• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hal-hal yang perlu diperhatikan

Dalam dokumen Hukum Penanaman Modal dalam Kerangka WTO (Halaman 155-158)

DAFTAR PUSTAKA

GENERAL AGREEMENT ON TRADE IN SERVICES (GATS) DAN KEDAULATAN HUKUM DI BIDANG EKONOM

4. Hal-hal yang perlu diperhatikan

Berikut ini dipaparkan beberapa hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan persiapan menghadapi GATS.

1. mengidentifikasi sektor usaha secara akurat

Mengingat liberalisasi sektor jasa berdasarkan GATS berlangsung secara progresif (bertahap) dan dimungkinkannya perlindungan terhadap industri jasa domestik melalui SOC, maka sangat diperlukan adanya upaya untuk mengidentifikasi sektor-sektor usaha jasa secara komprehensif. Hal ini sangat diperlukan untuk penyusunan komitmen dan komitmen spesifik terutama dalam penetapan persyaratan- persyaratan tertentu bagi pelaku usaha jasa asing. Sama seperti pada saat penyusunan tariff bea masuk sebagai instrument proteksi bagi industri dalam negeri, maka identifikasi terhadap seluruh sector jasa harus dilakukan secara komprehensif untuk mendapatkan data yang akurat. Upaya identifikasi ini harus dilakukan dengan

274 Berdasarkan Data Kementerian Keuangan tahun 2008, terlihat bahwa sebanyak 2431 atau

sebesar 30 % peraturan daerah dibatalkan karena tidak disertai dengan analisis ekonomi yang komprehensif dan sebanyak 3414 saat ini sedang direview. (Ibid., hal. 6)

menggunakan pendekatan multistakeholder terutama melibatkan pelaku usaha jasa atau asosiasi pelaku usaha jasa di Indonesia.

2. memperbaiki iklim usaha di Indonesia

Perbaikan iklim usaha mutlak diperlukan agar pelaku usaha domestik mampu mempersiapkan daya saing yang lebih baik. Perbaikan iklim usaha disini diartikan secara luas meliputi seluruh faktor yang mempengaruhi iklim usaha di Indonesia, antara lain : (1). Faktor kinerja perekonomian nasional, meliputi kinerja ekspor impor, investasi, ketenagakerjaan, dan stabilitas harga; (2). Factor efisiensi kelembagaan, meliputi : perbaikan kebijakan pengelolaan keuangan dan fiscal, reformasi regulasi terkait iklim usaha di Indonesia dan memperbaiki sistim koordinasi kelembagaan, (3). Factor efisiensi usaha yang meliputi upaya peningkatan produktifitas, pasar tenaga kerja dan manajerial, dan (4). Perbaikan secara berkelanjutan infrastruktur baik infastruktur fisik, teknologi dan infrastruktur dasar.

3. memperbaiki iklim investasi

Perbaikan iklim investasi secara menyeluruh dapat meliputi upaya-upaya meningkatkan economic opportunity, political stability dan legal certainty. Selain faktor politik ekonomi dan politik, faktor lain yang menjadi pertimbangan bagi investor untuk menanamkan modalnya adalah masalah kepastian dan prediktabilitas hukum. Pendapat senada dikemukakan oleh Paul V. Horn dan Henry Gomez sebagai berikut :275

“ In making foreign investment a number of important points are to be taken into

consideration. The Investor is concerned, first, with the safety of his investment and,

second, with the return which it yields. The factors having a direct bearing on these

considerations may be classified as follows :

(1). Political stability and financial integrity in the borrowing or host country; (2) purpose for which the investment is made ; (3) laws pertaining to capital and taxation, attitude towards foreign investment, and other aspects of the investment climate of the host country; (4) future potential and economic growth of the country where the investment is made; (5) exchange restrictions pertaining to the remission of profits and with-drawal of the initial investment.”

Berdasarkan pandangan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa bila suatu negara ingin menjadi tujuan investasi, maka hukum terkait prosedural dan kegiatan investasi harus dapat menciptakan kepastian. Namun berbeda dengan kondisi ideal tersebut, hampir setiap kajian mengenai iklim investasi di Indonesia menempatkan ketidakpastian hukum sebagai faktor yang menghambat pertumbuhan investasi baik asing maupun dalam negeri, baik investasi langsung (direct investment) maupun portfolio investment. Studi Bank Dunia yang dipublikasikan tahun 2005 mencatat bahwa pada tataran perusahaan (firm level) ditemukan sejumlah hambatan investasi yang masuk dalam kategori instabilitas makro-ekonomi, kebijakan dan regulasi yang tidak pasti dan tingginya tingkat korupsi. Masalah lainnya meliputi rendahnya atau sulitnya akses terhadap pembiayaan, rendahnya supplay energi listrik, rendahnya skill tenaga kerja,

275 Paul V. Horn and Henry Gomez, International Trade Principles and Practices, Fourth Edition,

regulasi bidang ketenagakerjaan, dan sejumlah persoalan terkait desentralisasi kewenangan investasi pada tingkat pemerintahan daerah.276

Pemerintah Indonesia telah melakukan sejumlah upaya reformasi yang cukup strategis dengan mengadopsi lebih banyak reformasi fiscal, liberalisasi perdagangan, reformasi sektor keuangan, perpajakan, ketenagakerjaan dan reformasi regulasi bisnis. Namun yang menjadi permasalahan adalah adanya jurang (gap) antara political will

