• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PERMASALAHAN DAN ISU STRATEGIS

4.1.3 Permasalahan Ekonomi

Permasalahan ekonomi terkait dengan ketenagakerjaan, koperasi dan UMKM, penanaman modal, ketahanan pangan, pertanian, pariwisata, perikanan kelautan, pariwisata dan industri. Masing – masing sub dijelaskan sebagai berikut:

1) Ketenagakerjaan

Permasalahan pengangguran terbuka terkait dengan Masih tingginya tingkat pengangguran terbuka di kota Yogyakarta pada tahun 2010 yang mencapai 5,28% (20.136 orang) dari total angkatan kerja, angka ini masih lebih tinggi bila dibandingkan dengan target pengangguran terbuka di RPJP Kota Yogyakarta yang tidak lebih dari 4%. Tingkat pengangguran terbuka pada tahun 2010 di Kota Yogyakarta sebesar 20.136 orang angkatan kerja atau sekitar 5,28 persen dari seluruh penduduk usia angkatan kerja. Angkatan kerja baru, yaitu penduduk yang

lulus sekolah dan tidak melanjutkan pendidikan memunculkan penganggur baru.

Terbatasnya kesempatan kerja, kurangnya keterampilan serta rendahnya jiwa kewirausahaan merupakan beberapa penyebab munculnya pengangguran di Kota Yogyakarta.

Pencari kerja di wilayah kota sebagian besar merupakan lulusan universitas atau sekolah tinggi. Minimnya lapangan pekerjaan formal yang membutuhkan tenaga kerja dengan kualifikasi S1 menyebabkan banyak tenaga kerja tidak terserap di Kota. Mereka kemudian justru diberdayakan di wilayah lain di luar Kota Yogyakarta yang memiliki banyak lapangan kerja formal. Selain masalah ketersediaan lapangan kerja, insentif bagi para lulusan S1 masih rendah sehingga tidak dapat mencegah perpindahan tenaga kerja berpendidikan tinggi ke luar Kota.

Jika hal ini dibiarkan maka Kota Yogyakarta akan kehilangan aset SDM yang berkualitas untuk membangun Kota.

Penyelenggaraan pelatihan selama ini masih bersifat temporer dan belum ada sistem yang baku sehingga belum fokus dan belum tepat sasaran, sehingga sulit untuk melakukan evaluasi maupun tidak lanjut dari kegiatan tersebut. Selain itu pihak yang disasar maupun materi yang akan diberikan pada pelatihan belum terfokus.

Minimnya lapangan pekerjaan formal yang mampu menyerap keahlian para pencari kerja menyebabkan banyak tenaga kerja tidak terserap di Kota Yogyakarta. Menciptakan lapangan kerja formal membutuhkan investasi yang cukup besar serta dibutuhkan cara yang tepat untuk menarik investor besar agar dapat berinvestasi di Kota Yogyakarta serta mengembangkan kegiatan yang sesuai dengan corak dan warna perekonomian di Kota Yogyakarta. Kegiatan ekonomi yang berbasis pada pemikiran (brain intensive) dianggap cocok untuk dijalankan meskipun masih menemui kendala untuk menemukan bentuk yang tepat. Demikian juga dengan pengembangan industri kreatif juga dapat dianggap sebagai pilihan yang sesuai untuk dikembangkan di Kota Yogyakarta dan diharapkan mampu untuk menyerap tenaga kerja professional di bidangnya.

2) UMKM dan Koperasi

Selama ini permodalan, pemasaran dan manajemen merupakan masalah yang selalu dihadapi oleh pelaku UMKM-K. Berbagai usaha telah ditempuh oleh

