingga tidak mencucu (L= lips) -mulut ter-buka lebar (M = Mouth)
Gambar: Perlekatan
5. Menjelaskan kepada ibu mengapa perlekatan bayi harus benar.
4 Melepas Isapan Bayi 1. Minta ibu untuk ganti menyusui pada payudara yang lain apabila pada satu payudara sudah terasa kosong. Minta ibu melepas isapan dengan cara: - jari kelingking dimasukkan ke mulut bayi melalui sudut mulut, atau -dagu bayi ditekan ke bawah
2. Minta ibu agar menyusui berikutnya dimulai dari payudara yang belum terkosongkan (yang diisap terakhir) 5 Menyendawakan
Bayi 1. Minta ibu untuk menyendawakan bayi dengan cara: -bayi digendong tegak dengan bersandar pada bahu ibu kemudian punggungnya ditepuk perla-han-lahan, atau -Bayi tidur tengkurap di pangkuan ibu, kemudian punggung-nya ditepuk perlahan-lahan Jelaskan pada ibu tujuan menyendawakan bayi.
Gambar Menyendawakan Bayi 6 Ekspresi Menyusui 1. Apakah ibu merasa senang dan puas
saat memberikan ASI pada bayinya 2. Apakah selama menyusui
menimbul-kan rasa sakit pada puting susu ibu
S oal L atihan
1. Pada Unit perawatan postpartum seorang perempuan primipara Ny N (20 tahun), 2 jam postpartum dengan perawatan observasi mengeluh merasakan kelelahan, dan mengatakan keluar cairan kental dari payudaranya.Hasil pemeriksaan perawat didapatkan data TD: 110/80 mmHg, HR: 85x/menit, RR: 27x/menit, payudara tampak tegang dan penuh dan siap menyusui. Berdasarkan keluhan tersebut periode ASI apakah yang terjadi pada Ny N?
a. Hind milk b. ASI matur c. Kolostrum d. ASI transisi e. ASI perah
Jawaban: c. Kolostrum
2. Ny A berusia 23 tahun, postpartum 2 jam, mengeluh mera-sa tidak nyaman karena payudara teramera-sa penuh dan ken-cang. Hasil pemeriksaan TD: 110/80 mmHg, HR: 85x/
menit, RR: 27x/menit, payudara tampak tegang dan penuh dan siap menyusui. Intervensi yang tepat diberikan pera-wat pada Ny A adalah:
a. Melakukan perawatan payudara
b. Mengajarkan tentang tanda dan bahaya masa nifas c. Mengajarkan tentang nutrisi masa postpartum d. Mengajarkan ibu cara menyusui yang benar e. Melakukan pijat oksitoksin
Jawaban: d. Mengajarkan ibu cara menyusui yang benar
3. Ny A berusia 23 tahun, postpartum 2 jam, berada dalam perawatan observasi pascasalin. Ny A mengatakan pada perawat bagaimana agar ASInya tetap mencukupi untuk menyusui bayi ketika kembali bekerja. Materi yang tepat diberikan oleh perawat sebagai tindakan discharge planning pada Ny A adalah:
a. Metode dan cara penyimpanan ASI b. Nutrisi pada masa menyusui c. Perawatan payudara
d. Pijat Oksitoksin e. ASI Perah
Jawaban: a. Metode cara penyimpanan ASI
4. Ny. B 25 tahun datang ke polindes tempat anda bekerja. Ia mengatakan telah melahirkan anak pertamanya 8 hari yang lalu. Ny. Mimi mengatakan bayinya sudah menyusu dengan kuat, namun ibu merasa belum mampu menyusui bayinya dengan benar. Setelah dilakukan pemeriksaan di dapati TD 110/80 mmHg, suhu 370c, putting susu sebelah kiri lecet. Berdasarkan data diatas penyebab masalah proses laktasi yang dialami Ny. B adalah:
a. Bayi bingung putting b. Teknik menyusu yang salah c. Adanya infeksi pada putting susu d. ASI tidak keluar
e. Ibu malas menyusui
Jawaban: b. Teknik menyusu yang salah
5. Ny N melahirkan 4 minggu yang lalu di bidan, bayi dalam keadaan sehat, mengeluh payudara keras, membesar, bengkak, nyeri, berwarna kemerahan mengkilat, TD 110/
70 mmHg, nadi 88 x/m, suhu 38 derajat celcius, perna-fasan 24 x/m. Berkenaan dengan kebutuhan menyusui bayinya Ibu Yati dianjurkan untuk:
a. Tetap menyusui pada kedua bayinya b. Menyusui pada payudara yang sehat c. Menyusui pada payudara yang sakit d. Berhenti menyusui bayinya
e. Melakukan pijat oksitoksin
Jawaban: a. Tetap menyusui pada kedua bayinya
D aftar P ustaka
Febriyanti, R., & Dwi, E. (2014). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif di Desa Gilang Taman Sidoarjo. Jurnal Keperawatan.[e-Journal], 2015, 7–10.
