BAB IV PROSES RITUAL 1 SURO ATAU MUHHARAM DI
4.3 Pelaksanaan Proses Ritual 1 Suro atau Muhharam
4.3.1 Proses Ritual di Pamuksan Sri Aji Jayabaya
Proses ritual 1 Suro di Petilasan Sri Aji Jayabaya ini diawali dengan acara pembukaan di pendapa Desa Menang yang terdiri dari: laporan ketua panitia, sambutan kepala Desa Menang, dan sambutan dari perwakilan Pemerintah Daerah Kota Kediri41. Acara pembukaan ini diakhiri dengan penyerahan tongkat Kyai Bimo42 dari pihak Yayasan Hondodento kepada juru kunci pamuksan. Kemudian proses ritual dilanjutkan dengan acara pemberangkatan perarakan tongkat Kyai Bimo oleh perwakilan Pemerintah Tingkat II Propinsi Jawa Timur43. Proses ritual perarakan pusaka Kyai Bimo dimaksudkan supaya kesaktian yang memancar dari pusaka itu dapat memberi pengaruh baik kepada yang melihat maupun tempat tinggal penduduk Desa Menang.
Barisan proses ritual perarakan, terdiri dari: barisan pertama adalah barisan Subo Manggolo Putri berjumlah lima orang. Syarat barisan Subo Manggolo Putri adalah lima orang yang masih gadis dan pada saat proses ritual 1 Suro berlangsung tidak sedang mengalami datang bulan atau menstruasi. Sebab barisan Subo Manggolo Putri merupakan cermin dari kesucian proses ritual 1 Suro itu sendiri.
41
Dahulu perwakilan Pemerintah Daerah Kota Kediri selaku undangan Yayasan Hododento untuk mengikuti proses ritual 1 Suro dan menyambut kedatangan Sri Sultan Hamengkubuwono X yang selalu ikut berziarah ke Petilasan Sri Aji Jayabaya setiap perayaan tahun baru Suro. Namun sekarang kedatangan perwakilan Pemerintah Daerah Kota Kediri ini didasarkan atas kepedulian terhadap warisan budaya sebagai tempat ziarah dan pariwisata.
42
Tongkat Kyai Bimo ini adalah pusaka milik keraton Yogyakarta. Sebelum dibawa ke Petilasan Sri Aji Jayabaya pusaka ini telah disucikan dalam proses ritual penyucian pusaka di Parang Tritis.
43
Dahulu perwakilan Pemerintah Tingkat II Propinsi Jawa Timur selaku undangan Yayasan Hododento untuk mengikuti proses ritual 1 Suro dan menyambut kedatangan Sri Sultan Hamengkubuwono X yang selalu ikut berziarah ke Petilasan Sri Aji Jayabaya setiap perayaan tahun baru Suro. Namun sekarang kedatangan perwakilan Pemerintah Tingkat II Propinsi Jawa Timur ini didasarkan atas kepedulian terhadap warisan budaya sebagai tempat ziarah dan
Barisan kedua adalah pembawa tungku, berjumlah empat orang remaja putra yang terdiri dari: dua orang pembawa kemenyan dan dua orang pembawa tungku perarakan. Tugas barisan ini adalah untuk memberi keharuman suasana proses ritual yang sedang berlangsung.
Barisan ketiga adalah barisan tabur bunga, berjumlah sepuluh orang yang terdiri dari: anak-anak setingkat Sekolah Dasar. Tugas dari barisan ini adalah menaburkan bunga di Pamuksan Sri Aji Jayabaya dan di Sendang Tirtokamandanu pada saat proses ritual tabur bunga. Di antara barisan tabur bunga terdapat sepuluh remaja putra yang bertugas sebagai pembawa payung. Barisan pembawa payung merupakan anak-anak setingkat Sekolah Lanjutan Tahap Pertama. Tugas barisan ini adalah memayungi atau membuat suasana sejuk bagi barisan penabur bunga.
Barisan keempat adalah barisan pendamping, berjumlah dua orang yang terdiri dari: Kepala Desa Menang yang sedang menjabat dan istri atau anaknya. Dan dalam proses ritual 1 Suro yang bertepatan dengan tanggal 31 Januari 2006 ini Kepala Desa Menang didampingi oleh anaknya. Tugas barisan ini adalah mendampingi dan mengayomi barisan perarakan yang ada di depannya.