pemerintah untuk menanggulangi masalah tersebut. Hasil dari usaha tersebut tampak pada peningkatan jumlah koperasi di Kota Yogyakarta yaitu dari 519 unit pada tahun 2007 menjadi 555 unit pada tahun 2011 dengan jumlah koperasi aktif meningkat dari 416 unit pada tahun 2007 menjadi 451 unit pada tahun 2011. Untuk jumlah UKM di Kota Yogyakarta sampai dengan tahun 2010 mencapai 22.091 unit dengan rata-rata omzet sebesar Rp646.829.370.000,00 (enam ratus empat puluh enam milyar delapan ratus dua puluh sembilan juta tiga ratus tujuh puluh ribu rupiah) atau 20,68 % dari omzet keseluruhan industri serta realisasi volume ekspor per mata dagangan di Kota Yogyakarta tahun 2010 dari 79 jenis mata dagangan dengan nilai US $ 21.060.982,16 Adapun kontribusi terbesar adalah minyak atsiri dengan nilai ekspor mencapai US $ 5.507.027,63 atau 26,15 % dari total ekspor Kota Yogyakarta. Namun meskipun usaha yang dilakukan pemerintah telah membuahkan hasil masih diperlukan usaha yang yang bersifat komprehensif sehingga dapat memecahkan ketiga masalah tersebut secara permanen.

Belum ada inovasi solusi yang lebih kreatif dari sekadar memberi bantuan modal dan pelatihan manajemen. UMKM-K di Kota Yogyakarta masih membutuhkan solusi yang lebih inovatif untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi agar mampu meningkatkan usaha dan daya saing mereka.

Program pemberdayaan pelaku Koperasi dan UMKM masih terkendala ketersediaan dana. Program pemberdayaan yang diladakan pemerintah belum mampu mencapai hasil optimal karena dalam pelaksanaannya sering menemui kendala ketersediaan dana. Di masa mendatang pemerintah perlu memberikan porsi yang lebih besar untuk kegiatan ini jika kegiatan tersebut dapat berjalan efektif.

Penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kota Yogyakarta belum sepenuhnya dapat dilakukan dengan baik di beberapa kawasan. Di antaranya berkaitan dengan penertiban PKL masih menghadapi banyak tantangan seperti kepatuhan pelaku terhadap aturan yang telah dibuat pemerintah dan efektifitas pemberlakuan sanksi bagi yang melanggar. Selain itu juga berkiatan dengan kesadaran untuk menjaga kebersihan dan higienitas khususnya bagi PKL yang berjualan makanan.

Terkait dengan UMKM, selama ini belum ada kajian dan pilot project terkait pengembangan UMKM berdasarkan kebutuhan dan kemampuan kelompok masyarakat di wilayah tertentu (community based) untuk meningkatkan efektifitas

pemberdayaan UMKM masyarakat lokal. Permasalahan UMKM sebagian berkaitan dengan permodalan yang sebenarnya sudah disediakan oleh pemerintah maupun pemerintah daerah dan perusahaan-perusahaan melalui CSR, akan tetapi dirasa belum tepat sasaran.

Pelatihan usaha lebih sering tidak tepat sasaran dan mandul. Pelatihan usaha yang tidak tepat sasaran sesungguhnya menunjukkan tidak adanya analisis terhadap pihak-pihak mana saja yang membutuhkan dan yang tidak membutuhkan.

Diperlukan data yang komprehensif terkait jumlah pelaku yang membutuhkan pelatihan, pihak yang telah mendapatkan pelatihan dan pihak yang belum mendapatkan pelatihan sehingga pelatihan dapat lebih efektif dan merata.

3) Penanaman Modal

Dalam sistem administrasi dan manajemen investasi selama ini belum ada Pihak yang bertanggung jawab atas pelaksanaan, monitoring dan evaluasi terkait kegiatan investasi belum jelas dan masih tumpang tindih. Meskipun selama ini pemerintah Kota Yogyakarta telah menyediakan fasilitas Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) bagi kegiatan penanaman modal tetapi belum ada pihak yang berwenang melakukan monitoring dan evaluasi terhadap jalannya investasi yang sudah masuk dan disetujui. Hal ini juga terkait dengan belum ada pihak/badan yang khusus menangani kegiatan investasi

Di samping itu juga Belum ada kebijakan investasi yang memproteksi usaha warga lokal. Kebijakan investasi selama ini belum mampu menyaring atau mencegah masuknya investasi yang dapat mengancam usaha masyarakat lokal.

Belum ada perarturan ataupun regulasi lainnya yang mungkin dapat diterapkan, sehingga penanaman modal yang masuk ke Kota Yogyakarta adalah yang sesuai dengan peraturan yang sementara ini telah tersedia.

