• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

B. HASIL PENELITIAN

2) Perubahan Sikap dan Perilaku Warga Binaan Perempuan

Dalam melaksanakan kegiatan pembinaan tentu harus melibatkan semua Petugas Pemasyarakatan serta Warga Binaan yang ada di Lapas Wirogunan Yogyakarta termasuk dalam pelaksanaan kegiatan pembinaan keterampilan yang dilakukan kepada warga binaan perempuan. Adapun partisipasi kehadiran warga binaan perempuan dalam mengikuti kegatan pembinaan keterampilan dapat dikatakan sudah cukup baik dalam mengikuti kegiatan keterampilan sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki. Hal tersebut seperti yang dikatakan oleh Ibu AS selaku pembina teknis keterampilan, yaitu :

“Ya kayak gini mbak, yang minat-minat saja yang mau ikut. Soalnya kan tidak cuma keterampilan saja, ada juga yang ikut pengembangan bakat, minat setiap orang kan beda-beda. Lha kayak mbatik tulis kayak gini, kalau nggak minat ya gak bakal mau dia, soalnya harus tlaten, prosesnya juga lama. Tapi ya

101

semaksimal mungkin kita tetep memfasilitasi yang mau ikut keterampilan kayak gini.”

Hal serupa juga diungkapkan oleh SM selaku warga binaan perempuan yang mengikuti pembinaan keterampilan merajut, yaitu:

“Kalo yang ikut rajut memang banyak mbak, soale mudahkan bisa disambi juga pas di blok. Karna lagi nggak ada orderan aja saya pindah di batik, saya juga seneng nggambar-nggambar kayak gini, dulu sebelum pindah kesini juga pernah ikut mbatik, jadi disini tinggal nerusin aja mbak.Memang sedikit mbak yang minat kalo batik, lama kan prosesnya, jadi kalo memang gak minat apa gak mood gitu udah gak mungkin mau mbak”

Diperkuat dengan pernyataan BN selaku warga binaan perempuan yang mengikuti pembinaan keterampilan menjahit, yaitu:

“Yang ikut menjahit cuma dikit sih mbak, he em. Padahal mesin jahit juga sudah disediakan, memang minatnyakan beda-bedakan mbak. Kalau saya dari dulu disini memang seneng njait mbak, apalagi kayak gini kan bias mengembangkan kreatifitas kita. Jadi seneng aja gitu mbak kalo punya ide terus bias dibuat disini, seneng lagi kalau ada yang mau beli gitu karna bagus”

Dari beberapa pernyataan hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa walaupun tidak semua warga binaan perempuan mengikuti kegiatan pembinaan keterampilan, tetapi partisipasi warga binaan dapat dikatakan sudah baik dan warga binaan perempuan yang mengikuti pembinaan keterampilan sudah sesuai dengan bakat dan minat sehingga dapat mengembangkan potensi yang dimiki unuk bekal ketika bebas nanti.

Selain pertisipasi warga binaan perempuan dalam mengikuti pembinaan keterampilan, sikap warga binaan perempuan saat

102

mengikuti pembinaan keterampilan juga diperhatikan. Sikap yang ditunjukkan oleh warga binaan perempuan saat mengikuti kegiatan keterampilan saat ini mayoritas berkelakuan baik antar sesama warga binaan maupun dengan Petugas Pemasyarakatan maupun dengan Pembina Teknis. Seperti yang diungkapkan oleh Ibu AS selaku pembina teknis keterampilan, yakni :

“WBP disini saat mengikuti kegiatan keterampilan ya biasa saja mbak, baik, sopan dengan orang yang lebih tua, sopan sama petugasnya, sopan juga sama Pembina teknisnya”

Hal serupa juga diungkapkan oleh Ibu KD selaku Petugas Pemasyarakatan, yaitu :

“Sikapnya ya sopan, aktif, antusias saat mengikuti kegiatan keterampilan seperti ini. Apalagi mereka ikut kegiatan ini memang sesuai dengan minat dan bakat mereka, jadi ya ikut terus kecuali ada kegiatan lain yang mengharuskan dia ijin tidak ikut kegiatan keterampilan. baru mereka tidak ikut kegiatan disini”

Dari wawancara diatas terlihat bahwa sikap yang ditunjukkan warga binaan perempuan saat mengikuti kegiatan pembinaan keterampilan adalah baik dan sopan antar sesama warga binaan, dengan Petugas lembaga pemasyarakatan maupun dengan Pembina teknis. Warga binaan perempuan juga aktif dan antusias dalam mengikuti kegiatan keterampilan dikarenakan mereka mempunyai minat dan bakat dalam kegiatan keterampilan yang mereka pilih.

Sedangkan hubungan dan perilaku yang ditunjukkan Warga Binaan Perempuan dengan Petugas Pemasyarakatan maupun dengan Pembina Teknis terjalin dengan baik dan harmonis, seperti

103

yang diungkapkan oleh Ibu “AS” selaku Pembina Teknis kegiatan keterampilan, yaitu :

“Ya karna saya disini sebagai Pembina teknisnya mereka ya mereka baik, sopan sama saya. Ya seperti hubungan antara guru dan murid gitu aja, tetep ada guyon, tapi kalo pas serius ya serius, kalau nggak tau ya mereka tanya sama saya”

Hal serupa juga diungkapkan oleh Bapak “AM” selaku Petugas Pemasyarakatan, yaitu :

“Sejauh ini sih Alhamdulilah baik-baik ya mereka, apa lagi dengan Petugasnya disini, soalnya disini kan juga dibina kepribadian mereka, dinilai juga, kalo kepribadian mereka jelek pasti walinya juga kena nanti”

Diperkuat dengan pernyataan “BN” selaku Warga Binaan Perempuan, yaitu :

“Disini baik-baik kok mbak Petugasnya, mudah akrab juga, soalnya sering ketemu kan mbak. Ya kadang-kadang aja mereka tegas gitu kalo kita salah, tapi nggak sampe yang galak-galak gitu, soalnya disini kan ada aturannya mbak nggak boleh seenaknya”

Dari wawancara diatas dapat terlihat bahwa hubungan dan perilaku yang terjalin antara Warga Binaan Perempuan dengan Petugas Pemasyarakatan maupun dengan Pembina Teknis terjalin dengan baik dan harmonis serta mengikuti aturan yang diberlakukan.

Selain itu, hubungan yang baik dan harmonis harusnya juga terbentuk dalam komunikasi antar Warga Binaan Perempuan. Akan tetapi terkadang masih terjadi ketidakharmonisan antar warga binaan perempuan, seperti yang diungkapkan Ibuu “KD” selaku Petugas Pemasyarakatan, yaitu :

104

“Ya sejauh ini baik-baik saja mbak. Tidak ada masalah atau keributan sampai fatal itu belum ada dan semoga tidak ada. Ya kalau cuma masalah antar pribadi itu pasti ada namanya juga hidup dalam satu blok apalagi perempuan semua, tapi sejauh ini masih wajar, masih bias diselesaikan”

Hal serupa juga diungkapkan oleh “BN” selaku Warga Binaan Perempuan, yakni :

“Baik kok mbak, nggak ada apa - apa. Malahan kita akrab mbak punya temen curhat, dianggep keluarga sendiri, kalo ada masalah ya paling cuma sebentar mbak nggak lama, paling juga cuma masalah kecil gitu”

Dari hasil wawancara yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa komunikasi yang terjalin antar Warga Binaan Perempuan terjalin dengan harmonis, merasa sudah seperti keluarga sendiri, sehingga jika ada masalah dapat diselesaikan secara baik-baik.