BAB 5. MANAJEMEN LAKTASI
C. Periode Manajemen Laktasi
C. Periode Manajemen Laktasi 1. Masa kehamilan (Antenatal)
Pada masa antenatal, hal yang perlu diperhatikan dalam menejemen laktasi adalah:
a. Ibu mencari informasi mengenai kelebihan ASI, khasiat menyusui untuk ibu dan bayi, dan juga akibat negative pemberian susu formula.
b. Ibu memeriksakan kesehatan tubuh pada saat kehamil-an kondisi puting payudara, dkehamil-an memkehamil-antau kenaikkehamil-an berat badan saat hamil.
c. Semenjak kehamilan berusia 6 bulan sampai ibu siap buat menyusui, ibu melakukan perawatan payudara.
Hal ini bermaksud supaya ibu sanggup memproduksi
serta memberikan ASI yang memadai bagi kebutuhan bayi.
d. Sejak kehamilan trimester ke-2, ibu tetap mencari informasi tentang gizi serta makanan tambahan.
2. Masa Persalinan (Perinatal)
Pada masa kelahiran hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen laktasi saat adalah:
a. Masa yang sangat berarti dalam kehidupan bayi beri-kutnya adalah masa persaliinan. Oleh karena itu bayi harus menyusu dengan baik dan posisi yang benar maupun cara melekatkan bayi pada payudara ibu.
b. Ibu dibantu untuk melakukan kontak langsung dengan bayi selama 24 jam supaya menyusui dapat dilakukan tanpa jadwal.
c. Setelah melahirkan maka ibu nifas diberi kapsul vit. A dengan dosis tinggi (200.000 IU) dalam waktu 2 minggu setelah melahirkan.
3. Masa Menyusui (Postnatal)
Pada Periode postnatal hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen laktasi adalah:
a. Pada minggu pertama kelahiran setelah bayi mendapat-kan ASI, Ibu wajib menyusui bayi secara eksklusif se-lama 4 bulan awal setelah kelahiran bayi tanpa diberi makanan tambahan.
b. Agar bayi tumbuh dengan sehat maka ibu mencari in-formasi mengenai gizi makanan ketika masa menyusui.
c. Ibu wajib untuk menjaga kesehatannya dengan istira-hat yang cukup serta menenangkan pikiran dan men-jauhkan diri dari keletihan yang berlebihan supaya pro-duksi ASI tidak terhambat.
d. Apabila terdapat masalah saat proses menyusui, ibu senantiasa mengikuti petunjuk petugas kesehatan (merujuk posyandu atau puskesmas).
e. Gizi/makanan anak wajib tetap diperhatikan oleh ibu terutama pada bayi berusia 4 bulan (Prasetyono, 2012).
Pemberian ASI eksklusif tidak hanya berguna untuk bayi namun berguna juga untuk ibu. Kegunaan ASI eksklusif untuk ibu antara lain sebagai kontrasepsi yang alami ketika ibu menyusui serta saat sebelum ibu men-struasi, melindungi kesehatan ibu dengan menurunkan risiko terserang kanker payudara serta menolong ibu buat membangun hubungan batin pada anak. Pemberian ASI juga bisa menolong pengeluaran keluarga karena tidak perlu membeli susu formula yang biayanya mahal (Walyani, 2015).
Terkadang informasi yang diperoleh ibu mengenai khasiat ASI eksklusif, tentang cara menyusui yang benar, serta hal yang wajib ibu lakukan apabila terdapat masalah ketika menyusui. Hambatan bisa saja terjadi saat proses pemberian ASI yang disebabkan ASI yang diproduksi berhenti (Febriyanti, R., & Dwi, 2014). Hambatan yang dapat terjadi ketika pemberian ASI Eksklusif antara lain ASI keluar sedikit, ibu khawatir payudara menjadi turun, serta ibu yang bekerja. Sebagian aspek yang mempenga-ruhi pemakaian ASI Eksklusif antara lain aspek pengeta-huan, aspek social budaya, aspek psikologi, aspek kondisi fisik ibu, aspek perilaku, serta aspek tenaga kesehatan (Soetjiningsih, 2012).
4. Prinsip Keberhasilan Pemberian ASI Eksklusif a. Persiapan dalam menyusui
Pada usia kehamilan memasuki 7-8 bulan, ibu sudah melakukan persiapan dengan melakukan pera-watan pada payudara sebagai langkah persiapan dalam menyusui. Hal ini cukup penting sebagai tinndakan awal keberhasilan menyusui karena produksi ASI akan lebih lancar pada payudara yang sudah dipersiapkan dan dirawat, sehingga dapat mencukupi kebutuhan bayi. Payudara yang tidak terawat dapat menyebabkan payudara mengalami pembengkakan, dan lecet pada area puting saat bayi menyusu. Masalah bendungan ASI juga dapat dicegah dengan melakukan perawatan pada payudara, diantaranya dengan melakukan pijat payu-dara, sesering mungkin memberikan ASI pada bayi, atau dengan memompa dan memerahnya (Maryunani, 2012).
b. Tahapan Menyusui yang Benar
1) Pada tahap awal menyusui, cairan ASI yang dike-luarkan dioleskan pada area puting dan areola agar puting tetap lembab dan mencegah lecet.
2) Mengambil posisi yang ergonomis, berbaring atau duduk di kursi dengan posisi yang nyaman dengan posisi bayi menghadap ke perut Ibu, dan ditopang pada bagian bahu belakang. Kepala bayi disanggah oleh bagian lengkung siku, menghadap kearah payu-dara. Telinga bayi diletakkan pada garis lurus sisi lengan, serta sepanjang menyusu ibu menatap bayi sebagai interaksi ibu dan bayi.
3) Menopang payudara dari bawah dan bagian atas ditahan dengan ibu jari, tidak menekan bagian areola atau puting saja.
4) Rooting reflex distimulus dengan menyentuhkan jari pada pipi atau pinggir mulut bayi.
5) Kepala bayi didekatkan ke payudara dengan perle-katan yang benar antara mulut dan payudara. Selu-ruh bagian payudara termasuk areola masuk ke dalam mulut bayi, bagian langit-langit pada mulut bayi tepat di atas puting dan lidah bayi akan meme-rah ASI pada areola payudara. Perlekatan yang salah akan berdampak terhadap pengeluaran ASI yang tidak maksimal, dan juga menyebabkan masalah lecet pada puting susu.
6) Pengeluaran ASI yang kurang karena perlekatan yang salah akan berdampak pada produksi ASI yang kurang adekuat untuk kecukupan bayi. Kecukupan dan kepuasan Ibu dalam memberikan ASI dapat dinilai dari beberapa kondisi yang memperlihatkan bayi tidur lebih tenang, frekuensi BAB dan BAK bayi, dan ibu dapat merasakan bayi meneguk ASI, hisapan yang kuat dan tidak menyebabkan nyeri pada puting payudara.
7) Setelah bayi selesai menyusu, ibu akan merasakan payudara lebih lembek dan kosong, dan berganti ke payudara yang satunya. Cara melepas puting susu dari mulut bayi dilakukan dengan cara jari keling-king ibu dimasukkan pada sudut bibir bayi dan perlahan melepaskan puting.
8) Setelah menyusu bayi lebih baik disendawakan ter-lebih dahulu yang bertujuan untuk mengosongkan udara dari lambung dan mencegah bayi muntah.
Bayi diposisikan tegak pada bahu dan menepuk bagian punggung bayi, atau dengan posisi tengkurap di pangkuan ibu disanggah dengan bantal, posisi kepala dan dada lebih tinggi dari abdomen yang kemudian ditepuk perlahan pada bagian pundak bayi.