• Tidak ada hasil yang ditemukan

UUPM memberikan fleksibilitas yang cukup bagi Pemerintah

Dalam dokumen Hukum Penanaman Modal dalam Kerangka WTO (Halaman 72-79)

HARMONISASI PADA UNDANG-UNDANG PENANAMAN MODAL INDONESIA

A. Perdebatan tentang Liberalisasi Investasi dalam UUPM

3. UUPM memberikan fleksibilitas yang cukup bagi Pemerintah

Salah satu yang dikhawatirkan banyak pakar dari kelompok Negara sedang berkembang mengenai desakan liberalisasi investasi adalah semakin berkurangnya fleksibilitas pemerintah host country dalam memperjuangkan kepentingan nasionalnya. Biswajit Dhar misalnya sangat meragukan konsep liberalisasi investasi akan didukung oleh MNC guna meningkatkan kesejahteraan rakyat host country. Justru desakan internasional terhadap liberalisasi investasi akan lebih mengarah pada penyerahan ruang gerak yang lebih luas bagi MNC untuk memperjuangkan kepentingan- kepentingannya di wilayah tujuan investasi. Liberalisasi investasi akan mengurangi fleksibilitas pemerintah host country dalam mengatur ruang gerak MNC.131

Liberalisasi investasi yang cocok bagi Negara sedang berkembang tidak diletakkan pada ukuran “liberalisasi maksimum” seperti yang diimpikan oleh negara- negara maju, akan tetapi ukuran yang tepat adalah “liberalisasi yang sesuai kebutuhan pembangunan dan kepentingan nasional”.132 Berdasarkan pertimbangan yang sama

Hoekman menyetujui konsep liberalisasi investasi yang tetap memberikan fleksibilitas bagi negara-negara sedang berkembang dan negara terbelakang untuk mencapai sasaran-sasaran pembangunan dan melindungi kepentingan nasionalnya.133

128 Dikutip dalam Munir Fuady, Doktrin-Doktrin dalam Corporate Law, : Eksistensinya di dalam Hukum Indonesia, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2002), hlm.4

129 Pasal 16 UU No. 25 Tahun 2007 130 Pasal 17 UU No. 25 Tahun 2007

131Biswajit Dhar, et.all, “MultilateralRegime for Foreign Investment ; An Assestment of the

Emerging Trends”, Research and Information System for the Non-Aligned and Other Developing Countries, New Delhi , 1998, Hal. 1

132 Martin Khor, op.cit, Hal. 46.

133 Bernard Hoekman, op.cit., Hal. 15. Perhatikan pula pendapat Nagesh Kumar. Kebanyakan

negara-negara Afrika telah memberlakukan rejim investasi yang benar-benar terbuka sejak tahun 1980-an, sebagai bagian dari structural adjustment programme yang disaratkan IMF dan World Bank, ternyata gagal

Liberalisasi investasi memang menjadi semangat UUPM, akan tetapi liberalisasi yang diusung oleh UUPM adalah liberalisasi yang sesuai kebutuhan pembangunan dan kepentingan nasional Indonesia. Hal ini terlihat dari sejumlah ketentuan UUPM yang memberikan kewenangan kepada Pemerintah untuk mengatur lebih lanjut dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional. Fleksibilitas kepada Pemerintah untuk memperjuangkan kepentingan nasional dapat dilihat dari ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

