DAFTAR GAMBAR DAN TABEL DAFTAR GAMBAR
D. Tinjauan Pustaka
Penelitian mengenai mata rantai periwayatan hadis kaum sufi, pada dasarnya, masih jarang ditemukan. Akan tetapi, kajian-kajian yang senada dengan studi ini, terutama dalam kaitannya dengan studi takhrīj dan taḥqīq, serta pola pemahaman hadis kaum sufi sangatlah banyak ditemukan.
Sejauh ini, terdapat beberapa karya penelitian ilmiah maupun buku yang mengungkap permasalahan dalam proses periwayatan hadis dari satu generasi ke generasi berikutnya, terutama yang terjadi pada masa tadwīn hadis, baik yang dilakukan oleh intelektual Muslim maupun Barat. Di antara karya-karya tersebut adalah karya Saifuddin yang berjudul “Arus Tradisi
Tadwīn Hadis dan Historiografi Islam (Kajian Lintas Aliran).”
Fokus dari kajian dalam karya ini adalah elaborasi sejarah tadwīn hadis, yang menurutnya, memiliki sejarah yang panjang dan rumit serta masih banyak diwarnai kontroversi. Penulis, dalam narasinya, menemukan bahwa kontroversi dalam proses tadwīn itu semakin
tajam ketika ditarik pada persoalan sekte atau aliran di dalamnya, seperti Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah, Syi’ah, dan Khawārij. Menurutnya, ketiga aliran tersebut terbukti memiliki tradisi tadwīn hadis sendiri-sendiri. Selain itu, kajian yang berangkat dari penelitian disertasi ini menemukan fakta bahwa dinamika yang terjadi dalam proses tadwīn hadis telah memberikan pengaruh atau kontribusi nyata terhadap perkembangan historiografi Islam. Peneliti dalam hal ini sepakat dengan karya ini yang menyatakan bahwa proses tadwīn hadis yang terjadi saat itu menyisakan sisi kontroversi di dalamnya. Sisi kontroversi tersebut tidak hanya muncul disebabkan oleh perbedaan ideologi saja, melainkan pula munculnya beragam tradisi keilmuan Islam saat itu seperti fikih dan tasawuf.43
Selanjutnya, karya akademis lain yang patut disebutkan adalah karya disertasi saudara Muhammad Zain yang berjudul “Profesi Sahabat Nabi dan Hadis yang Diriwayatkannya (Tinjauan Sosio-antropologis).” Melalui kajian tersebut, penulis berusaha mengungkap sisi manusiawi dari para sahabat Nabi saw. Penulis menyimpulkan bahwa profesi sahabat dengan riwayat hadis yang diriwayatkannya tidaklah seragam, melainkan beragam. Selain itu, banyak ditemukan beragam riwayat yang datang dari sahabat berkaitan erat dengan afiliasi politik, kekerabatan, aktifitas keseharian, serta bidang perniagaan. Meski demikian, mereka pada
43 Saifuddin, Arus Tradisi Tadwīn Hadis Dan Historiografi Islam: Kajian
umumnya meriwayatkan hadis tetap dalam misi utama, yakni syiar Islam. Kajian ini telah memberikan pandangan baru dalam studi hadis. Pandangan baru tersebut adalah bahwa profesi atau kecenderungan perilaku atau aktifitas seorang perawi pada dasarnya memiliki pengaruh yang kuat dalam proses periwayatannya, terutama pada materi riwayat yang disampaikan. Maka dari itu, berdasarkan teori ini, bisa saja seorang perawi yang memiliki perilaku sufistik dalam meriwayatkan hadis dipengaruhi oleh karakter sufistiknya, sehingga materi riwayat yang disampaikan berkaitan erat dengan tradisi sufistik saat itu.44
Karya akademis Usman Sya’roni yang berjudul “Otentisitas Hadis Menurut Ahli Hadis dan Kaum Sufi” merupakan studi yang cukup komprehensif mengenai pemikiran tentang validitas riwayat hadis. Karya ini diajukan untuk memperoleh Ijazah License (Lc.) dalam ilmu hadis dari Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunah, Ciputat Tangerang Selatan. Dengan menggunakan pendekatan komparasi, karya ini berusaha menggali dan menyoroti tentang bagaimana metodologi yang digunakan baik oleh ahli hadis maupun kaum sufi dalam membuktikan otentisitas hadis. Pada bagian pertama, penulis terlebih dahulu memaparkan uraian mengenai standar utama dalam menguji otentisitas dan kesahihan hadis menurut ahli hadis. Pada bagian kedua, penulis menyatakan bahwa kaum sufi sangat berbeda dengan ahli hadis dalam
44 Muhammad Zain, “Profesi Sahabat Nabi Dan Hadis Yang Diriwayatkannya (Tinjauan Sosio-Antropologis)” (Ph.D, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, 2007).
