• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persentase Dana Tercapai Berdasarkan Kelompok

Sumber: Diolah oleh penulis dari www.gandengtangan.org.

4.4 Tentangwww.indonesiamengajar.org

Situs www.indonesiamengajar.org merupakan portal bagi organisasi non-profit Gerakan Indonesia Mengajar di bawah Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar (YGMI) yang diketuai oleh Hikmat Hardono. Indonesia mengajar digagas oleh Anies Baswedan yang saat ini menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2009. Gerakan ini terinspirasi dari pengalaman panjang yang dialami dan dicermati oleh Anies Baswedan dari berbagai generasi di Indonesia, pengabdian dan interaksi dengan berbagai elemen masyarakat dan juga pengetahuan modern yang dipetik dari akademik global.

Indonesia Mengajar (IM) adalah inisiatif publik yang mengajak masyarakat untuk terlibat aktif dalam gerakan memajukan pendidikan. Kegiatan utama IM adalah merekrut, melatih, mengirimkan dan mendampingi anak muda terbaik – yang disebut Pengajar Muda – untuk bertugas selama 1 tahun di pelosok Indonesia sebagai penggerak masyarakat sekaligus guru sekolah dasar. Selain mengajar IM juga mendorong perubahan perilaku yang positif dari para stakeholder serta bermitra secara intensif dan jangka panjang.

Sejak aktif mengirim Pengajar Muda sejak November 2010 hingga Juni 2015, IM telah menempatkan 621 Pengajar Muda di 161 SD, 151 Desa dan 85 Kecamatan di 17 Kabupaten, 16 Provinsi. Misi utama IM yakni, 1) menciptakan dampak yang berkelanjutan dari kehadiran Pengajar Muda di desa dan kabupaten penempatan, 2) membangun jejaring pemimpin masa depan yang memiliki pemahaman akar rumput, dan 3) membangun gerakan sosial pendidikan di Indonesia.

Sebagai organisasi yang turut melibatkan masyarakat dalam mewujudkan program-programnya, maka ada tiga bentuk keterlibatan masyarakat dalam IM, yakni:

1) Bergabung menjadi Pengajar Muda. IM mengajak pemuda-pemuda terbaik Indonesia yang memiliki semangat mengabdi dan cita-cita tinggi, untuk menjadi tenaga pendidik yang ditempatkan di berbagai pelosok Indonesia. Syarat menjadi Pengajar Muda adalah memiliki semangat juang, kemampuan adaptasi yang tinggi, menyukai tantangan dan kemampuan problem solving serta mampu menghargai dan berempati terhadap orang lain. disamping itu diutamakan yang belum menikah, sehat secara fisik dan mental, fresh graduate dengan IPK akademis yang baik dan di bawah umur 27 tahun.

10.00% 10.00% 15.00% 15.00% 5.00% 20.00% 5.00% 5.00% 10.00% 5.00% Jawa Barat Jawa Tengah Jakarta Banten Yogyakarta Jawa Timur Kaimantan Timur Sulawesi Selatan Nusa Tenggara Timur Papua Barat

2) Bergabung menjadi Relawan. IM mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadi relawan pada posisi sebagai;

 Asesor Pedagogi yaitu ahli dalam bidang pendidikan anak untuk melatih secara intensif para Pengajar Muda sebelum dikirim ke lapangan.

 Komite Rekrutmen yaitu tim yang bertugas mengundang dan menjaring pemuda-pemudi pemberani yang siap mengambil bagian menjadi Pengajar Muda.

 Indonesia Menyala yaitu menjadi penggerak meningkatkan minat baca masyarakat melalui gerakan perpustakaan yang ditempatkan di daerah tempat Pengajar Muda mengajar.

 Festival Gerakan IM yaitu relawan diajak untuk bertatapan langsung dengan Saudara sebangsa di ujung-ujung Republik.

 Ruang Belajar yaitu mengelola satu portal untuk para pengunjung www.indonesiamengajar.org untuk dapat mempelajari metode mengajar yang baik dan dapat diterapkan di tempat masing-masing.