Barisan kelima adalah barisan pembawa pusaka, berjumlah satu orang. Tugasnya adalah menjaga pusaka saat proses ritual perarakan berlangsung.
Barisan terakhir adalah barisan pengawas, berjumlah tiga orang juru kunci dan satu orang tetua dari Desa Menang. Tugas barisan ini mengawasi jalannya perarakan dan proses ritual tahun baru Suro dari awal hingga akhir. Di belakang
barisan pengawas ini merupakan barisan peserta yang terdiri dari: panitia proses ritual 1 Suro, perwakilan Yayasan Hondodento, dan peziarah secara umum.
4.3.1.1 Tempat Upacara
Tempat upacara dalam proses ritual 1 Suro ada dua bagian, yaitu: pendapa Desa Menang dan Pamuksan Sri Aji Jayabaya. Kegunaan pendapa Desa Menang sebagai proses ritual pembukaan dan juga pemberangkatan barisan perarakan menuju Pamuksan Sri Aji Jayabaya. Sedangkan di Pamuksan Sri Aji Jayabaya tempat yang digunakan adalah Loka Muksa, Loka Busana, Loka Mahkota, halaman pamuksan, dan pendapa. Di depan Loka Muksa digunakan juru kunci dan tetua Desa Menang untuk memimpin jalannya proses ritual 1 Suro. Sedangkan Loka Muksa digunakan untuk proses ritual caos dahar atau sesaji makanan.44 Tempat proses ritual tabur bunga berada di sebelah Loka Busana yang sudah disediakan sepetak tanah yang berbentuk persegi panjang. Loka Mahkota digunakan hanya untuk proses ritual sesaji makanan saja. Peziarah aktif menggunakan halaman pamuksan untuk duduk dan menunggu giliran melaksanakan tugas-tugas mereka. Pendapa pamuksan digunakan peziarah pasif untuk mengikuti jalannya proses ritual 1 Suro. Sedangkan peziarah sebagai penonton diperkenankan mengikuti proses ritual dari luar pagar wilayah pamuksan. Sebab setelah barisan perarakan masuk ke dalam wilayah pamuksan, pintu gerbang segera ditutup.
44
Sesaji makanan ini tidak berupa bermacam-macam makanan seperti dalam Bab III, namun berwujud bunga melati dan mawar. Sesaji makanan berbentuk bunga ini diperuntukkan Sri Aji
4.3.1.2 Saat Upacara
Pelaksanaan proses ritual 1 Suro di Pamuksan Sri Aji Jayabaya dimulai sekitar + pukul 09.00 dan berakhir pada pukul 12.00 WIB. Proses ritual ini diadakan setelah proses ritual perarakan benda pusaka Kyai Bimo dari balai Desa Menang menuju Pamuksan Sri Aji Jayabaya.
4.3.1.3 Benda Upacara
Benda upacara ini dibagi atas beberapa bagian, seperti tungku untuk kemenyan, sesaji bunga, alat musik, dan pakaian. Semua perlengkapan proses ritual ini akan dijelaskan di bawah ini.
1. Tungku untuk membakar kemenyan
Tungku utama berada di Pamuksan Sri Aji Jayabaya dan Sendang Tirtokamandanu untuk proses ritual tabur bunga. Sedangkan kedua tungku untuk perarakan digunakan untuk mendampingi proses ritual perarakan benda pusaka dari balai Desa Menang hingga tiba di Pamuksan Sri Aji Jayabaya.Tungku untuk mengiringi perarakan ini harus tetap dalam keadaan menyala sepanjang perjalanan. Sedangkan tungku utama dinyalakan pada pagi hari sebelum upacara pembukaan dimulai, walaupun penggunaannya menunggu kedatangan barisan perarakan.
Pemilihan kemenyan ini harus yang terbaik, sebab kemenyan ini dipakai juga sebagai caos dahar atau sesaji makanan untuk Sri Aji jayabaya. Kemenyan untuk proses ritual perarakan selain berguna sebagai sarana keharuman juga berguna untuk memberi makan kepada makhluk halus sepanjang perjalanan.
Dengan diberi makanan berupa kemenyan ini diharapkan makhluk halus tersebut tidak menggangu jalannya proses ritual perarakan. Sedangkan kemenyan di pamuksan selain untuk sarana keharuaman saat berdoa juga berfungsi sebagai pengantar doa atau mantra pada saat proses ritual 1 Suro di pamuksan sedang berlangsung.
