BAB IV PROSES RITUAL 1 SURO ATAU MUHHARAM DI
4.2 Persiapan Proses Ritual 1 Suro atau Muhharam
Persiapan proses ritual 1 Suro atau Muhharam ini berhubungan dengan tempat upacara, saat upacara atau pemilihan waktu, benda upacara, dan orang yang melakukan upacara. Persiapan-persiapan tersebut akan dijelaskan di bawah ini.
4.2.1 Tempat Upacara
Persiapan tempat upacara dilakukan satu hari sebelum perayakan proses ritual tanggal 1 Suro. Hal ini meliputi pemasangan umbul-umbul berwarna merah-putih disepanjang jalan masuk menuju Pamuksan Sri Aji Jayabaya. Kemudian pemasangan janur di pintu masuk pamuksan dan dilanjutkan dengan pembersihan (dengan cara mencuci) seluruh bagian bangunan dari lumut yang menempel. Pembersihan ini, meliputi: wilayah pendapa, Loka Muksa, Loka Busana, dan Loka Mahkota. Setelah keempat tempat bersih, kemudian di lantai Loka Muksa dan pendapa dipasangkan karpet berwarna merah sebagai alas duduk para pelaku proses ritual 1 Suro. Selanjutnya, pembersihan dilakukan dengan cara doa-doa
35
oleh juru kunci. Doa-doa ini bertujuan meminta izin kepada Sri Aji Jayabaya agar proses penyucian Loka Muksa dapat berjalan dengan lancar. Persiapan terakhir di pamuksan adalah penutupan pintu masuk untuk aktivitas umum, hingga menjelang acara proses ritual peringatan tahun baru Suro dilaksanakan.
Sedangkan di Sendang Tirtokamandanu persiapan dilakukan dengan memasang pagar yang terbuat dari bambu dengan hiasan janur disepanjang jalan masuk gerbang utama. Kemudian dilanjutkan dengan membersih bagian-bagian yang meliputi: pendapa, sumber air suci, pelataran depan, dan tempat untuk semadi. Setelah itu dilakukan doa-doa, meminta izin kepada Sri Aji Jayabaya agar proses penyucian Sendang Tirtokamandanu dapat berjalan dengan baik. Terakhir dilakukan penutupan wilayah Sendang Tirtokamandanu untuk aktivitas umum.
4.2.2 Saat Upacara
Pemilihan tanggal 1 Suro merupakan peringatan pergantian penanggalan Saka Hindu Jawa menjadi penanggalan Jawa. Sebab sebelum tahun 1633 Masehi masyarakat Jawa menggunakan sistem penanggalan berdasarkan pergerakan Matahari. Penanggalan Matahari dikenal sebagai Saka Hindu Jawa, meskipun konsep tahun Saka sendiri bermula dari sebuah kerajaan di India.
Tahun Saka Hindu 1555, bertepatan dengan tahun 1633 M., Raja Mataram Sri Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo mengganti konsep dasar sistem penanggalan Matahari menjadi sistem Bulan. Perubahan sistem penanggalan dapat dibaca dalam buku Primbon Adji Çaka Manak Pawukon 1000 Taun yang ditulis dalam bahasa Jawa. Dari naskah tersebut diketahui bahwa Sri Sultan Agung Prabu
Hanyokrokusumo mengubah sistem penanggalan yang digunakan, dari sistem Syamsiyah (Matahari) menjadi Komariyah (Bulan). Perubahan penanggalan berlaku untuk seluruh Pulau Jawa dan Madura kecuali Banten, karena tidak termasuk daerah Mataram.
Perubahan sistem penanggalan dilakukan hari Jumat Legi, saat pergantian tahun baru Saka 1555 yang ketika itu bertepatan dengan tahun baru Hijriah tanggal 1 Muharam 1043 H dan 8 Juli 1633 M. Pergantian sistem penanggalan tidak mengganti hitungan tahun Saka 1555 yang sedang berjalan menjadi tahun 1, melainkan meneruskannya. Hitungan tahun tersebut berlangsung hingga saat ini.
