• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perubahan Iklim .1Permasalahan .1Permasalahan

Dalam dokumen BUKU II RKP TAHUN 2015 (Halaman 75-80)

TARGET KINERJA PEMBANGUNAN PENGARUSUTAMAAN GENDER TAHUN 2015

1.2.2 Perubahan Iklim .1Permasalahan .1Permasalahan

dan Isu Strategis

Pelaksanaan program lintas bidang perubahan iklim pada kurun RPJMN 2010-2014 telah berhasil menyelesaikan: (i) Penyusunan Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN GRK) yang diterbitkan dalam bentuk Perpres No. 61/2011, dan diikuti dengan penyusunan dan penerbitan 33 Peraturan Gubenur tentang Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAD-GRK) dan Pelaksanaan Pemantauan Evaluasi dan Pelaporan (PEP) dari pelaksanaan RAN-GRK dan RAD-GRK; (ii) penyusunan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 15 Tahun 2013 tentang Pengukuran, Pelaporan dan Verifikasi Aksi Mitigasi Perubahan Iklim/Monitoring Reporting dan Verifikasi (MRV) dan pembentukan Sistem Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional (SIGN) Center untuk inventarisasi GRK sesuai Perpres No. 71/2011 tentang Inventarisasi GRK; (iii) Tersusunnya rencana Aksi adaptasi perubahan iklim (RAN-API).

Selain itu, untuk menurunkan emisi GRK dari hutan dan lahan gambut, upaya difokuskan pada kegiatan reduksi dan degradasi hutan dan lahan gambut plus atau dikenal dengan Reduced Emission from Deforestation and Forest Degradation (REDD+). REDD+ merupakan salah satu kegiatan penurunan emisi dari hutan dan lahan gambut yang tidak terpisahkan dari upaya penurunan emisi gas rumah kaca secara keseluruhan yang telah ditetapkan melalui Perpres 61/2011 dan Perpres 71/2011. Tujuan utama dari pelaksanaan REDD+ di Indonesia diarahkan pada upaya menurunkan emisi GRK dan meningkatkan simpanan karbon khususnya pada kawasan hutan dan lahan gambut. Adapun ruang lingkup kegiatan REDD+ di Indonesia meliputi hal-hal berikut: a) Penurunan emisi dari pencegahan deforestasi; b) Penurunan emisi dari pencegahan degradasi hutan dan/atau degradasi lahan gambut; c) Pemeliharaan dan peningkatan

1-58 | Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2015

PENGARUSTAMAAN DAN PEMBANGUNAN LINTAS BIDANG

Selanjutnya, terkait dengan pendanaan perubahan iklim, terus diperkuat mekanisme pengelolaan dana perubahan iklim melalui pembentukan Lembaga Wali Amanat Dana Perwalian Perubahan Iklim Indonesia/Indonesia Climate Change Trust Fund, yang disahkan melalui Peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor 3 Tahun 2013. Sedangkan untuk menjalankan tugas-tugasnya, dibentuk pula Majelis Wali Amanat Dana Perwalian Perubahan Iklim Indonesia/Indonesia Climate Change Trust Fund, melalui Keputusan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor KEP.33/M.PPN/HK/03/2014 tanggal 28 Maret 2014.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, dalam kurun RPJMN 2015-2019 pelaksanaan program lintas bidang perubahan iklim perlu berfokus pada penerapan pelaksanaan penurunan emisi GRK beserta monitoring, evaluasi dan pelaporannya, pembangunan kapasitas (mitigasi dan adaptasi) di bidang perubahan iklim, serta pelaksanaan adaptasi pada 15 lokasi prioritas berdasarkan RAN-API. Untuk itu, pada tahun 2015 ini diperlukan tahapan-tahapan pelaksanaan, yang merupakan tahun pertama pelaksanaan RPJMN 2015-2019 tersebut.

Isu strategis di dalam penanganan perubahan iklim, adalah: (1) pelaksanaan penurunan emisi GRK sekaligus pemantapan pelaksanaan REDD+; dan (2) peningkatan ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim.