2. Sesaji bunga
Sesaji bunga dalam proses ritual 1 Suro ini adalah bunga melati dan mawar. Bunga melati merupakan bunga yang harum baunya. Bunga melati juga melambangkan kesucian. Bunga melati ini diartikan sebagai pencerminan keharuman dan kesucian nama Sri Aji Jayabaya.
Bunga mawar dihubungkan dengan kata tawar yang mengandung makna menawar atau menolak hambatan atau godaan yang tidak diinginkan. Bunga mawar ini dilambangkan sebagai penolak hambatan dan godaan saat mengadakan proses ritual 1 Suro di Petilasan Sri Aji Jayabaya.
3. Alat musik
Alat musik ini terdiri dari: kenong, kempul, dan kendang. Kenong ini jika ditabuh atau dipukul bunyinya nong – nong – nong. Kalau dicocokkan dengan bahasa Jawa yaitu Nong – nung – ning, maka maksudnya Nong kana – Nung kono – Ning kene ( Di sana – Di situ – Di sini). Kempul, kalau dipukul suaranya akan berbunyi Pung, pung-pung bunyi seperti ini diartikan dengan kumpul-kumpul.
Kendang, alat ini jika ditabuh akan kedengaran Ndang ndang-tak, Ndang-ndang tak suara seperti ini mengandung makna cepat-cepat. Ndang (enggal-enggal, cepat-cepat). Ndang tak (yen di tak enggal-enggal padha tumandang) kalau
diperintah cepat-cepat dilaksanakan. Jadi dalam alunan musik ini memiliki makna sebagai berikut: wahai orang-orang yang di sana, di situ, dan di sini marilah semua berkumpul cepat-cepat. Makna yang terkandung dalam alunan musik ini dihubungkan dengan berkumpul untuk melaksakan proses ritual 1 Suro di Petilasan Sri Aji Jayabaya.
4. Pakaian
Barisan Subo Manggolo yang terdiri dari lima remaja putri ini memakai rias wajah berupa wedak gahdung45dengan diberi hiasan berupa garis di atas dan
di bawah kelopak mata. Rambut digelung konde46 dengan hiasan di atasnya
berupa dua buah tusuk konde. Pakaian bagian atas mengenakan kebayak panjang tanpa kuthubaru47dan diganti dengan kancing baju biasa. Kebaya tanpa memakai
kuthubaru ini mempunyai makna bahwa pemakainya belum pernah mempunyai suami atau anak. Pakaian bagian bawah adalah kain batik panjang dan tidak mengenakan alas kaki.
Barisan kemenyan berjumlah empat orang ini pada bagian kepala mengenakan udeng atau ikat kepala. Pakaian bagian atas adalah baju wakthung48
berwarna kuning dengan tiga buah kancing dipergelangan tangan. Pakaian bagian bawah adalah kain batik tanpa mengenakan alas kaki.
45
Wedak gahdung atau wedak teles adalah bedak yang terbuat dari bahan beras.
46
Gelung konde merupakan jenis sanggul yang dibentuk dengan cara mengikat seluruh rambut ke belakang dipuntir mulai dari atas hingga ke bawah. Kemudian dibentuk dua bulatan yang menindih sebagian antara yang satu dengan yang lain. Masing-masing sisi dikencangkan dengan tusuk konde (biasanya terbuat dari logam) dengan cara menyelipkannya di tengah-tengah sanggul.
47 Kuthubaru adalah kancing yang berbentuk bulat-bulat berwarna emas.
48
Wakthung merupakan singkatan dari krowak di buthung atau krowak di punggung yang artinya baju yang berlubang di bagian punggung. Adapun bentuk dari pakaian wakthung ini merupakan
Barisan tabur bunga yang terdiri dari sepuluh orang ini memakai rias wajah berupa wedak gahdung dengan diberi hiasan berupa garis di atas dan di bawah kelopak mata. Rambut diberikan gelung konde dengan hiasan di atasnya berupa dua buah tusuk konde. Pakaian bagian atas digunakan kemben atau kain berwarna emas dengan motif pelangi yang dibalutkan pada badan remaja putri tersebut. Pada leher dikenakan kalung yang terbuat dari kain dengan motif disesuaikan dengan kemben. Pakaian bagian bawah adalah kain panjang batik dan tidak mengenakan alas kaki.