Selain mengubah sistem penanggalan, ada penyesuaian-penyesuaian seperti nama bulan (month)36 dan hari (day)37. Yang semula menggunakan bahasa Sansekerta menjadi bahasa Arab atau mirip bahasa Arab. Hal ini menunjukkan kuatnya pengaruh penanggalan Islam dalam penanggalan Jawa.
Perbedaan kalender Jawa dengan kalender Masehi dan Hijriah selain terdapat pada konsep mingguan atau pasaran yang terdiri dari lima hari (Kliwon, Legi, Pahing, Pon, Wage) dan Wuku (Pawukon)38 juga terdapatnya siklus delapan tahunan yang disebut windu yang merupakan konsep penanggalan khas Jawa.
36
Penyesuaian bulan ini menggunakan bahasa yang mirip bahasa Arab, seperit: Sura, Sapar, Mulud, Bakdamulud, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Sela, Besar. Lihat juga Lihat juga http://www.babadbali.com/pewarigaan/kalender-jawa.htm
37
Penyesuaian nama hari disebut juga sebagai Saptawara, yaitu: Soma (Senin), Anggara (Selasa), Buda (Rabu), Respati (Kamis), Sukro (Jumat), Tumpah (Sabtu), dan Dite atau Radite (Minggu). Masing-masing hari tersebut memiliki neptu dina atau nilai hari, misalnya: Soma bernilai 4. Lebih lanjut lihat (Ensiklopedi, 1975: 284)
38
Pawukon berasal dari kata wuku adalah perhitungan waktu yang berjumlah 30 wuku dan setiap wuku lamanya 7 hari. Wuku-wuku tersebut ialah Sinta, Landep, Wukir, Kurantil, Tolu, Gumbreg, Warigalit, Warigagung, Julungwangi, Sungsang, Galungan, Kuningan, Langkir, Mandasiya, Julungpujud, Pahang, Kuruwelut, Marakeh, Tambir, Madhangkungan, Maktal, Wuye, Manail, Prangbakat, Bala, Wugu, Wayang, Kulawu, Dhukut, dan Watugunung. Lihat juga (Ensiklopedi,
Nama tahun dalam penanggalan Jawa mengikuti siklus Windu, terdiri dari Alip,
Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir. Kalender Jawa lebih tepat disebut sebagai penggabungan unsur-unsur Jawa dengan penanggalan Hijriah.39
Pemilihan tanggal 1 Suro ini sebagai peringatan pada pergantian tahun yang dilakukan oleh Sri Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo dan untuk menjaga kelestariannya. Proses ritual 1 Suro 1939 tahun Alip di Petilasan Sri Aji Jayabaya Desa Menang Kota Kediri bertepatan dengan tanggal 31 Januari 2006. Pelaksanaan proses ritual ini dimulai pada pukul 08.00 dengan tujuan agar tidak berbenturan dengan jadwal pelaksanaan ritual penyucian pusaka yang diadakan oleh keraton Yogyakarta di pantai Parangtritis. Hal ini ditegaskan oleh Bapak Priyo yang mengatakan “rangkaian ritual ziarah di bulan Suro ini mempunyai dua parayaan, yaitu: peringatan tahun baru Suro (tanggal 1 Suro) di Petilasan Sri Aji Jayabaya dan upacara labuhan di pantai Parangkusumo Yogyakarta. Karena mengikuti tatacara keraton Yogyakarta Hadiningrat maka waktu pelaksanaannya juga disesuaikan supaya jadwalnya tidak berbenturan” (penutur Bapak Suraten, laki-laki, 56 tahun, juru kunci Sendang Tirtokamandanu, Desa Menang. Direkam pada hari Selasa, 31 Januari 2006, oleh Joko Nugroho, di pelataran depan Sendang Tirtokamandanu).
