organisasi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini, dipengaruhi oleh perkembangan susunan
bertambah menjadi 60 BA, antara lain karena
(i) dibentuknya organisasi baru, yaitu BRR NAD
dan Nias, dan (ii) adanya pemisahan Departemen
Perdagangan dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan, pemisahan Kementerian Negara Perumahan Rakyat dari Departemen Pekerjaan Umum, dan pemisahan Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga dari Departemen Pendidikan Nasional. Selanjutnya, dalam APBN-P 2005 tahap kedua, jumlah BA bertambah menjadi 71 BA, terutama berkaitan dengan
Realisasi % thd PDB Realisasi % thd PDB APBN-P % thd PDB 1. Belanja Pegawai 54,4 2,4 55,9 2,0 79,1 2,5 2. Belanja Barang 16,6 0,7 30,6 1,1 56,0 1,8 3. Belanja Modal 69,4 3,0 36,9 1,4 69,8 2,2
4. Pembayaran Bunga Utang 62,4 2,7 57,6 2,1 82,5 2,6
a. Utang Dalam Negeri 39,6 1,7 43,5 1,6 58,2 1,9
b. Utang Luar Negeri 22,8 1,0 14,1 0,5 24,3 0,8
5. Subsidi 85,5 3,7 120,7 4,4 107,6 3,5 a. Subsidi BBM 69,0 3,0 95,6 3,5 64,2 2,1 b. Subsidi Non-BBM 16,5 0,7 25,1 0,9 43,4 1,4 6. Belanja Hibah 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 7. Bantuan Sosial 0,0 0,0 25,6 0,9 41,0 1,3 8. Belanja Lainnya 19,8 0,9 29,5 1,1 42,3 1,4 308,1 13,4 356,9 13,1 478,2 15,3
1) Perbedaan satu angka di belakang koma terhadap angka penjumlahan adalah karena pembulatan 2) Realisasi 2004 Revisi 2
3) Realisasi 2005 Revisi 1
Sumber: Departemen Keuangan RI
2005 Jumlah Tabel III.4 2004 Uraian 2006 (dalam triliun rupiah)
PERKEMBANGAN BELANJA PEMERINTAH PUSAT MENURUT JENIS, 2004-2006 1)
2) 3)
kementerian lembaga, perkembangan jumlah bagian anggaran (BA), dan perubahan nomenklatur atau pemisahan suatu unit organisasi dari organisasi induknya, atau penggabungan organisasi.
Pada APBN 2005 terdapat 56 BA, namun dalam APBN-P 2005 tahap pertama jumlah BA
pemberian BA untuk unit-unit organisasi di lingkungan Kementerian Riset dan Teknologi, dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara. Bahkan pada tahun 2006, jumlah BA bertambah lagi menjadi 75 BA, terutama karena adanya pemberian kode BA tersendiri untuk DPD, yang selama ini termasuk dalam BA MPR, dan
pemberian kode BA untuk unit organisasi yang selama ini termasuk dalam BA 69 – Belanja Lain-lain, yaitu Pusat Penyelidikan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), dan Komisi Yudisial RI. Secara garis besar, rincian anggaran belanja pemerintah pusat menurut organisasi dibedakan
atas (i) anggaran belanja yang dikelola oleh K/L,
atau disebut sebagai BA K/L, dan (ii) anggaran
belanja yang dikelola Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara, atau disebut sebagai BA anggaran perhitungan dan pembiayaan (APP).
