melaksanakan transparansi informasi baik
yang bersifat keuangan maupun non keuangan.
X. PAKET REMUNERASI DAN FASILITAS BAGI KOMISARIS & DIREKSI
XI. RASIO GAJI TERTINGGI DAN GAJI TERENDAH No. Jenis Remunerasi dan Fasilitas
Lain
Jumlah Diterima dalam Setahun Dewan Komisaris Direksi
Orang Juta
Rp. Orang Juta
Rp.
1 Remunerasi (Gaji, bonus, tunjangan rutin, tantiem, dan
fasilitas lain dalam bentuk natura) 3 2,317 3 3,989
2 Fasilitas lain dalam bentuk natura (Perumahan, transportasi, asuransi kesehatan, dsb) :
a. Dapat Dimiliki Asuransi
kesehatan Asuransi kesehatan b. Tidak Dapat Dimiliki Fasilitas
komunikasi + Transportasi
Fasilitas komunikasi + Transportasi
Total 3 2,317 3 3,989
Jumlah Remunerasi per Orang dalam Satu Tahun Direksi Komisaris
Diatas Rp 2.,- Miliar -
-Diatas Rp 1,- Miliar s/d Rp 2,- Miliar 2
-Diatas Rp 500 Juta s/d Rp 1,- Miliar 1 3
Rp 500 Juta ke bawah -
Skala Perbandingan Rasio Gaji Tertinggi dan Terendah Rasio a. Rasio Gaji Pegawai yang Tertinggi dan Terendah 17.82 X b. Rasio Gaji Direksi yang Tertinggi dan Terendah 1.67 X c. Raio Gaji Komisaris yang Tertinggi dan Terendah 1.43 X d. Rasio Gaji Direksi Tertinggi dan Pegawai Tertinggi 2.89 X
XII. INTERNAL FRAUD
Bila mengacu kepada ketentuan Bank Indonesia maka Bank wajib mengungkapkan setiap kecurangan ( fraud ) apabila dampak penyimpangan bernilai lebih dari Rp. 100.000.000 (seratus juta rupiah). Fraud berpotensi terjadi di semua jenjang dan level
organisasi bank. Sepanjang tahun 2014 Bank BHI tidak menemukan terjadinya fraud. Setiap penyimpangan dalam pelaksanaan operasional bank yang berpotensi mengarah kepada fraud tidak akan pernah ditolerir. Bank senantiasa memperkuat sistem pengendalian internalnya agar mampu mempersempit terjadinya kecurangan.
Productivity and Efficiency Annual Report 2014
25
XIII. PERMASALAHAN HUKUM
Permasalahan hukum yang dihadapi sela-ma tahun 2014 terkait dengan perpajakan dan penyelesaian tunggakan debitur. Ada 5 perkara perpajakan dimana 2 diantaranya telah mendapatkan keputusan pengadilan dan 3 perkara masih dalam proses penyelesaian. Sementara untuk permasalahan hukum yang berhubungan dengan tunggakan debitur di Desember 2014 terdapat 11 tunggakan debitur dimana 5 diantaranya sedang berproses di pengadilan. Satu perkara berproses di Mahkamah Agung, satu di Pengadilan Negeri, dan tiga lainnya pada tahap eksekusi lelang.
TRANSAKSI YANG BENTURAN KEPENTINGANUNG Sepanjang tahun ini tidak terdapat transaksi yang mengandung benturan kepentingan yang perlu untuk didokumentasikan. Bank telah memiliki kebijakan, sistem dan prosedur penyelesaian benturan kepentingan yang cukup efektif seperti tertuang dalam peraturan perusahaan. Apabila transaksi dimaksud ada maka Bank akan mendokumentasikan secara baik termasuk pembuatan risalah rapatnya.
BUY BACK SHARES DAN/ATAU BUY BACK OBLIGASI BANK Bank BHI menerbitkan saham namun tidak menerbitkan obligasi. Disepanjang 2014 Manajemen tidak memiliki alasan yang kuat melakukannya sehingga tidak berinisiatif melakukan buy back shares ini.
SELF ASSESSMENT PELAKSANAAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE Dalam upaya menjaga dan meningkatkan kualitas pelaksanaan GCG, Bank BHI secara berkala melakukan self assessment yang komprehensif terhadap pelaksanaan 11 (sebelas) aspek penilaian GCG sebagaimana diatur di dalam Peraturan Bank Indonesia maupun Surat Edaran Bank Indonesia tentang Pelaksanaan GCG bagi Bank Umum, terdiri dari :
Pelaksanaan Tugas dan Tanggung Jawab Dewan Komisaris
Pelaksanaan Tugas dan Tanggung Jawab Direksi
Kelengkapan dan Pelaksanaan Tugas Komite
Penanganan Benturan Kepentingan Penerapan Fungsi Kepatuhan Bank Penerapan Fungsi Audit Intern Penerapan Fungsi Audit Ekstern Penerapan Manajemen Risiko termasuk Sistem Pengendalian Intern Penyediaan Dana kepada Pihak Terkait (Related Party) dan Penyediaan Dana Besar (Large Exposure)
Transparansi Kondisi Keuangan dan Non Keuangan, Laporan Pelaksanaan GCG dan Pelaporan Internal
Rencana Strategis Bank
Peringkat Komposit pelaksanaan GCG di Bank BHI untuk semester I dan II tahun 2014 adalah 2 atau predikat ‘BAIK’.
SELF ASSESSMENT PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK Kondisi Bank BHI secara umum sehat dan dinilai mampu mengatasi pengaruh negatif yang signifikan terhadap kemungkinan terjadinya perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya seperti tergambar dari peringkat penilaian faktor Profil Risiko, faktor Penerapan GCG, faktor Rentabilitas dan faktor Permodalan yang secara umum baik.