3) Bergabung dalam Iuran Publik. Iuran publik adalah skema pendanaan IM yang melibatkan publik baik perorangan maupun institusi. Tujuan skema ini adalah memperlebar basis kepemilikan IM yang dalam jangka panjang akan memperkokoh pilar pendanaan yang lebih variatif. Publik diajak berpartisipasi dan bergotongroyong melalui iuran dana rutin untuk turut serta mengirimkan Pengajar Muda. IM mengajak publik terlibat dan ikut bertanggung jawab dalam gerakan untuk kemajuan pendidikan bangsa. lewat iuran, masyarakat ikut memiliki gerakan ini dan turut mendanai gerakan IM dengan komitmen iuran rutin sebesar Rp. 50 ribu s.d Rp. 1 juta per bulan (iuran perorangan) atau Rp. 2 juta s.d Rp. 10 juta per bulan (iuran institusi) selama jangka waktu 3-12 bulan.

Sejak beroperasi sampai dengan Juni 2015 dari seluruh total pendanaan yang dikelola oleh IM melalui iuran publik, iuran institusi yang berasal dari 24 Institusi (perusahaan) sebesar 43,16% dan iuran perorangan yang berasal dari 1698 orang sebesar 56,84%. Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan ke publik melalui portal www.indonesiamengajar.org sebagai bentuk pertanggungjawaban, yaitu pada tahun 2010 IM mengelola dana sebesar Rp. 6,4 miliar, pada tahun 2011 IM mengelola dana sebesar Rp. 10,4 miliar dan tahun 2012 IM mengelola dana sebesar Rp. 10,6 miliar. Adapun alokasi penggunaan dana program dimaksud ialah 6 % untuk proses rekrutmen, 23 % untuk pelatihan dan orientasi pasca penugasan, 59 % untuk penugasan satu tahun dan kerjasama daerah dan 12 % untuk pengelolaan program (YGIM, 2012 dan 2014).

4.5 Pembahasan

Berdasarkan hasil penelusuran dari keempat website maka beberapa temuan yang menjadi bahan utama pembahasan dan untuk menjawab perkembangan dan arah crowdfunding di Indonesia.

Partisipan dalam crowdfunding – para donatur, penyandang dana, kontributor

Tujuan

Keterlibatan masyarakat dalam upaya penggalangan dana oleh para inisiator atau pemilik kampanye tentu saja didasari oleh motivasi yang berbeda-beda. Pada kitabisa.com, masyarakat yang berpartisipasi dimotivasi oleh kesempatan yang terbuka lebar kepada masyarakat untuk terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, kemanusiaan, menyentuh masyarakat kecil dan berdampak bagi masyarakat. Masyarakat diberikan kesempatan untuk memilih kampanye yang mampu menggerakkan hati, apakah karena kesamaan gagasan, empati maupun untuk kemajuan dan dampak yang lebih besar bagi masyarakat dan lingkungan. Jadi, kitabisa.com lebih mengarah kepada partisipasi sosial.

Pada wujudkan.com, tujuan utama masyarakat yang ingin membantu mendanai sebuah proyek didasari oleh kesamaan semangat atas sebuah kreasi yang berhasil dan memukau. Wujudkan.com memberi ruang yang sangat luas kepada para kreator-kreator seni untuk dapat mewujudnyatakan ide dan kreasinya. Jadi, wujudkan.com lebih mengarah kepada partisipasi semangat kreatif. Sementera pada gandengtangan.org masyarakat berpartisipasi dalam aksi penggalangan dana didasari oleh motivasi dan gagasan untuk mewujudkan ekonomi kreatif dengan konsep wirausaha sosial. Masyarakat berinvestasi pada satu wirausaha sosial dengan memberikan pinjaman 0 %. Jadi, gandengtangan.org lebih mengarah kepada partisipasi investasi (pinjaman).

Berbeda dengan indonesiamengajar.org, kegiatannya sudah terencana dengan baik yang dikelola oleh YGIM. Masyarakat yang terlibat dalam pendanaan kegiatan mengajar di pelosok-pelosok tanah air termotivasi atas tanggungjawab sosial, kepedulian dan empati terhadap pendidikan di Indonesia. IM menawarkan sebuah gagasan untuk membantu perbaikan pendidikan Indonesia dan masyarakat diminta untuk dapat terlibat dalam bentuk iuran publik, menjadi relawan dan menjadi pengajar muda. Jadi, IM lebih mengarah kepada partisipasi sumber daya.

