• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Rasio Pajak

Dalam dokumen Mewaspadai Risiko yang Meningkat (Halaman 66-69)

Berdasar target dalam postur APBN, maka rasionya masih sulit diturunkan pada tahun 2021

5.3 Perkembangan Rasio Pajak

Perkembangan rasio utang terhadap PDB sebagaimana dijelaskan di atas, sejauh ini masih membuat pemerintah mengklaim bahwa utangnya masih aman. Karena batas aman dimaksud adalah rasio sebesar 60% seperti yang ditetapkan oleh undang-undang.

Pemerintahan berulangkali pula menjelaskan bahwa peningkatan utangnya secara nominal dan secara rasio tersebut adalah dalam rangka kegiatan produktif. Misalkan dikemukakan mengenai berbagai proyek strategis nasional, yang disertai dengan informasi tentang berbagai outputnya. Antara lain dalam hal perbaikan jalan, pelabuhan, bandara, pembangkit listrik dan semacamnya. Belakangan ditambahkan soal peningkatan alokasi untuk perbaikan kualitas sumber daya manusia.

Beberapa pihak menyampaikan kritik bedasar analisis yang berbeda. Diantaranya berupa analisis tentang belanja modal yang tidak meningkat signifikan bahkan cenderung stagnan.

Sementara itu, pembayaran bunga utang justru meningkat pesat. Dengan kata lain, narasi penambahan utang yang lebih untuk produktif tidak didukung oleh alokasi belanja pemerintah pusat berdasar jenis belanja.

Kritik lain yang cukup mendasar mempertanyakan konsep produktif yang mestinya berupa dampak atas PDB (pertumbuhan ekonomi), yang ternyata tidak mengalami perbaikan secara signifikan. Bukankah jalan, pelabuhan, bandara, pembangkit listrik tadi harusnya meningkatkan produksi nasional secara lebih cepat.

Pandangan umum tentang alasan utang pemerintah dikaitkan dengan PDB karena dianggap merupakan cerminan pendapatan negara, setidaknya faktor yang paling berpengaruh. Pelunasan utang dan bunga akan dibayar dengan pendapatan negara, yang porsi terbesarnya adalah pajak.

Berdasar pengalaman banyak negara, akan cukup aman jika rasio utang di bawah dua kali rasio pajak. Ketika ditetapkan undang-undang keuangan negara yang memberi batas 60% dalam penjelasannya, terkait dengan hal ini.

Rasio utang pada tahun 2003 masih sebesar 61,18% ketika undang-undang tentang keuangan negara ditetapkan. Pada tahun berikutnya berhasil diturunkan menjadi 56,60%.

Rasio pajak sebesar 12% pada tahun 2003 dan meningkat menjadi 12,2% pada tahun 2004. Akan tetapi pengertian rasio pajak saat itu jika dilihat definisi yang dipakai oleh pemerintah sekarang ini merupakan dalam artian sempit. Tidak memasukkan penerimaan cukai dan bea perdagangan internasional, serta penerimaan sumber daya alam. Jika memakai definisi arti luas, rasionya pada 2003 dan 2004 telah dikisaran 16%.

Terlepas dari perdebatan tentang alasan terkait rasio pajak dibalik pemakaian rasio utang atas PDB, memang penting mencermati perkembangan dan kondisi terkini dari rasio pajak. Hal ini pula yang sering dipakai pengkritik kebijakan pengelolaan utang pemerintah, ketika rasio utang Indonesia dibandingkan dengan beberapa negara maju dan negara lainnya. Rasio pajak mereka pada umumnya lebih tinggi dari Indonesia.

Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Hal itu bersesuaian dengan perintah UUD 1945 Pasal 23A yang menyebutkan bahwa Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan Undang-Undang.

Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.

Dalam wacana tentang postur dan besaran pendapatan dari APBN, dikenal istilah penerimaan perpajakan. Penerimaan perpajakan merupakan penerimaan pajak ditambah dengan penerimaan dari bea dan cukai. Pengertian Bea yaitu pungutan negara yang dipakai pada beberapa barang yang dimpor serta diekspor. Sedangkan Cukai adalah pungutan negara yang dipakai pada beberapa barang spesifik yang memiliki karakter mau pun ciri-khas yang diputuskan dalam udang-udang.