Mansjoer, Arif, dkk. (2007). Kapita Selekta Kedokteran (3rd ed.). Jakarta: Media Aesculapius.
Maryunani, A. (2012). Inisiasi Menyusui Dini, ASI Eksklusif dan Manajemen Laktasi. Jakarta: Trans Info Media.
Perinasia. (2004). Manajemen Laktasi: Menuju Persalinan Aman dan Bayi Baru Lahir Sehat (2nd ed.). Perinasia:
Jakarta.
Pertiwi, S. H. (2012). Faktor-faktor yang mempengaruhi proses laktasi ibu dengan bayi usia 0-6 bulan di Desa Cibeusi Kecamatan Jatinangor. Students E-Journal, 1(1), 30.
Prasetyono. (2012). Buku Pintar ASI Eksklusif. Yogyakarta:
Diva press.
Riksani, R. (2012). Keajaiban ASI (Air susu ibu). Jakarta:
Dunia Sehat.
Rini, Susilo & Kumala, F. (2016). Panduan Asuhan Nifas dan Evidence Based Practice. Yogyakarta: Deepublish Publisher.
Rizki, N. (2013). ASI dan Panduan Menyusui. Yogyakarta:
Nuha Medika.
Saraung, M. W., Rompas, S. ,Bataha, Y. B. (2017). ‘Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Produksi ASI Pada Ibu Postpartum Di Puskesmas Ranotana Weru.’ E-Jurnal Keperawatan, 5 (2), 1–8.
Siregar, A. (2004). Pemberian ASI Eksklusif dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Soetjiningsih. (2012). ASI Petunjuk Untuk Tenaga Kesehatan.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Walyani. (2015). Perawatan Kehamilan & Menyusui anak pertama agar bayi lahir dan tumbuh sehat. Yogyakarta:
Pustaka Baru Press.
Widuri, H. (2013). Cara Mengelola ASI Eksklusif Bagi Ibu Bekerja. Yogyakarta: Gosyen Publising.
World Health Organization. (2009). Acceptable medical reasons for use of breast-milk substitutes (No.
WHO/FCH/CAH/09.01).
World Health Organization. (2014). Global nutrition targets 2025: breastfeeding policy brief (No. WHO/NMH/NHD/
14.7).
Bab 6 M engenal Masa Subur dan Penggunaan Alat Kontrasepsi
Tujuan: Setelah membaca Bab 6. Mengenal Masa Subur dan Penggunaan Alat Kontrasepsi, peserta didik mampu:
1. Menjelaskan tentang masa subur
2. Menjelaskan metode pengukuran masa subur 3. Menjelaskan jenis alat kontrasepsi
A. Pendahuluan
Menstruasi atau datang bulan merupakan kejadian alamiah yang dialami wanita berupa perdarahan. Mentruasi merupa-kan perdarahan untuk mengeluarmerupa-kan atau deskuamasi endo-metrium dari rahim yang terjadi secara periodik dan tersiklus (Setyorini, 2017). Usia pertama kali seorang wanita meng-alami menstruasi yaitu pada usia sekitar 11 dan 14 tahun.
Haid atau menstruasi akan dialami seorang wanita setiap bulannya hingga waktunya menopasue pada usia sekitar 51 tahun. Menstruasi akan dialami seorang wanita sebanyak 400-450 kali selama masih menstruasi.
Siklus menstruasi dihitung dengan jarak antara tanggal awal haid dan tanggal awal haid pada bulan berikutnya. Tiap wanita memiliki siklus haid yang berbeda, mulai dari 23-35 hari namun biasanya siklus menstruasi yaitu 28 hari. Haid
merupakan hasil dari sel telur yang tidak dibuahi sehingga haid menjadi tanda awal seorang wanita dapat bereproduksi.
Masa subur seorang wanita merupakan faktor yang menentukan kehamilan. Proses pelepasan sel telur yang matang ke rahim merupakan fase seorang wanita mengalami masa subur. Hal ini menjadi perhatian bagi seorang wanita untuk mengetahui masa siburnya sehinggal dapat memiliki organ reproduksi yang baik. Masa subur dapat dihitung mulai dari saat sel telur dibuahi dalam waktu 12-24 jam setelah ovulasi. Hal ini penting bagi seorang wanita memperhatikan kondisi paling subur. Pada umumnya, perhitungan masa subur dilakukan berdasarkan catatan dan analisis siklus haid seorang wanita selama kurang lebih 8 bulan terakhir.