Karakteristik

Dari keempat platform yang ada beberapa karakteristik yang secara konsisten muncul ialah bahwa mekanisme penggalangan dana secara online ini merupakan sebuah inovasi baru dalam penggalangan dana melalui internet. Cara ini berbasis teknologi, mengutamakan jejaring sosial, menawarkan ide dan gagasan serta berlangsung dalam proses yang sangat interaktif. Bagi kitabisa.com dan wujudkan.com hal ini merupakan inovasi dalam menggunakan teknologi untuk memberi amal, menyumbang untuk kegiatan sosial, bencana alam, dan juga untuk mewujudkan kreasi-kreasi anak bangsa.

Pada gandengtangan.org ini merupakan sebuah pengalaman investasi yang baru. Dengan menggunakan teknologi kita dapat dengan leluasa mendanai usaha-usaha tertentu yang digagas oleh masyarakat kalangan bawah yang kesulitan modal usaha tetapi memiliki dampak yang besar untuk masyarakat dan lingkungan. Melalui crowdfunding masyarakat bisa melakukan indentifikasi terhadap semua kampanye dan memilih mana kampanye yang menarik dan dipercaya.

Peranan

Dari hasil penelusuran dari keempat platform, dapat diungkapkan keberadaan peranan yang berbeda-beda. Kitabisa.com berperan dalam perantara, menyeleksi dan mempromosikan berbagai kampanye dari para inisiator untuk tujuan memberikan bantuan secara sepenuhnya tanpa pamrih untuk aksi-aksi sosial, kemanusiaan dan juga kepentingan umum. Hampir sama dengan wujudkan.com berperan untuk memfasilitasi kreasi-kreasi anak bangsa menjadi kenyataan. Gandengtangan.org mendukung pertumbuhan dan perkembangan ekonomi masyarakat yang kesulitan untuk mendapatkan pendanaan secara mandiri dan konvensional namun wirausaha yang dikembangkan berdampak bagi masyarakat luas dan juga lingkungan. Pembeda dengan Indonesiamengajar.org adalah bahwa dalam mendukung program IM juga didukung oleh institusi atau perusahaan disamping juga iuran publik perseorangan.

Ukuran Investasi

Pada prinsipnya tidak ada batasan seberapa kecil atau seberapa besar donasi yang diberikan untuk sebuah kampanye. Namun, secara umum ditemukan bahwa ukuran donasi yang terkumpul berukuran kecil namun dengan jumlah yang banyak sehingga dana yang ditargetkan bisa tercapai.

Organisasi crowdfunding Tujuan

Terkait dengan perspektif organisasi yang menyelenggarakan inisiatif crowdfunding maka ditemukan tujuan dari masing-masing platform adalah; kitabisa.com merupakan layanan untuk membantu mendanai proyek-proyek individu, kelompok, komunitas, organisasi/NGO melalui internet dalam rangka mendanai proyek sosial seperti bantuan sosial, penanggulangan bencana, amal, infrastruktur untuk masyarakat dan juga kegiatan-kegiatan kreatif. Wujudkan.com bertujuan untuk memberdayakan para seniman, arsitek, musisi, sineas, aktor dan koki dalam komunitas global dan mewujudkan kreasi mereka menjadi kenyataan.

Pada gandengtangan.org tujuannya adalah membuka alternatif lain bantuan pendanaan modal bagi wirausaha sosial dengan menghubungkannya dengan para pemodal yang tertarik pada usaha yang ditawarkan. Jika pada indonesiamengajar.org tujuannya adalah melibatkan publik dalam kegiatan YGIM membantu pendidikan di Indonesia ke seluruh pelosok tanah air.

Peranan

Searah dengan tujuannya maka, kitabisa.com, wujudkan.com dan gandengtangan.org berperan sebagai mediator atau penghubung antara inisiator dan penyandang dana. Mereka juga melakukan verifikasi terhadap kampanye-kampanye sebelum dipublikasikan di publik untuk memastikan keabsahan kegiatan atau tujuan bantuan. Jika terkait dengan usaha, maka usaha harus benar-benar ada dan memiliki potensi untuk beroperasi minimal 6 bulan dan berkelanjutan. Sementara indonesiamengajar.org adalah bagian langsung dari YGIM dan berusaha menggalang dana untuk memberhasilkan program mereka dengan mempromosikan gagasan kepada publik dan institusi atau perusahaan.