Dalam APBN-P tahap II tahun 2005, belanja pemerintah pusat mencapai Rp411,6 triliun, yang terdiri dari anggaran K/L sebesar Rp158,0 triliun (38,4 persen dari total anggaran belanja pemerintah pusat), dan BA APP sebesar Rp253,6 triliun (61,6 persen dari total anggaran belanja pemerintah pusat). Selanjutnya, dari total alokasi anggaran belanja pemerintah pusat yang mencapai Rp478,2 triliun dalam APBN-P tahun 2006, alokasi anggaran pada BA K/L mencapai Rp214,4 triliun (44,8 persen dari total anggaran belanja pemerintah pusat), dan BA APP mencapai Rp263,8 triliun (55,2 persen dari total anggaran belanja pemerintah pusat). Anggaran belanja K/L dalam APBN-P tahun 2006 tersebut berarti mengalami peningkatan 35,7 persen dari APBN-P tahap II tahun 2005. Sementara itu, alokasi anggaran BA APP dalam APBN-P tahun 2006 tersebut berarti menunjukkan peningkatan 4,0 persen dari APBN-P tahap II tahun 2005. Lebih tingginya alokasi anggaran pada BA K/L dalam APBN-P tahun 2006 dibandingkan dengan APBN-P tahap II tahun 2005 tersebut, berkaitan
antara lain dengan adanya (i) kegiatan dalam
DIPA 2005 yang diluncurkan ke tahun 2006; dan
(ii) tambahan anggaran pendidikan yang cukup
signifikan, dalam upaya untuk memenuhi amanat UUD 1945 tentang anggaran pendidikan. Sementara itu, lebih tingginya alokasi anggaran pada BA APP dalam RAPBN-P tahun 2006 dibandingkan dengan APBN-P tahap II tahun 2005, selain dipengaruhi oleh adanya perubahan berbagai indikator ekonomi makro dalam tahun 2006, juga berkaitan dengan adanya perubahan pelaksanaan beberapa kebijakan Pemerintah yang telah ditetapkan pada saat penyusunan APBN.
Dalam tahun 2005 dan APBN-P tahun 2006, terdapat beberapa K/L yang anggarannya mencapai lebih dari Rp10,0 triliun, yaitu Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Pertahanan, Departemen Pekerjaan Umum, Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan Departemen Kesehatan.
Pada Departemen Pendidikan Nasional, realisasi anggaran belanja dalam DIPA APBN-P tahap II tahun 2005 mencapai Rp27,0 triliun, atau 17,1 persen dari total anggaran belanja K/L. Tingginya anggaran Departemen Pendidikan Nasional dalam tahun 2005 tersebut, terutama berkaitan dengan pelaksanaan PKPS BBM bidang pendidikan, yang dialokasikan dalam bentuk:
(i) sekolah gratis melalui pemberian bantuan biaya
operasional sekolah/madrasah (BOS) untuk SD/ SDLB/MI/Salafiah setingkat SD dan SMP/ SMPLB/MTs/Salafiah setingkat SMP, dan
(ii) pemberian beasiswa melalui bantuan khusus
murid (BKM) SMA/SMK/SMLB/MA. Sementara itu, dalam APBN-P tahun 2006 alokasi anggaran belanja Departemen Pendidikan Nasional adalah sebesar Rp40,1 triliun atau 18,7 persen dari total alokasi anggaran belanja K/L. Alokasi anggaran belanja Departemen Pendidikan Nasional dalam APBN-P tahun 2006 tersebut berarti menunjukkan peningkatan sebesar Rp13,1 triliun atau 48,5 persen dari APBN-P tahap II tahun 2005. Lebih tingginya alokasi anggaran belanja Departemen Pendidikan Nasional dalam APBN-P tahun 2006 tersebut terutama berkaitan dengan adanya upaya Pemerintah untuk semaksimal mungkin meningkatkan alokasi anggaran pendidikan guna memenuhi amanat UUD 1945. Apabila dalam tahun 2005, anggaran pendidikan baru mencapai 6,5 persen dari belanja pemerintah pusat, maka dalam tahun 2006 alokasi anggaran pendidikan diperkirakan meningkat menjadi 9,3 persen dari total anggaran belanja pemerintah pusat dalam APBN 2006. Alokasi anggaran Departemen Pendidikan Nasional tersebut, sebagian besar dialokasikan untuk melaksanakan
program-program (i) wajib belajar pendidikan dasar
sembilan tahun, (ii) pendidikan menengah,
pendidik dan tenaga kependidikan.
Pada Departemen Pertahanan, anggaran belanja dalam APBN-P tahap II tahun 2005 mencapai Rp22,1 triliun, yang berarti 14,0 persen dari total anggaran belanja K/L. Sementara itu, dalam APBN-P tahun 2006, alokasi anggaran Departemen Pertahanan besarnya mencapai Rp27,5 triliun atau 13,4 persen dari total anggaran belanja K/L. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan sebesar Rp5,4 triliun atau 24,4 persen dari anggarannya dalam APBN-P tahap II tahun 2005. Peningkatan alokasi anggaran belanja Departemen Pertahanan tersebut terutama berkaitan dengan adanya upaya-upaya untuk menjalankan fungsi pertahanan, antara lain
melalui program-program: (i) pengembangan
pertahanan integratif; (ii) pengembangan
pertahanan matra darat; (iii) pengembangan
pertahanan matra laut; (iv) pengembangan
pertahanan matra udara; dan (v) pengembangan
potensi dukungan pertahanan.