(1). Pengaturan dan penundaan hak transfer dan repatriasi

Pasal 8 ayat (3) UUPM memberikan hak kepada investor untuk melakukan transfer dan repatriasi terhadap modal, keuntungan, bunga bank, deviden, dan pendapatan lain, dana yang diperlukan untuk pembelian bahan baku dan penolong, barang setengah jadi, atau barang jadi atau penggantian barang modal dalam rangka melindungi kelangsungan hidup penanaman modal, tambahan dana yang diperlukan bagi pembiayaan penanaman modal, dana untuk pembayaran kembali pinjaman, royalti atau biaya yang harus dibayar, pendapatan dari perseorangan warga negara asing yang bekerja dalam perusahaan penanaman modal, hasil penjualan atau likuidasi penanaman modal, kompensasi atas kerugian, kompensasi atas pengambilalihan, pembayaran yang dilakukan dalam rangka bantuan teknis, biaya yang harus dibayar untuk jasa teknik dan manajemen, pembayaran yang dilakukan di bawah kontrak proyek, dan pembayaran hak atas kekayaan intelektual dan hasil penjualan asset.

Kebebasan hak transfer tersebut bukanlah tanpa pembatasan. Untuk menghindari terjadinya kerugian bagi kepentingan Negara dan masyarakat Indonesia yang timbul dari penyalahgunaan kebebasan transfer, maka UUPM menegaskan bahwa pelaksanaan hak transfer oleh investor (khususnya investor asing) tidak mengurangi: kewenangan Pemerintah untuk memberlakukan ketentuan peraturan perundang- undangan yang mewajibkan pelaporan pelaksanaan transfer dana, hak Pemerintah untuk mendapatkan pajak dan/atau royalti dan/atau pendapatan Pemerintah lainnya dari penanaman modal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, pelaksanaan hukum yang melindungi hak kreditor dan pelaksanaan hukum untuk menghindari kerugian negara.134 Hak transfer dan/atau repatriasi dapat pula dibatasi

dalam bentuk penundaan hak transfer hal adanya tanggung jawab hukum yang belum diselesaikan oleh penanam modal. Pasal 9 ayat (1) menegaskan bahwa penyidik atau Menteri Keuangan dapat meminta bank atau lembaga lain untuk menunda hak melakukan transfer dan/atau repatrias. Penundaan dapat pula dilakukan oleh pengadilan berdasarkan gugatan.

(2). Mengatur penggunaan tanaga kerja asing

Tuntutan liberalisasi investasi (modal) yang banyak didengungkan oleh investor dan host country yang tergolong Negara maju umumnya diikuti dengan tuntutan kebebasan pergerakan tenaga kerja sesuai kebutuhan investor (free personal movement), karena pergerakan modal selalu diikuti dengan pergerakan tenaga kerja. Dengan kata lain, yang dikehendaki oleh Negara maju adalah tidak adanya pembatasan penggunaan

menarik arus masuk modal asing secara signifikan (Nagesh Kumar, Investment on The WTO Agenda ; A Developing Countries Prespective and the Way Forward for the Cancun Miniterial Conference, Research and Information System for the Non-Aligned and Other Developing Countries (RIS), New Delhi, India, 2003, Hal. 12).

ekspatriat dalam suatu kegiatan penanaman modal. Penggunaan tenaga ekspatriat seluruhnya berdasarkan pertimbangan pasar yang mengacu pada totalitas kebutuhan kegiatan investasi.

Salah satu politik hukum penanaman modal di Indonesia adalah terkait dengan ketenagakerjaan. Hal ini terlihat dari Penjelasan Umum Paragraf Kedua UU No. 25 Tahun 2007, sebagai berikut :

“…penanaman modal harus menjadi bagian dari penyelenggaraan perekonomian nasional dan ditempatkan sebagai upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pembangunan ekonomi berkelanjutan, meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi nasional, mendorong pembangunan ekonomi kerakyatan, serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat dalam suatu sistem perekonomian yang berdaya saing.”

Dengan demikian dapat dipahami bahwa salah satu sasaran dalam optimalisasi peran penanaman modal di Indonesia adalah untuk menciptakan lapangan kerja, atau mengurangi tingkat pengangguran. Sasaran ini sangat penting mengingat investasi pemerintah belum memadai untuk mengatasi jumlah pengangguran yang relatif masih tinggi. Oleh karena itu, sangat mudah dipahami mengapa UUPM memberikan ruang yang cukup fleksibel bagi Pemerintah untuk mengatur penggunaan tenaga kerja dalam kegiatan penanaman modal.