Efek jaringan

Dari penelusuran yang dilakukan terhadap keempat platform yang dibahas menunjukkan bahwa keberhasilan crowdfunding sangat ditentukan oleh semakin luasnya jaringan yang dimiliki oleh pemilik kampanye dan juga penyebaran informasinya. Efek jaringan ini juga dipengaruhi oleh target kampanye seperti masyarakat umum, komunitas seni, para pemodal, atau juga keterlibatan tokoh atau public figure dalam sebuah kampanye. Salah satu cara membuat efek jaringan dengan cepat juga adalah melalui penyebaran informasi tentang kampanye melalui media sosial. Hal ini diakui dan disarankan oleh pelaku organisasi crowdfunding.

Inisiator Crowdfunding – Pemilik Kampanye Tujuan

Pada kitabisa.com inisiator sebuah kampanye bisa bertujuan untuk mengkampanyekan sebuah proyek untuk dirinya sendiri atau kelompoknya dan juga untuk memfasilitasi seseorang yang layak membutuhkan pertolongan atau infrastruktur di lingkungannya. Pada wujudkan.com inisiator kampanye umumnya adalah adalah para pelaku seni/kreasi atau komunitasnya yang bertujuan untuk mendapatkan pendanaan agar kreasi mereka dapat terwujud menjadi kenyataan.

Gandengatangan.org umumnya inisiatornya adalah seseorang yang baru memulai usaha, kelompok tani/ternak di masyarakat atau juga seseorang yang ingin melakukan pemberdayaan bagi masyarakat yang bertujuan untuk mendapatkan pendanaan berupa pinjaman tanpa bunga. Berbeda dengan indonesiamengajar.org, inisiatornya adalah IM sendiri yang bertujuan untuk mendapatkan dukungan sumberdaya dari masyarakat berupa tenaga pengajar, relawan dan juga iuran publik.

Peranan

Hampir pada semua kegiatan yang ada inisiator berperan sebagai penggagas atau pencetus sebuah ide, merencanakan idenya, menghitung semua biaya dan meminta dukungan dari publik dengan mengkampanyekannya melalui website untuk crowdfunding yang tersedia.

Karakteristik

Pada semua website yang ditelusuri inisiator umumnya adalah orang-orang yang memiliki gagasan-gagasan kreatif, berempati, inovatif, visioner, memahami teknologi dan memiliki jaringan yang kuat. Hal lain yang juga penting ialah bahwa para inisiator adalah orang-orang yang berintegritas dan dapat dipercaya, yang dapat dilihat dari hasil verifikasi semua dokumen-dokumen kampanyenya.

Efek Jaringan

Dari penelusuran dari ke empat website ditemukan bahwa semakin berpengaruh seseorang yang punya kampanye akan semakin besar peluang keberhasilan mencapai target kampanye. Dukungan dari tokoh atau public figure sangat dibutuhkan untuk mendapat efek jaringan yang luas. Dan keaktifan dari inisiator sendiri dalam mempromosikan kampanye kegiatannya melalui berbagai media yang ada.

4.6 Implikasi Crowdfunding pada Kegotongroyongan dan Aksi Kolektif

Jika dicermati konsep crowdfunding merupakan wujud dari kegotongroyongan. Gotong royong yang terbentuk karena adanya bantuan dari pihak lain, baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk kepentingan umum yang dilakukan dengan sukarela tanpa imbalan, maka konsep itu pulalah yang diterapkan pada mekanisme crowdfunding. Hanya saja kehadiran crowdfunding merupakan realitas yang ada di tengah-tengah masyarakat dewasa ini bahwa masyarakat kini berada pada era digital yang semuanya terkoneksi melalui jaringan internet dengan berbagai aplikasi yang ada didalamnya.

Dengan demikian arah budaya kegotongroyongan di Indonesia bukannya mati dan hilang melainkan telah bergeser pada kebiasaan menggunakan teknologi. Sebagaimana yang disebutkan oleh Koentjaraningrat bahwa gotong royong dapat berupa tolong menolong dan kerja bakti, maka crowdfunding juga menawarkan berbagai kategori yang jika diklasifikasikan merupakan bentuk gotong royong tolong menolong dan gotong royong kerja bakti. Berdasarkan penelusuran yang dilakukan terhadap keempat website ditemukan bahwa kecenderungan keberhasilan sebuah kampanye baik yang bersifat menolong seseorang, untuk mewujudkan sebuah acara tertentu ataupun membangun sebuah fasilitas umum cukup tinggi. Hal ini tergantung kepada tingkat kepercayaan publik yang mampu disajikan oleh inisiator dan dukungan yang ada dibelakangnya.