Sementara itu, pada Departemen Pekerjaan Umum, anggaran belanja dalam DIPA APBN-P tahap II tahun 2005 mencapai Rp19,1 triliun, atau 12,1 persen dari total realisasi anggaran belanja K/L. Tingginya realisasi anggaran belanja Departemen Pekerjaan Umum tahun 2005 tersebut terutama berkaitan dengan pelaksanaan PKPS BBM bidang infrastruktur perdesaan, dalam bentuk bantuan kepada desa yang membutuhkan penyediaan, peningkatan dan
perbaikan di bidang: (i) prasarana jalan desa, titian
dan jembatan desa, serta tambatan perahu;
(ii) prasarana irigasi desa; dan (iii) prasarana air
bersih perdesaan. Dalam APBN-P tahun 2006, alokasi anggaran belanja Departemen Pekerjaan Umum besarnya mencapai Rp21,3 triliun atau 10,4 persen dari total alokasi anggaran belanja K/L. Alokasi anggaran belanja Departemen Pekerjaan Umum tahun 2006 tersebut menunjukkan kenaikan Rp2,2 triliun atau 11,4 persen dari APBN-P tahap II tahun 2005. Alokasi anggaran belanja Departemen Pekerjaan Umum tersebut, sebagian besar dimanfaatkan untuk melaksanakan program-program:
(i) pengembangan dan pengelolaan jaringan
irigasi, rawa, dan jaringan pengairan lainnya;
(ii) rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jembatan;
(iii) peningkatan/pembangunan jalan dan
jembatan; serta (iv) pengendalian banjir dan
pengamanan pantai.
Pada Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), anggaran belanja dalam APBN-P tahap II tahun 2005 mencapai Rp13,3 triliun, atau 8,4 persen dari total anggaran belanja K/L, sedangkan dalam APBN-P tahun 2006 alokasi anggaran belanja Polri besarnya mencapai Rp16,7 triliun atau 8,1 persen dari total anggaran belanja K/L. Hal ini berarti menunjukkan peningkatan Rp3,4 triliun atau 25,6 persen dari anggarannya dalam APBN-P tahap II tahun 2005. Tingginya alokasi anggaran belanja Kepolisian Negara Republik Indonesia tersebut terutama berkaitan dengan upaya-upaya untuk menjalankan fungsi ketertiban dan keamanan, antara lain melalui
program-program: (i) pengembangan sumber
daya manusia kepolisian; (ii) pengembangan
sarana dan prasarana kepolisian; serta
(iii) pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat.
Selanjutnya, pada Departemen Kesehatan anggaran belanja dalam APBN-P tahap II tahun 2005 mencapai Rp11,1 triliun, yang berarti 7,0 persen dari total anggaran belanja K/L. Tingginya anggaran tersebut terutama berkaitan dengan pelaksanaan PKPS BBM bidang kesehatan dengan tujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bagi seluruh penduduk, terutama bagi penduduk miskin, antara lain melalui pelayanan kesehatan gratis di Puskesmas dan jaringannya, serta kelas III Rumah Sakit Pemerintah dan Rumah Sakit Swasta yang ditunjuk Pemerintah. Sementara itu, dalam APBN-P tahun 2006 alokasi anggaran belanja Departemen Kesehatan jumlahnya mencapai Rp14,3 triliun atau 7,0 persen dari total anggaran belanja K/L. Hal ini berarti menunjukkan peningkatan sebesar Rp3,2 triliun atau 28,8 persen dari APBN-P tahap II tahun 2005. Alokasi anggaran belanja Departemen Kesehatan tersebut, sebagian besar dipergunakan
untuk melaksanakan program-program: (i) upaya
kesehatan perorangan; (ii) upaya kesehatan
masyarakat; dan (iii) kebijakan dan manajemen
Selanjutnya, dapat diinformasikan bahwa, dalam APBN-P tahun 2006 ini terdapat 2 (dua) K/L yang alokasi anggarannya mencapai lebih dari Rp10,0 triliun, walaupun dalam APBN-P tahap II tahun 2005 realisasi anggarannya belum mencapai Rp10,0 triliun. Kedua K/L tersebut adalah Departemen Agama dan Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) NAD dan Nias.