Sebelum pandemi Covid-19, penerimaan perpajakan cenderung meningkat. Hanya pernah turun pada tahun 2009 dibanding tahun sebelumnya. Laju kenaikannya berfluktuasi. Kenaikan pada 2019 hanya sebesar 1,80%, terendah sejak tahun 2010. Setahun sebelumnya, pada 2018 terjadi kenaikan sebesar 13,04%. Kenaikan tahun 2018 merupakan dampak program tax amnesty yang dijalankan.

Capaian penerimaan perpajakan atas target pada era 2015-2019 secara rata-rata hanya sebesar 87,68%. Adanya program tax amnesty sempat membuat capaian meningkat menjadi 93,86% pada 2018. Namun kembali turun menjadi 86,55% pada tahun 2019.

Ketika pandemi covid-19 melanda, target penerimaan perpajakan telah diturunkan secara drastis pada Perpres 54, dan kemudian Perpres 72. Meski demikian, penerimaan perpajakan tetap tidak memenuhi target. Hanya tercapai 91,33% dari target. Bahkan, dalam hal pajak saja, diluar bea dan cukai, capaiannya hanya 89,3%.

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, analisis tentang soal pajak dan perpajakan ini yang erat hubungannya dengan utang pemerintah adalah mengenai besaran rasio pajak (tax ratio).

Rasio pajak merupakan perbandingan antara penerimaan pajak dengan besaran PDB pada tahun bersangkutan.

Grafik 27. Rasio Pajak, 2005-2020

Kini dikenal dua besaran rasio pajak yang dikemukakan dalam dokumen ataupun penjelasan Pemerintah. Pertama, rasio pajak yang hanya memperhitungkan penerimaan pajak

yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Pajak. Perhitungannya tidak mencakup penerimaan bea masuk dan keluar serta penerimaan cukai, yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Besaran rasionya dikenal sebagai rasio pajak dalam arti sempit.

Kedua, rasio yang memperhitungkan seluruh penerimaan perpajakan, termasuk bea dan cukai, kemudian ditambah dengan penerimaan Sumber Daya Alam (SDA). Penerimaan SDA itu sendiri dalam postur APBN tercatat sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak. Besaran rasionya dikenal sebagai rasio pajak dalam arti luas.

Rasio pajak dalam kedua pengertian itu cenderung turun selama beberapa tahun terakhir.

Rasio pajak dalam arti sempit hanya sebesar 8,42% dari PDB pada tahun 2019. Sedangkan dalam arti luas mencapai 10,74%.

Pandemi Covid-19 membuat rasionya kembali turun pada tahun 2020. Realisasi sementara APBN 2020 melaporkan penerimaan pajak sebesar Rp1.070 triliun. Sedangkan PDB nominal tahun 2020 diprakirakan hanya mencapai Rp15.705. Dengan demikian, rasio pajak dalam arti sempit turun menjadi 6,81%.

Sedangkan perhitungan rasio pajak dalam arti luas, menambahkan penerimaan bea dan cukai sebesar Rp212 triliun, serta penerimaan sumber daya alam sebesar Rp97,84 triliun. Total penerimaan dalam konteks perhitungan ini menjadi sebesar Rp1.380,64 triliun. Rasio pajak dalam arti luas pada tahun 2020 turun menjadi 8,79%.

APBN 2021 masih menargetkan kenaikan yang konservatif, dan itu pun masih berisiko tidak tercapai. Pemulihan ekonomi yang diyakini oleh Pemerintah sudah mulai berlangsung dan mendekati pulih sepenuhnya pada tahun 2021 akan meningkatkan PDB nominal. Jika target demikian terpenuhi atau setidaknya didekati, maka rasio pajak belum akan naik signifikan.

Dalam dokumen Mewaspadai Risiko yang Meningkat (Halaman 66-69)