Terkait dengan aksi kolektif, maka prinsip-prinsip bahwa gagasan untuk membentuk kelompok atau melibatkan diri dalam kelompok tertentu ditentukan oleh tujuan yang sama merupakan prinsip yang berlaku pada mekanisme crowdfunding. Dari hasil penelusuran ke empat website, akumulasi kategori yang dibuka adalah sebanyak 30 kategori namun yang paling berhasil adalah enam kategori teratas yaitu acara/event, infrastruktur, kesehatan, pendidikan, pemberdayaan kelompok tani dan pengembangan teknologi tepat guna. Dengan demikian dapat diinterpretasikan bahwa arah budaya gotong royong masyarakat Indonesia untuk menolong dan terlibat dalam kerja bakti dalam logika crowdfunding adalah di bidang acara/event, infrastruktur, kesehatan, pendidikan, pertanian dan teknologi. 5. KESIMPULAN

Nilai-nilai kegotongroyongan dalam masyarakat Indonesia bukannya hilang atau bahkan mati, akan tetapi telah mengalami pergeseran bentuk seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Perkembangan TIK merubah model interaktifitas

antar yang satu dengan yang lain dalam kelompok masyarakat tertentu. Budaya baru dalam interaktifitas melalui internet tidak lagi membatasi ruang dan waktu tetapi mampu menghubungkan siapa saja kapan saja dan dimana saja.

Terkait dengan kegiatan-kegiatan atau aksi kolektif kemasyarakatan yang bertujuan untuk aksi-aksi sosial, kemanusiaan, penanggulangan bencana, menolong seseorang yang membutuhkan, pengembangan pendanaan wirausaha sosial, pendidikan dan masih banyak lainnya tetap bisa dilakukan dengan interakfitas dalam jejaring internet. Penelusuran terhadap kampanye pada crowdfunding di Indonesia ditemukan bahwa untuk satu kegiatan di sebuah wilayah tertentu di pelosok-pelosok Indonesia mampu menggerakkan ratusan bahkan ribuan masyarakat di belahan wilayah Indonesia lainnya untuk terlibat mewujudkan gagasan dimaksud atau menolong seseorang atau kelompok yang membutuhkan disana.

Maka dari analisis ini terhadap empat website yang menerapkan konsep crowdfunding di Indonesia maka dapat disimpulkan bahwa; perkembangan gerakan crowdfunding di Indonesia telah berada pada jalur yang baik sesuai dengan nilai-nilai kegotongroyongan yang melibatkan masyarakat untuk saling membantu dalam bentuk partisipasi sosial, semangat kreatif, investasi (pinjaman tanpa bunga) dan juga sumber daya. Partisipasi ini berbasis inovasi teknologi informasi dan komunikasi yang mengedepankan gagasan-gagasan kreatif dan menghubungkannya melalui jejaring sosial dan interaktifitas dalam dunia maya.

Disamping itu, berdasarkan penelusuran ditemukan bahwa arah budaya kegotongroyongan masyarakat Indonesia di internet cenderung mengarah pada kegiatan berbentuk acara/event, infrastruktur, kesehatan, pendidikan, pertanian dan teknologi tepat guna yang disertai dengan dukungan tokoh atau public figure dibelakang kampanye dimaksud serta kepercayaan dan integritas yang bisa ditunjukkan oleh inisiator atau pemilik kampanye.

6. DAFTAR PUSTAKA

Agarwal, N., Lim, M., & Wigand, Rolf T. 2011. “Collective Action Theory Meets the Blogosphere: A New Methodology. Communication in Computer and Information Science, Vol. 136 (3): 224-239.

Anggorowati, P.& Sarmini. 2015. “Pelaksanaan Gotong Royong di Era Global (Studi Kasus di Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan”. Kajian Moral dan Kewarganegaraan1 (3):39-53.

Berutu, L. 2005. “Gotong Royong, Musyawarah dan Mufakat Sebagai Faktor Penunjang Kerekatan Berbangsa dan Bernegara”. Jurnal Antropologi Sosial Budaya ETNOVISI 1(1):21-24.

