BAB II LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
4. Pluralisme Agama
Pluralisme berasal dari kata plural yang berarti banyak atau berbilang atau bentuk kata yang digunakan untuk menunjukan lebih daripada satu. Pluralisme dalam filsafat adalah pandangan yang melihat dunia terdiri dari banyak makhluk. Pluralisme agama (religious pluralism) adalah sebuah paham tentang ”pluralitas” (Adian Husaini, 2005: 334). Merupakan paham bagaimana melihat keragaman dalam agama-agama. John Hick, salah satu tokoh utama paham religious pluralism mengajukan gagasan pluralisme sebagai pengembangan dari inklusivisme. Agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju pada keparipurnaan yang sama.
Pluralisme dalam bahasa Inggris menurut Anis Malik Thoha (2005: 11) mempunyai tiga pengertian, yaitu: a. pengertian kegerejaan: sebutan untuk orang yang memegang lebih dari satu jabatan dalam struktur kegerejaan, memegang dua jabatan atau lebih secara bersamaan, baik bersifat kegerejaan maupun non kegerejaan; b. pengertian filosofis: berarti sistem pemikiran yang mengakui adanya landasan pemikiran yang mendasarkan lebih dari satu; c. pengertian sosio-politis: adalah suatu sistem yang mengakui koeksistensi keragaman kelompok, baik yang bercorak ras, suku, aliran maupun partai dengan tetap menjunjung tinggi aspek-aspek perbedaan yang sangat kerakteristik di antara kelompok-kelompok tersebut.
Para ahli sosiologi dan antropologi cenderung mendefinisikan agama dari sudut fungsi sosialnya, yaitu suatu sistem kehidupan yang mengikat manusia dalam satuan-satuan atau kelompok-kelompok sosial. Sedangkan kebanyakan pakar teologi, fenomenologi dan sejarah agama melihat agama dari aspek
commit to user
substansinya yang sangat asasi yaitu sesuatu yang sakral. Dari definisi tersebut, maka dapat ditarik suatu pengertian bahwa "pluralisme agama" adalah kondisi hidup bersama (koeksistensi) antar agama (dalam arti yang luas) yang berbeda-beda dalam satu komunitas dengan tetap mempertahankan ciri-ciri spesifik atau ajaran masiang-masing agama. Namun dari segi konteks dimana pluralisme agama sering digunakan dalam studi-studi dan wacana sosio-ilmiah pada era modern ini, memiliki definisi yang berbeda. John Hick, yang dikutip Anis Malik Thoha (2005: 15), menyatakan :
…pluralisme agama adalah suatu gagasan bahwa agama-agama besar dunia merupakan persepsi dan konsepsi yang berbeda tentang, dan secara bertepatan merupakan respon yang beragam terhadap, Yang Real atau Yang Maha Agung dari dalam pranata kultural manusia yang bervariasi; dan bahwa transformasi wujud manusia dari diri menuju pemusatan-hakikat terjadi secara nyata dalam setiap masing-masing pranata kultural manusia tersebut dan terjadi, sejauh yang dapat diamati, sampai pada batas yang sama.
Dengan kata lain, Hick menurut Anis menegaskan sejatinya semua agama adalah merupakan manifestasi-manifestasi dari realitas yang satu. Dengan demikian, semua agama sama dan tidak ada yang lebih baik dari yang lain.
Majelis Ulama Indonesia yang di kutip Syamsuddin Arif mendefiniskan Pluralisme Agama sebagai :
Pluralisme Agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga (www.salafiah.net)
Nurcholish Madjid menyatakan bahwa ada tiga sikap dialog agama yang dapat diambil dalam Islam, yaitu: a. sikap ekslusif dalam melihat agama lain (agama-agama yang lain adalah jalan yang salah, yang menyesatkan bagi pengikutnya), b. sikap inklusif (Agama-agama lain adalah bentuk implisit agama Islam), c. sikap pluralis yang bisa terekspresi dalam macam-macam rumusan, misalnya agama-agama lain adalah jalan yang sama-sama sah untuk mencapai kebenaran yang sama, agama-agama lain berbicara secara berbeda, tetapi merupakan kebenaran-kebenaran yang sama sah atau setiap agama mengekspresikan bagian penting sebuah kebenaran. Sehingga menurut Madjid
commit to user
Pluralisme adalah sebuah aturan Tuhan (Sunatullah) yang tidak akan berubah dan tidak mungkin diingkari atau dilawan (Adian Husaini, 2010: 6 dalam
www.adianhusaini.com diakses 9 Nopember 2011).
Sebagai sebuah bentuk liberalisasi agama, Pluralisme Agama adalah respon teologis terhadap political pluralism yang telah cukup lama digulirkan (sebagai wacana) oleh para peletak dasar-dasar demokrasi pada awal dan yang secara nyata dipraktikan oleh Amerika Serikat. Kecendrungan umum dunia Barat pada waktu itu telah berusaha menuju modernisasi di segala bidang. Dan salah satu ciri dari modern adalah demokrasi, globalisasi dan HAM. Maka, dari sinilah lahir political pluralism. Jika dilihat dari konteks itu, maka Relegious Pluralism
pada hakikatnya adalah gerakan politik dan bukan gerakan agama. Setiap manusia dipandang sama, tidak ada ras, suku, bangsa atau agama yang berhak mengklaim bahwa dirinya paling unggul.