Pemerintah dengan implementasi di lapangan, termasuk adanya gap antara peraturan dengan kenyataan penerapannya.277

4. memperkuat sistim hukum

Sistim hukum yang efektif akan memperluas kesempatan berusaha dan mampu mengundang investasi asing. Sebaliknya pengalaman menunjukkan tidak efektifnya hukum telah menghancurkan ekonomi Asia yang semula dipandang sebagai sebuah keajaiban. Para ahli berkesimpulan bahwa sistim hukum dari Negara-negara yang terkena krisis tersebut merupakan salah satu faktor yang memberikan kontribusi.278

Penyebabnya adalah liberalisasi akan berjalan efektif apabila hukum mampu menjamin bahwa distorsi yang disebabkan oleh persaingan dan akumulasi modal dapat dijaga dalam batas-batas tertentu sehingga kompatibel dengan pertumbuhan dan social cohesion.279

5. peningkatan kapasitas pelaku usaha domestik

Upaya peningkatan kapasitas dan kompetensi pelaku usaha domestic, khususnya UMKM dalam berbagai aspek harus segera dilakukan secara berkelanjutan. Upaya ini dapat dilakukan dengan berbagai program peningkatan kapasitas dan kompetensi, baik melalui pelatihan-pelatihan, pendidikan, akses terhadap informasi dan teknologi, akses terhadap pembiayaan dan lain-lain.

6. sosialisasi berkelanjutan

Sosialisasi berkelanjutan dilakukan terhadap seluruh pemangku kepentingan, khususnya terhadap pembuat peraturan dan kebijakan baik di tingkat pusat, daerah otorita maupun pemerintah daerah. Karena sengketa GATS yang potensial muncul berasal dari kebijakan yang dibuat pemerintah (pusat, otorita maupun pemerintah daerah).

7. upaya lain-lain

Bagian ini dibuat mengingat masih banyaknya hal-hal yang perlu diperhatikan, antara lain melaksanakan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik dan pemerintahan yang bersih, mempermudah prosedur perijinan, memperbaiki kualitas layanan publik, membuka akses terhadap sumber pembiayaan, memperkuat proses

276 Roy Nixon, “Improving the Investment Climate in APEC Economies”, the Australian Treasury,

Foreign Investment and Trade Policy Division, 2005, hlm. 59.

277 Ibid.,hlm. 59

278 Barry Metzger, dalam Katharina Pistor dan Philip A. Wellon, et.all, The Role of Law and Legal Institutions in Asian Economic, (New York : Oxford University Press, 1999), dikutip dalam Zulkarnain Sitompul, op.cit, hal. 8

279 Hendrik Spruyt, “New Institutionalism and International Relation” dalam Ronen (ed.), Global Political Economy Contemporary Theories, (London : Routledge, 2000), hal. 144, Ibid.

demokrasi, reformasi regulasi, penegakan hukum, menciptakan kondisi persaingan usaha yang sehat, pemberantasan korupsi, dan lain sebagainya sampai kepada peningkatan kualitas pendidikan.

D. Kesimpulan

Pelaksanaan GATS sebagai sebuah international obligation ini akan berpengaruh terhadap measures yang diambil oleh pemerintah yang mempengaruhi perdagangan jasa internasional. Namun tidak berarti bahwa disiplin terkait measures tersebut akan menghilangkan kedaulatan hukum Indonesia untuk mengatur perdagangan jasa di wilayah yurisdiksinya. Kedaulatan hukum Indonesia terhadap dihormati dalam kerangka GATS mengingat pelaksanaan GATS tersebut secara prinsip didasarkan pada kepentingan nasional dan tingkat kebutuhan pembangunan ekonomi Negara-negara anggota.

Eksistensi kedaulatan internal dalam GATS juga terlihat dari prinsip liberalisasi progresif (bertahap), perlindungan terhadap industri jasa domestik SOC, juga secara khusus mengatur tentang domestic regulation yang memungkinkan Negara-negara untuk mengatur secara khusus komitmen-komitmen spesifik yang diajukannya.

Agar pelaksanaan kedaulatan hukum tersebut tidak menghasilkan measures yang bertentangan dengan GATS yang berakibat pada tuntutan hukum dari Negara anggota lain, maka perlu dilakukan identifikasi sector-sektor jasa kompetitif dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan terkait, sinkronisasi peraturan perundang-undangan terkait perdagangan jasa, melakukan reformasi regulasi dengan menggunakan pendekatan regulation impact assestment. Di samping itu perlu dilakukan upaya-upaya mewujudkan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik dan pemerintahan yang bersih, upaya-upaya konkrit dalam perbaikan iklim usaha di Indonesia, memperkuat sistim hukum perbaikan iklim investasi, sosialiasi secara berkelanjutan, pembukaan akses pembiayaan, peningkatan kapasitas services supplier domestic, penyederhanaan ijin dan prosedur, memperluas dan mempermudah kesempatan berusaha, penegakan hukum persaingan usaha yang sehat dan upaya-upaya lain yang dapat meningkatkan daya saing industri jasa nasional. Jika tidak, maka industri jasa nasional tidak akan siap menghadapi persaingan sektor jasa yang semakin terbuka.

Dalam dokumen Hukum Penanaman Modal dalam Kerangka WTO (Halaman 155-158)