Bintaro, R. 1980. Gotong Royong: Suatu Karakteristik Bangsa Indonesia. Surabaya: PT. Bina Ilmu.

Bradford, C. Steven. 2012. Crowdfunding and the Federal Securities Laws. University of Nebraska-Lincoln: College of Law, Faculty Publications.

Bray, D. Barton. 2008. Collective Action and the Role of Community Norms. Diakses dari http://p2pfoundation.net/index.php?title=Collective_Action_Theory&oldid=23716 pada tanggal 2 April 2016.

Chen, X. dan Ding, G. 2009. “New Media As Relation”. Chinese Journal of Communication 2 (3):367-379.

Davies, R. 2014. Civic Crowdfunding: Participatory Communities, Entrepreneurs and the Political Economy of Place. Cambridge: Department of Comparative Media Studies, Massachusetts Institute of Technology.

Dietrich, A. & Amrein, S. 2015. Crowdfunding MonitoringSwitzerland 2015. Grafenauweg: Lucerne School of Business, Institute of Financial Services Zug IFZ. Dolata, U. & Schrape, J. Felix. 2014. Masses, Crowds, Communities, Movements. Collecctive Formations in the Digital Age. Stuttgart: University of Stuttgart, Institute for Social Science, Department of Organiational Sociology and Innovation Studies. Gillinson, S. 2004. Why Cooperate? A Multi-Disciplinary Study of Collective Action.

London: Overseas Development Institute.

Gulati, S. 2014. “Crowdfunding: A Kick Starter for Startups”. Special Report TD Economics416-982-8063 : 1-13.

Hemer, J. 2011. A Snapshot on Crowdfunding. Karsluhe: Fraunhofer Institute for System and Innovation Research.

Hemetsberger, A. 2006. Understanding Consumers’ Collective Action on the Internet – A Definition and Discussion of Relevant Concepts for Research. Diakses dari http://flosshub.org/system/files/hemetsberger3.pdf tanggal 2 April 2016.

Hudson, S., Roth, Marthin S. & Madden, Thomas J. 2012. Customer Communications Management in the New Digital Era. Darla Moore School of Business University of South Carolina.

Kocer. S, 2015. “Social Business in Online Financing: Crowdfunding Narrative of Independent Documentary Producers in Turkey”. New Media & Society 17 (2) : 231-248.

Manovic, L. 2001. The Language of New Media. Cambridge, MA: MIT Press.

Mustaqin, Andika H. 2013. “Gotong Royong Dalam Dwilogi Padang Bulan dan Cinta Di Dalam Gelas Karya Andrea Hirata”. WANASTRA 4 (1):1-9.

Nazir, M. 2005. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia.

Olson, M. 2002. The Logic of Collective Action: Public Goods and the Theory of Groups. Cambridge MA: Harvard University Press.

Ordanini, A., Miceli, L., Pizzeti, M., & Parasuraman, A. 2011. “Crowdfunding: Transforming Curtomers Into Investors Through Innovative Service Platforms”. Journal of Service Management 22 (4) :443-470.

Philips, D. & Young, P. 2009. Online Public Relation: A Practical Guide to Developing an Online Strategy in the World of Social Media. London: Kogan Page.

Postmes, T. & Brunsting, S. 2002. “Collective Action in the Age of the Internet”. Social Science Computer Review. Vol. 20 No 3: 290-301.

Umar, H. 2002. Metode Riset Komunikasi Organisasi: Sebuah Pendekatan Kuantitatif Dilengkapi dengan Contoh Proposal dan Hasil Riset Komunikasi Organisasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Vanni, F. 2014. Agriculture and Public Goods: The Role of Collective Action.

Dordrecht:Springer.

Windah, A. 2012. “New Social Media And Public Relations: Review Of The Medium Theory”. Jurnal Sosiologi, Vol. 14, No. 1: 21-32.

YGIM. 2012. Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar Financial Statement 31 December 2011 and 2010. Jakarta: Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar.

YGIM. 2014. Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar Financial Statement 31 December 2012 and 2011. Jakarta: Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar

Referensi Website https://gandengtangan.org https://kitabisa.com

https://indonesiamengajar.org https://wujudkan.com