Apabila pada APBN-P tahap II tahun 2005, anggaran belanja Departemen Agama baru mencapai Rp7,0 triliun (4,4 persen dari total anggaran belanja K/L), namun dalam APBN-P tahun 2006 alokasi anggaran belanja Departemen Agama jumlahnya mencapai Rp10,6 triliun, yang berarti mengalami peningkatan Rp3,6 triliun atau 51,4 persen. Peningkatan alokasi anggaran belanja Departemen Agama dalam tahun 2006 tersebut terutama berkaitan dengan adanya tambahan anggaran pendidikan yang dialokasikan pada Departemen Agama (selain Departemen Pendidikan Nasional) dalam upaya pemerintah untuk memenuhi amanat UUD 1945 berkenaan dengan alokasi anggaran pendidikan dalam APBN.
Sementara itu, alokasi anggaran belanja BRR NAD dan Nias dalam APBN-P tahun 2006 jumlahnya mencapai Rp12,3 triliun (5,5 persen dari total anggaran belanja K/L), yang berarti Rp8,4 triliun atau 215,3 persen lebih tinggi dari APBN-P tahap II tahun 2005 sebesar Rp3,9 triliun. Lebih tingginya anggaran belanja BRR NAD dan Nias tersebut berkaitan dengan upaya Pemerintah untuk melakukan realokasi seluruh anggaran yang diperuntukkan bagi kegiatan rehabilitasi dan rekontruksi NAD dan Nias ke dalam BA BRR NAD dan Nias, yang dalam tahun 2005 anggaran untuk kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi NAD dan Nias tersebut masih dikelola oleh beberapa K/L. Hal ini dimaksudkan guna lebih meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi NAD dan Nias.
Di sisi lain, perkembangan BA APP yang
terdiri dari BA 61 – Cicilan dan Bunga Utang, BA 62 – Subsidi dan Transfer Lainnya, dan BA 69 – Belanja Lain-lain dalam kurun
waktu yang sama menunjukkan perkembangan yang fluktuatif, terutama dipengaruhi oleh perkembangan berbagai indikator ekonomi makro dan pelaksanaan dari langkah-langkah kebijakan yang semula diprogramkan oleh Pemerintah.
Dalam APBN-P tahun 2006, anggaran BA 61 – Cicilan dan Bunga Utang jumlahnya mencapai Rp82,6 triliun atau menyerap 31,3 persen dari total anggaran belanja APP. Jumlah ini, berarti Rp10,2 triliun atau 14,1 persen lebih tinggi dari realisasi BA 61 pada APBN-P tahap II tahun 2005 sebesar Rp72,4 triliun (28,6 persen dari total realisasi BA APP). Lebih tingginya alokasi anggaran BA 61 dalam tahun 2006 tersebut terutama berkaitan dengan lebih tingginya pembayaran bunga utang dalam negeri, sebagai dampak dari lebih tingginya tingkat suku bunga
SBI 3 bulan, dilaksanakannya program debt
switching, tambahan penerbitan SUN, serta konsekuensi penyelesaian SU-002 dan SU-004. Selain itu, peningkatan anggaran BA 61 tersebut juga berkaitan dengan lebih tingginya beban pembayaran bunga utang luar negeri, sebagai
dampak dari berakhirnya moratorium bunga
utang dalam tahun 2006.