membuktikan otentisitas suatu hadis. Jika ahli hadis sangat menekankan adanya kesahihan dari sudut pandang riwayat sanad sekaligus matan hadis. Maka kaum sufi tidak hanya terpaku pada ada tidaknya jaringan sanad yang bersambung dalam suatu hadis, melainkan pada perkataan tertentu bisa dinisbatkan sebagai Hadis Nabi saw apabila perkataan tersebut sejalan dengan al-Qur’an dan disampaikan oleh orang yang mempunyai tingkat kesalehan yang tinggi. Penulis menyatakan setidaknya ada dua metode yang digunakan kaum sufi dalam membuktikan otentisitas Hadis, yaitu:
liqā’ al-Nabi (bertemu Nabi saw. baik dalam mimpi maupun dalam
keadaan terjaga) dan ṭarīq al-kasyf (metode ketersingkapan). Meskipun demikian, kajian ini tidak menyoroti sejauh mana kaum sufi berkontribusi dalam proses periwayatan hadis.45
Karya akademis lain yang layak disebutkan di sini adalah sebuah karya penelitian yang berjudul “Autoriti Hadith dalam Kitab Tasawuf Tulisan Jawi: Satu Kajian terhadap Kitab Hidāyah
as-Sālikīn.” Karya yang disusun oleh Khadher bin Ahmad dan
Ishak Hj. Suliaman merupakan artikel ilmiah yang diterbitkan dalam al-Bayan Journal of al-Qur’an and al-Hadith, Department of al-Qur’an and al-Hadith Academy of Islamic Studies University of Malaya. Melalui studi tersebut, penulis berusaha menelusuri serta menganalisa kualitas hadis yang terdapat dalam kitab
Hidāyah as-Sālikīn karya Syeikh ‘Abduṣ Ṣamad al-Falimbānī,
45 Usman Sya’rani, Otentisitas Hadis Menurut Ahli Hadis Kaum Sufi (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2002).
seorang neosufi. Penulis menggunakan pendekatan kritik sanad dalam mengkaji riwayat hadis yang ditemukan dalam kitab tersebut. Berdasarkan analisis yang dilakukan, penulis menemukan jumlah keseluruhan hadis sebanyak 176 buah hadis. Jumlah tersebut diperoleh setelah penulis melacak berbagai riwayat hadis mulai dari muqaddimah hingga khātimah. Selain itu, berdasarkan analisa kritik sanad, penulis menemukan bahwa dari jumlah hadis yang ditemukan memiliki beragam kualitas mulai dari yang ṣaḥīḥ,
ḥasan, ḍa‘īf, hingga mauḍū‘. Hadis yang sahih sebanyak 57 hadis;
hadis yang hasan sebanyak 10 hadis; hadis yang ḍa‘īf sebanyak 60 hadis; hadis yang mauḍū‘ sebanyak 3 hadis; hadis yang mukhtalaf sebanyak 22 hadis; dan hadis yang tidak diketahui sebanyak 24 hadis. Kajian ini, pada hakikatnya, hanya berupa takhrīj terhadap riwayat hadis yang terdapat dalam karya seorang sufi. Dengan demikian, kajian ini tidak masuk pada ranah jaringan periwayatan sufi dimana riwayat tersebut disampaikan.46