Menurut Anis Malik Thoha yang dikutip Budi Handrianto (2007: L) mengatakan bahwa tren-tren pluralisme agama secara umum dapat diklasifikasi kedalam empat kategori: Humanisme Sekular (Secular humanism), teologi global
(global theology), sinkritisme (syncretism atau eclectisicm) dan hikmah abadi
(sophia perennis atau perennial philosophy).
a. Humanisme Sekuler
Humanisme sekuler adalah suatu sistem etika (ethical system) yang mengukuhkan dan mengagungkan nilai-nilai humanis, seperti toleransi, kasih sayang, kehormatan tanpa adanya ketergantungan pada akidah-akidah dan ajaran-ajaran agama. Ciri dari humanisme sekuler ini adalah "antroposentris", yakni menganggap manusia sebagai hakikat sentral kosmos atau menempatkannya dititik sentral. Pemikiran ini merupakan kebangkitan kembali secara sadar pemikiran relativisme Protagoras, yang ditafsirkan bahwa setiap manusia adalah standard dan ukuran segala sesuatu. Apabila terjadi perbedaan opini dalam suatu masalah, maka tidak ada apa yang disebut kebenaran obyektif, sehingga tidak bisa dikatakan yang satu benar dan yang lain salah. Diantara tokoh yang mengusung konsep ini antara lain adalah F.C.S Schiller (1863-1937), Bertrand Russel, August Comte (1798-1857)
commit to user b. Teologi Global
Pengaruh "globalisasi" menjadi hal penting dan komplek dalam mengubah kehidupan manusia dengan segala aspeknya di luar apa yang dibayangkan sebelumnya. Ini menyebabkan menurunnya dan bahkan lenyapnya jati diri dan nilai-nilai suatu kultur atau budaya. Globalisasi juga telah mempengaruhi secara nyata dan sangat signifikan munculnya gagasan-gagasan dan wacana-wacana teologis baru yang sangat radikal, yang intinya menganjurkan bahwa tidak perlu bersikap resisten dan menentang globalisasi dan globalisme yang sudah nyata-nyata tak mungkin dihindari. Manusia harus mengubah dan merombak pemikiran-pemikiran dan keyakinan-keyakinan agama tradisional agar sejalan dengan semangat zaman dan nilai-nilainya yang diyakini "universal".
Berdasarkan perkembangan global ini menurut John Hick dalam Anis Malik Thoha (2005: 77), memprediksi bahwa secara gradual akan terjadi proses konvergensi cara-cara beragama dimasa yang akan datang, sehingga pada suatu ketika agama-agama ini akan lebih menyerupai sekte yang beragam dalam Kristen di Amerika Utara dan Eropa saat ini daripada merupakan entitas-entitas yang ekslusif secara radikal. Wacana atau pemikiran keagamaan lintas kultur ini, menurut Hick yang dikutip Anis harus dikemas dalam konsep yang disebut global
theology.
c. Sinkritisme
Trend sinkritisme adalah suatu kecendrungan pemikiran yang berusaha menyatukan dan merekonsiliasi berbagai unsur yang berbeda-beda (bahkan mungkin bertolak belakang) yang diseleksi dari berbagai agama dan tradisi, dalam suatu wadah tertentu atau dalam salah satu agama yang ada (berwujud suatu aliran baru) (Anis Malik Thoha, 2005: 93). Gagasan ini antara lain diusung oleh Friedrich Heiler dan Arnold Toynbee. Dalam sebuah konferensi Asosiasi Sejarah Agama Internasional di Tokyo pada bulan September 1958, dikemukakan gagasan bahwa "mewujudkan persatuan seluruh agama" merupakan satu tugas penting Ilmu Perbandingan Agama. Selanjutnya Arnold Toynbee menyatakan dalam salah satu bab bukunya An Historian's Approach to Relegion "Misi agama-agama besar tidaklah kompetitif, melainkan komplementer atau saling melengkapi”.
commit to user d. Hikmah Abadi (Shophia Perennis)
Tema utama Hikmah Abadi adalah "hakikat esoteric" yang merupakan asas dan esensi segala sesuatu yang berwujud dan terekspresikan dalam bentuk hakikat-hakikat exsoteric dengan bahasa yang berbeda. Hakikat yang pertama adalah hakikat transcendent yang tunggal, sementara yang kedua adalah hakikat
relegius yang merupakan manifestasi eksternal yang beragam dan saling
berlawanan dari hakikat transcendent tadi. Cara pandang ini kemudian menjadi cara Hikmah Abadi dalam memandang segala realitas pluralitas agama.
Dengan kata lain bahwa agama terdiri dari dua hakikat atau dua realitas, yakni esoteric dan exsoteric (esensi dan bentuk) Dua hakikat ini dipisah antara keduanya oleh suatu garis horizontal; dan bukan pertikal, sehingga memisahkan antara yang satu dengan yang lain (Hindu-Budha-Kristen-Islam dan sebagainya). Yang berada di atas garis adalah hakikat bathiniyah (esoteric) dan yang berada di bawah adalah hakikat lahiriyah (exsoteric). Meskipun secara lahiriyah agama berbeda-beda tetapi secara bathiniyah semua agama menuju pada yang satu yakni Tuhan.
Pluralisme menjadi agenda Jaringan Islam Liberal terutama dalam istilah Humanisme sekuler di mana toleransi atau pengatasnamaan bahwa semua agama adalah sama menjadi keharusan demi terciptanya kerukunan. Pemikiran kontroversial ini justru semakin diperjuangkan oleh jaringan untuk mengembangkan liberalisasi Islam dalam kehidupan beragama sehingga pandangan ini semakin membawa citra bahwa Jaringan Islam liberal adalah pemberi solusi keragaman di Indonesia (Budi Handrianto, 2007: 266).