Anggaran BA 62 – Subsidi dan Transfer Lainnya, dalam APBN-P tahap II tahun 2005 mencapai Rp147,6 triliun (58,2 persen dari total realisasi BA APP), yang dipengaruhi antara lain oleh tingginya
perkiraan realisasi: (i) subsidi BBM (yang
mencapai Rp95,6 triliun (64,8 persen dari realisasi BA 62)) berkaitan dengan tingginya harga minyak mentah Indonesia dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat; dan
(ii) subsidi listrik (yang mencapai Rp8,8 triliun),
sebagai dampak kebijakan penyesuaian harga BBM dalam negeri pada bulan Maret 2005 dan Oktober 2005. Sementara itu, dalam APBN-P tahun 2006 alokasi anggaran BA 62 jumlahnya mencapai Rp145,6 triliun (55,2 persen dari total anggaran BA APP), yang berarti menunjukkan penurunan Rp2,0 triliun atau 1,4 persen dari APBN-P tahap II dalam tahun 2005. Lebih rendahnya alokasi anggaran BA 62 dalam tahun 2006 tersebut terutama terkait lebih rendahnya perkiraan realisasi subsidi BBM, sebagai dampak kebijakan penetapan harga dan penurunan volume
konsumsi BBM. Namum demikian, alokasi anggaran BA 62 diperkirakan masih relatif tinggi, berkaitan dengan lebih tingginya perkiraan realisasi subsidi listrik, sebagai dampak dari dibatalkannya kebijakan Pemerintah untuk menaikkan tarif dasar listrik pada tahun 2006, lebih tingginya alokasi anggaran untuk kontribusi sosial, sebagai dampak dari adanya kebijakan
kenaikan pokok pensiun dan perubahan sharing
beban pembayaran pensiun antara pemerintah dan PT Taspen.
Selanjutnya, realisasi anggaran belanja pada BA 69 – Belanja Lain-lain dalam APBN-P tahun 2006 jumlahnya mencapai Rp35,8 triliun atau 13,6 persen dari total realisasi anggaran belanja BA APP. Jumlah ini berarti lebih tinggi Rp2,2 triliun atau 6,0 persen dari APBN-P tahap II tahun 2005 yang mencapai Rp33,6 triliun. Hal ini berkaitan dengan lebih tingginya alokasi anggaran pada mata anggaran bencana alam, sebagai dampak dari dialokasikannya anggaran tanggap darurat yang cukup besar, akibat bencana tsunami yang menimpa provinsi NAD dan Nias di penghujung tahun 2004.
Perkembangan Belanja Pemerintah Pusat menurut Organisasi tahun 2005 – 2006 dapat
dilihat pada Tabel III.5.
Pe r k e m ba nga n Be la nj a
Pe m e r int a h Pusa t M e nur ut
Fungsi
Belanja pemerintah pusat menurut fungsi pada
dasarnya dapat menggambarkan (i) besarnya
alokasi anggaran pada program-program dalam fungsi pada K/L atau Menteri Keuangan selaku
bendahara umum negara, atau (ii) banyaknya K/
L yang menjalankan program-program dalam fungsi yang bersangkutan.
Dilihat dari alokasi anggaran Pemerintah
Pusat menurut fungsi pemerintahan, dalam tahun 2005 dan tahun 2006 terdapat empat fungsi yang alokasi anggarannya mencapai lebih dari Rp20,0 triliun. Keempat fungsi tersebut adalah fungsi pelayanan umum, fungsi pendidikan, fungsi pertahanan, dan fungsi ekonomi.
Dalam APBN-P tahap II tahun 2005, anggaran belanja pada fungsi pelayanan umum mencapai Rp280,7 triliun atau 68,2 persen dari total realisasi belanja pemerintah pusat. Tingginya anggaran belanja pada fungsi tersebut berkaitan dengan pelaksanaan program-program dalam fungsi pelayanan umum, yang dilaksanakan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara, yaitu meliputi program pembayaran bunga utang, program subsidi dan transfer lainnya, dan program pembiayaan lain-lain. Besaran anggaran belanja fungsi pelayanan umum berkaitan dengan
(i) perubahan indikator ekonomi makro, seperti
tingkat suku bunga SBI 3 bulan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, serta harga
minyak mentah Indonesia, dan (ii) kebijakan yang
diambil Pemerintah, yaitu penyesuaian harga BBM dalam negeri yang berdampak pada tingginya subsidi listrik. Selain itu, tingginya realisasi anggaran pada fungsi pelayanan umum ini juga terkait dengan dialokasikannya anggaran yang cukup besar dalam rangka tanggap darurat serta rehabilitasi dan rekonstruksi NAD dan Nias, sebagai dampak dari bencana tsunami yang terjadi di penghujung tahun 2004.