Berdasarkan penilaian faktor Profil Risiko maka aspek profil risiko bank dinilai memadai dengan peringkat komposit dua.
Kemungkinan kerugian dari risiko inheren tergolong rendah selama periode tertentu dimasa mendatang dengan Kualitas Penerapan Manajemen Risiko tergolong memadai. Namun demikian terdapat kelemahan minor yang dapat diselesaikan oleh Manajemen sesegera mungkin.
Berdasarkan hasil penilaian tata kelola [GCG], terdapat kelemahan tata kelola yang kurang signifikan namun mampu diatasi dengan sesegera mungkin melalui solusi yang diambil. Secara umum kinerja
XIV. TRANSAKSI YANG MENGANDUNG BENTURAN KEPENTINGAN
Manajemen sudah baik. Pemenuhan prinsip GCG seperti governance structure, governance process dan governance outcome memadai, seperti pada pelaksanaan tugas Dewan Komisaris, Direksi, dan pada Komite – komite yang ada. Aspek transparansi Laporan Keuangan dan Non Keuangan serta Rencana Strategis Bank sudah memenuhi unsur keterbukaan informasi kepada pihak yang berkepentingan. Tata kelola sejalan dengan dinamika dan strategi bisnis secara menyeluruh, dan diharapkan Bank mampu mengatasi kelemahan – kelemahan yang ada pada governance structure, governance process dan governance outcome sesuai dengan strategi bisnis yang dijalankan.
Kemampuan Bank BHI dalam menghasilkan laba secara umum sudah cukup memadai dilihat dari realisasi rencana bisnis, dan kontribusinya kepada peningkatan modal mampu bertumbuh secara organik. Sumber – sumber pendukung rentabilitas cukup memadai namun masih perlu ditingkatkan, seperti : pemenuhan LDR pada batas atas, kualitas aktiva produktif, dan komponen non core earning yang lebih beragam. Kemampuan Bank BHI mengelola rentabilitas dan menjaga kesinambungan komponen yang mendukung rentabilitas sudah cukup memadai. Ke depan dengan kemampuan teknologi informasi yang dimiliki diharapkan dapat meningkatkan fee based income.
Berdasarkan penilaian faktor Permodalan yang sejalan dengan dinamika skala pertumbuhan volume bisnis Bank BHI,
maka faktor permodalan merupakan unsur utama dalam mendukung pertumbuhan bisnis Bank. Tren permodalan mengarah kepada peningkatan yang positif pada komponen Modal Inti untuk mencapai target pertumbuhan bisnis. Bank BHI menilai bahwa keberadaan Permodalan sesuai dengan Pilar 1 dan Pilar 2 sudah memadai untuk mengantisipasi potensi kerugian berdasarkan profil risiko yang ada. Pelaksanaan Internal Capital Adequacy Assessment Process atau ICAAP sesuai dengan asumsi-asumsi yang ditetapkan mampu mengelola permodalan sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen permodalan yang sehat serta mengacu kepada ketentuan Bank Indonesia. Kemampuan permodalan internal untuk tumbuh secara organik mendukung ekspansi pertumbuhan bisnis dan daya akses ke sumber permodalan eksternal sehingga Bank BHI diharapkan mampu melampaui BUKU 1 menuju BUKU 2 melalui dukungan para pihak yang berkepentingan khususnya Pemegang Saham Pengendali.
PENERAPAN PROGRAM APU DAN PPT BAGI BANK UMUM
Pelaksanaan Program APU dan PPT bagi Bank Umum ini berpedoman kepada Peraturan Bank Indonesia no.
11/28/PBI/2009 tanggal 1 Juli 2009 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia no. 14/27/
PBI/2012 tanggal 28 Desember 2012 , serta Surat Edaran Bank Indonesia No.
15/21/DPNPtanggal 14 Juni 2013.
XVIII.
Productivity and Efficiency Annual Report 2014
27
Potensi risiko bisnis perbankan semakin meningkat karena kian kompleksnya variasi produk dan jasa perbankan serta melibatkan tehnologi informasi yang canggih. Pemanfaatan bank oleh pihak – pihak tertentu untuk melakukan pencucian uang dan pendanaan terorisme semakin meningkat pula akhir – akhir ini.
Kondisi ini mendorong bank untuk serius meningkatkan kualitas penerapan manajemen risikonya terutama yang berkaitan dengan program anti pencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme.
Bank BHI telah mengantisipasi hal tersebut dengan melaksanakan sebaik-baiknya peraturan dan ketentuan Bank Indonesia serta ketentuan internal lain.
Langkah yang ditempuh adalah memaksimumkan fungsi pengawasan Pengurus Bank untuk memastikan bahwa program Anti Pencucian Uang dan
Pencegahan Pendanaan Terorisme bisa berjalan baik dan didukung oleh kebijakan dan prosedur tertulis yang telah sesuai dengan aturan BI dan prinsip – prinsip yang berlaku umum. Manajemen juga menyadari perlunya sistem pengendalian intern yang efektif yang memaparkan dengan jelas batasan wewenang dan tanggung jawab dari satuan kerja terkait serta peran pemeriksaan SKAI. Selain itu diupayakan adanya suatu sistem informasi manajemen yang bisa mengidentifikasi, menganalisa, memantau dan menyediakan laporan secara efektif tentang semua transaksi keuangan bank.
Termasuk memilah antara transaksi yang suspicious dengan yang non suspicious . Dan yang lebih penting lagi adalah meningkatkan kompetensi dan kualitas SDM yang ada dengan cara mengadakan pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan.