• Tidak ada hasil yang ditemukan

Periwayatan Hadis dari Masa ke Masa

MATA RANTAI PERIWAYATAN HADIS

B. Periwayatan Hadis dari Masa ke Masa

Berdasarkan pembahasan tersebut di atas, maka unsur utama dalam proses periwayatan hadis adalah adanya mata rantai

isnād/sanad dan redaksi riwāyah/matan. Orang yang pertama kali

8 Muḥammad Ṭāhir al-Jawābī, Juhūd al-Muḥaddiṡīn fī Naqd Matn al-Ḥadīṡ

an-Nabawī asy-Syarīf (Tunis: Muassasāh ‘Abdul Karīm bin ‘Abdullāh, 1989), 21.

9 al-Jawābī, Juhūd al-Muḥaddiṡīn fī Naqd Matn al-Ḥadīṡ an-Nabawī

berhati-hati dalam menerima hadis adalah Abū Bakr aṣ-Ṣiddīq. Ketika ditanya tentang hak waris seorang nenek, beliau menjawab tidak menemukannya dalam al-Qur’an. Kemudian Abū Bakr bertanya pada orang-orang dan al-Mugīrah berkata bahwa Rasulullah memberi hak waris nenek sebesar seperenam. Abū Bakr pun bertanya apakah ada orang yang menyaksikan hal tersebut. Kemudian Muḥammad bin Maslamah bersaksi atas al-Mugīrah, dan Abū Bakr baru menerimanya. Begitu juga ‘Umar bin al-Khaṭṭāb dan ‘Alī bin Abī Ṭālib berhati-hati dalam meriwayatkan, agar orang-orang tidak dengan mudah menyandarkan dan meriwayatkan hadis Rasulullah saw.10

Kehati-hatian dan kewaspadaan dalam meriwayatkan hadis telah terjadi pada masa-masa awal munculnya Islam. Banyaknya pertanyaan tentang sanad periwayatan serta penelitiannya semakin bertambah dan berkembang setelah terjadinya fitnah di akhir pemerintahan ‘Uṡmān bin ‘Affān. Penggunaan sanad dalam periwayatan terus berlangsung dan berkembang dengan bertambahnya gejolak dan fitnah di kalangan umat Islam yang terkadang disisipi kebohongan dan kepalsuan informasi. Dengan demikian, orang tidak mudah menerima hadis/riwayat kecuali dengan disandarkan dengan sanad agar diketahui siapa perawi dan kualitasnya.11

10 Abū ‘Abd Allāh Syams al-Dīn aż-Żahabī, Kitāb Tażkirah al-Ḥuffāẓ (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t.), I: 2, 6.

11 Aḥmad ‘Umar Hāsyim, as-Sunnah an-Nabawiyyah wa ‘Ulūmuhā (Mesir: Maktabah Garīb, t.t.), 53-54.

Berikut ragam komentar ulama tentang pentingnya sanad dalam proses transmisi hadis. Misal, Ibnu Sīrīn (w. 110 H) mengatakan bahwa orang tidak bertanya tentang sanad, kecuali sesudah terjadinya fitnah.12 Ketika fitnah terjadi, maka nama perawi pun dipertanyakan dalam periwayatannya (az-Zahrāni. 1996: 21). Sementara itu, Ibnu Abī Ḥātim meriwayatkan bahwa Mālik bin Anas (w. 179 H) berkata bahwa orang yang pertama kali menyebut sanad dalam periwayatan hadis adalah az-Zuhrī (w. 124 H/742 M).13 Oleh karena itu, secara perlahan-lahan mulai muncul beragam pengetahuan, baik yang bersifat riwāyah maupun dirāyah, yang berkaitan dengan sikap kehati-hatian dalam menerima dan menyampaikan riwayat hadis.

Adapun proses periwayatan hadis di antaranya dilakukan melalui proses riḥlah (perjalanan) mencari hadis.14 Menurut para

12 ‘Alī bin al-Madīnī mengatakan bahwa Muḥammad bin Sīrīn (w. 110 H) merupakan orang yang pertama kali meneliti dan menilai sanad. Ia adalah seorang perawi ṡiqah dari generasi tabiin yang berasal dari Baṣrah. Lihat ‘Abdurraḥmān bin Aḥmad Ḥanbali Ibnu Rajab, Syarḥ ‘Ilal at-Tirmiżī, ed. Nūr ad-Dīn ‘Itr (Dār al-Mullāḥ, 1978), I: 23.

13 ar-Rāzī, Mu‘jam Maqāyis al-Lugah, I: 20.

14 Menurut Ibnu Manẓūr, riḥlah artinya meneruskan perjalanan (muḍiyyun fī

as-safar). Melihat dari kondisi geografisnya, banyak orang Arab sebelum Islam

melakukan perjalanan keluar dari daerahnya untuk melakukan berbagai kegiatan dalam bidang sosial, ekonomi, budaya dan lainnya. Menurut Nawwāb, riḥlah lebih komprehensif dan lebih umum dari safar. Pada awalnya, riḥlah orang-orang Islam mencakup segala sebab dan tujuan. Ada yang melakukan riḥlah guna mencari ilmu menyelidiki daerah yang akan ditaklukkan, mengajak kerjasama daerah Islam yang lain, beribadah seperti haji dan ziarah serta yang lainnya. Lihat dalam Muḥammad bin Mukrim Ibnu Manẓūr, Lisān al-‘Arab (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2005), I: 274-279; Philip K. Hitti, History of the Arabs (London: MacMillan and Co, 1946), 30; Awāṭif M. Yūsuf Nawwāb, ar-Rihlāt al-Magribiyyah wa al-Andalusiyyah: Masdar

perawi hadis, proses pencarian hadis merupakan suatu hal yang sangat istimewa. Mereka meyakini bahwa perjalanan ini merupakan bagian dari ibadah. Imam Muslim (w. 261 H/875 M) meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah berkata: “barangsiapa

yang menapaki jalan dalam mencari ilmu, maka Allah pasti memudahkan baginya jalan menuju surga.” Selain motivasi

tersebut, para perawi hadis dalam melakukan lawatan tersebut juga memiliki motivasi untuk mendapatkan riwayat yang utama sekaligus menguji validitas riwayat yang mereka dapat dari perawi lain.

Al-Khaṭīb al-Bagdādī (w. 463 H/1072 M), sebagaimana dikutip oleh az-Zahrānī, menegaskan bahwa ada dua tujuan dalam proses perjalanan mencari hadis, yaitu: mendapatkan sanad utama dan riwayat yang paling awal; serta mużākarah (mengkaji) dan mengambil ilmu dari para ḥuffāẓ.15 Lebih lanjut, Ibnu Khaldūn mengatakan bahwa riḥlah dalam mencari ilmu dan guru dapat memberikan kemanfaatan serta menambah kesempurnaan di dalamnya.16 Hal ini disebabkan karena pertemuan dengan seorang guru serta berinteraksi langsung dengan mereka dapat menjadikan proses belajar mengajar menjadi lebih efektif. Seseorang akan

min Maṣādir Tārīkh al-Ḥijāz fi al-Qarnain as-Sābi‘ wa aṡ-Ṡāmin al-Hijriyain Dirāsah Taḥlīliyyah Muqāranah (Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd al-Waṭaniyyah,

1996), 33-41.

15 Muḥammad bin Maṭar az-Zahrānī, Tadwīn as-Sunnah an-Nabawiyyah:

Nasy’atuhū wa Taṭawwuruhū min Qarn Awwal ilā Nihāyah Qarn at-Tāsi‘ al-Hijrī (Riyadh: Dār al-Minhāj, 1998), 39.

16 ‘Abdurraḥmān Ibnu Khaldūn, Muqaddimah Ibnu Khaldūn (Beirut: Dār al-Fikr, t.t.), 541.

lebih mudah untuk menyerap pengetahuan, etika, serta berbagai pengalaman yang muncul dalam proses interaksi tersebut. Oleh karenanya, lawatan ilmiah merupakan satu hal yang niscaya dalam proses mencari ilmu.

Upaya periwayatan hadis melalui riḥlah tersebut, jika dikaitkan dengan historisitas pertumbuhan dan perkembangan hadis, setidaknya terjadi pada generasi setelah sahabat, yakni sekitar awal abad dua hijriyah. Hal itu didasarkan oleh beberapa alasan: pertama, periwayatan hadis pada masa Nabi saw dan sahabat masih sangat sederhana, sehingga tidak perlu dibutuhkan usaha yang serius dalam proses transmisinya. Meski demikian, sikap kehati-hatian sudah menjadi ciri khas dalam proses periwayatan sejak masa Nabi saw hingga masa tadwīn. Kedua, para sahabat, setelah wafatnya Nabi saw, tersebar ke beberapa kawasan kota-kota Islam, sehingga para pencari hadis melakukan lawatan guna mendapatkan riwayat hadis dari para sahabat yang ditemuinya. Ketiga, telah mulai munculnya pemalsuan hadis, sehingga diperlukan sikap hati-hati dengan cara mencari riwayat yang sahih serta dapat dipertanggung jawabkan.