1.2.2.2 Sasaran Sasaran yang akan dicapai adalah: (1) menurunnya emisi GRK dari lima sektor prioritas: kehutanan dan lahan gambut, pertanian, energi dan transportasi, industri, dan limbah sebesar 17,3% pada tahun 2015; dan (2) meningkatnya ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim, khususnya di 3 (tiga) daerah rentan, yang merupakan daerah percontohan pelaksanaan RAN-API.

Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2015 | PENGARUSTAMAAN DAN PEMBANGUNAN LINTAS BIDANG

1-59 Pembangunan Tahun

2015

RAN/RAD-GRK; (2) meningkatkan upaya mitigasi perubahan iklim pada sektor utama, melalui pelaksanaan kegiatan pertanian dan peternakan yang ramah lingkungan, pencegahan penurunan dan peningkatan serapan karbon di bidang kehutanan, pemanfaatan energi terbarukan (on dan off grid), substitusi bahan bakar, efisiensi dan konservasi energi, serta pengelolaan sampah domestik; dan (3) Penerapan RAN-API secara sinergis, terutama pelaksanaan pilot adaptasi di 3 (tiga) daerah percontohan; (4) mendorong pemerintah daerah untuk menyusun strategi adaptasi perubahan iklim sejalan dengan RAN-API, serta menginternalisasikan dalam perencanaan daerah (RPJMD dan RKPD).

Strategi yang akan diterapkan: (1) Peningkatan pelibatan sektor baik di pusat maupun di daerah untuk melaksanakan kegiatan penurunan emisi (RAN/RAD-GRK), dan pengalokasian pendanaannya; (2) Standarisasi kegiatan penurunan emisi (RAN/RAD-GRK) di setiap sektor, termasuk review baseline dan proyeksi penurunan emisi, serta penyempurnaan metodelogi penghitungannya; (3) Meningkatkan kontribusi swasta dan masyarakat dalam penurunan emisi GRK; (4) Pengembangan dan penerapan insentif fiskal; (5) pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan pelaksanaan RAN/RAD-GRK dan adaptasi; (6) pelaksanaan kegiatan dan rencana aksi terkait dengan REDD+, baik yang berdampak langsung (kegiatan inti), maupun tidak langsung (kegiatan pendukung) pada penurunan emisi GRK. Kegiatan REDD+ ini difokuskan pada sebelas propinsi yaitu Propinsi DI Aceh, Riau, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Papua Barat, dan Papua. Upaya penurunan emisi GRK berasal dari hutan dan lahan gambut yang berada di luar skema REDD+ juga dilakukan oleh Pemerintah melalui kegiatan-kegiatan inti sebagai berikut: a) Pengendalian Kebakaran Hutan; b) Pengelolaan Kawasan Konservasi dan Pengembangan Kawasan Ekosistem Esensial; dan c) Penyelenggaraan RHL, reklamasi hutan, perhutanan sosial dan perencanaan DAS; (7) pengembangan indeks dan indikator kerentanan, serta penguatan sistem informasi iklim dan cuaca; (8) pelaksanaan kajian kerentanan dan peningkatan ketahanan (resiliensi) pada sektor yang sensitif

1-60 | Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2015

PENGARUSTAMAAN DAN PEMBANGUNAN LINTAS BIDANG

1.2.2.4Kerangka Pendanaan

Dalam upaya penanganan perubahan iklim, masing-masing Kementerian/Lembaga perlu melakukan identifikasi kegiatan dan pendanaan yang spesifik untuk menangani perubahan iklim. Upaya tersebut mengacu pada rencana aksi yang tertuang dalam RAN-GRK dan diperkuat dengan rencana aksi adaptasi (RAN-API). Pendanaan untuk perubahan iklim dikelompokkan menjadi 3 (tiga) bidang, yaitu: (i) bidang mitigasi; (ii) bidang adaptasi; (iii) bidang pendukung, untuk memperkuat upaya mitigasi dan adaptasi seperti penguatan data dan informasi, peningkatan iptek, kajian, dan koordinasi pelaksanaan.

Pendanaan untuk penanganan perubahan iklim bersumber dari APBN (anggaran kementerian/lembaga, DAK, Dekonsentrasi, Tugas Pembantuan), APBD, hibah luar negeri, dana perwalian, dan swasta/masyarakat.