B. Perhitungan Perkiraan Masa Subur
Perhitungan perkiraan masa subur dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu
1. Mengetahui siklus terpendek misalnya 27 hari, maka kurangi dengan 18 sehingga hasilnya yaitu 9 hari. Angka ini merupakan hari pertama saat berada pada masa subur.
2. Mengetahui siklus terpanjang misanyanya 30 hari maka kurangi dengan angka 11 sehingga hasilnya 19. Angka ini meruapan hari terakhir saat berada pasa masa subur.
Jika siklus menstruasi rata-rata berada pada 27-30 hari, maka saat paling subur yaitu pada hari ke 9 hinggal ke 19.
Seorang wanita yang malas membuat tanda pada kalender akan menyebabkan sulitnya untuk menentukan kondisi su-burnya. Kemalasan seorang wanita merupakan tanda keti-dakpedulian tidak langsung terhadap kesehatan reproduk-sinya.
Penilaian masa subur seorang wanita usia subur sangat penting karena merupakan cara untuk merencanakan keha-milan, atau sebagai dasar untuk tidak melakukan hubungan suami istri (konstrasepsi mandiri). Kebanyakan wanita usia subur tidak mengetahui masa suburnya, terutama jika wanita tersebut mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur.
Setiap bulannya tubuh memberikan sinyal-sinyal pada saat sedang berada dalam tingkat kesuburan yang tinggi. Pada saat tingkat kesuburan mencapai puncak, temperatur tubuh akan meningkat. Pengukuran suhu basal tubuh adalah cara mudah yang dapat dilakukan secara mandiri, aman serta ekonomis untuk menilai ovulasi (masa subur) (Hani, U., &
Sholihah, 2017).
Ovulasi (masa subur)
Ovulasi merupakan proses pengeluaran sel telur yang telah matang dari ovarium ke tuba falopi untuk siap dibuahi.
Saat merencanakan kehamilan, masa ovulasi penting untuk diketahui. Ovulasi merupakan siklus menstruasi yang terjadi pada wanita. Siklus ini akan berlangsung diantara 26-32 hari dan pada hari ke 12 hingga ke 18 meruapakan puncak dari kesuburan seorang wanita. Hari pertama haid merupakan awal perhitungan masa subur. Masa subur dihitung berdasar-kan perhitungan pada kalender namun perhitungan menggu-nakan kalender masih kurang akurat sebab kesuburan se-orang wanita dipengaruhi oleh hormon (Nuryani M. K, 2012).
Suhu tubuh basal merupakan cara lain untuk meng-ukur kesuburan seorang wanita. Subu basal tubuh meru-pakan suhu yang dicapai tubuh meskipun sedang istirahat, tidur atau tidak melakukan aktivitas. Mengukur suhu basal tubuh dapat dilakukan saat pagi hari setelah bangun dan tidak melakukan aktivitas. Kesuburan seorang wanita dapat
dilihat dari perubahan bentuk saliva atau air liur yang dike-ringkan dan diamati (Nuryani M. K, 2012). Pada penelitian Riska dkk, menyatakan bahwa kesuburan wanita dapat diprediksi dari perubahan saliva ferning setiap fasenya. Peru-bahan tersebut dipengaruhi oleh peningkatan kadar hormon estrogen dan progesteron. Kristal saliva yang telah kering dilihat dan diamati dengan menggunakan mikroskop. Besaran akurasi menggunakan saliva sebagai penentu masa subur sebesar 98%.
Metode untuk mengetahui masa subur No Metode/Alat untuk
mengetahui Masa Subur
Rasional Gambar
1. Metode Kalender Cara:
1. Mengetahui hari pertama masa subur 10. Maka masa subur berada pada hari ke 10 setelah hari pertama haid.
2. Mengetahui hari terakhir masa subur
hari maka 32-11 = 21. Maka hari terakhir masa subur berada pada hari ke 21 setelah hari 4. Menstrual diary 5. Ladytimer kalender
ovulasi 6. Maya
Rasional Aplikasi Hawa
Sumber:
galleryaplikasi.com
3. Menghitung Suhu Basal Tubuh
Cara:
1. Perhitungan suhu tubuh langsung setelah bangun pagi dan sebelum memulai aktifitas dan dilakukan pada waktu yang sama.
2. Pengukuran suhu tubuh dapat lebih 3 menit. Pada anus, sebelum
dahulu dengan jelly angkat
ovulasi, kadar
C. Penggunaan Alat Kontrasepsi 1. Pengertian Kontrasepsi
Kontrasepsi merupakan cara untuk mencegah ter-jadinya pembuahan sel telur oleh sel sperma atau mence-gah sel telur yang telah dibuahi menempel pada dinding rahim (Nugroho, 2014). Kontrasepsi merupakan metode
pencegahan kehamilan saat berhubungan suami istri.