Sementara itu, dalam RAPBN-P tahun 2006, anggaran belanja pada fungsi pelayanan umum diperkirakan mencapai Rp304,4 triliun atau mengalami peningkatan 8,4 persen bila dibandingkan dengan APBN-P tahap II tahun 2005. Ada dua faktor yang mempengaruhi peningkatan alokasi anggaran belanja pada fungsi
pelayanan umum dalam tahun 2006. Pertama,
adanya perubahan berbagai indikator ekonomi makro, seperti tingkat suku bunga SBI 3 bulan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat,
serta harga minyak mentah Indonesia. Kedua,
adanya perubahan dalam langkah-langkah kebijakan yang diambil Pemerintah, seperti
dilaksanakannya program debt switching,
tambahan penerbitan SUN, dan penyelesaian SU-002 dan SU-004, adanya kenaikan pensiun pokok,
dan perubahan sharing pemerintah kepada PT
Taspen; serta dibatalkannya kebijakan untuk menaikkan tarif dasar listrik (TDL).
Di sisi lain, anggaran belanja pada fungsi pendidikan dalam APBN-P tahap II tahun 2005 mencapai Rp32,8 triliun atau 8,0 persen dari realisasi belanja pemerintah pusat. Relatif
% thd PDB
% thd PDB
1 MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT 218,2 0,01 163,2 0,01 2 DEWAN PERWAKILAN RAKYAT 837,0 0,03 1.170,9 0,04 4 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 303,4 0,01 607,5 0,02 5 MAHKAMAH AGUNG 1.208,4 0,05 2.180,1 0,07 6 KEJAKSAAN AGUNG 858,1 0,03 1.481,5 0,05 7 KEPRESIDENAN 2) 744,5 0,03 1.069,8 0,03 8 WAKIL PRESIDEN 3) 83,9 0,00 215,8 0,01 10 DEPARTEMEN DALAM NEGERI 1.098,6 0,04 1.174,8 0,04 11 DEPARTEMEN LUAR NEGERI 3.855,1 0,15 4.753,8 0,15 12 DEPARTEMEN PERTAHANAN 22.053,6 0,83 26.961,4 0,86 13 DEPARTEMEN HUKUM DAN HAM 1.862,8 0,07 3.397,7 0,11 15 DEPARTEMEN KEUANGAN 4.860,9 0,18 6.578,4 0,21 18 DEPARTEMEN PERTANIAN 4.295,3 0,16 6.218,1 0,20 19 DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN 820,5 0,03 1.050,1 0,03 20 DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL 6.262,4 0,24 5.096,6 0,16 22 DEPARTEMEN PERHUBUNGAN 6.030,7 0,23 8.037,4 0,26 23 DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 26.996,2 1,02 39.460,2 1,26 24 DEPARTEMEN KESEHATAN 11.144,2 0,42 14.225,0 0,46 25 DEPARTEMEN AGAMA 7.019,4 0,26 10.647,1 0,34 26 DEPARTEMEN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI 1.656,6 0,06 2.207,4 0,07 27 DEPARTEMEN SOSIAL 2.350,2 0,09 2.301,7 0,07 29 DEPARTEMEN KEHUTANAN 2.138,4 0,08 1.802,3 0,06 32 DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN 2.481,4 0,09 2.664,5 0,09 33 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM 19.091,5 0,72 18.268,3 0,59 34 KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG POLITIK, HUKUM DAN KEAMANAN 69,8 0,00 87,8 0,00 35 KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN 65,5 0,00 101,0 0,00 36 KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT 71,9 0,00 80,5 0,00 40 DEPARTEMEN KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA 557,1 0,02 628,0 0,02 41 KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA 60,5 0,00 209,9 0,01 42 KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI 196,3 0,01 273,8 0,01 43 KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP 272,3 0,01 372,3 0,01 44 KEMENTERIAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH 1.296,0 0,05 1.002,4 0,03 47 KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN 104,6 0,00 129,3 0,00 48 KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA 193,5 0,01 206,3 0,01 50 BADAN INTELIJEN NEGARA 716,8 0,03 909,5 0,03 51 LEMBAGA SANDI NEGARA 434,7 0,02 632,1 0,02 52 DEWAN KETAHANAN NASIONAL 21,0 0,00 