Barisan pembawa payung yang berjumlah sepuluh orang ini memakai
udeng mondolan49 pada bagian kepala. Pakaian bagian atas adalah baju wakthung
berwarna hitam dengan tiga buah kancing dipergelangan tangan. Pakaian bagian bawah adalah kain batik panjang dan tidak mengenakan alas kaki.
Barisan pendamping, yaitu kepala Desa Menang dan seorang pendamping. Kepala Desa Menang ini memakai udeng atau ikat kepala pada bagian kepala. Pakaian bagian atas adalah baju wakthung berwarna hitam dengan tiga buah kancing dipergelangan tangan. Pakaian bagian bawah adalah kain batik dan mengenakan selop50 untuk alas kaki. Dan pendampingnya memakai rias wajah
berupa wedak gahdung dengan diberi hiasan berupa garis di atas dan di bawah kelopak mata. Rambutnya diberikan gelung konde dengan hiasan di atasnya berupa dua buah tusuk konde. Pakaian bagian atas digunakan kebayak berwarna
49 Cara memakai udeng mondoloan adalah rambut digelung dan dimasukkan ke dalam ikat kepala, sehingga membentuk benjolan di belakang kepala.
50
kuning. Pakaian bagian bawah adalah jarik atau kain batik dan mengenakan selop
untuk alas kaki.
Barisan pembawa pusaka yang berjumlah satu orang ini memakai udeng mondolan pada bagian kepala. Pakaian bagian atas adalah baju wakthung
berwarna biru dengan tiga buah kancing dipergelangan tangan. Pakaian bagian bawah adalah kain batik dan tidak mengenakan alas kaki.
Barisan pengawas yang terdiri dari juru kunci dan tetua Desa Menang memakai udeng mondolan pada bagian kepala. Pakaian bagian atas adalah baju
wakthung berwarna hitam dengan tiga buah kancing dipergelangan tangan. Pakaian bagian bawah adalah kain batik tanpa mengenakan alas kaki.
Barisan peserta yang terdiri dari: panitia proses ritual 1 Suro, perwakilan Yayasan Hondodento, dan peziarah secara umum ini kebanyakan pada pakaian bagian atas mengenakan kebayak dan selendang untuk wanita sedangkan baju
wakthung untuk pria. Sedangkan bagian bawah tetap mengenakan jarik dan memakai selop untuk alas kaki.
4.3.1.4 Orang yang Memimpin dan Melakukan Upacara
Setelah sampai di Pamuksan Sri Aji Jayabaya, kemudian ketiga juru kunci dan tetua Desa Menang maju hingga berada di depan pintu masuk Loka Muksa. Acara dilanjutkan dengan unjuk atur atau doa pembukaan. Doa pembukaan proses ritual ini dipimpin oleh tetua dari Desa Menang seperti dalam kutipan di bawah ini.
“Sak uro ura uri kaluhuran dalem Gusti Moho Agung. Ingkang sur mantep suryo kaping 29 Agustus 1472 keluarga Hondodento sampun hanidik. Ingkang kalejengipun kabantu
kepareng dalem Sang Prabu Sri Aji Jayabaya, kagungan dalem Luko Mukso kapugar ngantos rampung, ing suryo 17 april 1976 utawi 17 mulud 1908 Alip. Sedoyo ingkang sami marang was wonten ngarso kadetan mugi angsal berkah kaagus saking ingkang kamoho kraos. Lestari soho saget tho amiludho kito sedoyo kajenge lungo nis ing sambi kolo, soho saget tho ambaling suci, kaluhuran, lan mulyo. Mugi kaluhuran, kawicaksanaan soho puncaraning Sang Prabu Sri Aji Jayabaya sandoyonono soho murah katatanan dateng kito sedoyo. Nitahipun dateng nusa, bangsa, serto negari Republik Indonesia ingkang berdasar Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945. Mugi ing samangke toto, titi, tentrem, karto raharjo, adil, poro wartos, kados pangayomanipun kawulo dalih krom magrok. Mugi Gusti ingkang Moho Kraos hamijapono
Menang Suryo kaping 31 januari 2006
Panitia Ziarah Desa Menang soho Yayasan Hondodento kalepatanipun satrio kawulo”. Terjemahannya:
“Puja dan puji keluhuran untuk Tuhan Yang Maha Agung. Yang pada tanggal 29 Agustus 1427 keluarga Hondodento telah berdiri. Dalam perjalanannya sudah dibantu oleh kelompok kepercayaan rohani Sumber Karanganyar di Plered Yogyakarta. Keperluannya di sini supaya diperkenankan oleh Sang Prabu Sri Aji Jayabaya, agar Loka Muksa dapat dipugar dan sudah selesai, pada tanggal 17 April 1976 atau 17 Mulud 1908 Alip. Semua yang telah diberikan itu semoga mendapatkan berkah yang agung dari Sang Dewata. Semoga lestari dapat menauingi kita semua dan supaya pergi semua bahaya, maka terciptalah kesucian, keluhuran, dan kemulyaan. Semoga keluhuran, kebijaksanaan yang terpancar dari Sang Prabu Sri Aji Jayabaya dengan kemurahannya dapat menaungi kita semua. Titahnya merahmati nusa, bangsa, serta negara republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945. Semoga semua penataan, ketentraman, kesejahteraan, adil, dan makmur, menjadi pelindung manusia. Semoga Tuhan Yang Maha Tahu memberikan berkatNya.
