‘ULUM DESA BUNAR JASINGA BOGOR
B. Metode Psikoterapi Islam Riyadhoh Pondok Pesantren Manba‘ul ‘Ulum
5. Peserta Bina atau pasien
Dalam proses terapinya para anak bina ini bertindak sebagai murid yang mengamalkan Tarekat Qodariyah Naqsabandiyah (TQN) Suryalaya ataupun masyarakat umum lainnya. Mereka datang ke Pondok Pesantren Manba„ul „Ulum dan meminta untuk dibimbing Riyadhoh oleh KH. A. Sirojuddin Jazuli. Untuk itu target terapi tidak sebatas hanya sembuh secara medis atau psikologis pada umumnya, melainkan diharapkan mampu menjadi manusia yang “arīf billāhi” atau menjadi manusia yang
ma„rifat kepada Allah Ta„āla, yang mempunyai kepribadian religius dan
transedentalis.61
D. Dalil Hadis Psikoterapi Islam di P.P. Manba‘ul ‘Ulum
Berdasarkan hasil wawancara dengan Kiyai yang memimpin P.P. Manba„ul „Ulum terdapat beberapa hadis yang menjadi rujukan dari kegiatan terapis yang disebut dengan Riyadhoh ini, sekalipun tidak dijelaskan seluruh sumber yang menjadi dalil dari kegiatan ini akan tetapidari buku panduan terapis di pesantren ini juga bisa ditemukan
60
Observasi dan Wawancara saya dengan K.H. A. Sirojudin Jazuli, salah satu pengurus PP Manba„ul „Ulum di Kantor PP. Manba„ul „Ulum tanggal 17 Maret 2014, Pukul 17.00 WIB.
61
Observasi dan Wawancara saya dengan K.H. A. Sirojudin Jazuli, salah satu pengurus PP Manba„ul „Ulum di Kantor PP. Manba„ul „Ulum tanggal 17 Maret 2014, Pukul 17.00 WIB.
hadis yang dipakai dalam proses kegiatan riyahdhoh ini, berkut penulis paparkan hadis terapis di pesantren Manbau „Ulum.
1. Mandi
Sebagaimana yang telah dipaparkan di atas bahwa rangkaian cara atau metode terapis yang diparaktekan di P.P. Manba„ul „Ulum adalah dimulai dengan mandi, mandi ini disebut dengan mandi taubat, dalil tentang mandi taubat dalah:
ِثَك ُنْب ُدَّمَُمُ اَنَ ثَّدَح
ْنَع ٍْيَْصُح ِنْب َةَفيِلَخ ْنَع ُّرَغَْلْا اَنَ ثَّدَح ُناَيْفُس اَنَرَ بْخَأ ُّيِدْبَعْلا ٍير
ْنَأ ِنَِرَمَأَف َم َلاْسِْلْا ُديِرُأ َمَّلَسَو ِوْيَلَع ُوَّللا ىَّلَص َِّبَِّنلا ُتْيَ تَأ َلاَق ٍمِصاَع ِنْب ِسْيَ ق ِهِّدَج
ٍرْدِسَو ٍءاَِبِ َلِسَتْغَأ
62
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir Al 'Abdi telah mengabarkan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Al-Aghar dari Khalîfah bin Hushain dari kakeknya, Qais bin 'Âshim dia berkata; Saya pernah menemui Nabi saw. untuk masuk Islam, maka beliau memerintahkanku untuk mandi dengan air dan daun bidara.