Peta Investasi dibutuhkan dalam pemetaan tentang kebutuhan investasi untuk sektor (sektor apa saja yang membutuhkan investasi besar dan sektor mana yang sudah jenuh). Investasi di bidang Pariwisata dibutuhkan agar dapat menarik investasi di bidang pariwisata. Sehingga dapat meningkatkan perekonomian daerah dan memicu kegiatan ekonomi masyarakat.

4) Ketahanan Pangan

Tingginya impor pangan untuk memenuhi kebutuhan lokal. Terkait dengan kemampuan Kota Yogyakarta dalam memproduksi hasil pertanian dan bahan makanan lainnya, maka kebutuhan pangan di wilayah ini dipenuhi oleh daerah sekitar maupun berasal dari impor.

Kualitas pangan yang beredar di masyarakat masih rendah. Di Kota Yogyakarta masih banyak ditemukan makanan tidak sehat dan berbahan kimia berbahaya seperti zat pewarna sintetis, pengawet dan perasa yang tinggi yang beredar di masyarakat. Makanan tersebut justru banyak dikonsumsi oleh anak sekolah yang dapat mengancam kesehatan dan kecerdasan generasi mendatang.

Untuk itu dibutuhkan kebijakan yang lebih efektif untuk mengurangi atau menekan peredaran makanan mengandung zat berbahaya agar tidak semakin merugikan masyarakat.

Pengawasan kualitas pangan. Monitoring terhadap kualitas dan kesehatan pangan masih perlu ditingkatkan. Tata niaga pangan yang masih tidak efisien sehingga membuat volatilitas harga pangan tinggi.

5) Pertanian

Mengingat keterbatasan lahan pertanian di Kota Yogyakarta, maka kebijakan pembangunan pertanian dilaksanakan dengan mengembangkan pola pertanian komersial perkotaan yang mempunyai nilai tambah (added value) tinggi.

Untuk melaksanakan hal tersebut, pada tahun 2007 dilaksanakan launching Bursa Agro Jogja (BAJ) sebagai sarana promosi, informasi dan pemasaran komoditas pertanian dan ikan hias yang bernuansa hobbies, rekreatif dan edukatif. Sejak tahun 2009 pengelolaan BAJ disinergikan dengan relokasi pedagang satwa Pasar Ngasem menjadi Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY). Tetapi untuk Pemasaran tanaman hias yang masih terbatas.

6) Perdagangan

Daya saing produk lokal Kota Yogyakarta yang belum optimal di pasar internasional. Kota Yogyakarta bukan daerah pengekspor langsung, tetapi merupakan penyuplai daerah eksportir lainnya seperti Bali (untuk kerajinan peraknya), sehingga memberatkan bagi perkembangan ekspor jogja.

Penataan pasar/ritel modern perlu dilakukan untuk menciptakan persaingan sehat antar pemain maupun dengan pasar tradisional masih kurang optimal. Terkait dengan penataan pasar modern, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 89 Tahun 2009 tentang Pembatasan Usaha Waralaba Minimarket di Kota Yogyakarta. Tetapi terkait hubungan antara pasar modern dan pasar tradisional dalam hal kerjasama belum diatur. Selama ini pemerintah tidak dapat mengevaluasi apakah pasar tradisional yang telah memiliki perjanjian dengan pemerintah untuk mengakomodasi produk lokal dari pengusaha lokal telah ditepati atau tidak. Kegiatan evaluasi tersebut tidak dapat dilakukan karena tidak ada dasar hukum yang melatarbelakanginya.

Kegiatan promosi perdagangan yang ada selama ini belum memiliki target pasar yang jelas sehingga evaluasi juga sulit untuk dilakukan. Pemerintah lemah dalam kebijakan pengendalian pasar modern. Selain itu belum ada payung hukum untuk mengatur persaingan pasar modern dan tradisional atau persaingan antar mereka sendiri. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama antar lembaga untuk mempromosikan wisata perdagangan.