24,5 0,00 54 BADAN PUSAT STATISTIK 346,9 0,01 905,6 0,03 55 KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/BAPPENAS 221,2 0,01 225,9 0,01 56 BADAN PERTANAHAN NASIONAL 1.342,2 0,05 1.518,1 0,05 57 PERPUSTAKAAN NASIONAL 111,3 0,00 127,8 0,00 59 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMASI 937,0 0,04 1.967,3 0,06 60 KEPOLISIAN NEGARA 13.335,0 0,50 15.942,4 0,51 63 BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN 247,9 0,01 318,7 0,01 64 LEMBAGA KETAHANAN NASIONAL 46,2 0,00 56,1 0,00 65 BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL 223,6 0,01 268,3 0,01 66 BADAN NARKOTIKA NASIONAL 219,5 0,01 234,4 0,01 67 KEMENTERIAN PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL 119,5 0,00 478,8 0,02 68 BADAN KOORDINASI KELUARGA BERENCANA NASIONAL 662,5 0,02 643,2 0,02 74 KOMISI NASIONAL HAK AZASI MANUSIA 24,8 0,00 46,8 0,00 75 BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA 229,8 0,01 511,5 0,02 76 KOMISI PEMILIHAN UMUM 11,9 0,00 658,8 0,02 77 MAHKAMAH KONSTITUSI 180,5 0,01 226,9 0,01 78 PUSAT PELAPORAN DAN ANALISIS TRANSAKSI KEUANGAN - - 74,1 0,00 79 LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA 413,4 0,02 542,8 0,02 80 BADAN TENAGA NUKLIR 223,9 0,01 240,7 0,01 81 BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI 309,0 0,01 349,5 0,01 82 LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL 156,8 0,01 164,5 0,01 83 BADAN KOORDINASI SURVEY DAN PEMETAAN NASIONAL 129,9 0,00 153,9 0,00 84 BADAN STANDARISASI NASIONAL 42,3 0,00 51,7 0,00 85 BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NASIONAL 54,5 0,00 50,8 0,00 86 LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA 119,9 0,00 140,9 0,00 87 ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA 69,7 0,00 82,3 0,00 88 BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA 219,1 0,01 224,9 0,01 89 BADAN PENGAWAS KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN 365,4 0,01 464,4 0,01 90 DEPARTEMEN PERDAGANGAN 879,2 0,03 1.222,0 0,04 91 KEMENTERIAN NEGARA PERUMAHAN RAKYAT 197,0 0,01 394,0 0,01 92 KEMENTERIAN NEGARA PEMUDA DAN OLAH RAGA 300,0 0,01 467,8 0,01 93 KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI - - 256,5 0,01 94 BADAN REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI NAD DAN NIAS 3.967,0 0,15 11.464,1 0,37 95 DEWAN PERWAKILAN DAERAH (DPD) - - 190,8 0,01 100 KOMISI YUDISIAL RI - - 46,5 0,00
103 BAKORNAS PENANGGULANGAN BENCANA - -
158.038,2
6,0 207.104,0 6,6
61 CICILAN DAN BUNGA UTANG 72.421,9 2,73 87.715,7 2,81 62 SUBSIDI DAN TRANSFER LAINNYA 147.591,2 5,57 134.532,4 4,31 69 BELANJA LAIN-LAIN 33.616,2 1,27 40.809,0 1,31
253.629,3
9,6 263.057,1 8,4
411.667,6
15,5 470.161,0 15,1
1) Perbedaan satu angka di belakang koma terhadap angka penjumlahan adalah karena pembulatan
2) Kepresidenan terdiri dari Sekretariat Negara, Sekretariat Kabinet, Sekretariat Presiden, Sekretariat Militer Presiden, dan Pasukan Pengamanan Presiden 3) Wakil Presiden terdiri dari Sekretariat Wakil Presiden dan Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi Sumber : Departemen Keuangan RI
2005
JUMLAH
JUMLAH BAGIAN PEMBIAYAAN DAN PERHITUNGAN BAGIAN PEMBIAYAAN DAN PERHITUNGAN
JUMLAH KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA Tabel III.5
APBN-P II RAPBN-P
PERKEMBANGAN BELANJA PEMERINTAH PUSAT MENURUT ORGANISASI, 2005-2006 1)
(dalam miliar rupiah) KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA KODE
