TINJAUAN PUSTAKA
7. Paradigma sebagai observational framework (kerangka observasi), kosa kata yang berasosiasi dengan seperangkat
2.2.3 Perubahan Paradigma dari Administrasi Negara ke Administrasi Publik
2.2.3 Perubahan Paradigma dari Administrasi Negara ke Administrasi Publik
Pada bagian sebelumnya, telah dijelaskan perkembangan paradigma administrasi negara yang dimana saat ini paradigma administrasi negara telah
bergeser ke administrasi publik. Lalu apa yang membedakan paradigma administrasi negara dan administrasi publik.
Apabila kita menelaah masing-masing paradigma, dapat dipahami bahwa orientasi yang berubah adalah orientasi dari ‘Negara’ ke ‘Publik’. Mengenai negara, dijelaskan oleh Miriam Budiardjo dalam bukunya Dasar-Dasar Ilmu Politik bahwa negara adalah “suatu organisasi dalam suatu wilayah yang memiliki kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyatnya.” (2008: 17). Sedangkan mengenai publik, Syafe’ie dalam buku karya Harbani Pasolong yaitu Teori- Teori Administrasi Publik menjelaskan bahwa publik adalah “sejumlah manusia yang memiliki kebersamaan berfikir, perasaan, harapan, sikap dan tindakan yang benar dan baik berdasarkan nilai-nilai norma yang mereka miliki.” (2011: 6)
Dengan memahami bahwa administrasi menurut S.P Siagian dalam buku karya Harbani Pasolong yaitu Teori-Teori Administrasi Publik adalah “keseluruhan proses kerja sama antara dua orang manusia atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.” (2011: 3). Maka, dapat dipahami sekilas bahwa administrasi negara atau ‘paradigma lama’ merupakan “suatu kerjasama antara organisasi-organisasi yang memiliki kekuasaan dalam suatu wilayah didasarkan atas sesuatu yang sah dan legal, untuk ditaati oleh rakyatnya”, paradigma ini sekilas dapat kita katakan sebagai paradigma ‘Abdi Negara’ atau ‘berorientasi mengurus negara’. Sedangkan dapat dipahami secara sekilas pula bahwa administrasi publik atau ‘paradigma baru’ adalah “suatu kerjasama antara perangkat-perangkat tertentu berdasarkan
kesamaan berfikir, perasaan, harapan, sikap dan tindakan tertentu untuk mencapai suatu kebaikan berdasarkan nilai-nilai yang dimiliki sejumlah manusia (masyarakat)”, paradigma ini sekilas dapat dikatakan sebagai paradigma ‘Abdi Masyarakat’ atau ‘Abdi Publik’, dengan kata lain merupakan paradigma ‘berorientasi mengurus masyarakat’.
Konsep tersebut sesuai dengan yang dijelaskan oleh Warsito Utomo dalam bukunya Administrasi Publik Baru Indonesia: Perubahan Paradigma dari Administrasi Negara ke Administrasi Publik, bahwa:
Dalam perkembangan konsep Ilmu Administrasi negara maka telah terjadi pergeseran titik tekan dari Administration of Public di mana negara sebagai agen tunggal implementasi fungsi negara/pemerintahan; Administration for public yang menekankan fungsi Negara/Pemerintahan yang bertugas dalam Public Service; ke Administration by Public yang berorientasi bahwa public demand are differentiated, dalam arti fungsi Negara/Pemerintah hanyalah sebagai fasilitator, katalisator yang bertitik tekan pada putting the customers in the driver seat. Di mana determinasi Negara/Pemerintah tidak lagi merupakan faktor atau aktor utama atau sebagai driving forces. (2009: 7)
Dari penjelasan di atas, maka dapat pula dipahami bahwa telah terjadi perubahan makna public sebagai Negara, menjadi public sebagai Masyarakat. Sehingga Public Administration bukan lagi Administrasi Negara, melainkan Administrasi Publik. Bukan lagi terlalu berorientasi kepada aktivitas oleh negara, tetapi menjadi oleh, untuk dan kepada masyarakat.
Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Thoha dalam buku karya Miftah Thoha yang berjudul Ilmu Administrasi Publik Kontemporer, bahwa:
Sekarang paradigma ilmu administrasi publik dan manajemen pemerintahan telah banyak berubah. Salah satu dari perubahan itu ialah pendekatan yang sarwa negara berubah ke sarwa masyarakat. (2010: 67)
Dari pemahaman di atas, maka istilah administrasi publik dapat diartikan sebagai administrasi pemerintahan yang dilakukan oleh aparat pemerintah untuk kepentingan masyarakat. Sesuai dengan yang dijelaskan oleh Guru Besar Ilmu Politik Amerika, yang kemudian menjadi Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson dalam buku karya Miftah Thoha yaitu Ilmu Administrasi Publik Kontemporer, bahwa:
Pemahaman seperti ini hakikatnya merupakan jiwa dari ilmu administrasi negara yang sejak pertama kali dikembangkan dan yang tujuan eksistensinya untuk melayani kepentingan masyarakat pada umumnya. (2010: 67)
Dalam pemahaman seperti itu maka kekuasaan yang selama ini berada pada penguasa sebenarnya adalah titipan yang seharusnya berdomisili pada masyarakat. Selanjutnya, Warsito Utomo dalam bukunya Administrasi Publik Baru Indonesia: Perubahan Paradigma dari Administrasi Negara ke Administrasi Publik menjelaskan bahwa:
Approach atau pendekatan tidak lagi kepada negara tetapi lebih kepada masyarakat atau Customer’s Oriented atau Customer’s Approach. Dan hal ini juga sesuai dengan tuntutan perubahan dari government yang lebih menitikberatkan kepada “otoritas” menjadi governance yang menitikberatkan kepada “kompatibilitas” di antara para aktornya ialah: State (Pemerintah); Private (Sektor Swasta) dan Civil Society (Masyarakat Madani). (2009: 8)
Selanjutnya, paradigma baru administrasi publik tidak menjadikan hal-hal yang kaku seperti prosedur, aturan dan sebagainya sebagai acuan utama. Tetapi yang dijadikan acuan adalah orientasi pada masyarakat. Seperti dijelaskan oleh Warsito Utomo dalam Administrasi Publik Baru Indonesia: Perubahan Paradigma dari Administrasi Negara ke Administrasi Publik, bahwa:
Proses, sistem, prosedur, hierarchi atau lawfull state tidak lagi merupakan acuan yang utama meskipun tetap perlu diketahui dan merupakan skill. Tetapi results, teamwork, fleksibilitas haruslah lebih dikedepankan, disebabkan oleh tekanan, pengaruh, adanya differentiated public demand. Sedangkan sebagai seorang Administrator atau mereka yang mendalami Administrasi Publik dituntut untuk memiliki pengetahuan, skill, kemampuan, professionalism, kapabilitas untuk mengembangkan konsep organisasi dan manajemen serta mengorganisir dan me-manage aktivitas dan infrastruktur dalam memahami tuntutan dan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Itulah sebabnya mengapa mereka dituntut untuk tidak saja memiliki responsibility dan accountability tetapi juga harus memiliki responsiveness, transparant, integrity dan impartiality. (2009: 8)
Dari apa yang telah diuraikan di atas tidaklah berarti bahwa Administrasi Publik melepaskan diri atau terlepas sama sekali dari kehidupan permasalahan Negara. Meskipun Administrasi Negara tidak lagi didasarkan pada paradigma I “when politic ends administration begins”, tetapi tidaklah berarti tak terkait atau dikaitkan dengan Negara atau Pemerintahan. Di dalam kurikulum Administrasi Publik, maka Negara, Politik, Pemerintah, Pemerintahan, Hukum, Kebijakan/Policy, Sosiologi masih tetap merupakan unsur yang penting sebagai pokok dasar untuk mendalami konsep-konsep kekhususan Administrasi Publik. Barulah kemudian pendalaman unsur-unsur organisasi dan manajemen yang kemudian dikaitkan dengan tuntutan, tantangan baik internal maupun eksternal
dalam kerangka membangun, membentuk kompetensi sistem Administrasi Publik dan figur Administrator. Hal ini digambarkan dalam suatu model segitiga administrator publik oleh Warsito Utomo (2009: 36) dalam bukunya Administrasi Publik Baru Indonesia: Perubahan Paradigma dari Administrasi Negara ke Administrasi Publik. Model tersebut sebagai berikut:
Gambar 2.1 Model Segitiga Administrator Publik
Dari uraian-uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa perkembangan paradigma administrasi negara menuju ke administrasi publik adalah karena suatu tuntutan dan kebutuhan publik yang semakin berkembang. Kebutuhan tersebut tumbuh dari perkembangan sosial dengan globalisasi, politik dengan demokratisasi, ekonomi dengan tantangan dan persaingan ketat, budaya yang
saling terhubung satu sama lain, dan juga karena faktor-faktor lain. Adapun salah satu gejala dari perubahan paradigma administrasi negara ke administrasi publik, atau perubahan paradigma dari ‘Abdi Negara’ ke ‘Abdi Masyarakat’ adalah munculnya paradigma Reinventing Government yang salah satu fokus utamanya adalah bagaimana merubah orientasi dari kekakuan, ketidakefisienan, legalisme, dan lain sebagainya, menjadi Citizen’s Oriented atau Customer Oriented.