4.2.3 Benda Upacara
Persiapan benda upacara ini terdiri dari anglo dan kemenyan, sesaji bunga, peralatan tetabuhan, dan busana.
a. Anglo atau tungku untuk membakar kemenyan
Tungku untuk membakar kemenyan atau anglo terdiri dari dua macam, yaitu: tungku untuk proses ritual perarakan dan tungku untuk berdoa di Pamuksan Sri Aji Jayabaya serta Sendang Tirtokamandanu. Tungku untuk doa di pamuksan dan sedang ini dibersihkan dahulu dari sisa-sisa kemenyan yang menempel dengan cara menyikat seluruh bagian tungku. Dua tungku untuk perarakan dibersihkan dengan cara menyikat dan menyepuh seluruh bagian tungku. Menyepuh dalam KBBI (1988: 920), berarti menuakan warna emas dengan campuran sendawa, tawas, dsb. Jadi dengan disepuh,40 warna keemasan dari tungku untuk kemenyan akan telihata lebih mengkilap. Kedua tungku untuk proses ritual perarakan ini memang dipersiapkan khusus untuk proses ritual 1 Suro di Petilasan Sri Aji Jayabaya.
b. Sesaji Bunga
Persiapan untuk sesaji bunga, yaitu penduduk setempat Desa Menang memetik bunga mawar dan melati pada pagi hari. Sesaji bunga ini kemudian dikumpulkan di pendapa Desa Menang sebelum proses ritual pembukaan berlangsung.
c. Peralatan Tetabuhan atau Alat Musik yang di Pukul
Peralatan tetabuhan ini sebelum digunakan dalam acara proses ritual 1 Suro terlebih dahulu disepuh dan nadanya disesuaikan. Tujuan menyepuh ini agar alat musik terlihat lebih mengkilat dan suaranya menjadi nyaring. Membenarkan
nada berfungsi agar semua alat musik ini senada dan menjadi merdu untuk didengarkan.
d. Busana
Busana proses ritual 1 Suro yang disiapkan oleh panitia adalah busana untuk proses perarakan yang terdiri dari: busana barisan Subo Manggolo Putri, Pembawa Bunga, Pembawa Payung dan Pembawa Tungku. Selain itu busana ini disiapkan oleh masing-masing pelaku proses ritual, sebab merupakan koleksi pribadi mereka.
4.2.4 Orang yang Memimpin dan Melakukan Upacara
Orang yang memimpin proses ritual 1 Suro atau juru kunci mempersiapkan diri sejak satu hari sebelum acara ziarah tahun baru Suro diadakan. Setelah penyucian tempat upacara, juru kunci berkumpul dan melakukan penyucian diri di Loka Muksa untuk membersihkan batin mereka masing-masing. Demikian juga juru kunci yang ada di Sendang Tirtokamandanu. Penyucian ini dilakukan dengan cara bersemadi dari pukul 18.00 – 19.00. Bersemadi ini bertujuan untuk meminta petunjuk dan restu dari Sri Aji Jayabaya agar juru kunci sebagai pemimpin proses ritual dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Setelah semadi acara dilanjutkan dengan tirakatan atau begadang bersama peziarah yang sudah datang.
Sedangkan orang yang melakukan proses ritual 1 Suro dibagi menjadi tiga, yaitu: peziarah aktif, peziarah pasif, dan penonton. Peziarah aktif adalah mereka yang mengikuti proses ritual dari awal hingga akhir atau mereka yang ikut dalam
barisan perarakan. Peziarah aktif ini terdiri dari penduduk setempat Desa Menang dan perwakilan dari Yayasan Hondodento. Peziarah pasif adalah mereka yang hanya mengikuti proses ritual 1 Suro hanya di Pamuksan Sri Aji Jayabaya atau di Sendang Tirtokamandanu saja. Biasanya peziarah pasif ini terdiri dari orang-orang yang sudah berusia lanjut dan berasal dari luar Desa Menang. Sedangkan peziarah sebagai penonton ini adalah mereka mengikuti jalannya proses ritual 1 Suro dari awal hingga akhir namun tidak ikut langsung menjadi pelaku ritual. Sebagai penonton bukan berarti tidak mengikuti proses ritual namun lebih disebabkan karena keterbatasan tempat di pamuksan.
Persiapan yang dilakukan oleh peziarah aktif adalah merias diri dan memakai busana yang dibutuhkan untuk proses ritual perarakan. Persiapan ini dilakukan sejak pukul 04.00, baik penduduk setempat Desa Menang atau perwakilan Yayasan Hondodento. Sedangkan persiapan peziarah pasif dilakukan sendiri-sendiri atau ada juga yang menyiapkan sehari sebelum pelaksanaan dengan mengikuti acara tirakatan bersama juru kunci.