2. Hadis Shalat Hajat
Shalat yang dilakukan dalam proses kegiatan Riyadhoh ini adala shalat hajat, terdapat beberapa dalil tentang salat hajat, antara lain:
ْكَب ُنْب ُدَّمَُمُ اَنَ ثَّدَح
: َلاَق ، َّيِميِمَّتلا َّيِئاَرَمْلا ٍدَّمَُمُ اَبَأ ِنِْعَ ي ٌنوُمْيَم اَنَ ثَّدَح : َلاَق ، ٍر
اَبَأ ُتْبِحَص : َلاَق ، ٍمَلاَس ِنْب ِللها ِدْبَع ِنْب َفُسوُي ْنَع ، ٍيرِثَك ِبَِأ ُنْب َيََْيَ اَنَ ثَّدَح
ُهَرَضَح اَّمَلَ ف ، ُوْنِم ُمَّلَعَ تَأ ِءاَدْرَّدلا
، ِوِتْوَِبِ َساَّنلا ُتْنَذآَف ، ِتِْوَِبِ َساَّنلا ِنِذآ : َلاَق ُتْوَمْلا
َئِلُم ْدَقَو ، َكِتْوَِبِ َساَّنلا ُتْنَذآ ْدَق : ُتْلُقَ ف : َلاَق ، ُهاَوِس اَمَو ُراَّدلا َئِلُم ْدَقَو ُتْئِجَف
62ُهاَنْجَرْخَأَف ِنِوُجِرْخَأ : َلاَق ُهاَوِس اَمَو ، ُراَّدلا
: َلاَق ، ُهاَنْسَلْجَأَف : َلاَق ِنِوُسِلْجَأ : َلاَق
َغَبْسَأَف ، َأَّضَوَ ت ْنَم : ُلوُقَ ي َمَّلَسَو ِوْيَلَع ُوَّللا ىَّلَص ِللها َلوُسَر ُتْعَِسَ ِّنِِإ ُساَّنلا اَهُّ يَأ اَي
َس اَم ُوَّللا ُهاَطْعَأ ، اَمُهُّمِتُي ِْيَْ تَعْكَر ىَّلَص َُّثُ ، َءوُضُوْلا
اًرِّخَؤُم ْوَأ ، ًلاِّجَعُم َلَأ
63Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr berkata telah menceritakan kepada kami Maimun yakni Muhammad al-Mara‟I at-Tamimî berkata telah menceritakan kepada kami Yah bin Abu Katsir dari Yusuf bin Abdullah, ia berkata: Aku menyertai Abu darda‟ untuk belajar darinya, maka ketika ajalnya tiba ia berkata “ sebarkanlah kepada orang-orag akan kematianku” maka akupun akan meyebarkan kepada orang-orang. Ketika aku kembali rumahnya telah dipenuhi orang-orang, Yusuf berkata “ Aku berkata “ Telah aku sebarkan kepada orang-orang akan kematianmu (sakaratu maut), dan ternyata rumahmu telah dipenuhi orang, Abu darda‟ berkata “keluarkan aku”, maka kami mengeluarkannya, ia berkata kembali “dudukanlah aku” maka kami mendudukannya dan kemudian ia berate lagi “Wahai manusia, sesungguhnya ak pernah mendengar Rasulullah shllallahu „alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang berwudhu laluia sempurnakan wudhunya kemudian ia shalat dua rakaat dengan menyempurnaknnya, niscaya Allah memberikan kepadanya apa yang ia minta baik segera atau diakhirkan.”