(3). Menetapkan bidang usaha yang tertutup dan menetapkan persyaratan penanaman modal

Pada saat pembahasan RUUPM banyak pihak yang mengkhawatirkan RUUPM yang kelewat liberal. Salah satu ciri yang sangat liberal dari RUUPM saat itu adalah terkait penentuan bidang usaha yang dapat ditanami modal. Menurut salah seorang ekonom Universitas Gadjah Mada, Mudrajat Kuncoro, semangat liberalisasi yang amat kental dalam RUUPM terlihat pada pasal-pasal yang tidak membatasi pengalihan asset dan bidang usaha. Berbeda dengan UU investasi di China dan Malaysia misalnya, jelas menyebutkan bidang-bidang yang tertutup atau terbatas untuk kepentingan asing.135

Hal yang sama juga diingatkan oleh Faisal Basri yang mengatakan bahwa Australia dan Thailand yang dikenal lebih "ramah" pada investor dibandingkan Indonesia pun menerapkan batasan kepemilikan modal asing pada sektor-sektor tertentu. 136

Ada benarnya apa yang diingatkan oleh para pakar tersebut. Membuka seluruh bidang usaha untuk kegiatan penanaman modal akan mempersempit ruang untuk menyesuaikan kepentingan nasional dengan kegiatan investasi. Demikian juga akan semakin sulit untuk melindungi investor dalam negeri, khususnya mereka yang bergerak di sektor usaha kecil, menengah dan koperasi yang belum mampu bersaing dalam sebuah mekanisme pasar yang sangat terbuka.

Pasal 12 ayat (1) UUPM pada prinsipnya membuka semua bidang usaha atau jenis usaha terbuka bagi kegiatan penanaman modal, kecuali bidang usaha atau jenis usaha yang dinyatakan tertutup dan terbuka dengan persyaratan. Pasal ini tetap

135 Dikutip dalam Nurhidayati, “RUU Penanaman Modal, Tolong Sisihkan Bias Kepentingan”,

diakses dari Kompas, Rubrik Bisnis & Keuangan, http://www.kompas.com/, hal. 21, Kamis 25 Januari 2007

memberikan fleksibilitas bagi Pemerintah untuk menetapkan bidang usaha-bidang usaha tertutup atau terbuka dengan membebankan sejumlah persyaratan-persyaratan tertentu. Hal ini dipertegas dalam ayat (3), (4) dan ayat (5) UUPM yang memberikan wewenang kepada Pemerintah, dalam hal ini Presiden, untuk menetapkan bidang usaha yang tertutup untuk penanaman modal, baik asing maupun dalam negeri, dan bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan.

Kesepakatan internasional terkait penanaman modal sebenarnya memberikan ruang bagi Pemerintah untuk menetapkan bidang usaha yang tertutup dan menentukan syarat-syarat tertentu untuk bidang usaha-bidang usaha tertentu yang ditetapkan terbuka dengan persyaratan. Yang perlu diperhatikan adalah penetapan bidang usaha tertutup dan persyaratan-persyaratan penanaman modal tersebut harus didasarkan pada kriteria-kriteria yang rasional dan transparan, serta tidak menetapkan persyaratan penanaman modal yang secara tegas dilarang berdasarkan kesepakatan internasional yang sudah diratifikasi Indonesia.