Menang tanggal 31 Januari 2006
Panitia Ziarah Desa Menang dan Yayasan Hondodento memohon maaf sebesar-besarnya.”
(penutur Bapak Sumadi (sebagai pengganti pak Pleret), laki-laki, 66 tahun, tetua Desa Menang, Desa Menang. Direkam pada hari Selasa, 31 Januari 2006, oleh Joko Nugroho, di depan Loka Muksa).
Dalam doa pembukaan ini lebih menekankan pada sejarah berdiri Petilasan Sri Aji Jayabaya dan dilanjutkan dengan ijin untuk memulai proses ritual peringatan tahun baru Suro. Ternyata dalam doa pembukaan ini tidak hanya untuk proses ritual semata melainkan juga bertujuan untuk mendoakan seluruh negara Indonesia.
Doa pembukaan di atas kemudian dilanjutkan doa bersama dengan menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini dikarenakan peziarah yang mengikuti proses ritual 1 Suro ini tidak semuanya dapat mengerti bahasa Jawa. Pergeseran bentuk doa yang dipimpin oleh juru kunci ini seperti dalam kutipan di bawah ini.
Ya Tuhan Yang maha mulia dengan segala kerendahan hati kami panjatkan puji syukur kehadiratMu karena atas RidhoMu hari ini Seloso Pon 31 Januari 2006 kami dapat berkumpul dipusat wilayah petilasan Sang Prabu Sri Aji Jayabaya dalam rangka ziarah dan peringatan tahun baru Jawa 1 suro tahun Alip 1939. Ya Allah Ya Tuhan Maha Pengasih dan Pengampun ampunilah dosa kami dan dosa-dosa para pahlawan dan leluhur kami serta terimalah jasa dan pengorbanan jiwa raganya yang telah mereka persembahkan untuk meraih kejayaan bangsa dan negara kami. Berilah mereka ketempat yang sebaik-baiknya di sisiMu sesuai dengan dharma bhaktinya. Ya Allah Ya Tuhan yang maha arif dan bijaksana berikanlah kepada kami dan pemimpin kami kekuatan, keteguhan, petunjuk, dan tuntunanMu sebagaimana telah engkau berikan kepada para pemimpin dan leluhur kami. Perkenankanlah kami dan generasi penerus kami mewarisi sifat-sifat budi pekerti para pahlawan dan leluhur kami dalam memelihara, mengisi kemerdekaan bangsa dan negara kami yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Ya Allah ya Tuhan Yang maha Agung berkatilah hidup kami kini dalam mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan, lahir dan batin, baik di dunia maupun dikemudian. Hindarkanlah kami dari segala mara bencana dan mara petaka, mudahkanlah jalan yang kami tempuh dalam mencapai cita-cita masyarakat adil dan makmur. Ya Allah Yang Maha Mengetahui, jadikanlah upacara ziarah ini sebagai sarana untuk membangkitkan semangat generasi penerus kami dalam melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai luhur sejarah dan budaya bangsa. Sekalipun mendorong ketulusan jiwa bagi kami dan generasi penerus kami untuk meneruskan dharma bhakti para pahlawan dan leluhur kami dalam mengabdikan diri kepadaMu, kepada bangsa, dan negara kami Republik Indonesia. Ya Allah ya tuhan yang maha kuasa kepadaMulah kami menyembah dan berserah diri serta kepadaMulah kami memohon pertolongan. Ya Allah Ya Tuhan yang maha pengasih dan penyayang kabulkanlah doa kami. Amin Ya Robbil Alamin”.