اَنَ ثَّدَحَو .ُّىِمْهَّسلا ٍرْكَب ُنْب ِوَّللا ُدْبَع اَنَ ثَّدَح ُّىِداَدْغَ بْلا َديِزَي ِنْب ىَسيِع ُنْب ُّىِلَع اَنَ ثَّدَح
ِبَأ ِنْب ِوَّللا ِدْبَع ْنَع ِنَْحَّْرلا ِدْبَع ِنْب ِدِئاَف ْنَع ٍرْكَب ِنْب ِوَّللا ِدْبَع ْنَع ٍيرِنُم ُنْب ِوَّللا ُدْبَع
63
ْوَأ
ِوَّللا ُلوُسَر َلاَق َلاَق َفَ
-ملسو ويلع للها ىلص
-
«
ْوَأ ٌةَجاَح ِوَّللا َلَِإ ُوَل ْتَناَك ْنَم
َّللا ىَلَع ِنْثُيْل َُّثُ ِْيَْ تَعْكَر ِّلَصُيْل َُّثُ َءوُضُوْلا ِنِسْحُيْلَو ْأَّضَوَ تَيْلَ ف َمَدآ ِنَِب ْنِم ٍدَحَأ َلَِإ
ِو
ِِّبَّنلا ىَلَع ِّلَصُيْلَو
-ملسو ويلع للها ىلص
-
ُيمِرَكْلا ُميِلَْلْا ُوَّللا َّلاِإ َوَلِإ َلا ْلُقَ يْل َُّثُ
َكِتَْحَْر ِتاَبِجوُم َكُلَأْسَأ َيِْمَلاَعْلا ِّبَر ِوَّلِل ُدْمَْلْا ِميِظَعْلا ِشْرَعْلا ِّبَر ِوَّللا َناَحْبُس
رِب ِّلُك ْنِم َةَميِنَغْلاَو َكِتَرِفْغَم َمِئاَزَعَو
ُوَتْرَفَغ َّلاِإ اًبْ نَذ ِلَ ْعَدَت َلا ٍْثُِإ ِّلُك ْنِم َةَمَلاَّسلاَو
َيِِْحْاَّرلا َمَحْرَأ اَي اَهَ تْيَضَق َّلاِإ اًضِر َكَل َىِى ًةَجاَح َلاَو ُوَتْجَّرَ ف َّلاِإ اَِّهَ َلاَو
.»
وُبَأ َلاَق
َم ِهِداَنْسِإ ِفََو ٌبيِرَغ ٌنَسَح ٌثيِدَح اَذَى ىَسيِع
ِفَ ُفَّعَضُي ِنَْحَّْرلا ِدْبَع ُنْب ُدِئاَف .ٌلاَق
.ِءاَقْرَوْلا وُبَأ َوُى ٌدِئاَفَو ِثيِدَْلْا
64Telah meceritakan kepada kami Ali bin „Isya bin Yazid, telah menceritakan kepada kami Bkr Sahimi, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Munir dari Abdullahn bin Bakar dari Faidah bin Abdurrahmandari Abdullah bin Abi Awfa, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang memiliki hajat kepada Allah atau kepada salah seorang dari anak cucu Adam, maka hendaklah dia berwudlu dan memperbaiki wudlunya, kemudian melakukan shalat dua raka‟at, kemudian memuji Allah dan shalawat atas nabi saw dan berdoa: “Tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Lembut dan Maha Mulia, Maha Suci Allah, Tuhan pemilik Arsy yang Agung, segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam, Aku memohon rahmat kepada-Mu, besarnya Ampun-Mu, ghanimah dari setiap kebaikan, selamat dari setiap kejahatan, jangan Engkau tinggalkan kepadaku dosa kecuali telah Engkau ampuni, tidak ada kesedihan kecuali Engkau bukan kelonggaran, dan tidak ada kebutuhan yang Engkau ridho kecuali Engkau tunaikan wahai Maha Pengasih bagi orang-orang memiliki kasih sayang.