Fleksibilitas yang diberikan Pasal 12 UUPM kepada Pemerintah untuk menetapkan bidang usaha tertutup dan terbuka bersyarat tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan keluarnya Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 76 Tahun 2007 tentang Kriteria dan Persyaratan Penyusunan Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal. Pasal 8 Perpres ini menetapkan K3LM (kesehatan, keselamatan, pertahanan dan keamanan, lingkungan hidup dan moral/budaya) sebagai kriteria utama untuk menetapkan bidang usaha yang tertutup bagi kegiatan penanaman modal, ditambah dengan kriteria yang sangat umum dan sangat terbuka yakni kepentingan nasional lainnya. 137 Pasal 9

Perpres No. 76 Tahun 2007 menetapkan lebih rinci K3LM yakni : (1) memeliharan tatanan hidup masyarakat, (2) melindungi keaneka ragaman hayati, (3) menjaga keseimbangan ekosistem, (4) memelihara kelestarian hutan alam (5) mengawasi penggunaan bahan berbahaya beracu (6) menghindari pemalsuan dan mengawasi peredaran barang dan/atau jasa yang tidak direncanakan, (7) menjaga kedaulatan Negara, dan (8) menjaga dan memelihara sumber daya terbatas. Namun, Perpres tersebut tidak menjelaskan kriteria kepentingan nasional lainnya, sehingga adanya kriteria kepentingan nasional lainnya sebagai syarat untuk menutup suatu bidang usaha dari kegiatan penanaman modal memberikan ruang yang cukup luas bagi Pemerintah.

Kriteria yang dipergunakan sebagai acuan penetapan syarat bagi penanaman modal yang dinyatakan terbuka dengan persyaratan diatur dalam Pasal 11 Perpres No. 76 Tahun 2007, sebagai berikut : (1) perlindungan sumber daya alam, (2) perlindungan dan pengembangan usaha kecil, menengah dan koperasi (UMKMK), (3) pengawasan produksi dan distribusi, (4) peningkatan kapasitas teknologi, (5) partisipasi modal dalam negeri, dan (6) kerjasama dengan badan usaha yang ditunjuk oleh Pemerintah. Berdasarkan kriteria tersebut, maka Pemerintah dapat menetapkan syarat-syarat penanaman modal sesuai kebutuhan dan kepentingan nasional. Hanya saja patut dipahami bahwa syarat penanaman modal tersebut harus terkait dengan perlindungan dan pengembangan UMKMK, syarat kemitraan, syarat kepemilikan modal, persyaratan lokasi tertentu, dan syarat adanya perizinan khusus. Berdasarkan kewenangan inilah

137 Perhatikan Pasal 8 Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 76 Tahun 2007 tentang Kriteria

dan Persyaratan Penyusunan Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal

kemudian Pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 77 Tahun 2007 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal yang kemudian disempurnakan dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 111 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 77 Tahun 2007 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal.

(4). Pengembangan penanaman modal bagi usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi

Salah satu paradigma politik ekonomi yang mendasari UUPM adalah pelaksanaan demokrasi ekonomi yang didasari oleh ekonomi kerakyatan yang melibatkan pengembangan bagi usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi.138 Dalam

Penjelasan Umum UUPM disebutkan bahwa salah satu tujuan pembentukan pemerintahan negara adalah untuk memajukan kesejahteraan umum. Amanat tersebut, antara lain, telah dijabarkan dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan merupakan amanat konstitusi yang mendasari pembentukan seluruh peraturan perundang-undangan di bidang perekonomian. Konstitusi mengamanatkan agar pembangunan ekonomi nasional harus berdasarkan prinsip demokrasi yang mampu menciptakan terwujudnya kedaulatan ekonomi Indonesia. Keterkaitan pembangunan ekonomi dengan pelaku ekonomi kerakyatan dimantapkan lagi dengan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor: XVI/MPR/1998 tentang Politik Ekonomi Dalam Rangka Demokrasi Ekonomi sebagai sumber hukum materiil. Dengan demikian, pengembangan penanaman modal bagi usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi menjadi bagian dari kebijakan dasar penanaman modal.