(penutur Bapak Suraten, laki-laki, 64 tahun, tetua Desa Menang, Desa Menang. Direkam pada hari Selasa, 31 Januari 2006, oleh Joko Nugroho, di depan Loka Muksa).
Doa dalam proses ritual tanggal 1 Suro ini ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk mengenang keberadaan Sri Aji Jayabaya. Doa ini juga menitikberatkan kepada peringatan raja Jayabaya sebagai ksatria karena keberanian dan ketangguhannya dalam berperang. Hal ini dihubungkan dengan kakawin Baratayudha yang ditulis oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Harapannya agar sikap ksatria raja Jayabaya ini dikenang baik sekarang maupun masa mendatang.
Setelah berdoa proses ritual dilanjutkan dengan tabur bunga yang dilakukan oleh barisan pembawa bunga. Tabur bunga dilakukan di sebelah Loka Busana yang sudah disediakan sepetak tempat yang cukup luas untuk menabur bunga. Tata cara menaburkan bunga pertama-tama, keenam belas remaja putri maju berdua-dua dan bersujud di depan Loka Busana.
Kedua, keenam belas remaja putri itu membentuk barisan berjajar di depan tempat tabur bunga yang dilanjutkan dengan bersujud secara bersama-sama di depan tempat menabur bunga. Ketiga, keenam belas remaja putri itu maju berdua-dua lagi. Di depan tempat menabur bunga bersujud sembah dan memulai acara menabur bunga. Cara menabur bunga, yaitu: menaburkan bunga yang dibawanya dengan berjalan jongkok mengitari tempat yang sudah disediakan. Keempat, setelah selesai kedua orang itu kembali ke tempat semula dan dilanjutkan temannya yang lain. Setelah menabur bunga berdua-dua, ke enam belas remaja putri tesebut kembali berjajar dan bersujud bersama-sama. Kelima, ke enam belas remaja putri itu kembali ketempat duduk semula. Cara kebalikan dengan saat akan memulai proses ritual menaburkan sesaji bunga, yaitu: berjalan berdua-dua, kemudian sembah sujud di depan Loka Busana, dan kembali ketempat duduk mereka semula.
Acara dilanjutkan dengan caos dahar yang diawali oleh kepala Desa Menang dan anaknya terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan wakil dari Yayasan Hondodento, dan peziarah yang lainnya. Proses ritual caos dahar ini dilakukan di Loka Muksa secara bergiliran. Dalam waktu yang bersamaan juga dilakukan caos dahar di halaman Loka Busana dan Loka Mahkota. Tatacara caos dahar di Loka Muksa untuk kepala desa, perwakilan Yayasan Hondodenton, dan peziarah adalah sujud sambil merapatkan tangan di depan dada kemudian mengangkatnya sampai di atas kepala. Hal ini dilakukan pada anak tangga pertama, anak tangga terakhir, dan di depan pintu Loka Muksa. Setelah itu dilanjutkan dengan berdoa secara pribadi dan menaburkan sesaji bunga di sekeliling Loka Muksa. Saat proses ritual
caos dahar berlangsung, dibacakan juga sejarah Sri Aji jayabaya. Teks sejarah Sri Aji Jayabaya ini bisa dilihat dalam lampiran sejarah raja Jayabaya.
Proses ritual berikutnya adalah peletakan dan pemberkatan pusaka
Tongkat Kyai Bimo di depan pintu masuk Loka Muksa yang dilakukan oleh juru kunci. Pemberkatan ini bertujuan untuk meminta berkah kepada Sri Aji Jayabaya, supaya pusaka Tongkat Kyai Bimo dapat berguna dalam menjaga keamanan negara Indonesia. Sebelumnya pusaka ini juga sudah disucikan pada malam tahun baru Suro di pantai Parangtritis oleh keraton Yogyakarta.
Selanjutnya doa unjuk lengser atau doa penutup yang dilakukan oleh tetua Desa Menang, seperti dalam rekaman di bawah ini.
“Poro sederek, panitia ziarah desa Menang soho yayasan Hondodento sedoyo,