• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perhatikan bahwa variabel-variabel dari persamaan garis lurus berpangkat dan tidak terdapat perkalian antar 2 variabel.

Setelah siswa membaca bahan text tersebut, dilanjutkan dengan melakukan tahap-tahap pembelajaran berbalik secara berkelompok 3-4 siswa. Dalam setiap kelompok minimal disediakan 1 unit komputer yang sudah dilengkapi perangkat lunak yang mendukung materi pembelajaran, dalam hal ini Graphmatica. Perangkat lunak ini dipilih karena mudah digunakan, sehingga bisa meminimalkan dampak yang diakibatkan oleh ketidakmahiran siswa dalam penggunaan komputer dalam belajar matematika.

Dalam pembelajaran ini, komputer berfungsi sebagai alat untuk bereksplorasi bagi siswa dalam meningkatkan pemahaman konsep-konsep matematika. Pemahaman- pemahaman konsep mendasar dalam pembelajaran harus tetap diberikan oleh guru pada tahap refleksi, hal ini juga berfungsi untuk menghindari salah konsep bagi siswa.

Gambar 2. Contoh Tampilan Graphmatica dengan grafik y=2x dan y= -2x

Penutup

Pemahaman merupakan faktor yang sangat vital dalam pembelajaran matematika. Agar siswa bisa menyelesaikan berbagai persoalan, siswa tidak cukup hanya memahami secara prosedural, namun harus sampai pada pemahaman relasional. Perkembangan teknologi komputer yang sangat pesat bisa dimanfaatkan dalam pembelajaran matematika. Pembelajaran berbantuan komputer harus didesain agar siswa bisa malakukan aktifitas konstruktivis seluas-luasnya, jangan sampai keberadaan komputer menjadi beban tersendiri yang menyulitkan siswa dalam belajar matematika. Pemahaman matematis siswa bisa ditingkatkan melalui pembelajaran yang berbantuan komputer. Dengan adanya bantuan komputer, siswa bisa lebih leluasa melakukan eksplorasi sehingga bisa meningkatkan pemahaman matematisnya.

Daftar Pustaka

Dahlan, Jarnawi A. 2004.Meningkatkan Kemampuan Penalaran dan Pemahaman Matematik Siswa Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Melalui Pendekatan Pembelajaran Open Ended. Disertasi S3 UPI Bandung. Tidak dipublikasikan.

Donald, J. B.(1998). “Technology in Mathematics Education”. Doctor Dissertation, Virginia Polytechnic Institute and State University.

Edwards, S.(2005). “Identifying the factors that influence computer use in the early childhood classroom”. Australasian Journal of Educational Technology, 21(2), 192- 210.

Frid, S. (2002). “Engaging Primary Students in Working Mathematically within a Virtual Enrichment Program”.Mathematics Education Research Journal, Vol. 14, No. 1, 60- 79.

Kahfi, S., 2002. Teknologi Komputer Dalam Pembelajaran Matematika. UM: Lokakarya Penggunaan Teknologi Multimedia Komputer Dalam Pembelajaran Matematika 28- 29 Juli 2002.

Lynch J. (2006). “Assessing Effects of Technology Usage on Mathematics Learning”.

Mathematics Education Research Journal. Vol. 18, No. 3, 29–43.

Neo, M. et al. (2007). “A constructivist approach to learning an interactive multimedia course: Malaysian students' perspectives”. Australasian Journal of Educational Technology, 23(4), 470-489.

NCTM (2000).Principles And Standards for School Mathematics

Palinscar, A. and Brown, A. (1984). Reciprocal Teaching in Comprehension-Fostering and Comprehension-Monitoring Activities Cognition and Instruction. [online] Tersedia : http://teams.lacoe.edu/documentation/classroom/patti/2-3/teacher/

resources/reciprocal.html [29 April 2008]

Reys, Robert E. et. al. (1998). Helping Children Learn Mathematics 5th edition. Boston : Allyn and Bacon

Rosyid, Daniel M., Muslimin Ibrahim (2007). Reciprocal Teaching Sebagai Strategi. [online]. Tersedia:http://kpicenter.web.id/neo/content/view/17/1.html[29 April 2008] Ruseffendi, E.T (1988). Pengantar kepada membantu guru mengembangkan kompetensinya

Skemp, Ricard R (1976) Relational Understanding and Instrumental Understanding. Mathematics Teaching, 77, 20–26

Sumarmo, Utari. (1987). Kemampuan Pemahaman dan Penalaran Matematika Siswa SMA dikaitkan dengan kemampuan penalaran logik siswa dan beberapa unsur proses belajar mengajar. Disertasi S3 UPI Bandung. Tidak dipublikasikan.