tingginya anggaran belanja pada fungsi pendidikan dalam tahun 2005 tersebut terutama berkaitan dengan tingginya anggaran pada program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun. Hal ini terutama sebagai dampak dari pelaksanaan PKPS BBM bidang pendidikan yang dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama,
yang dialokasikan dalam bentuk: (i) sekolah gratis
melalui bantuan biaya operasional sekolah/ madrasah (BOS) untuk SD/SDLB/MI/Salafiah setingkat SD dan SMP/SMPLB/MTs/Salafiah
setingkat SMP; dan (ii) beasiswa melalui bantuan
khusus murid (BKM) SMA/SMK/SMLB/MA. Selain itu, relatif tingginya anggaran belanja pada fungsi pendidikan tahun 2005 tersebut juga berkaitan dengan tingginya anggaran pada
program-program: (i) pendidikan menengah;
(ii) pendidikan tinggi; (iii) peningkatan mutu
pendidik dan tenaga kependidikan; dan
(iv) peningkatan pendidikan agama dan
keagamaan. Sementara itu, dalam RAPBN-P tahun 2006, alokasi anggaran pada fungsi pendidikan diperkirakan mencapai Rp47,0 triliun, yang berarti Rp14,1 triliun (43,0 persen) lebih tinggi dari APBN-P tahap II tahun 2005. Hal ini berkaitan dengan adanya upaya Pemerintah untuk memenuhi amanat UUD 1945 mengenai alokasi anggaran pendidikan dalam APBN.
Pada fungsi pertahanan, alokasi anggaran belanja negara dalam RAPBN-P tahun 2006 diperkirakan mencapai Rp27,0 triliun, yang berarti Rp5,0 triliun (22,4 persen) lebih tinggi dari APBN-P tahap II tahun 2005. Lebih tingginya anggaran pada fungsi pertahanan tersebut antara lain berkaitan dengan lebih tingginya alokasi anggaran pada program-program yang dilaksanakan oleh Departemen
Pertahanan, yang meliputi: (i) program
pengembangan pertahanan integratif;
(ii) program pengembangan pertahanan matra
darat; (iii) program pengembangan pertahanan
matra laut; (iv) program pengembangan
pertahanan matra udara; serta (v) program
pengembangan potensi dukungan pertahanan. Pada fungsi ekonomi, anggaran belanja dalam APBN-P tahap II tahun 2005 mencapai Rp33,8 triliun atau 8,2 persen dari total realisasi belanja pemerintah pusat. Tingginya realisasi anggaran pada fungsi ekonomi tersebut berkaitan dengan
pelaksanaan PKPS BBM bidang infrastruktur perdesaan, yang dialokasikan dalam bentuk bantuan kepada desa yang membutuhkan penyediaan, peningkatan dan perbaikan di
bidang-bidang: (i) prasarana jalan desa, titian dan
jembatan desa, serta tambatan perahu;
(ii) prasarana irigasi desa; serta (iii) prasarana
air bersih perdesaan. Sementara itu, dalam RAPBN-P tahun 2006, alokasi anggaran pada fungsi ekonomi diperkirakan mencapai Rp38,6 triliun atau meningkat Rp4,8 triliun (14,2 persen) dari APBN-P tahap II tahun 2005. Hal ini terutama berkaitan dengan pelaksanaan berbagai program kegiatan pada Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Departemen Pertanian, dan Departemen Perhubungan, yang meliputi antara lain:
(i) program peningkatan/pembangunan jalan dan
jembatan; (ii) program pengembangan dan
pengelolaan jaringan irigasi, rawa, dan jaringan
irigasi lainnya; (iii) program peningkatan kualitas
jasa pelayanan sarana dan prasarana
ketenagalistrikan; serta (iv) program peningkatan
ketahanan pangan.
Selain keempat fungsi di atas, terdapat satu fungsi yang anggarannya dalam tahun 2005 belum mencapai Rp20,0 triliun, namun dalam tahun 2006 alokasi anggarannya mencapai lebih dari Rp20,0 triliun, yaitu fungsi ketertiban dan keamanan. Dalam RAPBN-P tahun 2006, alokasi anggaran pada fungsi ketertiban dan keamanan diperkirakan mencapai Rp24,4 triliun, yang berarti Rp6,1 triliun atau 33,6 persen lebih tinggi dari anggarannya dalam APBN-P tahap II tahun 2005