Terlihat jelas bahwa pembuat UU, baik Pemerintah maupun DPR RI sangat menyadari adanya dilemma antara liberalisasi investasi dan kepentingan untuk melindungi UMKMK. Kebebasan arus masuknya modal dapat menyebabkan terdesaknya UMKMK yang harus menghadapi persaingan justru dengan beban sejumlah permasalahan yang sangat kompleks. Oleh karena itulah UUPM memberikan fleksibilitas bagi Pemerintah untuk melindungi sektor UMKMK. Pasal 12 UUPM sebagaimana dijelaskan diatas adalah salah satu Pasal terkait perlindungan UMKMK yakni dengan menetapkan kriteria perlindungan, pengembangan usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi sebagai kriteria untuk menetapkan suatu bidang usaha terbuka dengan persyaratan. Selanjutnya Pasal 13 UUPM menetapkan secara imperative dua kewajiban Pemerintah RI terkait UMKMK, yakni :

(1) menetapkan bidang usaha yang dicadangkan untuk usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi serta bidang usaha yang terbuka untuk usaha besar dengan syarat harus bekerja sama dengan usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi.

(2) melakukan pembinaan dan pengembangan usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi melalui program kemitraan, peningkatan daya saing, pemberian dorongan inovasi dan perluasan pasar, serta penyebaran informasi yang seluas-luasnya.

(5). Menetapkan dengan tegas kewajiban dan tanggungjawab Penanam Modal

Di Negara mana pun dan seliberal apapun rejim hukum investasi yang diterapkannya tetap memiliki suatu sistem untuk memastikan kehadiran investasi akan memberikan kontribusi positif bagi pembangunan nasionalnya dan memastikan cara yang seaman mungkin untuk mengantisipasi dampak negatif dari kegiatan investasi di wilayah negaranya, terhadap perekonomiannya dan terhadap masyarakatnya. Ada banyak cara yang dilakukan untuk tujuan kedua tersebut, mulai dari screening, pembatasan kepemilikan, penetapan syarat-syarat tertentu dan memastikan para penanam modal melaksanakan kewajibannya sesuai ketentuan perundang-undangan nasional Negara tersebut.

UUPM juga mengandung sistem yang demikian. Salah satu kemajuan dari UUPM dibandingkan dengan pendahulunya adalah ketegasan UUPM menetapkan kewajiban dan tanggungjawab penanam modal. Pengaturan yang demikian tidak ditemukan dalam UUPMA dan UUPMDN dan peraturan pelaksananya. Mengapa perlu diatur kewajiban dan tanggungjawab penanam modal ?. Tentunya sangat banyak pertimbangan bisa dikemukakan.

Pertama, Pemerintah host country berkepentingan untuk memastikan bahwa perusahaan penerima fasilitas penanaman modal yang berada di wilayah kedaulatannya melakukan kegiatan usahanya dengan sungguh-sungguh dan bertanggungjawab. Idealnya segala kemudahan dan fasilitas yang diberikan oleh Host Country kepada perusahaan penanaman modal bertujuan agar perusahaan tersebut mendapatkan keuntungan, sehingga host country dapat menikmati multiplayer effect dari keuntungan tersebut. Host country akan sangat dirugikan jika perusahaan penanaman modal tidak dikelola dengan baik. Kerugian tersebut berupa fasilitas yang sudah diberikan, semakin buruknya distribusi pendapatan karena terjadinya perbedaan tingkat upah antara golongan pekerja, kerusakan lingkungan terhadap sumber daya alam, mendorong pola konsumsi mewah pada masyarakat host country,

ketidakseimbangan neraca pembayaran (balance of payment) yang dapat saja terjadi karena impor lebih besar dari ekspor,139 Dalam bentuk yang lebih radikal kehadiran

perusahaan afiliasi perusahaan multinasional dapat mempengaruhi kebijakan pencapaian sasaran pembangunan yang sudah ditetapkan dan mempengaruhi keputusan politik.140 Belum lagi apabila perusahaan-perusahaan multinasional

melakukan praktek-praktek yang tidak sehat dalam menjalankan usahanya di wilayah

host country, melakukan tindak pidana yang merugikan keuangan dan perekonomian negara, dan melanggar hak-hak pekerja.