Upaya untuk mengatur kehamilan, kelahiran, usia ideal melahirkan dan jarak anak yaitu dengan KB (Keluarga Berencana) melalui promosi, perlindungan dan bantuan untuk mencapai keluarga yang berkualitas (BKKBN, 2012).
2. Jenis-jenis metode KB (Keluarga berencana) a. Metode Kontrasepsi alamiah
1) Senggama terputus
Senggama terputus merupakan metode kon-trasepsi alamiah dengan mengeluarkan kemaluan pria saat menjelang ejakulasi. Hal ini bertujuan untuk mencegah cairan sperma tidak masuk ke dalam rahim dan memperkecil kemungkinan sel telur dibuahi (Proverawati, Islaely, 2010).
2) Pantang Berkala
Pantang berkala merupakan metode kontra-sepsi alamiah dengan tidak berhubungan seksual saat istri dalam masa subur. Masa subur dilihat dari siklus menstruasi. Tidak semua wanita memiliki masa subur pada hari ke 14 sebelum menstruasi, tetapi ada juga wanita yang mengalami masa subur di antara 12 atau 16 hari sebelum menstruasi beri-kutnya (Proverawati, Islaely, 2010).
3) Metode lendir serviks
Metode lendir serviks merupakan metode dengan memperhatikan lendir pada vagina untuk melihat masa subur. Hal ini dilakukan pada pagi hari setelah bangun tidur dan sebelum beraktivitas (Proverawati, Islaely, 2010).
b. Metode kontrasepsi sederhana 1) Kondom
Kondom merupakan sarung karet yang dipa-sang pada penis saat berhubungan. Kondom terbuat dari bahan lateks (karet), plastik (vynill) atau bahan alami (produksi hewan), karet sintesis yang tipis.
berbentuk silinder, yang digulung sehingga berben-tuk rata dengan standar ketebalan yaitu 0,02 mm (Proverawati, Islaely, 2010).
a) Cara kerja kondom
(1) Mencegah masukkan sperma ke saluran reproduksi wanita.
(2) alat kontrasepsi.
(3) Pelindung terhadap penyakit menular sek-sual (Proverawati, Islaely, 2010).
b) Efektivitas kondom
Pemakaian kondom dengan benar akan membuat kontrasepsi kondom lebih efektif dan jika pemakaian kondom tidak konsisten akan mengakibatkan kondom tidak efektif. Angka ke-gagalan yaitu 2-12 kehamilan per 100 perem-puan/tahun (Proverawati, Islaely, 2010).
c) Manfaat kondom
Manfaat kondom dibagi menjadi dua yaitu secara kontrasepsi dan non kontrasepsi. Manfaat secara kontrasepsi, yaitu
(1) Efektif jika pemakaian kondom benar.
(2) Tidak mengganggu produksi asi.
(3) Tidak menggangu kesehatan.
(4) Tidak memerlukan resep dan pemeriksaan khusus.
(5) Murah dan terjangkau (Proverawati, Islaely, 2010).
d) Kekurangan kondom
(1) Tingkat efektivitas tidak terlalu tinggi.
(2) Tingkat efektivitas tergantung pada pema-kaian yang benar.
(3) Terjadi pengurangan sensitifitas penis.
(4) Harus terus tersedia saat melakukan hu-bungan suami istri.
(5) Adanya perasaan malu saat membeli.
(6) Masalah saat membuah kondom bekas pakai (Proverawati, Islaely, 2010).
2) Spermisida
Spermisida merupakan bekerja dengan meru-sak sel spermatozoa dan menghambar mobilitas sprematozoa serta menurunkan kemungkinan terja-dinya fertilisasi. Spermisida berbentuk aerosol atau busa, supositoria dan jeli atau krim vagina. Peng-gunaan spermisida lebih efektif jika digunakan secara bersama dengan metode lainnya seperti diafragma dan kondom dibandingkan jika digunakan
Spermisida merupakan bekerja dengan meru-sak sel spermatozoa dan menghambar mobilitas sprematozoa serta menurunkan kemungkinan terja-dinya fertilisasi. Spermisida berbentuk aerosol atau busa, supositoria dan jeli atau krim vagina. Peng-gunaan spermisida lebih efektif jika digunakan secara bersama dengan metode lainnya seperti diafragma dan kondom dibandingkan jika digunakan