Nūruddīn ‘Itr dalam mukadimah kitab ar-Riḥlah fī Ṭalab

al-Ḥadīṡ karya al-Khaṭīb al-Bagdādī (w. 463 H/1072 M), menjelaskan

bahwa ada lima tujuan mulia yang didapat oleh muḥaddiṡūn dalam

riḥlah-nya, yaitu: (1) pengoleksian riwayat hadis; (2) mengukuhkan riwayat yang diperoleh; (3) mencari riwayat yang paling utama; (4) mengkaji karakteristik perawi; dan (5) berdiskusi

dengan perawi lain perihal kualitas riwayat yang diperoleh. Adapun manfaat yang diperoleh dalam proses riḥlah ilmiah tersebut, di antaranya adalah: (1) mengukuhkan tradisi ilmiah dalam proses periwayatan; (2) transmisi pengetahuan yang diperoleh; (3) memperkaya tradisi dan budaya; (4) mengembangkan kemuliaan dan kesempurnaan diri; dan (5) membangun relasi persahabatan dengan tulus.17

‘Ajjāj al-Khaṭīb mencatat bahwa pasca penaklukan beberapa kawasan, hingga ke daratan cina, oleh pasukan muslim pada masa itu.18 Banyak dari para sahabat Nabi saw yang melakukan hijrah dan lawatan ke berbagai daerah penaklukan, bahkan bermukim di daerah tersebut. Mereka mengajarkan kepada masyarakat setempat perihal membaca al-Qur’an serta riwayat-riwayat hadis Nabi saw. Akhirnya daerah tersebut menjadi kawasan penting yang nantinya menjadi sentral lawatan dalam membentuk jaringan periwayatan hadis. Di antara daerah-daerah tersebut adalah: Madinah, Mekkah, Kufah, Baṣrah, Syām, Mesir, Maroko, Andalusia, Yaman, Jurjān, Qazwīn, dan Khurāsān.

Dengan bermukimnya beberapa sahabat di dalam kawasan tersebut, maka akhirnya muncul berbagai madrasah yang fokus dalam mempelajari ilmu-ilmu keislaman, terutama al-Qur’an dan Hadis. Melalui madrasah-madrasah inilah terbentuk suatu jaringan

17 Nūr ad-Dīn ‘Itr, “I‘jāz an-Nubuwwah ‘Ilmī,” in ar-Riḥlah fi Ṭalab

al-Ḥadīṡ, by ‘Alī al-Khaṭīb al-Baghdādī (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1975),

17-28.

keilmuan, terutama yang berkaitan erat dengan periwayatan hadis. Banyak dari generasi tābi‘īn saat itu yang berupaya menghapal serta menghimpun berbagai riwayat hadis yang mereka dapat dari para sahabat yang ditemuinya. Hingga akhirnya muncul berbagai

ṭabaqah pada generasi tābi‘īn dalam setiap kawasan Islam.19 Tradisi periwayatan inilah yang nantinya akan menjadi awal dari proses pembentukan jaringan intelektual kaum muslim, terutama dalam periwayatan hadis, pada masa selanjutnya.

Satu hal yang sangat perlu diperhatikan pula dalam proses

riḥlah adalah selalu mendahulukan nilai-nilai etik di dalamnya. Di

antara nilai-nilai tersebut adalah bijak serta cermat dalam memilih kawasan yang hendak dituju; selalu melakukan diskusi dan

mużākarah dengan berbagai guru guna mendapatkan kedalaman

ilmu; serta selalu menjaga ketulusan niat dalam mencari hadis.20 Nilai-nilai etik tersebut diperlukan karena dalam catatan Ṣubḥī Ṣāliḥ terdapat beberapa pencari hadis yang memiliki motif duniawi dalam proses riḥlah-nya.21 Mereka mencari hadis bukan untuk syiar agama, melainkan guna dapat “diperjualbelikan” riwayatnya kepada yang lain.

Ya’qūb bin Ibrāhīm bin Sa‘d (w. 208 H), misalnya, yang oleh an-Nasā’ī (w. 303 H) dinilai sebagai perawi yang meminta

19 Muḥammad Muḥammad Abū Zahw, al-Ḥadīṡ wa al-Muḥaddiṡūn (Mesir: Syirkah Musāhamah Miṣriyyah, t.t.), 101.

20 ‘Itr, “I‘jāz an-Nubuwwah al-‘Ilmī.” 29-31

21 Subhi Ṣāliḥ, ‘Ulūm Ḥadīṡ wa Muṣṭalaḥuhū (Beirut: Dār ‘Ilm li al-Malāyīn, 1959), 62-69.

upah satu dinar untuk satu hadis.22 Akan tetapi, tidak semua perawi yang meminta upah dalam periwayatannya adalah perawi pemalsu dan pembohong, melainkan ada pula perawi yang terpercaya, sebagaimana Ya’qūb di atas, yang terbelenggu dengan kebutuhan duniawi. Meski demikian, perilaku tersebut jelas tidak sesuai dengan tujuan utama yang hendak dicapai dalam proses riḥlah mencari hadis, yaitu niat tulus untuk memuliakan serta melestarikan riwayat hadis Nabi saw.