Terkait dengan hal ini Pasal 15 a, UUPM mewajibkan penanam modal menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) dan Pasal 16 meletakkan tanggungjawab untuk menjamin tersedianya modal yang berasal dari sumber yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang- undangan, menanggung dan menyelesaikan segala kewajiban dan kerugian jika penanam modal menghentikan atau meninggalkan atau menelantarkan kegiatan usahanya secara sepihak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,

139 David Schneiderman, Investment Rules and the New Constitualism, (Washington : Law and Social

Inquiry, American Bar Foundation, 2000), Hal. 759 – 760.

140 P. Steeten, “The Multinational Enterprise and the Theory of Development Policy, World

menciptakan iklim usaha persaingan yang sehat, mencegah praktik monopoli, dan hal lain yang merugikan Negara, menjaga kelestarian lingkungan hidup, menciptakan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kesejahteraan pekerja dan mematuhi semua ketentuan peraturan perundang-undangan.

Setidaknya terdapat dua asas utama yang relevan dengan kewajiban dan tanggungjawab penanam modal dalam konteks ini, yaitu : asas keterbukaan141 dan

akuntabilitas142 yang ditetapkan dalam Pasal 3 UUPM. Dengan adanya kewajiban ini,

maka setiap perusahaan penanaman modal harus mengimplementasikan prinsip- prinsip GCG dalam pengelolaan perusahaan, yakni prinsip fairness (kewajaran), transparency (keterbukaan), accountability (akuntabilitas), responsibility

(pertanggungjawaban) dan rule of law (ketaatan pada aturan hukum).143 Melalui

kewajiban ini, maka setiap kegiatan perusahaan penanaman modal harus dilakukan secara terbuka baik dalam proses pengambilan keputusan maupun kewajiban pengungkapan informasi-informasi penting kepada masyarakat dan pihak terkait lainnya. Dalam konteks ini keterbukaan informasi tidak saja menyangkut informasi keuangan dan informasi non keuangan, tetapi juga informasi tentang produk, dan informasi tentang kegiatan penanaman modal.144

Bagi Indonesia penerapan asas keterbukaan dalam penanaman modal akan mendorong terciptanya kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan dapat menciptakan mekanisme pasar yang efisien.145 Di samping kedua fungsi tersebut, penerapan asas keterbukaan sangat penting

untuk mencegah penipuan (fraud). Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa munculnya sinyalir manipulasi keuangan oleh perusahaan penanaman modal untuk menghindari pajak berakar dari lemahnya pengaturan keterbukaan dalam laporan keuangan perusahaan penerima fasilitas penanaman modal. Terkait dengan fungsi pencegahan penipuan (fraud) ini, sangat baik dijelaskan oleh Barry A.K. Rider dengan kalimatnya : “ sunlight is the best disinfectant and electric light the best policeman.” Dengan kata lain more disclosure will inevitably discourage wrong doing and abuse.146Lebih banyak informasi yang dibuka kepada public maka akan mempersempit ruang untuk terjadinya penyalahgunaan wewenang dalam pengelolaan perusahaan.

Pelaksanaan prinsip keterbukaan ini telah diantisipasi oleh UUPM meskipun tidak cukup komprehensif. Pasal 15 (c) UUPM menetapkan kewajiban bagi penanaman modal untuk membuat laporan tentang kegiatan penanaman modal dan menyampaikannya kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal. Dikatakan tidak cukup komprehensif karena UUPM tersebut tidak dengan tegas mengatur bagaimana keterbukaan tersebut harus dilakukan oleh perusahaan penanaman modal, misalnya terkait dengan laporan keuangan perusahaan penanaman modal. hal ini sering menimbulkan masalah terkait manipulasi laporan keuangan perusahaan penanaman modal untuk menghindari kewajiban pajak di Indonesia.