Sementara itu, kegiatan inti REDD+ untuk menurunkan emisi GRK akan dilaksanakan utamanya melalui anggaran Kementerian Kehutanan dan belanja perimbangan. Adapun dukungan pendanaan dari hibah luar negeri dan investasi dunia usaha melalui pasar karbon sukarela untuk REDD+ dapat dikategorikan sebagai upaya tambahan yang mendukung tercapainya pencapaian target penurunan emisi GRK.

1.2.2.5 Kerangka Regulasi dan Kerangka Kelembagaan

Kerangka regulasi:

Upaya penanganan perubahan iklim dilakukan berdasarkan peraturan terkait upaya mitigasi, yakni: Peraturan Presiden No. 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Gas rumah Kaca, Peraturan Presiden No. 71 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Sistem Inventarisasi Nasional dan peraturan operasionalnya, serta 33 Peraturan Gubernur terkait RAD-GRK. Selain itu, upaya adaptasi dilaksanakan mengacu kepada dokumen RAN-API yang nantinya akan terintegrasi di dalam RPJMN 2015-2019.

Acuan pelaksanaan REDD+ di Indonesia didasarkan pada Strategi Nasional REDD+, Rencana Aksi Nasional REDD+, dan Strategi dan Rencana Aksi Pemerintah daerah (SRAP) yang telah dituangkan ke dalam RPJMN dan RPJMD Propinsi. Untuk itu, sebelum REDD+ dapat dilaksanakan, upaya pengarusutamaan dan penetapan kegiatan prioritas lintas

Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2015 | PENGARUSTAMAAN DAN PEMBANGUNAN LINTAS BIDANG

1-61

termasuk satuan kerja pemerintah daerah dan dapat didukung oleh kegiatan dari dunia usaha dan lembaga swadaya masyarakat.

Kerangka Kelembagaan:

Penanganan perubahan iklim menuntut koordinasi yang erat antar pemangku kepentingan, baik pemerintah pusat, daerah, masyarakat, dan swasta. Di tingkat pusat, terdapat Tim Koordinasi Penanganan Perubahan Iklim yang dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri PPN/Kepala Bappenas No. KEP.38/M.PPN/HK/03/2012 tanggal 1 Maret 2012. Tim tersebut terdiri atas: (1) Kelompok Kerja Bidang Pertanian, yang beranggotakan Kementerian Pertanian, Kementerian Pekerjaan Umum, Badan Pusat Statistik, dan Kementerian PPN/Bappenas, (2) Kelompok Kerja Bidang Kehutanan dan Lahan Gambut, yang beranggotakan Kementerian Kehutanan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Pertanian, Kementerian PPN/Bappenas, Bakosurtanal, Badan Pertanahan Nasional, dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; (3) Kelompok Kerja Bidang Energi, Transportasi, dan Industri, yang beranggotakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Perhubungan, Kementerian Perindustrian, Kementerian PPN/Bappenas, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Kementerian Riset dan Teknologi, PT. PLN, Badan Pusat Statistik, dan Dewan Energi Nasional; (4) Kelompok Kerja Bidang Pengelolaan Limbah yang beranggotakan Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Lignkungan Hidup, BPPT, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian PPN/Bappenas; (5) Kelompok Kerja Bidang Pendukung Lainnya dan Lintas Bidang, yang beranggotakan Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Lingkungan Hidup, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Kementerian Kehutanan, dan Kementerian Dalam Negeri; dan (6) Kelompok Kerja Bidang Adaptasi Perubahan Iklim, yang beranggotakan Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian PPN/Bappenas, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Kementerian

1-62 | Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2015

PENGARUSTAMAAN DAN PEMBANGUNAN LINTAS BIDANG

Bencana Nasional, Badan Pusat Statistik, Badan Koordinasi Keluarga Bencana Nasional, dan Kementerian Pekerjaan Umum.

Ke depan, diperlukan penataan fungsi dan kewenangan berbagai lembaga yang menangani perubahan iklim, untuk mensinergikan dan mengoptimalisasikan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan di bidang perubahan iklim, serta menjawab tantangan dunia internasional.

1.2.3Pembangunan Kelautan Berdimensi Kepulauan

Dalam dokumen BUKU II RKP TAHUN 2015 (Halaman 75-80)