Wikipedia(2008). Constructivism_(learning_theory). [Online] Tersedia : http://en.wikipedia.org/wiki/ Constructivism_(learning_theory).htm [29 April 2008]

Muhamad Sabirin

Jur. Tadris Matematika Fak.Tarbiyah IAIN Antasari Banjarmasin

Mahasiswa S3 Pendidikan Matematika SPs UPI Bandung Email: [email protected]

Abstrak

Pembelajaran matematika hendaknya memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk terlibat aktif sehingga konsep materi yang dipelajari benar-benar tertanam dan mereka kuasai dengan baik. Salah satu pembelajaran yang sesuai dengan tujuan tersebut adalah pembelajaran matematika dengan pendekatan inkuiri. Dalam pendekatan inkuiri siswa diberikan kesempatan bekerja secara kelompok untuk mengkonstruksi pengetahuan mereka. Guru sebagai fasilitator pembelajaran dituntut untuk memiliki kemampuan yang baik dalam memberikan penilaian terhadap proses pembelajaran tersebut. Dalam tulisan ini akan dibahas contoh-contoh praktis beberapa jenis tugas inkuiri seperti pertanyaan open-ended, investigasi, eksperimen pemikiran dan penilaian kinerja serta implikasi penilaiannya.

Kata kunci: Pendekatan inkuiri, penilaian, pertanyaan open-ended, investigasi, eksperimen pemikiran dan penilaian kinerja.

Abstract

Mathematics learning shall give wide opportunity to student to involve actively such that the matter concept studied really planted and they well posted. One of the learning which matching with this purpose is mathematics learning with inquiry approach. In inquiry approach, student provided opportunity to work in group for construction their knowledge. Teacher as facilitator claimed to have good ability in giving assessment to the learning process. In this article will be studied practical examples from various types of inquiry task, like open-ended questions, investigations, thought experiments and performance assessment and the implications for assessment.

Key words:inquiry approach, assessment, open-ended questions, investigations, thought experiments and performance assessment.

Pendahuluan

Pembelajaran dengan pendekatan inkuiri bertolak dari pandangan bahwa siswa sebagai subjek sekaligus objek dalam belajar, mempunyai kemampuan berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Proses pembelajaran harus ditempatkan sebagai sarana bagi pengembangan kemampuan tersebut. Untuk itu siswa harus ditantang melalui tugas-tugas belajarnya agar lebuh aktif menyalurkan kemampuannya

Istilah inkuiri berasal dari kata inquiry yang dapat diartikan penyelidikan. Inkuiri dapat pula diartikan sebagai suatu rangkaian kegiatan yang bertumpu pada pertanyaan- pertanyaan yang digunakan sebagai petunjuk untuk mengarah pada penarikan suatu kesimpulan.

Menurut Sriyono (1992, p.97) ada lima tahapan yang ditempuh dalam melaksanakan pendekatan inkuiri, yakni (a) merumuskan masalah untuk dipecahkan siswa, (b) menetapkan jawaban sementara atau hipotesis, (c) siswa mencari informasi, data, fakta yang diperlukan untuk menjawab permasalahan atau hipotesis, (d) menarik kesimpulan atau generalisasi, dan (e) mengaplikasikan kesimpulan atau generalisasi dalam situasi baru.

Joyce dan Well (1992) mengemukakan bahwa model pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inkuiri terdiri atas lima fase, yaitu: Confrontation with the problem, Data Gathering-Verification, Data Gathering-Experimentation, Organizing- Formulating Expalanation,danAnalysis of the Inquiry Process.

Pembelajaran inkuiri harus di desain sedemikian rupa untuk membawa siswa secara langsung yang menekankan pada proses ilmiah melalui latihan dalam waktu singkat. Dengan kata lain pembelajaran inkuiri dirancang untuk membuat siswa menjadi partisipan aktif. Siswa diarahkan untuk berinisiatif melakukan serangkaian kegiatan: observasi (observation), bertanya (questioning), mengajukan dugaan (hypothesis), pengumpulan data (data gathering), dan penyimpulan (conclusion) (Nurhadi, 2002, p.12).

Pendekatan inkuiri sangat dianjurkan/didukung dalam pendidikan matematika karena memberikan kesempatan untuk siswa yang memiliki kemampuan berbeda untuk terlibat dalam tugas-tugas yang menarik dan menantang (Henningsen, & Stein, 1997; Stein, Grover, & Henningsen, 1996; Sullivan, 2001). Menurut Barody & Coslick (1998), pendekatan inkuiri memerlukan perubahan substansial pada pengajaran dan penilaian. Tujuan dari tulisan ini adalah mengeksplorasi penilaian yang dapat digunakan dengan berbagai jenis tugas berbasis inkuiri.