3. Hadis Doa, Dzikir dan Tawassul
ِوْيَلَع ُوَّللا ىَّلَص َِّبَِّنلا ىَتَأ ِرَصَبْلا َريِرَض ًلاُجَر َّنَأ ٍفْيَ نُح ِنْب َناَمْثُع ْنَع اَنَ ثَدَح
َلاَقَ ف َمَّلَسَو
ُوُعْدا َلاَقَ ف ٌرْ يَخ َوُهَ ف َكاَذ ُتْرَّخَأ َتْئِش ْنِإَو َكَل ُتْوَعَد َتْئِش ْنِإ َلاَق ِنَِيِفاَعُ ي ْنَأ َوَّللا ُعْدا
ِءاَعُّدلا اَذَِبِ َوُعْدَيَو ِْيَْ تَعْكَر َيِّلَصُيَ ف ُهَءوُضُو َنِسْحُيَ ف َأَّضَوَ تَ ي ْنَأ ُهَرَمَأَف
َّمُهَّللا
َكُلَأْسَأ ِّنِِإ
َجاَح ِفِ ِّبَِر َلَِإ َكِب ُتْهَّجَوَ ت ِّنِِإ ُدَّمَُمُ اَي ِةَْحَّْرلا ِِّبَِن ٍدَّمَُمُ َكِّيِبَنِب َكْيَلِإ ُوَّجَوَ تَأَو
ِهِذَى ِتِ
.َِّفِ ُوْعِّفَش َّمُهَّللا ِلَ يِضْقَ تَ ف
65„Utsmān ibn Ḥunaif bercerita: “Seorang buta menemui Nabi Saw. lalu berkata, “Doakan saya agar Allah menyembuhkan saya.” Nabi Saw. bersabda, “Jika kau mau, aku akan berdoa untukmu, dan jika kau mau bersabar, itu lebih baik buatmu.” Ia berkata, “Doakanlah.” Lalu Nabi Saw. menyuruhnya berwudu dan memperbagus wudunya (lalu salat dua rakaat) dan berdoa dengan doa ini, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu dan menghadap kepadaMu dengan Nabi kami Muhammad Saw, Nabi pembawa rahmat. (Ya Muhammad), sesungguhnya aku menghadap denganmu kepada Tuhanmu (Tuhanku), agar memenuhi keperluanku ini. Ya Allah, jadikanlah ia penolongku.
Dan masih banyak lagi hadis-hadis dzikir beserta doa, namun yang akan dianalisa pada bab selanjutnya adalah hadis Tawassul, karena disetiap dzikir dan doa yang ada dalam rangkaian terapis Riyadhoh adalah doa dan dzikir dengan cara Tawassul yaitu menyebut nama Nabi dan nama-nama ulama baik yang telah meninggal ataupun yang belum.
65Aḥmad Ibn Ḥanbal, Abū „Abdillāh, Musnad Aḥmad Ibn Ḥanbal (Bairūt: Dār al-Islāmī, 1998), juz 28, h. 478.
32 A. Analisa Hadis Tawassul
Dalam proses rangkaian psikoterapi atau yang disebut dengan Riyadhoh di Pondok Pesantren Manba‟ul Ulum terdapat banyak sekali doa dan dzikir yang berhubungan dengan tawassul, banyak nama-nama nabi ataupun ulama yang disebut-sebut dalam doa terdisebut-sebut, tidak hanya dalam rangkaian doa dan dzikir saja, niat mandi taubat sebagai rangkaian pertama dari proses kegiatan Riyadhoh ini pun memakai
tawassul karena dalam buku panduan Riyadhoh niat mandi taubat dicantumkan sengaja
mandi taubat dan meminta karamah kapada wali-wali Allah, untuk itu penulis pikir, perlu membahas hadis tawassul ini dalam urutan pertama.
Berkaitan dengan masalah tawassul dengan menyebut nama Nabi Muḥammad Saw. setelah beliau wafat, terdapat perdebatan panjang di antara para ulama hingga saat ini. Mereka dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok yang membolehkan dan kelompok ulama yang melarang. Kelompok pertama membolehkan praktik tawassul. Pendapat ini didukung oleh kebanyakan ulama. Sedangkan kelompok kedua melarang praktik tersebut. Kelompok ini di antaranya didukung oleh Ibnu Taymiyah dan al-Albānī. Sekalipun sama-sama melarang, keduanya berbeda dalam cakupan larangan. Ibnu Taymiyah melarang sebagian praktik tasawuf, namun membolehkan praktik yang lain. Sedangkan al-Albānī melarang seluruh model tawassul.
Berangkat dari kelompok yang membolehkan, dasar yang mereka gunakan salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan oleh „Utsmān Ibn Ḥunaif tentang orang buta
yang minta didoakan Nabi Saw. Dalam hadis tersebut dikisahkan bahwa Nabi Saw. mengajarkan doa yang di dalamnya terdapat praktik bertawassul dengan cara menyebut nama Nabi Saw.