7) Industri

Hasil industri Kecil maupun Menengah di Kota Yogyakarta selama ini merupakan produk unggulan bagi wilayah ini. Selama Tahun 2007 sampai dengan semester I tahun 2011 berdasarkan data Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian Kota Yogyakarta, usaha yang bergerak di berbagai sektor perekonomian mengalami kenaikan yang cukup signifikan dengan perincian, industri berjumlah 4.569 unit usaha, perdagangan dan jasa 16.853 unit usaha dan koperasi berjumlah 550 kelompok serta pertanian berjumlah 147 kelompok. Lima jenis komoditas produk unggulan daerah yang dihasilkan industri kecil dan menengah meliputi mebel kayu, kulit lembaran disamak, sarung tangan golf, kerajinan perak dan kerajinan kayu. Sedangkan perusahaan industri besar dan sedang di Kota Yogyakarta sampai dengan semester I tahun 2011 sebanyak 33 perusahaan. Dari data tersebut maka industri kreatif dapat masuk pada kelompok industri dan perdagangan khususnya jasa.

Industri kreatif merupakan jenis industri yang berfokus pada penciptaan barang dan jasa dengan mengandalkan keahlian, bakat dan kreatifitas sebagai

kekayaan intelektual. Menurut tipenya industri kreatif dibedakan menjadi tiga tipe yaitu generative creativity yang merupakan bentuk asli dari kreatifitas yang diasosiasikan kepada ciptaan yang baru, unik atau berbeda dengan ciptaan sebelumnya. Kedua, adoptive creativity merupakan penemuan kreatif atas cara-cara baru hasil pengadopsian ide baru yang tercipta sebelumnya, untuk pengembangan proses yang baru dan untuk mendorong proses pengembangan itu sendiri. Ketiga, retentive creativity adalah penerapan ide baru pada gaya hidup konsumen dan penerapan ide baru pada operasi rutin suatu perusahaan. Atau dapat dikatakan jenis kreatifitas ini merupakan upaya untuk menerapkan secara berulang suatu temuan pada produk.

Di tingkat nasional pengembangan industri kreatif menemui beberapa masalah, antara lain: (a) kuantitas dan kualitas sumber daya manusia pelaku industri kreatif yang masih kurang memadai. (b) menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan induastri kreatif. (c) penghargaan/apresiasi terhadap insan kreatif dan karya kreatif yang dihasilkan masih rendah. (d) pertumbuhan teknologi informasi dan komunikasi yang masih perlu ditingkatkan funa medukung industri kreatif. (e) kebutuhan akan lembaga pembiayaan yang mendukung pelaku industri kreatif yang belum terpenuhi secara optimal.

Jika dibandingkan dengan kondisi industri kreatif di Kota Yogyakarta maka ada beberapa masalah sama yang dihadapi yaitu pada poin a dan e. Beberapa alasan yang mendasarinya adalah belum dipahaminya industri kreatif oleh stakeholder, belum adaya studi yang intensif yang diarahkan untuk memahami pola pengelolaan pengembangan industri kreatif serta dampaknya terhadap perekonomian Kota Yogyakarta, dan terbatasnya sumber pendanaan bagi pengembangan industri kreatif.

Untuk itu dibutuhkan perhatian pemerintah untuk meningkatka kegiatan industri kreatif. Agar pengembangan industri kreatif berjalan optimal maka pemerintah perlu menentukan tipe industri kreatif apa yang memungkinkan untuk dikembangkan terkait karakteristiknya. Sehingga diharapkan pengembangan dapat memiliki ukuran keberhasilan yang jelas dan tepat.

Pelatihan untuk industri kreatif masih terkendala dana. Pengembangan industri kreatif yang dilakukan oleh pemerintah selama ini belum optimal karena terkendala dana. Pemerintah juga belum mampu mengandalkan kerjasama dengan

pihak lain untuk mengembangkan industri kreatif. Pembinaan terhadap jenis industri kreatif masih sangat sedikit. Pada tahun 2011, pembinaan terhadap induatri kreatif hanya meliputi dua jenis usaha yaitu animasi dan distro, dan pada 2012 direncanakan ada penambahan yaitu jenis usaha toko online. Minimnya jumlah usaha industri kreatif yang dibina karena terkendala ketersediaan dana.