Kedua, Pemerintah host country berkepentingan untuk memastikan bahwa perusahaan penerima fasilitas penanaman modal bermanfaat secara langsung kepada

141 Perhatikan Penjelasan Pasal 3 (b) UU No. 25 Tahun 2007. Asas Keterbukaan diartikan sebagai

asas yang terbuka terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang kegiatan penanaman modal.

142 Penjelasan Pasal 3 (c) UU No. 25 Tahun 2007 menjelaskan Yang dimaksud dengan “asas

akuntabilitas” adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari penyelenggaraan penananam modal harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

143 Lebih lanjut I Nyoman Tjager.,dkk, Corporate Governance Tantangan dan Kesempatan Bagi Komunitas Bisnis di Indonesia, (Jakarta :Perhalindo, 2003), hlm. 49.

144 Prasarn Trairatvorakul, “ Challenges of Good Governance : Accountability and Rule of Law”,

dikutip dalam Sentosa Sembiring, Hukum Investasi, (Bandung : Nuansa Aulia, 2007), hlm. 331.

145 Bismar Nasution, Keterbukaan dalam Pasar Modal, (Jakarta : FH UI, 2001), hlm. 9-10 146 Ibid., hlm. 11

masyarakat, khususnya masyarakat di lingkungan sekitar kegiatan usaha penanaman modal. Fungsi sosial semacam ini akan mengurangi beban pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan antisipatif terhadap degradasi daya dukung lingkungan. Dalam konteks ini Pasal 15 b UUPM mewajibkan penanam modal melaksanakan tanggungjawab sosial perusahaan. Dengan diundangkannya UU No. 40 Tahun 2007, maka khusus terhadap perusahaan penanaman modal yang berbentuk PT, maka persoalan CSR tunduk pada ketentuan Pasal 74 UUPT dan peraturan pelaksananya.

Bagaimana dengan perusahaan penanaman modal yang tidak berbentuk PT atau perusahaan penanaman modal yang tidak memenuhi criteria Pasal 74 ayat (1) UUPT147,

apakah terhadap mereka tetap wajib melaksanakan CSR? Dengan tegas dapat dijawab bahwa terhadap perusahaan yang demikian tetap wajib melaksanakan CSR. Pasal 15 UUPM tersebut adalah kaidah yang berciri imperative (memaksa harus demikian). Lantas bagaimana pelaksanaannya, mengingat UUPT dan peraturan pelaksananya hanya ditujukan kepada PT yang memenuhi criteria wajib CSR/TJSL ? Semestinya pelaksanaannya berpedoman kepada prinsip-prinsip yang terkandung dalam peraturan pelaksana yang akan dibuat oleh pemerintah tersebut. Namun oleh karena peraturan pelaksana Pasal 74 UUPT khusus ditujukan kepada PT, maka prinsip kepatutan dan kewajaran sebagaimana disebutkan dalam Pasal 74 ayat (2) harus diterjemahkan oleh perusahaan penerima fasilitas penanaman modal (perusahaan penanaman modal).

Ketiga, Pemerintah host country berkepentingan untuk memastikan bahwa perusahaan penanaman modal nyaman dalam melakukan kegiatan usaha dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan hukum atau perbuatan yang dapat menimbulkan instabilitas dalam masyarakat. Terkait dengan hal ini Pasal 15 (c), (d) dan (e) mewajibkan penanam modal membuat laporan tentang kegiatan penanaman modal dan menyampaikannya kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal, menghormati tradisi budaya masyarakat sekitar lokasi kegiatan usaha penanaman modal, dan mematuhi semua ketentuan peraturan perundang-undangan.

B. UUPM dan Kesepakatan Internasional terkait Penananaman Modal

Dalam dokumen Hukum Penanaman Modal dalam Kerangka WTO (Halaman 72-79)