Karya Muhammad Musṭafā al-A‘ẓamī yang berjudul Dirāsāt
fī al-Ḥadīs al-Nabawī wa Tārīkh Tadwīnih merupakan karya yang
patut disampaikan di sini. Karya ini berasal dari disertasi doktoral yang diajukannya pada University Cambridge. Melalui karya ini, al-A‘ẓamī telah menelusuri secara cermat literatur-literatur hadis yang dicatat mulai masa Nabi saw, sahabat, hingga awal abad II H. Kesimpulan yang didapatnya adalah bahwa kebanyakan hadis telah
46 Khadher Ahmad and Ishak Hj. Suliaman, “Autoriti Hadith Dalam Kitab Tasawuf Tulisan Jawi: Satu Kajian Terhadap Kitab Hidāyah Al-Sālikīn,” Al-Bayan
diabadikan dalam dokumen tertulis selama masa hidup para sahabat. Dalam karya ini, al-A‘ẓamī juga menyebutkan beberapa sufi yang memiliki catatan atau risalah periwayatan hadis, seperti: Ibrāhīm an-Nakha‘ī (w. 96 H), Ḥasan al-Baṣrī (w. 110 H), Syaqīq al-Balkhī (w. 194 H), Ibnu Mubārak (w. 181 H), dan Sufyān aṡ-Ṡaurī (w. 161 H). Temuan-temuan tersebut telah menjadi inspirasi penting bagi munculnya studi ini.47
Sebuah artikel yang berjudul “Mauqif al-Imām Aḥmad bin
Ḥanbal min at-Taṣawuf wa aṣ-Ṣūfiyah” patut untuk ditelaah di sini.
Karya yang ditulis oleh As‘ad Khaṭīb dalam Jurnal at-Turaṡ
al-‘Arabī ini menjelaskan tentang relasi personal Ibnu Ḥanbal (w. 241
H) dengan beberapa ajaran tasawuf, seperti tawassul, tabarruk,
‘uzlah, zuhd, serta samā‘. Selain itu, kajian ini juga melihat sejauh
mana interaksi Ibnu Ḥanbal dengan beberapa kaum sufi yang masyhur saat itu, seperti Bisyr al-Ḥāfī (w. 227 H), Aḥmad bin Abī al-Ḥiwārī (w. 203 H), Ḥātim al-Aṣamm (w. 237 H), Abū Ḥamzah aṣ-Ṣūfī (w. 269 H), dan al-Ḥāriṡ al-Muḥāsibī (w. 243 H). Meski demikian, tidak ditemukan secara jelas hubungan serta interaksi dalam konteks proses periwayatan hadis dari dan ke Ibnu Ḥanbal (w. 241 H) dengan kaum sufi.48
Karya penting lain yang patut disampaikan di sini adalah
Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia karya Profesor
47 al-A‘ẓamī, Dirāsāt fi al-Ḥadīs an-Nabawi wa Tārīkḥ Tadwīnihī.
48 As‘ad al-Khaṭīb, “Mauqif al-Imām Aḥmad bin Ḥanbal min at-Taṣawuf wa aṣ-Ṣūfiyyah,” At-Turaṡ Al-‘Arabī 1, no. 83–84 (2001): 252–65.
Azyumardi Azra. Salah satu sub-tema yang termaktub dalam karya ini juga membahas tentang jaringan hadis ulama Ḥaramain dan Nusantara. Menurutnya, dalam catatan sejarah ditemukan adanya jaringan periwayatan hadis hingga masanya Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī (w. 853 H), Jalāluddīn as-Suyūṭī (w. 911 H/1505 M), dan Zakariyyā al-Anṣārī (w. 926 H). Mereka tercatat sebagai muḥaddiṡ utama dari abad ke-15 dan awal ke-16 yang dalam jaringan periwayatannya terdapat beberapa ulama sufi yang terkenal, seperti: Abdul Wahhāb asy-Sya‘rānī (w. 973 H/1565 M), Aḥmad Qusyasī, Ibrāhīm Kurānī, Aḥmad Nakhlī, atau Abdullāh al-Baṣrī (Azra, 2005: 120-127). Satu hal yang penting dari karya ini bagi penelitian disertasi ini adalah menjadi bahan referensi dalam rangka melihat realitas jaringan kaum sufi awal dalam proses periwayatan hadis.49
Seluruh karya yang telah disebutkan belum ada satu pun yang mencoba melihat keterkaitan kaum Sufi dalam proses tadwīn hadis saat itu. Artikel As‘ad Khaṭīb dalam Jurnal at-Turaṡ
al-‘Arabī lebih melihat pola interaksi Aḥmad bin Ḥanbal (w. 241 H)
dengan beberapa kaum Sufi saat itu. Seperti layaknya artikel, dalam tulisan ini hanya disajikan pembahasan yang singkat saja. Informasi yang berkaitan dengan proses interaksi periwayatan di antara mereka tidak ditemukan di dalamnya. Meski demikian, karya ini telah menemukan fakta bahwa dinamika keilmuan yang
49 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah Dan Kepulauan
terjadi saat itu merupakan satu hal yang niscaya dalam sejarah pemikiran Islam awal.
Sementara itu, sebuah artikel yang ditulis oleh Christopher Melchert yang berjudul “Early Renunciants as Ḥadīṡ Transmitters” termasuk karya penting yang berusaha melacak peran kaum Zāhid awal dalam proses perawi hadis. Artikel yang diterbitkan dalam jurnal The Muslim World ini banyak menyajikan informasi penting perihal keterlibatan aktif para sufi awal dalam proses periwayatan hadis saat itu. Meski demikian, keterlibatan tersebut mengalami penurunan yang signifikan pada abad ketiha hijriyah. Setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan hal tersebut. Pertama, para Zāhid lebih cenderung memilih untuk lebih konsentrasi dalam aktifitas sufistiknya daripada meriwayatkan hadis. Kedua, terjadi persepsi yang berbeda antara kaum Zāhid dan ahli Hadis perihal
jarḥ wa ta’dīl. Kaum Sufi beranggapan bahwa men-jarḥ seorang
perawi bisa saja masuk dalam kategori gībah. Ketiga, kaum Sufi menilai bahwa ahli Hadis hanya menitikberatkan pada aspek periwayatan saja dan kurang memperhatikan aspek pemahaman matan hadis. Untuk menemukan kesimpulan tersebut, Christopher Melchert mengkaji para Zāhid yang tercatat dalam Ṭabaqāt
aṣ-Ṣūfiyyah karya as-Sulamī dan Ḥilyah al-Auliyā' karya Abū Nu’aim.
Meski berupa artikel yang sangat sederhana, informasi di dalamnya telah banyak memberikan inspirasi bagi penulis dalam studi ini.50
50 Christopher Melchert, “Early Renunciants as Hadith Transmitters,” The
Artikel sederhana lain yang patut dicatat di sini adalah tulisan ‘Adnān bin Abdullāh Zuhār berjudul “Juhūd as-Sādat
aṣ-Ṣūfiyyah fī Khidmah al-Ḥadīṡ an-Nabawī: Riwāyah wa Dirāyah.”
Artikel yang sepertinya bersifat reflektif ini hendak meneguhkan bahwa kaum Sufi sejak generasi awal telah banyak berkontribusi dalam proses pemeliharaan hadis baik secara riwayat maupun pemahaman matan. Seperti layaknya artikel lain, dalam tulisan ini hanya menyajikan deskripsi yang sangat sederhana perihal keterlibatan kaum Sufi dalam proses periwayatan hadis, terutama periwayatan yang terekam dalam karya kanonisasi hadis yang terkenal. Akan tetapi, kelebihan dari tulisan ini adalah telah menjadi informasi dan inspirasi paling penting untuk melacak secara lengkap keterlibatan kaum Sufi dalam proses periwayatan hadis, sebagaimana tujuan utama dari studi ini.51